Terhadap Buku Putih Mazhab Syi’ah
Posted on Agustus 14, 2015 by secondprince
Studi Kritis Buku ”Hitam Di Balik Putih” Bantahan Terhadap Buku Putih Mazhab Syi’ah
.
Pendahuluan
Sebelum membaca tulisan ini, ada baiknya kami sarankan agar pembaca memiliki atau membaca langsung Buku Putih Mazhab Syi‘ah karya tim ABI [Ahlul Bait Indonesia] dan bantahannya yaitu buku Hitam Di Balik Putih karya Amin Muchtar. Hal ini penting agar pembaca memahami secara utuh keseluruhan tulisan yang ingin kami sampaikan.
.
.
Disini kami tidak akan membela secara buta Buku Putih Mazhab Syi‘ah karena bisa dibilang buku ini sudah cukup baik sebagai usaha mengenalkan mazhab Syi‘ah secara umum kepada orang awam. Walaupun tentu saja buku ini tidak lepas dari kekeliruan. Hal ini adalah perkara yang lumrah dalam dunia ilmiah.
Oleh karena itu kemunculan bantahan terhadap Buku Putih Mazhab Syi‘ah yaitu Buku ―Hitam Di Balik Putih‖ bukanlah perkara yang mengherankan. Penulis buku ini Amin
Muchtar mengklaim bahwa apa yang tertulis dalam Buku Putih Mazhab Syi‘ah bukan gambaran yang akurat tentang mazhab Syi‘ah. Pandangan ini sah-sah saja tinggal dievaluasi siapa yang sebenarnya lebih akurat dalam masalah ini atau justru keduanya sama-sama tidak akurat.
Hitam Di Balik Putih Hal 11
Ada fenomena aneh yang diam-diam menjangkiti orang awam atau para pengkaji yang levelnya sedikit di atas orang awam yaitu
1. Sebagian mereka memiliki kecenderungan lebih membenarkan Buku bantahan dibanding Buku yang dibantah.
2. Sebagian mereka mudah terpolarisasi tergantung dengan mazhab dan kepentingan. Seolah-olah benar dan salah itu ya kalau bukan Buku bantahan berarti Buku yang dibantah
Padahal bisa jadi kebenaran itu ada baik pada buku bantahan maupun buku yang dibantah sebagaimana kekeliruan itu ada baik pada buku bantahan maupun buku yang dibantah. Bahkan bisa jadi dalam perkara tertentu buku bantahan dan buku yang dibantah sama-sama keliru. Maka prinsip dasar dalam mengkaji dan mengevaluasi adalah jangan mudah percaya sampai membuktikannya sendiri dan menganalisis hujjah-hujjah yang ada baik pada buku bantahan maupun buku yang dibantah.
Pembahasan dalam tulisan ini kami fokuskan pada bagian tertentu yang dibahas Buku ―Hitam Di Balik Putih‖ dimana ia berusaha menunjukkan penyimpangan ―Buku Putih Mazhab Syi‘ah‖ padahal justru ia sendiri yang menyimpang. Semoga untuk kedepannya kami diberikan kemudahan untuk membahas tema-tema lainnya.
Yang menarik dari Buku ―Hitam Di Balik Putih‖ adalah penulisnya dalam membantah
bergaya seolah ia paling paham Ilmu Hadis dan Ilmu Rijal mazhab Syi‘ah dan mengesankan seolah tim ABI penulis Buku Putih Mazhab Syi‘ah tidak paham Ilmu Hadis dan Ilmu Rijal mazhab mereka [Syi‘ah].
Kami tidak mengenal tim ABI dan Buku Putih Mazhab Syi‘ah karya mereka tidak banyak
mengupas secara mendalam Ilmu Hadis dan Ilmu Rijal mazhab Syi‘ah. Jadi kami tidak tahu apakah mereka paham Ilmu Hadis dan Ilmu Rijal mazhab mereka [Syi‘ah]. Berbeda dengan Buku ―Hitam Di Balik Putih‖ walaupun kami tidak mengenal Amin Muchtar [sang
penulisnya] tetapi ia terlalu banyak bicara mengenai ilmu Hadis dan ilmu Rijal mazhab
Syi‘ah [hanya saja tidak jelas arahnya]. Banyak mengutip referensi ini dan itu tetapi tidak
diimbangi dengan analisis yang mendalam.
