• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III STUDI HADIS DALAM PEMIKIRAN SARJANA

1. Biografi

Nama lengkapnya adalah Tengku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, dilahirkan di Lhokseumawe, Aceh Utara pada 10 Maret 1904. Ayahnya merupakan ulama ternama yang memiliki sebuah dayah (pesantren) bernama Muhammad Husein bin Su‟ud, selain itu ayahnya juga merupakan seorang Qadi Chik. Ibunya bernama Tengku Amrah, putri Tengku Abdul Aziz pemangku jabatan Qadi Chik Maharaja Mangkubumi Kesultanan Aceh waktu itu, yang kemudian posisinya sebagai Qadi Chik Maharaja Mangkubumi digantikan oleh ayah Hasbi. Kakek Hasbi dari pihak ibu berasal dari suatu rumpun keluarga besar Tengku Awe Geuth, termasuk Kawedanan Biereun, Aceh Utara suatu daerah yang banyak melahirkan cendikiawan dan ulama.1 Menurut silsilahnya Hasbi merupakan keturunan Abū Bakr al-Ṣiddiq yang ke-37. Oleh karena itu Hasbi kemudian melekatkan gelar ash-Shiddieqy di belakang namanya, hal ini dilakukannya atas saran salah seorang gurunya yang bernama Syaikh Muḥammad b. Sālim al-Kalalī, seorang pembaru asal Sudan yang bermukim di Lhokseumawe.2

Masa kelahiran dan pertumbuhan Hasbi bersamaan dengan tumbuhnya gerakan pembaruan pemikiran Islam (Kaum Pembaru) di Jawa yang

1 Masnun Tahir, “Pemikiran T. M. Hasbi Ash-Shiddieqy Sumber Hukum Islam dan Relevansinya dengan Pemikiran Hukum Islam di Indonesia,” Al-Aḥwāl 1, no. 1 (2008), h.

123-124

2 Aan Supian, “Kontribusi Pemikiran Hasbi Ash-Shiddieqy dalam Kajian Ilmu Hadis,”

Mutawatir: Jurnal Keilmuan Tafsir Hadis 4, no. 2 (2014), h. 272

meniupkan semangat kebangsaan Indonesia dan anti kolonial. Sementara di Aceh peperangan melawan Belanda kian berkecamuk. Ketika Hasbi berusia 6 tahun, ibunya meninggal dunia, kemudian Hasbi diasuh oleh bibinya yang bernama Tengku Shamsiah. Sejak Tengku Shamsiah meninggal pada tahun 1912, Hasbi memilih untuk tinggal di rumah kakaknya, Tengku Maneh, bahkan sering tidur di meunasah (langgar/surau) sampai kemudian ia pergi meudagang (nyantri) dari dayah ke dayah.3

Hasbi menikah pada usia sembilan belas tahun dengan Siti Khadidjah, seorang gadis yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengannya.

Perkawinan dengan gadis pilihan orang tuanya ini tidak berlangsung lama.

Siti Khadidjah meninggal ketika melahirkan anak pertamanya. Hasbi kemudian menikah dengan Tengku Nyak Asiyah binti Tengku Haji Hanum, saudara sepupunya. Bersama Tengku Nyak Asiyah, Hasbi dikaruniai empat anak, dua laki-laki dan dua perempuan.4

Semenjak masa mudanya, Hasbi sudah mulai memperlihatkan kecenderungannya dalam mendukung perubahan dan hak nalar serta semangat nasionalismenya. Saat masih di dayah, ia berani membantah gurunya dan membaca kitab tanpa tuntunan guru. Ayahnya tidak memasukkan Hasbi ke sekolah gubernemen, karena ia tidak ingin Hasbi terkena pengaruh Barat, tetapi Hasbi diam-diam belajar baca tulis aksara latin dan bahasa Belanda. Bahkan Hasbi pernah berpantalon dan memakai dasi,

