• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.3. Narkoba

2.3.10. Cara Menghindari Jeratan Narkoba

Cara yang dapat dilakukan untuk menghindari jeratan Narkoba

1) Dapatkan dahulu informasi mengenai ketegantungan tentang bahaya narkoba kepada ahlinya atau melalui media seperti koran, majalah, seminar- seminar dan lain-lain.

2) Persiapan diri untuk menolak apabila ditawari.

3) Belajar berkata tidak untuk narkoba.

4) Memiliki cita-cita dalam hidup untuk masa depan.

5) Lakukan kegiatan positif yang berguna untuk orang tua dan sekeliling.

6) Kuatkan iman dan ketakwaan kapada Tuhan yang Maha Esa (Kartono, 2006).

2.3.11. Ciri-ciri Berisiko Tinggi Untuk Menjadi Pengguna Narkoba Ciri-ciri orang yang berisiko tinggi untuk menjadi pengguna Narkoba 1) Orang yang mudah kecewa.

2) Orang tidak sabaran.

3) Orang suka menentang aturan.

4) Orang yang suka mengambil resiko yang berlebihan.

5) Orang yang cepat bosan.

6) Orang yang sudah menunjukkan perilaku anti sosial sejak usia dini.

7) Pengaruh terhadap keluarga korban narkoba.

8) Kurang sopan santun dan melawan kepada orang tua (Alifia, 2008).

Tabel 1.1. Variabel Yang Diteliti

Berdasarkan variabel yang diteliti tersebut, terlihat bahwa pengukuran faktor penggunaan narkoba pada pria menyangkut ketersediaan narkoba, lingkungan dan individu. Tersedianya narkoba adalah ketersediaan dan kemudahan untuk mendapatkan narkoba. Lingkungan adalah menyangkut keluarga dan masyarakat. Individu adalah menyangkut harga diri. Masing-masing defenisi operasional tersaji dalam bab metode penelitian.

2.4. Sejahtera

2.4.1. PengertianSejahtera

Istilah kesejahteraan bukanlah hal yang baru, baik dalam wacana global maupun nasional. Dalam membahas analisis tingkat kesejahteraan, tentu kita harus mengetahui pengertian sejahtera terlebih dahulu.

Kesejahteraan itu meliputi keamanan, keselamatan, dan kemakmuran.

Pengertian sejahtera menurut W.J.S Poerwadarminta adalah suatu keadaan yang aman, sentosa, dan makmur. Dalam arti lain jika kebutuhan akan

Faktor penggunaan narkoba pada pria 1. Tersedianya Narkoba

-Ketersediaan dan kemudahan dalam memperoleh Narkoba

keamanan, keselamatan dan kemakmuran ini dapat terpenuhi, maka akan terciptalah kesejahteraan.Menurut Undang-undang No 11 Tahun 2009, tentang Kesejahteraan Masyarakat, kesejahteraan masyarakat adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan material, spiritual, dan sosial warga negara agar dapat hidup layak dan mampu mengembangkan diri, sehingga dapat melaksanakan fungsi sosialnya. Dari Undang–Undang di atas dapat kita cermati bahwa ukuran tingkat kesejahteraan dapat dinilai dari kemampuan seorang individu atau kelompok dalam usaha nya memenuhi kebutuhan material dan spiritual nya. Kebutuhan material dapat kita hubungkan dengan pendapatan yang nanti akan mewujudkan kebutuhan akan pangan, sandang, papan dan kesehatan. Kemudian kebutuhan spiritual kita hubungkan dengan pendidikan, kemudian keamanan dan ketentaraman hidup.

Menurut Mosher (1987), hal yang paling penting dari kesejahteraaan adalah pendapatan, sebab beberapa aspek dari kesejahteraan rumah tangga tergantung pada tingkat pendapatan. Pemenuhan kebutuhan dibatasi oleh pendapatan rumah tangga yang dimiliki, terutama bagi yang berpendapatan rendah. Semakin tinggi pendapatan rumah tangga maka persentase pendapatan untuk pangan akan semakin berkurang. Dengan kata lain, apabila terjadi peningkatan tersebut tidakmerubah pola konsumsi maka rumah tangga tersebut sejahtera. Sebaliknya, apabila peningkatan pendapatan rumah tangga dapat merubah pola konsumsi maka rumah tangga tersebut tidak sejahtera. Menurut konsep lain, kesejahteraan bisa di ukur melalui dimensi moneter maupun non moneter, misalnya ketimpangan distribusi pendapatan, yang didasarkan pada perbedaan tingkat pendapatan penduduk di suatu daerah. Kemudian masalah kerentanan (vulnerability),

