BAB III STUDI HADIS DALAM PEMIKIRAN SARJANA
3. Pemikiran dan Karya-karya
Pada masa kehidupan Hasbi, di Indonesia studi hadis dan keilmuannya dapat dikatakan masih sangat langka, disebabkan masih sedikitnya karya-karya dalam bidang hadis yang dihasilkan oleh ulama Indonesia. Namun perkembangan kajian hadis dan keilmuannya mendapatkan tempatnya dan bahkan semakin pesat pada akhir-akhir abad ke-20.22 Sebagai tokoh yang mempunyai kepakaran di bidang hadis, Hasbi mempunyai beberapa pendapat terkait bidang ini.
Dalam pandangan Hasbi, hadis dan sunnah adalah dua istilah yang berbeda. Dilihat dari pertumbuhan pemakaiannya, kata hadis merupakan istilah untuk menyebut “sesuatu yang diceritakan,” kemudian kata hadis digunakan untuk istilah bagi perkataan, perbuatan, ataupun ketetapan yang disandarkan kepada Nabi. Sedangkan kata sunnah, pada asalnya tidak sama dengan hadis. Kata sunnah dipergunakan untuk “sesuatu cara kerja yang tetap ditempuh, atau sesuatu tradisi yang tetap dikerjakan Nabi.” Jika hadis meliputi sabda Nabi dan meliputi apa yang diriwayatkan orang kepada kita, maka sunnah Nabi hanya mengenai perbuatan-perbuatan yang dipraktekkan terus menerus di hadapan para sahabat. Terlepas dari perbedaannya, baik hadis atau sunnah, keduanya bersumber dari Nabi, oleh karena itu umat Islam wajib mengikutinya.23
22 Aan Supian, “Kontribusi Pemikiran Hasbi Ash-Shiddieqy dalam Kajian Ilmu Hadis,”
h. 280-281
23 T. M. Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadis (Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2009), h. 321-325
Menurut Hasbi hadis sahih adalah dalil hukum yang tidak boleh ditinggalkan,24 hadis yang sahih dan tidak tidak berlawanan dengan petunjuk Alquran, kedudukannya sama dengan dengan Alquran dalam segi sama-sama wajib diikuti oleh seluruh umat Islam,25 lantaran banyak sekali ayat Alquran yang mengharuskan umat Islam kembali kepada sunnah Nabi yang tertuang dalam hadis. Karena hadis sahih merupakan sumber hukum kedua setelah Alquran, apapun pendapat ulama harus ditinggalkan jika jelas-jelas bertentangan dengan suatu hadis sahih.26 Kendatipun suatu hadis itu dinilai sahih, tapi Hasbi tetap menyarankan untuk melihat apakah hadis sahih itu merupakan hadis yang mansūkh atau tidak, karena sebagaimana yang dikemukakan Aan Supian, dalam pandangan Hasbi jika suatu hadis termasuk bagian yang mansūkh, hadis tersebut tidak dapat diamalkan walaupun kualitasnya sahih.27
Dalam menentukan kesahihan suatu hadis, selain melakukan penilaian pada sanad, Hasbi menekankan pentingnya melihat apakah matan suatu hadis bertentangan dengan yang lebih kuat atau tidak. Karena menurutnya sebagian ahli jumud dan taklid kerap kali menentukan suatu hadis berkualitas sahih hanya berdasarkan kesahihan sanad dan tidak memperhatikan kesahihan matan. Meskipun sanad suatu hadis berkualitas sahih, tetapi matannya bertentangan dengan ajaran Islam, maka hadis itu harus ditolak, begitu juga
24 Ramli Abdul Wahid, Sejarah Pengkajian Hadis di Indonesia (Medan: IAIN Press, 2016), h. 17
25 T. M. Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadis, h. 128
26 T. M. Hasbi Ash-Shiddieqy, Pokok-pokok Ilmu Dirayah Hadis, (Jakarta: Bulan Bintang, 1994), j. 2, h. 357
27 Aan Supian, “Kontribusi Pemikiran Hasbi Ash-Shiddieqy dalam Kajian Ilmu Hadis,”
h. 285-286
66
sebaliknya. Syarat-syarat kesahihan hadis pada sanad, yaitu: 1) sanadnya bersambung; 2) tidak bertentangan dengan riwayat yang lebih kuat (syādz);
3) tidak memiliki „illah; 4) semua perawinya adil; 5) semua perawinya ḍābiṭ.
Untuk syarat-syarat kesahihan pada matan, yaitu: 1) tidak bertentangan dengan Alquran; 2) tidak bertentangan dengan hadis mutawātir; 3) tidak bertentangan dengan ijma‟; 4) tidak bertentangan dengan akal sehat.28
Aktivitas Hasbi dalam menulis sudah dimulai sejak tahun 1930-an.
