(60) Sekarwangi :“Aku lagi ndhereake juraganku, Pak Pratama.” „Aku sedang mengantar majikanku, Pak Pratama.‟
Marsanti :“Oh, kuwi kancane juraganku, Pak Jolang. Aku ya lagi ndhereake juraganku. Lagi teka iki mau ta, Sekar? Dhek wingi sore aku liwat kene kok isih tutupan.”
„Oh, itu temannya majikanku, Pak Jolang. Aku juga sedang mengantarkan majikanku. Baru sampai di sini tadi ya, Sekar? Kemarin sore aku lewat sini kok masih tutup.‟
(MN/SWS/32/2015)
Pada data (60) merupakan dialog antara Sekarwangi dan Marsanti. Dalam tuturan ini terdapat peristiwa campur kode yang ditunjukkan pada kata yang bercetak tebal. Peristiwa campur kode yang dilakukan oleh Sekarwangi dan Marsanti yaitu pada kata „ndherekake‟ yang merupakan kata dalam
bahasa Jawa ragam Krama. Campur kode ini disebut campur kode intern karena menyisipkan kata bahasa Jawa ragam Krama ke dalam tuturan bahasa Jawa ragam Ngoko Alus.
(61) Sekarwangi :“Wisudhane wis rampung, Yu Sarmi. Ayo tata dhahar.
Dhawuhe ibu iki mengko dha shalat dhuhur dhisik, terus dhahar, njur ngaso sedhela. Jare mengko bar ashar budhal bali nyang Jakarta.”
„Wisudhanya sudah selesai, mbak Sarmi. Ayo menata makanan. Perintah Ibu ini nanti pada sholat dhuhur dahulu, lalu makan, kemudian istirahat sebentar. Katanya nanti sehabis ashar barangkat kembali ke Jakarta.‟
Yu Sarmi :“O, iya.” „O, iya.‟ (MN/SWS/32/2015)
Pada data (61) merupakan dialog yang melibatkan Sekarwangi dan Yu Sarmi. Dalam tuturan ini terdapat peristiwa campur kode yang ditunjukkan pada kata yang bercetak tebal. Peristiwa campur kode yang dilakukan oleh Sekarwangi yaitu pada kata „dhawuhe‟ yang merupakan kata dalam bahasa Jawa ragam Krama. Campur kode ini disebut campur kode intern karena menyisipkan kata bahasa Jawa ragam Krama ke dalam tuturan bahasa Jawa ragam Ngoko Alus.
(62) Sekarwangi :“Ya wis, aku manut Mas. Aku arep didhawuhi Ngapa?” „Ya sudah, saya menurut Mas. Saya mau disuruh apa?‟
Damarjati :“Ora dakkon ngapa-ngapa, mung dakjak jagongan. Ning daktakon dhisik, jane kowe ki mau arep nyang endi?”
„Tidak saya suruh ngapa-ngapain, hanya mau saya ajak ngobrol. Tapi saya mau tanya dulu, sebenarnya kamu itu mau kemana?‟
(MN/SWS/33/2015)
Pada data (62) merupakan dialog antara Sekarwangi dan Damarjati. Dalam tuturan ini terdapat peristiwa campur kode yang ditunjukkan pada kata yang bercetak tebal. Peristiwa campur kode yang dilakukan oleh Sekarwangi yaitu pada kata „didhawuhi‟ yang merupakan kata dalam bahasa Jawa ragam Krama, hal ini bisa dibuktikan ketika kata „didhawuhi‟ diganti dengan kata
„dikongkon‟ dalam bahasa Jawa ragam Ngoko. Campur kode ini disebut campur kode intern karena menyisipkan kata bahasa Jawa ragam Krama ke dalam tuturan bahasa Jawa ragam Ngoko Alus.
(63) Damarjati :“Rupamu ayu, ayu banget, pakulitanmu kuning resik, soroting netramu bening tajem, pemikiran lan patrapmu katon yen bocah pendhidhikan, basamu alus, tata kramamu ganep, tandukmu marang sapa wae mantep lan percaya dhiri, ora katon minggrang-minggring, klebu yen pinuju guneman karo pak Pratama lan bu Rusti juraganmu.”
