• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III STUDI HADIS DALAM PEMIKIRAN SARJANA

B. Muhammad Syuhudi Ismail

Muhammad Syuhudi Ismail lahir di Rowo Kangkung, Lumajang, Jawa Timur pada tanggal 23 April 1943. Syuhudi lahir dan dibesarkan dalam keluarga yang taat beragama, kedua orang tuanya adalah saudagar. Ayahnya bernama H. Ismail bin Mistin bin Soemoharjo berasal dari suku Madura, ayahnya meninggal pada tahun 1994. Ibunya bernama Sufiyatun bin Ja‟far yang berasal dari suku Jawa dan meninggal pada tahun 1993. Ketika berusia 22 tahun, Syuhudi menikahi Nurhaedah Sanusi, seorang gadis berdarah Bugis, Sidrap. Dari pernikahan itu, mereka dikaruniai empat buah hati, akan tetapi yang masih hidup tiga orang, yaitu Yunida Indriani, Khairul Muttaqien, dan Muh. Fuad Fathani. Istrinya, Nurhaedah Sanusi meninggal pada sekitar awal tahun 1972, dan pada penghujung tahun itu pula Syuhudi menikah lagi dengan kakak kandung Nurhaedah yang bernama Habiba Sanusi, dari pernikahan tersebut Syuhudi dikaruniai dua putra, yaitu Muh. Ahsan dan Muh. Irfan.35

Masa kecil Syuhudi dihabiskan di desa kelahirannya, di Rowo Kangkung. Selain pernah belajar di Sekolah Rakyat Negeri (SRN) di Sidorejo, Lumajang Jawa Timur, ia juga meluangkan waktunya mengaji agama di sore hari bersama ayahnya, H. Ismail. Ayahnya merupakan seorang pengikut Masyumi tetapi kemudian setelah Masyumi pecah, ayahnya bergabung dengan Nahdlatul Ulama (NU). Kemudian Syuhudi juga belajar

35 Fithriady Ilyas dan Ishak bin Hj. Sulaiman, “Muhammad Syuhudi Ismail (1943-1995); Tokoh Hadis Profilik, Ensiklopedik, dan Ijtihad,” Jurnal Ilmiah Jurnal Futura 17, no.

1 (2017), h. 6-7

70

dan mendalami agama bersama Kiai Mansur, seorang alumnus pesantren berbasis Syarikat Islam di Jember, yang didatangkan oleh ayah Syuhudi ke Rowo Kangkung.36

Syuhudi dikenal sebagai pribadi yang terbuka, artinya ia sangat mudah bergaul dengan siapa saja tanpa memandang golongan. Pada saat mengenyam pendidikan di PHIN (Pendidikan Hakim Islam Negeri) Yogyakarta, walaupun berasal dari keluarga NU, namun Syuhudi lebih banyak bergaul dengan kalangan Muhammadiyah. Saat Syuhudi pertama kali datang ke Ujung Pandang, Makassar, ia tinggal di Masjid Ta‟mirul Masajid dan di sana ia belajar agama di bahwa asuhan Dr. Madjidi, salah seorang tokoh Muhammadiyah terkemuka di Ujungpandang.37 Saat menjadi mahasiswa di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Cabang Makassar (kemuidan menjadi IAIN Alauddin Makassar), Syuhudi tergabung dalam Organisasi Serikat Mahasiswa Muslim Indonesia (SEMMI), yang merupakan organisasi kemahasiswaan di bawah naungan Partai Syarikat Islam Indonesia Wilayah Sulawesi Selatan, dan kemudian dari pengalaman organisasinya di SEMMI, selanjutnya Syuhudi diberi kepercayaan untuk menjabat sebagai Ketua I Pemuda Muslim Indonesia Wilayah Sulawesi Selatan (1965-1969), menjabat sebagai Sekretaris Umum PSII Wilayah Sulawesi Selatan (1970-1973). Pada tahun 1973 tersebut Syuhudi mengundurkan diri dari karir keorganisasiannya dan mulai berkonsentrasi pada pengembangan pendidikan dan kegiatasn

36 Fithriady Ilyas dan Ishak bin Hj. Sulaiman, “Muhammad Syuhudi Ismail (1943-1995); Tokoh Hadis Profilik, Ensiklopedik, dan Ijtihad,” h. 7-11

