• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dependent Variable: PRODUKS

5. Jumlah Jam Kerja (X 5 )

Jumlah jam kerja menunjukan lamanya pembenih dalam melakukan kegiatan usahataninya. Jam kerja memiliki pengaruh positif dan berpengaruh nyata terhadap produksi benih ikan patin di Kota Metro pada taraf nyata 90 persen.

Nilai elastisitas dari koefisien jam kerja menunjukan nilai 0,622 hal ini menunjukan bahwa peningkatan satu persen lama jam kerja dengan input lainnya tetap, maka dapat meningkatkan produksi benih ikan yang di panen sebesar 0,622 persen. Selain itu hasil pendugaan di atas juga dapat menjelaskan bahwa elasatisitas jam kerja pada fungsi produksi stochastic frontier lebih kecil dari elastisitas jam kerja pada fungsi produksi rata-rata, yaitu 0,794. Hal ini menunjukan bahwa pengaruh jumlah jam kerja pada fungsi produksi stochastic frontier kurang elastis dibandingkan dengan fungsi produksi rata-rata. Namun dilihat dari nilai elastisitas jam kerja yang kurang dari satu, maka dapat dikatakan bahwa penggunaan jam kerja bersifat inelastis.

Penambahan jumlah jam kerja masih dapat meningkatkan produksi benih ikan, hal ini dikarenakan sifat benih patin yang sangat sensitif, sehingga lama jam kerja untuk manajemen usahatani dapat meningkatkan jumlah produksi benih ikan patin, karena mampu mempertahankan survival rate dari benih patin agar tetap tinggi.

6.1.4 Skala Usaha

Analisis mengenai pengujian skala usaha pembenihan dilakukan untuk mengetahui tahapan produksi yang dialami oleh pembenih apakah constant return to scale,decreasing return to scale, atauincreasing return to scale.

Pengujian skala usaha dilakukan dengan cara meretriksi jumlah koefisien (elastisitas) variabel bebas pada fungsi produksi dengan menggunakan metode OLS (Tabel 25). Dari hasil penjumlahan koefisien variabel bebas didapatkan nilai 2,4 hasil ini menunujukan bahwa ∑ j ≠ 1, sehingga skala usaha pembenihan ikan patin di Kota Metro berada pada tahap increasing return to scale, artinya peningkatan input secara proporsional sebesar 10 persen, dapat meningkatkan produksi benih ikan patin lebih dari 10 persen.

6.2 Analisis Tingkat Efisiensi dan Inefisiensi Teknis

Analisis terhadap tingkat efisiensi pembenih ikan patin Kota Metro diolah menggunakan peranti lunak Frontier 4.1. Efek inefisiensi didapatkan dengan menginput variabel delta (Z) yang diduga mempengaruhi efisiensi teknis usahatani pembenihan ikan patin. Variabel-variabel bebas yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengalaman pembenihan (Z1), lama pendidikan formal (Z2), dummy kelompok tani (Z3), dummy penyuluhan (Z4), dan dummy status usahatani (Z5).

Tingkat efisiensi teknis (ET) untuk masing-masing individu diperoleh dari hasil perbandingan antara tingkat aktual output, Yi, dengan tingkat predicted output, exp (Xi,). Tingkat efisiensi dapat dilihat pada output Frontier 4.1 pada bagian technical efficiency estimates. Berikut ini Grafik dan Tabel mengenai sebaran tingkat efisiensi teknis usahatani pembenihan ikan patin di Kota Metro Tahun 2011. Berikut ini Tabel 27 dan Gambar 15 mengenai sebaran efisiensi teknis dari model yang ditampilkan.

Tabel 28. Sebaran Tingkat Efisiensi Teknis Usahatani Pembenihan Ikan Patin Di Kota Metro Tahun 2011

Tingkat Efisiensi Jumlah Petani Persentase

0-0,1 0 0% 0,11-0,2 0 0% 0,21-0,3 0 0% 0,31-0,4 0 0% 0,41-0,5 1 4% 0,51-0,6 0 0% 0,61-0,7 7 29% 0,71-0,8 2 8% 0,81-0,9 9 38% 0,91-1 5 21% average 79,00% min 43,00% max 99,98%

Sumber: Data Primer (2011)

Gambar 15.Sebaran Tingkat Efisiensi Usahatani Pembenihan Ikan Patin Di Kota Metro Tahun 2011

Sumber: Data Primer (2011)

Tabel 27 dan Gambar 15 di atas memperlihatkan range dari indeks efisiensi usahatani pembenihan ikan patin di Kota Metro, yaitu terdapat satu orang pembenih yang berada pada kisaran nilai indeks efisiensi 0,41-0,50, terdapat tujuh orang pembenih pada pada kisaran nilai indeks efisiensi 0,61-0,70, terdapat dua orang pada kisaran nilai indeks efisiensi 0,71-0,80, terdapat sembilan orang pada

kisaran 0,81-0,90, dan terdapat lima orang pada pada kisaran 0,91-1. Secara keseluruhan nilai rata-rata indeks efisiensi pembenih ikan patin di Kota Metro terdapat pada angka 0,79 artinya rata-rata produksi yang dapat dicapai adalah 79,00 persen dari frontier yakni produksi maksimum yang dapat dicapai dengan sistem pengelolaan terbaik (the best practiced), hal ini menunjukan bahwa efisiensi usahatani pembenihan ikan patin di Kota Metro masih bisa di tingkatkan sebesar 21 persen melalui adopsi teknologi dan teknis pengelolaan yang lebih baik. Nilai indeks efisiensi hasil analisis dikategorikan sudah efisien karena lebih besar dari 70 persen (Adhiana 2005).