„Wajahmu cantik, cantik sekali, kulitmu kuning langsat, tatapan matamu bening tajam, pola pikir dan tingkah lakumu seperti orang berpendidikan, bahasamu lembut, mengerti tata krama, perilakumu terhadap siapa saja mantap dan percaya diri, tidak canggung, termasuk ketita berbisacara dengan pak Pratama dan bu Rusti.‟
Sekarwangi :“Wah, jan ideal banget. Apa maneh, Mas?” „Wah, ideal sekali. Apa lagi, Mas?‟
(MN/SWS/33/2015)
Pada data (63) merupakan dialog yang melibatkan Damarjati dan Sekarwangi. Dalam tuturan ini terdapat peristiwa campur kode yang ditunjukkan pada kata yang bercetak tebal. Peristiwa campur kode yang dilakukan oleh Damarjati yaitu pada kata „netramu‟ yang merupakan kata dalam bahasa Jawa ragam Krama, hal ini bisa dibuktikan ketika kata „netramu‟ diganti dengan kata „mripatmu‟ dalam bahasa Jawa ragam Ngoko. Campur kode ini disebut campur kode intern karena menyisipkan kata bahasa Jawa ragam Krama ke dalam tuturan bahasa Jawa ragam Ngoko.
(64) Damarjati :“Oh, maaf yen aku gawe sedhihe atimu. Lan yen kowe rumangsa kabotan, ya wis aku ora sida takon.”
„Oh, maaf jika aku membuat sedihnya hatimu. Dan jika kamu merasa keberatan, ya sudah aku tidak jadi bertanya.‟
Sekarwangi :“Ora Mas. Aku malah bakal rumangsa lega yen sliramu kersangrungokake critane lelakonku. Nanging mengko dhisik, dak gawekake unjukan kopi panas dhisik.”
„Tidak Mas. Saya malah akan merasa lega jika kamu mau mendengarkan cerita hidupku. Tapi nanti dulu, saya buatkan minuman kopi panas dulu.‟
Pada data (64) adalah dialog antara Damrjati dan Sekarwangi. Dalam tuturan ini terdapat peristiwa campur kode yang ditunjukkan pada kata yang bercetak tebal. Peristiwa campur kode yang dilakukan oleh Sekarwangi yaitu pada kata „unjukan‟ yang merupakan kata dalam bahasa Jawa ragam Krama, hal ini bisa dibuktikan ketika kata „unjukan‟ diganti dengan kata „ombenan‟ dalam bahasa Jawa ragam Ngoko. Campur kode ini disebut campur kode intern karena menyisipkan kata bahasa Jawa ragam Krama ke dalam tuturan bahasa Jawa ragam Ngoko Alus.
(65) Damarjati :“Turah telung yuta, mangga dakbalekake ibu. Lan
daktandhesake, iki kang pungkasan, Bu. Sesuk maneh aku wis ora saguh ndherekake ndara putri Sofiatun.”
„Sisa tiga juta, silakan saya kembalikan Ibu. Dan saya tegaskan, ini yang terakhir, Bu. Besok lagi saya sudah tidak sanggup mengantarkan tuan putri Sofiatun.‟
Bu Rusti :“Kapok, Le?” „Kapok Nak?‟ (MN/SWS/36/2015)
Pada data (63) merupakan dialog yang melibatkan Damarjati dan Bu Rusti. Dalam tuturan ini terdapat peristiwa campur kode yang ditunjukkan pada kata yang bercetak tebal. Peristiwa campur kode yang dilakukan oleh Damarjati yaitu pada kata „ndherekake‟ yang merupakan kata dalam bahasa Jawa ragam Krama. Campur kode ini disebut campur kode intern karena menyisipkan kata bahasa Jawa ragam Krama ke dalam tuturan bahasa Jawa ragam Ngoko Alus.