37 Fithriady Ilyas dan Ishak bin Hj. Sulaiman, “Muhammad Syuhudi Ismail (1943-1995); Tokoh Hadis Profilik, Ensiklopedik, dan Ijtihad,” h. 12

sosial kemasyarakatan di IAIN Alauddin Ujungpandang. Bersama rekan-rekannya, Syuhudi memfokuskan pada bidang pendidikan dan membina Fakultas Syari‟ah dengan baik sehingga dapat menghasilkan lulusan-lulusan yang berkualitas di bidangnya masing-masing. Pengembangan pendidikan yang dilakukan Syuhudi tidak berhenti di situ saja, ia bersama rekannya yang bernama Abd. Muin Salim selanjutnya membuka Program Pascasarjana IAIN Alauddin dengan konsentrasi ilmu-ilmu kesumberan, Tafsir dan Hadis.38

Dalam bidang sosial kemasyarakatan, Syuhudi aktif di Majlis Tarjih Muhammadiyah Dewan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan dan juga merupakan Ketua Tim Penentuan Arah Kiblat Masjid al-Markaz al-Islami. Pada tingkat perguruan tinggi se-Sulawesi Selatan, Syuhudi bersama rekan-rekannya di luar IAIN yaitu M. Tahir Kasnawi dan M. Natsir Nessa mendidikan Lembaga Kajian Kemasyarakatan dan Keislaman Indonesia (KAMI) pada tahun 1990 yang kemudian diketuai oleh Syuhudi sendiri. Pada tahun 1991 Syuhudi dipercayai oleh pengurus Lembaga KAMI untuk menjadi Sekretaris Umum Ikatan Cendikiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Orwil Sulawesi Selatan yang pada saat itu baru saja dibentuk oleh rekan-rekannya yang bersama-sama di Lembaga KAMI.39

Syuhudi pernah berkarir sebagai pegawai Pengadilan Agama Tinggi Provinsi di Ujungpandang (1962-1970), Kepala Bagian Kemahasiswaan dan Alumni IAIN Ujungpandang (1973-1978), Sekretaris KOPERTAIS Wilayah

38 Sofyan Madiu, “Metodologi Kritik Matan Hadis Analisis Komparatif Pemikiran Salah al-Din al-Adlibi dan Muhammad Syuhudi Ismail,” (Tesis Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, 2013), h. 88-89

39 Sofyan Madiu, “Metodologi Kritik Matan Hadis Analisis Komparatif Pemikiran Salah al-Din al-Adlibi dan Muhammad Syuhudi Ismail,” h. 89

72

VIII Sulawesi (1974-1982), dan Sekretaris Al-Jami‟ah IAIN Alauddin Ujungpandang (1979-1973). Selain itu, Syuhudi juga aktif sebagai staf pengajar di berbagai perguruan tinggi Islam di Ujungpandang, antara lain di Fakultas Syari‟ah IAIN Alauddin Ujungpandang (sejak 1967), Fakultas Tarbiyah UNISMUH Makassar di Ujungpandang dan Enrekang (1974-1979), Fakultas Ushuluddin dan Syari‟ah Universitas Muslim Indonesia (UMI) Ujungpandang (1976-1982), dan Pesantren IMMIM Tamalanrea, Ujungpandang (1973-1978).40 Pada tahun 1987 setelah kembali dari pendidikannya di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, selain menjalankan tugas pokoknya sebagai dosen tetap di Fakultas Syari‟ah IAIN Alauddin Ujungpandang dan Dosen Luar Biasa di perguruan tinggi lainnya di Ujungpandang. Syuhudi juga menjadi Dosen Luar Biasa di Institut Agama Islam Latifah Mubarakiyah Suryalaya, Tasikmalaya, Jawa Barat (1988-1990), menjabat juga sebagai Direktur Forum Studi Agama Islam (FSAI) IAIN Alauddin Ujungpandang, Ketua Umum Ikatan Alumni IAIN Alauddin Ujungpandang (1986-1995), dosen tetap pada Program Pascasarjana IAIN Alauddin Ujungpandang, Dosen Luar Biasa pada Program Pascasarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya dan sebagai Deputi Direktur Program Pascasarjana IAIN Alauddin Ujungpandang selama setahun. Pada tahun 1993, Syuhudi juga dipercayai sebagai Ketua Tim Penyusun Kurikulum Ulumul Hadis I-IX untuk IAIN se-Indonesia yang diselenggarakan di Cimahi.41

