ANALISIS DAN PEMBAHASAN
5. Penghayatan Hidup Saat Ini
10 hari tinggal di ICU tidak membuat Beni dapat beraktivitas sebagaimana yang biasa dilakukannya. Penyakit ginjal yang dideritanya membuatnya tidak dapat melakukan aktivitas fisik dan pikiran yang terlalu berat. Sehingga ia yang tadinya produktif di kantor menjadi sesorang yang hanya dapat duduk dan melihat temannya menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan di kantor. Di kantor, pola aktivitasnya berubah, dari survey dan pengolahan data menjadi menonton TV, baca koran dan tidur. Karena merasa bahwa tidak ada yang perlu dikejar di kantor, iapun menjadi malas datang ke kantor dan sering absen tanpa menuliskan surat izin. Dalam seminggu yang memiliki 5 hari kerja ia hanya datang 3-4 kali seminggu.
Sebenarnya Beni bukanlah orang yang suka menganggur. Sebelum jatuh sakit ia merasa bahwa dia adalah orang yang 100% produktif, namun penyakitnya
membuatnya tidak bisa menjadi individu sebagaimana dirinya dahulu. Karenanya ia tidak suka melihat teman sekantornya yang masih sehat bermalas-malasan dalam bekerja. Dalam kemarahannya ia akan diam saja bila orang tersebut tidak merubah perilakunya walaupun sudah dinasehatinya.
Ketidakproduktivitasannya di kantor mempengaruhi kepercayaan dirinya. Merasa bosan karena tidak ada pekerjaan, ia memilih untuk membaca daripada mengobrol kalaupun mengobrol paling hanya selama 30 menit, ia sudah merasa kalau orang muak mendengar ceritanya. Ia juga malu untuk pergi kebagian lain karena ia merasa bahwa orang akan menuduhnya hanya membawa penyakit saja. Merasa malu karena tidak bekerja, ia menjadi malas untuk mengobrol sedangkan orang lain sibuk bekerja. Ketidakpercayaan diri yang diakibatkan oleh rasa ketidakproduktivitasan kerja ini ditambah lagi dengan sindiran teman-teman sekantornya tentang ia yang tidak bekerja membuatnya semakin merasa malu. Kalaupun ia membawa pekerjaan lain dari rumah ia merasa bahwa orang akan mempertanyakan mengapa bukan tugas dari kantor yang dikerjakannya. Semangat yang adapun hanya sebentar, karena sesampainya dirumah ia akan terkulai lemas.
waah..kan males juga orang kalo tiap hari cerita-cerita gitu kan. Orang lain sibuk awak cerita-cerita. Kan males juga awak. ya..ada. tapi cuman..ya berapa lama la itu. Kalo kantor kan sebentar aja. Paling setengah jam udah muak orang. Ngomong-ngomong pun..kadang..kan udah dibilang orang disana ”kelen mo ngomong ato mo kerja di kantor ini” kan begitu. malu la. Malu. Ya paling ke bagian lain cuma setengah jam. Trus sisanya kan..tiap hari aku datang kesitu kan..malu. ngapain kau disini? Gak ada kerja rupanya sana? Kan gitu..Kalo sehat awak..tempat orang awak gak sehat kan malu. Bawa penyakit aja pun ke sini kau. Dalam hati nya pasti demikian. ya walaupun gak dibilang kan ke’gitu nya..apa orang. Kan malu kita ama.. kalo gak ada kerja. Terpaksa awak duduk juga di kursi awak kan. Walaupun gak ada dia apa awak..awak baca-baca la yang ada di situ. Malu awak ngomong-ngomong. Ya udah malu. Kadang-kadang pun kalau awak
kerjai punya orang, kau kerjai apa kau bukan punya kantornya. Gitunya..apa kan..
(P3, W2/b.1289-1324)
Ketiadaan semangat untuk melakukan pekerjaan bukan hanya terjadi di kantor saja. Dirumah pun ia malas melakukan aktivitas apapun. Setiap akan berkativitas, pikirannya akan langsung tertuju pada penyakitnya. Ia yang tadinya sering membersihkan rumah, memasak dan menggiling cabe sekarang tidak pernah mengerjakannya lagi.
