• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kedustaan Al Amiry : Jima’ Melalui Dubur Tidak

Dalam dokumen J ALGAR PADA BLOGNYA (Halaman 146-163)

Membatalkan Puasa Dalam Mazhab Syi’ah

Posted on Juli 4, 2015 by secondprince

Kedustaan Al Amiry : Jima’ Melalui Dubur Tidak Membatalkan Puasa Dalam Mazhab Syi’ah

Untuk kesekian kali-nya orang yang menyebut dirinya Al Amiry ini membuat kedustaan atas

mazhab Syi‘ah. Kali ini ia menyatakan kalau dalam mazhab Syi‘ah jima‘ melalui dubur itu

tidak membatalkan puasa. Kami akan menunjukkan kepada para pembaca bahwa Al Amiry

ini telah berdusta atas mazhab Syi‘ah.

Tetapi sebelum masuk ke pembahasan ada baiknya kami menyatakan dengan tegas mengenai

i‘tiqad [keyakinan] kami mengenai hukum ―mendatangi istri pada duburnya‖. Di sisi kami berdasarkan pendapat yang rajih hukumnya haram. Hal ini sebagaimana diriwayatkan dalam

menekankan hal ini agar para pembaca tidak salah paham setelah membaca tulisan ini. Kami

membela mazhab Syi‘ah atas kedustaan dari orang-orang seperti Al Amiry maka bukan

berarti kami menyepakati pendapat mazhab Syi‘ah dalam hal ini.

. . .

Pembahasan

Al Amiry membawakan dua riwayat dalam kitab Tahdzib Al Ahkam Syaikh Ath Thuusiy. Al Amiry berkata

Kedua riwayat ini sanadnya dhaif, cukup banyak para ulama Syi‘ah yang mendhaifkannya

dan mereka tidak berhujjah dengannya. Dan memang berdasarkan kaidah ilmu hadis dalam

mazhab Syi‘ah riwayat tersebut memang dhaif.

Al Amiry tidak menukil sanad lengkap kedua riwayat tersebut karena jika ia menukil sanad

riwayat tersebut maka sangat jelas kedhaifannya bahkan di mata orang awam Syi‘ah

sekalipun. Berikut sanad lengkap kedua riwayat tersebut

. .

ح يز ػ ٢ رأ ٠ ُا ٚؼ كَ ٣ ٖ٤ ٤ كٌٞ ُح ٞؼ ر ٖػ ٚ٘ ػ ٢ طؤ ٣ َؿَ ُح ٢ ك :ٍخ ه ّ٬ٔ ُح ٚ٤ ِ ػ لله

َٔ ؿ خٜ٤ ِ ػ ْ٤ ُٝ خٜٓٞٛ ٞو ٘ ٣ ٫ :ٍخ ه شٔ ثخٛ ٢ٛٝ خَٛ رى ٢ ك سأَٔ ُح

Darinya dari sebagian orang-orang Kufah yang merafa‟kannya kepada Abu Abdillah

[„alaihis salaam] yang berkata “tentang seorang laki-laki yang mendatangi istrinya pada

duburnya ketika berpuasa”. Ia berkata “tidak membatalkan puasanya dan tidak wajib mandi” [Tahdzib Al Ahkam 4/319 no 43]

Riwayat di atas sanadnya dhaif karena perawi yang mubham tidak diketahui siapa orang- orang kufah tersebut dan riwayat tersebut mursal karena lafaz ―merafa‘kan‖ itu bermakna menyambungkan kepada Abu Abdullah dan secara zhahir lafaz ini digunakan pada riwayat yang terputus sanadnya. Al Majlisiy dalam Malaadz Al Akhyaar 7/151 no 43 menyatakan riwayat tersebut mursal

Allamah Al Hilliy berkata tentang riwayat ini ―riwayat ini mursal, tidak dapat diandalkan dengannya‖[Mukhtalaf Asy Syi‘ah Fii Ahkaam Asy Syarii‘ah 3/390-391]

. .

