• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KHATAMAN AL- QUR’AN DAN PEMBACAAN

B. Keutamaan Membaca Al-Qur’an

Orang-orang yang tidak menyertakan al-Qur’an dalam hatinya walau sedikit, atau bahkan tidak sama sekali pernah membaca dan menghafalnya, Rasulullah Saw mengumpamakannya seperti rumah yang rapuh dan usang. Sama dengan perumpamaan jika ada sebuah naungan yang tidak pernah dihadirkan al-Qur’an di dalamnya maka setiap individu yang ada di dalam naungan itu diumpamakan sebuah kuburan yang mengerikan dan suram.

Istilah membaca al-Qur’an berasal dari dua kata yakni membaca dan al-Qur’an. Arti membaca itu sendiri yaitu melihat dan juga memahami substansi dari sesuatu yang tertulis dengan berbicara atau hanya di dalam hati saja. Sebagaimana Allah Swt menurunkan kitab-Nya yang kekal supaya al-Qur’an dapat dibaca dengan lisan, didengarkan dengan telinga, dan dipikirkan dengan akal supaya hati menjadi tenang karenanya. Melihat dari pengertian tersebut datanglah ayat al-Qur’an beserta hadis rasul, bertujuan mengajak kita untuk membaca dan menjanjikan akan disiapkannya pahala yang berlipat ganda dan Agung kerenanya.9

Al-Qur’an murni bermula dari Allah Swt dari segi lafaz ataupun makna dan disampaikan pada nabi Muhammad Saw lewat wahyu yang jelas dan juga bersamaan diutusnya malaikat Jibril sebagai utusan Allah Swt bertujuan guna menyampaikan wahyu pada Rasulullah Saw dan tidak dengan cara wahyu yang lain.10

Dalam sebuah pemeriksaan di klinik yang sangat besar di Florida, AS, Dr. Al-Qadhi menemukan cara untuk menunjukkan bahwa dengan

9 Yusuf Al-Qardhawi, Bagaimana Berinteraksi Dengan Al-Qur’an (Jakarta: Pustaka AlKautsar, 2000), 161.

mendengarkan bacaan bagian-bagian al-Qur’an, seseorang dapat merasakan perubahan signifikan dalam fisiologinya, baik mereka seorang muslim yang memahami bahasa Arab atau tidak. Misalnya seperti berkurangnya rasa sedih, dampak masalah, mendapatkan ketenangan sejati, mencegah berbagai banyak jenis penyakit, yang merupakan dampak keseluruhan yang dirasakan oleh individu tertentu yang menjadi objek pemeriksaan mereka.11

Berangkat dari penelitian di atas, untuk memulai agar gemar membaca al-Qur’an maka di sini perlu adanya peran penting kebiasaan dalam membaca al-Qur’an. Secara etimologis kebiasaan berasal dari kata “biasa”, sedangkan dalam rujukan Kamus Besar Bahasa Indonesia kata biasa adalah lumrah atau normal. Kemudian dalam humaniora, kebiasaan adalah contoh untuk bereaksi terhadap keadaan tertentu yang dipusatkan oleh seseorang dan dilakukan berulang kali untuk sesuatu yang sangat mirip.12 Sehingga kebiasaan dapat diartikan sebagai siklus yang membuat seseorang terbiasa dengannya.

Kata kebiasaan menurut terminologi adalah jenis aktivitas yang diulangi dengan cara yang sama. Ini sangat baik dapat dibandingkan dengan teknik yang digunakan oleh pendidik untuk menyesuaikan diri dengan murid-muridnya berulang kali sehingga kecenderungan harus dimungkinkan tanpa bantuan dari orang lain tanpa intimidasi dari yang lainnya. Untuk menjadi terbiasa dengan sesuatu atau pekerjaan apapun, tentu saja ada latihan yang dilakukan. Maka dari itu, aktifitas membacalah yang menjadi solusi yang dibutuhkan. Sebagaimana yang kita sadari bahwa dengan membacanya, kita akan melihat substansi dari apa yang

11 Muhammad Arif Hidayat, “Hubungan Kebiasaan Membaca Alqur’an dengan Pembentukan Karakter Agama Islam siswa kelas XI MAN 2 Model Medan” (Jurnal Artikel, 2017).