(66) Sekarwangi :“Aku wis mudeng karepe Mas. Pokoke beres. Ning nek aku kebablasen, maaf sadurunge lho, aja didukani.”
„Saya sudah tahu maksudnya Mas. Pokoknya beres. Tapi kalau aku terlalu jauh, maaf sebelumnya lho, jangan dimarahi.‟ Damarjati :”Kebablasen piye maksudmu?”
„Terlalu jauh bagaimana maksud kamu?‟ (MN/SWS/36/2015)
Pada data (66) merupakan dialog yang melibatkan Sekarwangi dan Damarjati. Dalam tuturan ini terdapat peristiwa campur kode yang ditunjukkan pada kata yang bercetak tebal. Peristiwa campur kode yang dilakukan oleh Sekarwangi yaitu pada kata „didukani‟ yang merupakan kata dalam bahasa Jawa ragam Krama, hal ini bisa dibuktikan ketika kata „didukani‟ diganti dengan kata „disengeni‟ dalam bahasa Jawa ragam Ngoko. Campur kode ini disebut campur kode intern karena menyisipkan kata bahasa Jawa ragam Krama ke dalam tuturan bahasa Jawa ragam Ngoko Alus.
(67) Sekarwangi :“Bangkrut? Lha sababe?” „Bangkrut? Sebabnya apa?‟
Tuminah :“Juraganku ki jebule koruptor. Ditangkep petugas ka-pe-ka, terus kabeh bandhane dirampas negara. Omah pirang-pirang enggon, mobil mewah, simpenan dhuwit ing bank, kabeh entek dirampas. Saiki sing wadon manggon ing omah kontrakan cilik, karo anak-anake.”
„Majikanku itu ternyata koruptor. Ditangkap petugas KPK, lalu semua hartanya dirampas negara. Rumah dibeberapa tempat, mobil mewah, simpanan uang di bank, semua habis dirampas. Sekarang istrinya menempati rumah kontrakan kecil dengan anak-anaknya.‟
(MN/SWS/37/2015)
Pada data (67) adalah dialog antara Sekarwangi dan Tuminah. Tuminah menceritakan bahwa majikan ditempatnya bekerja adalah koruptor. Dalam tuturan ini terdapat peristiwa campur kode yang ditunjukkan pada kata yang bercetak tebal. Peristiwa campur kode yang dilakukan oleh Tuminah yaitu pada kata „dirampas‟ yang merupakan kata dalam bahasa Indonesia. Campur kode ini disebut campur kode intern karena menyisipkan kata bahasa Indonesia ke dalam tuturan bahasa Jawa ragam Ngoko Alus.
(68) Damarjati :“Bu. Pasuryane Ibu ora perlu didhelikake, ben tetep ana kene kaya adate. Sabab iki wes trep lan ayu. Perkara mbatalake kuwi gampang, Bu.”
„Bu, wajah Ibu tidak perlu disembunyikan, biar tetap ada disitu seperti biasanya. Karena itu sudah pantas dan cantik. Masalah membatalkan itu gampang, Bu‟
Bu Rusti :”Uh, risi. Wong dhapure elek ngono kok ngambung. Gampang piye? Atiku ora tekan yen kudu mbatalake.”
„Uh, geli. Orang mukanya jelek gitu kok mencium. Mudah bagaimana? Saya tidak sampai hati jika harus membatalkan.‟ (MN/SWS/36/2015)
Pada data (68) adalah dialog antara Damarjati dan Bu Rusti. Dalam tuturan ini terdapat peristiwa campur kode yang ditunjukkan pada kata yang bercetak tebal. Peristiwa campur kode yang dilakukan oleh Damarjati yaitu pada kata „pasuryane‟ yang merupakan kata dalam bahasa Indonesia. Campur kode ini disebut campur kode intern karena menyisipkan kata bahasa Indonesia ke dalam tuturan bahasa Jawa ragam Ngoko.
