1.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.3.2. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan memberikan pengetahuan dan informasi bagi peneliti untuk mengubah pemahaman masyarakat mengenai stigma negatif kampung narkoba dan juga dapat dijadikan refrensi untuk penelitian selanjutnya.
2. Secara Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan masukan dan kontribusi bagi masyarakat dalam mengubahtanggapan-tanggapan negatif kampung narkoba di Kampung Kubur, serta menghasilkan beberapa solusi yang nantinya dapat dijadikan bahan pembelajaran sekaligus bahan evaluasi khususnya bagi masyarakat dalam menanggapi berkembangnya pandangan-pandangan negatif kampung narkoba di kampung kubur.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Masyarakat2.1.1. Pengertian Masyarakat
Berdasarkan Wikipedia, Masyarakat (sebagai terjemahan istilah society) adalah sekelompok orang yang membentuk sebuah sistem semi tertutup (atau semi terbuka), di mana sebagian besar interaksi adalah antara individu-individu yang berada dalam kelompok tersebut. Kata "masyarakat"
sendiri berakar dari kata dalam bahasa Arab, musyarak. Lebih abstraknya, sebuah masyarakat adalah suatu jaringan hubungan-hubungan antar entitas-entitas. Masyarakat adalah sebuah komunitas yang interdependen (saling tergantung satu sama lain). Umumnya, istilah masyarakat digunakan untuk mengacu sekelompok orang yang hidup bersama dalam satu komunitas yang teratur.
Berdasarkan Koentjaraningrat (2009: 115-118), Masyarakat dalam istilah bahasa Inggris adalah society yang berasal dari kata Latin socius yang berarti (kawan). Istilah masyarakat berasal dari kata bahasa Arab syaraka yang berarti (ikut serta dan berpartisipasi). Masyarakat adalah sekumpulan manusia yang saling bergaul, dalam istilah ilmiah adalah saling berinteraksi. Suatu kesatuan manusia dapat mempunyai prasarana melalui warga-warganya dapat saling berinteraksi. Definisi lain, masyarakat adalah kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu sistem adat istiadat tertentu yang bersifat kontinyu, dan yang terikat oleh suatu rasa identitas bersama. Kontinuitas merupakan kesatuan masyarakat yang memiliki
keempat ciri yaitu: 1)Interaksi antar warga-warganya,2)Adat istiadat,3)Kontinuitas waktu, 4)Rasa identitas kuat yang mengikat semua warga.Koentjaraningrat (2003) merumuskan pengertian masyarakat berdasarkan empat ciri, yaitu :
a. Interaksi.
b. Adat-istiadat, norma-norma, hukum, dan aturan-aturan.
c. Bersifat terus-menerus.
d. Rasa identitas.
Berdasarkan empat ciri di atas, masyarakat diartikan sebagai kesatuan hidup manusia yang berinteraksi sesuai dengan sistem adat-istiadat tertentu yang sifatnya berkesinambungan, dan terikat oleh suatu rasa identitas bersama. Sihotang (1992) menjelaskan masyarakat dalam dua defenisi, yaitu defenisi analitik dan defenisi fungsional. Dalam definisi analitik, masyarakat adalah sejumlah orang yang berdiri sendiri atauswasembada yang mempunyai ciri-ciri adanya organisasi sendiri, wilayah tempat tinggal, kebudayaan sendiri, dan keturunan yang akan meneruskan masyarakatnya. Sedangkan dalam defenisi fungsional, masyarakat adalah sejumlah manusia yang mempunyai sistem tidakan bersama, yang mampu terus ada lebih lama dari masa hidup seorang individu, dan paraanggotanya bertambah sebagian melalui keturunan pada anggota. Ciri-ciri masyarakat (Sihotang, 1992: 13):
a. Mampu berdiri sendiri dan memenuhi kebutuhan sendiri,
b. Mampu mempertahankan keberadaanya melalui pergantian atau pertambahan anggota dengan adanya keturunannya.
c. Mampu mempertahankan keberadaannya bergenerasi-generasi.
d. Ada wilayah tertentu yang menjadi tempat tinggal.
e. Mempunyai kebudayaan sendiri yang menjadi sumber nilai dan norma,
pola tindakan, dan alat memenuhi keperluan hidup.
f. Mempunyai sistem dan struktur.