12 Eddy Soetrisno, Kamus Populer Bahasa Indonesia (Bandung: Sinergi Pustaka Indonesia, 2010), 134.

tersusun dan memahaminya dalam hati kita, padahal dengan mengeja atau membahas apa yang tersusun, seseorang juga dapat menjadikan ini sebagai kecenderungan yang dapat membuat ingatan yang kokoh di dalam jiwa mereka, sama juga seperti pikiran. Selain itu, jika kita membaca ketika kita masih muda, apa yang diingat oleh pikiran akan cepat diproses sehingga sulit untuk lupa.

Ibnu Qayyim berkata pada salah satu kitabnya “Tidak ada satupun yang lebih bermanfaat melainkan membaca al-Qur’an dengan cara memahami makna dan memikirkannya.” Al-Qur’an menggabungkan semua perspektif yang diidentikkan dengan level derajat seseorang dalam menempuh di jalan Allah, keadaan seseorang ditentukan karena sebab dan derajat para hambanya yang mengenal Allah Swt.13 Bahkan wahyu pertama yang dikatakan oleh malaikat Jibril adalah “bacalah”, yang menyiratkan bahwa di sini kita juga diminta untuk membaca, baik yang tersurat maupun yang tersirat.

Jika ditelaah, semua informasi itu benar-benar ada di dalam al-Qur’an, entah itu pengetahuan terkait ibadah ataupun pengetahuan umum yang mencakup semuanya. Quraish Shihab menyebutkan dalam salah satu bukunya yang bejudul “Wawasan Al-Qur’an Tafsir Tematik Atas Berbagai Persoalan Umat” bahwa kata iqra’ memiliki makna telitilah, bacalah, pahamilah, ketahuilah kualitas sesuatu, pahamilah alam, meneliti isu-isu ikonik, sejarah, diri sendiri, yang tersusun dan tidak tersusun. Oleh karena itu, obyek tatanan iqra’ mencakup semua yang dapat dicapai.

Pengulangan anjuran membaca dalam wahyu pertama ini, tidak hanya menunjukkan bahwa kemampuan membaca hanya diperoleh dengan mengulang membaca, atau membaca sebaiknya dilakukan untuk tingkat

13 Muhammad Syauman Ar-Ramli, Keajaiban Membaca Al-Qur’an (Sukoharjo: Insan Kamil, 2007), 41.

kapasitas terbesar, tetapi juga untuk menyarankan agar mengulangi membaca bismi rabbika (demi karena Allah) akan menciptakan informasi dan pengalaman baru meskipun faktanya seseorang membaca setara.14

Sungguh beruntung manusia diperintahkan untuk membaca, karena hal tersebut adalah sesuatu yang sangat berharga yang pernah dan dapat diberikan kepada umat manusia. Membaca dalam aneka maknanya adalah syarat utama dalam pengembangan ilmu dan teknologi serta syarat utama membangun peradaban. Semua peradaban yang berhasil bertahan lama justru dimulai dari satu buku bacaan. Peradaban Islam lahir dengan kehadiran al-Qur’an, dan kita yakin bahwa al-Qur’an tidak akan lekang oleh panas dan tidak lapuk oleh hujan selama umat Nabi Saw ikut bersama Allah memeliharanya dengan baik.15

Ada beberapa keistimewaan membaca al-Qur’an melihat betapa luar biasanya kitab Allah Swt ini, di antaranya adalah:16

a. Sebagai pemberi syafa’at pada saat datangnya hari kiamat. b. Allah Swt akan mengangkat derajat seseorang yang membaca

al-Qur’an.

c. Akan mendapatkan kebaikan dengan berlipat-lipat ganjaran. d. Untuk mengisi hati yang hampa bagi yang membaca.

e. Sebagai amal ibadah.

Selain itu, banyak keutamaan maupun hikmah lain ketika membaca al-Qur’an. Dengan membaca al-Qur’an terlepas dari apakah mereka tidak memahami maknanya, mereka akan mendapatkan pahala. Pahala ini digandakan menjadi sepuluh kebaikan dengan alasan setiap

14 M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an Tafsir Tematik Atas Berbagai

Persoalan Umat (Bandung: Mizan 2014), 6.

15 M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an Tafsir Tematik Atas Berbagai

Persoalan Umat, 7.

