Makna hidup
KESIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN
V.A. KESIMPULAN
Dari hasil penelitian yang dilakukan didapatkan Gambaran makna hidup pada pelaku percobaan bunuh diri sebagai berikut:
Pada kedua partisipan ditemui tingkat makna hidup provisional, yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari dan setiap peristiwa yang dilaluinya bersama keluarga nya maupun dalam pekerjaannya pada partisipan I, sedangkan partisipan II makna tersebut diperoleh dalam kehidupan sehari-hari yang dilaluinya bersama neneknya.
Kedua partisipan melekatkan makna implisit/definisional pada hal yang dianggapnya sangat berharga. Kesehatan pada partisipan I dan hubungan dengan neneknya pada partisipan II. Sehinggga pada saat hal tersebut hilang, mereka merasakan kesedihan yang tidak tertahankan saat mengalaminya. Partisipan I sudah pernah mengembangkan alasan untuk eksistensi dirinya yaitu untuk memberikan manfaat dalam kehidupannya dan arah yang ingin dituju dalam hidup, yaitu bekerja sebaik-baiknya agar dapat menyekolahkan anaknya, namun saat ia tidak lagi bisa memenuhi tujuan hidupnya karena kondisi kesehatannya, maka ia pun menjadi putus asa. Dan menyerah untuk berusaha memenuhi kedua hal tersebut. ia bahkan merasa bahwa eksistensi dirinya didunia ini sudah tidak diperlukan lagi karena ia sudah tidak bisa memenuhi kedua hal tersebut dan hanya akan menjadi beban bagi anak-anaknya jika ia meneruskan eksistensi dirinya.
Sedangkan partisipan II masih mempertanyakan apa alasan kelahirannya didunia ini dan ia masih belum mengetahui secara jelas apa yang sebenarnya ingin ia tuju dalam hidup ini.
Kedua partisipan memiliki beberapa sumber berbeda dimana ia dapat
memperoleh makna didalamnya. Partisipan I memperoleh makna hidupnya
dari kehidupan dalam pekerjaannya, kehidupan sehari-hari yang dijalaninya, hubungan serta dukungan dari keluarga, kepercayaan yang duanutnya, kesehatan, keinginan untuk menjadi sesuatu, dan nilai pengharapan. Partisipan II memperoleh makna hidupnya dari hubungan dengan orang-orang disekitarnya, agama yang dipilihnya, kehidupan sehari-hari yang dijalaninya, cita-citanya untuk menjadi hakim, dan penuangan ekspresi.
Berbagai sumber makna hidup yang dimiliki kedua partisipan ini diletakkan dalam suatu orientasi nilai yang berbentuk piramidal, dimana satu nilai berada pada tempat teratas sedangkan nilai lainnya berada jauh di bawah. Pada partisipan II, hal ini jelas terlihat bahwa hubungannya dengan neneknya memiliki makna yang sangat besar dalam kehidupannya melampaui sumber makna hidup lainya yang belum ia temukan. Namun pada partisipan I orientasi nilai yang dimilikinya cukup sulit dibedakan dengan sistem nilai paralel. Karena ia memiliki lebih dari satu sumber makna hidup yang kesemuanya dianggap bermakna. Keluarganya berharga baginya, kehidupan dalam pekerjaan berarti baginya, hubungannya dengan Tuhan memberikan arah dan pedoman dalam hidupnya, ia memiliki keinginan untuk menjadi seorang staf di masa depan dan memiliki harapan untuk mencapainya. Namun kesemua nilai yang bermakna tersebut langsung hancur saat
kesehatannya terganggu. Maka kesehatan merupakan nilai terbesar yang menempati tempat paling atas dari sistem nilai piramidal yang dimilikinya.
