• Tidak ada hasil yang ditemukan

C. Kaitan antara makna hidup dan bunuh diri

Ada hubungan antara makna hidup dan perasaan negatif, kurangnya makna berkaitan dengan manifestasi bunuh diri. Dari penelitian yang dilakukannya, Lester dan Badro (dalam Edwards, 2007) menemukan bahwa skor tes tujuan hidup (purpose in life test) yang rendah memprediksikan percobaan bunuh diri yang pernah dilakukan dimasa lalu, dan pemikiran bunuh diri yang dirasakan baik dulu maupun sekarang. Edwards dan Holden (dalam Edwards, 2007) menemukan hubungan negatif antara tujuan hidup dengan pemikiran bunuh diri dan kecendrungan untuk bunuh diri di masa depan. Kurangnya rasa coherence yang memandang bahwa hidup adalah penuh makna merupakan prediktor pemikiran bunuh diri pada pelaku percobaan bunuh diri yang tengah dirawat di rumah sakit enam bulan setelah usaha bunuh diri yang dilakukannya, ini juga merupakan prediktor dari percobaan bunuh diri yang dilakukan di masa mendatang (Petrie & Brook dalam Edwards, 2007)

Dari beberapa penelitian yang telah dilakukan dapat dilihat bahwa makna hidup sangat berkaitan dengan tindakan bunuh diri. Frankl (...) mengemukakan tentang dua kelompok orang yang membutuhkan pertolongan, yaitu :

a. People in Doubt

Bagi orang yang dalam keraguan, segala sesuatu terlihat negatif dan dipertanyakan. Mereka mencari tujuan untuk dikejar, ide untuk dipercayai, tugas untuk dipenuhi, karena mereka menemukan diri mereka berada dalam kekosongan yang diistilahkan dengan existential vacuum. Mereka tidak melihat adanya tujuan dalam hidup mereka dan sedang mencari makna.

Jika pencarian makna ini tersangkut dalam suatu kondisi permanen keraguan, dan tidak ada perkembangan, mungkin akan menghasilkan neurotis serius, psikotis,atau bahkan depresi.

b. People in Despair

Adalah mereka yang tadinya memiliki orientasi hidup yang bermakna, tapi kemudian kehilangan makna itu baik melalui hilangnya rasa percaya (fate) atau menemukan bahwa makna tersebut tidaklah penting atau mengecewakan. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah mereka yang pernah hidup dalam kesenangan, kekuasaan, kesejahteraan, dan menyadari mereka mengejar sesuatu yang tidak memiliki kelanjutan, dan sekarang merasa kosong. Realitas ini dapat mengarah pada kemunduran (resignation), perasaan tak bermakna, bahkan pemikiran untuk bunuh diri.

Mereka yang tak berhasil memenuhi motivasi untuk bermakna akan mengalami kekecewaan dan kehampaan hidup serta merasakan hidupnya tidak

bermakna. Ketidakberhasilan menemukan dan memenuhi makna hidup biasanya menimbulkan penghayatan hidup tanpa makna (meaningless), hampa, gersang, merasa tak memiliki tujuan hidup, merasa hidupnya tak berarti, bosan, dan apatis. Kebosanan adalah ketidakmampuan seseorang untuk membangkitkan minat, sedangkan apatis merupakan ketidakmampuan untuk mengambil prakarsa. Penghayatan-penghayatan seperti digambarkan di atas mungkin saja tidak terungkap secara nyata, tapi menjelma dalam berbagai upaya kompensasi dan kehendak yang berlebihan untuk: berkuasa (the will to power), bersenang-senang mencari kenikmatan (the will to pleasure) termasuk kenikmatan seksual (the will to sex), bekerja (the will to work), dan mengumpulkan uang (the will to money). Akibat dari penghayatan hidup yang hampa dan tak bermakna yang berlarut-larut dapat menjelma menjadi nerurosis neugenic, totalitarianism, dan conformism. Totalitarianism adalah gambaran pribadi dengan kecenderungan untuk memaksakan tujuan, kepentingan, dan kehendaknya sendiri dan tidak bersedia menerima masukan dari orang lain. Pribadi ini sangat peka kritik dan biasanya akan menunjukkan reaksi menyerang kembali secara keras dan emosional; Sedangkan conformism adalah gambaran pribadi dengan kecenderungan kuat untuk selalu berusaha mengikuti dan menyesuaikan diri kepada tuntutan lingkungan sekitarnya serta bersedia pula untuk mengabaikan keinginan dan kepentingan dirinya sendiri (Bastaman, 2007) .

