PROGRAM PERCEPATAN 10.000 MW TAHAP I
1) Capaian Kinerja Asumsi Makro
Kinerja sektor ESDM secara umum dapat dinilai dari capaian indikator kinerja sektor ESDM yang mencakup antara lain asumsi makro sektor ESDM, penerimaan sektor ESDM, subsidi energi, investasi, pasokan energi dan mineral, dan pembangunan daerah (Dana Bagi Hasil dan Community Development). Selain itu, capaian kinerja sektor ESDM juga dapat terlihat dari kegiatan atau capaian-capaian pembangunan yang berhasil dilaksanakan selama tahun berjalan seperti pembangunan infrastruktur, penandatangangan kontrak-kontrak ESDM, penyelesaian permasalahan, dan prestasi-prestasi kinerja strategis lainnya.
1) Capaian Kinerja Asumsi Makro
Asumsi makro merupakan indikator yang berpengaruh terhadap postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) secara keseluruhan. Beberapa asumsi makro APBN yang terkait langsung dengan sektor ESDM meliputi harga minyak mentah Indonesia
(Indonesian Crude Price/ICP), Lifting minyak bumi, Volume Bahan Bakar Minyak (BBM)
bersubsidi, Subsidi Bahan Bakar Nabati (BBN), Volume Liquified Petroleum Gas (LPG) bersubsidi, dan subsidi listrik. Khusus untuk subsidi listrik akan dibahas pada sub bab subsidi energi.
a) Harga Minyak Mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP)
Perkembangan rata-rata harga minyak mentah Indonesia (ICP) sejak tahun 2005 sampai dengan 2007 memperlihatkan kenaikan yang signifikan yaitu rata 15% per tahun, namun pada tahun 2008 meningkat tajam dari US$ 69,69/barrel menjadi US$ 101,31/barrel atau meningkat sebesar 45% ini disebabkan karena Faktor-faktor yang mempengaruhi tingginya harga minyak antara lain: musim dingin ekstrim di Eropa dan Amerika menyebabkan tingginya permintaan minyak mentah; krisis politik di Timur Tengah dan Afrika Utara; Melemahnya nilai tukar dollar terhadap beberapa mata uang utama dunia; menurunnya stok minyak mentah di Amerika Serikat dan Eropa, terhentinya suplai minyak dari jalur pipa Trans – Alaska akibat terjadi kebocoran. Selanjutnya pada tahun 2009 harga minyak mentah Indonesia kembali anjlog pada angka US$ 58,55/barrel. Kemudian pada akhir desember Pada akhir Desember 2010 kembali meningkat mencapai US$ 78/barrel. Ini disebabkan karena kebutuhan minyak dunia sebesar 88 Juta Barel per-hari, pasokan 89 juta barel per-per-hari, Kapasitas cadangan produksi OPEC sebesar 6 juta Barel per hari yang siap diproduksikan dalam waktu yang singkat, cadangan komersial di negara-negara OECD pada akhir Desember yang lalu dilaporkan masih dapat memasok selama 57,5 hari (lebih tinggi dari rata-rata 5 tahun yg lalu 54,6 hari). Trend perkembangan harga minyak mentah Indonesia dapat dilihat pada grafik dibawah ini.
Grafik 1.5. Perkembangan Harga Minyak Mentah Indonesia (ICP) 2 0 3 0 4 0 5 0 6 0 7 0 8 0 9 0 1 0 0 1 1 0 1 2 0 1 3 0 1 4 0 J a n F e b M a r Ap r M e i J un J uli A g s Se p O k t No v D e s U S $ p e r b a r e l 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011
Secara umum setiap kenaikan harga minyak mentah sebesar USD 1/barrel secara langsung akan menambah penerimaan negara sebesar Rp. 3,50 Triliun, tetapi subsidi akan bertambah sebesar Rp. 2,95 Triliun dan Dana Bagi Hasil Migas Rp. 0,49 Triliun, sehingga masih diperoleh surplus sebesar Rp. 0,05 Triliun (Rp. 50 Miliar). Selain dampak langsung pada penerimaan dan subsidi minyak, kenaikan penerimaan migas akan menaikkan total pendapatan APBN sehingga anggaran belanja untuk Pendidikan dan belanja ke daerah yang berupa dana alokasi umum (DAU) akan meningkat juga, sehingga secara menyeluruh keaikan harga minyak akan meningkatkan defisit APBN.