Tapi sekarang aku. Giling cabe pun malas kali aku. Masak pun malas kali. Semua aku malas. Jadi aku pikiranku terus..tapp..apa..ke penyakitku ini. (P3, W1/b.547-550)
Untuk pergi keluar rumah ia merasa malas. Ia pernah pulang kampung dan menginap ditempat saudaranya. Sepulang dari sana, Beni tergeletak tidak bisa bergerak di tempat tidur selama 3 hari. Hal ini mebuatnya takut untuk pergi berziarah ke kampungnya di hari paskah.
paskah pun ziarah biasanya, tapi..cemana mau ziarah. Begini keadaan. Oyong la di jalan nanti. (P3, W1/b.641-643)
Ia yang tadinya rajin berolahraga menjadi tidak bisa melakukannya lagi karena kondisi penyakitnya membuatnya cepat merasa lelah. Paling-paling ia akan berjalan-jalan sebentar bila sudah terlalu lama menonton TV namun ia yang dulunya sering berkeringat merasa bahwa jika hanya dengan berjalan-jalan disekitar rumahnya tidak akan membuatnya berkeringat dan jika tidak berkeringat tidak akan merasa sehat. Maka pekerjaan yang sering dilakukannya di rumah adalah menonton TV. Saat ini, ia sangat menyenangi tayangan sinetron yang dulunya jarang ditontonnya ketika ia masih sehat. Bila melihat acara jogging ia
akan iri memikirkan bahwa orang lain bisa melakukan hal yang dapat dikerjakannya dahulu ketika sehat. Dan ia merasa marah melihat pembawa acara kuliner yang memakan berbagai masakan dengan begitu nikmatnya sedangkan ia tidak lagi boleh memakan makanan yang dibuat dengan bahan-bahan tersebut. Kalaupun tidak menonton TV, yang dikerjakannya adalah mengkhayalkan masa lalu indah saat ia bersama istrinya dan masih sehat sehingga mampu melakukan berbagai aktivitas.
sekarang aku..asal gak nonton ke kamar ya menghkayal dulu la. Mengkhayal masa-masa lalu. Habis mengkhayal, udah capek khayalannya baru tidur.
mengkhayal ya mengkhayal masa-masa lalu la. Masa kita sehat. Masa kita bisa olahraga. (P3, W2/b.993-998)
Padahal dulu ia malas menonton TV. Di malam hari ia sering membaca alkitab, bernyanyi, berdoa bersama-sama keluarganya, ia mengikuti banyak kegiatan kebaktian, bahkan hingga 2 kali pergi ke gereja di hari minggu. Ia merasakan kenikmatan saat melakukannya. Namun setelah ia mengidap penyakit ginjal, ia menjadi malas untuk membaca-baca alkitab. Ia menjadi malas untuk pergi ke gereja walaupun di hari-hari besar seperti natal dan paskah. Pada hari raya ia memilih untuk tinggal dirumah saja tanpa merayakannya. Karena ia merasa tidak percaya diri dan takut ditanyakan mengenai penyakitnya bila datang ke gereja. Kalaupun berdoa, alih-alih berdoa bersama, ia akan berdoa sendirian di kamar. Itu pun tidak setulus hati lagi. Tidak benar-benar bersandar kepada Tuhan. Imannya sudah lemah. Ia sering mempertanyakan kepada Tuhan mengapa ia diberikan penyakit ini padahal ia bukanlah orang yang jahat. Kalaupun ia memiliki salah, salah itu hanyalah tidak menjaga makanannya. Padahal ia adalah
orang yang rajin beribadah kepadaNya, namun mengapa Ia tidak mau menyisihkan penyakit ini dari diri Beni. Beni kesal, ia merasa marah kepada tuhan yang sudah tidak bersahabat lagi dengannya. Wujud kemarahannya adalah dengan tidak lagi pergi ke gereja, di hari minggu ia lebih memilih untuk menonton TV dirumah dan menyuruh anak-anaknya saja yang pergi ke gereja dan mendoakannya.
