III KERANGKA PEMIKIRAN
3. Cacing Sutera (X 3 )
Cacing sutera merupakan pakan alami ketika benih berumur lebih dari lima hari, pada umur ini larva benih ikan ikan patin sudah memiliki ukuran tubuh yang lebih besar dan kuat. Cacing sutera memiliki pengaruh positif dan berpengaruh nyata pada taraf kepercayaan 90 persen terhadap produksi benih patin. Nilai elastisitas cacing sutera terhadap produksi adalah sebesar 0,796 hal ini menunjukan bahwa dengan meningkatkan satu persen jumlah cacing sutera dengan input yang lainnya tetap, maka masih dapat meningkatkan produksi benih patin sebesar 0,796 persen. Selain itu hasil pendugaan di atas juga dapat menjelaskan bahwa elasatisitas cacing sutera pada fungsi produksi stochastic frontier lebih besar dari elastisitas cacing sutera pada fungsi produksi rata-rata, yaitu 0,793. Hal ini menunjukan bahwa penggunaan cacing sutera pada fungsi produksi stochastic frontier lebih elastis dibandingkan dengan penggunaan cacing sutera pada fungsi produksi rata-rata. Namun dilihat dari nilai elastisitas cacing sutera yang kurang dari satu, maka dapat dikatakan bahwa penggunaan cacing sutera bersifat inelastis.
Cacing sutera diberikan selama 14-16 hari pada masa pemeliharaan larva. Cacing sutera menjadi sangat berpengaruh terhadap produksi benih patin, hal ini berkaitan dengan peningkatan masa hidup (survival rate) benih sebelum dipanen. Selain itu keberadaan cacing sutera di Kota Metro masih fluktuatif bergantung pada kondisi curah hujan.
4. Pakan Indukan (X4)
Pakan indukan merupakan pakan bagi indukan yang akan dipijahkan. Pakan indukan yang diberikan sebagai pakan akan berpengaruh terhadap matang fisiologis dari indukan yang akan dipijahkan sehingga secara tidak langsung akan mempengaruhi jumlah telur yang dihasilkan.
Pakan indukan memiliki pengaruh positif, namun tidak berpengaruh signifikan terhadap produksi benih patin di Kota Metro. Nilai elastisitas pakan indukan terhadap produksi adalah 0,430. Hal ini menunjukan bahwa dengan meningkatkan satu persen jumlah pakan indukan yang diberikan dengan input lainnya tetap, maka dapat meningkatkan produksi benih patin sebesar 0,430 persen. Selain itu hasil pendugaan di atas juga dapat menjelaskan bahwa
elasatisitas pakan indukan pada fungsi produksi stochastic frontierlebih kecil dari elastisitas pakan indukan pada fungsi produksi rata-rata, yaitu 0,633 Hal ini menunjukan bahwa penggunaan pakan indukan pada fungsi produksi stochastic frontier kurang elastis dibandingkan dengan penggunaan pakan indukan pada fungsi produksi rata-rata. Namun dilihat dari nilai elastisitas pakan indukan yang kurang dari satu, maka dapat dikatakan bahwa penggunaan pakan indukan bersifat inelastis. Hal ini berarti bahwa jumlah pakan indukan yang diberikan masih mungkin untuk ditambah. Kondisi variabel fungsi frontier berada di bawah variabel fungsi rata-rata ini diduga karena pemberian pakan indukan yang diberikan cukup seragam yaitu 30 kg, dan tidak berdasarkan feeding rate indukan patin.
5. Jumlah Jam Kerja (X5)
Jumlah jam kerja menunjukan lamanya pembenih dalam melakukan kegiatan usahataninya. Jam kerja memiliki pengaruh positif dan berpengaruh nyata terhadap produksi benih ikan patin di Kota Metro pada taraf nyata 90 persen.