Riwayat Kedua

٠ طح حًا :ٍخ ه ّ٬ٔ ُح ٚ٤ ِ ػ الله يز ػ ٢ رأ ٖػ َؿٍ ٖػ ٌْ ل ُح ٖ ر ٢ِ ػ ٖػ ئلٓ ٖ ر ئكأ

سأَٔ ُح َؿَ ُحَٔ ؿ خٜ٤ ِ ػ ْ٤ ُٝ خٜٓٞٛ ٞو ٘ ٣ ْ ُ شٔ ثخٛ ٢ٛٝ َ ري ُح ٢ ك

Ahmad bin Muhammad dari Aliy bin Al Hakam dari seorang laki-laki dari Abi „Abdillah

[„alaihis salaam] yang berkata “jika seorang laki-laki mendatangi istrinya pada duburnya ketika ia berpuasa maka itu tidak membatalkan puasanya dan tidak wajib mandi” [Tahdzib Al Ahkam 4/319-320 no 45]

Riwayat kedua sanadnya juga dhaif karena perawi mubham tidak diketahui siapa orang yang meriwayatkan dari Abu Abdullah tersebut. Syaikh Ath Thuusiy sendiri melemahkan riwayat di atas. Setelah membawakan riwayat di atas, ia berkata

Kabar ini tidak diamalkan dengannya, sanadnya terputus, tidak dapat diandalkan dengannya [Tahdzib Al Ahkam 4/320]

Dan sebagaimana dapat dilihat di atas dalam Malaadz Al Akhyaar 7/152 no 45 Al Majlisiy juga menyatakan riwayat kedua tersebut mursal.

Ibnu Fahd Al Hilliy dalam kitabnya juga menyatakan riwayat diatas mursal [Al Muhadzdzab

Al Bari‘ Fii Syarh Mukhtashar An Naafi‘ 2/26]

. . .

Dalam mazhab Syi‘ah justru jima‘ melalui dubur termasuk hal yang membatalkan puasa. Hal

ئ ل ٓ ٚ ٗأ ٢ ك ش كخ ً ءخِٔ ؼ ُح ٖ٤ ر ف٬ ه ٬ ك ٍحِ ٗ٩ح غٓ ٕخ ً ٕب ك ،َ ري ُح ٢ ك ء١ٞ ُح خٓأٝ

ّ فَٝؼ ٔ ُخ ك ٍحِ ٗ٩ح ٕٝي ر ٕخ ً ٕاٝ ،ّٜٞ ِ ُي ٌُ ً ٚ ٗأ دخلٛ ٧ح ذٌٛٓ ٕ

Adapun berhubungan melalui dubur, maka jika disertai dengan keluarnya air mani maka tidak ada perselisihan diantara para ulama seluruhnya bahwasanya hal itu membatalkan puasa dan jika tanpa mengeluarkan air mani maka yang dikenal dalam mazhab al ashab [ulama-ulama terdahulu] bahwasanya ia juga demikian [membatalkan puasa] [Madaarik Al

،سأَٔ ُح َز ه ٢ ك َٔ ـ ِ ُ ذؿٞٔ ُح عخٔـ ُخ ر ّٜٞ ُح ىخٔ كا ٠ِ ػ ش كخ ً ءخِٔ ؼ ُح غٔؿأ ي هٝ

٢ ك ؤ١ٝ ٞ ُٝ ٍِ٘ ٣ ْ ُ ٝأ ٍِ ٗأ ءحٞٓ ش ٣٦ ُ ،ٍِ٘ ٣ ْ ُ ٞ ُٝ ،خػخٔؿا ٚٓٞٛ ئ ك ،ٍِ ٗؤ ك َ ري ُح

ىخٔ ك٩ح ٚ٤ ِ ػ ئظ ؼ ٔ ُخ ك

Dan sungguh telah bersepakat para ulama seluruhnya bahwa batal puasa dan wajib mandi

dengan adanya jima‟ [bersetubuh] pada kemaluan istri berdasarkan ayat Al Qur‟an [Al

Baqarah 187] baik itu mengeluarkan air mani atau tidak, dan seandainya ia berhubungan

melalui dubur dan mengeluarkan air mani maka batal puasanya menurut ijma‟, dan jika

tidak mengeluarkan air mani maka pendapat yang dijadikan pegangan puasanya batal

[Tadzkirah Al Fuqahaa‟ Allamah Al Hilliy 6/23-24] .

