• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

B. Terminologi Hadis Tasyrī„ dan Non-Tasyrī„

Nabi Muhammad Saw. selain sebagai pembawa risalah, juga merupakan manusia biasa. Maka apa yang datang dari Nabi dinilai tidak seluruhnya bersifat mengikat atau wajib diikuti, di antara istilah yang membedakan apa yang datang dari Nabi ada yang bersifat mengikat dan juga ada yang tidak adalah sunnah tasyrī„iyyah dan non-tasyrī„iyyah.25 Menurut keterangan Yūsuf al-Qaraḍāwī istilah ini pertama kali dipopulerkan oleh Maḥmūd Syaltūt,26 pembagian ini mengatakan bahwa sunnah tasyrī„iyyah saja yang bersifat mengikat bagi umat Islam sehingga wajib diikuti, sedangkan sunnah non-tasyrī„iyyah tidak. Meskipun istilah ini diinisiasi oleh Maḥmūd Syaltūt, tetapi pola pemikiran yang seperti ini sudah muncul sebelumnya, yang mana

25 Dalam penelitian ini, saya memilih untuk menggunakan istilah sunnah tasyrī„iyyah dan non-tasyrī„iyyah atau hadis tasyrī„ (pencipta syariat) dan non-tasyrī„ (bukan pencipta syariat) untuk menyebut hadis atau apa yang datang dari Nabi ada yang mengikat sehingga wajib diikuti dan ada yang tidak mengikat sehingga tidak wajib diikuti. Saya menilai istilah ini bisa dikatakan sebagai istilah yang sedang berkembang, artinya dalam berbagai literatur yang saya gunakan untuk penelitian ini menggunakan istilah sunnah tasyrī„iyyah dan non-tasyrī„iyyah atau hadis tasyrī„ dan non-tasyrī„ untuk menyebut sunnah yang bersifat mengikat dan tidak atau wajib diikuti dan tidak, sehingga istilah ini saya harap akan lebih mudah dikenali maksudnya. Walaupun ada penyebutan lain dalam klasifikasi ini, seperti Syah Waliyullah Ad-Dihlawi yang menyebutnya sunnah al-risālah dan ghair al-risālah, yang menyatakan bahwa sunnah itu ada yang muncul dalam rangka tujuan penyampaian risalah (wajib diikuti) dan ada yang tidak, Syah Waliyullah Ad-Dihlawi, Argumen Puncak Allah: Kearifan dan Dimensi Batin Syariat, terj. Nurdin Hidayat dan C. Romli Bihar Anwar (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2005), h. 535-536. Atau Muḥammad Syaḥrūr yang menyebutnya sunnah rasūliyyah (berimplikasi pada sikap taat) dan sunnah nabawiyyah (tidak diharuskan taat, hanya perlu mengimaninya saja), Abdul Fatah, “Konsep Sunnah Perspektif Muhammad Syahrur,” Diroyah: Jurnal Ilmu Hadis 4, no. 1 (2019), h. 32. Secara substansi istilah penyebutan Ad-Dihlawi dan Syaḥrūr memiliki kesamaan dengan istilah yang saya gunakan dalam penelitian ini, bahkan istilah Ad-Dihlawi sering kali diklaim sebagai sunnah tasyrī„iyyah dan non-tasyrī„iyyah atau hadis tasyrī„ dan non-tasyrī„. Untuk istilah Syaḥrūr penjabarannya memang lebih kompleks, tetapi secara umum atau tujuan penyebutan istilah ini saya nilai sama dengan sunnah tasyrī„iyyah dan non-tasyrī„iyyah atau hadis tasyrī„ dan non-tasyrī„.