Dampak kenaikan harga minyak pada sektor riil, yaitu kenaikan harga BBM non subsidi yang dikonsumsi oleh sektor industri. Hal ini berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi makro, antara lain meningkatnya inflasi dan peluang penyalahgunaan BBM bersubsidi.
Untuk mengantisipasi dampak kenaikan harga minyak dunia perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
Peningkatan pengawasan penyediaan dan pendistribusian BBM bersubsidi untuk
mengantisipasi penyelewengan penggunaannya akibat kenaikan harga BBM non subsidi. Untuk menjaga agar kuota volume BBM bersubsidi tidak terlampaui (38,59 juta kilo liter).
Penerapan kebijakan pengaturan BBM bersubsidi yang telah disepakati dengan Komisi VII DPR RI tanggal 13 Desember 2010.
Untuk menjaga subsidi listrik tidak mengalami kenaikan dari rencana subsidi sebesar Rp. 40,7
Triliun, dapat dilakukan melalui penambahan pasokan gas untuk pembangkit PLN dan mempercepat penyelesaian program 10.000 MW tahap I.
Mengusulkan kepada Badan Anggaran DPR melalui Kementerian Keuangan untuk
mencadangkan anggaran dari windfall profit penerimaan migas untuk penanggulangan kenaikan subsidi BBM dan listrik serta kenaikan BBM non subsidi untuk sektor riil lainnya.
b) Lifting/Produksi Minyak Bumi
Perkembangan lifting minyak bumi sejak tahun 2000 sampai dengan 2010 dapat dilihat pada grafik di bawah ini, dimana sejak tahun 2000 sampai dengan tahun 2010 produksi/lifting
minyak minyak terus menurun dengan decline rate sekitar 10 persen per tahun. Namun,
decline rate ini dapat diturunkan menjadi sekitar 1 persen pada tahun 2006, sekitar 4 persen pada tahun 2007, dan akhirnya produksi minyak dapat meningkat sekitar 3 persen pada tahun 2008. Pada tahun 2010, produksi minyak terus menurun mencapai sebesar 944.9 ribu barel per hari.
0 2 0 0 4 0 0 6 0 0 8 0 0 1 0 0 0 1 2 0 0 1 4 0 0 1 6 0 0 2 0 0 0 2 0 0 1 2 0 0 2 2 0 0 3 2 0 0 4 2 0 0 5 2 0 0 6 2 0 0 7 2 0 0 8 2 0 0 9 2 0 1 0 Total 1 .4 1 3 1 .3 4 0 1 .2 4 9 1 .1 4 1 .0 9 1 .0 6 1 .0 0 5 9 5 4 ,4 9 7 6 ,8 9 4 8 ,8 9 4 4 ,9 M inyak 1 .2 7 2 1 .2 0 8 1 .1 1 7 1 .0 1 9 6 5 , 9 3 4 , 8 8 3 ,0 8 3 6 ,0 8 5 3 ,8 8 2 6 ,5 8 2 3 ,7 K o n d e nsat 1 4 1 ,4 1 3 1 ,9 1 3 1 ,8 1 3 3 , 1 2 8 , 1 2 7 ,3 1 2 2 ,6 1 1 8 ,4 1 2 3 ,0 1 2 2 ,3 1 2 1 ,2 Ri bu B ar el P e rh ar i
Upaya-upaya strategis yang telah dilakukan untuk mencapai target antara lain:
Mendorong optimasi produksi pada lapangan eksisting termasuk penerapan EOR.
Meningkatkan kehandalan peralatan produksi dengan preventive/predictive maintenance untuk mengurangi unplanned shutdown.