Orang yang berbicara hal-hal umum kemudian ia melakukan kesalahan maka kita mudah memahaminya karena gambarannya umumnya cukup jelas tetapi orang yang banyak bicara [sampai ke hal-hal kecil] dan tidak punya gambaran umum yang jelas kemudian ia salah
maka kita yang bingung ―ada apa dengan orang ini‖. Jadi ada apa sebenarnya?. Pengalaman
kami menunjukkan orang yang suka bicara hal-hal umum tetapi sering salah adalah orang yang banyak berpikir tetapi tidak banyak membaca. Intinya ia mungkin banyak berpikir tetapi data awalnya sedikit maka kemungkinan salahnya besar. Sedangkan orang yang tadi bikin kita bingung adalah orang yang banyak membaca tetapi sedikit berpikir atau tidak mahir berpikir. Data-data awalnya sudah banyak tetapi kesimpulan akhirnya ngawur. Orang ini nampak seperti orang pintar tetapi hakikatnya jahil.
. . .
Pembahasan
Tema yang berkaitan dengan pembahasan disini adalah mengenai kitab Al Kafiy. Menurut
Tim ABI dalam Buku Putih Mazhab Syi‘ah kitab Al Kafiy termasuk dalam empat kitab Rujukan Syi‘ah dimana jumhur ulama Syi‘ah tidak meyakini semua hadis dalam empat kitab rujukan tersebut shahih. Hal ini dibantah Amin Muchtar bahwa justru para ulama Syi‘ah
meyakini keshahihan empat kitab rujukan tersebut khususnya Al Kafiy.
Kami sudah pernah meneliti sendiri mengenai hal ini dan kebenarannya [menurut kami] adalah berdasarkan pendapat yang rajih, tidak semua hadis dalam empat kitab rujukan
mazhab Syi‘ah khususnya Al Kafiy shahih. Kekeliruan tim ABI adalah mereka menisbatkan
hal itu sebagai keyakinan jumhur ulama Syi‘ah sedangkan kekeliruan Amin Muchtar adalah ia berpanjang-panjang mengutip para ulama Syi‘ah yang meyakini keshahihan kitab Al Kafiy
kemudian berpegang dengannya padahal ia tahu ada sebagian ulama Syi‘ah yang tidak
meyakininya. Amin Muchtar bergaya seolah ia tahu duduk persoalannya tetapi ia tidak melakukan analisis yang berkualitas mengenai mana yang rajih dari perbedaan kedua pendapat tersebut.
Kalau Amin Muchtar cuma sekedar ingin membantah apa yang ditulis tim ABI ya hal ini
tidak masalah tetapi jika ia ingin sok menyatakan gambaran akurat tentang mazhab Syi‘ah
maka ia kekurangan analisis. Ia sok membahas perbedaan konsep ilmu hadis mutaqaddimin
dan muta‘akhirin dalam mazhab Syi‘ah tetapi ia tidak punya analisis secara mendalam mengenai mana konsep yang lebih akurat secara ilmiah. Kalau sendainya tim ABI lebih
berpegang pada konsep muta‘akhirin maka apa gunanya Amin Muchtar berbusa sana sini
.
Landasan utama Amin Muchtar dalam buku Hitam Di Balik Putih, ia berusaha menunjukkan
kerancuan metodologis ilmu hadis Syi‘ah yaitu konsep ilmu hadis muta‘akhirin. Amin
Muchtar membawakan contoh para ulama seperti Al Majlisiy dan Al Bahbuudiy yang menurutnya mengalami kerancuan dan kekacauan dalam penerapan konsep tersebut ketika keduanya melakukan penilaian terhadap hadis Al Kafiy. Kemudian Amin Muchtar berbusa-
busa mengutip konsep mutaqaddimin dan sebagian ulama Syi‘ah yang berpegang dengannya.