26 Tarmizi M. Jakfar, Otoritas Sunnah Non-Tasyri‟iyyah Menurut Yusuf al-Qaradhawi, h. 121

kelompok ini mendiferensiasikan apa yang datang dari Nabi menjadi ada yang wajib diikuti dan ada yang tidak wajib diikuti. Seperti yang dilakukan oleh Syah Waliyullah Ad-Dihlawi, Syihāb al-Dīn al-Qarāfī, dan lain-lain.27

Jika sunnah diklasifikasikan ke dalam tasyrī„iyyah dan non-tasyrī„iyyah, maka hal yang sama juga perlu dilakukan untuk istilah hadis. Selain karena pendapat yang mengatakan bahwa sunnah dan hadis itu merupakan sinonim, jika dilihat dari sejarahnya, sunnah Nabi telah terumuskan dalam hadis-hadis yang ditemui di kitab-kitab hadis saat ini, jadi bisa dikatakan bahwa isi kandungan hadis adalah sunnah-sunnah Nabi yang telah direkam dan dilaporkan. Dalam sejarahnya, konsep sunnah bermula dari kebiasaan, adat istiadat serta tradisi masyarakat Arab pra-Islam. Konsep ini kemudian diadopsi oleh Islam, saat Nabi diutus untuk menyampaikan risalah, secara otomatis Nabi menjadi orang yang memiliki otoritas dalam masalah agama sehingga perilakunya diperhatikan dan diikuti oleh para sahabat. Sunnah kemudian didefinisikan sebagai perilaku dan tradisi yang dicontohkan oleh Nabi, di samping Nabi juga selalu memberi penteladanan yang saleh kepada

27 Untuk menyebut sesuatu yang datang dari Nabi ada yang bersifat mengikat dan ada yang tidak mengikat, istilah sunnah tasyrī„iyyah dan non-tasyrī„iyyah lebih sering muncul dibanding istilah hadis tasyrī„ dan non-tasyrī„. Mengenai hal ini Tarmizi M. Jakfar menduga bahwa mulanya para ulama memandang hanya perbuatan atau perilaku Nabi saja yang memiliki sifat mengikat dan tidak mengikat, sehingga istilah sunnah dinilai lebih representatif. Istilah hadis awalnya cenderung digunakan kepada perkataan Nabi atau laporan tentang Nabi secara umum, jarang sekali digunakan kepada perbuatan atau perilaku Nabi secara khusus, sementara perbuatan atau perilaku Nabi biasanya diistilahkan dengan sunnah.

Berawal dari faktor ini para ulama menggunakan istilah sunnah tasyrī„iyyah dan non-tasyrī„iyyah. Meski demikain, dalam pembahasan ulama belakangan istilah sunnah tasyrī„iyyah dan non-tasyrī„iyyah tidak terbatas pada perilaku atau perbuatan Nabi, tetapi juga meliputi perkataannya, Tarmizi M. Jakfar, Otoritas Sunnah Non-Tasyri‟iyyah Menurut Yusuf al-Qaradhawi, h. 120-121

36

para sahabat, baik berbentuk sabda atau perilaku spiritual yang praksis.28 Dalam menolak temuan-temuan para orientalis yang mengatakan bahwa sunnah adalah kreasi kaum Muslim belakangan, Fazlur Rahman menegaskan bahwa sunnah sudah operatif sejak awal Islam. Konsep sunnah menurutnya sudah tercantum dalam Alquran yang menyatakan bahwa Nabi adalah uswah ḥasanah, pernyataan Alquran ini menyiratkan bahwa sejak awal kaum Muslim menganggap perilaku Nabi sebagai konsep, oleh karena itu Fazlur Rahman mengartikan sunnah sebagai konsep perilaku. Sunnah Nabi oleh generasi Muslim awal ditafsirkan secara kreatif menjadi sunnah yang hidup untuk menghadapi faktor-faktor dan benturan-benturan baru yang muncul seiring berkembangnya zaman.29

Sama halnya dengan sunnah, eksistensi hadis menurut Fazlur Rahman juga sudah dimulai sejak masa Nabi yang ketika itu menjadi poros umat Islam,30 ketika Nabi masih hidup pembicaraan mengenai perkataan dan perbuatan Nabi merupakan suatu hal yang wajar terjadi di kalangan sahabat.

