ANALISIS DAN PEMBAHASAN
4. Kehilangan Nilai Utama
Setelah berpisah dengan istri keduanya, Beni mulai tidak menjaga makanannya. Makanan yang seharusnya tidak dimakannya lagi pun dimakannya. Ia sering makan tidak teratur. Karena mudah membelinya, Beni sering membeli daging babi sebagai lauk makan keluarganya dan memasaknya dengan kadar garam yang cukup banyak. Tentu saja hal ini memicu kembali penyakit darah tingginya. Ia yang tadinya masih merasa baik-baik saja setelah perpisahan dengan istri keduanya itu, 3 bulan kemudian tensinya naik hingga 200. Beni merasa oyong, kepalanya ringan seperti tanpa beban, selama seminggu makanan apapun
yang masuk kemulutnya dimuntahkannya kembali. Ia hanya bisa memakan bubur pada saat itu. walaupun sudah diopname selama 2 minggu tensinya tidak kunjung turun, dokter pun merujuknya agar melakukan scanning. Namun tidak terlihat adanya penyumbatan pada pembuluh darah diotaknya. Pada saat itu, ia mulai berbicara sendiri. Seperti sedang mengajak berbicara temannya yang sebenarnya tidak hadir disitu. Pembicaraannya pun mulai tidak terarah. Perasaannya gelisah, pikirannya tidak tenang. Apabila ada tamu yang menjenguknya, ia merasa tidak kerasan dan ingin tamu tersebut cepat pulang. Ia sering jalan-jalan tanpa arah di rumah sakit ditemani oleh anak keduanya. Di malam hari ia merasa kesulitan untuk tidur, kalau pun bisa, tidurnya tak nyenyak. Malam dimana ia tidak bisa tidur, ia akan berkhayal hingga pagi hari.
Setelah istri saya yang kedua ini la..pisah-pisahan kami karena..gak cocok lagi sama..keluarga kan. Mungkin, karena kepikiran juga sama ku ini terus makanan lagi gak teratur. Datang la penyakit darah tinggi. Darah tinggi. Opname la saya di rumah sakit. Opname saya di rumah sakit. Setelah opname saya di rumah sakit. Hampir 2 mingggu gak turun-turun. Sampe’..200 apa nya tensinya. udah itu, lari la ngomong-ngomong saya kan. Lari la..omongan saya itu gak..udah gak..tidak..terarah lagi. Trus perasaan saya gelisah. Gak ada ketenangan gitu. Ya..ada pun datang nanti tamu. Kita gak..gak..gak betah. Gelisah gitu kan. Jadi gelisah-gelisah. (P3, W2/b.20-32)
aku dulu gelisah. Waktu sakit, gak tenang pikiranku. dulu pun gak apa..maunya raoon gitu. Raon pun kemana arahnya gak tau. Pengennya jalan-jalan gitu. Tapi arahnya gak tau.kalo ada pun kawan awak. Maunya pulang gitu. Jangan lama-lama. Emang jalan-jalan. Nanti habis jalan-jalan, pulang lagi. Trus awak kalo tidur gitu gak..gak..gak apa namanya..gak tahan gitu. Gak kerasan. Gelisah. gak, gak bisa tidur. Terus awak mulai jam 9 mengkhayal aja terus sampe pagi. Kalo tidur pun macem tidur-tidur ayam aja. (P3, W2/b.1513 - 1528)
Selain scanning, dokter pun melakukan uji tes laboratorium. Pada saat
tinggi. Karena tingginya kadar racun dalam darahnya, ia pun mulai berbicara sendiri. Saat sedang rebahan, ia seperti berbicara dengan temannya yang sebenarnya pada saat itu tidak hadir disitu. Kakak perempuan Beni datang dan cukup membantunya sehingga anak-anaknya tidak terlalu panik melihatnya berbicara sendiri. Karena ginjalnya sudah rusak, mengecil dan tidak lagi bisa menyaring racun dalam badannya, maka ia harus rutin melakukan cuci darah. Pada saat itu, ia tidak memiliki teman untuk berkompromi. Dan dokter memaksanya untuk melakukan cuci darah walaupun ia tidak ingin melakukannya. Beni pun melakukan kegiatan cuci darah 2 kali seminggu. Namun selama dua minggu melakukan cuci darah, ia tidak merasakan perubahan apapun dalam dirinya. Ia masih tidak bisa melakukan berbagai aktivitas yang dikerjakannya selama ini. Ditambah lagi beban pikiran yang dirasakannya saat melihat darah keluar dari tubuh, diolah kembali dan dimasukkan kedalam tubuhnya membuatnya menghentikan kegiatan cuci darah ini pada bulan ketiga setelah vonis sakitnya.