. .

Kemudian Al Amiry menukil fatwa ulama Syi‘ah Muhsin Alu Ushfur yang ia sebut sebagai ―fatwa gila‖ dan fatwa ulama Syi‘ah As Sistaniy mengenai bolehnya berhubungan dengan

istri melalui dubur jika istrinya ridha terhadapnya.

Dalam fatwa kedua ulama Syi‘ah diatas tidak ada keterangan bahwa berhubungan dengan istri melalui dubur tidak membatalkan puasa. Fatwa keduanya itu berkenaan dengan hukum ―berhubungan dengan istri melalui dubur‖ apakah boleh atau tidak?.

Dalam mazhab Syi‘ah ada dua pendapat berkenaan dengan hal ini. Pertama : pendapat yang

berpendapat demikian adalah sebagaimana dinukil Sayyid Muhammad Shaadiq Ar Ruuhaniy dalam kitab Fiqih Ash Shaadiq

ٍّخٌ ٔ ُح ٢ رأ ي٤ ٔ ُحٝ دخز ِ ُح ٢ ك ١ي ٗٝحَ ُحٝ ١ُحَ ُح ن٤ ٘ ُحٝ سِٔك ٖ رحٝ ٖ٤ ٤ ٔو ُح ٖػٝ

شَٓل ُخ ر ٍٞو ُح َ ه٬و ُح َ ر٬ ر ذكخٛ

Dan dari para ulama qum, Ibnu Hamzah, Syaikh Ar Raziy, Ar Rawandiy dalam Al Lubab, Sayyid Abi Makarim penulis kitab Balaabil Al Qalaaqil, mengatakan haram. [Fiqih Ash Shadiq Sayyid Ar Ruuhaniy 31/118]

Sayyid Muhammad Husain Fadhlullah juga berpendapat tidak boleh berhubungan dengan

istri melalui duburnya [Fiqh Asy Syarii‘ah Sayyid Muhammad Husain Fadhlullah 3/517 no

749]. Syaikh Muhammad Ishaaq Al Fayaadh juga mengharamkan mendatangi istri pada duburnya baik saat suci maupun haidh [Minhaaj Ash Shaalihiin Syaikh Muhammad Ishaaq Al Fayaadh 1/107 no 228].

Diantara dalil yang menguatkan pendapat ini dan dengan lafaz sharih [jelas] menyatakan haram adalah riwayat yang dibawakan Syaikh Ath Thuusiy dalam Tahdzib Al Ahkam

ْٗ خٛ ٖػ َٙ٤ ؿ ٝأ ْ ٗٞ ٣ ٖػ ٠ٓ ٞٓ ٖ ر ّخز ؼ ُح ٖػ ٠ٔ ٤ ػ ٖ ر ئلٓ ٖ ر ئكأ ٙحٍٝ خٓ خٓخ ك

٠ِ ٛ الله ٍٞٓ ٍ ٍخ ه :ٍٞو ٣ ّ٬ٔ ُح ٚ٤ ِ ػ َل ؼ ؿ خ رأ ضؼ ٔٓ :ٍخ ه َ ٣يٓ ٖػ ٠٘ ؼ ٔ ُح ٖ ر

٢ِ ػ اللهّحَك ٢ظ ٓأ ٠ِ ػ ءخٔ ٘ ُح ٕخلٓ :ٚ ُآٝ ٙ

Diriwayatkan Ahmad bin Muhammad bin Iisa dari „Abbaas bin Muusa dari Yuunus atau selainnya dari Haasyim bin Al Mutsanna dari Sadiir yang berkata aku mendengar Abu Ja‟far [„alaihis salaam] mengatakan Rasulullah [shallallahu „alaihi wasallam] bersabda “dubur wanita atas umatku haram” [Tahdzib Al Ahkam 7/416 no 36].