Namun setelah Nabi wafat pembicaraan ini menjadi fenomena yang sadar dan disengaja, ketika generasi selanjutnya ingin mengetahui perilaku Nabi.31 Hal ini menunjukkan hadis pada masa awal Islam umumnya hanya digunakan dalam kasus-kasus informal, karena perannya terbatas pada pemberian

28 Rino Ardiansyah dan Rifqi Muhammad Fatkhi, “Rekonstruksi Pemahaman Sunnah Ditinjau dari Segi Sejarah,” Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin 3, no. 2 (2020), h. 78-80

29 Taufik Adnan Amal, Islam dan Tantangan Modernitas (Bandung: Mizan, 1990), h.

166-168

30 Fazlur Rahman sendiri mengartikan hadis sebagai suatu narasi yang menyampaikan perkataan, perbuatan, dan persetujuan Nabi, jika dilihat secara leksikal hadis berarti cerita, tuturan, atau warta, Fazlur Rahman, Islam, terj. M. Irsyad Rafsadie (Bandung: Mizan Pustaka, 2016), h. 71

31 Fazlur Rahman, Islam, h. 72

bimbingan dalam praktek aktual kaum Muslim. Setelah Nabi wafat hadis berganti status menjadi semi-formal, hadis sebagai sarana penyiaran sunnah Nabi eksis untuk tujuan-tujuan praktis. Keberadaannya adalah sebagai sesuatu yang dapat menciptakan dan dapat dikembangkan menjadi praktek kaum Muslim. Karena itulah hadis diinterpretasi secara kreatif dan pada gilirannya mengkristal ke dalam bentuk sunnah kaum Muslim, sama seperti yang telah dijelaskan sebelumnya hal ini untuk menjawab tantangan zaman yang terus berkembang.32

Menurut Fazlur Rahman selain diartikan sebagai perilaku Nabi, sunnah juga bisa diartikan sebagai perilaku generasi sesudah Nabi, sepanjang perilaku itu dianggap meneladani Nabi. Artinya penafsiran terhadap sunnah dan hadis yang kemudian disimpulkan menjadi sejumlah norma praktik juga disebut sunnah, inilah yang kemudian yang disebut Fazlur Rahman dengan sunnah yang hidup atau living sunnah. Proses penafsiran ini sudah dimulai oleh para sahabat, baik secara terang-terangan maupun tidak. Ucapan dan perbuatan para sahabat, oleh generasi selanjutnya sudah dianggap sebagai sunnah, karena para sahabat yang paling tahu dan memahami perilaku Nabi.33 Konsep sunnah ini kemudian ditransmisikan kepada tabiin sehingga warisan Nabi sampai ke generasi selanjutnya. Pada periode berikutnya sunnah berkembang pada pemahaman mazhab-mazhab awal, sunnah diartikan sebagai ideal yang hendak dicontoh persis oleh generasi awal dengan cara menafsirkan perilaku serta gaya hidup Nabi, penafsiran kreatif terhadap

32 Taufik Adnan Amal, Islam dan Tantangan Modernitas, h. 170

33 Fazlur Rahman, Islam, h. 72-75

38

sunnah Nabi ini menjadi tradisi yang hidup dan telah disepakati bersama dalam suatu masyarakat. Tetapi aktivitas kreatif ini membuat banyak hadis ahad34 terabaikan, karena menganggap sunnah Nabi yang telah menjadi tradisi yang hidup dalam suatu masyarakat lebih mencerminkan warisan Nabi ketimbang hadis ahad yang meragukan bersumber dari otoritas Nabi.

Pemahaman sunnah mazhab-mazhab awal ini mendapat tentangan dari al-Syāfi„ī, menurutnya integrasi sunnah hanya merujuk pada praktek dan suri teladan yang dicontohkan Nabi, sunnah ini secara ekslusif diidentikkan dengan hadis-hadis autentik Nabi. Oleh karena itu ia mengeliminasi konsep sunnah yang berkembang belakangan, baginya sunnah yang datang dari Nabi dalam bentuk hadis jika perawinya tsiqah, walaupun hadis ahad tetap bisa dijadikan sumber rujukan. Sunnah kemudian bersubsitusi menjadi hadis.35

Fazlur Rahman menilai kontribusi al-Syāfi„ī menggalakkan penempatan hadis sebagai pengganti sunnah yang hidup membuat hadis mempunyai bentuk formal, dan sunnah yang hidup mulai ditempa ke dalam bentuk hadis dan dinisbatkan kepada Nabi.36 Untuk mewariskan sunnah Nabi ke generasi berikutnya, hadis yang merupakan verbalisasi sunnah kemudian menjadi tradisi tertulis, dalam bentuk tulisan hadis tidak lagi berubah dan berkembang. Hadis dihimpun melalui mata rantai perawi yang cukup panjang mulai dari Nabi, sahabat, tabiin dan berujung kepada perawi terakhir sebelum