Perkara ini termasuk syubhat halus yang terbungkus secara ilmiah. Orang-orang awam mungkin akan manggut manggut membaca penjelasan Amin Muchtar yang penuh dengan
referensi ini itu tetapi mereka yang paham dengan ilmu hadis Syi‘ah akan kebingungan
membaca apa yang ditulis Amin Muchtar. Tidaklah mungkin menyalahkan atau mencela suatu metode atau kaidah ilmu berdasarkan kekacauan sebagian ulama yang menerapkannya. Ambil contoh kitab Musnad Ahmad bin Hanbal dalam mazhab Ahlus Sunnah bukankah
Syaikh Ahmad Syakiir dan Syaikh Syu‘aib Al Arnauth banyak menunjukkan perbedaan mereka dalam penilaian hadis-hadis Musnad Ahmad. Lantas apakah bisa begitu saja dikatakan bahwa mazhab Ahlus Sunnah mengalami kerancuan metode ilmu hadis karena kekacauan para ulama mereka yang menerapkannya.
Al Majlisiy dan Al Bahbuudiy bisa saja keliru dalam penerapannya dan untuk mengetahui kekeliruan itu ya justru dengan kembali pada kaidah ilmu atau metode ilmu hadis dalam
mazhab Syi‘ah. Kegunaan suatu metode atau kaidah ilmu adalah menjadi alat untuk
menganalisis dan memverifikasi pendapat ulama. Jika suatu metode tidak bisa digunakan untuk memverifikasi maka metode itu hanya bernilai historis.
Konsep mutaqaddimin pada dasarnya berpijak pada taklid dengan penshahihan ulama terdahulu. Konsep ini hanya bersifat historis dan tidak implementatif. Amin Muchtar boleh saja sok membenarkan atau berpegang pada konsep ini tetapi justru rancu sekali kalau ia
menyalahkan konsep muta‘akhirin. Silakan jika ia mampu atau mengutip ulama Syi‘ah yang
mampu memverifikasi kitab hadis Al Kafiy dengan metode mutaqaddimin?. Coba bawakan satu hadis Al Kafiy dan silakan Amin Muchtar membuktikan dengan metode mutaqaddimin kalau hadis tersebut memang shahih [seperti klaim Amin Muchtar bahwa Al Kulainiy menshahihkan seluruh hadis dalam Al Kafiy]. Kami yakin Amin Muchtar tidak akan bisa dan ujung-ujungnya dia akan berkata Al Kulainiy sudah menshahihkannya dan cukup taklid saja pada penilaian shahihnya. Terus kalau misalnya Al Kulainiy keliru maka metode verifikasinya bagaimana?. Apa mau pergi ke masa lalu untuk mengecek langsung hadisnya dari empat ratus ushul?.
Kami tidak mencela metode mutaqaddimin dan ulama Syi‘ah yang berpegang dengannya
tetapi sungguh keliru sekali jika mereka yang berpegang pada metode mutaqaddimin menyalahkan mereka yang berpegang pada konsep muta‘akhirin. Bagi kami metode
mutaqaddimin dijelaskan panjang lebar oleh sebagian ulama Syi‘ah untuk membenarkan sikap taklid mereka akan keshahihan kitab rujukan mazhab Syi‘ah. Metode mutaqaddimin
sebagian besar tidak memiliki batasan yang jelas mengenai qarinah-qarinah penshahihan dan sulit diverifikasi seperti empat ratus ushul tidak bisa dijadikan panduan karena empat ratus ushul sudah tidak ada lagi di zaman ini. Oleh karena itu kami katakan metode mutaqaddimin bernilai historis dan tidak implementatif dalam memverifikasi suatu hadis apakah shahih atau tidak.