Al Majlisiy dalam Malaadz Al Akhyaar 12/360 no 36 menyatakan riwayat di atas mursal

begitu pula Allamah Al Hilliy dalam Tadzkirah Al Fuqahaa‘ 2/577 menyatakan riwayat tersebut mursal. Sebenarnya kami belum menemukan dimana letak kelemahan mursal yang dimaksudkan keduanya tetapi riwayat tersebut para perawinya tsiqat kecuali Sadiir Ash Shairafiy. Ia tidak dikenal tautsiq-nya dari kalangan ulama mutaqaddimin Syi‘ah tetapi

sebagian ulama muta‘akhirin menguatkannya.

Allamah Al Hilliy telah menyebutkan Sadiir dalam bagian pertama kitabnya yang memuat perawi yang terpuji dan diterima di sisi-nya. Dalam kitabnya tersebut Al Hilliy juga menukil Sayyid Aliy bin Ahmad Al Aqiiqiy yang berkata tentang Sadiir bahwa ia seorang yang mukhalith [kacau atau tercampur] [Khulashah Al Aqwaal hal 165 no 3]. Pentahqiq kitab

Khulashah Al Aqwal berkata bahwa lafaz mukhalith tersebut bermakna riwayatnya ma‘ruf

dan mungkar. Maka berdasarkan pendapat yang rajih Sadiir tidak bisa dijadikan hujjah jika tafarrud [menyendiri dalam periwayatan] dan tidak diterima hadisnya jika bertentangan dengan riwayat perawi tsiqat. Dalam perkara ini ternukil riwayat shahih yang bertentangan dengan riwayat Sadiir.

Sebagian ulama yang menerima riwayat Sadiir diatas memalingkan makna haram tersebut kepada makna makruh dengan dasar adanya riwayat-riwayat shahih yang menetapkan kebolehan mendatangi istri pada duburnya. Maka dari sinilah muncul pendapat yang kedua

Kedua : pendapat yang mengatakan hukum ―berhubungan dengan istri melalui dubur‖ boleh

jika disertai ridhanya istri dan hal ini makruh. Pendapat kedua inilah yang masyhur dan rajih

dalam mazhab Syi‘ah karena memiliki hujjah dari riwayat Ahlul Bait yang shahih dalam

mazhab Syi‘ah. Diantaranya sebagai berikut

ٖٓ ٬ ؿٍ ٕح ّ٬ٔ ُح ٚ٤ ِ ػ خٟ َِ ُ ضِ ه ٍٞو ٣ ٕحٞل ٛ ضؼ ٔٓ ٍخ ه ٌْ ل ُح ٖ ر ٢ِ ػ ٖػ ٚ٘ ػٝ

ضِ ه ٍخ ه ٢ٛ خٓ ٍخ ه ي ُؤٔ ٣ ٕأ ي٘ ٓ ٠لظ ٓ حٝ ي رخٜ ك ٚ ُؤٔ ٓ ٖػ ي ُؤٓ أ ٕح ٢ َٗٓأ ي٤ ُحٞٓ

َؼ ل ط ض ٗؤ ك ضِ ه ٚ ُ ي ًُ ْؼ ٗ ٍخ ه ؟خَٛ رى ٢ ك ٚ طأَٓح ٢ طؤ ٣ َؿَ ُح َؼ ل ٗ ٫ خ ٗح ٫ ٍخ ه ؟ي ًُ

ي ًُ

Dan darinya dari „Aliy bin Al Hakam ia berkata aku mendengar Shafwaan berkata aku pernah bertanya kepada Ar Ridlaa [„alaihis-salaam] “Sesungguhnya ada laki-laki dari mawaali-mu telah memintaku untuk menanyakan kepadamu satu permasalahan, tetapi aku

malu kepadamu untuk menanyakannya”. Ia berkata “hal apakah itu?”. Aku berkata “ada

seorang laki-laki yang mendatangi istrinya pada duburnya”. Ia menjawab “Ya, hal itu

diperbolehkan baginya”. Aku berkata “apakah engkau melakukannya?”. Ia menjawab

Al Majlisiy dalam Malaadz Al Akhyaar 12/360 no 35 menyatakan riwayat tersebut shahih.