34 Hadis ahad adalah hadis yang diriwayatkan oleh satu atau dua perawi ataupun lebih, yang tidak memenuhi syarat-syarat masyhūr ataupun mutawātir pada setiap tingkatan, Muḥammad „Ajjāj al-Khaṭīb, Ushul al-Hadits, terj. Nur Ahmad Musyafiq (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1998), h. 273

35 Rino Ardiansyah dan Rifqi Muhammad Fatkhi, “Rekonstruksi Pemahaman Sunnah Ditinjau dari Segi Sejarah,” h. 82-96

36 Taufik Adnan Amal, Islam dan Tantangan Modernitas, h. 171

akhirnya dikodifikasi dan kemudian dikanonisasi.37 Sekarang hadis mewujudkan diri dalam bentuk teks dalam kitab-kitab hadis, bentuk tekstual inilah yang dipandang sebagai bukti historis bagi ideal teladan Nabi. Bagi generasi Muslim sekarang, sunnah Nabi bisa diakses melalui teks hadis tertulis dalam kitab-kitab hadis, teks-teks hadis ini telah menjadi laporan tentang sunnah yang diberitakan dari sahabat,38 kitab-kitab hadis inilah yang sekarang menjadi “gudang pengaman” terhadap sunnah Nabi yang merupakan sumber otoritas kedua dalam Islam.39 Tetapi terpatrinya hadis dalam kitab-kitab hadis ini, oleh Amin Abdullah dinilai membuat sebagian besar umat Islam cenderung memahami hadis sebagai produk jadi, yang mempunyai harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Pada gilirannya, orang akan sulit membedakan mana hadis-hadis yang bersifat mutlak, yang tidak terikat oleh ruang dan waktu, seperti hadis-hadis yang berkiatan dengan akidah atau ibadah, dan mana hadis-hadis yang bersifat nisbi, yang dibatasi ruang dan waktu, seperti hadis-hadis yang menyangkut bidang muamalat, pergaulan hidup, atau adat kebiasaan yang lebih mencerminkan suatu

37 Ahmad „Ubaydi Hasbillah, Nalar Tekstual Ahli Hadis (Ciputat: Maktabah Darus Sunnah, 2018), h. 91, lihat juga: Khaled M. Abou El Fadl, Atas Nama Tuhan Dari Fikih Otoriter ke Fikih Otoritatif, h. 150. Setelah keberhasilan al-Syāfi„ī menjadikan hadis sebagai sumber otoritas dalam Islam setelah Alquran, persoalan yang berkembang selanjutnya adalah terkait dengan orisinalitas hadis. Dalam bentuk tertulis, hadis dianggap rawan membawa perubahan yang akhirnya tidak orisinal, jika orisinalitas hadis tidak dapat dipertanggungjawabkan, maka otoritasnya juga sangat diragukan, Ahmad „Ubaydi Hasbillah, Nalar Tekstual Ahli Hadis, h. 85. Untuk menangani masalah ini, nantinya akan muncul dan berkembang ilmu-ilmu hadis seperti al-Jarḥ wa al-Ta„dīl, Ikhtilāf al-Ḥadīts, dan lain-lain.

Rino Ardiansyah dan Rifqi Muhammad Fatkhi, “Rekonstruksi Pemahaman Sunnah Ditinjau dari Segi Sejarah,” h. 95

38 Nilla Khoiru Amaliya, “Otoritas dan Kriteria Sunnah Sebagai Sumber Ajaran Agama,” Al-Adabiya 1, no. 1 (2015), h. 27-28

39 Muhammad Mustafa Azami, Hadis Nabawi dan Sejarah Kodifikasinya, h. 3

40

tradisi.40 Oleh karena itu, memandang dan memahami hadis agaknya juga perlu dibedakan ke dalam tasyrī„ dan non-tasyrī„.