40 M. Syuhudi Ismail, Kaidah Kesahihan Sanad Hadis (Jakarta: Bulan Bintang, 2014), h. 269

41 Sofyan Madiu, “Metodologi Kritik Matan Hadis Analisis Komparatif Pemikiran Salah al-Din al-Adlibi dan Muhammad Syuhudi Ismail,” h. 91-92

Syuhudi merupakan seorang yang telah membuktikan kualitas dirinya dengan banyak ilmu yang telah dipelajarinya, di samping itu ia juga merupakan seorang yang mempunyai semangat juang dan idealisme keislaman yang kuat. Sifatnya yang toleran serta tetap berpegang teguh pada paham yang diyakininya selama memiliki dasar yang kuat menjadikannya pribadi yang tidak pernah menyalahkan seseorang yang berseberangan paham dengannya dan bisa lebih menghargai perbedaan di internal umat Islam.42 Dan sosok tersebut telah wafat pada tanggal 19 November 1995 di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta, Syuhudi kemudian dikebumikan di Perkuburan Islam (Arab) Bontoala, Ujungpandang sehari setelahnya.43

2. Perjalanan Intelektual

Pendidikan formal Syuhudi dimulai di Sekolah Rakyat Negeri (SRN) Sidorejo, Lumajang, Jatiroto, Lumajang, Jawa Timur. Syuhudi menamatkan pendidikannya di sekolah dasar saat ia berusia 12 tahun, tepatnya pada tahun 1955. Syuhudi kemudian meneruskan pendidikannya ke Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) di Malang selama 4 tahun dan tamat pada tahun 1959. Syuhudi kemudian pergi ke Yogyakarta untuk melanjutkan pendidikannya di Pendidikan Hakim Islam Negeri (PHIN) dan menyelesaikan pendidikannya di tahun 1961. Pada tahun itu juga Syuhudi diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di bagian Pengadilan Agama di Ujungpandang, Sulawesi Selatan. Meskipun berstatus sebagai pekerja

42 Sofyan Madiu, “Metodologi Kritik Matan Hadis Analisis Komparatif Pemikiran Salah al-Din al-Adlibi dan Muhammad Syuhudi Ismail,” h. 89-90

43 Fithriady Ilyas dan Ishak bin Hj. Sulaiman, “Muhammad Syuhudi Ismail (1943-1995); Tokoh Hadis Profilik, Ensiklopedik, dan Ijtihad,” h. 7

74

pemerintahan, tetapi semangat Syuhudi untuk menuntut ilmu tidak membuatnya berhenti untuk melanjutkan pendidikannya, Syuhudi kemudian melanjutkan studinya di Fakultas Syari‟ah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Cabang Makassar (kemudian menjadi IAIN Alauddin Makassar), dan pada tahun 1965 ia memperoleh ijazah Sarjana Muda dengan risalah ilmiah yang berjudul “Tempus Delictus dalam Hukum Pidana Islam.” Kemudian Syuhudi melanjutkan pendidikan Sarjana Lengkapnya di kampus dan fakultas yang sama dan tamat pada tahun 1973 dengan skripsi yang berjudul “Pelaksanaan Syari‟at Islam di Indonesia.”44

Syuhudi kemudian melanjutkan pendidikannya ke Program Pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan menamatkannya pada tahun 1985 dengan meraih gelar doktor pada tahun 1987 dalam bidang Kajian Islam, Konsentrasi Ilmu Hadis dengan disertasi yang berjudul “Kaedah Kesahihan Sanad Hadis Telaah Kritis dengan Pendekatan Ilmu Sejarah.” Saat IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Syuhudi pernah menimba ilmu kepada Harun Nasution, ia mempelajari darinya tentang penelitian keagamaan dan kecenderungan pemahaman hadis Nabi. Syuhudi juga pernah belajar kepada M. Quraish Shihab, darinya Syuhudi banyak mendalami tentang pemahaman keagamaan secara sistematis dengan pendekatan tematik. Selain itu Syuhudi juga banyak mempelajari dan mendapat masukan tentang ilmu hadis dan metodologi kajian hadis dari Said Agil Husin Al Munawwar. Di samping pendidikan formal yang dilakukannya, Syuhudi juga mengikuti sejumlah