kalo dulu kadang 2 kali aku ke gereja. Satu hari. Saking semangatnya hidup ini dulu kan. Orang sehat kali dulu kan. Itu makanya aku sekarang kadang-kadang… orang yang rajin pun awak tudapat penyakit gini. Kadang-kadang..mau..salah memang kita kesal sama Tuhan kan. Tapi. Awak kadang-kadang… bukannya awa pencuri bukannya apa-apa. Bukannya awak penodong. Kenapa gak disisihkan penyakit itu…dari saya. Walaupun saya..salah..hanya makanan kan. Tapi kalo awak tukang bohong, pencuri pemabuk, tukang maen perempuan. Kalau gitu mungkin awak gak..gak apa..gak nyesal sama Tuhan. Sampe’ gitu la. Sampe nampaknya awak kadang-kadang..itu la Tuhan ini. Angka nya dulu awak. Tanya la orang ini. Gak usah la tanya orang ini. Mungkin kalo anak-anak tanya mungkin..orang lain la. Kebaktian dulu. Paling rajin awak kebaktian dulu. Sekarang tak pernah awak. (P3, W1/b. 571-587)
ya..bedoa di rumah kita sendiri la yang doa. Biasanya dulu kami berdoa sama-sama. Seekarang gak. Udah mulai..kadang masuk kamar bedoa. Bedoa pun gak..gak..apa lagi..udah gak setulus hati lagi. Gak bersandar betul-betul kepada tuhan lagi. Udah lemah gitu. Tuhan berkati ya tuhan… (P3, W1/b. 595-600)
Kalau ia tidak pergi ke gereja, anaknya akan menjaganya dirumah dan bergantian pergi kegereja. Begitu pula bila ia tidak masuk kantor. Salah satu anaknya pasti ada yang tidak masuk sekolah untuk menjaganya dirumah. Anak-anaknya takut bila Beni hanya ditinggal berdua dengan opung ia akan mencoba bunuh diri lagi. Apabila sedang ujian dan semua anaknya harus pergi kesekolah, mereka akan merasa ketakutan dan cepat-cepat pulang kerumah.
Beni merasa bahwa hanya anak tertuanya yang masih memiliki cita-cita. Sedangkan anak kedua dan ketiganya malas belajar. Dirumah anak kedua dan ketiganya hanya tidur dan menonton bola saja, melihat kakaknya datang barulah mereka membuka-buka buku . padahal dulu mereka rajin belajar karena Beni masih bisa mengontrolnya. Dulu Beni ditakuti oleh anak-anaknya sehingga bila dia berada di rumah, anaknya pasti belajar. Bila mengantuk pun, anak-anaknya tidak diizinkan tidur, melainkan harus belajar dahulu. Namun sekarang Beni tidak lagi menyuruh mereka belajar, malah ia akan mengajak mereka untuk tidur.
Beni merasa pasrah mendidik anak-anaknya. Bahkan kemampuannya untuk marah pun sudah tidak ada lagi. Untungnya anaknya tidak nakal. Tetapi kalaupun anaknya nakal, ia merasa tidak memiliki power lagi untuk membimbing anak-anaknya. kalaupun anaknya pergi kerumah teman tanpa memberitahukannya dan pulang terlambat dari sekolah, Beni tidak mencari mereka. Padahal dulu kalau mereka terlambat pulang Beni akan sibuk mencari anaknya. Beni merasa kasih sayangnya pada anak-anaknya telah berkurang. Ia tidak lagi suka membawakan pulpen, kertas, ataupun makanan yang enak dari kantor. Padahal dulu ia sering membawakannya karena anak-anaknya akan merasa senang menerimanya. Sekarang ia sering bertengkar dengan anaknya. Sering ia memukuli anaknya tanpa sebab yang jelas. Saat anaknya sedang diam menonton TV, tiba-tiba ia memukul anaknya dari belakang. Di pagi hari pun ia membangunkan anak dengancara memukulnya. Hal itu semacam menjadi pelarian baginya. Ia sendiri tidak tau mengapa ia melakukannya. Pukulan yang tidak menyakitkan, namun terkadang kalau anaknya merasa sakit, ia akan membalas Beni.