Tulisan pertama yang diterbitkan berupa sebuah booklet yang berjudul Penoetoep Moeloet dan yang terakhir adalah Pedoman Haji (1975). Seluruh karya tulisnya terdiri atas 73 judul buku (6 tafsir, 8 hadis, 36 fikih, 5 tauhid/kalam, 17 umum) dan lebih dari 49 artikel.29 Berikut beberapa karya yang ditulis Hasbi. Dalam bidang tafsir dan ilmu Alquran: Beberapa Rangkaian Ayat (1952), Sejarah dan Pengantar Ilmu Tafsir (1954), Tafsir Qur‟an Majid Nur, 30 juz (1956), Tafsir Bayan (1966), Mukjizat al-Qur‟an (1966), dan Ilmu-ilmu al-al-Qur‟an: Media Pokok dalam Menafsirkan al-Qur‟an (1972).30
Bidang hadis dan ilmu hadis: Beberapa Rangkuman Hadis (1952), Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadis (1954), 2002 Mutiara Hadis, 8 jilid (1954-1980), Pokok-pokok Ilmu Dirayah Hadis, 2 jilid (1958), Problematika Hadis sebagai Dasar Pembina Hukum Islam (1964), Koleksi Hadis-hadis
28 T. M. Hasbi Ash-Shiddieqy, Pokok-pokok Ilmu Dirayah Hadis, j. 1, h. 110-116
29 Nourouzzaman Shiddiqi, Jeram-jeram Peradaban Muslim, h. 220
30 Aan Supian, “Kontribusi Pemikiran Hasbi Ash-Shiddieqy dalam Kajian Ilmu Hadis,”
h. 279
Hukum, 11 jilid (1970-1976), Rijal al-Hadits (1970), dan Sejarah Perkembangan Hadis (1973).31
Bidang fikih dan ushul fikih: Sejarah Peradilan Islam (1950), Tuntunan Qurban (1950), Pedoman Salat, Hukum-hukum Fiqih Islam, Pengantar Hukum Islam (1953), Pedoman Zakat, al-Ahkam (Pedoman Muslimin) (1953), Pedoman Puasa, Kuliah Ibadah, Pemindahan Darah (Blood Transfusion) Dipandang dari Sudut Hukum Islam (1954), Ikhtisar Tuntunan Zakat dan Fitrah (1958), Syari‟at Islam Menjawab Tantangan Zaman (1961), Peradilan dan Hukum Acara Islam, Poligami Menurut Syari‟at Islam, Pengantar Ilmu Fiqih (1967), Baitul Mal Sumber-sumber dan Penggunaan Keuangan Negara Menurut Ajaran Islam (1968), Zakat sebagai Salah Satu Unsur Pembina Masyarakat Sejahtera (1969), Asas-asas Hukum Tatanegara Menurut Syari‟at Islam (1969), Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Hukum Islam (1971), Hukum Antar Golongan dalam Fikih Islam, Perbedaan Matla‟ Tidak Mengharuskan Kita Berlainan pada Memulai Puasa (1971), Ushul Fiqih, Ilmu Kenegaraan dalam Fiqih Islam (1971), Beberapa Problematika Hukum Islam (1972), Kumpulan Soal jawab (1973), Pidana Mati dalam Syari‟at Islam, Sebab-sebab Perbedaan Faham Para Ulama dalam Menetapkan Hukum Islam, Pokok-pokok Pegangan Imam-imam Mazhab dalam Membina Hukum Islam, Pengantar Fiqih Muamalah, Fakta-fakta Keagungan Syari‟at Islam (1974), Falsafah Hukum Islam (1975), Fikih Islam Mempunyai Daya Elastis, Lengkap, Bulat, dan Tuntas
31 Aan Supian, “Kontribusi Pemikiran Hasbi Ash-Shiddieqy dalam Kajian Ilmu Hadis,”
h. 279
68
(1975), Pengantar Ilmu Perbandingan Mazhab (1975), Ruang Lingkup Ijtihad Para Ulama dalam Membina Hukum Islam (1975), Dinamika dan Elastisitas Hukum Islam (1976), dan Pedoman Haji.32
Bidang tauhid/kalam: Pelajaran Tauhid (1954), Sejarah dan Pengantar Ilmu Tauhid/Kalam (1973), Fungsi Akidah dalam Kehidupan Manusia dan Perpautannya dengan Agama (1973), Studi Aqidah Islam (1974), Hakikat Islam dan Unsur-unsur Agama (1997).33
Hasbi juga mempunyai karya tulis bertemakan keislaman yang bersifat umum, di antaranya: Al-Islam (1950), Pedoman Berumah Tangga (1950), Sejarah Peradilan Islam (1952), Dasar-dasar Ideologi Islam (1953), Sejarah Islam, Pemerintahan Amawijah Timur (1953), Sejarah Islam Pemerintahan Abbasiyah (1953), Pelajaran Sendi Islam, Sejarah dan Perjuangan 40 Pahlawan Utama dalam Islam (1955), Dasar-dasar Kehakiman dalam Pemerintahan Islam (1955), Pedoman Dzikir dan Do‟a (1951), Kriteria antara Sunnah dan Bid‟ah, Lembaga Pribadi (1956), Ulum al-Lisan al-Arabi (Ilmu-ilmu Bahasa Arab) (1967), Problematika Bulan Ramadhan, Lapangan Perjuangan Wanita Islam, Problematika Idul Fitri, Gubahan Dzikir dan Do‟a, Istimewa dalam Pelaksanaan Ibadah Haji (1975).34
32 Aan Supian, “Kontribusi Pemikiran Hasbi Ash-Shiddieqy dalam Kajian Ilmu Hadis,”
h. 279-280
33 Ira Nur Azizah, “Metode Pemahaman Hadis di Indonesia: Studi atas Pemikiran T. M.
Hasbi Ash-Shiddieqy,” (Tesis Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2020), h. 60
34 Ira Nur Azizah, “Metode Pemahaman Hadis di Indonesia: Studi atas Pemikiran T. M.
Hasbi Ash-Shiddieqy,” h. 60-61
B. Muhammad Syuhudi Ismail