Melaksanakan percepatan pengembangan lapangan baru, dan lapangan /struktur idle Pertamina EP.
Meningkatkan koordinasi untuk penyelesaian masalah yang terkait dengan regulasi, perijinan dan tumpang tindih lahan dan keamanan.
c) Volume Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi
Sebagaimana diketahui, bahwa BBM bersubsidi terdiri dari 3 jenis; yaitu Premium, Minyak tanah dan Solar. Kuota volume BBM bersubsidi 2010 mencapai 38,59 juta KL. Pelaksanaan pendistribusian BBM bersubsidi dilaksanakan oleh PT Pertamina selaku badan usaha yang mendapatkan Penugasan Penyediaan dan Pendistribusian BBM bersubsidi (Public Service Obligation/PSO), dan untuk tahun 2010 PT AKR Corporindo dan PT Petronas Indonesia ikut mendampingi PT Pertamina dalam menyalurkan BBM bersubsidi untuk
beberapa wilayah di luar Jawa Bali meskipun dengan volume yang kecil. Jika dibandingkan dengan jumlah subsidi di tahun 2009, pada tahun 2010 ini jumlah subsidi mengalami peningkatan yang hampir 2 kali lipat, hal ini disebabkan karena meningkatnya jumlah konsumsi BBM akibat bertambahnya jumlah kendaraan bermotor. Subsidi energi yang terdiri dari subsidi untuk BBM/LPG dan listrik masih diterapkan dalam rangka mendukung daya beli masyarakat dan aktivitas perekonomian. Besarnya subsidi BBM/LPG bervariasi tiap tahunnya, tergantung dari konsumsi dan harga minyak. Grafik di samping ini menunjukkan perkembangan subsidi BBM dalam 5 tahun terakhir. secara ringkas grafik ini menunjukkan kecenderungan penurunan subsidi BBM dan juga pada subsidi listrik. Namun demikian khusus dalam tahun 2008 terdapat lonjakan subsidi yang disebabkan oleh kenaikan harga minyak mentah dunia sebagai akibat dari invasi Amerika ke Irak.
Jumlah subsidi BBM, BBN, dan LPG di tahun 2010 ini mencapai Rp
88,89,35 Triliun. Hal tersebut
disebabkan karena realisasi subsidi BBM, BBN dan LPG yang jauh dibawah kuota akibat penguatan nilai kurs rupiah.
d) Subsidi Bahan Bakar Nabati (BBN).
Dalam rangka mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan bahan bakar fosil yang merupakan bahan bakar tidak terbarukan, dan beralih untuk pengembangan potensi Bahan Bakar Nabati (BBN), Pemerintah melalui Perpres 5 Tahun 2006 menetapkan target penggunaan BBN sebesar 5% dari total konsumsi energi pada tahun 2025. Prospek pengembangan bahan bakar nabati sangat memungkinkan, terutama karena potensi ketersediaan lahan dan keanekaragaman bahan baku.
Dalam rangka diversifikasi energi, sejak tahun 2008 dilakukan pencampuran BBN dengan BBM dengan persentase tertentu, sebagaimana Permen ESDM No. 32 Tahun 2008 Penyediaan, Pemanfaatan Dan Tata Niaga Bahan Bakar Nabati (Biofuel) Sebagai Bahan Bakar Lain. BBN juga dicampurkan dengan BBM bersubsidi, dimana untuk BBN jenis biodiesel dicampurkan dengan minyak solar dan bioetanol dengan bensin Premium.
Subsidi BBN mulai diberlakukan di tahun 2011, untuk mengantisipasi harga BBN yang terkadang lebih tinggi dibandingkan BBM, maka diperlukan subsidi BBN. Berdasarkan APBN 2011 dan APBN-P 2011 dialokasikan subsidi BBN, sebagai berikut:
Bioetanol (1%) sebesar Rp 2.000/liter dengan kuota sebesar 4 ribu Kilo Liter , dan subsidi
sebesar Rp.8 miliar.
