• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KHATAMAN AL- QUR’AN DAN PEMBACAAN

E. Ragam Tradisi Khataman Al-Qur’an dalam Tarawih

Salat tarawih adalah ibadah salat yang dilaksanakan saat malam hari pada bulan Ramadan. Menjalankan ibadah salat tarawih ini yang kemudian menjadi sebagai sebuah tradisi umat Islam di dunia yang mana tradisi ini dilandasi dengan dalil-dalil yang jelas. Salat tarawih juga merupakan sunnah Rasulullah SAW meskipun hukumnya bukan wajib tetapi sunnah.22 Walaupun begitu, istilah tarawih tidak pernah ada ketika Nabi masih hidup, istilah yang digunakan yaitu qiyām al-laīl. Dengan berkembangnya masyarakat modern di masa dewasa ini, justru mereka menjadikan salat tarawih sebagai sarana khataman al-Qur’an. Seperti yang kita tahu bahwa sudah banyak sekali praktik mengkhatamkan al-Qur’an di dalam salat tarawih hingga menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat. Al-Qur’an adalah kitab suci yang memiliki banyak hal menarik. Salah satu preferensinya adalah bahwa banyak muslim menghafal al-Qur'an untuk menjaga keasliannya.23 Sebenarnya telah diyakini bahwa pemeliharaan al-Qur’an merupakan kehendak Allah Swt yang dilestarikan keutuhannya secara murni dan mutlak keasliannya. Meskipun begitu, tetap adanya keterlibatan malaikat, Nabi Saw, dan umat Islam secara umum untuk menghafal dan memahami semua ajaran yang terkandung dalam al-Qur’an.

Ada macam cara untuk menjaga hafalan al-Qur’an, baik diterapkan oleh Nabi, para sahabat, tabi’in, dan para penghafal al-Quran saat ini.

37 Ibnu Hajar al-Asqalani, Bulughul Maram, 82.

22 Muhammad Mahmud Nasution, Tarawih dan Tahajjud, Jurnal Fitrah, Vol. 01, No. 2, 2015, 219-228.

23 M. Syatibi AH, Menelusuri Jejak Pemelihara Al-Qur’an, Jurnal Suhuf, Vol. 2, No. 2, 2009, 227-247.

Mereka berusaha menjadikan sebuah aktifitas dengan cara yang berbeda untuk mengabadikan dan penjagaan hafalan al-Qur’an. Dalam kitab Al-Tibyān fi Adabī Hamalat al-Qur’ān karya Imam Nawawi24 mencatat beberapa hadis dan riwayat berkenaan dengan pembacaan al-Qur’an untuk menjaga hafalan hingga selesai/khatam, baik di dalam maupun di luar salat.

Salah satu negara yang sebagian besar penduduknya beragama Islam misalnya Indonesia, tradisi menghafal al-Qur’an sudah beberapa lama berkembang pesat. Bahkan banyak pesantren-pesantren takhassus (spesialis) diperuntukkan bagi penghafal al-Qur’an untuk menciptakan Muslim yang berjiwa Qur’ani yang bisa mengabadikan al-Qur’an. Walaupun pada awalnya tradisi meghafalkan al-Qur’an ini berkembang terus menerus hanya di wilayah pesantren yang tersebar di berbagai daerah, khususnya di Jawa, sedangkan di masa dewasa ini justru menghafalkan al-Qur’an sudah mulai ke ranah umum, artinya mereka yang bukan dari lingkungan pesantren sudah mulai tertarik untuk menghafalkan Qur’an sebagai bentuk ketertarikan mereka terhadap penjagaan al-Qur’an.

Upaya penjagaan hafalan itu sendiri juga dengan berbagai macam cara yang diterapkan oleh para penghafal. Salah satu bentuk memperkuat hafalan adalah dengan menerapkannya atau membaca yang telah dihafal di dalam salat. Salat tarawih menjadi salah satu contoh dalam praktik ini. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa sudah banyak juga ragam tradisi khataman al-Qur’an di dalam tarawih, seperti yang sudah lama diterapkan di haramain Makkah dan Madinah.

