• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. POKOK-POKOK EKARISTI DAN HIDUP BERIMAN UMAT

C. Kenyataan Ekaristi dalam Hidup Beriman Umat Kristiani

2. Buah Ekaristi yang Sesungguhnya

Seluruh Perayaan Ekaristi adalah penghadiran kurban persembahan Kristus yang menyelamatkan. Setelah kita disapa oleh sabda Tuhan dalam Liturgi Sabda, kita mengawali Liturgi Ekaristi dengan persiapan persembahan. Roti, anggur, kolekte, dan bahan-bahan persembahan lainnya melambangkan persembahan hidup seluruh umat, termasuk suka duka, beban, dan penderitaan hidup kita. Bahan-bahan persembahan ini diterima oleh imam sebagai wakil Kristus dan sekaligus Gereja. Selanjutnya, bahan-bahan persembahan, khususnya roti dan anggur, dihunjukkan oleh imam kepada Allah agar dikuduskan dan dipersatukan dengan kurban Kristus yang menyelamatkan. Hanya dalam Kristus, ada kepastian bahwa persembahan hidup kita diterima oleh Allah Bapa kita

Buah Ekaristi yaitu kurban pujian dan syukur, artinya Kristus hadir sebagai imam dan kurban, Ekaristi berfungsi sebagai kehadiran kembali Perjanjian Baru (1 Kor 11-25; Luk 22:20) yang dihasilkan oleh wafat dan kebangkitan-Nya, yang mendamaikan kita dengan Allah, sebagai antisipasi pemenuhan Kerajaan Allah. Sebagai perjamuan, Ekaristi menjadikan kita sebagai peserta dalam perjamuan Tuhan sendiri dan mengungkapkan kesatuan kita yang terdalam dalam Gereja.

Sebagai kurban dan perjamuan, Ekaristi secara berdaya guna melambangkan kurban persembahan diri bagi orang lain, yang merupakan panggilan semua orang Kristiani (Musakabe, 2011: 7-8).

Ekaristi sungguh menjadi sebuah rahmat yang berguna bagi manusia. Disamping Ekaristi sebuah persembahan hidup, buah Ekaristi yang dapat dipetik ialah sebuah syukur atas keterlibatan umat. Perayaan Ekaristi adalah perayaan seluruh Gereja yang menuntut keterlibatan seluruh umat (KomLit KAS, 2010: 11). Bisa dikatakan bahwa Ekaristi wajib dilakukan seluruh umat beriman, kecuali ada larangan berdasarkan hukum kanonik. Jika sudah bersama-sama maka akan terjalinlah ikatan suci dan mulia demi mengucapkan syukur kepada Allah.

Buah Ekaristi selanjutnya ialah cinta. Karunia paling besar yang Allah berikan kepada manusia adalah cinta dengan wujud pengorbanan diri-Nya bagi keselamatan manusia (Yoh 15:13-14). Dengan kata lain, hubungan Yesus dengan manusia bukan seperti tuan dan hamba namun bagaikan seorang sahabat. Persahabatan merupakan satu jiwa yang hidup dalam dua badan. Manusia dijadikan sahabat oleh-Nya dan terbukti Ia amat setia dengan sahabat-Nya yaitu umat manusia.

Buah Ekaristi yang umumnya melekat dalam hidup sehari-hari yaitu persahabatan. Umat Kristiani semestinya bertindak seperti seorang sahabat. Sahabat sejati adalah orang yang memperhatikan kebutuhan sesamanya. Ada ungkapan: A friend in need is a friend indeed. Bertindak seperti seorang sahabat berarti (tetap) melakukan hal-hal baik untuk orang lain, walaupun ia dalam posisi

yang kurang menguntungkan, tercampak atau dikucilkan (Musakabe, 2011: 13). Itulah yang dilakukan Yesus kepada manusia, dengan mengorbankan diri bagi umat manusia.

