Posted on Maret 25, 2015 by secondprince
Catatan Atas Syubhat Abu Azifah Terhadap Hadis ‘Amru bin Sufyaan
Beberapa hari ini kami telah berdiskusi dengan salah seorang yang menyebut dirinya Abu
Azifah mengenai hadis ‗Amru bin Sufyaan. Diskusi tersebut dapat para pembaca lihat disini. Adapun hadis yang dimaksud adalah sebagai berikut
ٍَخَه ، َىُٝحَى ٢ِرَأ ُْٖرح خََ٘ػَّيَكَٝ: خََ٘ػَّي َك ٍَخَه ، ُٕحََُُّْٞح ٍئََّلُٓ ُْٖر ُدُّٞ٣َأ: ٍَخَه ، ُٕحَََْٝٓ خََ٘ػَّيَك: ٌٍِٝخَُٔٓ خََ٘ػَّيَك
ٍَخَه ، َٕخَ٤ْلُٓ ِْٖر ََِْٝٔػ َْٖػ ، ُمحٍََُّْٞح: ٍَخَوَك ، َََِٔـُْح ََّْٞ٣ َُْٚ٘ػ ُ َّالله َ٢ٍَِٟ ٍذُِخَ١ ٢ِرَأ ُْٖر ُّ٢َِِػ خََ٘زَطَه: ُيْؼَر خََّٓأ
، ف ََََْٓأ َغِزَّظََ٘ك حًيَْٜػ خَٜ٤ِك ََََِّْٓٝ ِْٚ٤ََِػ ُ َّالله ٠ََِّٛ ِ َّالله ٍٍَُُٞٓ خَْ٘٤َُِا ْيَْٜؼَ٣ َُْْ َسٍَخَِٓ٩ح َِّٕا ِءخَوِِْط ِْٖٓ خَٛخَْ٘٣َأٍَ خٌَََُِّ٘ٝ ، ُٙ
َُّْػ ، َّخَوَظْٓحَٝ َّخَهَؤَك ُ َّالله َُِٚٔكٍَ ٌٍََْر ُٞرَأ َقَِ ْوَظْٓح ، خَُِ٘ٔلَْٗأَّخَوَظْٓحَٝ َّخَهَؤَك ََُُٔػ َقَِ ْوَظْٓح
Dan telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Daud yang berkata telah menceritakan kepada kami Ayuub bin Muhammad Al Wazzaan yang berkata telah menceritakan kepada kami Marwan yang berkata telah menceritakan kepada kami Musaawir Al Warraaq dari
„Amru bin Sufyaan yang berkata Aliy bin Abi Thalib [radiallahu „anhu] berkhutbah kepada kami pada perang Jamal, Maka Beliau berkata “amma ba‟du, sesungguhnya kepemimpinan
ini tidaklah diwasiatkan kepada kami oleh Rasulullah [shallallahu „alaihi wasallam] dengan wasiat yang harus kami ikuti, tetapi kami berpandangan tentangnya dengan pandangan kami sendiri, diangkat Abu Bakar [rahimahullah] maka ia menjalankannya dan istiqamah, kemudian diangkat Umar maka ia menjalankan dan istiqamah [Asy Syarii‟ah Al Ajurriy 2/441 no 1249]
Riwayat ini sudah kami bahas takhrij-nya secara lengkap beserta kedudukannya dalam tulisan kami disini. Kesimpulannya riwayat tersebut dhaif dengan keseluruhan jalannya, sungguh
tidak tsabit bahwa Imam Aliy [‗alaihis salaam] pernah mengatakannya, justru sebaliknya
telah tsabit perkataan Beliau [‗alaihissalaam] bahwa ia lebih berhak atas khilafah. Hal ini
kami pahami sebagaimana Rasulullah [shallallahu ‗alaihi wasallam] telah menetapkan Imam Aliy sebagai khalifah atau waliy bagi setiap mukmin sepeninggal Beliau [shallallahu ‗alaihi
wasallam].
Dalam diskusi tersebut Abu Azifah menguatkan riwayat tersebut dengan syubhat-syubhat yang tidak memiliki dasar dalam ilmu hadis. Oleh karena itu kami telah menjelaskan dengan panjang lebar kelemahan syubhat abu azifah sesuai dengan kaidah ilmu hadis. Aneh bin ajaib bukannya sadar diri dan belajar lagi ilmu musthalah hadis, yang bersangkutan justru menuduh kami tidak ilmiah.
