• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II INDONESIA DAN ORANG ASING

B. Indonesia di Masa Pasca-kolonial

B.1. Orang Kulit Putih; Bule atau Ekspatriat?

B.1.2. Ekspatriat, melampaui definisi!

Sebagaimana yang telah disinggung pada bab sebelumnya, Bab I Pendahuluan, terdapat beragam penjelasan mengenai pengertian ekspatriat secara etimologi. Merujuk pada pandangan seorang Sosiolog, Eric Cohen, dalam artikel yang berjudul “Expatriate Community”(1977), secara konvensional mengatakan bahwa:

Expatriate is conventionally reserved for Westerners who have lived abroad for varying lengths of time, especially artists, colonials, and generally those with a mission of one kind or another.22

Sementara itu, seorang Antropolog, Ulf Hanners (1996) menjelaskan bahwa:

22

Expatriates (or ex-expatriates) are people who have chosen to live abroad for some period, and who know when they are there that they can go home when it suits them...these are people who can afford to experiment, who do not stand to lose a treasured but threatened, uprooted sense of self.23

Dengan demikian, dari kedua upaya penjelasan maupun pemaparan di atas dapat diketahui bahwa belum terdapat batasan yang ketat untuk dapat menyebut orang yang keluar dari negara asalnya sebagai ekspatriat, terutama identitas ekspatriat yang tidak terkait dengan suatu jenis ras tertentu. Meskipun dari pernyataan Cohen ekspatriat merujuk pada orang-orang Barat, namun tampaknya perlu untuk menelusuri lebih lanjut beragam wacana yang terdapat di dalamnya, khususnya orang asing kulit putih yang merepresentasiskan diri sebagai ekspatriat.

Sebagai salah satu sumber rujukan pustaka dalam penelitian ini, yakni, Anne- Meike Fechter yang melakukan studi tentang kehidupan transnasional ekspatriat di Indonesia telah memberikan sumbangsih tentang beragam wacana seputar kehidupan ekspatriat. Melalui sebuah penelititan, Fechter berupaya untuk dapat memahami ekspatriat dengan melihat kondisi yang sesungguhnya terjadi di Jakarta. Bertolak pada sebuah artikel milik Cohen (1977) yang berjudul 'Expatriate Community', Fechter (2007:1) ingin mengingatkan kembali dengan memperlihatkan suatu pola hubungan relatif yang kontras dengan keunggulan ekspatriat dalam imajinasi populer, meskipun hal tersebut sering mengambil bentuk karikatur dan klise. Keberadaan klise ini lebih dikonstruksi oleh ekspatriat sendiri terkait dengan pengasumsian suatu ‘kebiasaan eksotis’ dan ‘keyakinan irasional’ yang ditujukan terhadap kalangan pribumi.

Meskipun Fechter tidak mencoba secara sistematis untuk meninjau istilah ‘ekspatriat’ yang longgar dan memiliki beberapa arti, namun ia berupaya membahas keberadaan ekspatriat yang relevan dalam konteks sekarang. Fechter (2007:1) menjelaskan

23

Dalam Upton, S.R. (1998).Expatriates in Papua New Guinea: Contructions of Expatriates in Canadian Oral Narratives.Hal. 4.

bahwa kata ‘expatriate’ berasal dari bahasa Latin; exyang berarti keluar dan patria yang berarti negara asal. Selain itu, Fechter juga merujuk pada The New Oxford English Dictionary (1999) mengenai asal usul penggunaan kata ekspatriat yang ada saat ini, yang mana kata eskpatriat bermula pada pertengahan abad ke-18 atau dalam bentuk istilah Latin, diartikan sebagai seseorang yang pergi atau keluar dari negaranya.

