BAB IV EKSPATRIAT DAN WAJAH BARU KOLONIALISME
B. Menafsirkan Ekspatriat
Pada dasarnya pilihan penulis untuk menggunakan teori Ruang Ketiga ini adalah
sebuah upaya dalam memberikan suatu tafsiran atas kehadiran orang kulit putih dengan
identitas mereka sebagai ekspatriat di Jakarta. Hal ini dikarenakan kehadiran para
ekspatriat telah membuat sekat atau batasan di dalam masyarakat majemuk Indonesia,
pada khususnya di Jakarta. Kembali merujuk pada pandangan Fechter yang mengatakan
bahwa ekspatriat di Jakarta hidup di dalam gelembung (expatriate bubble), maka dapat
dipahami bahwa kehadiran mereka telah membuat pembedaan di dalam masyarakat, baik
sesama orang asing yang sedang berada di Indonesia maupun terhadap pribumi. Oleh
karena itu, para ekspatriat telah melakukan suatu upaya pembedaan (differensiasi) dan
membuat identifikasi(identification)di dalam masyarakat.
Menurut Bhabha (1994:34), persoalan pembedaan merupakan suatu proses
pengucapan (enounciation) budaya sebagai pengetahuan yang berwenang untuk
membangun sistem identifikasi budaya. Identitfikasi budaya menjadi suatu proses
pencarian yang mendasarkan pada pemahaman binerisme antara yang lampau dan saat ini,
maupun modern dan tradisonal (Bhabha, 1994:35). Dalam hal ini, para ekspatriat berupaya
untuk menemukan identitas diri yang utuh melalui sebuah upaya identifikasi dengan
melihat kembali identitas orang asing di masa lampau dan menghadapkan pada kondisi
menghidupkan ruang persinggungan antara teori dan praktek, serta melakukan pencarian
identitas yang mana senantiasa selalu mengalami perubahan dan menolak keutuhan suatu
posisi di dalam Ruang Ketiga.
Dalam masa pasca-kolonial, menurut Bhabha (1994;35) Ruang Ketiga merupakan
suatu ruang baru yang dapat dimaknai sebagai penghilangan dikotomi penjajah-terjajah,
sehingga terdapat zona ketidaktentuan di mana masyarakat muncul. Artinya, jika
sebelumnya di masa kolonial terdapat persoalan binerisme identitas yakni, penjajah dan
terjajah terlihat sangat gamblang, yakni orang kulit putih sebagai pihak penjajah atau
pelaku kolonialisme dan pribumi sebagai pihak yang terjajah, maka di masa pasca-
kolonial identitas keduanya terlihat samar-samar dan kurang begitu jelas. Oleh karena itu,
Bhabha menekankan bahwa di dalam Ruang Ketiga terdapat suatu ruang yang
memungkinkan untuk terciptanya hibriditas dengan tujuan untuk mencegah identitas
berada di kedua ujung dari ketetapan polaritas primordial masing-masing.
Di samping itu, melalui Ruang Ketiga ini juga struktur makna dan referensi
merupakan sebuah proses ambivalensi, yang berupaya untuk menghancurkan cermin
representasi dan memperluas kode pengetahuan. Meski demikian, apakah dengan adanya
hibriditas maupun ambivalensi tetap menghilangkan oposisi biner antara ekspatriat sebagai
representasi Barat dengan Indonesia yang direpresentasikan sebagai Timur? Guna
menulusuri pertautan identitas yang terjadi di dalam Ruang Ketiga, maka penulis berupaya
untuk melakukan analisis terhadap berbagai kondisi dan pengalaman ekspatriat dari
beragam kisah para ekspatriat, pada khususnya terkait dengan persoalan hibriditas dan
ambivalensi, maupun wacana kolonial yang termuat pada beragam rubrik dan artikel di
B.1. Hibriditas Ekspatriat
Hibriditas di masa pasca-kolonial merupakan hasil dari negosiasi dua ketetapan
yang berbeda. Dalam hal ini, para ekspatriat telah mengalami sebuah pertautan dengan
yang Liyan di luar diri mereka, yakni masyarakat Indonesia. Hibriditas ini yang telah
dialami oleh Kristan Julius, seorang Amerika yang telah menetap di Jakarta dalam rentang
waktu lebih dari 20 tahun. Dari perjalanan dan pengalaman Kristan Julius selama tinggal
di Indonesia, ia berpendapat bahwa tidak banyak orang yang bermurah hati di dunia ini
sehingga ia pun belajar tentang bagaimana cara hidup dari orang-orang Indonesia. Dengan
kata lain, sebagai seorang ekspatriat, ia telah mencoba untuk mempelajari cara hidup
orang Indonesia sehingga mengambil salah satu bentuk ciri masyarakat Timur yang tidak
dimiliki Barat. Dengan demikian, persinggungan yang dialami Kristan Julius ketika berada
di Indonesia telah mengantarkan dirinya pada suatu hibriditas.