Kok saya kurang..setelah saya sakit gitu..setelah saya melakukan ini. Kok saya sama anak-anak kurang..gak..gak sayang la seperti dulunya.
setelah saya sakit gini, kok..rasa sayang saya sama anak-anak saya kok kurang ini. Kok…. aku sering kali sama orang ini berantem entah napa.
aku sendiri. Ntah kenapa suka aku mukul-mukuli. Yang paling suka aku yang nomor sana.. hah..macem apa awak gitu. Pelariannya..(P3, W1/b.519-529)
Pada saat dia sakit, anak-anaknyalah yang mengurusnya. Dia menceritakan beban pikirannya pada ketiga anaknya. sedangkan anaknya yang paling kecil saat ini tinggal bersama tulangnya yang sudah memiliki 2 anak. Anak keempatnya itu disekolahkan, dan dirawat oleh tulangnya.Terkadang bila Beni memanggilnya, ia akan pulang sebentar kerumah Beni.
Beni merasa tidak memiliki masalah dengan anak-anaknya. satu-satunya masalahnya saat ini adalah penyakit yang membuatnya stres tidak bersemangat dalam menjalani hidup. Ia menyesalkan mengapa dokter tidak memperingatkannya dari dulu bahwa penyakit darah tinggi bisa mengakibatkan gagal ginjal. Bila ia mengetahui hal ini dari dulu, tentulah ia akan menjaga makanan yang dimakannya dengan sangat hati-hati. Setelah terkena penyakit ginjal, ia memiliki banyak makanan yang tidak boleh dimakannya. Hal ini cukup memberikan tekanan pada Beni. Karena ia tidak lagi memakan daging yang sangat disukainya, ia hanya memakan daging ayam, tidak lagi memakan daging babi. Porsi garam dikurangi, ia menjadi tidak berselera makan dirumah. Rasa mual yang membuatnya akan muntah di suapan kelima membuatnya hanya bisa memakan sedikit makanannya. Terkadang ia melanggar pantangan dokter dengan memakan makanan yang masuk dalam daftar ”tidak boleh dimakan” , ia memakannya dengan porsi yang sedikit.
Beni tidak lagi mengindahkan perintah dokter. Ia nekat saja membuang semua obat dokter yang dirasanya ’bau’. Saat ini ia tidak memakan obat apapun dari dokter. Kegiatan cuci darah pun sudah berhenti dilakukannya sejak 3 bulan setelah vonis ginjalnya. Ia merasa tidak ada perubahan apapun pada dirinya setelah melaksanakan cuci darah. Malah membuatnya semakin tertekan melihat darah keluar dari tubuhnya, diolah dan dimasukkan kembali. Berhenti melakukan segala jenis pengobatan, ia pun hanya merasa pasrah.
ya gini la. Kurus. Stres. Pegal-pegal. Karena cuci darah pun sama aja. Gak..hanya untuk sementara aja kan. Makin stres juga kita kalau cuci darah. Sebetulnya gak sakit. Apa..beban gitu. Soalnya..darah awak, awak lihat-lihat gitu. Kan. Karena kucoba juga dulu…cuci darah 3 bulan kan. Sama aja. Loyo juga nya. Memang setelah sakit itu, gairah hidup kurang. Kerja pun malas kali aku pigi. pucat gini. Pucatnya muka awak. Pucat (P3, W1/b.251-269)
Ia merasa tidak ada yang bisa menolongnya mengatasi masalah yang membuat semangat dan gairah hidupnya mengilang ini. Kecewa dengan psikiater yang ditemuinya di Rumah Sakit tempatnya dirawat setelah usaha bunuh yang gagal, ia merasa psikolog tidak bisa membantunya. Psikolog yang tidak memberikan obat untuk menyembuhkan penyakit ginjalnya dan hanya mengajaknya berbicara saja tidak bisa membuatnya sembuh. Ia tidak mau mengeluarkan uang hanya untuk berbicara saja. Karena selama inipun sudah banyak orang yang mengajaknya berbicara, namun ia tidak merasakan dampak pembicaraan tersebut pada dirinya. Ia merasa bahwa sumber dari masalahnya adalah penyakit ginjalnya. Penyakit ginjalnyalah yang membuatnya stress dan memiliki pikiran yang tidak-tidak
Ngomong doang aja? Wong..a..ngomong aja bayar. Kalo ngomong nya. Udah banyak yang ngomong sama awak. Aplikasinya ini yang payah
samanya itu dokter bikin pertanyaan sama. Dokter dirumah sakit itu pun sama. Gini juga pertanyaan- pertanyaannya. Kalo psikolog segininya pertanyaannya. Cemana perasaan kau, cemana kau bisa ke’gini. Kan..