Biodiesel (5%) sebesar Rp. .2.000/liter dengan kuota sebesar 600 ribu Kilo Liter , dan
subsidi sebesar Rp. 1,3 triliun.
Realisasi subsidi BBN untuk tahun 2011 diperkirakan mencapai Rp. 673,15 miliar dengan
indeks pasar bioethanol terlalu rendah, sehingga tidak ada produsen yang memasok ke Pertamina.
Upaya yang dilakukan Pemerintah, untuk mengurangi subsisi BBM adalah sebagai berikut:
Pengalihan Subsidi Harga ke Subsidi Langsung melalui revitalisasi Program Perlindungan Dan Kesejahteraan Masyarakat
Pengurangan Volume (Q) BBM tertentu, dengan cara: menghemat pemakaian BBM; mengembangkan energi pengganti (alternatif) BBM (BBG dan Bahan Bakar Lain), dan subsidi BBM hanya untuk target konsumen dilaksanakan dengan Penerapan Sistem Distribusi Tertutup
Pemilihan Harga Patokan BBM yang tepat dengan cara: menekan biaya distribusi BBM, dan menghitung harga keekonomian penyediaan BBM
e) Volume Liquified Petroleum Gas(LPG) Bersubsidi
Dalam rangka melanjutkan program konversi minyak tanah ke LPG, berdasarkan APBN dan APBN-P tahun 2011 direncakanan isi ulang/refillLPG 3 kg sebesar 3,52 juta Metrik Ton. Realisasi distribusi isi ulang/refill sebesar 2.948 ribu MT status November 2011 atau sesuai target.
Program konversi yang telah dilaksanakan sejak tahun 2007 ini, telah berhasil mendistribusikan paket untuk 53.287.342 rumah tangga, dan refill sebesar 7.413 ribu MT.*)
Nett penghematan setelah dikurangi biaya konversi s.d Juli 2011 mencapai Rp. 37,54 triliun.
Uraian Satuan 2007 2008 2009 2010 2011 Akumulasi 2012 APBN/ APBN-P Perk. Realisasi APBN
1. Distribusi Paket Perdana Ribu Paket 3.976 15.078 24.355 4.715 - - 53.287*)
-2. Isi Ulang/Refill Ribu MTon 21 547 1.767 2.714 3.522 3.283 7.997**) 3.606
3. Nett Penghematan Rp. Triliun 37,55***)
f) Subsidi Listrik
Realisasi subsidi listrik tahun 2010 lebih tinggi dari rencana yang ditargetkan, yaitu dari Rp 55,11 Triliun menjadi Rp 62,81 Triliun atau mengalami peningkatan sebesar 14%. Hal ini antara lain disebabkan oleh:
Kenaikan penjualan tenaga listrik dari target 143,26 TWh menjadi 146,19 TWh;
Kenaikan penggunaan BBM dari target 6.420.058 KL menjadi 9.392.894 KL, yang
disebabkan antara lain: keterlambatan penyelesaian PLTU Batubara, program mengatasi pemadaman dalam tahun 2010, dan tidak tercapainya volume pasokan gas alam sesuai target.
Adanya kekurangan pembayaran subsidi listrik pada tahun 2009 yang harus dibayar di tahun 2010.