Jadi duduk persoalan disini adalah para ulama Syi‘ah berpegang pada dalil shahih yang ada dalam mazhab mereka. Kalau ada diantara pengikut Ahlus Sunnah yang menjadikan hal ini

sebagai bahan celaan ya dipersilakan toh celaan itu tidak ada nilainya disisi mazhab Syi‘ah. Hal ini sama seperti jika ada pengikut Syi‘ah mencela Ahlus Sunnah yang berpegang pada dalil shahih di sisi mazhab mereka. Celaan itu jelas tidak ada nilainya di sisi mazhab Ahlus Sunnah.

.

.

.

Anehnya Al Amiry sok ingin merendahkan mazhab Syi‘ah dengan menyebut ulama mereka

bodoh dan gila ketika membolehkan ―mendatangi istri pada dubur‖ padahal sebagian ulama mazhab Ahlus Sunnah membolehkan bahkan ada yang mengamalkannya. Ibnu Arabiy pernah berkata

ي ًُ غٔؿ ي هٝ ، سَ٤ ؼ ً شل ثخ١ ُٙٞـ ك ; خَٛ رى ٢ ك سأَٔ ُح فخٌ ٗ ُحٞؿ ٢ ك ءخِٔ ؼ ُح قِ ظ هح

ي٘ ٓ أٝ ” ٕآَو ُح ّخٌ كأٝ ٕحٞٔ ٘ ُح عخٔؿ دخظ ً ٢ ك ٕخز ؼ ٗ ٖ رح ٖٓ شٔ ٣َ ً سَُٓ ٠ ُا ُٙحٞؿ

سَ٤ ؼ ً صخ ٣حٍٝ ٖٓ ي ُخٓ ٠ ُاٝ ٖ٤ ؼ رخظ ُحٝ ش رخلٜ ُح

Telah berselisih para ulama mengenai kebolehan berhubungan dengan istri melalui duburnya. Telah membolehkannya sekelompok orang yang banyak. Dan sungguh Ibnu

Sya‟baan telah mengumpulkan hal itu dalam kitab Jimaa‟ An Niswaan Wa Ahkamul Qur‟aan

dan menisbatkan kebolehannya kepada sekelompok orang mulia dari sahabat dan tabiin dan

kepada Malik dari riwayat yang banyak [Ahkamul Qur‟aan Ibnu Arabiy 1/238]

Siapakah dari kalangan ahlus sunnah yang membolehkan ―mendatangi istri pada duburnya‖?.

Diantaranya ada Ibnu Umar [radiallahu ‗anhu], Ibnu Abi Mulaikah, Muhammad bin Ajlan,

Malik bin Anas, dan Abdullah bin Ibrahim Al Ashiiliy.

.

.

Abdullah bin Umar [radiallahu ‘anhu[

َسََُّه ُٞرَأ خََ٘ػَّيَكِؽَََلُْح ُْٖر ُؾَزَْٛأ خ٘ػ ٍَخَه ُّ٢ِْ٘٤َػَُُّح ٍّخَِ٘ٛ ِْٖر ِيْ٤َُٔك ُْٖر ُئََّلُٓ ٢ِرَأ َْٖرح َِْٖٔكََُّح ُيْزَػ ٍيْ٣َُ ُٞرَأَٝ

َ٫خَه ََِْٔـُْح ََُّح ِيْزَػ ٢ِرَأ ُْٖر ُشَؼ٤ِرٍَ ٢َِ٘ػَّيَك ٍَخَه ٍََْٗأ ُْٖر ُيُِخَٓ ٢َِ٘ػَّيَكَٝ ِِْٓخَوُْح َْٖرح ٍَخَه ِدخَزُلُْح ٢ِرَأ َْٖػ َِْٖٔك

َّْؤَر َ٫ ٍَخَوَك ٍَِِّٖٛخَرْىَأ ٢ِك ِءخَُِّٔ٘ح ِءْ١َٝ َْٖػ ٢ِْ٘ؼَ٣ َُْٚ٘ػ َََُٔػ َْٖرح ٍََؤَٓ ََُّٚٗأ ٍٍخََٔ٣ ُْٖر ُي٤ِؼَِِٓٚر