Hibriditas serupa juga dialami oleh dua perempuan bersaudara dari Hawaii, yakni
Leonani dan Nani saat bekerja di Indonesia. Mereka tidak hanya bekerja untuk sekedar
mengajarkan Hula di Indonesia, akan tetapi turut terlibat dari sebuah pertukaran budaya.
Wacana pertukaran budaya ini dapat dipahami sebagai bentuk ruang pertemuan antara
Barat dengan Timur di masa pasca-kolonial. Oleh karena itu, praktik pertukaran budaya
telah menjadi sebuah ajang terciptanya hibriditas dari dua entitas yang berbeda.
Selanjutnya, Cuny Schuurmans pun turut mengalami hibriditas selama berada di
Indonesia. Bertolak dari pengalaman dirinya yang datang ke Indonesia pada tahun 1987, ia
merasa telah jatuh cinta dengan Indonesia hingga akhirnya memutuskan untuk pindah
secara permanen. Bahkan hal ini semakin dipertegas oleh Schuurmans dengan mengatakan
bahwa meskipun dirinya adalah seorang Belanda, namun hingga saat ini ia belum
merasa seperti telah kehilangan ‘sentuhan’ dengan negeri asalnya, dan merasa bahwa
Indonesia telah menjadi rumah baginya. Sentuhan yang dimaksudkan Schuurmans telah
menandakan bahwa dirinya bukan lagi seorang Barat yang utuh, melainkan ia telah
mendapatkan sebuah sentuhan dengan Indonesia. Hal ini dibuktikan bahwa ia telah berada
di Indonesia untuk waktu yang cukup lama.
Begitu juga dengan yang dialami oleh Tim Scott, seorang Amerika yang sengaja
pindah ke benua Asia. Setelah Scott bekerja pada sebuah industri televisi di Indonesia, ia
pun harus mengalah untuk mengikuti ritme dan cara kerja orang Indonesia dalam
memproduksi sebuah program televisi. Ia mengemukakan bahwa kualitas terbaik dari
sebuah produksi program televisi di Indonesia adalah pencapaian akhir. Hal ini disebabkan
pasar Indonesia lebih mementingkan kuantitas daripada kualitas, sehingga menjadi wajar
apabila orang-orang di industri televisi bekerja dengan menghabiskan waktu yang cukup
banyak. Dalam hal ini, dapat dipahami bahwa Scott telah menempatkan orang Indonesia
berada di posisi bawah dibandingkan dengan kalangan Barat. Meskipun dalam hal ini
Scott telah merendahkan cara kerja orang Indonesia yang kurang begitu mengedepankan
kualitas, namun ia pun telah bersinggungan dengan Ruang Ketiga pascakolonial, yakni
ketika ia mengalami hibriditas dengan bekerja sesuai dengan cara kerja orang Indonesia.
Berdasarkan persoalan hibriditas yang dialami oleh para ekspatriat saat berada di
Indonesia, dapat diketahui bahwa terjadi persinggungan dua kultur yang tidak sama. Para
ekspatriat sebagai representasi Barat telah memasuki ruang lingkup yang berbeda ketika
berada di Indonesia, sehingga terjalin hubungan antara para ekspatriat saat berada di
Indonesia. Oleh karena itu, terciptanya suatu pembentukan identitas yang baru bagi para
orang asing, khususnya mereka yang merepresentasikan diri sebagai ekspatriat telah turut
B.2. Ambivalensi Ekspatriat
Bhabha menjelaskan ambivalensi merupakan kemenduaan atau ambiguitas atas
adanya pertemuan dua identitas yang berbeda. Ambivalensi muncul sebagai suatu proses
pencarian dalam Ruang Ketiga untuk menemukan identitas yang tidak benar-benar utuh
dan berada dalam ketetapan masing-masing. Seperti yang disinggung sebelumnya, jika
pada masa kolonial terdapat identitas yang biner, penjajah dan terjajah, maka pada masa
pasca-kolonial dengan menggunakan pemahaman Ruang Ketiga, identitas penjajah dan
terjajah telah dihilangkan guna melakukan pencarian identitas yang baru. Pencarian
identitas di Ruang Ketiga berupaya untuk menemukan dan menunjukkan bahwa identitas
tidak dapat terlepas dari suatu kondisi ambivalensi. Oleh karena itu, perspektif
pascakolonial Homi Bhabha, khususnya Ruang Ketiga, mencoba untuk mengungkapkan
kontradiksi yang melekat dalam wacana kolonial, menyoroti kondisi ambivalensi dan
dapat melihat struktur tekstual pada teks kolonial, yang mana ambivalensi telah
mendestabilkan klaim akan otoritas mutlak atau keaslian yang tidak dapat diragukan.
