• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II INDONESIA DAN ORANG ASING

B. Indonesia di Masa Pasca-kolonial

B.1. Orang Kulit Putih; Bule atau Ekspatriat?

B.1.1. Bule, siapa mereka?

Istilah khusus nan unik ini hanya terdapat di Indonesia. Bule telah menjadi kata umum di kalangan masyarakat Indonesia yang biasanya disematkan bagi orang kulit putih. Karenanya, penulis mencoba untuk menelisik apa yang dimaksudkan dari sebuah kata bule terkait penggunaannya di dalam masyarakat. Pertama, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 2008:38,230) memaparkan bahwa bule adalah pelafalan dari kata ‘bulai’, yang berarti albino, yaitu putih seluruh tubuh dan rambutnya karena kekurangan pigmen (zat warna). Di samping itu, Merriam Webster Dictionary, mendefinisikan bahwa albino adalah an organism exhibiting deficient pigmentation; especially: a human being that is congenitally deficient in pigment and usually has a milky or translucent skin, white or colorless hair, and eyes with pink or blue iris and deep-red pupil.19 Oleh karena itu, dari kedua penjelasan tersebut, bule dapat dimaknai sebagai seseorang yang memiliki kekurangan pigmen, sehingga tubuhnya terbalut dengan kulit yang putih. Dengan kata lain, secara visual, orang yang disebut bule memiliki perbedaan dengan orang Indonesia, seperti, warna kulit, mata, dan rambut, atau bercirikan ras kaukasoid.

Terkadang penuturan istilah bule acapkali dimaknai oleh orang kulit putih sebagai bentuk sarkasme maupun berbau rasis, sehingga orang kulit putih cenderung tidak menginginkan untuk disebut sebagai bule. Sebagai contoh, hal ini dapat dibahas secara eksplisit di artikel, “Don’t Call Me Bule!”20 yang dituliskan oleh Anne-Meike Fechter. Pada artikel “Don’t Call Me Bule!” Fechter memaparkan bahwa mereka, yang adalah orang asing kulit putih menolak untuk disebut sebagai bule. Oleh karena itu, pada artikel ini lebih banyak memuat kegundahan para ekspatriat yang merasa terganggu oleh

19

Origin of Albino; Portuguese, from Spanish, from albo white, from Latin albus. First Known Use: 1777Masehi. Lihat http://www.merriam-webster.com/dictionary/albino

20

Lihat http://www.expat.or.id/info/dontcallmebule.html Artikel ini dituliskan oleh Anne-Meike Fechter atas permintaan suatu organizing committee pada bulan Juli tahun 2003. [Our appreciation to Anne-Meike

kebiasaan orang Indonesia ketika menyebut mereka sebagai bule. Hal tersebut dianggap sebagai bentuk yang merendahkan dan menyakitkan, sehingga ekspatriat cenderung menolak terhadap panggilan bule yang ditujukan padanya.

Di dalam artikel ini juga terdapat perdebatan cukup panjang di kalangan orang kulit putih dalam menanggapi panggilan bule yang ditujukan pada mereka. Ada yang mengganggap bahwa bule adalah kata yang biasa ditujukan bagi orang asing dengan kulit putih, karena kulit mereka terlihat lebih terang dari kulit orang Indonesia. Ada juga pandangan baik dari orang Indonesia maupun orang kulit putih yang mengganggap bahwa istilah bule adalah sebuah kata netral, yang mana selama kata itu diucapkan secara sopan dan tidak digunakan sebagai sebuah bentuk penghinaan. Selain itu, disebutkan juga bahwa bagi sebagian besar orang Indonesia menganggap bahwa penyebutan bule sebagai kebiasaan yang tidak bersalah dengan tidak ada niatan yang buruk. Orang asing yang memiliki kulit putih acapkali dipanggil bule dalam situasi yang berbeda, seperti sapaan di jalan, atau dalam percakapan informal dengan orang Indonesia. Jadi, bule adalah kata yang netral dan juga sebagai kata fungsional – semacam sapaan untuk orang kulit putih.