Nilai elastisitas dari koefisien jam kerja menunjukan nilai 0,622 hal ini menunjukan bahwa peningkatan satu persen lama jam kerja dengan input lainnya tetap, maka dapat meningkatkan produksi benih ikan yang di panen sebesar 0,622 persen. Selain itu hasil pendugaan di atas juga dapat menjelaskan bahwa elasatisitas jam kerja pada fungsi produksi stochastic frontier lebih kecil dari elastisitas jam kerja pada fungsi produksi rata-rata, yaitu 0,794. Hal ini menunjukan bahwa pengaruh jumlah jam kerja pada fungsi produksi stochastic frontier kurang elastis dibandingkan dengan fungsi produksi rata-rata. Namun dilihat dari nilai elastisitas jam kerja yang kurang dari satu, maka dapat dikatakan bahwa penggunaan jam kerja bersifat inelastis.
Penambahan jumlah jam kerja masih dapat meningkatkan produksi benih ikan, hal ini dikarenakan sifat benih patin yang sangat sensitif, sehingga lama jam kerja untuk manajemen usahatani dapat meningkatkan jumlah produksi benih ikan patin, karena mampu mempertahankan survival rate dari benih patin agar tetap tinggi.
6.1.4 Skala Usaha
Analisis mengenai pengujian skala usaha pembenihan dilakukan untuk mengetahui tahapan produksi yang dialami oleh pembenih apakah constant return to scale,decreasing return to scale, atauincreasing return to scale.
Pengujian skala usaha dilakukan dengan cara meretriksi jumlah koefisien (elastisitas) variabel bebas pada fungsi produksi dengan menggunakan metode OLS (Tabel 25). Dari hasil penjumlahan koefisien variabel bebas didapatkan nilai 2,4 hasil ini menunujukan bahwa ∑ j ≠ 1, sehingga skala usaha pembenihan ikan
patin di Kota Metro berada pada tahap increasing return to scale, artinya peningkatan input secara proporsional sebesar 10 persen, dapat meningkatkan produksi benih ikan patin lebih dari 10 persen.
6.2 Analisis Tingkat Efisiensi dan Inefisiensi Teknis
Analisis terhadap tingkat efisiensi pembenih ikan patin Kota Metro diolah menggunakan peranti lunak Frontier 4.1. Efek inefisiensi didapatkan dengan menginput variabel delta (Z) yang diduga mempengaruhi efisiensi teknis usahatani pembenihan ikan patin. Variabel-variabel bebas yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengalaman pembenihan (Z1), lama pendidikan formal (Z2),
dummy kelompok tani (Z3), dummy penyuluhan (Z4), dan dummy status usahatani
(Z5).
Tingkat efisiensi teknis (ET) untuk masing-masing individu diperoleh dari hasil perbandingan antara tingkat aktual output, Yi, dengan tingkat predicted
output, exp (Xi,). Tingkat efisiensi dapat dilihat pada output Frontier 4.1 pada
bagian technical efficiency estimates. Berikut ini Grafik dan Tabel mengenai sebaran tingkat efisiensi teknis usahatani pembenihan ikan patin di Kota Metro Tahun 2011. Berikut ini Tabel 27 dan Gambar 15 mengenai sebaran efisiensi teknis dari model yang ditampilkan.
Tabel 28. Sebaran Tingkat Efisiensi Teknis Usahatani Pembenihan Ikan Patin Di Kota Metro Tahun 2011
Tingkat Efisiensi Jumlah Petani Persentase
0-0,1 0 0% 0,11-0,2 0 0% 0,21-0,3 0 0% 0,31-0,4 0 0% 0,41-0,5 1 4% 0,51-0,6 0 0% 0,61-0,7 7 29% 0,71-0,8 2 8% 0,81-0,9 9 38% 0,91-1 5 21% average 79,00% min 43,00% max 99,98%
Sumber: Data Primer (2011)
Gambar 15.Sebaran Tingkat Efisiensi Usahatani Pembenihan Ikan Patin Di Kota
Metro Tahun 2011
Sumber: Data Primer (2011)
Tabel 27 dan Gambar 15 di atas memperlihatkan range dari indeks
efisiensi usahatani pembenihan ikan patin di Kota Metro, yaitu terdapat satu orang pembenih yang berada pada kisaran nilai indeks efisiensi 0,41-0,50, terdapat tujuh orang pembenih pada pada kisaran nilai indeks efisiensi 0,61-0,70, terdapat dua orang pada kisaran nilai indeks efisiensi 0,71-0,80, terdapat sembilan orang pada
kisaran 0,81-0,90, dan terdapat lima orang pada pada kisaran 0,91-1. Secara keseluruhan nilai rata-rata indeks efisiensi pembenih ikan patin di Kota Metro terdapat pada angka 0,79 artinya rata-rata produksi yang dapat dicapai adalah 79,00 persen dari frontier yakni produksi maksimum yang dapat dicapai dengan sistem pengelolaan terbaik (the best practiced), hal ini menunjukan bahwa efisiensi usahatani pembenihan ikan patin di Kota Metro masih bisa di tingkatkan sebesar 21 persen melalui adopsi teknologi dan teknis pengelolaan yang lebih baik. Nilai indeks efisiensi hasil analisis dikategorikan sudah efisien karena lebih besar dari 70 persen (Adhiana 2005).