Dalam penelusurannya, Tarmizi M. Jakfar mengatakan tidak ada pengertian khusus terkait apa yang disebut hadis tasyrī„ dan non-tasyrī„, selain Maḥmūd Syaltūt yang dianggap pencetus istilah ini tidak mendefinisikannya,41 ulama lain yang membahas persoalan ini juga tidak memberi definisi terkait hal ini, mereka hanya memberi pernyataan bahwa di samping ada hadis yang wajib diikuti oleh umat Islam (hadis tasyrī„), ada pula beberapa hadis yang tidak wajib untuk diikuti oleh umat Islam (non-tasyrī„), karena hadis-hadis tersebut tidak bersifat mengikat. Atau dalam ungkapan lain, tidak dimaksudkan untuk tujuan syariat, atau hadis-hadis tersebut tidak berimplikasi hukum. Hal ini dikarenakan apa yang datang dari Nabi dalam beberapa hadis ini, bukan dalam rangka penyampaian risalah Allah atau permasalahan agama.

Seperti Syihāb al-Dīn al-Qarāfī, menyatakan bahwa sebagian perbuatan Nabi adalah tablig dan fatwa, sebagian lainnya adalah keputusan Nabi sebagai hakim, dan sebagian lagi adalah perbuatan Nabi sebagai kepala negara. Hadis yang memiliki kandungan tablig dan fatwa, setiap orang wajib mengikutinya sampai hari akhir karena hal ini disampaikan Nabi sebagai penyampai risalah. Berbeda dengan hadis yang mengandung keputusannya sebagai hakim, tidak boleh seorang pun melakukannya dengan alasan

40 M. Amin Abdullah, Studi Agama: Normativitas atau Historisitas? (Yogyakarta:

Pustaka Pelajar, 1996), h. 314-315

41 Maḥmūd Syaltūt menyatakan bahwa segala yang diriwayatkan dari Nabi, jika termasuk dalam beberapa ketegori tertentu, maka bukan merupakan syariat yang berkaitan dengan tuntutan untuk berbuat atau meninggalkan, Tarmizi M. Jakfar, Otoritas Sunnah Non-Tasyri‟iyyah Menurut Yusuf al-Qaradhawi, h. 122

mengikuti Nabi, kecuali ada keputusan dari hakim, karena dasar perbuatan Nabi di sini adalah sebagai hakim. Begitu halnya hadis yang muncul dari tindakan Nabi sebagai kepala negara, seseorang tidak boleh mengikutinya kecuali ada izin dari kepada negara, karena dasar perbuatan Nabi sebagai kepala negara. Maka hadis-hadis Nabi yang muncul dari posisinya sebagai hakim dan kepala negara, tidak ada keharusan untuk mengikutinya karena bukan dimaksudkan untuk tablīgh al-risālah.42

Syah Waliyullah Ad-Dihlawi, dalam pernyataannya menegaskan bahwa apa yang datang dari Nabi dan telah dicatat dalam buku-buku hadis ada dua macam. Pertama, yang bersifat menyampaikan risalah (tablīgh al-risālah), termasuk dalam kategori ini adalah: 1) persoalan mengenai eskatologi, dan keajaiban-keajaiban realitas Malakut (keagungan kerajaan Allah);43 2) persoalan syariat serta macam-macam ibadah dan sarana pendukung peradaban;44 3) Kebijakan-kebijakan praktis dan kemaslahatan mutlak yang tidak Nabi tentukan batas waktunya seperti penjelasan Nabi terkait akhlak baik dan buruk;45 4) yang menjelaskan tentang keutamaan amal perbuatan dan keistimewaan orang-orang yang beramal kebajikan. Kedua, yang tidak bersifat menyampaikan risalah (ghair tablīgh al-risālah), termasuk dalam

42 Syihāb al-Dīn al-Qarāfī, al-Furūq (Beirut: „Alam al-Kutub, t.t), h. 206

43 Hadis yang berhubungan dengan masalah ini seluruhnya berdasarkan wahyu, Syah Waliyullah Ad-Dihlawi, Argumen Puncak Allah: Kearifan dan Dimensi Batin Syariat, h. 535

44 Hadis terkait masalah ini sebagian berdasarkan wahyu dan sebagiannya lagi berdasarkan ijtihad Nabi, Syah Waliyullah Ad-Dihlawi menjelaskan bahwa arti ijtihad di sini sama kedudukannya dengan wahyu. karena Allah selalu menjaga Nabi dari kesalahan, Syah Waliyullah Ad-Dihlawi, Argumen Puncak Allah: Kearifan dan Dimensi Batin Syariat, h. 536