44 Fithriady Ilyas dan Ishak bin Hj. Sulaiman, “Muhammad Syuhudi Ismail (1943-1995); Tokoh Hadis Profilik, Ensiklopedik, dan Ijtihad,” h. 8-9

pendidikan nonformal, di antaranya: Penataran Bidang Studi Ilmu Falak di Jakarta pada tahun 1976, Studi Purna Sarjana (SPS) di Yogyakarta tahun akademik 19781979, Pendidikan Staf Tingkat II di Jakarta tahun 1979, dan Penataran Sekretaris IAIN se-Indonesia.45 Pada tanggal 26 Maret 1994, Syuhudi kemudian mendapat gelar akademik tertinggi yang kemudian dimandatkan menjadi Guru Besar dalam Bidang Hadis dan Ilmu Hadis dengan pidato berjudul “Pemahaman Hadis Nabi yang Tekstual dan Kontekstual (Telaah Ma‟ani al-Hadis tentang Ajaran Islam yang Universal, Temporal, dan Lokal).”46

3. Pemikiran dan Karya-karya

Syuhudi Ismail disebut telah berhasil membuktikan bahwa kaidah kesahihan sanad hadis memiliki tingkat akurasi yang cukup tinggi sebagai acuan untuk meneliti kesahihan sanad hadis. Bahkan dalam beberapa hal, kaidah kesahihan sanad hadis terlihat lebih kritis dan lebih hati-hati daripada kaidah kritik ekstern dalam ilmu sejarah.47 Sikap lebih kritis dan hati-hati kaidah kesahihan sanad hadis ini dicontohkan Syuhudi dengan memaparkan perbedaan sikap terhadap periwayat/saksi yang kualitasnya buruk, dalam ilmu hadis periwayat yang kualitasnya buruk disebut daif, periwayat yang dinilai daif atau tidak kredibel sama sekali tidak dihargai. Sedangkan dalam ilmu sejarah, saksi yang berkualitas buruk pun masih dihargai, dengan pertimbangan bahwa saksi tersebut sekali-sekali pernah menyatakan suatu

45 Fithriady Ilyas dan Ishak bin Hj. Sulaiman, “Muhammad Syuhudi Ismail (1943-1995); Tokoh Hadis Profilik, Ensiklopedik, dan Ijtihad,” h. 9-11

46 Sofyan Madiu, “Metodologi Kritik Matan Hadis Analisis Komparatif Pemikiran Salah al-Din al-Adlibi dan Muhammad Syuhudi Ismail,” h. 92

47 Ramli Abdul Wahid, Sejarah Pengkajian Hadis di Indonesia, h. 28

76

kebenaran juga. Hal ini berarti jika kaidah kritik ekstern dalam ilmu sejarah diakui sebagai metode ilmiah, maka sudah selayaknya kaidah kesahihan sanad hadis yang dirumuskan para ulama disebut sebagai metode ilmiah.48

Penelitian hadis memiliki kedudukan yang sangat penting, Syuhudi mengidentifikasi beberapa faktor yang membuat penelitian hadis penting untuk dilakukan, yaitu: 1) hadis merupakan salah satu sumber ajaran Islam yang selalu menjadi rujukan; 2) tidak semua hadis ditulis pada masa Nabi; 3) munculnya pemalsuan hadis; 4) jarak waktu penghimpunan hadis dan wafatnya Nabi cukup lama; 5) jumlah kitab hadis yang banyak dengan metode penyusunan yang beragam; 6) terjadinya periwayatan hadis secara makna.49

Syuhudi merumuskan langkah-langkah metodologis dalam kegiatan penelitian hadis. Langkah awal yang dilakukan dalam meneliti sebuah hadis adalah takhrīj al-ḥadīts, dalam kegiatan penelitian, maksud takhrīj al-ḥadīts ialah melakukan penelusuran atau pencarian hadis pada berbagai kitab sebagai sumber asli dari hadis yang bersangkutan, yang di dalam sumber itu dikemukakan secara lengkap matan dan sanad hadis yang bersangkutan.

Kegiatan penelitian hadis selanjutnya adalah melakukan penelitian sanad, Syuhudi menggunakan kaidah kesahihan sanad hadis yang sudah dirumuskan oleh ulama sebagai acuan penelitian sanad. Setelah meneliti sanad, langkah terakhir dalam kegiatan penelitian hadis adalah melakukan penelitian matan.