yang merupakan suatu kondisi dimana peluang atau kondisi fisik suatu daerah yang membuat seseorang menjadi miskin atau menjadi lebih miskin pada masa yang akan datang. Hal ini merupakan masalah yang cukup serius karena bersifat struktural dan mendasar yang mengakibatkan risiko-risiko sosial ekonomi dan akan sangat sulit untuk memulihkan diri (recover).Kerentanan merupakan suatu dimensi kunci dimana perilaku individu dalam melakukan investasi, pola produksi, strategi penanggulangan dan persepsi mereka akan berubah dalam mencapai kesejahteraan.

Kesejahteraan pada intinya mencakup tigakonsepsi, yaitu:

1. Kondisi kehidupan atau keadaan sejahtera, yakni terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan jasmaniah, rohaniah, dan sosial.

2. Institusi, arena atau bidang kegiatan yang melibatkan lembaga kesejahteraan sosial dan berbagai profesi kemanusiaan yang menyelenggarakan usaha kesejahteraan sosial dan pelayanan sosial.

3. Aktivitas, yakni suatu kegiatan-kegiatan atau usaha yang terorganisir untuk mencapai sejahtera.

2.5. Penelitian Yang Relevan

1. Dampak Stigma Negatif dan Diskriminasi Masyarakat terhadap ODHA di Medan Plus, Tanjung Sari, Medan. (Siahaan, Maylyn 2017) HIV/AIDS yaitu virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia.Adapun perilaku-perilaku yang bisa memudahkan penularan HIV, yaitu berhubungan seks yang tidak aman (tidak menggunakan kondom), ganti-ganti pasangan seks, bergantian jarum suntik dengan orang lain, memperoleh transfusi darah yang tidak dites HIVnya, serta melalui ibu yang terinfeksi HIV kepada janin di kandungannya dan ASI.HIVdapat menularkan kepada siapapun tanpa memandang

kebangsaan, ras, agama, jenis kelamin, kelas ekonomi, maupun orientasi seksualnya. HIV ditemukan dalam cairan darah, cairan mani, dan cairan vagina dari orang yang terinfeksi HIV. Penularan ini terjadi apabila HIV dalam darah atau cairan itu memasuki aliran darah orang lain.Dari situasi terpuruk mereka mampu bangkit untuk melawan virus yang ada dalam tubuhnya dan juga omongan orang yang tidak-tidak tentang HIV, dari beberapa informan yang peneliti wawancarai setidaknya ada 2 atau 3 informan yang mengatakan bahwa beban paling berat yang mereka hadapi selama ini berasal dari stigma yang diberi orang lain kepada mereka daripada kenyataan didiagnosa terinfeksi HIV. Tetapi, tidak sedikit ada juga yang memberi semangat, semangat itu sendiri muncul ketika diberi nasehat dan motivasi oleh keluarga/kerabat dekatnya. Tingginya stigma masyarakat terhadap pengidap HIV/AIDS menyebabkan banyak perlakuan diskriminasi baik dalam hal pekerjaan, perawatan, pengobatan, pendidikan maupun hal lainnya (Djoerban, 2000).Stigma yang ada dalam masyarakat dapat menimbulkan diskriminasi. Diskriminasi terjadi ketika pandangan-pandangan negatif mendorong orang atau lembaga untuk memperlakukan seseorang secara tidak adil yang didasarkan pada prasangka mereka akan status HIV seseorang.

2. Pandangan Masyarakat Terhadap Program Keluarga Berencana dalam Mewujudkan Keluarga Sejahtera (Studi Kasus Terhadap Masyarakat Desa Sidoharjo, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah) (Wahyuni, Yenny 2015).

Pandangan masyarakat Desa Sidoharjo (38,9%) beranggapan bahwa dalam mewujudkan keluarga yang sejahtera sedikit kaitannya dengan mengikuti program keluarga berencana bahkan tidak banyak. Karena menurut masyarakat Desa Sidoharjo program keluarga berencana hanyalah sebagai upaya dalam

mewujudkan keluarga sejahtera, namun sejatinya semua itu kembali kepada masing-masing keluarga yang menjalankan dan mendirikan rumah tangga (pendapat masyarakat yang tidak mengikuti program keluarga berencana).