Pertama, ambivalensi yang dialami oleh seorang ekspatriat dapat dilihat pada
artikel A Million Dollar Treasure West Java tulisan Bartele Santema. Santema, selaku
penulis artikel ini, yang notabenenya adalah seorang Barat sekaligus pimpinan Majalah JE,
telah berada pada posisi ambivalensi ketika mempercayai sesuatu yang dianggap sebagai
hal mistik, yakni irasional yang terdapat di dalam masyarakat Indonesia. Bahkan, di dalam
teks yang disajikan, Santema secara eksplisit menuliskan beberapa kalimat untuk
mengajak para pembaca untuk mempercayai mistik atau hal gaib di Indonesia, seperti
kasus yang terjadi pada peta tua Indonesia, yang mana masih dianggap dapat bekerja
untuk menjaga suatu benda peninggalan suci. Oleh karena itu, sebagai seorang ekspatriat,
rasional dengan yang hal irasional seperti kepercayaan masyarakat Indonesia yang masih
mempercayai hal mistik.
Ambivalensi yang dialami Santema adalah sebuah pencarian diri di dalam ruang
antara (in between). Santema sebagai ekspatriat yang berasal dari Barat berhadapan
dengan masyarakat Timur yang telah distereotipekan oleh para Orientalis sebagai bagian
dari bangsa Timur yang masih hidup dalam alam mistik dan mempercayai hal-hal gaib.
Dengan demikian, ambivalensi yang dialami oleh Santema telah tersirat maupun tersurat
secara jelas dari teks yang disajikan oleh dirinya terkait sebuah perjalanan saat melakukan
pencarian peta tua Indonesia di tanah pasundan.
Kedua, ambivalensi yang dihadirkan oleh para ekspatriat juga dapat dilihat pada
Majalah JE edisi 80 yang secara khusus membahas tentang hantu, gaib, dan misteri di
Indonesia. Selain pemasangan foto Pocongan Cilikyang dijadikancover photomajalah JE
edisi 80, para ekspatriat juga turut memberikan penegasan atas ambivalensi yang telah
dialami. Hal ini dapat dilihat ketika para ekspatriat merasa ragu atau berada pada sikap
kemenduaan dalam mempercayai hal gaib atau mistik yang terdapat di dalam masyarakat
Indonesia.
Melalui catatan editorial Majalah JE yang diberikan oleh sang editor, Angela
Richardson, secara terang menuliskan bahwa budaya di Indonesia masih memiliki afiliasi
yang sangat kuat dengan dunia mistik dan kepercayaan tentang roh dan hantu dalam
kehidupan sehari-hari. Bahkan, mereka (dalam hal ini para ekspatriat yang bekerja di
Majalah JE) juga turut menyampaikan pengalamannya yang terkadang mengalami
fenomena hantu dan gaib yang terjadi di kantor Majalah JE. Dari penjelasan ini, kita dapat
memahami bahwa mereka, yakni para ekspatriat telah mengalami ambivalensi atas
Berdasarkan kemenduaan atau ambiguisitas yang dialami oleh para ekspatriat dari
kedua teks di atas, kita telah melihat ambivalensi dihasilkan pada suatu ruang antara (in
between)di dalam Ruang Ketiga di masa pasca-kolonial.Di satu sisi, para ekspatriat tidak
ingin melepaskan rasionalitasnya, namun di sisi lain ingin mempercayai bahwa terdapat
suatu hal yang tidak dipahami sepenuhnya secara rasional. Dengan demikian, ambivalensi
merupakan sebuah kondisi yang telah melepaskan keutuhan identitas, sehingga berada di
antara dua pertautan wacana.