Sebaliknya, meskipun kata bule memilki ragam variabel, orang kulit putih atau ekspatriat cenderung menginginkan agar kata bule tidak terperangkap pada stereotipe tentang orang asing, seperti, orang yang kaya, kasar, dan bodoh, yang bau keju dan tidak memiliki moral. Karena bagi mereka, menjadi stereotipe seperti tersebut sangat menjengkelkan, terutama bagi ekspatriat yang merasa bahwa mereka telah beradaptasi dengan Indonesia secara lebih baik daripada para turis yang hanya sekedar berwisata.

Selanjutnya, orang kulit putih, yang dalam perdebatan artikel ini adalah ekspatriat, juga tidak ingin kata bule digunakan sebagai kategori ras. Namun demikian, apabila dilihat lebih cermat dalam artikel ini, penulis menilai bahwa pandangan rasis justru lebih

dominan disampaikan oleh para ekspatriat terhadap perilaku masyarakat Indonesia. Hal tersebut dapat dilihat ketika beberapa responden Fechter mengatakan bahwa orang Indonesia sebagai pelaku rasis, dimana hal itu dikaitkan dengan menyebutkan kurangnya pendidikan masyarakat Indonesia. Paparan tersebut termuat sebagai berikut:

“An additional sting for expatriates, however, might be that they feel insulted by Indonesians - people whom some consider to be politically backward, and intellectually less capable. In their responses, some expatriates therefore suggest that Indonesians need more education.”

Secara eksplisit seorang responden Fechter juga mengatakan bahwa Indonesia merupakan salah satu masyarakat yang paling rasis. Dengan beberapa uraian, responden Fechter memberikan sebuah pandangan bahwa Indonesia terus-menerus merendahkan orang lain (termasuk satu sama lain) terkait dengan suku, kelahiran, dan agama. Hal ini dapat dilihat pada uraian berikut:

“…. Indonesia is one of the most racist societies in which I've ever had the pleasure of living. Indonesians are constantly denigrating others (including one another) by tribe, birthplace, and religion. While, admittedly, this is human nature at its worst and done everywhere, it still has no place in a pluralistic, democratic society.”

Selain itu, seorang responden (ekspatriat) dalam artikel ini juga memuat suatu anggapan yang mengatakan bahwa Indonesia sebagai tempat yang paling rasis, sehingga ekspatriat (yang kebanyakan orang kulit putih) telah mengalami rasisme secara pribadi. Berikut adalah kutipan yang terdapat dalam artikel tersebut:

“However, that Indonesia seems racist to them because they have, for the first time, received racial insults themselves. This is pointed out to them, however, by other participants: ‘I've heard many people describe Indonesia as the most racist place they've ever been and although I would never argue that it isn't racist, I don't think its more racist than other places, but that it is probably the only place where expats (who are mostly white) have experienced racism personally directed at them. You have probably lived with racism all around you but until you moved to Indonesia and became a victim of it you just didn't notice it.” (cetak miring dari penulis)

Dari kutipan di atas, khususnya pada kalimat yang diberi cetak miring dapat dipahami bahwa kalangan Barat yang sesungguhnya sangat rasis, namun mereka

seringkali menyangkalnya karena tidak merasakan rasisme yang ditujukan kepada mereka. Akan tetapi, ketika kalangan Barat berada di Timur seperti Indonesia seoalah-olah mereka telah merasa mendapatkan sebuah perlakuan rasis, terutama pada saat mendapatkan panggilan bule yang ditujukan kepada mereka.