Frankl (1950) mendiagnosa dan menggambarkan suatu sindrom yang disebut dengan Existential frustation, yang termanifestasi dalam ketidakacuhan, perasaan tidak bermakna, kekosongan dalam, kekurangan orientasi tujuan,

kebosanan (boredom), ketidak puasan dengan hidup yang berakibat muak/jenuh akan hidup. Orang dewasa yang terkena frustasi eksistensial, mengganti karir, mencoba ini-itu tanpa menemukan kepuasan. Mereka kenyang akan segalanya tanpa menemukan kepuasan, dan pada akhirnya berkata :”aku muak akan hidup”

Existential frustration biasanya diikuti dengan existential vacuum, yaitu kondisi dimana seseorang menderita ketidak bermaknaan (meaninglessness) dan kekosongan (emptiness) disebut juga dengan kehampaan inti (inner void). Konsekuensi dari existential vacuum adalah tidak mengetahui apa yang sebenarnya ingin dilakukannya, kekurangan isi dan tujuan hidup. Juga dapat memiliki konsekuensi berbahaya, seperti depresi, inflasi sex, ketergantungan, dan kekerasan. (Frankl,...)

Walaupun penghayatan hidup tanpa makna ini bukanlah merupakan suatu penyakit, tetapi jika berlangsung secara intensif dan berlarut-larut tanpa penyelesaian tuntas dapat menjelma menjadi suatu noogenic nerosis, yaitu neurosis yang berasal dari masalah spiritual, dalam konflik moral, atau dalam konflik diantara hati nurani yang sebenarnya dengan sekedar superego. Neurosa ini adalah hasil dari frustasi akan keinginan untuk bermakna (will to meaning ), dari apa yang disebut dengan frustasi eksistensial, atau dari kehampaan eksistensial. Gangguan ini biasanya tampil dalam keluhan-keluhan bosan, hampa, dan penuh keputusasaan, kehilangan minat dan inisiatif, serta merasa bahwa hidup ini tidak ada artinya. Kehidupan sehari-hari dirasakan sebagai suatu rutinitas yang tidak pernah berubah, bahkan tugas sehari-hari ditanggapi sebagai hal yang sangat menjemukan dan menyakitkan hati. Kegairahan kerja dan kesediaan untuk bekerja

menghilang serta menganggap tak pernah mencapai kemajuan apapun dalam hidup, bahkan prestasi-prestasi yang pernah dicapai dirasakan tak berharga. Lingkungan dan keadaan di luar dirinya ditanggapi sebagai hal-hal yang membatasi dan serba menentukan dirinya, dan ia merasa tak berdaya menghadapinya. Kelahiran dan kehadiran di dunia pun dipertanyakan, bahkan disesali. Sikapnya terhadap kematian ambivalen, di satu pihak ia merasa takut dan tidak siap mati tetapi di lain pihak sering beranggapan bahwa bunuh diri merupakan jalan terbaik untuk keluar dari kehidupan yang serba hampa ini. (Frankl,...; Bastaman, 1996)

BAB III

METODE PENELITIAN III. A. Pendekatan Kualitatif

Makna hidup merupakan sesuatu yang sensitif dan emosional, sehingga kemampuan untuk membaca reaksi emosional yang tersirat (non verbal) dan tersurat (verbal) mutlak diperlukan guna menunjang kualitas hasil penelitian.

Penelitian ini berbicara mengenai makna hidup subjek penelitian. Sehingga ”pengalaman hidup” yang dialami dari perspektif subjek penelitian tersebut dapat digambarkan dan membantu menjelaskan makna hidup dari pelaku percobaan bunuh diri tersebut dengan lebih baik.

Hal ini sesuai dengan pendapat Padgett (1998) tentang beberapa alasan menggunakan penelitian kualitatif. Yaitu: jika peneliti ingin menggali suatu topik yang masih sedikit diketahui, topik yang ingin diteliti memiliki tingkat kedalaman sensitivitas dan emosional, Penelitian tersebut diharapkan dapat menggambarkan “pengalaman hidup” dari perspektif orang yang hidup di dalamnya dan menciptakan arti darinya, diharapkan dapat memasuki “kotak hitam” dari program atau intervensi, dan Seorang peneliti kuantitatif yang mencapai jalan buntu dalam mengumpulkan data atau dalam menjelaskan penemuan.