Ambivalensi yang telah dialami oleh para ekspatriat merupakan suatu bentuk
pembuktian bahwa Barat tidak melulu berada pada posisi atas (upper space) dan
menempatkan masyarakat Indonesia pada posisi bawah (lower space). Dengan kata lain,
ambivalensi yang dialami oleh para ekspatriat telah membuat identitas kalangan Barat
tidak melulu utuh dan berada pada ketetapannya. Bagaimanapun, identitas acapkali
berubah-ubah dan bernegosiasi pada ruang dan waktu tempatnya bernaung. Dengan
demikian, pelacakan terhadap ekspatriat melalui Ruang Ketiga ini telah memberikan suatu
tafsiran bahwa identitas ekspatriat juga mengalami perubahan maupun keambiguan ketika
berhadapan langsung atau secara empiris dengan pribumi, terutama ketika mereka berada
di luar lingkungan asalnya, seperti saat sedang berada di luar tanah airnya atau bangsa dan
negara yang berbeda.
Setelah menelusuri identitas ekspatriat dalam Ruang Ketiga dan melihat
ambivalensinya, maka kita dapat memahami bahwa titik tolak konstruksi identitas maupun
representasi diri ekspatriat sesungguhnya adalah wacana orientalisme. Dalam wacana
orientalisme ini dipaparkan bagaimana karakter dan stereotip masyarakat Timur. Dengan
kata lain, mekanisme Orientalisme maupun wacana kolonial telah dipergunakan oleh para
identitas diri mereka sebagai ekspatriat. Oleh karena itu, ambivalensi yang dialami oleh
para ekspatriat adalah efek wacana kolonial yang telah mereka konsumsi sebagai
pengetahuan dalam memahami Timur.
Akhirnya, identitas ekspatriat adalah bukan semata hanya persoalan identitas yang
esensialis, melainkan suatu bentuk upaya hasil kontruksi. Ekspatriat sebagai identitas tidak
selalu berada pada ketetapannya yang utuh. Terutama, ketika para ekspatriat juga
mengalami proses ambivalensi karena telah bergerak maju mundur dengan mengangkat
kembali wacana kolonial dan menghadapkannya pada kondisi kontemporer Indonesia.
Dengan kata lain, ekspatriat yang mencoba untuk melampaui wacana kolonial namun tetap
berada pada posisi atau sikap yang ambivalen ketika berhadapan dengan realitas
masyarakat yang berbeda. Dengan demikian, ambivalensi yang terjadi pada ekspatriat
telah menandakan bahwa mereka sebagai representasi Barat tidak memiliki identitas yang
utuh selamanya.
Bagaimanapun, suatu identitas seperti ekspatriat juga turut mengalami proses
kemenduaan atau keambiguaan saat berhadapan dengan yang lain di luar kedirian mereka.
Suatu proses negosiasi atas identitas tidak dapat dihindarkan atau dilepaskan begitu saja di
dalam sebuah realitas, seperti kondisi para ekpatriat saat berhadapan dengan kehidupan
masyarakat Indonesia. Dengan demikian, penulis memberikan sebuah tafsiran bahwa
kehadiran orang kulit putih yang merepresentasikan identitas diri mereka sebagai
C. Catatan Penutup
Adanya beragam sajian, baik berupa foto yang dijadikan cover photomaupun teks,
yang mana disediakan oleh para ekspatriat mengenai Indonesia di dalam Majalah JE telah
mereproduksi maupun merekonstruksi wacana kolonial dengan melihat beragam kondisi
kontemporer Indonesia untuk menjadi suatu bekal pemahaman bagi keberadaan mereka.
Oleh karena itu, serangkaian imaji dan teks yang tersajikan di dalam Majalah JE telah
membuktikan bahwa para ekspatriat menghadirkan suatu wacana kolonial kontemporer
mengenai Indonesia di masa pasca-kolonial.
Kini di masa pasca-kolonial para ekspatriat membuat suatu episode baru dengan
kembali memberikan kararakteristik dan stereotipe tentang Indonesia yang masih
diposisikan bahkan ditegaskan sebagai Timur. Melalui Majalah JE, para ekspatriat
kembali merepresentasikan Indonesia kepada kalangan Barat, yakni para pembaca, yang
adalah ekspatriat itu sendiri. Dalam hal ini para ekspariat dapat dikatakan masih memiliki
simtom wacana kolonial, sehingga mereka masih selalu berfantasi dalam memandang
realitas Timur seperti Indonesia yang berbeda dan berada di luar mereka yang Barat.