(69) Damarjati :“Nek kersane Ibu ngono, aku ndherek. Nanging lilanana milih calonku dhewe, Bu, sabab sing arep nglakoni ki aku.” „Kalau Ibu maunya begitu, aku ikut. Tetapi izinkalah memilih calonku sendiri, Bu, karena yang akan menjalani itu aku.‟ Bu Rusti :“Iya. Apa wis nduwe calon piye? Sapa?”
„Iya. Apa sudah mempunyai calon? Siapa?‟ (MN/SWS/38/2015)
Pada data (69) adalah dialog antara Damarjati dan Bu Rusti. Dalam tuturan ini terdapat peristiwa campur kode yang ditunjukkan pada kata yang bercetak tebal. Peristiwa campur kode yang dilakukan oleh Damarjati yaitu pada kata „kersane‟ yang merupakan kata dalam bahasa Jawa ragam Krama, hal ini bisa dibuktikan ketika kata „kersane‟ diganti dengan kata „karepe‟ dalam bahasa Jawa ragam Ngoko. Campur kode ini disebut campur kode intern karena menyisipkan kata bahasa Jawa ragam Krama ke dalam tuturan bahasa Jawa ragam Ngoko Alus.
(70) Bu Rusti :“Ngene wae, Damar. Bapakmu aturana mrene. Mbok menawa bapak duwe wawasan sing luwih kepenak dilakoni.” „Begini saja, Damar. Panggil bapakmu kesini. Siapa tahu bapak mempunyai pendapat yang lebih baik untuk dilakukan.‟
Damarjati :”Oh, inggih, Bu.” „Oh, iya Bu.‟ (MN/SWS/39/2015)
Pada data (70) merupakan dialog yang melibatkan Bu Rusti dan Damarjati. Dalam tuturan ini terdapat peristiwa campur kode yang ditunjukkan pada kata yang bercetak tebal. Peristiwa campur kode yang dilakukan oleh Bu Rusti yaitu pada kata „aturana‟ yang merupakan kata dalam bahasa Jawa ragam Krama. Campur kode ini disebut campur kode intern karena menyisipkan kata bahasa Jawa ragam Krama ke dalam tuturan bahasa Jawa ragam Ngoko Alus.
(71) Damarjati :”Dhik, sing ora ngerti ki kowe, dudu Sofi.” „Dik, yang tidak tahu itu kamu, bukan Sofi.‟
Sekarwangi :“Aku? Aku sing ora ngerti? Maksudmu apa Mas. Aku rak wis nindakake kabeh dhawuhmu. Diajak ethok-ethok pacaran kanggo mancing emosine Sofi. Kabeh wis mlaku beres, lan kebukten dheweke mbatalake.”
„Aku? Aku yang tidak tahu? Maksudmu apa Mas. Aku kan sudah melakukan semua perintahmu. Diajak pura-pura pacaran untuk mancing emosinya Sofi. Semua sudah berjalan beres, dan terbukti dia membatalkan.‟
(MN/SWS/39/2015)
Pada data (71) adalah dialog yang melibatkan Damarjati dan Sekarwangi. Dalam tuturan ini terdapat peristiwa campur kode yang ditunjukkan pada kata yang bercetak tebal. Peristiwa campur kode yang dilakukan oleh Sekarwangi yaitu pada kata „emosine‟ yang merupakan kata dalam bahasa Indonesia. Campur kode ini disebut campur kode intern karena menyisipkan kata bahasa Indonesia ke dalam tuturan bahasa Jawa ragam Ngoko.
(72) Sekarwangi :“Alah mung urusan sepele kok Santi. Mung arep ngurusi simpenan dhuwit ing bank, arep dak transfernyang rekeninge Ibu ing Klaten.”