Saat nilai utama dalam sitem piramidal tersebut hilang, kedua partisipan mengalami perasaan yang tidak meyenangkan yang disertai dengan adanya reaksi atas kesulitan yang dialaminya. Perasaan tidak menyenangkan ini muncul pada partisipan I dalam bentuk perasaan tidak nyaman atas kondisi dirinya yang mengidap penyakit ginjal saat ini sedangkan pada partisipan II muncul dalam bentuk kesedihan mendalam yang berlangsung cukup lama sejak kematian neneknya. Penderitaan menimbulkan reaksi yang berbeda-beda pada orang yang mengalaminya, namun pada kedua partisipan diperoleh reaksi yang sama ata penderitaan, yaitu ”why me reaction”, hanya saja manifestasinya berbeda pada masing-masing partisipan. Partisipan I mempertanyakan pada Tuhan mengapa penyakit ginjal ini diberikan pada dirinya dan bukan pada orang yang banyak melakukan hal jahat, padahal ia sudah hidup dengan cara-cara yang diperintahNya. Sedangkan pada partisipan II, reaksi ini muncul dalam bentuk depresi, dan tidak perduli bahkan pada pemakaman neneknya tersebut. Penderitaan yang dialami oleh partisipan I ditimbulkan oleh rasa sakit (pain) yang diidapnya, dan penderitaan partisipan II ditimbulkan oleh kematian (death) orang yang disayanginya.
Kedua partisipan termasuk dalam kelompok orang yang putus asa (People in Despair) partisipan I tadinya memiliki orientasi hidup yang bermakna, tapi kemudian kehilangan makna itu. Ia kehilangan kepercayaan pada Tuhan, orang lain, bahkan dirinya sendiri. Ia menganggap bahwa dokter, bahkan Tuhan telah
mengecewakannya. Sedangkan partisipan II adalah seseorang yang hidup dengan selalu mencari kesenangan kemudian ia merasakan kebosanan, ia menemukan bahwa makna tersebut tidaklah penting atau mengecewakan. Ia menyadari bahwa ia mengejar sesuatu yang tidak memiliki kelanjutan, dan akhirnya merasa kosong. Partisipan I juga termasuk dalam kelompok orang yang dalam keraguan (people in doubt), bagi dirinya saat ini semua hal terlihat negatif, sebelumnya ia masih mencari tujuan untuk dipenuhi dan dikejar, namun saat ini ia tidak melihat adanya tujuan dalam hidup.
Kondisi ini lama kelamaan mengakibatkan kedua partisipan berada dalam kondisi meaningless mereka merasakan kehampaan, tak memiliki tujuan hidup, merasa hidupnya tak berarti, bosan, dan apatis. Pada partisipan II, kondisi ketidakbermaknaan ini muncul dalam kehendak yang berlebihan untuk bersenang-senang mencari kenikmatan (will to pleasure) sebagai upaya kompensasi atas ketidakbermaknaan yang dirasakannya. Akibat kondisi ketidakbermaknaan ini dibiarkan berlarut-larut, kedua partisipan mengalami neurosis neugenic yang muncul dalam bentuk keluhan-keluhan bosan, mempertanyakan kelahiran dan kehadiran di dunia, dan memiliki sikap yang ambivalen terhadap kematian, pada partisipan II sedangkan pada partisipan I neurosa ini muncul dalam bentuk perasaan hampa, dan penuh keputusasaan, kehilangan minat dan inisiatif, merasa bahwa hidup ini tidak ada artinya, kegairahan kerja dan kesediaannya untuk bekerja pun menghilang. Bentuk lain dari kondisi ketidakbermaknaan yang dibiarkan berlarut-larut ini muncul pada partisipan II dalam bentuk pribadi yang
totaliter, ia tidak mau mendengarkan saran orang lain dan ia paling benci jika apa yang dilakukannya dikritik atau dilarang-larang.
Hingga saat penelitian berakhir, partisipan I masih merasakan kondisi ketidakbermaknaan seperti yang disebutkan diatas dan belum menemukan makna baru yang dapat merubah sikapnya dalam menghadapi penderitaan atas sakit yang dialaminya kini. Sedangkan partisipan II sudah mulai merubah sikap atas penderitaan yang dialaminya dan saat ini masih mencari hal yang bermakna dalam hidupnya.