Sehubungan dengan beberapa alasan penggunaan metode penelitian kualitatif yang dikemukakan oleh Padgett (1998) diatas, maka peneliti menilai bahwa jenis penelitian yang paling tepat untuk mendapatkan gambaran makna hidup pada pelaku percobaan bunuh diri adalah dengan menggunakan metode penelitian kualitatif.

Metode penelitian kualitatif merupakan prosedur penelitian yang akan menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Pendekatan ini juga digunakan untuk menggambarkan dan menjawab pertanyaan seputar partisipan penelitian beserta konteksnya (Bogdan dan Taylor dalam Moleong, 2000)

Penelitian kualitatif dalam hal ini dipandang dapat menyampaikan dunia responden secara keseluruhan dari perspektif partisipan sendiri dan yang menjadi instrumen dalam mengumpulkan data adalah peneliti sendiri (Banister, 1994).

Melalui penelitian kualitatif Peneliti ingin memperoleh pemahaman yang menyeluruh dan utuh tentang fenomena yang diteliti, sehingga dapat memahami peristiwa tersebut dalam konteks dan sudut pandang partisipan sendiri.

Dengan menggunakan pendekatan kualitatif diharapkan peneliti akan dapat memasuki ”kotak hitam” dari permasalahan ini dengan lebih mendalam karena turut mempertimbangkan dinamika, perspektif, alasan dan faktor-faktor eksternal yang turut mempengaruhi subjek penelitian melakukan percobaan bunuh diri.

III. B. Partisipan

Partisipan untuk penelitian kualitatif adalah partisipan yang memenuhi kriteria yang telah ditetapkan dan bisa memberikan sebanyak mungkin data yang dibutuhkan. Penelitian ini akan melibatkan individu yang pernah melakukan percobaan bunuh diri dan berdomisili di Kota Medan dengan mempertimbangkan kesediaan subjek penelitian (Gay & Airasian, 2003).

III. B. 1. Karakteristik Partisipan

Karakteristik partisipan dalam penelitian ini adalah individu yang pernah melakukan percobaan bunuh diri, yaitu perilaku overt menyakiti diri sendiri yang dimaksudkan untuk membunuh dirinya dan jika tidak ada intervensi dari orang lain akan berakibat pada kematiannya.

Perilaku sebelumnya merupakan indikator penentu tindakan di masa depan. Orang dengan sejarah bunuh diri harus diperhatikan sebagai orang yang berpotensi melakukan tindakan bunuh diri (Poland dan Lieberman dalam Bachmann, 2004).

III. B. 2. Jumlah Partisipan

Penelitian kualitatif bekerja dengan sampel yang kecil, yang sesuai dengan konteks penelitian dan dipelajari secara mendalam (Miles. Huberman, 1994). Jumlah partisipan dalam penelitian ini adalah 2 orang.

Diharapkan partisipan dalam penelitian ini dapat menggambarkan orang- orang yang mengalami keraguan dan keputusasaan dalam hidupnya, juga dapat membedakan pelaku yang pernah mencoba bunuh diri kemudian berhasil menemukan makna hidupnya dengan orang yang masih mencari makna hidup dan masih merasakan ketidakbermaknaan dalam hidupnya.

III. B. 3. Lokasi Penelitian

Partisipan penelitian diambil dari populasi orang yang pernah mencoba bunuh diri yang berdomisili di Kota Medan. Adapun alasan pengambilan sampel yang berdomisili di kota Medan mengingat kota Medan merupakan kota terbesar di Sumatera dan ketiga terbesar di Indonesia, setelah Jakarta dan Surabaya. Selain

itu juga terdapat alasan kemudahan bagi peneliti dalam menemukan sampel, mengingat peneliti juga berdomisili di kota Medan.

III. B. 4. Tekhnik Sampling

Prosedur pengambilan subjek dalam penelitian ini snowball/ chain sampling yaitu mengidentifikasi kasus yang akan diteliti dari orang yang mengetahui siapa orang yang memiliki kasus yang dapat memberikan informasi yang kaya (Miles, Huberman, 1994). Bergulirnya pemilihan sampel melalui tekhnik snowball sampling , baik untuk sampel informan maupun situasi sosial, pada akhirnya akan sampai pada suatu batas dimana tidak dijumpai lagi variasi informasi. Pada saaat seperti itu pemilihan sampel baru tidak diperlukan lagi. Dengan perkataan lain, kegiatan pengumpulan data atau informasi di lapangan dianggap berakhir. (Bungin, 2003)

Dokumen terkait