PROGRAM PERCEPATAN 10.000 MW TAHAP I
5) Pengendalian Subsidi Energi
Subsidi energi yang terdiri dari BBM/LPG dan listrik masih diterapkan dalam rangka meningkatkan daya beli masyarakat dan mendukung aktifitas perekonomian. Di sisi lain subsidi energi juga mengambil porsi yang cukup besar dalam APBN. Dapat dibayangkan jika anggaran subsidi tersebut dipergunakan untuk pembangunan sektor lain yang lebih penting, seperti transportasi umum, pendidikan, kesehatan, subsidi pangan, perawatan/pembangunan infrastruktur, jalan, dan bantuan sosial, tentu dampak ekonominya juga baik. Namun perlu disadari bahwa pergeseran subsidi energi menjadi subsidi langsung atau untuk anggaran sektor lain, memiliki dampak politik dan sosial yang lebih tinggi. Sehingga upaya perlu dilakukan secara bertahap.
Untuk tahun 2011, subsidi energi dialokasikan sebesar Rp 195,2 triliun yang terdiri dari subsidi BBM/LPG sebesar Rp. 129,7 triliun dan subsidi listrik sebesar Rp. 65,5 triliun. Sampai dengan akhir Desember 2011,
diperkirakan subsidi energi akan melampaui target, dengan rincian subsidi BBM/LPG akan mencapai Rp. 168,2 triliun atau 130% dari alokasi pada APBN-P 2011.
2006 2007 2008 2009 2010 2011
Total Subsidi Energi 98 ,1 121,1 221,1 118,5 140,4 261 ,5
Penerimaan sektor ESDM 222,1 225,2 349,5 238 ,0 289 ,3 352,2
0 50 100 150 200 250 300 350 400 Rp . T ril iun
Secara umum, lebih tingginya realisasi subsidi energi tersebut disebabkan karena lebih tingginya perkiraan realisasi ICP rata-rata dari APBN-P 2011 sebesar 95 USD/Barrel menjadi 111 USD/Barrel. Selain itu, kurs yang semula diperkirakan sebesar Rp. 8.700,- (APBN-P 2011) diperkirakan akan menjadi Rp. 8.734,-. Namun demikian, meskipun subsidi energi lebih tinggi dari target APBN-P 2011, tetapi kontribusi sektor ESDM terhadap penerimaan nasional masih jauh lebih tinggi dibandingkan realisasi subsidi energi.
a) Subsidi BBM
Berdasarkan UU No. 22 tahun 2011 tentang APBN 2012, Pemerintah diminta untuk melakukan pengendalian subsidi BBM melalui: Pengalokasian BBM bersubsidi secara lebih tepat sasaran yang dilakukan dengan membatasi jumlah pengguna BBM bersubsidi serta memberikan
alternatif bahan bakar sebagai pengganti BBM bersubsidi; dan Pengendalian konsumsi BBM bersubsidi yaitu dengan menurunkan volume konsumsi (kuota) BBM bersubsidi.
Pemerintah menyadari bahwa subsidi yang sebetulnya merupakan hak masyarakat ekonomi lemah ke bawah, penyalurannya masih banyak yang kurang tepat sasaran, sehingga juga dinikmati oleh masyarakat yang mampu secara ekonomi. Oleh karena itu, kebijakan penataan ulang sistem penyaluran subsidi yang telah dilakukan pada tahun 2011 dan akan tetap dilanjutkan dalam tahun 2012. Volume BBM bersubsidi, dikendalikan antara lain melalui: optimalisasi program konversi minyak tanah ke LPG tabung 3 kg; peningkatan pemanfaatan energi alternatif seperti Bahan Bakar Nabati (BBN) dan Bahan Bakar Gas (BBG); serta pembatasan volume konsumsi secara bertahap.
Realisasi volume BBM bersubsidi s.d. November 2011 sebesar 38 juta KL dan sampai dengan akhir Desember 2011 diperkirakan mencapai lebih dari 41 juta KL. Lebih tingginya realisasi subsidi BBM utamanya disebabkan karena konsumsi BBM bersubsidi mencapai 41 juta KL atau lebih tinggi dari kuota sebesar 40 juta KL. Meskipun upaya-upaya pengawasan dan sosialisasi BBM bersubsidi telah dilakukan namun belum bisa menahan tingginya konsumsi BBM yang dipicu oleh meningkatnya pertumbuhan kendaraan dari yang diperkirakan dan tumbuhnya pertumbuhan ekonomi Indonesia. Namun demikian, Pemerintah terus menerus melakukan upaya pengendalian BBM bersubsidi dimana rencananya akan dilakukan program pengaturan BBM bersubsidi pada tahun 2012 yang persiapannya sudah mulai dilakukan sejak tahun 2010 dan sepanjang tahun 2011 ini.