3 Aan Supian, “Kontribusi Pemikiran Hasbi Ash-Shiddieqy dalam Kajian Ilmu Hadis,”

h. 272-273

4 Aan Supian, “Kontribusi Pemikiran Hasbi Ash-Shiddieqy dalam Kajian Ilmu Hadis,”

h. 273

58

pakaian yang pada masa itu masih menjadi suatu hal yang tabu di kalangan para ulama. Hasbi yang sejak kecil dididik dalam mazhab Syāfi„ī melalaui dayah, kemudian memperkaya dirinya dengan ilmu-ilmu secara otodidak, melepaskan diri dari kungkungan mazhab dan kemudian dia terjun ke lapangan dengan mengibarkan panji-panji kaum pembaru. Dalam barisan kaum pembaru di Aceh, Hasbi termasuk generasi pertama, sedangkan generasi kedua dalam lingkup Indonesia.5 Sebagai pembaru, Hasbi mulai bergerak di Aceh, di lingkungan yang dikenal fanatik, bahkan “angker.”6 Namun Hasbi di awal perjuangannya berani menantang arus. Ia tak gentar dan surut dari perjuangannya walaupun ia dimusuhi, ditawan, dan diasingkan oleh pihak yang tidak sepaham dengannya. Hal yang menarik pada sosok Hasbi ialah dalam berpendapat ia merasa dirinya bebas dan tidak terikat dengan kelompoknya. Ia pernah berpolemik dengan orang-orang Muhammadiyah dan Persis, padahal ia merupakan anggota dari kedua persyarikatan tersebut. Ia bahkan berani berbeda dari pendapat jumhur ulama.7

Sebagai pendidik, Hasbi pernah mengisi pengalamnnya dari menjadi guru sekolah dasar hingga tingkat perguruan tinggi, dia mendorong murid-muridnya agar bercakrawala luas dan peka terhadap masalah-masalah

5 Nourouzzaman Shiddiqi, Jeram-jeram Peradaban Muslim (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996), h. 218

6 Masyarakat Aceh yang dihadapi Hasbi saat terjun dalam dunia pembaruan saat itu terkenal dengan kefanatikannya yang berpegang teguh pada mazhab Syāfi„ī. Dan “angker”

yang dimaksud di sini karena saat masyarakat Aceh perang melawan Belanda terjadi keadaan persenjataan yang tidak seimbang, lalu menimbulkan keputusasaan di pihak masyarakat Aceh. Keadaan putus asa ini menjadikan orang-orang lari pada sesuatu yang berbau mistik.

Mencoba mengimbangi kekuatan senjata dengan jimat atau menarik diri dari kehidupan dunia, Nourouzzaman Shiddiqi, Jeram-jeram Peradaban Muslim, h. 218

7 Mafri Amir, Literatur Tafsir Indonesia (Ciputat: Mazhab Ciputat, 2013), h. 161

kemasyarakatan. Pada tahun 1924 Hasbi mendirikan Madrasah al-Husna di Buloh Beureughang.8 Tahun 1928 Hasbi bersama Syeikh al-Kalalī mendirikan Madrasah Al-Irsyad di Lhokseumawe, dalam perkembangannya madrasah ini kehabisan murid, karena tuduhan mengajarkan ajaran yang menyesatkan, juga tuduhan sistem belajar mengajar di sana menerapkan metode ala kolonial, dengan menggunakan bangku dan meja, yang sangat tabu ketika itu.9 Kemudian tahun 1929 mendirikan Madrasah al-Huda di Krueng Mane. Tahun 1936 ia mendirikan Leergang (kursus guru) dalam rangka mengisi tenaga-tenaga pengajar yang pada waktu itu sangat kurang di Aceh. Pada tahun yang sama ia mendirikan Perguissa (Persatuan Guru-guru Islam seluruh Aceh) dalam upaya menyatubahasakan guru dan kurikulum dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan.10

Sejak tahun 1920 Hasbi memulai aktivitasnya dalam organisasi. Pada tahun itu ia telah bergabung dengan pergerakan „Islam Menjadi Satoe‟ yang didirikan oleh Syaikh al-Kalalī di Lhokeumawe. Tahun 1931 ia mendirikan cabang Jong Islamieten Bond (JIB) di Lhokseumawe, sebuah organisasi di bawah asuhan Haji Agus Salim yang berhasil menempa tokoh-tokoh pergerakan Muslim sampai ke masa-masa awal kemerdekaan Indonesia.