2).Capaian Kinerja Strategis
Selain capaian kinerja berdasarkan asumsi makro, Kinerja sektor ESDM secara umum juga dapat dinilai dari capaian strategis kinerja sektor ESDM yang mencakup penerimaan sektor ESDM, subsidi energi, investasi, pasokan energi dan mineral, dan pembangunan daerah (Dana Bagi Hasil
dan Community Development). Selain itu, capaian kinerja sektor ESDM juga dapat terlihat dari
kegiatan atau capaian-capaian pembangunan yang berhasil dilaksanakan selama tahun berjalan seperti pembangunan infrastruktur, penandatangangan kontrak-kontrak ESDM, penyelesaian permasalahan, dan prestasi-prestasi kinerja strategis lainnya. Secara rinci capaian strategis kinerja sektor ESDM selama tahun 2006 sampai dengan 2010 dapat diuraikan sebagai berikut:
a) Penerimaan Sektor ESDM
Sektor Energi dan Sumber Daya Mineral masih menjadi sumber penggerak utama roda perekonomian nasional. Penerimaan negara sektor ESDM berasal dari 3 sumber yaitu dari sub sektor migas, pertambangan umum, dan penerimaan negara bukan pajak dari sub sektor lainnya yaitu dari hasil kegiatan pelayanan jasa penelitian dan pengembangan dan hasil kegiatan pelayanan jasa pendidikan dan pelatihan ESDM
Sejak tahun 2006 sampai dengan 2008 sektor ESDM memperlihatkan pertumbuhan yang positif dalam hal realisasi penerimaan Negara dengan pertumbuhan rata-rata sebesar 25%. Namun pada tahun 2009 penerimaan negara mengalami penurunan yang cukup tajam jika dibandingkan dengan penerimaan Negara ditahun 2008 hingga mencapai 47%. Penurunan tersebut terjadi
karena menurunnya
produksi (lifting) minyak
bumi pada tahun 2009 dan
harga rata-rata minyak
dunia yang mengalami
penurunan sampai dengan harga US$ 37/barel dan pada akhir tahun 2009 meningkat menjadi US$ 65/barel, harga tersebut jauh
lebih rendah jika
dibandingkan dengan harga pada tahun 2008 yang
mencapai US$
130-140/barel. Selanjutnya pada tahun 2010, penerimaan negara sektor ESDM meningkat kembali sebesar 21% dari penerimaan negara di tahun sebelumnya.
b) Investasi Sektor ESDM
Dalam rangka menjamin ketersediaan energi dan sumber daya mineral secara merata dan berkesinambungan dibutuhkan adanya pertumbuhan jumlah investasi. Nilai investasi sektor ESDM berasal dari sub sektor Migas, Pertambangan Umum dan Ketenagalistrikan.
Selama kurun waktu 5 tahun yaitu dari tahun 2006 sampai dengan 2010, trend kinerja peningkatan jumlah investasi sektor ESDM menunjukkan peningkatan yang signifikan, dengan rata-rata pertumbuhan 11%, kecuali di tahun 2009 terjadi sedikit penurunan jumlah investasi sebesar 0,4%, penurunan
ini disebabkan karena
adanya penundaan rencana
kegiatan investasi di
berbagai perusahaan yang antara lain disebabkan oleh
Grafik 1.12. Nilai Investasi Sektor ESDM
akibat tumpang-tindih dan kendala izin AMDAL yang diterbitkan daerah. Grafik realisasi nilai investasi selama 6 tahun terakhir seperti yang terlihat pada grafik disamping.
c) Subsidi Energi
Salah satu outcomeakhir yang ingin dicapai oleh KESDM adalah berkurangnya subsidi BBM guna mengurangi beban APBN. Grafik di bawah ini menunjukkan perkembangan subsidi BBM dalam 5 tahun terakhir. Secara ringkas
grafik di bawah ini menunjukkan kecenderungan penurunan subsidi BBM. Namun demikian khusus dalam tahun 2008 terdapat lonjakan subsidi yang disebabkan oleh kenaikan harga minyak mentah dunia sebagai akibat dari invasi Amerika ke Irak. Kemudian di tahun 2009 terlihat kondisi kecenderungan penurunan subsidi yang tidak hanya terjadi
pada BBM tetapi juga pada subsidi listrik, hal tersebut disebabkan karena realisasi subsidi BBM, BBN dan LPG yang jauh dibawah kuota akibat penguatan nilai kurs rupiah. Selanjutnya jumlah subsidi di tahun 2010 ini kembali meningkat jika dibandingkan dengan jumlah subsidi di tahun 2009 hampir 2 kali lipat, hal ini disebabkan karena meningkatnya jumlah konsumsi BBM akibat bertambahnya jumlah kendaraan bermotor.