V.B. DISKUSI
Konteks sosial, moral, dan politik dapat meminta individu untuk bunuh diri untuk kebaikan masyarakat atau keluarga. Dari segi moral, ada nilai-nilai moral lain yang berperan dalam perilaku bunuh diri (Corr, 2003). Ada beberapa motivasi di luar diri sendiri yang membuat orang membunuh dirinya sendiri, seperti alasan altruisme/heroisme pada orang yang mengorbankan nyawanya untuk kebaikan orang lain, bunuh diri sebagai taktik perang, alasan agama dan kepercayaan pada suatu budaya tertentu. Namun penelitian ini tidak mencoba untuk membahas bunuh diri yang terdapat dalam budaya tertentu seperti seppuku di jepang, suttee di India, ataupun aksi bunuh diri yang dilakukan teroris karena ada nilai-nilai historis dan budaya khusus yang berakar kuat dalam diri setiap anggota masyarakatnya sehingga dapat mendorong seseorang untuk bersedia mati demi mempertahankan nilai-nilai tersebut. Dan untuk membahas mengenai hal-hal itu, perlu dipertimbangkan elemen budaya, nilai- nilai hidup, dan konsep akan kehidupan dan kematian (Hock, 1981) yang dianutnya, dan itu merupakan
masalah yang cukup rumit. Maka dalam penelitian ini, yang akan dibahas adalah tindakan bunuh diri secara umum.
Menurut (Maris, Berman, silverman, 2000), dalam bunuh diri, ada motif dan niat. Alasan yang mendorong partisipan I melakukan tindakan bunuh diri adalah kehilangan sosok istri pertama, perceraian dengan istri kedua , penyakit ginjal yang dideritanya, dan rasa malu akibat penyakitnya. Sedangkan motif partisipan II melakukan tindakan bunuh diri adalah depresi dan kehilangan sosok neneknya. Selain, motif, pelaku percobaan bunuh diri memiliki niat. Partisipan I mengetahui konsekuensi dari meminum racun serangga dapat mengakibatkan kematian, begitu pula dengan partisipan II yang berkali-kali menyuntikkan obat penenang dalam dalam satu waktu.
Menurut Shneidman (1996) suicide disebabkan oleh suatu rasa sakit psikologis (Psychologycal pain) atau psychache (sik-ak). Psychache ini muncul dari distorsi kebutuhan psikologis. Berdasarkan teori kebutuhan Murray, Partisipan I memiliki kebutuhan succorance, affiliation, achievement, autonomy, shame avoidance, nurturance, dominance, dan aggression. Partisipan II memiliki kebutuhan succorance, affiliation, ominance, counteraction, defendance dan aggression. Saat kebutuhan psikologis ini gagal terpenuhi, maka partisipan mengalami,
6. Thwarted love, acceptance, and belonging pada partisipan I dan II berkaitan dengan frustasi kebutuhan succorance dan affiliation 7. Fractured control, predictability, and arrangement, pada partisipan I
8. Assaulted self image and avoidance of shame,and humiliation, pada partisipan I
berkaitan dengan frustasi kebutuhan affiliation, dan shame avoidance 9. Ruptured key relationship and the attendant grief and bereftness pada
partisipan I dan II
berkaitan dengan frustasi kebutuhan affiliation dan nurturance 10.Excessive anger, rage and hostility pada partisipan I dan II
berkaitan dengan frustasi kebutuhan dominance, aggression,dan counteraction
Selain frustasi dari kebutuhan psikologis diatas, partisipan I juga mengalami apa yang disebut Joiner (2005) perceived burdensomeness dimana ia melihat dirinya sendiri sebagai beban bagi anak-anaknya, memiliki image diri yang negatif, perasaan tidak bisa mengontrol hidupnya, dan memiliki emosi negatif yang berasal dari rasa bahwa ketidakmampuannya mempengaruhi orang lain. Ia memandang dirinya sebagai beban, memandang bahwa kondisi ini adalah stabil dan permanen, dengan kematian sebagai solusi dari masalah yang dihadapinya. Pandangannya mungkin saja salah, namun setiap persepsi dapat mempengaruhi perilaku.
Partisipan I dan II mengalami pula apa yang disebut Joiner (2005) sebagai thwarted belongingness yang berasal dari tidak terpenuhinya need to belong. Kedua partisipan memiliki interaksi yang tidak memuaskan, hubungan yang tidak menyenangkan, tidak stabil, tidak sering, atau tanpa kedekatan mereka merasa tidak terhubungkan dengan orang lain dan tidak diperhatikan.