Telah menceritakan kepada kami Abu Qurrah Muhammad bin Humaid bin Hisyaam Ar

Ru‟ainiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Ashbagh bin Faraj dan Abu Zaid

„Abdurrahman Ibnu Abi Ghamr, keduanya berkata Ibnu Qaasim berkata telah menceritakan kepadaku Maalik bin Anas yang berkata telah menceritakan kepadaku Rabi‟ah bin Abi „Abdurrahman dari Abil Hubaab Sa‟iid bin Yasaar bahwa ia bertanya kepada Ibnu „Umar tentang mendatangi istri pada dubur mereka, [Ibnu „Umar] berkata “tidak ada masalah padanya”[Syarh Ma‟aaniy Al Atsaar Ath Thahawiy 3/41 no 4394]

Riwayat yang dikeluarkan Ath Thahawiy di atas memiliki sanad yang shahih. Para perawinya tsiqat, berikut keterangannya

1. Abu Qurrah Muhammad bin Humaid bin Hisyaam Ar Ru‘ainiy, dikatakan Ibnu Yunus bahwa ia seorang yang tsiqat [Ats Tsiqat Ibnu Quthlubugha 8/261 no 9679]

2. Ashbagh bin Faraj Al Mishriy seorang yang tsiqat, termasuk perawi thabaqat kesepuluh [Taqriib At Tahdziib 1/107]

3. Abu Za‘id ‗Abdurrahman Ibnu Abi Ghamr, dikatakan Ibnu Yunus bahwa ia seorang yang faqih dari sahabat Ibnu Qaasim dan ia seorang yang tsiqat shaduq [Ats Tsiqat Ibnu Quthlubugha 6/287-288 no 6693]

4. ‗Abdurrahman bin Qaasim seorang yang faqih sahabat Malik, tsiqat termasuk perawi thabaqat kesepuluh [Taqriib At Tahdziib 1/586]

5. Malik bin Anas seorang yang faqiih imam, pemimpin dari ulama-ulama besar, mutqin

dan tsabit, termasuk perawi thabaqat ketujuh [Taqriib At Tahdziib 2/151]

6. Rabii‘ah bin Abi ‗Abdurrahman At Taimiy seorang yang tsiqat faqiih masyhur, termasuk perawi thabaqat kelima [Taqriib At Tahdziib 1/297]

7. Sa‘iid bin Yasaar Abul Hubaab seorang yang tsiqat mutqin, termasuk perawi thabaqat ketiga [Taqriib At Tahdziib 1/368]

Riwayat perkataan Ibnu Umar [radiallahu ‗anhu] tidak hanya ini, ada lagi beberapa riwayat lainnya bahkan ada pula riwayat yang kesannya seolah bertentangan tetapi Insya Allah dengan pembahasan yang ilmiah akan nampak bahwa yang rajih adalah Ibnu Umar membolehkannya. Pembahasan detail tentang hal ini memerlukan tempat yang tersendiri.

. .

Ibnu Abi Mulaikah

ٍَخَه ٍغْ٣ٍَُُ ُْٖر ُي٣َِِ٣ خََ٘ػ ٍَخَه َُ٣ََِّ٠ُح َََُٔػ ُٞرَأ خََ٘ػ ٍَخَه ٍُِِْْٔٓ ُٞرَأ ٢َِ٘ػَّيَك ََِجُٓ ٍَخَه َسَىخَظَه َْٖػ ِِْٓخَوُْح ُْٖر ُفٍَْٝ خََ٘ػ

ٌَِكخًَ ٫ِا َيًَُِ ََُؼْلَ٣ ََْٛ ٍَخَوَك ٍَِِّٖٛخَرْىَأ ٢ِك ِءخَُِّٔ٘ح ِٕخَ٤ْطِا َْٖػ ِءحَىٍَّْيُح ُٞرَأ ٌفٍَْٝ ٍَخَه َشٌَْ٤َُِٓ ٢ِرَأ َْٖرح ُصْيََِٜ٘ك