Jadi lah aku cuci darah. Ya..udah cuci darah kebetulan..tak ada pula yang berkompromi sama awak kan. Apa..karena kalau saya tidak mau bisa kan ? tapi..kubilang sama dokter gak usah. Gak, gak boleh kalau gak cuci darah kau gak tanggung jawab kami gitu. Itu la kasar ngomongnya kan. Gak tanggung jawab kami… ya diikut lah. Cuci darah cuci darah la. Kalo cuci darah..cuci darah.. trus opname la di rumah sakit. Udah itu, setiap..setiap..setiap satu minggu dua kali. Tapi setiap dua minggu ni cuci darah kadang-kadang gak..gak menyembuhkan gitu. Masih gelisah juga. Masih..makan juga gak bisa. Apapun tak bisa. (P3, W1/b.39-49)
Sebulan kemudian ia pun keluar dari rumah sakit namun karena penyakit ginjal yang dialaminya, ia memiliki daftar panjang makanan yang tidak boleh dikonsumsinya, Badannya pun cepat merasa lelah saat beraktivitas. Ia pun
beristirahat di rumah bersama ibu dan anak-anaknya. 3 hari berada dirumah, saat semua anak-anaknya pergi kesekolah, ia melihat ibunya yang sudah tua mencuci dikamar mandi. ia semakin merasakan beban berat yang dialaminya karena tidak bisa bekerja dan memakan makanan yang disukainya. Ia berpikir:
” Aduh, sakitnya hidup ini. Awak lagi berjuang karena ini.. Kok berat kali la kena sama awak. Penyakit ginjal kan masih muda..gitu. trus kalo saya penyakitan apa lagi yang bisa saya perbuat. Lebih bagus la begini saya..begitu dulu.untuk apa saya hidup kalo gak ada nilai tambahnya kan. Kalo jadi beban sama anak-anak kan lebih bagus awak..” (P3, W1/b.55-56,b.364-369)
Saat ia merasa bahwa sudah tidak ada lagi pengharapan bagi dirinya, ia mengambil baygon yang terletak di lemari dan meminumnya. Ibunya menangis melihat hal itu dan meminta bantuan tetangganya untuk membawa Beni kerumah sakit. Sesampainya dirumah sakit, perut Beni dipompa untuk mengeluarkan racun yang terdapat dalam perutnya. Selama seminggu Beni tidak sadarkan diri di ICU dengan banyak selang dimasukkan ke tubuhnya. Setelah 10 hari tinggal dirumah sakit, barulah Beni menyadari dan menyesali perbuatannya.
ya menyesal juga. Sekarang..penyesalan sebetulnya..menyesal juga kalo dibilang..kok bisa gitu la awak. Datang setan kan..penyakit ini. Tapi..nama nya la.. manusia kan. Namanya la..kita ada cobaan..jiwa..kejiwaan juga kan..(P3, W1/b.107-111)
selama di rumah sakit, selain mendapatkan pengobatan medis, ia juga menerima bantuan dari seorang psikiater. Namun Beni merasa kecewa dengan sikap psikiater tersebut yang terkesan menarik diri saat berbicara dengannya. Psikiater tersebut menyuruhnya menceritakan masalah yang dialaminya sambil membuka-buka buku tebal yang ada gambar-gambar didalamnya. Setiap ia
bercerita, psikiater tersebut melihat buku yang berada ditangannya. Setelah itu psikiater menulis resep obat.
Dia negok buku aja kutengok. Asal ada ke’gini awak ngomong (gerakan membuka-buka buku). Bawa buku. Tebal bukunya. orang bikin resep kok dia. Banyak kali obatnya kutengok.
iya..pernah dulu mula-mula kan..waktu belum bisa saya datang ke ruangan dia. Datang dia ke ruangan. Disangkanya udah gila kali awak. Gini dia (gerakan menjauh, menyandarkan badan ke kursi) menjauh dari awak. Sampe gini dia. Cemana gini gini gini gini tah udah. Jadi, setelah apa. Disuruh la awak ke apa kan..disuruh duduk kursi roda. Cemana gini gini gini kenapa gini gini gini. Dibaca bukunya. .. ya ke’gini juga pertanyaannya.
hati saya gak tenang dokter, kubilang. Cem ada yang menghantui saya. Gak bisa kurasa. Gak tenang pikiranku. Tengok. Bukunya ada gambar-gambarnya juga kutengok kan. (P3, W1/b.323-340)