Berdasarkan ciri-ciri di atas, definisi masyarakat adalah sejumlah orang yang bertempat tinggal di wilayah tertentu yang tersusun oleh sistem dan mempunyai struktur, mempunyai kebudayaan sendiri, dan dapat mempersiapkan penerusan adanya anggota untuk bergenerasi (Sihotang, 1992: 13).Unsur masyarakat berdasarkan defenisi ini, adalah:
1. Kolektivitas interaksi manusia yang terorganisasi.
2. Kegiatannya terarah pada sejumlah tujuan yang sama.
3. Memiliki kecenderungan untuk memiliki keyakinan, sikap dan bentuk tindakan yang sama.
Pada konsep ini, masyarakat lebih dicirikan oleh interaksi, kegiatan, tujuan, keyakinan, dan tindakan sejumlah manusia yang sedikit banyak berkecenderungan sama. Dalam masyarakat tersebut terdapat ikatan – ikatan berupa tujuan, keyakinan, tindakan terungkap pada interaksi manusianya.
Dalam hal ini, interaksi dan tindakan itu tentu saja, interaksi serta tindakan sosial (Setiadi, 2006: 80 - 81).
2.1.2. Ciri-ciri Masyarakat
Pada konsep ini, masyarakat lebih dicirikan oleh interaksi, kegiatan, tujuan, keyakinan, dan tindakan sejumlah manusia yang sedikit banyak berkecenderungan sama. Dalam masyarakat tersebut terdapat ikatan – ikatan berupa tujuan, keyakinan, tindakan terungkap pada interaksi manusianya.
Dalam hal ini, interaksi dan tindakan itu tentu saja, interaksi serta tindakan
sosial (Setiadi, 2006: 80 - 81).
Ciri – ciri masyarakat adalah sebagai berikut:
1. Kumpulan orang.
2. Sudah terbentuk dalam jangka waktu yang lama.
3. Sudah memiliki system social atau stuktur sosial tersendiri.
4. Memiliki kepercayaan, sikap, dan perilaku yang dimiliki bersama (Setiadi, 2006: 80)
2.2. Stigma
2.2.1. Pengertian Stigma
Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI),Stigma adalah ciri negatif yang menempel pada pribadi seseorang karena pengaruh lingkungannya. Stigma adalah pandangan masyarakat terhadap suatu hal atau individu, termasuk pecandu narkoba. Hal tersebut inilah yang membuat pecandu semakin sulit untuk mendapatkan bantuan dan dukungan yang mereka butuhkan. Hal tersebut membuat para pecandu narkoba menjadi terpojok sehingga walaupun mereka sudah berhenti namun tetap diperlakukan sama oleh masyarakat.
Stigma dapat juga didefinisikan sebagai suatu fenomena yang dapat memengaruhi diri individu secara keseluruhan. Sampai saat ini masih banyak masyarakat memiliki pendapat dan pandangan bahwa penyalahguna narkoba adalah “penjahat” karena sebelumnya pecandu yang sebenarnya korban selalu dianggap salah dimata hukum dan dijebloskan ke penjara.
Karena itu hingga sekarang masih banyak masyarakat yang salah satu anggota keluargganya enggan untuk menggungkap diri, bahkan cenderung
ditutupi bagaimanapun caranya. Bahkan yang lebih memprihatinkan sebagian lebih khawatir, sebab jika diketahui oleh masyarakat bahwa salahsatu anggota keluarganya adalah pecandu narkoba.
Permasalahan yang dihadapi seorang pecandu narkoba bukan hanya sebatas program pemulihan direhabilitasi, karena ketika seorang pecandu keluar dari rehabilitasi, maka ia harus menghadapi respon dari lingkungannya dan berharap akan dapat dukungan bukan penolakan. Namun tidak sedikit pecandu narkoba yan telah pulih dan kembli ke masyarakat merasa rendah diri dan tidak nyaman karena berbagai stigma negatif yang ditujukan kepada dirinya, bahkan dari keluarganya sendiri. Diskriminasi terasa sangat menyakitkan karena mereka seolah-olah dibedakan dari orang lain yang dianggap “normal”. Stigma negatif dari lingkungan dapat membuat pecandu menstigma dirinya sendiri dengan menganggap bahwa hal-hal negatif yang di terimanya sebagai suatu kenyataan.Dari beberapa definisi dari stigma tersebut, maka penulis menyimpulkan definisi stigma adalah pikiran dan kepercayaan yang salah serta fenomena yang terjadi ketika individu memperoleh labeling, stereotip, separationdan mengalami diskriminasi sehingga memengaruhi diri individu secara keseluruhan.