Menurut Tajerin (2007), tingkat efisiensi yang tinggi dapat mencerminkan dua hal. Di satu sisi, tingkat efisiensi teknis yang tinggi mencerminkan prestasi pembenih ikan dalam manajerial usahatani pembenihan adalah cukup tinggi, penguasaan informasi dan pengambilan keputusan dalam mengelola faktor-faktor penting yang mempengaruhi produksi usaha budidaya usahatani pembenihan berada pada level memuaskan. Di sisi lain, tingkat efisiensi teknis yang tinggi juga merefleksikan bahwa peluang yang kecil untuk meningkatkan produksi, karena senjang antara tingkat produksi yang telah dicapai dengan tingkat produksi maksimum yang dapat dicapai dengan pengelolaan terbaik (the best practice) cukup sempit.
6.3 Varians dan Parameter Model Efek Inefisiensi Teknis
Tabel 29 menampilkan varians dan parameter model efek inefisiensi
teknis fungsi produksi stochastic frontier. Parameter merupakan rasio dari varians efisiensi teknis (ui) terhadap varians total produksi ( i), diperoleh nilai
sebesar 0,99. Secara statistik nilai tersebut nyata pada taraf α = 0,2 persen. Angka ini menunjukan 99 persen dari variabel galat di dalam fungsi produksi menggambarkan efiseiensi teknis pembenih, atau 99 persen dari variasi hasil diantara pembenih responden disebabkan oleh perbedaan dari efisiensi teknis dan sisanya 1 persen disebabkan oleh efek-efek stochastic seperti pengaruh cuaca, iklim, keberuntungan, hama dan penyakit, serta kesalahan pemodelan (Adhiana 2005).
Tabel 29. Varians dan Parameter Model Efek Inefisiensi Teknis Fungsi Produksi Stochastic Frontier
Variance Parameters Nilai dugaan T-rasio
σ2
0,045 0.99
1,33 36.406 Sumber: Data Primer (2011)
Menurut Tanjung (2003) proses produksi komoditas pertanian, biasanya lebih dipengaruhi oleh peranan efek stochastic (vi) yang tidak terwakili di dalam
model daripada efek-efek non-stochastic seperti efek inefisiensi teknis. Sebesar satu persen inefiensi pembenih dipengaruhi oleh efek stochastichal ini menujukan bahwa proses managerial dalam pembenihan ikan di Kota Metro mampu meminimalisir faktor alam yang mempengaruhi produksi benih.