ُُٚطْىٍََأ ْيَه ٍَخَوَك َيًَُِ َْٖػ ٍَُؤَْٔ٣

َّ٢ََِػ َٙخَظْػخَك َشَكٍِخَزُْح ٢ُِ ٍشَ٣ٍِخَؿ ِْٖٓ َُُٚ ُضُِْوَك ٍَخَه ٍْْلَِ٘ر َْٝأ ٍُْٖٛيِر ُضَْ٘ؼَظْٓخَك

ِ َّالله َٕخَلْزُٓ ََٖؼََُٝ ُ َّالله َيََ٘ؼَُ ٍَخَوَك ، ٌَِكخًَ ٫ِا َيًَُِ ََُؼْلَ٣ ََْٛ ٍَخَه ، ِءحَىٍَّْيُح خَرَأ ََّٕأ ُسَىخَظَه خََََٗزْهَأَم ٫ ُضُِْوَك ، َسَىخَط

Telah menceritakan kepadaku Abu Muslim yang berkata telah menceritakan kepada kami

Abu „Umar Adh Dhariir yang berkata telah menceritakan kepada kami Yaziid bin Zurai‟

yang berkata telah menceritakan kepada kami Rauh bin Qaasim dari Qatadah yang berkata Abu Dardaa‟ pernah ditanya tentang “mendatangi istri pada dubur mereka”. Maka ia

berkata “tidaklah melakukan itu kecuali kafir”. Rauh berkata maka aku menyaksikan Ibnu

Abi Mulaikah ketika ditanya tentang hal itu, ia berkata “Sungguh aku ingin melakukannya

dengan budakku tadi malam, kemudian aku mengalami kesulitan maka aku menggunakan

minyak atau lemak”. Maka aku [Rauh] berkata kepadanya “Maha suci Allah, telah mengabarkan kepada kami Qatadah bahwa Abu Dardaa‟ mengatakan “tidaklah melakukan

hal itu kecuali kafir”. Maka ia berkata “semoga Allah melaknatmu dan melaknat Qatadah”.

Aku [Rauh] berkata “aku tidak akan meriwayatkan sedikitpun darimu selamanya” kemudian setelah itu aku menyesalinya [Tafsir Ath Thabariy 3/753 tahqiq „Abdullah bin „Abdul Muhsin

At Turkiy]

Riwayat perkataan Ibnu Abi Mulaikah di atas sanadnya jayyid. Berikut keterangan mengenai para perawinya

1. Abu Muslim yaitu Ibrahim bin ‗Abdullah bin Muslim Al Bashriy seorang yang

shaduq tsiqat [Mausu‘ah Aqwaal Daruquthniy no 80]

2. Abu ‗Umar Adh Dhariir yaitu Hafsh bin Umar Al Bashriy seorang yang shaduq alim [Taqriib At Tahdziib 1/228]

3. Yazid bin Zurai‘ Al Bashriy seorang yang tsiqat tsabit [Taqriib At Tahdziib 2/324] 4. Rauh bin Qaasim Al Anbariy Al Bashriy seorang yang tsiqat hafizh [Taqriib At

Tahdziib 1/305]

Ibnu Abi Mulaikah sendiri termasuk perawi Bukhariy dan Muslim, ia seorang yang tsiqat faqiih [Taqriib At Tahdziib 1/511].

. .

Muhammad bin Ajlaan

Muhammad bin ‗Ajlaan Al Qurasyiy Al Madaniy termasuk perawi Muslim yang dikenal

tsiqat. Ia telah ditsiqatkan oleh Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Ma‘in, Yaqub bin Syaibah,

Abu Hatim dan Nasa‘iy [Tahdzib Al Kamal 26/101-108 no 5462]

ْٗٞ٣ ْٖر ي٤ِؼَٓ ُٞرَأ ٍخَهَٝ: خَٛرى ٢ك خٛخطؤك خِٜٛأ ٖٓ سأَٓح خٜر ؽِٝظك ش٣ٍيٌ٘ٓ٩ح ٠ُا ٍخٛٝ َٜٓ ّيه

Dan berkata Abu Sa‟iid bin Yuunus “ia datang ke Mesir dan datang ke Iskandariyah

kemudian menikah dengan istrinya, maka ia mendatangi istrinya pada duburnya. Istrinya mengeluhkan hal itu kepada keluarganya dan tersebarlah kabar tentang hal itu. Maka penduduk Iskandariyah meneriakinya sehingga ia pergi dari sana [Tahdzib Al Kamal 26/107]

. .