d) Pasokan Energi Dan Mineral
Salah satu peran dominan sektor ESDM dalam pembangunan nasional adalah menjamin pasokan energi dan mineral dalam negeri, baik untuk bahan bakar maupun bahan baku. Untuk mewujudkan hal tersebut, pada dasarnya Indonesia memiliki sumber energi yang beranekaragam dan jumlahnya memadai. Hingga saat ini, minyak bumi masih merupakan tulang punggung energi Indonesia, meskipun cadangannya terbatas dan terdapat beraneka ragam sumber energi non-BBM yang penggunaannya semakin digalakan oleh Pemerintah.
Untuk mendukung peningkatan kebutuhan energi nasional yang terus bertumbuh maka dibutuhkan adanya peningkatan produksi energi dan sumber daya mineral secara berkelanjutan. Masing-masing capaian/realisasi produksi ESDM yang terdiri dari Minyak Bumi, Gas Bumi, Batubara dan Mineral seta Panas Bumi dalam 5 tahun terakhir diuraikan sebagai berikut:
Minyak Bumi
Selama lima tahun terakhir (2006 -2010) produksi minyak bumi cenderung terus menurun dengan rata-rata penurunan sebesar 2% per tahun. Penurunan produksi minyak utamanya disebabkan karena usia industri
minyak bumi yang sudah lebih dari 100 tahun dan sifat minyak bumi yang habis pakai menyebabkan penurunan produksi secara alamiah. Hal tersebut perlu diimbangi dengan penemuan cadangan melalui intensifikasi eksplorasi migas. Upaya-upaya yang telah dilakukan tersebut berhasil menekan penurunan lifting/produksi minyak bumi pada
tingkat 3% yang seharusnya secara alamiah sekitar 12% untuk tahun 2009– 2010.
Penurunan trend produksi minyak bumi sesungguhnya juga terjadi secara global. Produksi minyak bumi dunia sudah mulai tergantikan dengan energi fosil lainnya seperti batubara, gas bumi dan unconventionalgas seperti CBM, shale gas, gas hydratesserta renewable energy.
Cadangan minyak bumi pada tahun 2010 sebesar 7.764,48 MMSTB, yang terdiri dari cadangan terbukti (proven) sebesar 4.230,17 MMSTB dan cadangan potensial sebesar 3.534,31 MMSTB. Dengan tingkat produksi seperti saat ini, maka berdasarkan perbandingan antara total cadangan minyak bumi dengan tingkat produksi minyak saat ini diperkirakan cadangan minyak bumi masih dapat bertahan sekitar 23 tahun (dengan asumsi tidak ada penemuan cadangan baru).
0 200 400 600 800 1000 1200 1400 1600 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Total 1.413 1.340 1.249 1.14 1.09 1.06 1.005 954,4 976,8 948,8 944,9 Minyak 1.272 1.208 1.117 1.01 965, 934, 883,0 836,0 853,8 826,5 823,7 Kondensat 141,4 131,9 131,8 133, 128, 127,3 122,6 118,4 123,0 122,3 121,2 R ib u B a re l P e rh a ri
Grafik 1.14. Produksi Minyak Bumi
Gas Bumi
Sebelum tahun 2000-an, kondisi pemanfaatan gas bumi tidak seperti saat ini, dimana kebutuhan domestik sangat tinggi. Pada saat itu, pemanfaatan gas bumi dari cadangan besar biasanya untuk ekspor, sedangkan gas bumi dari cadangan yang kecil untuk domestik. Selain itu, permintaan gas bumi domestik pada era tersebut juga masih sangat rendah, sehingga kontrak-kontrak pengembangan gas bumi lebih dominan untuk ekspor. Kontrak-kontrak gas bumi yang ditandatangani pada waktu itu merupakan kontrak jangka panjang. Maka, ketika saat ini dimana permintaan domestik relatif tinggi, kontrak-kontrak tersebut tidak dapat serta merta diubah untuk domestik, karena dapat berakibat pada pelanggaran kontrak (default). Saat ini kebijakan alokasi gas lebih mengutamakan untuk pasokan domestik, cadangan besar dapat digunakan baik untuk domestik maupun ekspor dan cadangan kecil untuk domestik. Dari tahun ke tahun, ekspor gas sudah mulai dikurangi, sebaliknya pemanfaatan domestik terus diintensifkan. Trend pemanfaatan gas bumi saat ini mulai meningkat untuk domestik dibandingkan ekspor sebagaimana grafik terlampir, hal tersebut menunjukkan keberpihakan untuk pemenuhan domestik. Berdasarkan Perjanjian Jual Beli Gas Bumi (PJBG) dari tahun 2003-2010, porsi untuk domestik cukup besar yaitu sebesar 73,7%.