Sedangkan menurut masyarakat yang mengikuti program keluarga berencana (17,9%) program keluarga berencana sangat memicu dan berpengaruh adanya pembentukan keluarga sejahtera. Karena dengan sistem perencanaan keluarga sedikit dapat mengurangi beban dan tanggung jawab dalam keluarga, masyarakat bahkan bangsa dan negara, seperti dalam banyaknya pengangguran dan kemiskinan.

3. Upaya Guru Pendidikan Agama Islam Mencegah Dampak Lingkungan Masyarakat pada Siswa SMK Kesehatan Persada Wajo (Nahaluddin, 2011)

Sebuah kendaraan yang memberikan kontribusi untuk siswa belajar optimal adalah kemampuan untuk mengembangkan hubungan yang tepat dengan siswa, hubungan yang menjadi motivator bagi mereka yang terlibat dalam pengalaman pembelajaran. Hubungan Pengajaran melibatkan penggabungan dari sejumlah teknik yang dirancang untuk memungkinkan guru dengan kepribadian yang berbeda, gaya pengajaran bervariasi, dan mereka yang mengajar di bidang yang berbeda untuk mengembangkan kemampuan hubungan manusia yang dapat mengarah pada upaya peningkatan dan partisipasi siswa.

Karena hubungan guru-murid yang memiliki pengaruh signifikan terhadap berbagai hasil, penyelidikan mengenai bagaimana hubungan yang berbentuk dan apa yang menentukan kualitas hubungan-hubungan yang penting bagi upaya intervensi untuk mendorong pengasuhan, hubungan yang hangat antara guru dan siswa. Sejauh ini, sejumlah karakteristik siswa telah dikaitkan dengan hubungan

guru-murid.Oleh karenanya guru dan murid sangat erat kaitannya. Guru tidak dapat tanpa siswa dan begitupula sebaliknya.

2.6. Kerangka Pikiran

Masalah penyalahgunaan Narkotika atau yang sering dikenal masyarakat adalah NARKOBA merupakan masalah yang sangat urgent dan kompleks. Hal ini menyangkut besarnya efek negatif dari penyalahgunaan narkoba.Saat ini penyalahgunaan narkoba sudah sangat memprihatinkan, terlihat dengan makin banyaknya pengguna narkoba dari semua kalangan. Narkoba sangat mudah didapatkan, baik oleh kalangan dewasa, remaja, bahkan anak-anak. Namun yang lebih memprihatinkan, penyalahgunaan narkoba saat ini justru banyak dilakukan oleh kalangan remaja. Padahal mereka adalah generasi penerus bangsa.

Setiap kejadian pasti adanya faktor-faktor penyebab yang melatarbelakangi kejadian tersebut. Adapun faktor penyeban penyalahgunaan narkoba adalah, sebagai berikut ;

a) Tersedianya Narkoba

b) Keluarga atau kerabat yang memiliki sejarah pengguna narkoba

c) Masyarakat, seperti halnya lingkungan besosial yang rawan akan tempat penyebaran narkoba sehingga memancing terjadinya penyalahgunaan narkoba di lingkungan tersebut.

d) Harga diri, dimana pelaku penyalahgunaan narkoba tidak mampu menguasai diri untuk menolak pengaruh dari narkoba.

Maka dari itu ada beberapa dampak yang terjadi bagi pelaku penyalahangunaan narkoba, sebagai berikut:

a) Euforia

Perasaan senang dan gembira yang luar biasa di tambah munculnya keberanian yang luar biasa. Hilangnya segala beban fikiran, seperti rasa sedih, resah, khawatir, menyesal dan sebagainya.

b) Delirium

Disusul dengan ketegangan psikis, tekanan jiwa yang berat sekali. Diikuti kegelisahan jiwa yang besar sehingga timbul gangguan koordinasi gerakan motorik (gangguan kerja otak ).

c) Halusinasi

Timbul khayalan yang tidak terkendali. Indra pendengaran dan penglihatan tidak stabil sehingga terdengar dan tampak sesuatu yang tidak ada.

d) Weakness

Keadaan Jasmani dan Rohani lemah. Keadaan lemah dan ingin tidur terus-menerus.

e) Drawsines

Keadaan menurun seperti setengah tidur dengan fikiran ingin menggunakan lagi, dan akhirnya menjadi apatis dan tidak menghiraukan sekelilingnya (Alifia, 2008).