„Alah cuma masalah sepele kok Santi. Cuma mau mengurus simpanan uang di bank, mau aku trasfer ke rekeningnya Ibu di Klaten.‟
Marsanti :“O, iya, kanggo nyingkiri resiko ing dalan.” „O, iya, untuk menghindari resiko di jalan.‟ (MN/SWS/40/2015)
Pada data (72) merupakan dialog yang melibatkan Sekarwangi dan Marsanti. Dalam tuturan ini terdapat peristiwa campur kode yang ditunjukkan pada kata yang bercetak tebal. Peristiwa campur kode yang dilakukan oleh Sekarwangi yaitu pada kata „rekeninge‟ yang merupakan kata dalam bahasa Indonesia. Campur kode ini disebut campur kode intern karena menyisipkan kata bahasa Indonesia ke dalam tuturan bahasa Jawa ragam Ngoko.
(73) Sekarwangi :“Tuminah, aku sida wis arep bali nyang ndesa. Sesuk apa kapan kowe nemonana juraganku, layang iki aturna. Alamate ana nggon amplop surat iku.”
„Tuminah, aku sudah jadi akan kembali ke desa. Besok atau kapan temuilah majikanku, berikan surat ini. Alamatnya ada diamplop itu.‟
Tuminah :”Oh, iya. Maturnuwun, Sekar. Olehmu nyang Jawa kapan?” „Oh, iya. Terimakasih, Sekar. Kamu kapan pulang ke Jawa?‟ (MN/SWS/41/2015)
Pada data (73) adalah dialog yang melibatkan Sekarwangi dan Tuminah. Dalam tuturan ini terdapat peristiwa campur kode yang ditunjukkan pada kata yang bercetak tebal. Peristiwa campur kode yang dilakukan oleh Sekarwangi yaitu pada kata „aturna‟ yang merupakan kata dalam bahasa Jawa ragam Krama. Campur kode ini disebut campur kode intern karena menyisipkan kata bahasa Jawa ragam Krama ke dalam tuturan bahasa Jawa ragam Ngoko Alus.
(74) Kardi Waskito :“Kowe ora perlu nggrantes lan ora perlu nggetuni lelakonmu, awit ora ana gunane. Anggepen iku pepeling saka Gusti Allah, supaya kowe bali marang dalan sing lurus. Malah kapara syukurana, awit iki ateges kowe isih diparingi kalodhangan kanggo mertobat, sateruse nggayuh kamulyan kang sejati, dudu kamulyan semu sing wis kok rasakake sasuwene iki. Mesthine kowe isih kelingan piwulang lan piweling sing tau dak wenehake biyen.”
„Kamu tidak perlu merasa sedih dan tidak perlu kecewa atas..., karena tidak ada gunanya. Anggap saja ini adalah peringatan dari Allah, agar kamu kembali kejalan yang lurus. Malah syukurilah, karena ini artinya kamu masih diberi kesempatan untuk bertobat, lalu meraih kemuliaan yang sejati, bukan kemuliaan yang semu yang pernah kamu rasakan selama
ini. Seharusnya kamu masih ingat pelajaran yang pernah aku berikan dulu.‟
Bu Rusti :”Inggih, Pak. Nyuwun pangestu mugi saged nglampahi kanthi sabar.”
„Iya, Pak. Minta doa restu semoga bisa melewati dengan sabar.‟ (MN/SWS/43/2015)
Pada data (74) merupakan dialog yang melibatkan Kardi Waskito dan Bu Rusti. Kardi waskito adalah mertua dari Bu Rusti. Dia menyemangati agar Bu Rusti tabah menhadapi cobaan yang sedang dialaminya. Dalam tuturan ini terdapat peristiwa campur kode yang ditunjukkan pada kata yang bercetak tebal. Peristiwa campur kode yang dilakukan oleh Kardi Waskito yaitu pada kata „diparingi‟ yang merupakan kata dalam bahasa Jawa ragam Krama. Campur kode ini disebut campur kode intern karena menyisipkan kata bahasa Jawa ragam Krama ke dalam tuturan bahasa Jawa ragam Ngoko Alus.
(75) Marta :“Ngojek wae Dhik Santi, dakdherekake. „Naik ojek saja dik Santi, saya antar.‟ Marsanti :”Kowe kok ngerti aku?”