45 Hadis yang berkaitan dengan masalah ini biasanya berdasarkan ijtihad Nabi, dalam arti Allah mewahyukan kaidah atau prinsipnya, kemudian Nabi mengeluarkan hukum-hukumnya, dan menjadikannya prinsip umum, Syah Waliyullah Ad-Dihlawi, Argumen Puncak Allah: Kearifan dan Dimensi Batin Syariat, h. 536

42

kategori ini adalah: 1) pengetahuan tentang medis; 2) pengetahuan yang didasarkan pengalaman; 3) perbuatan yang dilakukan Nabi sebagai kegiatan sehari-hari, bukan sebagai ritual keagamaan, juga berbagai hal yang bersifat insidental, dan tidak dilakukan dengan sengaja; 4) berbagai topik yang biasa dibicarakan Nabi layaknya pembicaraan orang-orang kebanyakan; 5) pemikiran Nabi yang dimaksudkan untuk kemaslahatan tertentu pada waktu tertentu, bukan sebagai kewajiban yang sifatnya universal; 6) beberapa hukum dan ketentuan khusus yang hanya terjadi berdasarkan bukti-bukti dan sumpah.46

Maḥmūd Syaltūt sendiri menjelaskan bahwa perkataan, perbuatan, dan pengakuan Nabi dapat dibagi menjadi dua macam. Pertama, dalam konteks hukum syariah (hadis tasyrī„), hadis-hadis yang dikategorikan ke dalam tasyrī„ di antaranya: 1) hadis yang bersumber dari Nabi dalam bentuk tablig dalam kedudukannya sebagai Rasul. Seperti, hadis yang menjelaskan ayat-ayat Alquran yang global, mengkhususkan lafal umum, membatasi lafal mutlak, menjelaskan persoalan ibadah, halal-haram, akidah-akhlak, atau persoalan yang berkaitan dengannya. Semua yang telah disebutkan itu merupakan hadis tasyrī„ yang sifatnya universal; 2) hadis yang bersumber dari Nabi sebagai kepala negara dan pemimpin umat Islam. Seperti mengirim pasukan perang, membagi harta rampasan perang, mengadakan perjanjian, dan lain sebagainya yang termasuk tugas kepala negara dan manajemen umum demi kemaslahatan rakyat. Hadis yang seperti ini merupakan hadis

46 Syah Waliyullah Ad-Dihlawi, Argumen Puncak Allah: Kearifan dan Dimensi Batin Syariat, h. 535-538

tasyrī„ yang bersifat khusus, oleh karenanya tidak boleh seseorang mengikutinya dengan alasan mengikuti Nabi tanpa ada izin kepala negara; 3) hadis yang bersumber dari Nabi sebagai seorang hakim. Hadis yang seperti ini juga merupakan hadis tasyrī„ yang bersifat khusus, karena Nabi sebagai hakim memutuskan perkara berdasarkan bukti, keterangan saksi, sumpah, dan pembelaan terhadap suatu kasus yang ditanganinya. Dan seorang Muslim tidak boleh mengikuti keputusan Nabi dalam suatu perkara dengan dalih meneladani Nabi. Kedua, bukan dalam konteks hukum syariah yang berhubungan dengan perintah dan larangan (hadis non-tasyrī„), yang termasuk dalam hal ini yaitu: 1) hadis dalam konteks hidup manusia. Seperti, makan, minum, tidur, berjalan, saling berkunjung, dan lain-lain; 2) hadis yang merupakan eksperimen dan kebiasaan individual atau sosial. Seperti, hadis-hadis tentang pertanian, kedokteran, panjang pendeknya baju; 3) hadis dalam konteks manajemen manusia dalam mengantisipasi kondisi tertentu.