Menurut Tajerin (2007), tingkat efisiensi yang tinggi dapat mencerminkan dua hal. Di satu sisi, tingkat efisiensi teknis yang tinggi mencerminkan prestasi pembenih ikan dalam manajerial usahatani pembenihan adalah cukup tinggi, penguasaan informasi dan pengambilan keputusan dalam mengelola faktor-faktor penting yang mempengaruhi produksi usaha budidaya usahatani pembenihan berada pada level memuaskan. Di sisi lain, tingkat efisiensi teknis yang tinggi juga merefleksikan bahwa peluang yang kecil untuk meningkatkan produksi, karena senjang antara tingkat produksi yang telah dicapai dengan tingkat produksi maksimum yang dapat dicapai dengan pengelolaan terbaik (the best practice) cukup sempit.

6.3 Varians dan Parameter Model Efek Inefisiensi Teknis

Tabel 29 menampilkan varians dan parameter model efek inefisiensi teknis fungsi produksi stochastic frontier. Parameter merupakan rasio dari varians efisiensi teknis (ui) terhadap varians total produksi ( i), diperoleh nilai sebesar 0,99. Secara statistik nilai tersebut nyata pada taraf α = 0,2 persen. Angka ini menunjukan 99 persen dari variabel galat di dalam fungsi produksi menggambarkan efiseiensi teknis pembenih, atau 99 persen dari variasi hasil diantara pembenih responden disebabkan oleh perbedaan dari efisiensi teknis dan sisanya 1 persen disebabkan oleh efek-efek stochastic seperti pengaruh cuaca, iklim, keberuntungan, hama dan penyakit, serta kesalahan pemodelan (Adhiana 2005).

Tabel 29. Varians dan Parameter Model Efek Inefisiensi Teknis Fungsi Produksi Stochastic Frontier

Variance Parameters Nilai dugaan T-rasio

σ2

0,045 0.99

1,33 36.406 Sumber: Data Primer (2011)

Menurut Tanjung (2003) proses produksi komoditas pertanian, biasanya lebih dipengaruhi oleh peranan efek stochastic (vi) yang tidak terwakili di dalam model daripada efek-efek non-stochastic seperti efek inefisiensi teknis. Sebesar satu persen inefiensi pembenih dipengaruhi oleh efek stochastichal ini menujukan bahwa proses managerial dalam pembenihan ikan di Kota Metro mampu meminimalisir faktor alam yang mempengaruhi produksi benih.

6.4 Sumber-Sumber Inefisiensi Teknis

Pada model Techincal Inefficiencydari lima variabel yang dihipotesiskan, terdapat tiga variabel yang berpengaruh nyata yaitu pengalaman pembenihan (Z1), pendidikan pembenih (Z2), dan dummy penyuluhan (Z4) pada taraf nyata α = 30 persen

.

Berikut ini merupakan Tabel hasil pendugaan efek inefisiensi dan interpretasi dari variabel yang menjadi sumber-sumber inefisiensi teknis usahatani pembenihan ikan patin di Kota Metro:

Tabel 30. Pendugaan Model Inefisiensi teknis Stochastic Frontier Usahatani Pembenihan Ikan Patin Di Kota Metro Tahun 2011

Variabel Koefisien Standar Error T-hitung

Inefficiency Model Intersep (Z0) Pengalaman (Z1) Pendidikan (Z2)

Dummy Kelompok tani (Z3)

Dummy Penyuluhan (Z4)

Dummy Status usahatani (Z5)

1,00 -0,024 -0,054 -0,085 0,126 -0,104 0,792 0,019 0,008 0,141 0,093 0,763 1,26* -1,28* -6,7* -0,60 1,35* -0,13

Keterangan : * nyata pada α= 30 % Sumber: Data Primer (2011)

Dari tabel di atas dapat diketahui faktor-faktor yang mempengaruhi Tecnical Inefficiency Model. Variabel pengalaman (Z1), dan pendidikan (Z2)

memiliki pengaruh negatif terhadap inefisiensi pada taraf nyata = 30 persen, dengan nilai koefisien sebesar (-0,024) dan (-0,054) menunjukan pengaruh negatif pengaruh pengalaman dan tingkat pendidikan terhadap inefisiensi teknis, sedangkan dummy kelompok tani (Z3) dan dummy status usahatani memiliki pengaruh negatif terhadap inefisiensi namun pada taraf nyata yang signifikan, dan dummy penyuluhan memiliki pengaruh positif terhadap inefisiensi teknis pada taraf nyata α = γ0 persen. Berikut ini model Techinal Inefficiency Pembenihan ikan patin di Kota Metro.

Berdasarkan Tabel 30 dapat diketahui variabel-variabel yang menjadi sumber-sumber inefisiensi. Berikut ini adalah penjelasan dan interpretasinya.