24 Lihat Abu Zakariyya Yahya bin Syarafuddin al-Nawawi, al-Tibyan fi Adabi

Namun, ada sedikit perbedaan hitungan hari dan praktik dalam mengkhatamkan al-Qur’an di setiap lokasi. Seperti hal nya Makkah dan Madinah, di sana mempraktikkan membaca satu juz dalam satu satu kali salam salat tarawih yang dibaca oleh satu imam salat, sehingga dalam satu bulan Ramadan bisa mengkhatamkan al-Qur’an dalam salat tarawih.

Melihat dari sana, beberapa pondok pesantren khususnya di Indonesia sudah menerapkan praktik tersebut, walaupun tidak sedikit masjid-masjid umum juga menerapkannya. Praktik yang seperti ini menggiring mereka penghafal al-Qur’an untuk mempraktikkannya di pondok pesantren maupun di kalangan masyarakat umum hingga menjadi sebuah tradisi. Begitu juga yang terjadi di pondok pesantren Bidayatul Hidayah tepatnya asrama Darul Qur’an Mojokerto, ada sebuah kebiasaan sejak berdirinya asrama ini hingga sekarang mempraktikkan khataman al-Qur’an dengan menjadikan al-al-Qur’an lengkap sebagai bacaan surah dalam salat tarawih selama 15 hari.

Dalam praktik ini, salah satu tujuannya adalah untuk menguatkan hafalan, mengingat bahwa mengulang hafalan di dalam salat adalah salah satu cara yang efektif ketika murāja’ah. Tradisi menghafalkan al-Qur’an adalah salah satu dari sekian banyak fenomena umat Islam dalam menyadarkan atau memperkenalkan al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari mereka dengan metode khataman al-Qur’an, salah satunya dapat ditemukan di sekolah-sekolah Islam atau pondok pesantren.

Tradisi semacam ini oleh sebagian umat Islam Indonesia telah disempurnakan dan ditumbuhkan secara mendalam terutama di kalangan pelajar, sehingga kebiasaan ini secara tidak langsung membentuk penyesuaian dalam budaya terdekat. Al-Qur’an yang dianggap sebagai sesuatu yang suci dan harus dimuliakan adalah hal yang diyakini oleh kelompok masyarakat muslim Indonesia. Sehingga muncul lah paradigma

baru terkait membaca al-Qur’an, terutama menghafalkannya adalah demonstrasi terhormat yang bisa menghadirkan sebuah keberkahan, namun harus disertai dengan mengamalkan isinya.25

Dengan menjadikan praktik ini sebagai sebuah tradisi, maka akan bisa dilihat apa sebenarnya dampak atau manfaat yang dirasakan setiap pelaku praktik. Sebagaimana yang kita tahu bahwa kajian living Qur’an ini adalah mencari arti dan kegunaan al-Qur’an yang dirasakan dan dipahami oleh umat Islam sendiri. Terlepas dari menghafal al-Qur’an, menariknya kajian tersebut adalah mengungkap bagaimana orang-orang yang bergumul di dalam tradisi khataman ini memberikan pemaknaan yang mendalam terhadap aktifitas tersebut dan rutinitas mereka dalam menghadirkan atau menyajikan al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari yang teratur.

25 Ahmad Atabik, The Living Qur’an: Potret Budaya Tahfidz Al-Qur’an di Nusantara, Jurnal Penelitian, Vol. 8, No. 1, 2014, 161-177.

45

BAB III

MENGENAL ASRAMA DARUL QUR’AN PONDOK PESANTREN BIDAYATUL HIDAYAH

Asrama putri Darul Qur’an adalah salah satu dari 14 asrama yang terdapat di pondok pesantren Bidayatul Hidayah. Asrama ini memiliki keistimewaan yang tidak ada di asrama lain di pondok Bidayatul Hidayah, karena hanya di asrama Darul Qur’an pelaksanaan salat tarawih selama bulan Ramadan dilakukan dengan mengkhatamkan al-Qur’an 30 juz. Kegiatan mengkhatamkan al-Qur’an disini merupakan tradisi dari asrama Darul Qur’an, bukan tradisi Pondok Pesantren Bidayatul Hidayah. Dalam penelitian ini asrama Darul Qur’an memiliki peran sangat sentral dan menjadi wilayah lokasi penelitian yang akan dijelaskan profilnya dalam bab ini. Sebelum mengenal profil asrama Darul Qur’an, penting menurut penulis untuk mengetahui profil Pondok Pesantren Bidayatul Hidayah terlebih dahulu, mengingat asrama Darul Qur’an berdiri di bawah naungan pesantren ini.