Santo Bernardus mengatakan, “Ekaristi adalah Cinta yang melampaui segala cinta di surga dan di dunia.” Cinta-Nya yang luar biasa menjadi suatu dorongan bagi umat manusia untuk tetap percaya dan beriman kepada-Nya. Santo Thomas

Aquinas menulis, “ Ekaristi adalah Sakramen Cinta, ia menyatakan cinta, ia

menghasilkan cinta.” Pengalaman-pengalaman Santo-Santo tersebut menyadarkan

manusia bahwa Ekaristi merupakan cinta Yesus kepada manusia. Memaknai Ekaristi sebagai sebuah cinta Yesus yang amat luar biasa akan menumbuhkan keteguhan hati dan akhirnya iman berkembang serta dalam kehidupan sehari-hari akan mengungkapkannya dengan berbuat baik kepada sesama.

Buah Ekaristi juga ditandai dengan kehadiran Allah yang menyertai manusia. Ia adalah Tuhan Yesus yang hadir dalam tabernakel gereja kita dalam Tubuh, Darah, Jiwa dan Keilahian-Nya (Musakabe, 2011: 14). Dalam Mat 1:23 tertulis juga saat malaikat Gabriel datang membawa berita sukacita kepada Maria bahwa mereka akan menamai Dia Imanuel yang berarti Allah menyertai kita. Tubuh dan Darah-Nya yang disantap akan selalu menyertai umat manusia dalam segala situasi dan kondisi. Tubuh dan Darah-Nya akan menebus umat manusia dan mengantarkan umat manusia ke dalam kerajaan surga.

Buah Ekaristi berdasar dari sumber Kitab Suci yang dikutip dari situs tuhanyesus.org yaitu :

a. Sebagai Pengingat akan Karya Penyelamatan Allah

Pengingat karya penyelamatan Allah, dalam Luk 22:19-20 yaitu saat Yesus

berkata “Inilah tubuh-Ku dan inilah darah-Ku,” maka roti dan anggur berubah

menjadi tubuh dan darah-Nya. Mengapa bisa demikian? Karena Yesus memiliki kuasa untuk mengubahnya. Hanya saja, bukan secara fisik yang berubah. Namun, anggur dan roti tersebut berubah menjadi diri-Nya sendiri yang diberikan pada manusia dalam bentuk makanan dan minuman. Karena itulah saat perayaan Ekaristi imam akan mengulangi perkataan Yesus, dan dengan iman mereka mempercayai bahwa anggur dan roti merupakan tubuh dan darah-Nya. Oleh karena Yesus disalib satu kali untuk selamanya. Maka Ekaristi bertujuan supaya kita mendapat buah-buah arti penebusan dosa yaitu keselamatan.

b. Bersatu dengan Kristus

Dalam Yoh 6:56-57, ayat tersebut menjadi dasar bagi umat Katolik mengenai makna Ekaristi, yaitu bersatunya kita dengan Kristus. Mereka mempercayai bahwa Kristus hadir dan Dia sendiri yang memimpin saat perayaan Ekaristi. Selain itu, dengan makan tubuh dan darah-Nya, dan dengan kuasa Roh Kudus, umat manusia dipersatukan dengan kemanusiaan sekaligus ke-Allah-an Kristus. Dengan dipersatukannya manusia dengan Kristus, umat manusia akan mengambil bagian dalam kehidupan-Nya dan makna Sakramen Ekaristi akan diubah menjadi serupa dengan Dia.

c. Kesatuan Jemaat dalam Tubuh Kristus

Ekaristi merupakan perayaan dimana Yesus sebagai Tuan Rumah, dan perayaan tersebut dihadiri jemaat yang bersama-sama berkumpul dan memiliki tujuan untuk mengingat karya penyelamatan-Nya. Jadi, apabila dirayakan sendiri, maka akan berbeda lagi maknanya dan bukan lagi Ekaristi. Maka dari itu, walaupun Ekaristi lebih merupakan hubungan antara manusia, Roh Kudus, dan Kristus, namun tetap saja, pada mulanya Yesus mengajarkan Ekaristi dalam bentuk perkumpulan orang-orang yang percaya kepada-Nya.

Dokumen terkait