2.2.2. Mekanisme Stigma
Mekanisme stigma terbagi menjadi empat menurut Major & O’Brien (2005), yaitu :
a. Adanya perlakukan negatif dan diskriminasi secara langsung
Mekanisme stigma yang pertama yaitu adanya perlakukan negatif dan diskriminasi secara langsung yang artinya terdapat pembatasan pada akses kehidupan dan diskriminasi secara langsung sehingga
berdampak pada status sosial, psychological well-being dan kesehatan fisik. Stigma dapat terjadi dibeberapa tempat seperti di sebuah toko, tempat kerja, setting pendidikan, pelayanan kesehatan dan sistem peradilan pidana (Eshieman, dalam Major & O’Brien, 2005).
b. Proses konfirmasi terhadap harapan atau self fullfilling prophecy Stigma menjadi sebuah proses melalui konfirmasi harapan atau self fullfilling prophecy (Jussim dkk., dalam Major & O’Brien, 2005).
Persepsi negatif, stereotipe dan harapan bisa mengarahkan individu untuk berperilaku sesuai dengan stigma yang diberikan sehingga berpengaruh pada pikiran, perasaan dan perilaku individu tersebut.
c. Munculnya stereotip secara otomatis
Stigma dapat menjadi sebuah proses melalui aktivasi stereotip otomatis secara negatif pada suatu kelompok.
d. Terjadinya proses ancaman terhadap identitas dari individu 2.2.3. Tipe Stigma
Menurut Goffman (dalam Scheid & Brown, 2010) mendefinisikan 3 tipe stigma sebagai berikut :
a.Stigma yang berhubungan dengan cacat tubuh yang dimiliki oleh seseorang
b.Stigma yang berhubungan dengan karakter individu yang umum diketahui seperti bekas narapidana, pasien rumah sakit jiwa dan lain sebagainya
c.Stigma yang berhubungan dengan ras, bangsa dan agama. Stigma semacam iniditransmisikan dari generasi ke generasi melalui keluarga.
2.2.4. Dimensi Stigma
Menurut Link dan Phelan (dalam Scheid & Brown, 2010) stigma mengacu pada pemikiran Goffman (1961), komponen-komponen dari stigma sebagai berikut :
a.Labeling
Labeling adalah pembedaan dan memberikan label atau penamaan berdasarkan perbedaan-perbedaan yang dimiliki anggota masyarkat tersebut (Link & Phelan dalam Scheid & Brown, 2010). Sebagian besar perbedaan individu tidak dianggap relevan secara sosial, namun beberapa perbedaan yang diberikan dapat menonjol secara sosial. Pemilihan karakteristik yang menonjol dan penciptaan label bagi individu atau kelompok merupakan sebuah prestasi sosial yang perlu dipahami sebagai komponen penting dari stigma. Berdasarkan pemaparan di atas, labeling adalah penamaan berdasarkan perbedaan yang dimiliki kelompok tertentu.
b.Stereotip
Stereotip adalah kerangka berpikir atau aspek kognitif yang terdiri dari pengetahuan dan keyakinan tentang kelompok sosial tertentu dan traits tertentu (Judd, Ryan & Parke dalam Baron & Byrne, 2003). Menurut Rahman (2013) stereotip merupakan keyakinan mengenai karakteristik tertentu dari anggota kelompok tertentu. Stereotip adalah komponen kognitif yang merupakan keyakinan tentang atribut personal yang dimiliki oleh orang-orang dalam suatu kelompok tertentu atau kategori sosial tertentu (Taylor, Peplau, & Sears, 2009). Berdasarkan pemaparan diatas dapat disimpulkan, stereotip adalah komponen kognitif dari individu yang merupakan keyakinan tentang atribut personal atau karakteristik yang
dimiliki oleh individu dalam suatu kelompok tertentu atau kategori sosial tertentu.