16 Al-Imam Abu Zakaria Yahya bin Syaraf an-Nawawi, Riyadhus Sholihin, terj. Achmad Sunarto ( Jakarta. Pustaka Amani, 1999), 115-119.

huruf dari al-Qur’an berisi satu pahala kebaikan. Apalagi mereka yang membaca al-Qur’an masih tersendat-sendat meski belum bisa memahami maknanya, mereka tetap akan diberi dua ganjaran, ganjaran atas usaha dan ganjaran atas membaca al-Qur’an. Apalagi jika mereka yang gemar membaca al-Qur’an tentunya banyak manfaat diperoleh, seperti dihilangkan dari rasa takut dan sedih di hatinya, mendapatkan penjagaan dari al-Qur’an sendiri saat hari Kiamat, dan mengubah karakter seseorang. Hal tersebut pernah terjadi pada zaman Khulafaur Rasyidin, yang mana al-Qur’an memiliki pilihan untuk mengubah karakter seorang preman seperti Umar bin Khathab r.a. saat sebelumnya beliau beralih pada Islam dan sampai akhirnya beliau berubah menjadi sosok khalifah yang tegas dan adil. Sama halnya dengan Bilal bin Rabbah, yang berubah dari tawanan menjadi pelindung kebenaran.17

Dari keutamaan dan teladan di atas, dapat disimpulkan bahwa ada banyak keuntungan yang akan kita rasakan bagi diri kita sendiri baik secara nyata maupun mendalam. Setiap kali membaca dan berlatih dengan benar, ini dapat menunjukkan bahwa al-Qur’an adalah obat bagi umat Islam.

Membaca al-Qur’an juga merupakan sunnah yang disarankan selama Ramadan, yaitu bulan ketika al-Qur’an diturunkan. Bentangan panjang Ramadan adalah bulan dengan jumlah total dari apa yang telah ditunggu-tunggu oleh umat Islam, satu bulan yang penuh dengan berkah, bulan di mana setiap aktivitas ibadah yang kita lakukan akan mendapatkan banyak pahala.

Ada banyak hal yang dapat kita lakukan terus menerus ketika kita perlu mendapatkan banyak ganjaran ketika bulan yang disukai ini tiba. Nabi Muhammad Saw telah memberi contoh kepada setiap pengikutnya

bagaimana hal-hal yang sunnah harus dilakukan selama hidupnya. Seperti dalam bentangan panjang Ramadan ini, Nabi Muhammad Saw mencontohkan amalan sunnah yang seharusnya bisa dilakukan di masa Ramadan, salah satunya dengan membaca Qur'an, dengan alasan al-Qur'an pertama kali diturunkan pada bentangan panjang Ramadan.

Sebagaimana Allah Swt berfirman:



ر



ر



ر



ر



ر



ر



ر



ر



ر



ر



ر



رر



ر



ر



ر



ر



رر



ر



ر



ر



ر



ر



ر



ر



ر



ر



رر



ر



ر



ر



ر



ر



ر



ر



ر



ر



ر



ر



ر



ر



ر



ر



ر



ر



ررر

ر

Artinya: “Beberapa hari yang ditentukan itu ialah bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang bathil). karena itu, Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur”. (QS. Al-Baqarah: 185).31

31 Kementerian Agama RI, Aplikasi Add-Ins Qur’an Kemenag Surah

Anjuran untuk membaca al-Qur'an tidak hanya pada saat-saat tertentu. Bagaimanapun Allah telah mengatakan untuk membaca dengan teliti setiap hari untuk mengisi sebagai pedoman bagi kita semua. Apalagi saat membacanya di bulan Ramadan, pastinya akan memiliki keistimewaan yang lebih dibandingkan yang biasanya.

Selain untuk memperoleh pahala, membaca al-Qur’an juga berperan penting untuk menunjang kesehatan tubuh kita, baik jasmani maupun rohani. Hal ini disebut juga dengan terapi penyembuhan dengan ayat al-Qur’an seperti kita ketahui bahwa banyak sekali media pengobatan dengan menggunakan ayat yang terdapat di dalam al-Qur’an. Terkait pengobatan yang semacam ini, tidak membutuhkan waktu khusus untuk melakukannya, dapat dilakukan setiap saat dalam segala posisi dan kondisi. Seperti hal nya Nabi Muhammad Saw yang pernah mengulangi sebagian bacaan ayat untuk penyembuhan dan doa beliau sebanyak tujuh kali.18

Pengaruh suara pada penyembuhan juga sangat luar biasa, hal ini banyak diyakini oleh mayoritas peneliti Barat terkait pengobatan. Akan tetapi, mereka belum menemukan getaran suara apa yang sebenarnya dapat dijadikan media penyembuhan penyakit. Dalam hal ini, Islam sebagai pewaris kitab suci yang agung mempunyai cara yang luar biasa untuk menyembuhkan penyakit, baik penyakit rohani maupun jasmani yaitu al-Qur’an al-Karim. Ketika seseorang melantunkan bacaan al-al-Qur’an, hal tesebut merupakan berbagai getaran suara yang sampai di telinga, mengalir ke sinapsis dan kemudian membawa dampak pada pembaca melalui medan elektronik yang dibawa ke dunia. Pada saat itu, sel-sel akan bereaksi terhadap medan-medan ini dan menggantikan getarannya.