Pada partisipan I didapati 3 variabel yang sering muncul dalam pelaku bunuh diri, yaitu feeling a burden on others (merasa menjadi beban bagi anak-anaknya), social withdrawal (tidak lagi mengikuti kegiatan keagamaan di luar rumah, menghindari terlalu banyak mengobrol dikantor, lebih sering berdiam diri d rumah), dan help negation, yaitu kecendrungan untuk menghalangi pertolongan, terutama pertolongan terapeutik (tidak mengikuti saran dokter, malas melakukan cuci darah, bersikap pesimis pada bantuan psikolog) (Joiner, 2005).
Menurut barlow & Duran (2005) serta Comer, dan Cornelius (dalam Gardner, 2002)Ada faktor resiko yang menyebabkan seseorang melakukan bunuh diri. Pada partisipan I, faktor yang berpengaruh adalah gangguan psikologi berupa gangguan mood, stressfull life event, perubahan mood dan pemikiran. Pada partisipan II, faktor yang berpengaruh adalah sejarah keluarga, gangguan mood dan gangguan penyalahgunaan obat, serta modelling.
Pada kedua partisipan diketahui adanya tindakan- tindakan yang mengarah pada perilaku bunuh diri. Menurut Guetzlo (dalam Bachmann, 2004) bahwa pertanda yang paling mudah diobservasi dari orang yang berpotensi besar melakukan tindakan bunuh diri adalah perubahan perilaku yang mencolok, pernah melakukan percobaan bunuh diri, pernyataan atau perlakuan yang menunjukkan niat untuk bunuh diri dan tanda-tanda depresi. Pada partisipan II, perubahan perilaku yang mencolok nampak dari ke’bandel’an nya setelah berpisah dengan neneknya, baik saat terpisah oleh jarak maupun oleh kematian. Depresi dan bunuh diri, walaupun dapat berdiri sendiri, namun tetap memiliki hubungan yang kuat. Tanda-tanda depresi yang tampak pada partisipan II adalah irritable mood dan
insomnia ataupun hypersomnia, sedangkan pada partisipan I muncul rasa sedih atau hampa hampir setiap hari, kehilangan minat dan kesenangan terhadap hampir semua aktivitas, penurunan berat badan, penurunan nafsu makan, insomnia, kelelahan atau kehilangan energi, merasa tidak berharga, hilangnya kemampuan berpikir dan berkonsentrasi. Pertanda seperti perubahan perilaku yang mencolok dari berbagai aktivitas dalam hidupnya, pernah melakukan percobaan bunuh diri,
perlakuan yang menunj ukkan niat untuk bunuh diri dengan berhenti
melakukan pengobatan dan tanda-tanda depresi masih ada hingga saat ini pada partisipan I. Sesuai dengan pendapat Guetzlo diatas, maka partisipan I hingga saat ini masih merupakan orang yang berpotensi besar melakukan tindakan bunuh diri.
Ada dua jenis kehilangan, yaitu kehilangan fisik/ tangible seperti yang dialami partisipan I terhadap kematian istrinya dan kematian nenek pada partisipan II. Selain itu, ada juga kehilangan simbolis/ psychosocial seperti yang dialami partisipan I melalui perpisahan dengan istri keduanya dan perpisahan dari neneknya saat partisipan II kembali diasuh oleh kedua orang tuanya saat berumur sepuluh tahun . Sedang kan penyakit yang dialami partisipan I bisa dimasukkan dalam kedua jenis kehilangan tersebut. Secara fisik, ia kehilangan kesehatan dan daya tahan tubuhnya, secara simbolis karena penyakitnya iamenjadi mudah lelah dan tidak bisa bekerja, sehingga ia kehilangan tempatnya di kantor dan gereja serta kehilangan power untuk mengatur anak-anaknya.
Parkes (dalam Rando, 1997) mengungkapkan tentang phenomenon of searching pada orang yang berduka. Pencarian ini meliputi komponen motorik, perseptual, dan ideational :
Orang yang berduka merasa gelisah dan tidak bisa duduk tenang, secara fisik ia mencari orang yang telah meninggal, seperti yang dilakukan partisipan I yang sering merasa gelisah dan berjalan-jalan tanpa arah dirumah sakit dan partisipan II yang jarang berdiam diri di rumah dan selalu ingin mencari kesenangan di luar rumah.