Makanya kami katakan bagi mereka yang berpegang pada metode mutaqaddimin mereka hanya sekedar taklid dan tidak bisa memverifikasi benar atau tidak taklid mereka tetapi bagi mereka yang berpegang pada konsep muta‘akhirin itu perkara yang mudah untuk dilakukan. Jadi bagaimana mungkin orang bernama Amin Muchtar ini sok mengatakan konsep
muta‘akhirin itu rancu kemudian dengan mudahnya berpegang pada konsep mutaqaddimin.
Memang pembahasan tentang mutaqaddimin versus muta‘akhirin dalam ilmu hadis mazhab
Syi‘ah bukan perkara yang bisa selesai dengan tulisan sederhana. Hal itu membutuhkan
tempat yang khusus dan pembahasan yang terperinci [insya Allah jika diberikan kemudahan hal ini akan dibahas secara khusus dalam tulisan lain].
. .
Pada tulisan ini kami hanya ingin menunjukkan salah satu contoh kekacauan bantahan Amin Muchtar kepada tim ABI. Salah satu pernyataan tim ABI untuk membuktikan dakwaan mereka [tidak semua hadis Al Kafiy adalah shahih] adalah dengan membawakan contoh perawi hadis Al Kafiy yang lemah dan tertolak riwayatnya diantaranya Muhammad bin Muusa Al Hamdaaniy.
Buku Putih Mazhab Syi‘ah Hal 31
Hal ini sudah benar karena dasar tim ABI disini adalah mereka berpegang pada konsep
shahih muta‘akhirin yang salah satu kriteria shahihnya berdasarkan kedudukan atau
kredibilitas perawi hadis.
Sedikit catatan dari nama-nama yang disebutkan tim ABI di atas ada satu nama yang keliru sebagai contoh perawi lemah dan tertolak riwayatnya yaitu Aliy bin Asbath Abu Hasan Al Muqriy. Aliy bin Asbath seorang yang tsiqat sebagaimana dikatakan An Najasyiy [Rijal An Najasyiy hal 252 no 663].
Amin Muchtar berpanjang-panjang membantah tim ABI tetapi bantahannya tidak memiliki konsep yang jelas. Amin Muchtar membawakan bantahan yang intinya adalah
1. Bantahan pertama menyatakan tim ABI tersebut hathib lail [mengigau bicara] 2. Bantahan kedua menyatakan tim ABI tersebut belum khatam kitab Rijal Al Hadits
Amin Muchtar menyatakan tim ABI hathib lail [mengigau bicara] dengan dasar mengutip dua
ulama Syi‘ah yang berpandangan bahwa sudah tidak perlu meneliti keadaan perawi hadis Al
Kafiy atau pembahasan sanad-sanad riwayat Al Kafiy adalah pekerjaan orang lemah.
Hitam Di Balik Putih Hal 241
Apakah ini hujjah yang kuat?. Jawabannya tidak, karena pada dasarnya hal ini terbentur
dengan fakta bahwa sebagian ulama Syi‘ah lain tetap berpegang pada konsep ilmu hadis muta‘akhirin yang salah satunya mengandalkan kredibilitas dan kedudukan perawi. Dan
nampaknya disinilah tim ABI berdiri. Kalau Amin Muchtar lebih berpegang pada konsep ilmu hadis mutaqaddimin dan itupun sebenarnya hanya mengandalkan cukup percaya dan taklid saja pada keshahihan Al Kafiy ya itu tidak menunjukkan kalau tim ABI hathib lail [mengigau bicara].
Amin Muchtar boleh saja menyalahkan tim ABI dalam hal ini kalau ia sudah melakukan analisis dan menunjukkan bahwa konsep ala mutaqaddimin itu yang valid dan ala
muta‘akahirin itu yang keliru. Cuma asal main kutip qaul ulama ya tidak ada gunanya.
Harusnya ia melangkah lebih maju dengan berpikir ―qaul ulama itu berdiri atas dasar apa‖ dan dimana letak kekeliruan ulama lain yang bertentangan dengan qaul tersebut.