Syubhat Abu Azifah atas hujjah kami dapat dirincikan sebagai berikut
1. Ketika kami melemahkan Marwan dengan alasan ia melakukan tadlis taswiyah, abu azifah berhujjah dengan perkataan Adz Dzahabiy dengan analogi kasus Walid bin Muslim.
2. Ketika kami menyatakan Musaawir majhul dengan alasan Marwan telah melakukan tadlis syuyukh, abu azifah bersikeras dengan riwayat di atas yang berlafaz ―Musaawir
Al Warraaq‖ dan menyatakan Musaaawir Al Warraaq tersebut tsiqat bukan Musaawir
yang majhul.
3. Ketika kami mengikuti perandaian abu azifah bahwa Musaawir tersebut adalah Musaawir Al Warraaq, kami menyebutkan illat [cacat] lain yaitu lafal an anah Musaawir Al Warraaq dari Amru bin Sufyaan tidak terbukti memenuhi persyaratan Imam Muslim. Abu Azifah menjawab kembali dengan andai-andai usia Musaawir 100 tahun sehingga memungkinkan bertemu Amru bin Sufyan.
4. Ketika kami melemahkan ‗Amru bin Sufyaan dimana tidak ada tautsiq dari ulama
mu‘tabar untuknya, abu azifah bersikeras dengan penyebutan Ibnu Hibban dalam Ats Tsiqat dan tautsiq Al Ijliy yang belum terbukti untuk ‗Amru bin Sufyaan yang
Pada akhir diskusi abu azifah justru tidak menjawab hujjah kami, ia menjawab via email yang ternyata cuma pengulangan saja dari komentar sebelumnya. Seolah hujjah yang kami sampaikan dalam meluruskan syubhat-syubhatnya ia anggap sebagai angin lewat saja. Insya Allah, berikut akan kami tampilkan jawabannya via email beserta pembahasan kami secara ilmiah, dengan harapan semoga ada pembaca yang bisa mengambil hikmah dari pembahasan ini. [adapun untuk abu azifah kami tidak mengharapkan apapun untuknya]
Untuk memudahkan para pembaca memahami hal-hal yang kami sebutkan di atas, ada baiknya membaca dengan hati-hati diskusi kami dengan abu azifah yang dapat dilihat dalam tulisan kami yang berjudul Imam Aliy Mengakui Kepemimpinannya. Kemudian melanjutkan dengan membaca tulisan ini. Komentar terakhir abu azifah [via email] adalah perkataaan yang kami quote
. . . .
Syubhat Tadlis Taswiyah
Assalaamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Tolong antum baca perlahan dan antum pikir lebih dalam argumentasi saya.
1. Adz Dzahabi ketika menulis tentang Al Walid, tahu ndak Al walid mudallas taswiyah ? Jawabnya : antum aja tahu apalagi beliau. Entoh seperti itu beliau
mencukupkan sima‘ Al walid kepada Al Auza‘i. Menurut anda sima‘ tersebut tidak cukup, harusnya sima‘Al Auza‘i disertakan. Antum jangan melampaui
batas terhadap Adz Dzahabi.
Wa‘alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh. Sebelum kita membicarakan tadlis
taswiyah. Ada baiknya kita memahami terlebih dahulu definisi tadlis taswiyah. Hal inilah yang gagal dipahami oleh Abu Azifah. Kalau dasarnya saja tidak paham maka tidak mengherankan kalau hujjah selanjutnya juga rusak.