Di samping itu, Fechter (2007:1) setidaknya mendeskripsikan bahwa istilah ekspatriat telah menjadi terkenal dalam beberapa hal. Pertama, semisal dalam tulisan yang terdapat dalam Lost Generation, penulis Amerika yang tinggal di Paris setelah Perang Dunia I, termasuk Ernest Hemingway, F. Scott Fitzgerald dan Gertrude Stein. Sebuah kutipan dari novel Hemingway, The Sun Also Rises, menunjukkan kiasan dari kemerosotan moral yang terkait dengan keberadaan ekspatriat: “Anda seorang ekspatriat. Anda telah kehilangan kontak dengan tanah kelahiran. Anda mendapatkan kedudukan yang tinggi. Standar kepalsuan Eropa telah merusak Anda. Anda minum hingga mati. Anda menjadi terobsesi dengan seks. Anda menghabiskan seluruh waktu hanya untuk berbincang-bincang tanpa bekerja. Anda adalah adalah seorang ekspatriat, lihat?"24

Selajutnya, Fechter (2007:2) juga berupaya menunjukkan bahwa kata ekspatriat sebagai sebuah penggunaan istilah, yang mana untuk konteks sekarang dinilai lebih relevan berkaitan dengan kolonialisme. Bagi Fechter, belakangan ini hubungan kata-kata 'kolonial' dan 'ekspatriat' juga senantiasa digunakan satu sama lain dalam catatan kehidupan kolonial. Hal itu dapat terlihat dalam sebuah deskripsi ketika para pria Inggris yang telah berada terlalu lama dengan iklim tropis di Asia Selatan atau Asia Tenggara telah mengalami penderitaan dunia yang melelahkan, mengalami keterasingan, dan kecanduan alkohol. Deskripsi tersebut acapkali digambarkan dalam novel dan cerita

24

“You’re an expatriate. You’ve lost touch with the soil. You get precious. Fake European standars have ruined you. You drink yourself to death. You become obsessed by sex. You spend all your time talking, not

pendek Anthony Burgess, Joseph Conrad dan Somerset Maugham. Asosiasi ini dikaitkan – dan kadang-kadang kontinuitas – antara masa lalu kolonial dengan permukaan wacana populer ekspatriat kontemporer; bersantai dan menghirup tonik saat matahari terbenam, sehingga telah menjadi gambaran ikon dari kehidupan ekspatriat di daerah tropis saat ini. Hal ini didasarkan pada kemungkinan pengaruh dari cara hidup petugas kolonial Inggris di India, sehingga Fechter membahas pentingnya hubungan antara kedua kelompok tersebut; petugas kolonial dan para pendatang yang menjadi ekspatriat.

Kedua, Fechter (2007:2) juga memaparkan bahwa sebuah makna dari istilah “ekspatriat” dalam hal teknis juga digunakan dalam bidang manajemen sumber daya manusia internasional. Dalam konteks ini, seorang ekspatriat ditempatkan sebagai seseorang yang mengambil sebuah tugas internasional untuk majikan (perusahaan multinasional) mereka. Sebagai orang tetap di dalam suatu perusahaan, langkah-langkah ini kerapkali juga disebut sebagai transfer intra-perusahaan. Mereka sering disebut sebagai 'ekspatriat bisnis', yang mana perpindahan semacam ini mungkin saja terjadi. Bahkan suatu model tradisional yang menetapkan bahwa seorang pekerja akan diberikan uang insentif untuk kepindahannya dan kompensasi atas biaya ketidaknyamanan yang ditimbulkan akibat adanya relokasi. Hal itu termasuk biaya perpindahan, tiket pesawat, biaya perumahan, mobil dan supir, asuransi kesehatan, serta biaya sekolah anak-anak mereka, ditambah lagi gaji yang lebih tinggi untuk mengakomodasi biaya dalam mempertahankan gaya hidup luar negeri. Ekspatriat perusahaan ini secara khusus berkaitan dengan tahapan yang berbeda dari 'siklus ekspatriat'; karena itu adalah pilihan mereka, sebagai bentuk tugas dan repatriasi, remunerasi, dan berdasarkan pada evaluasi keberhasilan atau kegagalan.