Karena pada dasarnya ginjal ini. Bukan sakit ini..karena sakit ininya (memegang perut bagian sampingnya) makanya pengaruh ke ini (menunjuk kepala). Sebetulnya kalo gak sakit awak. Gak lari ke’gini sih. Jadi kepikiran. Saya sakit... apa karena..sakit penyakit itu. Mungkin kalo sehat saya fisik ini, ngambangnya awak pikiran ini (P3, W2/b.1390-1409)
Ia sudah takut dan tidak ingin mati dengan cara bunuh diri. Namun, walupun tidak memiliki pikiran untuk bunuh diri lagi, ia masih merasa bahwa hidup itu hambar, ’sudah seperti papan saja’ dan pengharapan tidak ada lagi. Ia tidak memiliki rencana untuk masa depannya,cita-cita, dan tujuan dalam hidup yang harus dikejar pun tidak dimilikinya. Kalau dulu dia bekerja dengan rajin karena ingin dapat menyekolahkan anak-anaknya, saat ini ia tidak perduli lagi dengan kelanjutan pendidikan anak-anaknya. bila masuk negeri, mungkin ia masih bisa menyekolahkannya, namun bila masuk swasta, tidak mungkin ia bisa membiayainya.
gak ada. Aku gak punya rencana lagi. Biarlah berjalan sendiri.
gak ada tujuannya. Udah hambar. Orang gak sehat. Apa mau rencana ke depan.
cita-cita ya..jadi pegawai yang baik la kan. Kalo bisa pun kita jadi staf kan. Bisa menyekolahkan orang ini. Aku gak pikir lagi mau sekolah mau apa Ya sekolah-sekolah. Ya..kalo gak ada duit ya gak nyambung la kan
(P3, W1/b.685-702)
Ia tidak memiliki semangat untuk pergi kekantor karena tidak ada suatu tujuan yang harus dicapai. Toh ia sudah tidak mampu lagi mengerjakan pekerjaan yang berat-berat. Setelah sakit ginjal ini ia merasa blank, otaknya hang sehingga ia tidak mampu lagi mengerjakan pekerjaan yang sulit-sulit.
Setelah terkena penyakit ginjal, Beni sering tidak bisa tidur. Kalaupun bisa tertidur, saat bangun pukul 4 atau 5 pagi, ia tidak langsung turun dari tempat tidur,
tetapi mulai mengkhayal lagi. Ia memiliki banyak waktu luang yang dipergunakannya untuk memikirkan masa lalunya. Pikirannya sering melayang kesaat ia masih sehat di masa-masa indah bersama istri pertamanya dulu. Beni mengaku bahwa ia tidak terlalu memikirkan istri keduanya, ia tidak memiliki penyesalan karena ia merasa bahwa istri keduanya lah yang salah. Yang ia sesalkan dalah mengapa ia menikah untuk yang kedua kalinya. Dan berpikir mungkin jika tidak menikah lagi waktu itu ia tidak akan menderita sakit seperti ini. Ia menyesalkan pernikahannya yang tidak sukses tersebut dan berpikiran bahwa orang akan menyangka bahwa ketidaksuksesan pernikahan itu disebabkan oleh dirinya sehingga ia dihukum dengan menderita penyakit kronis.
”Kalo sehat dulu aku gak berapa pigi pikiran saya ke..sama dia. Setelah sakit nya saya....kepikiran pun bukan sama dia. Ya..pikiran saya ke waktu-waktu yang lalu itu la. Masa-masa lagi sehat-sehatnya gitu. waktu-waktu ibu masih ada. Bukan sama dia gak. Karena sama dia aku itu gak ada penyesalan awak. Karena.. Memang..memang..mang karena salah dia kan.
Menyesal kali awak yang kawin ini. cuman penyesalan gak ada gunanya. Ck.
he..nyesal karena gak sukses gitu.