„Kamu kenal dengan saya?‟ (MN/SWS/47/2015)
Pada data (75) adalah dialog antara Marta dan Marsanti. Dalam tuturan ini terdapat peristiwa campur kode yang ditunjukkan pada kata yang bercetak tebal. Peristiwa campur kode yang dilakukan oleh Marta yaitu pada kata „dakdherekake‟ yang merupakan kata dalam bahasa Jawa ragam Krama. Campur kode ini disebut campur kode intern karena menyisipkan kata bahasa Jawa ragam Krama ke dalam tuturan bahasa Jawa ragam Ngoko Alus.
(76) Marta :“Menenga wae, aja ngelek-elek awakmu dhewe. Kae sega tumpange wis digawa mrene, ayo gek didhahar.”
„Diamlah saja, jangan menjelek-jelekkan dirimu sendiri. Itu nasi tumpangnya sudah dibawa ke sini, ayo dimakan.‟
Marsanti :”Mung sega kaya ngene, kok enak banget ta.” „Hanya nasi seperti ini saja, kenapa enak sekali.‟ (MN/SWS/47/2015)
Pada data (76) merupakan dialog yang melibatkan Marta dan Marsanti. Dalam tuturan ini terdapat peristiwa campur kode yang ditunjukkan pada kata yang bercetak tebal. Peristiwa campur kode yang dilakukan oleh Marta yaitu pada kata „didhahar‟ yang merupakan kata dalam bahasa Jawa ragam Krama, hal ini bisa dibuktikan ketika kata „didhahar‟ diganti dengan kata „dipangan‟ dalam bahasa Jawa ragam Ngoko. Campur kode ini disebut campur kode intern karena menyisipkan kata bahasa Jawa ragam Krama ke dalam tuturan bahasa Jawa ragam Ngoko.
(77) Damarjati :“Ana dhawuh apa Bu? Oh aku kelingan... La rencanane Ibu piye... o, iya mengko dak pethuk nyang Jakarta Bu, aja nyepur... aku wis tuku mobil anyar... Toyota Avanza kaya mobilku biyen... iya... iya bu... sungkemku Bu.”
„Ada perintah apa Bu? Oh saya ingat...lantas rencana Ibu bagaimana...oh, iya nanti saya jemput ke Jakarta Bu, jangan naik kereta...saya sudah membeli mobil baru...Toyota Avanza seperti mobilku dulu...iya...iya Bu...salamku Bu.‟
Mbah Kardi :“Saka ibumu Le? Ana kabar apa?” „Dari ibu kamu Nak? Ada kabar apa?‟ (MN/SWS/49/2015)
Pada data (77) adalah dialog yang melibatkan Damarjati dan Mbah Kardi. Dalam tuturan ini terdapat peristiwa campur kode yang ditunjukkan pada kata yang bercetak tebal. Peristiwa campur kode yang dilakukan oleh Damarjati yaitu pada kata „mobilku‟ yang merupakan kata dalam bahasa Indonesia. Campur kode ini disebut campur kode intern karena menyisipkan kata bahasa Indonesia ke dalam tuturan bahasa Jawa ragam Ngoko.
(78) Marta :“Aku lagi mikir carane, Dhik. Wong aku ora ngingu
blumbang dhewe. Ning sadurunge dakcekelake grameh, ayo dakjak priksa kesehatan nyang puskesmas dhisik.”
„Saya sedang berpikir caranya, Dik. Kan saya tidak punya kolam sendiri. Tetapi sebelum saya tangkapkan gurameh, ayo saya ajak periksa kesehatan ke puskesmas dulu.
Marsanti :“Kok ndadak priksa kesehatan barang. Aku ki sehat ora apa- apa, mung sok-sok krasa rada mungkug-mungkug arep mukok.”