Orang yang berduka mengembangkan perangkat perseptual untuk melihat dan
memperhatikan stimulus yang memberikan kesan akan kehadiran orang yang telah meninggal dan mengabaikan stimulus yang tidak memilikinya. Hal ini muncul pada partisipan II yang tidak bisa mengenali tantenya yang sebenarnya sudah dikenalnya.
Orang yang berduka memanggil orang yang meninggal dan menangis.Ingatan
tentang orang yang meninggal selalu menimbulkan tangis. Tampak pada partisipan II yang selalu menangis setiap malam dan tiba-tiba menangis bila teringat tentang neneknya walaupun ia sedang bersama teman-temannya. Simptom- simptom ini merupakan keinginan tidak sadar orang yang berduka untuk mencari dan memperbaiki hal yang dicintainya yang telah menghilang.
Beberapa manifestasi fisik orang yang berduka muncul pada kedua partisipan seperti masalah pencernaan, kehilangan berat badan, tidak bisa tidur, menangis, kehilangan kekuatan, kelelahan fisik, perasaan kekosongan dan terbebani, kehilangan energi, gelisah dan mencari sesuatu untuk dikerjakan (Lindeman & parkes dalam rando 1997).
Partisipan I mengatakan bahwa saat sehat ia tidak memikirkan kematian istri pertamanya dan , beberapa tahun setelah kematian itu dan ia menderita
penyakit ginjal, barulah ia sering mengingat kenangannya bersama istrinya dulu. Menurut Rando (1997) hal ini disebut dengan delayed grief dimana saat-saat berduka tertunda untuk sementara waktu terutama jika adanya tanggung jawab yang harus dipikulnya sehingga dia tidak bisa menjalani proses berduka pada saat itu. Hal ini tampak dalam bentuk inhibited grief, ada halangan dalam memunculkan grief secara normal, muncul simptom lain seperti keluahan somatik dalam diri mereka. Ia hanya mampu memunculkan dan berkabung pada aspek tertentu dari almarhum dan tidak yang lainnya. Seperti aspek positif tapi tidak pada aspek negatif.
Seseorang yang pernah mengalami mati suri akan memperoleh tambahan indra ke-6 dan masih dapat mengingat pengalaman yang dijalaninya saat mengalami kematian. Hal ini diketahui dari pengalaman partisipan II, ia mengungkapkan bahwa dalam alam kematian ia bertemu dengan anggota keluarganya yang telah meninggal dunia dan saat ini ia mampu mengatahui bagaimana karakter orang dan peristiwa lampau yang dialami orang tersebut walaupun pertama kali berjumpa dengan orang tersebut. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Cook, Greyson, dan Stevenson (1998) yang mengungkapkan bahwa beberapa orang yang pernah mengalami near death experience bertemu dengan kerabat atau temannya yang telah meninggal dunia. ada beberapa kasus dimana seseorang memperoleh informasi yang sebelumnya tidak diketahui biasanya melalui penglihatan terhadap peristiwa yang jauh atau dengan bertemu orang yang telah meninggal.