Seperti, pembagian pasukan untuk ditempatkan di pos-pos perang, memilih tempat-tempat strategis untuk kubu pertahanan, dan lain sebagainya.47

„Abd al-Wahhāb Khallāf menyatakan bahwa perkataan dan perbuatan Nabi yang bersumber dari dirinya sebagai seorang Rasul, dimaksudkan untuk tasyrī„ dan dapat dijadikan hujjah. Tetapi ada juga perbuatan dan perkataan Nabi yang tidak dimaksudkan untuk tujuan tasyrī„, yaitu: 1) apa yang bersumber dari tabiat kemanusiaannya. Seperti berdiri, duduk, berjalan, tidur, dan makan; 2) apa yang bersumber dari Nabi berupa pengetahuan

47 Tarmizi M. Jakfar, Otoritas Sunnah Non-Tasyri‟iyyah Menurut Yusuf al-Qaradhawi, h. 184-185

44

manusianya, berupa kepintaran dan percobaan-percobaan yang dilakukan Nabi dalam masalah duniawi. Seperti berdagang, bertani, mengatur pasukan, mengatur siasat perang, dan mengobati penyakit; 3) apa yang bersumber dari Nabi dan ada dalil-dalil syariat yang menunjunjukkan bahwa itu khusus berlaku bagi Nabi, maka hal itu bukan dimaksudkan untuk syariat umum, seperti Nabi mempunyai istri lebih dari empat.48

Yusūf al-Qaraḍawī juga merupakan ulama yang membagi hadis ke dalam tasyrī„ yang berkaitan dengan masalah agama, dan non-tasyrī„ yang berkaitan dengan urusan dunia. Yusūf al-Qaraḍawī lebih mengartikan hadis non-tasyrī„ sebagai hadis yang tidak diwajibkan, tidak disunnahkan, dan tidak pula dimubahkan. Aspek-aspek yang masuk dalam hadis non-tasyrī„ di antaranya: 1) perbuatan dan perkataan Nabi berdasarkan keahlian eksperimental dan aspek-aspek teknisnya. Seperti persoalan perang, pertanian, dan pengobatan; 2) perbuatan dan perkataan Nabi sebagai kepala negara dan hakim; 3) perintah atau larangan Nabi yang bersifat anjuran; 4) perbuatan murni Nabi; 5) perbuatan Nabi sebagai manusia.49

Dari pendapat yang dipaparkan oleh beberapa tokoh tersebut, menjelaskan bahwa mereka semua memiliki pandangan yang sama bahwa apa yang datang dari Nabi, ada yang bersifat mengikat atau wajib diikuti dan ada pula yang tidak bersifat mengikat atau tidak wajib diikuti. Walaupun menggunakan istilah yang berbeda-beda, tetapi secara substansial mereka

48 „Abd al-Wahhāb Khallāf, Ilmu Usul Fikih, terj. Halimuddin (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2005), h. 46-47

49 Tarmizi M. Jakfar, Otoritas Sunnah Non-Tasyri‟iyyah Menurut Yusuf al-Qaradhawi, h. 276-289

mengklasifikasi hadis ke dalam tasyrī„ dan non-tasyrī„. Akan tetapi para tokoh yang membahasnya pun tidak memberi penjelasan secara detail dengan apa yang dimaksud dengan hadis tasyrī„ dan non-tasyrī„, mereka hanya memberi keterangan singkat kemudian menyebutkan kriteria-kriterianya tanpa memberi definisi jelas untuk memberi arah pemikiran yang konsisten terhadap pembahasan hadis-hadis yang wajib diikuti (tasyrī„) dan yang tidak wajib diikuti (non-tasyrī„), disamping memberikan kriteria memang cukup membantu untuk mengidentifikasi mana hadis-hadis yang termasuk tasyrī„

dan mana hadis-hadis yang termasuk non-tasyrī„.

Dari pemaparan di atas, dapat diketahui bahwa beberapa tokoh antara satu dengan lainnya memiliki pemahaman yang berbeda-beda. Perbedaan ini harus dianggap wajar karena tidak adanya kesepakatan bersama, definisi jelas, dan juga tidak ada penjelaskan dari Alquran dan hadis terkait apa itu

Dari pemaparan di atas, dapat diketahui bahwa beberapa tokoh antara satu dengan lainnya memiliki pemahaman yang berbeda-beda. Perbedaan ini harus dianggap wajar karena tidak adanya kesepakatan bersama, definisi jelas, dan juga tidak ada penjelaskan dari Alquran dan hadis terkait apa itu