Semakin tidak jelas ketika Amin Muchtar memberikan contoh Al Bahbudiy yang dikecam sebagian ulama Syi‘ah atas hasil ijtihadnya yang memilah-milah hadis Al Kafiy. Contoh ini
tidak tepat sasaran dan tidak ada nilai hujjahnya. Apakah ketika Al Bahbuudiy keliru dalam sebagian ijtihadnya terhadap hadis-hadis Al Kafiy maka ―usaha ijtihad penilaian hadis berdasarkan kaidah ilmu‖ dianggap sesuatu yang keliru?. Syaikh Al Albaniy misalnya pernah dikecam ketika ia mendhaifkan hadis dalam kitab Shahih atau ketika ia memilah-milah hadis dalam kutubus sittah dan ternyata keliru dalam hasil ijtihadnya. Apakah hal itu berarti ―usaha
ijtihad penilaian hadis berdasarkan kaidah ilmu‖ yang dilakukan Syaikh Al Albaniy itu
sebenarnya tidak perlu atau pekerjaan orang lemah?
Al Bahbuudiy bisa saja keliru dalam sebagian metodenya sehingga sebagian ulama mengecamnya. Misalnya seperti yang dinukil Amin Muchtar mengenai perkataan Sayyid Murtadha bahwa Al Bahbuudiy berpegang pada kitab Rijal Ibnu Ghadhairiy dimana kitab ini diingkari sebagian ulama hadis sebagai karya Ibnu Ghadairiy. Artinya kitab itu tidak
mu‘tamad [sebagai pegangan] dalam kitab Rijal [dalam pandangan sebagian ulama Syi‘ah
walaupun sebagian ulama lain tetap berpegang dengannya] maka tidak bisa dijadikan dasar
dalam menilai perawi hadis Al Kafiy. Apakah dengan fakta ini maka ―usaha penilaian hadis
dengan metode berpegang pada kitab Rijal‖ dianggap perkara yang keliru?.
Bagaimana jika seseorang berpegang pada kitab Rijal yang mu‘tabar seperti Rijal An
Najasyiy dan Rijal Ath Thuusiy dalam menilai hadis Al Kafiy?. Mau dikatakan Amin Muchtar keliru juga sambil mencari-cari alasan atau mengutip qaul ulama Syi‘ah lain. Atau ia
akan kembali pada perkataan ulama Syi‘ah yang menganggap meneliti perawi sanad Al Kafiy
adalah tidak perlu dan pekerjaan orang lemah. Silakan lihat wahai pembaca bukankah ini yang kami katakan Amin Muchtar ini terlalu banyak bicara tetapi tidak jelas arahnya. Mengutip qaul ulama ini itu tetapi tidak jelas arah bantahannya.
Hal yang sederhana dan sepertinya tidak terpikirkan oleh Amin Muchtar adalah apa gunanya berbagai kitab Ilmu Hadis dan kitab Ilmu Rijal dalam mazhab Syi‘ah kalau ujung-ujungnya yang benar itu ya berpegang saja pada empat kitab rujukan toh semua riwayatnya shahih dan
mu‘tabar. Ilmu hadis dan ilmu Rijal mazhab Syi‘ah justru berkembang karena konsep muta‘akhirin [dimana tim ABI berdiri].
. . .
Bantahan kedua Amin Muchtar menyatakan tim ABI belum khatam kitab Rijal. Amin Muchtar berpanjang-panjang membantah salah satu contoh perawi hadis Al Kafiy yang dikatakan lemah oleh tim ABI yaitu Muhammad bin Muusa Al Hamdaniy. Menurut Amin Muchtar, para ulama Syi‘ah menerima periwayatan Muhammad bin Muusa Al Hamdaniy khususnya dalam kitab Al Kafiy.