6.4 Sumber-Sumber Inefisiensi Teknis
Pada model Techincal Inefficiencydari lima variabel yang dihipotesiskan, terdapat tiga variabel yang berpengaruh nyata yaitu pengalaman pembenihan (Z1),
pendidikan pembenih (Z2), dan dummy penyuluhan (Z4) pada taraf nyata α = 30
persen. Berikut ini merupakan Tabel hasil pendugaan efek inefisiensi dan interpretasi dari variabel yang menjadi sumber-sumber inefisiensi teknis usahatani pembenihan ikan patin di Kota Metro:
Tabel 30. Pendugaan Model Inefisiensi teknis Stochastic Frontier Usahatani
Pembenihan Ikan Patin Di Kota Metro Tahun 2011
Variabel Koefisien Standar Error T-hitung Inefficiency Model
Intersep (Z0) Pengalaman (Z1) Pendidikan (Z2)
Dummy Kelompok tani (Z3)
Dummy Penyuluhan (Z4)
Dummy Status usahatani (Z5)
1,00 -0,024 -0,054 -0,085 0,126 -0,104 0,792 0,019 0,008 0,141 0,093 0,763 1,26* -1,28* -6,7* -0,60 1,35* -0,13 Keterangan : * nyata pada α= 30 %
Sumber: Data Primer (2011)
Dari tabel di atas dapat diketahui faktor-faktor yang mempengaruhi Tecnical Inefficiency Model. Variabel pengalaman (Z1), dan pendidikan (Z2)
memiliki pengaruh negatif terhadap inefisiensi pada taraf nyata = 30 persen, dengan nilai koefisien sebesar (-0,024) dan (-0,054) menunjukan pengaruh negatif pengaruh pengalaman dan tingkat pendidikan terhadap inefisiensi teknis, sedangkan dummy kelompok tani (Z3) dan dummy status usahatani memiliki
pengaruh negatif terhadap inefisiensi namun pada taraf nyata yang signifikan, dan dummy penyuluhan memiliki pengaruh positif terhadap inefisiensi teknis pada taraf nyata α = γ0 persen. Berikut ini model Techinal Inefficiency Pembenihan ikan patin di Kota Metro.
Berdasarkan Tabel 30 dapat diketahui variabel-variabel yang menjadi sumber-sumber inefisiensi. Berikut ini adalah penjelasan dan interpretasinya.
1) Pengalaman Pembenihan
Faktor pengalaman pembenihan dimasukan ke dalam efek inefisiensi teknis dengan dugaan berpengaruh negatif terhadap inefisiensi teknis, karena pada beberapa penelitian seperti Tajerin dan Noor (2005), Tajerin (2007), Kabede (2001) menyebutkan bahwa pengalaman merupakan jembatan dari umur, sehingga dengan bertambahnya umur pembenih maka akan menambah pengalaman pembenih dalam usahataninya tersebut. Pada penelitian ini didapatkan pembenih dengan umur lebih tua memiliki pengalaman yang lebih lama, sehingga pemisahan variabel menjadi variabel umur pembenih dengan pengalaman pembenihan dianggap menjadi tidak relevan. Berdasarkan Tabel 29 menjelaskan bahwa umur pembenih memiliki pengaruh negatif terhadap inefisiensi sebesar (- 0,024), atau berpengaruh positif terhadap efisiensi pada taraf nyata α = γ0 persen. Artinya dengan bertambahnya satu tahun pengalaman pembenihan akan meningkatkan efisiensi sebesar 0,024 persen. Hal ini sesuai dengan hipotesis awal, fenomena ini terjadi karena dengan bertambahnya pengalaman pembenihan akan menambah keterampilan pembenih. Hal ini sesuai dengan penelitian Tajerin dan Noor (2005) dan Tajerin (2007) yang menyebutkan pada pembudidaya yang berumur lebih tua terjadi peningkatan dalam inovasi dan adopsi yang tinggi. Dengan kata lain dibanding pembenih yang berpengalaman, ternyata pembenih yang lebih tua lebih progresif dan mampu mengantisipasi terhadap menurunnya
kualitas sumberdaya air (kesuburan kimia dan fisik air) dan meningkatnya serangan penyakit, sehingga produksi yang dicapai lebih tinggi daripada yang dicapai pembenih yang kurang berpengalaman dalam melakukan antisipasi terhadap perubahan tersebut.
2) Pendidikan
Faktor lamanya pendidikan merupakan jumlah waktu (tahun) yang dihabiskan petani untuk menempuh pendidikan formalnya. Pendidikan dianggap sebagai jembatan dari kemampuan manajerial pembenih dan kemampuan dalam mengadopsi teknologi. Semakin lama waktu yang dihabiskan untuk menempuh pendidikan, diduga akan meningkatkan efisiensi dalam proses produksi benih ikan patin.