Syuhudi menegaskan bahwa meneliti matan harus dilakukan setelah meneliti

48 M. Syuhudi Ismail, Kaidah Kesahihan Sanad Hadis, h. 241

49 M. Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadis Nabi (Jakarta: Bulan Bintang, 2016), h. 7-20

sanad suatu hadis, itulah sebabnya Syuhudi menempatkan penelitian matan di bagian akhir dalam langkah-langkah metodologis ini. Matan suatu hadis tidaklah penting untuk diteliti jika tidak memiliki sanad atau tidak diketahui kualitasnya, karena tanpa sanad suatu matan hadis tidak bisa dinyatakan bersumber dari Nabi. Syuhudi juga menjadikan kaidah kesahihan matan hadis sebagai acuan dalam penelitian matan.50

Dalam artikel yang ditulis oleh Fithriady Ilyas dan Ishak bin Hj.

Sulaiman, disebutkan bahwa Syuhudi merupakan seorang tokoh yang profilik (produktif menghasilkan karya) dan ensiklopedik (keilmuannya mencakup berbagai bidang ilmu atau mempunyai pengetahuan luas). Selain menghasilkan karya dalam bidang hadis yang sangat penting dalam perkembangan kajian hadis di Indonesia, Syuhudi juga menghasilkan karya tulis dalam bidang keilmuan lain yang terdiri dari buku, makalah, diklat, dan lain-lain.51

Berikut karya-karya Syuhudi dalam bidang hadis yang diterbitkan dalam bentuk buku: Kaidah Kesahihan Sanad Hadis: Telaah Kritis dan Tinjauan dengan Pendekatan Ilmu Sejarah (1988), Pengantar Ilmu Hadis (1991), Cara Praktis Mencari Hadis (1991), Sunnah Menurut Para Pembelanya dan Upaya Pelestarian Sunnah Oleh Para Pembelanya (1991), Sunnah Menurut Para Pengingkarnya dan Upaya Pelestarian Sunnah Oleh Para Pembelanya (1991), Metodologi Penelitian Hadis Nabi (1992), Hadis Nabi yang Tekstual dan Kontekstual Telaah Ma‟ani al-Hadits Tentang Ajaran Islam yang

50 M. Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadis Nabi, h. 39-137

51 Fithriady Ilyas dan Ishak bin Hj. Sulaiman, “Muhammad Syuhudi Ismail (1943-1995); Tokoh Hadis Profilik, Ensiklopedik, dan Ijtihad,” h. 16-19

78

Universal, Temporal, dan Lokal (1994), dan Hadis Nabi Menurut Pembela, Pengingkar, dan Pemalsunya (1995).52

Adapun karya-karya Syuhudi di bidang hadis dalam bentuk makalah, nota/catatan, artikel, pidato ilmiah, dan sebagainya: Imam Bukhari dan Beberapa Keistimewaannya (1973), Penelaahan Hadis Nabi Sebelum Penggunaan Metode Ijtihad (1974), Masalah al-Jarh wa Ta‟dil dalam Penelitian Hadis (1977), Metode Penelitian Hadis Ditinjau dari Penelitian Sejarah (1980), Hadis Sahih Benar-benar Telah Teruji Secara Ilmiah (Harian Pelita, Jakarta, 30 November 1987), Dampak Penyebaran Hadis Palsu dan Manfaat Pengetahuan Sebab Ayat Turun dan Sebab Hadis Terjadi bagi Mubaligh dan Pendidik (Pidato Ilmiah, Ujungpandang, 26 Desember 1988), Pembahasan Kitab-kitab Hadis (Diklat, Ujungpandang, 1989), Ulumul Hadis I-IX (Ditbinpetra Islam Depag RI, Jakarta 1993), Pemahaman Hadis Nabi Secara Tektual dan Kontekstual: Telaah Ma‟ani al-Hadis Tentang Ajaran Islam Universal, Temporal, dan Lokal (Makalah Pidato Pengukuhan Guru Besar (Ujungpandang, IAIN Alauddin 26 Maret 1994).53

Karya-karya Syuhudi di bidang fikih, pemikiran, dan dakwah dalam makalah, nota/catatan, artikel, pidato ilmiah dan lain sebagainya, sebagai berikut: Metode Dakwah Menurut Sunnah Rasulullah (1974), Beberapa Teori Kepemimpinan, Mahasiswa yang Bertanggung Jawab (1975), Kepemimpinan Nabi Muhammad Saw. (1976), al-Maturidi, Sejarah Hidup