2.7. Definisi Konsep

Konsep adalah istilah dan defenisi yang digunakan untuk menggambarkan secara abstrak kejadian. Keadaan kelompok atau individu yang menjadi pusat perhatian ilmu sosial (Singarimbun, 1989:33). Adapun konsep yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Masyarakat

Masyarakat adalah setiap kelompok manusia, yang telah cukup lamahidup dan bekerja sama, sehingga mereka itu dapat mengorganisasikan dirinya dan berfikir tentang dirinya sendiri sebagai saru kesatuan sosial dengan batas-batas tertentu.

2. Stigma

Stigma adalah pandangan masyarakat terhadap suatu hal atau individu, termasuk pecandu narkoba. Stigma dapat juga didefinisikan sebagai suatu fenomena yang dapat memengaruhi diri individu secara keseluruhan.

3. Sejahtera

Sejahtera menurut W.J.S Poerwadarminta adalah suatu keadaan yang aman, sentosa, dan makmur. Dalam arti lain jika kebutuhan akan keamanan, keselamatan dan kemakmuran ini dapat terpenuhi, maka akan terciptalah kesejahteraan.

Skema 2.1. Bagan Alur Pikir

BAB III BAB III

Tindakan Masyarakat mengubah Stigma Negatif “Kampung Narkoba”

Kampung Kubur – Medan Petisah

Menjadi Kampung Sejahtera

Upaya-Upaya Masyarakat Kampung Kubur

• Program Pencegahan, seperti ;

- Kampanye anti penyalahgunaan narkoba - Penyuluhan tentang narkoba

- Pendidikan dan pelantikan kelompok sebaya

- Upaya mengawasi dan mengendalikan produksi dan distribusi narkoba di masyarakat

• Program penindakan terhadap bandar atau distributor narkoba

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, yang mana peneliti dalam menggali suatu fenomena dalam suatu waktu dan kegiatan, serta mengumpulkan informasi secara terinci dan mendalam dengan menggunakan berbagai prosedur pengumpulan data dalam beberapa periode tertentu.

Proses analisa dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber, seperti pengamatan ( observasi ) dan wawancara. Setelah data-data yang diperlukan terkumpul, penulis berusaha mengumpulkan teori yang dipakai dengan fenomena sosial yang ada, serta menelusuri fakta yang berhubungan dengan fakta penelitian. Keterangan-keterangan lain yang mendukung untuk memperoleh kesimpulan dari hasil penelitian yang dilakukan dengan mendapatkan gambaran yang sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.

3.2. Lokasi Penelitian

Lokasi dalam penelitian ini dilakukan di Kampung Kubur Kelurahan Petisah Tengah, Kecamatan Medan Petisah. Alasan peneliti melakukan penelitian di tempat tersebut adalah karena banyaknya kasus-kasus peredaran narkoba di kampung tersebut, sehingga menimbulkan banyak pandangan-pandangan negatif terhadap Kampung Kubur. Peneliti juga ingin mengetahui bagaimana upaya masyarakat Kampung Kubur dalam mengubah pandangan negatif tentang Kampung Narkoba menjadi Kampung Sejahtera.

3.3. Subjek Penelitian

Pada penelitian ini, penulis tidak menggunakan populasi dan sampel tetapi menggunakan subyek penelitian yang telah tercermin dalam fokus penelitian.

Subyek penelitian ini menjadi informan yang akan memberikan berbagi informasi yang diperlukan selama proses penelitian (Kaelan, 2012: 89). Informan penelitian ini meliputi beberapa macam seperti:

a. Informan kunci yaitu, mereka yang mengetahui dan memiliki berbagai informasi pokok yang diperlukan selama penelitian. Informan kunci dalampenelitian ini yaitu Kepala Lingkungan Kampung Kubur Kecamatan Medan Petisah.

b. Informan utama yaitu, mereka yang terlibat langsung dalam interaksi sosial yang diteliti. Informan utama dalam penelitian ini adalah 3 Kepala Keluarga di Kampung Kubur.