18 Abd. Daim al-Kaheel, Lantunan Al-qur’an Untuk Penyembuhan (Yogyakarta: Pustaka Pesantren 2012), 71.

Perubahan getaran ini adalah apa yang kita temukan dan pahami setelah mengalami pertemuan yang panjang dan berulang.19

Seperti yang sudah dijelaskan, bahwasanya begitu berpengaruhya bacaan al-Qur’an terhadap kesehatan. Apalagi saat melantunkan al-Qur’an tersebut di dalam salat, tentunya akan memiliki banyak manfaat yang di dapat. Terlebih lagi dipraktikkan di dalam salat tarawih yang dilakukan di bulan Ramadan.

Keistimewaan bulan Ramadan itu sendiri juga merupakan sarana bagi kita untuk bertaubat dan memperbanyak ibadah dan juga mengajak kita agar mengingat tapak tilas turunnya al-Qur’an. Seperti yang kita ketahui bahwa malaikat Jibril menyampaikan wahyu kepada Nabi Muhammad adalah di bulan Ramadan. Setelah mendapatkan pengungkapan beberapa kali dimulai dengan awal surah 'Alaq, al-Qalam, al-Muddaṡṡir, al-Takwīr, al-A'lā, Asy-Syarh, al-'Aṣr, dan al-Fajr , tiba-tiba entah dari mana pengungkapan itu terhalang. Sebab penantian dan harapan Rasulullah yang cukup lama, maka timbul lah rasa gelisah dalam hati.

Namun kegelisahan tersebut berakhir ketika turunnya wahyu kesebelas yaitu surat A-uā, yang mana saat itu cahaya matahari terlihat indah ketika naik sepenggalahan, memancarkan dan menerangi seluruh penjuru alam, dan tidak terlalu panas sehingga tidak masalah dengan cara apapun. Bahkan panasnya dapat memberi kesegaran, kenyamanan, dan kesehatan. Dengan kejadian ini Allah Swt menggambarkan terjadinya pengungkapan sejauh keberadaan cahaya matahari yang sinarnya sangat jernih, menyegarkan dan menawan.20

19 Abd. Daim al-Kaheel, Lantunan Al-qur’an Untuk Penyembuhan, 49-50.

20 M. Quraish Shihab, Mukjizat Al-Qur’an: Ditinjau Dari Aspek Kebahasaan,

Nabi Muhammad Saw mendapatkan wahyu ilahi melalui utusan yang diberkahi Jibril selangkah demi selangkah dengan alasan bahwa yang diungkapkan hanyalah kewenangan Tuhan. Setiap kali Rasulullah Saw menerima wahyu sebagai ayat dari al-Qur’an, dia kemudian membacanya di depan para sahabat, kemudian para sahabat mengingat bacaan tersebut sampai mereka tersimpan dalam hati. Jika ada ayat atau surat turun, dia langsung menghafalnya. Terlebih lagi, Nabi juga secara teratur mengulang hafalan dengan malaikat Jibril setiap periode Ramadan. Selama ujian, Nabi dinasehati untuk mengulang kembali al-Qur'an yang telah diungkap.21 Metode yang digunakan Nabi atau strategi yang digunakan Nabi untuk melatih para sahabat karib ini dikenal sebagai teknik kuttāb. Selain menyuruh untuk menyimpannya, nabi meminta kutāb (penulis wahyu) untuk mencatat ayat yang baru-baru ini didapatnya. Siklus pembelajaran ini berlangsung hingga berakhirnya aturan Bani Umayyah. Ada juga yang menyebutkan metode seperti ini disebut dengan metode talaqqi yaitu mengajarkan al-Qur’an dari Rasulullah Saw kepada sahabat beliau dan kemudian oleh mereka disampaikan ke generasi setelahnya sampai sekarang.

Oleh karena itu, bulan Ramadan erat hubungannya dengan melantunkan dan menghafal al-Qur’an. Sebab pada bulan ini lah malaikat Jibril menyampaikan wahyu pertama kepada Nabi dan juga disebutkan bahwa Jibril turun ke bumi mendatangi Nabi Muhammad Saw agar membaca al-Qur’an bersamanya.