Meskipun artikel pendek ini, yang kurang lebih memuat sebanyak dua ribu kata, berupaya mendamaikan persepsi tentang pemaknaan kata bule, baik di pihak orang kulit putih maupun pribumi, namun pada akhirnya artikel ini menjadi ambigu. Setelah memaparkan beragam pandangan, diskusi, dan perdebatan mengenai kata bule, artikel ini mengatakan bahwa orang kulit putih maupun ekspatriat telah menerima penggunaan istilah bule, akan tetapi perlu diingat kembali bahwa judul artikel ini telah diberikan sebuah judulDon’t Call Me Bule!.

Artikel menarik lainnya tentang perdebatan kata bule terdapat pada tulisan Donny Syofyan dengan judul Understanding The Word ‘Bule’.21 Sebagai penulis dari kalangan Indonesia, Syofyan mencoba menyumbangkan gagasan tentang pemahaman kata bule. Syofyan mengemukakan bahwa kata bule biasanya menunjuk pada orang kulit putih seperti Eropa, Amerika atau Australia, dan terkadang juga ada beberapa orang yang mengatakan bule Afrika (African bule) terkait dengan mereka yang berasal dari Afrika.

Namun demikian, dalam artikelnya,Understanding The Word ‘Bule’Syofyan tidak serta merta secara eksplisit menyebutkan orang asing sebagai ekspatriat. Syofyan – dengan maupun tanpa sengaja – lebih memilih untuk menggunakan kata “foreigner” dalam menyebut orang asing di Indonesia. Oleh karena itu, setidaknya perlu untuk menelusuri lebih mendalam sejauh mana Syofyan memberikan penjelasan dan pemahaman mengenai kata bule di dalam artikel pendeknya.

21

Pertama, Syofyan menjelaskan bahwa orang asing yang telah tinggal di Indonesia dalam jangka waktu yang panjang dan hidup bertetangga dengan orang lokal masih saja mendapatkan sebutan sebagai bule. Dalam hal ini, Syofyan menilai bahwa hal tersebut dirasa cukup mengganggu mereka (orang kulit putih) mengingat tidak ada yang berubah dalam hubungan bertetangga, sehingga penduduk setempat masih melihat mereka sebagai orang asing dan belum diterima dalam kehidupan masyarakat lokal. Bahkan Syofyan juga mengingatkan bahwa terdapat hal yang berbeda ketika orang asing memiliki teman-teman Indonesia; pribumi tidak akan lagi menyebut orang asing sebagai bule ketika berteman dengan orang Indonesia, meskipun terkadang jika pribumi ingin memperkenalkan teman asingnya (yang kulit putih) kepada teman-teman lain namun masih juga sering menggunakan kata bule.

Dari penjabaran poin pertama ini, penulis menganggap bahwa posisi Syofyan dalam artikelnya bersikap mendua. Di satu sisi, Syofyan ingin memperlihatkan bahwa ada keinginan dari orang kulit putih yang hadir di dalam masyarakat Indonesia untuk dianggap sama dan tidak lagi dibedakan sebagai orang asing karena telah berada cukup lama dan beradaptasi di Indonesia. Di sisi lain, posisi Syofyan tetap menempatkan bahwa kata bule adalah kata netral bagi orang kulit putih ketika digunakan untuk memperkenalkan kepada orang pribumi.

Kedua, Syofyan memaparkan bahwa masih ada pandangan di kalangan orang Indonesia yang menganggap wisatawan asing dan para petualang yang sedang berkunjung ke Indonesia disebut sebagai bule, seperti dengan sapaan “mister” dan “miss”. Syofyan menganggapnya tidak hanya menjadi hal yang terdengar lucu, tapi akhirnya berubah menjadi hal yang mengganggu orang asing, apalagi karena mereka berasal dari berbagai negara dan hanya tinggal selama satu atau dua bulan di Indonesia. Dalam hal ini, Syofyan

mencoba membuat perbandingan dengan Barat, dimana orang Barat tidak memberikan istilah atau nama yang aneh kepada orang asing atau para pendatang baru. Di negara- negara Barat, orang asing yang tinggal lebih dari satu atau dua bulan untuk bekerja atau belajar tidak mendapatkan diri mereka benar-benar merasa terganggu seperti di Indonesia. Hal ini terutama berlaku ketika banyak orang terus berulang-ulang berteriak “bule!” pada mereka, padahal sebelumnya sudah saling kenal dan bertemu, sehingga suasana seperti itu membuat orang asing merasa tidak nyaman.