Adapun perkembangan produksi gas bumi selama 5 tahun terakhir berfluktuasi, pada tahun 2007 produksi gas bumi mengalami penurunan sebesar 5% dari tahun 2006, namun di tahun berikutnya cenderung terus meningkat, dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 7%. Meskipun demikian, kemampuan produksi gas bumi ini belum dapat memenuhi kebutuhan gas bumi
yang terus meningkat. Upaya pengembangan lapangan gas baru cenderung menemukan cadangan yang mengecil pada mayoritas temuan lapangan gas. Sementara, upaya pengembangan infrastruktur gas bumi masih sangat terbatas. Total Cadangan gas bumi pada tahun 2010 adalah sebesar 157.14 TSCF. 0 1000 2000 3000 4000 5000 6000 7000 8000 9000 10000 M M S C FD Produksi 7,927 7,690 8,318 8,644 8,278 8,179 8,093 7,686 7,883 8,386 9,336 Pemanfaatan 7,471 7,188 7,890 8,237 7,909 7,885 7,785 7,418 7,573 7,912 8,389 Dibakar 456 502 428 407 369 294 308 268 310 474 507 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010
Tabel 1.5. Supplydan Demand Produksi Batubara
Cadangan tersebut mengalami penurunan sebesar -2.50 TSCF (1.56%) dibandingkan cadangan gas bumi tahun 2009 sebesar 159.64 TSCF. Penurunan sebesar 2.50 TSCF tersebut terutama berasal dari penurunan cadangan pada beberapa KKKS
seperti Pertamina Region Sumatera, Total Indonesie, BP Wiriagar Ltd., ConocoPhillips (Grissik), Conoco Phillips, BP West Java, Star Energy (Kakap), CNOOC dan S. Persada Oil. Dengan cadangan gas bumi sebesar 157.14 TSCF dan tingkat produksi sebesar 2,9 TSCF, maka diharapkan dapat memasok energi hingga 50 tahun ke depan.
Batubara
Produksi batubara setiap tahunnya memperlihatkan pertumbuhan yaitu dengan rata-rata sebesar 9%. Pertumbuhan ini menunjukkan trend yang positif dalam rangka meningkatkan perekonomian nasional, karena secara tidak langsung juga meningkatkan penerimaan Negara. Secara lengkap peningkatan supply dan demand produksi batubara sejak 2006-2010 setiap tahunnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Supply / Demand
Realisasi (Juta Ton)
2006 2007 2008 2009 2010
Demand 48 54 69 56 84
Supply/Produksi 193 217 236 254 270
Ekspor 145 163 160 198 186
Pemanfaatan batubara untuk domestik sebagai energi alternatif pengganti BBM diproyeksikan akan terus meningkat seiring dengan meningkatnya kebutuhan energi listrik yang menggunakan batubara sebagai bahan bakar pembangkit (Proyek Percepatan Pembangunan Pembangkit Listrik 10.000 MW). Hasil pemanfaatan batubara untuk kebutuhan domestik selain digunakan untuk kebutuhan listrik, juga digunakan untuk pabrik semen, usaha tekstil, kertas, dan briket.