„Kenapa harus periksa segala. Aku iki sehat tidak kenapa-kenapa, hanya kadang-kadang agak mual-mual mau muntah.‟ (MN/SWS/50/2015)
Pada data (78) merupakan dialog yang melibatkan Marta dan Marsanti. Dalam tuturan ini terdapat peristiwa campur kode yang ditunjukkan pada kata yang bercetak tebal. Peristiwa campur kode yang dilakukan oleh Marsanti yaitu pada kata „kesehatan‟ yang merupakan kata dalam bahasa Indonesia. Campur kode ini disebut campur kode intern karena menyisipkan kata bahasa Indonesia ke dalam tuturan bahasa Jawa ragam Ngoko.
(79) Marta :“Iya, Dhik Damar. Saiki Dhik Santi iki dadi batihku. Lan bener ngendikamu mau, aku biyen wis tau kepethuk sliramu. Biyen aku ngojeg ing Jatinegara. Saiki macul ing sawah.” „Iya, Dik Damar. Sekarang Dik Santi ini jadi istriku. Dan benar apa yang kamu katakan tadi, aku dulu sudah pernah bertemu dengan mu. Dulu aku menjadi tukang ojeg di Jatinegara. Sekarang mencangkul di sawah.‟
Damarjati :“Ealah, dadi tangga desa. Lha terus, iki ana kersaapa, kok padha mrene?”
„Ealah, jadi tetangga desa. Lalu, ini ada mau apa, kok pada ke sini?‟
(MN/SWS/50/2015)
Pada data (79) adalah dialog antara Marta dan Damarjati. Dalam tuturan ini terdapat peristiwa campur kode yang ditunjukkan pada kata yang bercetak tebal. Peristiwa campur kode yang dilakukan oleh Marta yaitu pada kata „ngendikamu‟ yang merupakan kata dalam bahasa Jawa ragam Krama. Campur kode ini disebut campur kode intern karena menyisipkan kata bahasa Jawa ragam Krama ke dalam tuturan bahasa Jawa ragam Ngoko Alus.
(80) Marsanti :“Dadi papat kui rong kilo.” „Jadi empat itu dua kilo.‟
Damarjati :“Kosik, Dhik Santi. Dhuwitmu kuwi lebokno dhisik, mengko ndak kena angin kecemplung blumbang. Iki perlu penjelasan cetha lan ilmiyah.”
„Sebentar, Dik Santi. Uangmu itu masukkanlah dulu, nanti malah terkena angin lalu tercebur ke kolam. Ini perlu penjelasan yang jelas dan ilmiah.‟
Pada data (80) merupakan dialog yang melibatkan Marsanti dan Damrjati. Dalam tuturan ini terdapat peristiwa campur kode yang ditunjukkan pada kata yang bercetak tebal. Peristiwa campur kode yang dilakukan oleh Damarjati yaitu pada kata „penjelasan‟ yang merupakan kata dalam bahasa Indonesia. Campur kode ini disebut campur kode intern karena menyisipkan kata bahasa Indonesia ke dalam tuturan bahasa Jawa ragam Ngoko.
(81) Damarjati :”Yen bener Bu Mawar iku Sekarwangi. Iku tegese pancen wis pinesthi Sekar dudu jodohku. Ya wis aku nrima”
„Kalau benar Bu mawar itu adalah Sekarwangi. Itu artinya memang sudah ditakdirkan bukan jodohku. Ya sudah saya terima.‟
Marsanti :“Kosik. Kok ngono Mas? Nalare piye?
„Sebentar. Kok seperti itu Mas? Logikanya bagaimana?‟ (MN/SWS/51/2015)
Pada data (81) adalah dialog yang melibatkan Damarjati dan Marsanti. Dalam tuturan ini terdapat peristiwa campur kode yang ditunjukkan pada kata yang bercetak tebal. Peristiwa campur kode yang dilakukan oleh Marsanti yaitu pada kata „nalare‟ yang merupakan kata dalam bahasa Indonesia. Campur kode ini disebut campur kode intern karena menyisipkan kata bahasa Indonesia ke dalam tuturan bahasa Jawa ragam Ngoko.
(82) Marsanti :“Kosik. Kok ngono Mas? Nalare piye?