Hitam Di Balik Putih Hal 245
Amin Muchtar juga disini menunjukkan ketidakjelasan dalam arah bantahannya. Pembahasan tentang kedudukan perawi hadis dalam ilmu Rijal adalah pembahasan yang ada dalam konsep
ilmu hadis muta‘akhirin mazhab Syi‘ah. Anggap saja benar bantahan Amin Muchtar
mengenai perawi Muhammad bin Muusa Al Hamdaaniy, terus bagaimana dengan para perawi lain dalam kitab Al Kafiy yang dalam kitab Rijal dikatakan dhaif atau pendusta tanpa ada penyelisihan?. Apakah ini akan dimentahkan lagi oleh Amin Muchtar dengan qaul ulama yang ia kutip sebelumnya bahwa pembahasan perawi dan sanad Al Kafiy itu tidak perlu atau hanya pekerjaan orang lemah. Seakan-akan qaul ulama yang ia kutip adalah kebenaran mutlak yang tidak bisa dipertanyakan.
Apa gunanya ia berpanjang-panjang membahasnya kalau ia sendiri dari awal menyalahkan
metode menilai hadis berdasarkan kedudukan perawi dalam kitab Rijal?. Apakah sekedar ingin menunjukkan kalau ia ahli dalam hal ini dan sudah khatam sedangkan tim ABI belum khatam?. Kalau benar begitu maka mari kami tunjukkan penyimpangan Amin Muchtar mengenai perawi Muhammad bin Muusa Al Hamdaaniy. Siapa sebenarnya yang belum khatam kitab Rijal dalam perkara ini?.
ٕخ ًٝ ،ِٞ ـ ُخ ر ٕٞ٤ ٔو ُح ٚل ؼ ٟ ،ٕخٔٔ ُح ٢ ٗحئُٜح َل ؼ ؿ ٞ رأ ٠ٔ ٤ ػ ٖ ر ٠ٓ ٞٓ ٖ ر ئلٓ
ِْ ػأ اللهٝ ،غ ٣يل ُح غ٠ ٣ ٕخ ً ٚ ٗا :ٍٞو ٣ ي٤ ُٞ ُح ٖ رح
Muhammad bin Muusa bin „Iisa Abu Ja‟far Al Hamdaaniy As Samaan, orang-orang qum mendhaifkannya karena ghuluw, dan Ibnu Waalid mengatakan “sesungguhnya ia pemalsu
hadis” wallahu a‟laam [Rijal An Najaasyiy hal 338 no 904]
ٖ رح ئلٓ خ٘ و٤ ٗ ٕب ك ٚٓخٛ ٖٔ ُ ٚ٤ ك ٍٞ ًٌٔ ُح دحٞؼ ُحٝ ْه َ ٣يؿ ّٞ ٣ س٬ٛ َز ه خٓأٝ
ٖٔ ل ُح– ٚ٘ ػ الله ٢ٟ ٍ–
ٚ ُح ٠ٓ ٞٓ ٖ ر ئلٓ ن ٣َ١ ٖٓ ٚ ٗا :ٍٞو ٣ٝ ٚللٜ ٣ ٫ ٕخ ً ٢ ٗحيٓ
شو ػ َ٤ ؿ خ رحٌ ً ٕخ ًٝ
Adapun kabar shalat pada hari ghadir khum dan pahala yang disebutkan bagi yang
berpuasa [pada hari itu], maka guru kami Muhammad bin Hasan [radiallahu „anhu] tidak
menshahihkannya dan ia mengatakan sesungguhnya kabar itu dari jalan Muhammad bin Muusa Al Hamdaaniy dan ia seorang pendusta tidak tsiqat [Man Laa Yahdhuruhu Al Faqiih Syaikh Ash Shaduuq 2/60]
ًحيٛخٗ ؽَو٣ ٕأ ُٞـ٣ٝ،ءخلؼ٠ُح ٖػ ١َٝ٣ ، ق٤ؼٟ ٢ٗحئُٜح َلؼؿ ٞرأ ٠ٔ٤ػ ٖر ٠ٓٞٓ ٖر ئلٓ
Muhammad bin Muusa bin „Iisa Abu Ja‟far Al Hamdaaniy seorang yang dhaif, ia meriwayatkan dari para perawi dhaif dan ia boleh diriwayatkan sebagai penguat [Rijal Ibnu
Ghada‟iriy hal 94-95 no 136].