c.Separation
Separation adalah pemisahan “kita” (sebagai pihak yang tidak memiliki stigma atau pemberi stigma) dengan “mereka” (kelompok yang mendapatkan stigma). Hubungan label dengan atribut negatif akan menjadi suatu pembenaran ketika individu yang dilabel percaya bahwa dirinya memang berbeda sehingga hal tersebut dapat dikatakan bahwa proses pemberian stereotip berhasil (Link & Phelan dalam Scheid & Brown, 2010).Berdasarkan pemaparan di atas, separation artinya pemisahan yang dilakukan antara kelompok yang mendapatkan stigma dengan kelompok yang tidak mendapatkan stigma.
d. Diskriminasi
Diskriminasi adalah perilaku yang merendahkan orang lain karena keanggotaannya dalam suatu kelompok (Rahman, 2013). Menurut Taylor, Peplau, dan Sears (2009)diskriminasi adalah komponen behavioral yang merupakan perilaku negatif terhadap individu karena individu tersebut adalah anggota dari kelompok tertentu. Berdasarkan pemaparan tersebut, diskriminasi adalah komponen behavioral yang merendahkan individu karena individu tersebut adalah anggota kelompok tertentu. Menurut Jones (dalam Link, Yang, Phelan & Collins, 2001) mengidentifikasi dimensi dari stigma yang tediri dari enam dimensi, yaitu :
a. Concealability, menunjukkan atau melakukan deteksi tentang karakteristik dari individu lain. Concealability bervariasi tergantung pada
sifat stigma tersebut. Individu yang mampu menyembunyikan kondisinya, biasanya sering melakukan stigma tersebut.
b. Course, menunjukkan kondisi stigma reversibel atau ireversibel. Individu yang mengalami kondisi ireversibel maka cenderung untuk memperoleh sikap yang lebih negatif dari orang lain.
c. Disruptiveness, menunjukkan tanda-tanda yang diberikan oleh orang lain kepada individu yang mengakibatkan ketegangan atau menghalangi interaksi interpersonal.
d. Aesthetic, mencerminkan persepsi seseorang terkait dengan hal yang menarik atau menyenangkan.
e. Origin, merujuk kepada bagaimana munculnya kondisi yang menyebabkan stigma.
f. Peril, merujuk pada perasaan bahaya atau ancaman yang dialami orang lain. Ancaman dalam pengertian ini dapat mengacu pada bahaya fisik atau perasaan yang tidak nyaman.
Berdasarakan pemaparan sebelumnya, dimensi yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada teori Link dan Phelan (dalam Scheid & Brown, 2010) yang juga berpedoman pada pemikiran Goffman (1961) yaitu Labeling, Stereotip, Separation dan Diskriminasi
2.2.5. Proses Stigma
Menurut Crocker, dkk. (dalam Major & O’Brien, 2005) stigma terjadi karena individu memiliki beberapa atribut dan karakter dari identitas sosialnya namun akhirnya terjadi devaluasi pada konteks tertentu. Menurut Link dan Phelan (dalam Scheid & Brown, 2010) stigma terjadi ketika
muncul beberapa komponen yang saling berkaitan. Adapun komponen-komponen tersebut, yaitu :
a. Komponen pertama adalah individu membedakan dan memberikan label atas perbedaan yang dimiliki oleh individu tersebut
b. Komponen kedua adalah munculnya keyakinan dari budaya yang dimiliki individu terhadap karakteristik individu atau kelompok lain dan menimbulkan stereotip.
c. Komponen ketiga adalah menempatkan individu atau kelompok yang telah diberikan label pada individu atau kelompok dalam kategori yang berbeda sehingga terjadi separation.
d. Komponen keempat adalah individu yang telah diberikan label mengalami diskriminasi.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa stigma terjadi dalam jangka waktu tertentu yang merupakan suatu proses yang terdiri dari empat dimensi yaitu terjadinya labeling dilanjutkan dengan munculnya stereotip, separation dan diskriminasi.