Partisipan I memiliki sejarah penyakit darah tinggi yang membuatnya sempat terkena stroke ringan dan tekanan darah tinggi yang terjadi terus menerus membuatnya mengalami gagal ginjal. Penyakit ginjal merupakan penyakit kronis dan kematian merupakan fase akhir dari penyakit ini. Resiko terhadap kematian yang diasosiasikan dengan penyakit ini menempatkan orang dalam posisi mempertimbangkan tentang kematiannya sendiri. Diperlukan adaptasi untuk menerima perawatan terhadap penyakitnya. Saat penderita dipaksa untuk berinteraksi dengan sistem pengobatan, mereka cenderung merasa dihilangkan hak serta sense of competence and mastery nya. Penderita mulai mengalami kehilangan kontrol personal dan ancaman terhadap harga diri. Penderita penyakit kronis merasa hopeless dan bahkan helpless terhadap kondisinya (Bannon & Feist, 2007). Hal ini membuat partisipan I menghentikan pengobatan dan merasa pasrah saja terhadap penyakitnya. Dampak utama pada penderita meliputi perubahan yang terjadi pada cara penderita berpikir tentang dirinya sendiri, diagnosa penyakit kronis merubah persepsi dirinya. Penyakit kronis dan pengobatannya memaksa banyak pasien untuk mengevaluasi kembali penyakit, hubungan dan image tubuhnya (Livneh & Atonak dalam bannon & Feist, 2007) didiagnosa dengan penyakit kronis menggambarkan kehilangan (loss) dan orang beradaptasi pada kehilangan melalui proses berduka (Rentz, et al. Dalam Bannon & Feist, 2007). Mengembangkan pemahaman terhadap makna dari kehilangan merupakan bagian penting dari coping dengan penyakit kronis, tetapi partisipan I hingga saat ini belum mengembangkan suatu makna terhadap penyakitnya dan belum keluar dari kondisi kedukaannya, hal ini sesuai dengan pendapat Murray
bahwa beberapa orang yang sakit kronis tidak pernah keluar dari kedukaannya, sedangkan beberapa orang lainnya merekonstruksi makna dalam hidupnya melalui cara yang positif (Bannon & Feist, 2007).
V.C. SARAN
V.C.1. Saran Praktis
a. Untuk membuat kelompok diskusi tentang orang yang pernah mencoba
bunuh diri sebagai wahana untuk menceritakan permasalahan hidupnya, belajar dari pengalaman orang lain, dan saling membantu agar dapat mencapai penghayatan hidup yang penuh makna.
b. Diharapkan pembaca yang memiliki orang terdekat yang beresiko dengan
tindakan bunuh diri agar memberikan dukungan sosial yang dapat menghambat orang tersebut untuk melakukan tindakan yang mengakibatkan kematian bagi dirinya sendiri.
c. Dengan logoterapi, para praktisi psikologi dapat membuat program untuk
meraih kehidupan bermakna sebagai tindakan preventif terhadap tindakan bunuh diri.
d. Agar suicide survivor tidak menyalahkan dirinya sendiri atas tindakan
yang dilakukan orang yang bunuh diri dan segera bangkit dari kondisi grief yang dialaminya
e. Bagi pembaca, khususnya yang pernah mencoba bunuh diri agar tidak
berputus asa dalam mencari dan menemukan makna dalam hidupnya, serta meletakkan makna yang diperolehnya dalam suatu sistem nilai yang
paralel sehingga apabila kehilangan salah satu makna tersebut ia masih memiliki makna lainnya sebagai alasan untuk tetap hidup didunia ini.
f. Bagi individu yang mengalami peristiwa hidup yang memberikan tekanan
dan mengalami depresi, agar tidak memikirkan kematian sebagai jalan keluar dari masalahnya. Karena kematian adalah solusi permanen dari masalah temporer yang sedang dihadapi saat ini. Bunuh diri dapat dicegah dengan merubah persepsi terhadap situasi, mendefinisikan kembali apa yang disebut dengan ’tidak tertahankan’, melihat bahwa ada cara lain untuk melihat suatu peristiwa, mendefinisikan kembalia apa yang disebut dengan ’mustahil dilakukan’, memikirkan kembali perannya dalam kehidupan serta menerima rasa malu dan bersalah dengan cara yang lebih baik.
V.C.2. Saran Metodologis
a. Agar dilakukan penelitian lanjutan mengenai gambaran kepribadian dan
pengaruhnya pada perilaku menyakiti diri sendiri, terutama dapat mempergunakan teori tentang need yang dikemukakan oleh Murray
b. Adanya penelitian mengenai perilaku bunuh diri yang terdapat dalam
budaya tertentu
c. Agar peneliti selanjutnya dapat mengelompokan batas tahapan
perkembangan pada perilaku suicidal.
d. Agar selain metode wawancara mendalam, dilakukan pula metode
observasi partisipatif agar peneliti benar-benar dapat memperoleh gambaran kepribadian partisipan dan penghayatannya terhadap hidup