Banyak para ulama membuat definisi tadlis taswiyah dalam kitab Ulumul hadis, berikut kami nukil definisi yang sederhana dari apa yang dikatakan Ibnu Rajab dalam kitabnya Syarh Ilal Tirmidzi
َؿٍ ٖػ شو ػ ٚ ُ ن٤ ٗ ٖػ ١َٝ ٣ ٕأ ٞٛٝ ، ش ٣ٞٔ ظ ُح ٠ٔٔ ٣ خٓ ٚ٘ ٓٝ ْ٤ ُي ط عٞ ٗ ٜٞ ك
٢ٓ ٞ ُح ٖٓ ق٤ ؼ ٠ ُح ٢و ٔ ٤ ك شو ػ ٖػ ق٤ ؼ ٟ
Maka itu adalah salah satu jenis tadlis, yang dinamakan dengan taswiyah, yaitu dimana ia [perawi] meriwayatkan dari syaikh [guru] yang tsiqat dari orang yang dhaif dari orang yang tsiqat kemudian ia [perawi tersebut] menghilangkan perawi dhaif di pertengahan sanad tersebut [Syarh Ilal Tirmidzi Ibnu Rajab 2/692]
Perbedaan tadlis isnad biasa dengan tadlis taswiyah adalah pada letak perawi yang dihilangkan di dalam sanad tersebut. Pada tadlis isnad biasa, perawi yang dihilangkan adalah antara orang [yang tertuduh tadlis] dan syaikh-nya [gurunya]. Sedangkan pada tadlis taswiyah, perawi yang dihilangkan adalah antara guru atau syaikh dari orang yang tertuduh dengan gurunya syaikh tersebut. Misalkan ada rantai sanad berikut
A —- B —- C —- D —- E —- F
Ternyata perawi A kemudian melakukan tadlis misalkan tadlis isnad biasa maka perawi yang dihilangkan oleh si A adalah perawi B sehingga sanadnya menjadi
A —- C —- D —- E —- F
Jika si perawi A melakukan tadlis taswiyah maka perawi yang dihilangkan oleh si A adalah perawi C, maka sanadnya menjadi
A —- B —- D —- E —- F
Dengan contoh di atas dapat dipahami bahwa untuk menghilangkan cacat tadlis taswiyah maka perawi tersebut minimal harus menjelaskan penyimakan hadisnya dari syaikh-nya [gurunya] kemudian syaikh-nya tersebut juga menjelaskan penyimakan dari syaikh-nya [gurunya] pula.
Sebagian ulama malah mengharuskan syarat bahwa lafal penyimakan itu harus ada pada setiap thabaqat sanad dari perawi tersebut hingga akhir sanad. Mengapa? Karena terdapat contoh kasus perawi melakukan tadlis taswiyah pada level sanad yang lebih tinggi. Misalkan dengan contoh di atas perawi A menghilangkan perawi D atau E dalam sanad tersebut. [Penjelasan rinci tentang ini tentu membutuhkan pembahasan tersendiri].
.
Setelah memahami penjelasan diatas maka mari kita lihat hujjah Abu Azifah tersebut. Sebelumnya Abu Azifah ini mengatakan bahwa Adz Dzahabiy dalam menerima tadlis taswiyah cukup dengan lafal penyimakan dari perawi tersebut dengan syaikh-nya saja. Abu Azifah memberi contoh Walid bin Muslim yang dikenal sebagai perawi tadlis taswiyah. Abu Azifah mengutip perkataan Adz Dzahabiy dalam kitab Al Mughniy
مٝيٛ ٍٜٞ٘ ٓ ّخٓا ٢و ٘ ٓي ُح ِْ ٔ ٓ ٖ ر ي٤ ُٞ ُحءخل ؼ ٟ ٖػ ْ ُي ٣ ٚ٘ ٌ ُٝ ٢ ك خٔ٤ ٓ ٫
شـك ٜٞ ك ٢ ػحُٝ٫ح خ٘ ػ ٍخ ه حًخ ك ٢ ػحُٝ٧ح
Waliid bin Muslim Ad Dimasyiq imam masyhur shaduuq tetapi melakukan tadlis dari para perawi dhaif,terutama dalam hadis Al Auza‟iy maka jika ia mengatakan telah menceritakan
kepada kami Al Auza‟iy maka ia menjadi hujjah. [Al Mughniy 2/725 no 6887]
Apakah Adz Dzahabiy di atas sedang membahas tadlis taswiyah?. Tidak, ia sedang membahas kedudukan perawi yaitu Walid bin Muslim. Sedangkan tadlis yang dibicarakan Adz Dzahabiy terhadap Walid bin Muslim dalam kitab Al Mughniy tersebut adalah tadlis
Walid dari para perawi dhaif dari Al Auza‘iy bukan tadlis taswiyah. Hal ini nampak dalam lafaz ٍٝىٕٙ ١كًٍ عٕ ععفاء