Ibnu Daud Al Hilliy memasukkan Muhammad bin Muusa Al Hamdaaniy ke dalam begian kedua dari kitabnya yang memuat daftar perawi majruh [tercela] dan majhul [Rijal Ibnu Daud hal 511 no 471].
Allamah Al Hilliy memasukkan Muhammad bin Muusa Al Hamdaaniy ke dalam bagian kedua kitabnya yang memuat daftar perawi dhaif dan perawi yang ia bertawaqquf atasnya. Allamah Al Hilliy menyatakan bahwa ia seorang yang dhaif [Khulaashah Al Aqwaal Allamah Al Hilliy hal 401 no 1618].
Syaikh Muhammad Taqiy At Tusuturiy menyebutkan dalam biografi Muhammad bin Muusa
bin ‗Iisa As Samaan
فٞ ٗ ٖ رحٝ ٚ ٣ٞ رخ ر ٖ رحٝ ي٤ ُٞ ُح ٖ رح ٚ ر ٍخ ه ،٢ هخل طح ٚل ؼ ٠ ك ن٤ ٘ ُحٝ– ٢ ك
ضٓ َٜل ُح–١َ ثخ٠ ـ ُح ٖ رحٝ ٢ٗ خـ٘ ُحٝ
Maka mendhaifkannya itu sudah menjadi kesepakatan, telah mengatakannya Ibnu Waalid, Ibnu Babawaih, Ibnu Nuuh, Syaikh [Ath Thuusiy] dalam Al Fahrasat, An Najaasyiy dan Ibnu
Ghada‟iriy [Qaamuus Ar Rijaal At Tusuturiy 9/612 no 7313]
Jadi berdasarkan keterangan dalam kitab-kitab mazhab Syi‘ah di atas maka dapat disimpulkan bahwa Muhammad bin Muusa Al Hamdaaniy seorang yang dhaif pendusta dan pemalsu hadis.
. .
Amin Muchtar dalam Buku Hitam Di Balik Putih menukil pendapat dua ulama Syi‘ah yaitu
Sayyid Al Khu‘iy dan Sayyid Bahr Al ‗Ulum yang menurut Amin Muchtar mengevaluasi
secara kritis penilaian dhaif terhadap Muhammad bin Muusa Al Hamdaaniy. Berikut akan kami bahas secara kritis apa yang dinukil Amin Muchtar tersebut.
Hitam Di Balik Putih Hal 248
Hitam Di Balik Putih Hal 249
.
Sayyid Al Khu‘iy termasuk ulama yang menganggap bahwa Muhammad bin Muusa Al Hamdaaniy perawi yang dhaif. Hal ini nampak jelas dalam kitabnya Mu‘jam Rijal Al Hadits
ٚؼ ز ط ي هٝ ،ي٤ ُٞ ُح ٖ رح ٞٛ َؿَ ُح ق٤ ؼ ٠ ط ٢ ك ّخٓ ٧ح ٕأ ،صخِٔ ٌ ُح عٞٔـٓ ٖٓ َٜظ ٣ ١ٌ ُح
ٚل ؼ ٠ ر ٌْ ل ُح ٢ ك ٢ل ٌ ٣ حٌٛٝ ،خَٔٛ٤ ؿٝ فٞ ٗ ٖ رحٝ ،مٝيٜ ُح ي ًُ ٠ِ ػ
Yang nampak jelas dari kumpulan perkataan tersebut adalah awal mula pendhaifan perawi tersebut [Muhammad bin Muusa Al Hamdaaniy] adalah Ibnu Waaliid, dan hal itu diikuti oleh Ash Shaduuq, Ibnu Nuuh dan selain keduanya. Hal ini cukup dalam menghukum kedhaifannya[Mu‟jam Rijal Al Hadiits Sayyid Al Khu‟iy 18/298 no 11875]
Lafaz ―hal ini cukup untuk menghukum kedhaifannya‖ adalah bukti kuat pendhaifan Sayyid
Al Khu‘iy terhadap Muhammad bin Muusa Al Hamdaaniy. Anehnya Amin Muchtar juga telah membaca tulisan Sayyid Al Khu‘iy tetapi ia seolah tidak memahami apa yang ditulis Sayyid Al Khu‘iy. Jadi Sayyid Al Khu‘iy berada pada barisan ulama yang mendhaifkan Muhammad bin Muusa bukan pada pihak yang kontra sebagaimana dikatakan Amin Muchtar.
