• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VI PRAKTIK MENGKHATAMKAN AL-QUR’AN

B. Prosesi Mengkhatamkan al-Qur’an dalam Salat

Ragam tradisi mengkhatamkan al-Qur’an dalam salat tarawih tentunya memiliki perbedaan dalam setiap praktiknya. Bukan saja praktik salat tarawih berbeda-beda dari segi jumlah rakaat salatnya, tetapi juga jumlah bacaan ayat yang dibaca di dalam salat. Asrama Darul Qur’an ini menerapkan khatam al-Qur’an dalam salat tarawih mulai malam pertama Ramadan hingga malam ke 15 saja, karena pada malam ke-21 Ramadan para santri sudah diliburkan untuk pulang dan berlebaran di rumah masing-masing.

Asrama Darul Qur’an melaksanakan salat tarawih sebanyak dua puluh tiga rakaat, yang terdiri dari dua puluh rakaat salat tarawih dan tiga rakaat salat witir. Dalam salat tarawih ayat yang dibaca setiap malamnya adalah satu juz al-Qur’an, sehingga diharapkan pada malam ke-15 bacaan al-Qur’an yang dibaca secara keseluruhan sudah mencapai total lima belas juz. Untuk keperluan ini, jamaah dibagi menjadi dua kelompok: kelompok para santri yang sudah hafal juz 1-15 berjamaah di musholla asrama Darul Qur’an dan kelompok santri yang telah hafal juz 16-30 berjamaah di ruang aula lantai dua. Dengan demikian, kelompok pertama memulai bacaan dari juz 1 hingga Juz 15, sementara kelompok kedua memulai bacaan

7 Fathoni Dimyati, Wawancara.

Qur’annya dari Juz 16 hingga juz 30. Sehingga pada malam ke-15 Ramadan, total tiga puluh juz al-Qur’an sudah diselesaikan oleh kedua kelompok berjamaah tarawih ini.

Dalam satu kesempatan yang penulis alami saat mengikuti salat tarawih di kelompok pertama pada hari pertama tarawih, rakaat pertama al-Qur’an dilantunkan oleh sang imam mulai dari surah al-Baqarah ayat satu hingga ayat lima sebagai bacaan setelah surah al-Fātiah. Begitu pula saat rakaat kedua, imam membaca surah al-Baqarah ayat enam sampai enam belas. Sehingga dalam dua rakaat salat tarawih, imam membaca dua halaman al-Qur’an dengan disimak oleh para makmum yang mengikuti. Begitu seterusnya hingga selesai dua puluh rakaat, sang imam menyelesaikan bacaan surah al-Baqarah sebanyak satu juz dari ayat satu hingga ayat ke-141.

Pada pelaksanaan tarawih kelompok kedua di hari selanjutnya artinya pada malam kedua Ramadan, imam membaca awal juz 17 surah Anbiyā’ ayat 1 hingga ayat ke-10 pada rakaat pertama dan surah al-Anbiyā’ ayat 11 hingga ayat ke-24 pada rakaat kedua. Sehingga setelah selesai raka’at ke-20, sang imam sudah menyelesaikan pembacaan surah al-Anbiyā’ ayat 1 hingga akhir surah al-Hajj yang berjumlah 78 ayat.

Sementara itu, pada salat witir bacaan surah yang dibaca setelah membaca surah al- Fātiah hanya surah-surah pendek yang terdapat pada juz 30 saja. Pengalaman penulis saat mengikuti salat tarawih pada kelompok pertama, untuk rakaat pertama salat witir sang imam membaca surah al-Syarh dan rakaat kedua surah al-Qadar. Sedangkan di rakaat ketiga imam membaca surah al-Ikhlas hingga surah an-Nas. Untuk malam berikutnya, bacaan yang dibaca saat salat witir itu sesuai dengan keinginan imamnya, sehingga bebas menggunakan bacaan surah apa saja. Kecuali pada rakaat ketiga hampir semua imam menggunakan bacaan surah al-Ikhlas hingga an-Nas sebagai bacaan di akhir salat witir.

Jika imam mampu membaca surah-surah yang sudah dihafal dalam salat tarawih, maka seorang imam telah mampu mengulang hafalannya atau bisa mempraktikkannya dalam salat-salat yang lain. Imam salat tarawih di sini bergilir, artinya ada sepuluh imam dalam setiap satu malam salat tarawih. Untuk jadwal salat pun sudah dibagi sejak satu minggu sebelum santri dijadwalkan menjadi imam salat, dengan begitu setiap santri pasti mendapat giliran menjadi imam tarawih yang mana harus membaca satu lembar atau dua halaman al-Qur’an pada setiap satu salat

tarawih. Selain untuk melatih kekuatan hafalan, para santri diajarkan melatih keberanian agar mampu menjadi imam salat tarawih.

Tugas makmum di sini adalah mengecek bacaan imam melalui hafalan yang sudah mereka kuasai bersama karena praktik ini menggunakan metode tahfizh dan tasmi’, yang mana ketika imam membaca al-Qur’an ada makmum yang bertugas menyimak hafalannya menggunakan mushaf al-Qur’an dan makmum lainnya mendengarkan bacaan imam sekaligus mengingat hafalan mereka. Ada pula makmum yang menyimak dengan memegang al-Qur’an karena bacaan imam yang terkesan sedikit cepat. Membuka mushaf diperlukan agar ia tidak tertinggal bacaan yang tengah dibaca imam, sehingga ia tetap bisa menyimak bacaan imam secara benar. Walaupun dengan begitu, makmum mengaku tidak merasa terganggu dalam khusu’ nya salat karena mereka menikmati praktik tersebut.

Pada satu kesempatan, penulis mewawancarai salah seorang imam dan menanyakan terkait bagaimana perasaan mereka saat menjadi imam salat tarawih. Narasumber (AF) mengatakan bahwa perasaannya saat pertama kali menjadi imam tentu sangat gugup, karena saat itu ia harus menyetorkan hafalannya di dalam salat, serta juga disimak langsung oleh rekan-rekannya sendiri yang jumlahnya tidak sedikit. Bukan hanya gugup saja katanya, tetapi juga ada rasa bahagia yang sulit dijelaskan karena dari situ AF bisa mengetahui batas kemampuan dan kekuatan hafalannya. Seiring berjalannya waktu, menurutnya pada kesempatan tarawih selanjutnya perasaan gugup itu sudah mulai tidak dirasakan mengingat ia sudah pernah merasakan sebelumnya sehingga menjadi sedikit terbiasa menjadi imam sala tarawih dengan membaca hafalan yang sudah ia peroleh.9

Dari paparan pengakuan di atas, penulis bisa mengambil kesimpulan bahwa dengan menggunakan metode tahfizh dan tasmi’, maka para santri merasa sangat terbantu dalam melatih konsentrasi dalam membaca ayat-ayat yang sudah dihafalnya pada saat salat. Ini juga tentunya dapat menguatkan hafalan mereka. Bisa dengan mengikuti bacaan imam, menyimak dengan membawa al-Qur’an atau mendengarkan sambil mengingat-ingat hafalan yang sudah diperolehnya.

9 Alfi Faizah (Santri/pelaku jam’ah asrama Darul Qur’an), diwawancarai oleh Riv’atul Mahmudah, Mojogeneg 7 Mei 2020, Mojokerto.

C. Manfaat Tradisi Mengkhatamkan Al-Quran dalam Salat Tarawih