2.3. Narkoba
2.3.1. Pengertian Narkoba
Narkoba adalah zat kimia yang dapat mengubah keadaan psikologi seperti perasaan, pikiran, suasana hati serta perilaku jika masuk ke dalam tubuh manusia baik dengan cara dimakan, diminum, dihirup, suntik, intravena, dan lain sebagainya(Kurniawan, 2008).Narkoba dibagi dalam 3 jenis :
1. Narkotika 2. Psikotropika
3. Zat adiktif lainnya 1. Narkotika
Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan,atau ketagihan yangsangat berat (Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 tahun 1997).
Jenis narkotika di bagi atas 3 golongan :
a. Narkotika golongan I : adalah narkotika yang paling berbahaya, daya adiktif sangat tinggi menyebabkan ketergantunggan. Tidak dapat digunakan untuk kepentingan apapun, kecuali untuk penelitian atau ilmu pengetahuan. Contoh : ganja, morphine, putauw adalah herointidak murni berupa bubuk.
b. Narkotika golongan II : adalah narkotika yang memilki daya adiktif kuat, tetapi bermanfaat untuk pengobatan dan penelitian.
Contoh : petidindan turunannya, benzetidin, betametadol.
c. Narkotika golongan III : adalah narkotika yang memiliki daya adiktif ringan, tetapi dapat bermanfaat untuk pengobatan dan penelitian.Contoh: codeindan turunannya(Martono, 2006).
2. Psikotropika
Psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiahmaupun sintetis,bukan narkotikayang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan syaraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktifitas mentaldan prilaku, digunakan untuk mengobati gangguan jiwa(Undang-Undang
Republik Indonesia Nomor5 tahun 1997).Jenis psikotropika dibagi atas 4 golongan:
a. Golongan I : adalah psikotropika dengan daya adiktif yang sangat kuat untuk menyebabkan ketergantungan, belum diketahui manfaatnya untuk pengobatan, dan sedang diteliti khasiatnya seperti esktasi (menthylendioxy menthaphetamiedalam bentuk tablet atau kapsul), sabu-sabu (berbentuk kristal berisi zat menthaphetamin).
b. Golongan II :adalah psikotropika dengan daya aktif yang kuat untuk menyebabkan Sindroma ketergantungan serta berguna untuk pengobatan dan penelitian. Contoh :ampetamindan metapetamin.
c. Golongan III : adalah psikotropika dengan daya adiktif yang sedang berguna untukpengobatan dan penelitian. Contoh: lumubal, fleenitrazepam.
d. Golongan IV : adalah psikotropika dengan daya adiktif ringan berguna untuk pengobatan dan penelitian. Contoh: nitra zepam, diazepam(Martono, 2006).
3. Zat Adiktif Lainnya
Zat adiktif lainnya adalah zat – zat selain narkotika dan psikotropika yang dapatmenimbulkan ketergantungan pada pemakainya, diantaranya adalah :
a)Rokok
b)Kelompok alkohol dan minuman lain yang memabukkan dan menimbulkan ketagihan.
c)Thiner dan zat lainnya, seperti lem kayu, penghapus cair dan aseton, cat, bensin yang bila dihirup akan dapat memabukkan(Alifia, 2008).
2.3.2. Jenis dan Efek yang ditimbulkan oleh Narkoba
1. Ganja/ Mariyuana/ Kanabis adalah Tanaman perdu dengan daun menyerupai daun singkong dan berbulu halus, jumlah jarinya selalu ganjil, yaitu 5,7,9. Cara penyalahgunaannya adalah dengan mengeringkan dan dicampur dengan tembakau rokok atau langsung dijadikan rokok lalu dibakar dan dihisap. Bahan yang digunakan dapat berupa daun, biji maupun bunga. Dibeberapa daerah Indonesia yaitu di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, pulau Jawa dan lain, akibat dari menggunakan adalah berpariasi tergantung dari jumlah, jenis cannabis serta waktu cannabis dipakai. Beberapa efek dapat termasuk euforia, santai, keringanan stres dan rasa sakit, nafsu makan bertambah, perusakan pada kemampuan bergerak, kebingungan, hilangnya konsentrasi serta motivasi berkurang.