52 Fithriady Ilyas dan Ishak bin Hj. Sulaiman, “Muhammad Syuhudi Ismail (1943-1995); Tokoh Hadis Profilik, Ensiklopedik, dan Ijtihad,” h. 17

53 Fithriady Ilyas dan Ishak bin Hj. Sulaiman, “Muhammad Syuhudi Ismail (1943-1995); Tokoh Hadis Profilik, Ensiklopedik, dan Ijtihad,” h. 17

dan Pemikirannya (Makalah, 1978-1979), Kebahagiaan Menurut Aristoteles dan Islam (Makalah, 1978/1979), Sebab-sebab Orang Islam Memasuki Aliran Kebatinan (Makalah, 1978-1979), Syihab Din Suhrawardi al-Maqtul (Makalah, 1978-1979), Syah Waliyullah al-Dihlawi, Pembaharu Pemikiran Islam di India (Malakah, 1978/1979), Sistem Pembinaan Perguruan Tinggi Islam dan Swasta (PTAIS) di Sulawesi Selatan (1981), Sekitar Aliran Kebatinan di Indonesia (1981), Bedah Plastik Ditinjau dari Segi Agama Islam (Harian Pedoman Rakyat, Ujungpandang, 4 Desember 1988), Operasi Plastik Perbuatan Dilaknat Nabi Muhammad Saw. (Harian Pedoman Rakyat, Ujungpandang, 29 November 1988), Kasus Euthanasia dalam Pandangan Islam (Mimbar Karya, Jakarta, 21 Mei 1989), Islam dan Berwiraswasta (Makalah, Sengkang, Sulawesi Selatan, 7 Juli 1991), Sewa Rahim Haram Menurut Hukum Islam (Harian Pedoman Rakyat, 4 Desember 1989), Agama dan Etos Kerja (Makalah, Ujungpandang, 16 Oktober 1991), Sumber Daya Manusia dalam Pembangunan Menurut Perspektif Islam (Makalah, Ujungpandang, Badan Pengurus Pusat KKN IAIN Alauddin Ujungpandang, 1992), Zakat Fitri Menurut Petunjuk Hadis Nabi (Makalah, Ujungpandang, 1992), Organisasi Penerima dan Pengelola Zakat (Makalah, Ujungpandang, 1994), Mubalig dalam Upaya Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia (Makalah, PDM Kodya Ujungpandang, 1994), Sekitar Upaya Pengentasan Kaum Miskin Menurut Petunjuk Hadis Nabi (Makalah, Watampone, 11 Januari 1995).54

54 Fithriady Ilyas dan Ishak bin Hj. Sulaiman, “Muhammad Syuhudi Ismail (1943-1995); Tokoh Hadis Profilik, Ensiklopedik, dan Ijtihad,” h. 17-18

80

Karya-karya di bidang ilmu falak dalam bentuk nota/catatan, makalah, hasil penelitian dan sebagainya adalah sebagai berikut: Sekitar Hisab Awal Bulan (Makalah, 1977), Ilmu Falak (Diklat, 1981), Penerapan Arah Kiblat pada Pembangunan Masjid (Hasil Penelitian, 1982), Pelaksaan Hisab dan Rukyat Awal Bulan (Makalah, 1982), Gerhana Matahari Menurut Hisab dan Hadis Nabi (Malakah, 1982), Menentukan Arah Kiblat dan Waktu Salat (Hasil Penelitian, 1987), Hisab Rukyah Awal Bulan Hijriah dan Cara Membuat Kalender Tahun 2000 dan 2222 Masehi (Hasil Penelitian, 1990), Tabel Kalender Tahun 1-1500 Hijriah dan Perbandingannya dengan Tahun Masehi (Hasil Penelitian, 1992), Sekitar Sumber Perbedaan Penetapan Awal Bulan untuk Tahun Hijriah (Qamariah) di Kalangan Para Ahli Hisab dan Ahli Rukyah: Tinjauan Menurut Ilmu Falak (Makalah, 1994).55

Syuhudi juga menyumbang 13 judul entri untuk Ensiklopedia Islam (Proyek Peningkatan Prasarana dan Sarana Perguruan Tinggi Agama/IAIN, Direktorat Jendral Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, Departemen Agama RI, Jakarta, 1987/1988.56

C. Ali Mustafa Yaqub