3.4. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti untuk mengumpulkan data-data dalam penelitian ini sebagai berikut:

a. Studi kepustakaan (library research) yaitu pengumpulan data atau informasi menyangkut masalah yang akan diteliti dengan mempelajari dan menelaah buku serta tulisan yang ada pada kaitannya terhadap masalah yang diteliti.

b. Studi lapangan yaitu pengumpulan data atau informasi yang diperoleh melalui kegiatan penelitian langsung turun ke lokasi penelitian untuk mencari fakta-fakta yang berkaitan dengan masalah yang diteliti adalah:

1) Observasi yaitu pengamatan langsung terhadap segala gejala bentuk kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat Kampung Kubur.

2) Wawancara yaitu cara pengumpulan data dimana penelitian dan responden hadir dalam waktu dan tempat yang sama dalam rangka memperoleh data dan informasi yang diperlukan dalam suatu penelitian (Siagian, 2011: 211). Dalam penelitian ini, wawancara yang dimaksud yaitu mengajukan pertanyaan secara tatap muka dengan responden yang bertujuan untuk melengkapi data yang diperlukan.

3) Dokumentasi, yaitu pengambilan data yang diperoleh melalui dokumen-dokumen. Data-data yang dikumpulkan melalui teknik observasi cenderung merupakan data sekunder.

3.5. Teknik Analisis Data

Dalam penelitian ini, teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis deskriptif dengan pendekatan kualitatif yaitu dengan menjabarkan hasil penelitian sebagaimana adanya. Data-data yang telah didapatkan dari hasil penelitian lapangan melalui observasi dan wawancara kemudian dikumpulkan lalu diolah dan dianalisis dengan menggambarkan dan menjelaskan serta memberikan komentar dengan jelas sehingga data dapat dipahami dengan mudah untuk mengetahui jawaban dari masalah yang diteliti (Kaelan, 2012: 12).Data-data yang diperoleh dalam penelitian ini akan dianalisis secara kualitatif, artinya untuk analisis data tidak diperlukanmodel uji statistic dengan memakai rumus-rumus tertentu, melainkan lebih ditujukan sebagai tipe penelitian deskriptif. Kutipan hasil wawancara dan observasi sejauh mungkin akan ditampilkanuntuk mendukung analisis yang disampaikan, sehingga pada akhirnya dapat ditarik kesimpulan dari hasil penelitian.

BAB IV

DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN

4.1. Gambaran Umum dan Letak Geografis Kecamatan Medan Petisah Kecamatan Medan Petisah terletak di Pusat Ibu Kota Medan yang memiliki batas-batas wilayah sebagai berikut :

1. Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Medan Barat.

2. Sebelah Selatan berbatassan dengan Kecamatan Medan Baru dan Kecamatan Polonia.

3. Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Medan Sunggal dan Kecamatan Medan Helvetia.

4. Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Medan Barat.

Adapun luas wilayah Kecamatan Medan Petisah adalah 13,16 Km2 dimana kelurahan Petisah Tengah yang memiliki wilayah terluas yaitu 127 Ha, dengan rincian luas masing-masing kelurahan dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 4.1 Luas Wilayah Kecamatan Medan Petisah

NO Kelurahan Luas (Ha) Jumlah Lingkungan

1 Petisah Tengah 127 16

2 Sekip 61 11

3 Sei Kambing D 91 12

4 Sei Putih Barat 98 11

5 Sei Putih Tengah 50 7

6 Sei Putih Timur I 32 5

7 Sei Putih Timur II 34 7

Jumlah 493 69

Sumber Data : Kecamatan Medan Petisah 4.2. Sejarah Kacamatan Medan Petisah

Dasar pembentukan Kecamatan Medan Petisah adalah Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 1991 tanggal 07 September 1991 tentang Pembentukan Beberapa Kecamatan di Sumatera Utara termasuk 8 Kecamatan Pemekaran di Kotamadya medan Tingkat II Medan. Kator Camat Medan Petisah diresmikan pada tanggal 02 September 1992 oleh Gubernur Sumatera Utara, raja Inal Siregar, dimana wilayah Kecamatan medan Petisah dulunya merupakan bagian dari Kecamatan Medan Baru dan Kecamatan Medan Barat. Kecamatan Medan Petisah menurut sejarah berawal dari pabrik es yang terletak dijalan S. Parman dengan nama “Sari Petojo Es” pada tahun 1960-an, yang memproduksi es batangan (es balok) yang dikemas di dalam peti. Seiring dengan berjalannya waktu, masyarakat pada waktu itu menyebutkan dengan “Peti Basah” sehingga berubah

menjadi “Petisah”. Kantor Camat Medan Petisah terletak di Jl. Sultan Iskandar Mudan No. 270-A, Kelurahan Petisah Tengah yang berada diareal tanah seluas ± 13,16 km2 dengan fasilitas tempat parkir, aula dan ruang rapat, dan rumah dinas. Kecamatan Medan Petisah trdiri dari 7 kelurahan dan 69 lingkungan.