2. Kokain adalah tanaman perdu mirip pohon kopi, buahnya yang matang berwarna merah seperti biji kopi, kokain merupakan hasil sulinggan dari daun koka yang memiliki zat yang sangat kuat, yang tumbuh di Amerika Tenggah dan Amerika Selatan. Sedangkan kokainfreebaseadalah kokain yang diproses untuk menghilangkan kemurnian dan campurannya sehingga dapat dihisap dalam bentuk kepingan kecil sebesar kismis. Salah satu bentuk populer dari kokain adalah crac, kokain menimbulkan risiko tinggi terhadap pengembangan ketergantungan fisik dan fisiologis, prilaku yang lazim selama dibawah pengaruh kokain dapat termasuk hiperaktif, keriangan, dan bertenaga, ketajaman perhatian, percaya diri dan kegiatan seksual yang meningkat. Pengguna juga dapat berprilaku
tidak berpendirian tetap,merasa tidak terkalahkan dan menjadi agresif dan suka bertengkar. Kondisi yang dapat mematikan dapat terjadi dari kepekaan yang tinggi terhadap kokain atau overdosis secara
besar-besaran. Beberapa jam setelah pemakaian terakhir, rasa pergolakan dan depresi dapat terjadi.
3. Opium Adalah bunga dengan bentuk dan warna yang sangat indah, dari getah bunga opiun dibuat candu (opiat), dahulu di Mesir dan Cina digunakan untuk pengobatan, menghilangkan rasa sakit tentara yang terluka akibat perang dan berburu, opium banyak tumbuh didaerah “ segi tiga emas” Burma, Kamboja, Thailand dan segitiga emas Asia Tengah, Afganistan, Iran dan Pakistan. Penggunaanjangka panjang mengakibatkan penurunan dalam kemampuan mental dan fisik, serta kehilangan nafsu makan dan berat badan.
4. Alkohol Adalah zat aktif yang terdapat dari berbagai jenis minuman keras. merupakan zat yang mengandung etanol yang berfungsi memperlambat kerja sistem sarafpusat, memperlambat refleks motorik, menekan pernafasan, denyut jantung dan mengganggu penalaran dan penilaian. Meskipun demikian apabila digunakan pada dosis rendah alkohol justru membuat tubuh merasa segar (bersifat merangsang).Minuman ini terbagi dalam 3 golongan, yaitu
a. Golongan A : yaitu berbagai minuman keras yang mengandung kadar alkohol antara 1% s/d 5%. Contoh minuman keras adalah : bir, greensand, dan lain-lain
b. Golongan B : yaitu berbagai jenis minuman keras yang mengandung kadar alkohol antara 5% s/d 20 %. Contohnya adalah Anggur malaga, dan lain-lain.
c. Golongan C : yaitu berbagai jenis minuman keras yang mengandung kadar alkohol antara 29% s/d 50 %. Contoh adalah Brandy, Vodka, Wine, Drum, Champagne, Wiski, dan lain-lain (Partodiharjo, 2008).
5. Amfetamin pertama dibuat di Jerman pada akhir abad ke-19 tetapi baru dipatenkan pada 1930-an. Pada 1940-an amfetamin mulai dipakai sebagai terapeutik untuk berbagai macam kondisi medis seperti ayan, depresi dan untuk anak yang hiperkinetik. Merupakan zat perangsang sintetik yang dapat berbentuk tablet, kapsul serta bentuk lainnya yang digunakan untuk kepentingan medis. Amfetamintersedia dalam merk-merk umum dalam bentuk dexamphetamin (dexedrine) dan pemoline (volisal).Efek amfetamin biasanya hilang setelah 3-6 jam dan pemakai dapat secara tiba-tiba menjadi lelah, suka marah, murung dan tidak bisa konsentrasi, peningkatan kewaspadaan, peningkatan tenaga dan kegiatan, mengurangi nafsu makan dan kepercayaan diri. Penggunaan jangka panjang dapat mengakibatkan malnutrisi, kelelahan, depresi dan psikosis. Kematian yang diakibatkan penggunaan obat perangsang jarang terjadi tetapi lebih mungkin jika amfetamin disuntikkan.