Terkait hal di atas, penulis kembali mengkritisi poin kedua yang disampaikan oleh Syofyan. Sebagai penulis Indonesia, Syofyan belum dapat melepaskan dikotomi antara Barat dan Timur. Syofyan masih menempatkan Barat sebagai yang lebih baik. Hal itu terlihat saat Syofyan membandingkan apa yang dialami oleh para pendatang asing di Indonesia dengan para pendatang asing di negara-negara Barat. Selain itu, upaya Syofyan untuk memperlihatkan perbandingan tersebut, baik sadar atau tidak, juga telah menempatkan Barat sebagai yang superior dibandingkan dengan Indonesia, bahkan menegaskan bahwa ketidaknyamanan menjadi bagian dari kehadiran orang asing ketika berada di luar negara-negara Barat.

Ketiga, Syofyan mencoba pada suatu gagasan dengan mempertanyakan tentang kemungkinan orang asing yang mengintegrasikan diri ke dalam masyarakat setempat, sehingga apakah kata “bule” akan menghilang? Mungkinkah itu terjadi di Indonesia? Bagi Syofyan, penerimaan terhadap keberadaan orang asing, pada tingkat yang cukup serius karena prasangka publik atas pekerjaan orang asing. Misalnya, banyak orang Indonesia beranggapan bahwa kebanyakan orang asing kaya, sehingga mereka harus membayar lebih mahal untuk suatu produk dan jasa yang mereka beli di negara Indonesia. Akan tetapi, pada kenyataannya tidak semua orang asing adalah kaya. Contoh lainnya, sebagai

wisatawan, orang asing membayar tiket yang jauh lebih mahal dibandingkan dengan pengunjung Indonesia. Oleh karena itu, Syofyan merasa tidak menyenangkan ketika menemukan suatu kejadian dimana setiap kali memasuki objek wisata para turis mendapatkan diskriminasi antara wisatawan lokal dan mancanegara.

Tidak berhenti sampai disitu, berkaitan dengan wisata mancanegara, Syofyan merujuk pada beberapa pengalamannya saat mengunjungi tempat-tempat wisata di luar negeri, seperti di Amerika Serikat, Australia, dan Selandia Baru. Di sana ia tidak pernah melihat perbedaan harga antara orang asing dan penduduk setempat, yang ada hanya harga khusus untuk mahasiswa dan orang tua pensiunan. Selanjutnya, Syofyan beranggapan bahwa beberapa orang Eropa terutama mereka yang belum pernah mengunjungi Indonesia akan memiliki beberapa prasangka terhadap Indonesia. Beberapa temannya yang berasal dari Cekoslovakia, misalnya, berpikir bahwa Indonesia adalah negara dimana orang- orangnya masih primitif, tinggal di rumah-rumah dalam hutan; tidak ada listrik dan tidak ada koneksi internet. Sofyan menganggap bahwa kesalahpahaman seperti itu biasanya terjadi pada orang yang selama ini hanya menetap di negara mereka dan tidak pernah pergi ke luar negeri.