4.3. Kependudukan

Jumlah Penduduk Kecamatan Medan Petisah adalah 70.610 jiwa dengan masyarakat yang multi ethis. Dari jumlah penduduk saat ini, Kelurahan Sei Putih Barat mempunyai jumlah penduduk terbanyak yaitu 13.511 jiwa dengan 3.776 Kartu Keluarga.

Tabel 4.2 Jumlah Penduduk Kecamatan Medan Petisah

No Kelurahan

Jumlah KK

Jumlah Penduduk (Jiwa) 2015 2016 2015 2016 1 Petisah Tengah 3120 3096 11183 11094

2 Sekip 2471 2431 8927 8807

3 Sei Kambing D 2901 2812 10064 9982 4 Sei Putih Barat 3862 3776 13601 13511 5 Sei Putih Tengah 2825 2809 10196 10078 6 Sei Putih Timur I 2015 2004 7173 7090 7 Sei Putih Timur II 2856 1969 10153 10048

Jumlah 20.050 19.706 71.297 70610 Sumber data : Kecamatan Medan Petisah 2015 dan 2016

4.3.1. Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin

Jumlah penduduk menurut jenis kelamin yang tersebar pada tujuh kelurahan memiliki jumlah penduduk laki-laki sebayak 34.447 jiwa dan penduduk perempuan sebayak 36.163 jiwa. Pada tahun 2016 rasio jenis kelamin pada seluruh kelurahan yang ada di Kecamatan Medan Petisah dibawah 100, artinya jumlah penduduk perempuan lebih banyak daripada jumlah penduduk laki-laki, hal tersebut dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 4.3. Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin

No Kelurahan

Tahun 2015 Jenis Kelamin

Tahun 2016 Jenis Kelamin

L (jiwa) P (Jiwa) L (Jiwa)

P (Jiwa)

1 Petisah Tengah 5335 5848 5284 5810

2 Sekip 4262 4665 4199 4608

3 Sei Kambing D 4946 5118 4906 5076

4 Sei Putih Barat 6760 6841 6709 6802

5 Sei Putih Tengah 5066 5130 5052 5066

6 Sei Putih Timur I 3484 3689 3466 3642 7 Sei Putih Timur II 4885 5268 4871 5177

Jumlah 34738 36559 34447 36163

Sumber data : Kecamatan Medan Petisah 2015 dan 2016

4.3.2. Jumlah Penduduk Berdasarkan Wajib E-KTP

Jumlah penduduk wajib E-KTP di Kecamatan Medan Petisah adalah sebagai berikut :

Tabel 4.4.Jumlah Penduduk Berdasarkan Wajib E-KTP

No Kelurahan

Jumlah Wajib E-KTP

L (Jiwa) P (Jiwa)

Jumlah (Jiwa) 1 Petisah Tengah 4073 4678 8751

2 Sekip 3236 3707 6943

3 Sei Kambing D 3636 3999 7635

4 Sei Putih Barat 4965 5140 10105 6 Sei Putih Timur I 2553 2843 5396 7 Sei Putih Timur II 3683 4050 7733

Jumlah 25803 28241 54044

Sumber data : Kecamatan Medan Petisah 2015 dan 2016

4.3.3. Keadaan Sarana dan Prasarana Kecamatan Medan Petisah

Sebagai Kecamatan yang terletak di inti kota, di Kecamatan Medan Petisah terdapat sarana-sarana pemerintahan, yaitu Kantor Walikota Medan, Kator DPRD Kota Medan, Kantor DPRD Provinsi Sumatera Utara, Pengadilan Negeri Medan, Kantor Kejaksaan, Kantor Komando Distrik Militer 02/10 BS, PLN, PN GAS, Perkantoran Pemerintah Kota Medan (Kantor P2K, Dispora, PP dan KB, Kesehatan, Dharma Wanita, Disdukcapil, Perpustakaan), Perhotelan (Arya Duta, Santika, Grand Swiss Bell-Hotel, Grand Serella, Grend Kanaya, Best Western, Hotel 61, Grand