Over kuota terjadi pada jenis BBM Premium dan Solar berturut-turut sekitar 3% dan 0,1% yang disebabkan antara lain karena pertumbuhan jumlah kendaraan di atas rata-rata, tingginya harga minyak dunia yang menyebabkan disparitas harga BBM bersubsidi dengan non-subsidi sehingga memicu konsumen bermigrasi dari BBM non-subsidi ke BBM bersubsidi dan penyalahgunaan BBM utamanya ke industri. Sedangkan untuk minyak tanah, telah berhasil dilakukan penghematan konsumsi sebesar 3,4% dari kuota APBN-P. Hal tersebut utamanya karena berhasilnya program konversi minyak tanah ke LPG.
b) Subsidi listrik
Subsidi listrik yang diperkirakan mencapai Rp. 93,3 triliun atau 142% lebih tinggi dari APBN-P 2011.Lebih tingginya realisasi subsidi listrik tahun 2011 dibandingkan APBN-P 2011, juga disebabkan karena target pasokan gas sebesar 320 TBTU hanya tercapai sebesar 284 TBTU. Selain itu, mundurnya penyelesaian beberapa PLTU pada Proyek 10.000 MW Tahap I, repowering PLTU Batubara reguler, dan
menurunnya capacity factor, sehingga target semula pasokan batubara sebesar 37 juta ton diperkirakan terealisasi 29 juta.
Faktor-faktor yang mempengaruhi besaran subsidi listrik antara lain: Nilai tukar Rupiah, Harga crudi oil (ICP), Pertumbuhan penjualan listrik, Susut jaringan, Marjin usaha; Biaya Pokok
Penyediaan (BPP) Tenaga Listrik; dan Tarif Tenaga Listrik.
c) Subsidi BBN
Prospek pengembangan bahan bakar nabati sangat memungkinkan, terutama karena potensi ketersediaan lahan dan keanekaragaman bahan baku. Namun, untuk mengantisipasi harga BBN yang terkadang lebih tinggi dibandingkan BBM, maka diperlukan subsidi BBN. Berdasarkan APBN 2011 dan APBN-P 2011 dialokasikan subsidi BBN, sebagai berikut:
Bioetanol (1%) sebesar Rp 2.000/liter dengan kuota sebesar 4 ribu Kilo Liter , dan subsidi sebesar Rp.8 miliar.
Biodiesel (5%) sebesar Rp. .2.000/liter dengan kuota sebesar 600 ribu Kilo Liter , dan subsidi sebesar Rp. 1,3 triliun.
Realisasi subsidi BBN untuk tahun 2011 mencapai Rp. 673,15 miliar dengan volume BBN yang tersalurkan sebesar 336,6 ribu Kilo Liter atau 56% terhadap target tahun 2011. Sedangkan produksi bioetanol belum dapat direalisasikan sama sekali karena harga indeks
Tabel 1.3. Program Konversi Minyak Tanah ke LPG
Gambar 1.7. Sarana dan Fasilitas Pendistribusian LPG
d) Subsidi LPG
Dalam rangka melanjutkan program konversi minyak tanah ke LPG, berdasarkan APBN dan APBN-P tahun 2011 direncakanan isi ulang/refillLPG 3 kg sebesar 3,52 juta Metrik Ton. Realisasi distribusi isi ulang/refill sebesar 3,28 juta MT status November 2011 atau mencapai 98,2% dari target. Program konversi yang telah dilaksanakan sejak tahun 2007 ini, telah berhasil mendistribusikan paket sebanyak 53.287.342 untuk rumah tangga, dan refill sebesar 7.997 ribu MT.Nett penghematan setelah dikurangi biaya konversi s.d Juli 2011 mencapai Rp. 37,55 triliun.
‘ Uraian Satuan 2007 2008 2009 2010 2011 Akumul asi APBN-P Realisasi Distribusi Paket Perdana Ribu Paket 3.976 15.078 24.355 4.715 - - 53.287
Isi Ulang/Refill Ribu MTon 21 547 1.767 2.714 3.522 3.283 7.997 Nett Penghematan Rp. Triliun 37,55
1.2. Ringkasan Kinerja Sektor ESDM Tahun 2006-2010 �
Kinerja sektor ESDM secara umum dapat dinilai dari capaian indikator kinerja sektor ESDM yang mencakup antara lain asumsi makro sektor ESDM, penerimaan sektor ESDM, subsidi energi, investasi, pasokan energi dan mineral, dan pembangunan daerah (Dana Bagi Hasil dan Community Development). Selain itu, capaian kinerja sektor ESDM juga dapat terlihat dari kegiatan atau capaian-capaian pembangunan yang berhasil dilaksanakan selama tahun berjalan seperti pembangunan infrastruktur, penandatangangan kontrak-kontrak ESDM, penyelesaian permasalahan, dan prestasi-prestasi kinerja strategis lainnya.