Tahun 1932 Hasbi bergabung dengan organisasi Nadil Ishlahil Islami, di samping itu Hasbi juga pernah menjadi Wakil Redaktur Soeara Atjeh. Hasbi mendaftar menjadi anggota Muhammadiyah yang pada tahun 1938-1943 ia

8 Nourouzzaman Shiddiqi, Jeram-jeram Peradaban Muslim, h. 219-220

9 Aan Supian, “Kontribusi Pemikiran Hasbi Ash-Shiddieqy dalam Kajian Ilmu Hadis,”

h. 278

10 Nourouzzaman Shiddiqi, Jeram-jeram Peradaban Muslim, h. 220

60

menduduki jabatan ketua cabang dan tahun 1943-1946 menduduki jabatan konsul Muhammadiyah Daerah Aceh. Dalam masa pendudukan Jepang, Hasbi menjalankan tugas sebagai Wakil Ketua Maibkatra (Majelis Agama Islam untuk Bantuan Kemakmuran Asia Timur Raya), anggota Syu Kyo Hoin (Mahkamah Syar„iyyah), anggota Aceh Syu Sangi Kai (Badan Penasehat Pemerintah Daerah Aceh), dan juga tergabung dalam Sumatora Cuo Sangi In (Badan Penasehat Balatentara Jepang untuk Sumatera). Tahun 1943 menghadiri musyawarah Alim Ulama Malaya dan Sumatera di Shonanto (Singapura). Dalam pemilu tahun 1955 Hasbi terpilih menjadi Anggota Dewan Konstituante yang di situ dia menyampaikan pokok-pokok pikirannya tentang hak-hak asasi manusia menurut ajaran Islam.11

Selama di Aceh selain menjadi pengajar di kursus-kursus dan sekolah Muhammadiyah, Hasbi juga memimpin SMI (Sekolah Menengah Islam) dan bersama koleganya Hasbi mendirikan Cabang Persis (Persatuan Islam).

Selain itu, Hasbi aktif berdakwah lewat Masyumi di mana Hasbi menjadi Ketua Cabang Masyumi Aceh Utara. Pada tanggal 20-25 Desember 1949 diadakan Kongres Muslimin Indonesia (KMI) di Yogyakarta, Hasbi hadir menjadi perwakilan Muhammadiyah. Pada kongres tersebut Hasbi menyampaikan makalah yang berjudul “Pedoman Perdjuangan Islam Mengenai Soal Kenegaraan.” Pada Januari 1951 Hasbi berangkat ke Yogyakarta atas permintaan Menteri Agama saat itu untuk menjadi dosen di PTAIN yang baru saja didirikan. Kemudian pada tahun 1960 ia diangkat menjadi Dekan Fakultas Syariah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Jabatan

11 Nourouzzaman Shiddiqi, Jeram-jeram Peradaban Muslim, h. 220

ini dipegangnya hingga tahun 1972. Pada tahun 1962 Hasbi juga ditunjuk menjadi Dekan Fakultas Syariah IAIN Ar-Raniry di Banda Aceh. Selain itu, Hasbi juga pernah memegang jabatan sebagai Dekan Fakultas Syariah Universitas Sultan Agung di Semarang dan Rektor Universitas Al-Irsyad di Surakarta tahun 1963-1968, Hasbi juga mengajar di Universitas Islam Indonesia Yogyakarta.12

Pada tanggal 9 Desember 1975, setelah beberapa hari memasuki karantina haji dalam rangka melaksanakan ibadah haji, Hasbi menutup usia di angka 71 tahun. Hasbi meninggal di Rumah Sakit Islam Jakarta dan jasadnya dimakamkan di pemakaman keluarga IAIN Jakarta.13