Sultan), Pusat Olahraga (Lapangan Benteng, Stadion Kebun Bunga, Lapangan Hocky, Lapangan Tenis), Pusat Perdagangan/Perbelanjaan seperti Medan Fair Plaza, Medan Plaza, Pasar Petisah, Perbankan (Bank Mandiri, BCA, Bank Mega, BNI Syariah, CIMB Niaga Syariah, Bank Permata), Rumah Sakit (Royal Prima, Columbia Asia, Malahayati, Matema, Siloam, Advent, SMEC), Pusat-pusat Perdagangan seperti (Pasar Petisah, Kompleks-kompleks Pertokoan, Showroom Mobil di Jl. Nibung Raya), Pusat UMKM dan Kuliner (kerajinan rotan di seputar Jl. Gatot Subroto, Bika Ambon diseputar Jl. Mojopahit, Bolu Meranti, Durian House Jl. Sekip, Pusat Kuliner Pangaruyung, Iskandar Muda Baru) dan Destinasi Wisata Agama Budaya dan Sejarah (Masjid Jami dan Gaudiyah, Gurdwara Sikh, Kuil Srhi Mariamman, Kuil Sree Soepramaniem Nagarattar, Kuil Gurdwara Perbandhak, Jembatan dan Taman Kebajikan Tjong Yong Hian, Gereja Kristen Indonesia, Lapangan Benteng dan Museum TNI).

Sebagai kawasan perdangangan atau perniagaan, banyak terdapat usahausaha ekonomi baik yang berskala besar, sedang maupun kecil yang dikelola oleh warga Kecamatan Medan Petisah sendiri tetapi tidak sedikit juga pemilik dan pengelola yang bukan merupakan warga Kecamatan Medan Petisah. Kondisi perdangangan atau perniagaan ini memberi kontribusi bagi pendapatan warga antara lain memberikan lapangan pekerjaan sebagai karyawan, dan lain sebagainya.

Adapun fasilitas sarana dan prasaranadi Kampung Kubur adalah sebagai berikut :

Tabel 4.5. Jumlah Fasilitas Sarana dan Prasarana

No Fasilitas Jumlah (Unit)

1 Masjid 2

2 Posyandu 1

3 Tempat Pemakaman Umum 1

4 Lapangan Badminton 1

5 Lapangan Tenis 1

Jumlah 6

Sumber : Data Kantor Lurah Petisah Tengah 2015

Berdasarkan data tabel diatas terlihat bahwa di Kampung Kubur hanya memiliki masjid sebagai tempat beribadah bagi masyarakatyang beragama islam, sehingga bagi agama lainnya apabila mereka ingin beribadah maka mereka akan pergi ke tempat ibadah mereka yang letaknya diluar Kampung Kubur.

4.3.4.Sistem Organisasi

4.3.4.1. Struktur Organisasi

Struktur organisasi Kecamatan Medan Petisah sesuai dengan Perda Nomor 3 Tahun 2009 adalah sebagai berikut :

Skema 4.1 Struktur Organisasi Kecamatan Medan Petisah

ILLYAN C. SIMBOLON, S.STP, MSP NIP. 19801023 199912 1 001

KASI TRANTIB TERATUR, SH NIP. 19600525

199008 1 001 CAMAT

RAKHMAT ASP HARAHAP, S.STP NIP.19750127 199511 1 002

KELOMPOK

4.3.4.2. Pegawai Negeri Sipil di Kecamatan

Pegawai Negeri Sipil di Kantor Camat Petisah berjumlah 28 orang. Selanjutnya PNS menurut kepangkatan/golongan sebagai berikut :

Tabel 4.6. Data Pegawai Kecamatan Menurut Golongan

No Unit Honor Gol II Gol III

Gol IV

Jumlah

1 Kecamatan 1 9 17 1 28

Sumber data : Kecamatan Medan Petisah 2016 4.3.4.3. Lurah dan Jumlah PNS Kelurahan

Disamping itu, dalam pelaksanaan tugas, khususnya dalam pemberian pelayanan kepada masyarakat, didukung oleh pegawai

Disamping itu, dalam pelaksanaan tugas, khususnya dalam pemberian pelayanan kepada masyarakat, didukung oleh pegawai