Persoalan lain dalam poin ketiga pada artikel Syofyan ini adalah mengenai stereotipe. Stereotipe tersebut muncul saat Syofyan mengemukakan beberapa temannya yang berpikir bahwa Indonesia adalah negara dimana orang-orangnya masih primitif, tinggal di rumah-rumah dalam hutan; tidak ada listrik dan tidak ada koneksi internet, yang mana Sofyan menganggap hal itu sebagai sesuatu kewajaran pada kalangan Barat yang selama ini hanya menetap di negara mereka dan tidak pernah pergi ke luar negeri. Dalam hal ini, penulis menanggapi bahwa pendapat Syofyan bukan menjadi suatu pembenaran belaka atas ketidaktahuan kalangan Barat terhadap Indonesia sehingga masih saja terdapat

stereotipe tentang Indonesia sebagai yang primitif. Karena itu, Syofyan telah luput untuk menyadari bahwa sebelum teman-temannya berkunjung ke Indonesia, terdapat wacana pengetahuan yang telah disediakan kalangan Barat mengenai dunia Timur, yakni Orientalism,seperti Asia, yang mana Indonesia termasuk di dalamnya.

Poin terakhir dalam artikel ini, dan sekaligus untuk pertama kalinya Syofyan menggunakan kata “ekspatriat” sehingga bagi penulis menjadi hal yang sangat ganjil. Pada dua paragraph terakhir dalam artikel ini, Syofyan menjelaskan bahwa ekspatriat menganggap “bule” adalah istilah yang sangat kasar dan hal tersebut dapat memiliki arti yang berbeda tergantung pada konteks penggunaannya. Beberapa orang Indonesia mengemukakan bahwa “bule” adalah kata yang netral dengan arti positif dan mungkin negatif. Bahkan Syofyan juga mengemukakan sebuah pendapat lain yang mengatakan bahwa istilah“bule” adalah kata fungsional untuk menggambarkan orang kulit putih, bahkan secara linguistik, orang kulit putih atau ekspatriat seharusnya tidak merasa tersinggung ketika orang menyebut mereka “bule”.

Syofyan menjelaskan bahwa istilah “bule” lebih merupakan bahasa lisan untuk sehari-hari yang digunakan dalam percakapan. Pada identitas lisan, sebagian masyarakat Indonesia cenderung menganggap bahwa kata “bule” tidak menghina dan tidak dimaksudkan untuk menjadi kasar. Dikarenakan istilah ini terikat erat pada wilayah oral, orang-orang yang berpendidikan tidak akan menyebut orang kulit putih sebagai “bule” dalam konteks formal, seperti saat rapat. Orang Indonesia yang terpelajar tidak akan memanggil orang kulit putih sebagai '’bule” kecuali orang tersebut berniat untuk menghina, karena yang umum terjadi ialah salah tafsir oleh orang Barat bahwa kata tersebut bermaksud menghina.

Bagi penulis, penekanan yang disampaikan oleh Syofyan pada akhir artikelnya menjadi semacam “formalitas” untuk memperkuat korelasi gagasan pada awal artikel terkait istilah “bule” yang selalu diberikan pada orang kulit putih. Padahal pada paragraf- paragraf sebelumnya, Syofyan tidak secara langsung menyebut orang asing adalah orang kulit putih. Syofyan juga tidak menggunakan kata“expatriate”secara berkelanjutan, akan tetapi lebih dominan menggunakan kata “foreigners” untuk menjelaskan orang asing atau para pendatang di Indonesia.

Setelah melihat muatan artikel ini, penulis beranggapan bahwa posisi Syofyan dengan beragam pendapat dan pandangannya, dalam upaya untuk memberikan pemahaman tentang kata “bule”, sebagaimana judul artikelnya, ‘Understanding The Word ‘Bule’, merupakan sebuah penjelasan yang tidak begitu lengkap dan komprehensif. Selain itu, Sofyan seharusnya melakukan problematisasi yang lebih terfokus pada orang asing kulit putih atau ekspatriat, sehingga tidak meluas ketika menyebut orang asing sebagai foreigners. Dengan demikian, pemahaman mengenai orang kulit putih mengenai sebutan “bule” dan “ekspatriat” akan menjadi lebih jelas dan terang bagi kalangan umum.