Ketiga, terlepas dari kerangka pengertian yang sempit, Fechter (2007:3) juga menjelaskan istilah ekspatriat yang sering muncul dalam representasi suatu media, misalnya berkenaan dengan suatu peristiwa ketika orang Inggris pindah ke selatan Spanyol, Perancis atau Italia secara sementara atau permanen. Bagi Fechter, hal ini terjadi bukan hanya sebatas lansia yang biasa dianggap sudah pensiun atau sedang liburan, tetapi juga orang-orang yang meninggalkan pekerjaan mereka dan menjual properti mereka di Inggris guna mengejar kualitas hidup yang lebih baik di luar negeri, iklim yang lebih hangat dan biaya hidup yang lebih rendah. Fechter menempatkan ekspatriat semacam ini telah memperoleh profil yang relatif tinggi dalam imajinasi populer di Inggris, sebagian hadir melalui beberapa serial di televisi, menyusul relokasi dan pemukiman luar negeri. Seperti penampilan mereka dalam novel Peter Mayles, A Year in Provence, atau JG. Ballard, Cocaine Nights, dan fitur berita lainnya, semisal tentang akses kesehatan bagi warga yang lanjut usia di Spanyol.

Secara khusus, bertolak dari pengamatan di Indonesia, Fechter (2007:3) mulai menemukan semacam kejelasan dari makna sebuah istilah ‘ekspatriat’. Ekspatriat dengan berbagai hal yang disertai asosiasi mewah, secara lebih rinci membahas aspek bagaimana warga Barat di Indonesia berhubungan dan berbicara tentang identifikasi mereka yang asing vis-à-vis dengan orang Indonesia dan orang-orang di negara mereka. Berdasarkan pada informannya di Indonesia, yang semuanya adalah orang Euro-Amerika, Fechter menggambarkan bahwa diri mereka sebagai ekspatriat karena berada pada suatu perusahaan berskala internasional, sehingga telah membuat seseorang menjadi ekspatriat. Beberapa dari informannya tidak hanya menerima istilah ekspatriat, ‘but embraced it with relish’. Ini adalah pengakuan mereka mengenai makna atas status pekerjaan, karena status

ini telah membuat mereka sampai pada batas tertentu yang membenarkan bahwa keberadaan ekspatriat relatif mewah.

Keempat, Fechter (2007:3) mengemukakan bahwa pemberian label ‘ekspatriat’ juga telah menandakan mereka dalam mekanisme kapitalisme global, di mana mereka tidak memiliki kontrol atas diri dan tidak dapat bertanggung-jawab atas kesenjangan yang dihasilkan di dalam masyarakat. Dasar alasan ini diletakkan pada apa yang biasa disebut ‘hardship ideology’, yang juga menjadi dasar dalam suatu ‘paket ekspatriat’ karena dikirim ke suatu negara yang “tidak nyaman”, sehingga menjadi wajar apabila mendapatkan bayaran yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan negara asal. Selain itu, ideologi ini sering muncul berkaitan dengan konsep dari perusahaan ekspatriat, per definisi, adalah mereka lebih terampil dan berkualitas untuk dipekerjakan daripada tenaga kerja lokal, dan karena itu mereka layak digaji jauh lebih tinggi daripada penduduk setempat. Bahkan ketika para perusahaan mereka memberikan pembenaran lebih lanjut untuk suatu posisi istimewa ekspatriat dan persepsinya yang sering mendasar atas perusahaan ekspatriat memiliki nilai yang tinggi.