Di samping itu, pencarian identitas ekspatriat yang telah memasuki ruang baru di
masa pasca-kolonial telah menemukan bahwa mereka juga mengalami hibriditas dan
ambivalensi. Melalui penelusuran beragam teks kisah para ekspatriat, rubrik maupun
artikel hingga cover photo, telah memahami bahwa hibriditas dan ambivalensi yang
dialami para ekspatriat adalah sebuah proses pencarian diri yang tidak pernah mencapai
ketetapannya. Dengan kata lain, dengan merepresentasikan diri sebagai ekspatriat melalui
Majalah JE, mereka tetap memainkan wacana masa lampau sebagai rujukan identitas diri
mereka, sehingga kehadiran para ekspatriat masih memiliki sifat kolonial (orientalistik) di
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Melalui penelitian ini, penulis memperoleh pemahaman bahwa persoalan identitas merupakan fenomena unik sekaligus rumit. Identitas dapat dikatakan unik karena terdapat pelbagai wacana yang melingkupi di dalamnya sehingga selalu mengalami perubahan yang tidak pasti. Sementara itu, identitas menjadi pembahasan yang rumit karena identitas terkait erat dengan bagaimana representasi yang dilakukan untuk dapat menyatakan dan meneguhkan identitas kediriannya. Dan hal ini yang telah terjadi pada persoalan ekspatriat sebagai identitas orang asing yang sedang berada di luar tanah airnya seperti di Indonesia. Oleh karena itu, penelitian ini telah menemukan bahwa tidak terdapat suatu identitas yang utuh, bahkan kehadiran orang kulit putih yang merepresentasikan diri sebagai ekspatriat melalui sebuah media, yakni Majalah JE adalah hanya sebuah upaya untuk mengkontruksi dan membuat legitimasi atas identitas diri yang selalu berubah-ubah.
Di dalam Majalah JE, ekspatriat sebagai identitas yang terus dikonstruksi dan direpresentasikan oleh orang kulit putih telah menepikan kehadiran orang asing lainnya di Indonesia. Dalam hal ini, persoalan ras masih menjadi titik tolak untuk dapat menginklusi dan mengeksklusi orang asing sebagai ekspatriat. Dikarenakan ekspatriat sebagai identitas belum memiliki batasan yang sangat jelas, maka penelitian ini telah mendapatkan sebuah temuan bahwa ekspatriat sebagai identitas merupakan konstruksi dan dihadirkan oleh orang kulit putih melalui sebuah media. Bahkan, secara etimologis, ekspatriat mengalami penyempitan makna, yakni lebih dikhususkan bagi orang kulit putih.
Para ekspatriat kulit putih menggunakan Majalah JE sebagai medium untuk dapat mengkonstruksi dan berupaya untuk memapankan identitas kediriannya dengan cara merepresentasikan diri sebagai eskpatriat. Sebagai sebuah media, Majalah JE menjadi suatu ruang kontestasi wacana seputar identitas kedirian orang asing, khususnya orang kulit putih untuk mendapatkan identitas ekspatriat. Jadi, melalui Majalah JE terjadi pengkodifikasian orang kulit putih sebagai ekspatriat, sehingga menegasikan orang asing lainnya yang sedang berada di Indonesia.
Sebagaimana yang telah diuraikan pada Bab I dan II, kehadiran orang asing di Indonesia telah memberikan pengaruh di dalam tatanan kehidupan masyarakat, terutama ketika kolonialisme mewabah hampir ke seluruh wilayah di dunia. Para kolonial Eropa, yakni orang kulit putih telah melakukan praktik kolonial dan menciptakan status sosial mereka lebih tinggi dibandingkan dengan masyarakat pribumi. Kini, kehadiran ekspatriat yang direpresentasikan oleh orang kulit putih pun kembali kepada wacana masa lalu kolonial, sehingga membuat pembedaan dan menciptakan ketidaksetaraan di dalam masyarakat. Dengan demikian, dalam tatanan wacana maupun praktik tidak terdapat perbedaan yang sangat signifikan antara para kolonial di masa lampau dengan kehadiran ekspatriat di masa pasca-kolonial.
Secara khusus, pada Bab III, penelitian ini telah berupaya memberikan pemaparan bagaimana identitas sekaligus representasi diri ekspatriat dilakukan melalui Majalah JE. Di dalam majalah JE, para ekspatriat telah menciptakan sebuah ruang eksistensi sekaligus mengkonstruksi pemahaman mengenai siapa itu ekspatriat. Bahkan, setelah mengkaji sebuah pertanyaan esensialis mengenai identitas, ekspatriat dapat dipahami sebagai identitas yang bersifat anti-esensialis. Representasi yang dilakukan oleh para ekspatriat di