6. Sedatif Adalah merupakan zat yang dapat mengurangi berfungsinya sistem syaraf pusat. Dapat menyebabkan koma, bahkan kematian jika melebihi takaran.
7. Ekstasi/ Dolphin/ Black Hear/ Gober/ Circle K. Sering digunakan sebagai alat penghayal tanpa harus berhalusinasi. Tablet ini diproduksi khusus untuk disalahgunakan yaitu untuk mendapatkan rasa gembira, hilang rasa sedih, tubuh terasa fit dan segar. Dari kasus-kasus yang ada memperlihatkan bahwa ekstasi dapat memperlemah reaksi daya tahan tubuh, ada pengaruh terhadap perubahan menstruasi, termasuk ketidak teraturan menstruasi dan jumlah yang lebih banyak atau amenorhoe (tidak haid). Ekstasi merusak otak dan memperlemah daya ingat. Ekstasi merusak mekanisme di dalam otak yang mengatur daya belajar dan berpikir dengan cepat. Terbukti dapat menyebabkan kerusakan jantung danhati. Pemakai teratur telah mengakui adanya depresi berat dan telah ada kasus-kasus gangguan kejiwaan (Partodiharjo, 2008).
8. Shabu-shabu merupakan kombinasi baru yang sedang laris, berbentuk bubuk mengkilat seperti garam dapur, shabu berisi metapetami yang dicampur dengan berbagai psikotropika. Pemakai yang kronis akan tampak kurus, mata merah, malas mandi, emosi labil, dan loyo. Beberapa kasus menunjukkan dampak shabu-shabu yaitu menyebabkan orang menjadi ganas, serta meningkatkan kepercayaan diri yang tinggi berbuntut tingkah laku yang brutal (Nasution, 2004).
9. Kafein merupakan zat perangsang yang dapat ditemukan dalam obat generik, kopi, teh coklat atau makanan bersoda.
10. Tembakau merupakan daun–daunan pohon tembakau yang dikeringkan dan pada umunya diproduksi dalam bentuk rokok.
Nikotin, terdapat ditembakau, adalah salah satu zat yang paling adiktif yang dikenal. Nikotin adalah perangsang susunan saraf pusat (SSP) yang mengganggu keseimbangan neuropemancar. menyebabkan penyempitan pembuluh darah, peningkatan denyut jantung dan tekanan darah, nafsu makan berkurang, menimbulkan emfisema ringan, sebagian menghilangkan perasaan citarasa dan penciuman serta memerihkan paru. Penggunaan tembakau jangka panjang dapat menyebabkan kerusakan pada paru-paru, jantung dan pembuluh darah, dan menyebabkan kanker (Partodiharjo, 2008).
2.3.3. Faktor-faktor Penyebab Penggunaan Narkoba 1. Tersedianya Narkoba
Permasalahan penyalahgunaan dan ketergantungan narkoba tidak akan terjadi bila tidak ada narkobanya itu sendiri. Dalam pengamatan ternyata banyak tersedianya narkoba dan mudah diperoleh.Hawari (1990) dalam penelitiannya menyatakan bahwa urutan mudahnya narkoba diperoleh (secara terang-terangan, diam-diam atau sembunyi-sembunyi) adalah alkohol (88%), sedatif (44%), ganja, opiot dan amphetamine(31%). Menurut Gunawan (2009) faktor tersedianya narkoba adalah ketersediaan dan kemudahan memperoleh narkoba juga menjadi faktor penyabab banyaknya pemakai narkoba. Indonesia bukan lagi sebagai transit seperti awal tahun 80-an, tetapi sudah menjadi tujuan pasar narkotika. Para penjual narkotika berkeliaran dimana-mana, termasuk disekolah, lorong jalan, gang-gang sempit, warun-warung kecil yang dekat dengan pemukiman masyarakat.
2. Lingkungan
Terjadinya penyebab penyalahgunaan narkoba yang sebagian besar dilakukan olehusia produktif dikarenakan beberapa hal, antara lain : 1) Keluarga
Menurut Kartono dalam Wina (2006) keluarga merupakan satu
Menurut Kartono dalam Wina (2006) keluarga merupakan satu