Gambar 1.10. Peta Sumber Daya dan Cadangan Batubara
Mineral
Indonesia telah lama dikenal dunia sebagai negara penghasil timah, nikel, bauksit, tembaga, emas dan perak. Produksi Mineral di Indonesia dikelola oleh beberapa perusahaan besar, seperti: PT. Freeport Indonesia yang menghasilkan tembaga, emas dan perak; PT Antam, Tbk yang menghasilkan bijih nikel, emas dan perak; PT Timah, Tbk menghasilkan timah; dan PT. Inco, Tbk menghasilkan nikel mate.
Perkembangan produksi mineral sejak tahun 2005 sampai dengan 2010 dan peta sebaran sumber daya dan cadangan mineral, dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Listrik
Perkembangan total kapasitas terpasang pembangkit tenaga listrik nasional selama 5 tahun
terakhir mengalami
pertumbuhan rata-rata sebesar 4% per tahun. Sampai dengan akhir tahun 2010, total kapasitas terpasang pembangkit tenaga listrik nasional adalah sebesar 33.823 MW yang terdiri atas pembangkit milik PT PLN (Persero) sebesar 26.212 MW, IPP sebesar 6.231 MW dan PPU sebesar 1.380
MW. Perkembangan
kapasitas terpasang pembangkit listrik
No . PULAU 2006 2007 2008 2009 2010 1 Sumatera 4,275 4,615 4,951 5,300 5,909 2 Jawa-Bali 22,387 23,046 23,137 23,253 23,906 3 Kalimantan 1,000 1,121 1,178 1,277 1,602 4 Sulawesi 1,053 1,082 1,198 1,166 1,580 5 Nusa Tenggara 273 267 265 252 282 6 Maluku 197 180 182 182 233 7 Papua 170 166 168 171 311 NASIONAL 29,354 30,477 31,077 31,602 33,823
Gambar 1.11. Peta Sebaran Sumber Daya dan Cadangan Mineral Indonesia
per pulau dapat dilihat pada tabel di samping. Secara lengkap perkembangan pembangunan di bidang ketenagalistrikan sejak tahun 2006 sampai dengan tahun 2010 dapat dilihat pada tabel di bawah ini: Uraian Satua n 2006 2007 2008 2009 2010 Rasio Elektrifikasi % 63 64.34 65.1 65.79 67.15 Jumlah Desa Berlistrik Desa 54.136 65.816 66.039 70.511 70.822 Jumlah KK Berlistrik Ribu 33.118 35.630 36.230 37.950 39.696 Total Kapasitas Terpasang MW 29,354 30,477 31,077 31,602 33,823 PLN MW 24.675 24.925 25.451 25.751 26.212 IPP MW 3.222 3.984 1.159 4.269 6.231 PPU MW 526 796 916 920 1.380 Produksi Listrik GWh 104.469 111.241 118.047 120.457 168.665,2 1 PLN GWh 28.640 31.199 31.389.66 35.015 124.897,45 IPP GWh 133.108 142.441 149.437 155.472 43.767,76
Energi Baru Terbarukan
Ketergantungan terhadap kebutuhan energi dari waktu ke waktu mengalami peningkatan, sedangkan kemampuan ketersediaan sumberdaya energi konvensional dari waktu ke waktu mengalami penurunan akibat ekploitasi untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Dalam rangka mengurangi ketergantungan pada energi konvensional, perlu adanya kegiatan diversifikasi atau penganekaragaman sumber daya energi agar ketersediaan energi terjamin. Diversifikasi energi dilakukan melalui upaya pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT), seperti panas bumi, tenaga air, energi surya, energi angin, biomassa, dan energi nuklir. Dengan memanfaatkan EBT, ketergantungan akan penggunaan bahan bakar fosil di dalam sistem penyediaan energi nasional dapat menurun. Selain itu, isu pemanasan global yang dikaitkan dengan penggunaan bahan bakar fosil merupakan salah satu alasan untuk menurunkan tingkat konsumsi bahan
bakar fosil. Melalui Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2006, EBT diharapkan dapat berperan minimal 17% dalam pemanfaatan energi nasional pada tahun 2025.