Di samping itu, Fechter (2007:4) juga meninjau pemikiran Chambers (2005) berkaitan pada fenomena ekspatriat yang mengacu sebagai‘capital trap’, sehingga muncul sinyal yang berjarak antara para profesional dengan masyarakat negara tempat mereka bekerja. Meskipun terdapat beberapa kesamaan dengan ekspatriat perusahaan, akan tetapi terdapat beberapa ekspatriat sebagai pekerja sosial yang enggan untuk merujuk diri mereka sebagai ekspatriat. Hal ini disebabkan kecenderungan yang mengandung konotasi negatif, seperti keserakahan, kebodohan, dan kurangnya minat pribadi untuk hidup bersama masyarakat, hingga karakteristik mereka yang tidak ingin diidentifikasi. Hal ini berkaitan dengan fakta bahwa terdapat para pekerja sosial yang masih cenderung untuk

dapat mempertimbangkan misi dan motivasi mereka secara fundamental berbeda dengan sektor korporasi, bahkan mereka lebih menekankan pada sisi humanistik dan bukan berorientasi pada motif keuntungan.

Kelima, Fechter (2007:5) juga menyebutkan bahwa adanya kelompok lain yang sebagian tumpang-tindih dengan para pekerja sosial, yaitu generasi muda yang belum tentu berada di Jakarta karena dikirim melalui perusahaan, tetapi ada yang mengambil pekerjaan atas inisiatif mereka sendiri. Ada kemungkinan mereka juga menerima gaji yang kompetitif secara global dan memiliki gaya hidup yang nyaman, tapi tidak selalu menggambarkan bahwa diri mereka dapat dan mau dikatakan sebagai ekspatriat. Fechter menyarankan bahwa kelompok ini enggan untuk dihubungkan dengan para ekspatriat tua dan budaya mereka, karena cenderung akan berkaitan dalam hal kelompok se-negaranya, berorientasi hidup sosial, terlibat dalam organisasi masyarakat, dan pada umumnya dengan apa yang mereka anggap sebagai sebuah gaya hidup kuno, yaitu, ekspatriat tradisional.

Bergeser pada suatu pandangan lain, Fechter (2007:5) mencoba melihat bagaimana bentuk keprihatinan pengetahuan masyarakat Indonesia yang juga cenderung meremehkan ekspatriat dengan menunjukkan keterlibatan ekspatriat yang tinggal di luar Jakarta, semisal, pengusaha kecil, guru, seniman, dan mereka yang bekerja untuk sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Karena itu, Fechter melakukan kritik dengan menyampaikan bahwa acapkali dalam pemahaman pribumi, istilah ekspatriat selalu diasosiasikan dengan menunjukkan gaya hidup mewah, kurangnya memiliki kemampuan bahasa, arogansi, kebodohan, dan mungkin sikap rasis.

Berbekal dengan beberapa definisi dan melihat kondisi realitas para ekspatriat dalam perspektif transnasional di Indonesia, pada khususnya di Jakarta, akhirnya Fechter mendapatkan beberapa temuan dan kesimpulan, diantaranya, pertama, kehadiran para

ekspatriat bukanlah sebuah kelompok yang homogen (2007:15). Kedua, kehidupan para ekspatriat berkaitan dengan sejarah, ras, kebangsaan, hingga gender (2007:34). Ketiga, arus perpindahan global atau transnasionalisme yang dialami para ekspatriat dilingkupi dengan hak-hak istimewa migrasi (2007:56). Keempat, ekspatriat perusahaan masih dilingkupi oleh imajinasi kolonial (2007:80). Kelima, ekspatriat memproduksi identitas, mengafirmasi, dan berkontestasi dalam kehidupan sosial (2007:100). Terakhir, Fechter menolak mitos globalisasi mengenai identitas yang bersifat cair maupun yang dianggap tidak ada lagi batasan dengan memperlihatkan kehidupan transnasional para ekspatriat (2007:166). Dengan demikian, ekspatriat bukan lagi hanya sekedar pendefinisian semata, melainkan terjadi suatu proses reproduksi wacana yang turut memapankan ekspatriat sebagai suatu identitas.