Sebenarnya yang dievaluasi secara kritis oleh Sayyid Al Khu‘iy adalah anggapan bahwa
Muhammad bin Muusa Al Hamdaaniy telah memalsukan kitab atau ushul Zaid Az Zarraad dan Zaid An Narsiy. Syaikh Ath Thuusiy dalam kitab Al Fahrasat-nya menyebutkan dalam biografi Zaid An Narsiy dan Zaid Az Zarraad
ْ ُ :ٚظ ٓ َٜ ك ٢ ك ٍخ هٝ ،ٚ ٣ٞ رخ ر ٖ ر ٖ٤ ٔ ل ُح ٖ ر ٢ِ ػ ٖ ر ئلٓ خَٔٛٝ ٣ ْ ُ ،ٕ٬ٛ أ خُٜٔ
ٍٞ ُح ٖ ر ٖٔ ل ُح ٖ ر ئلٓ خَٔٛٝ ٣ يز ػ ٖ ر ي ُخه دخظ ً ي ٌُ ًٝ ،ٕخػٟٞ ٞٓ خٔٛ :ٍٞو ٣ ٕخ ًٝ ،ي ٣
ي ٣ُ دخظ ً ٢ ٗحئُٜح ٠ٓ ٞٓ ٖ ر ئلٓ ٍٞٛ ٧ح ٌٙٛ غٟ ٝ :ٍٞو ٣ ٕخ ًٝ ،َ ٣يٓ ٖ ر الله
ٚ٘ ػ َ٤ ٔػ ٢ رأ ٖ رح ٙحٍٝ ٢ٓ َ٘ ُح
Keduanya memiliki ashl [kitab], Muhammad bin „Aliy bin Husain bin Babawaih [Syaikh
Shaduuq] tidak meriwayatkan keduanya, dan ia berkata dalam Al Fahrasatnya “Muhammad
bin Hasan bin Waliid tidak meriwayatkan keduanya, ia mengatakan keduanya palsu dan
begitu pula kitab Khaalid bin Abdullah bin Sadiir, ia mengatakan “ushul ini telah dipalsukan
oleh Muhammad bin Muusa Al Hamdaaniy. Kitab Zaid An Narsiy telah diriwayatkan Ibnu
Abi „Umair darinya [Al Fahrasat Syaikh Ath Thuusiy hal 71 no 289 & 290]
Muhammad bin Hasan bin Waliid telah menuduh Muhammad bin Muusa memalsukan kitab Zaid An Narsiy dan Zaid Az Zarrad, kemudian hal ini diikuti oleh Syaikh Ash Shaduq. Ibnu
Ghada‘iriy yang menyebutkan dalam biografi Zaid An Narsiy dan Zaid Az Zarraad
٢ِ ؿٝ ٕخٔٔ ُح ٠ٓ ٞٓ ٖ ر ئلٓ ٚؼ ٟ ٝ ،عٟٞ ٞٓ خٜٔ رخظ ً ٕا :ٚ ٣ٞ رخ ر ٖ رح َل ؼ ؿ ٞ رأ ٍخ ه
ئلٓ ٖػ شػٞٔٔ ٓ خٜٔز ظ ً ض ٣أٍ ٢ ٗب ك ،ٍٞو ُح حٌٛ ٢ ك َل ؼ ؿ ٞ رأ.َ٤ ٔػ ٢ رأ ٖ ر
Abu Ja‟far Ibnu Babawaih [Syaikh Shaduuq] berkata “kitab keduanya palsu, dan yang