Sama awaknya kena’nya jadi gini awak. Disangka orang jadi awak yang salah. Kena sakit awak ke’gini kan.
ya karena sakit gini kan awak. Tanggapan orang kan begitu. Ah..dianya yang salah gitu kan. Padahal gak.. kan begitunya manusia kan. Penilaian dunia kan begitu
(P3, W2/b.1113-1115; b.1172-1178; b.1243-1253/hal)
IV.A.4. Rangkuman
Sumber makna hidup merupakan berbagai area dimana seseorang bisa merasakan makna didalamnya. Penghayatan Beni terhadap sumber makna hidup yang dimilikinya sebelum dan sesudah percobaan bunuh dirinya terdapat pada tabel 6 sebagai berikut
Tabel 3
Perbedaan Penghayatan makna hidup
Makna hidup Dulu Sekarang Life Work - Hari-harinya dihabiskan
di kantor dengan berbagai aktivitas bidang akuntansi PTPN, mulai dari survey, pengolahan data, hingga mengeluarkan uang.
- rela untuk lembur demi menyelesaikan
pekerjaannya.
- Jarang pergi ke kantor.
Bila masuk kantor, lebih banyak duduk dan melihat temannya bekerja atau menonton TV, baca koran dan tidur.
- Merasa malu dan tidak
percaya diri karena ia tidak bekerja
- Merasa marah terhadap
rekan sekerja yang sehat tapi malas bekerja
- Sering disindir teman
sekantor karena tidak bekerja
Existential- hedonistic
Bangun pukul 5 pagi dan jogging. Bila hari hujan menggunakan kaos sempit dan berlari-lari di kamar
Berbelanja, menggiling
Menonton sinetron di TV, mengkhayal, sulit tidur.
Malas melakukan kegiatan apapun
cabe, memasak, mengorek sampah, mengorek parit
yang tersumbat, membersihkan kamar mandi, menyapu, mengepel rumah Interpersonal/ Relationship
- Sangat sayang terhadap
anak-anaknya
- Sibuk mencari bila anak terlambat pulang
- -Sering memikirkan
tentang anak-anaknya saat ia sedang berada di kantor
- Sering membawakan
kertas dan pulpen dari kantor untuk anaknya
- Rajin membawa pulang
makanan seperti nasi bungkus ke rumah
- Memasak untuk
anak-anaknya
- sarapan dan berdoa
- Rasa sayang itu telah
berkurang
- Tidak mencari anaknya
yang terlambat pulang
- malas membawakan
pulpen dan kertas dari kantor
- malas membawakan
makanan ke rumah
- sering bertengkar dengan
anak
- sering memukuli anak
tanpa sebab yang jelas
- membangunkan anak
dengan cara memukulnya
- yang memasak adalah
bersama
- tidak membiarkan
anaknya tidur bila sedang belajar, walaupun anaknya sudah mengantuk
- sebagai figur yang
ditakuti keluarga dalam membimbing anak-anaknya
- anak-anaknya belajar
bila Beni ada dirumah
- istri pertama yang
membuat anak-anak teratur belajar dan mandi
- mencari uang agar bisa
menyekolahkan anak-anaknya
keduanya
- sering mengajak anaknya
tidur alih-alih menyuruh mereka belajar.
- Merasa pasrah karena
tidak memiliki power lagi untuk membimbing anak-anaknya
- walaupun Beni ada
dirumah, anaknya menonton bola dan baru
membuka buku bila melihat anak tertua Beni pulang.
- anak-anak tidak teratur
mandi
- tidak lagi memikirkan
kelanjutan pendidikan anak-anaknya
Belief - 2 kali pergi ke gereja di hari minggu
- Rajin mengikuti
kebaktian
- Tidak lagi pergi ke gereja walaupun pada perayaan natal dan paskah
- Rajin membaca alkitab
- Menyanyi, berdoa
bersama keluarga
kebaktian
- Malas membaca alkitab
- Berdoa sendiri, namun
tidak setulus hati
- Tidak merayakan natal
dan paskah
- Kesal, marah kepada
Tuhan. Mempertanyakan
mengapa tuhan memberinya penyakit yang begitu berat.
Health - Sering makan daging babi
- Tidak menjaga
makanannya, memakan apapun yang ia sukai - Sehat dan bersemangat
- Melakukan cuci darah
dan meminum obat yang diberikan dokter
- Tidak lagi memakan
daging, kecuali daging ayam
- Banyak larangan makanan
yang diberikan dokter - Tidak selera makan
- Kurus, stress, pegal-pegal, pucat
- Sulit tidur di malam hari - Tidak lagi melakukan cuci
darah dan tidak lagi