Berdasarkan Tabel 29, maka lama pendidikan memiliki pengaruh negatif terhadap inefisiensi pada taraf α = 30 persen. Artinya peningkatan satu tahun pendidikan yang dimiliki pembenih dapat meningkatkan efisiensi teknis sebesar 0,054 persen. Fenomena ini menunjukan bahwa dengan semakin tinggi pendidikan yang ditempuh, maka semakin tinggi kemampuan mereka dalam mengadopsi teknologi dan dapat menggunakan input secara proporsional, sehingga akan meningkatkan efisiensi teknis usahatani pembenihan ikan patin.
Tabel 31. Rata-rata Tingkat Efisiensi Teknis Usahatani Pembenihan Ikan Patin di
Kota Metro Berdasarkan Kelompok Tingkat Pendidikan Tahun 2011
Kelompok Tingkat Pendidikan Rata-Rata Tingkat Efisiensi Teknis (%)
SD 71
SMP 68
SMA 80
D3-S1 90
Sumber: Data Primer (2011)
Berdasarkan Tabel di atas, pembenih dengan kelompok tingkat pendidikan D3-S1 memiliki rata-rata tingkat efisiensi teknis tertinggi yaitu sebesar 90 persen, selanjutnya SMA, SMP dan SD dengan rata-rata nilai tingkat efisiensi teknis sebesar 80 persen, 68 persen, dan 71 persen. Sehingga semakin tinggi tingkat pendidikan atau semakin lama pembenih dalam mengenyam pendidikan formal, maka akan meningkatkan efisiensi teknis. Penelitian ini menghasilkan hasil yang sama dengan penelitian Tajerin dan Noor (2005), Tajerin (2007), dan Kabede
(2001) yang menemukan pendidikan yang berpengaruh positif terhadap efisiensi teknis.
3) Kelompok tani (Dummy)
Kelompok tani merupakan suatu lembaga yang mewadahi petani yang dibentuk atas dasar kesamaan kepentingan, kesaan kondisi lingkungan (sosial, ekonomi, sumberdaya) dan keakraban untuk meningkatkan dan mengembangkan usaha anggota. Fungsi kelompok tani diantaranya sebagai kelas belajar, wahana kerjasama, dan unit produksi. Keikutan pembenih dalam kelompok tani diduga dapat meningkatkan efisiensi. Berdasarkan Tabel 29 dummy kelompok tani memiliki pengaruh yang negatif terhadap inefisiensi produksi benih patin di Kota Metro pada taraf nyata yang tidak signifikan. Nilai koefisien dummy kelompok tani menunjukan angka (-0,085) artinya dengan bergabungnya pembenih ikan patin patin ke dalam kelompok tani dapat meningkatkan efisiensi sebesar 0,085 persen. Hal ini disebabkan adanya transfer ilmu, pengalaman, dan teknologi dalam kegiatan kelompok tani. Hal ini sesuai dengan hasil yang diharapkan yaitu keikutsertaan pembenih dalam kelompok tani dapat meningkatkan efisiensi dalam pembenihan ikan patin. Rata-rata pembenih yang masuk ke dalam kelompok tani memiliki efisiensi sebesar 80 persen, sedangkan pembenih yang tidak atau belum masuk kelompok tani memiliki rata-rata efisiensi sebesar 77 persen.
4) Penyuluhan (Dummy)
Kegiatan penyuluhan merupakan salah satu sarana transfer ilmu dan teknologi baru dalam pembenihan, kegiatan ini bertujuan untuk meningkatan efisiensi teknis usahatani pembenihan ikan patin. Kegitan ini biasa dilaksanakan oleh pihak Dinas Pertanian Bidang Perikanan Kota Metro dengan pembenih. Berdasarkan Tabel 29 variabel dummy penyuluhan memiliki pengaruh positif (0,126) terhadap inefisiensi pada taraf nyata α = γ0 persen. Hal ini tidak sesuai dugaan awal jika pembenih yang mendapatkan penyuluhan akan memiliki tingkat efisiensi yang lebih tinggi. Fenomena ini diduga karena belum diterapkannya hasil penyuluhan ke dalam kegiatan pembenihan. Para-pembenih lebih banyak mengaplikasikan pembenihan berdasarkan pengalaman yang dialami, perlu banyak waktu yang dibutuhkan untuk mempertimbangkan penggunaan metode