ي ٌُ ر خ٘ ػيك خِٜ ز ه ٢ ك خٜ٤ طؤ ٣ خًٔ خَٛ رى ٢ ك ٚ طأَٓح َؿَ ُح ٢ طؤ ٣ ٕؤ ر ّؤ ر ٫ ي ُخٓ ٍخو ك

ٚ٘ ػ ذٛٝ ٖ رح ٖػ ْ ٗٞ ٣

Maka berkata Malik “tidak ada masalah seorang laki-laki mendatangi istrinya pada

duburnya sebagaimana ia mendatanginya pada kemaluannya”. Telah menceritakan kepada

kami hal itu Yunus dari Ibnu Wahb darinya [Malik] [Ikhtilaaf Al Fuqahaa‟ Ibnu Jarir Ath

Thabariy hal 304]

Riwayat di atas sanadnya shahih sampai Malik bin Anas. Yunus gurunya Ath Thabariy adalah Yunus bin ‗Abdul A‘laa Ash Shadafiy seorang yang tsiqat [Taqriib At Tahdziib 2/349]. Abdullah bin Wahb bin Muslim Al Qurasyiy seorang yang faqiih tsiqat hafizh ahli ibadah [Taqriib At Tahdziib 1/545]

. .

Abdullah bin Ibrahim Al Ashiiliy

Abdullah bin Ibrahim Al Ashiiliy adalah seorang imam alim syaikh mazhab Malikiy.

Daruquthniy berkata ―aku tidak pernah melihat orang yang sepertinya‖

٢٘ ط هٍحي ُح ٍخ ه ٝخ٤ ػ ٢ٟ خو ُح ٍخ هِٚ ؼ ٓ ٍأ ْ ُٝ ، ٢ِ ٤ ٛ ٧ح ئلٓ ٞ رأ ٢٘ ػيك

ٚ ُخؿٍٝ ِٚ ِ ػٝ غ ٣يل ُخ ر ٖ٤ ِ ٓخؼ ُح ٖٓٝ ي ُخٓ ذٌٛٓ ظخل ك ٖٓ ٕخ ً ٝخ٤ ػ ٍخ ه ٢ٜ٘ ُح ٕأ َٟ ٣

شٛحٌَ ُح ٠ِ ػ ءخٔ ٘ ُح ٍخ رىأ ٕخ٤ طا ٖػ

Qaadhiy „Iyaadh berkata Daruquthniy berkata telah menceritakan kepadaku Abu

Muhammad Al Ashiiliy, aku tidak pernah melihat orang yang sepertinya. Iyaadh berkata “ia termasuk hafizh mazhab Malik dan termasuk orang yang alim dalam ilmu hadis, ilmu ilal- nya dan Rijal-nya. Ia berpandangan bahwa larangan mendatangi istri pada dubur adalah makruh[Siyaar A‟laam An Nubalaa‟ 16/560 no 412]

Ibnu Hajar juga menukil perkataan Qadhi Iyadh tentang Al Ashiiliy yang membolehkan

ِٙ٤ ـ ٣ ٢ِ ٤ ٛ ٧ح ْ٤ ٛحَ را ٖ ر الله يز ػ ئلٓ ٞ رأ ٢ٟ خو ُح ٕخ ً ٝخ٤ ػ ٢ٟ خو ُح ٍخ ه

قٓ َ٤ ؿ ٚ ٗأ ٠ ُا ٚ٤ ك ذٌٛ ٣ٍّٝ

Qaadhiy „Iyaadh berkata “Qadhiy Abu Muhammad „Abdullah bin Ibrahim Al Ashiiliy membolehkannya dan menganggap bahwasanya itu tidak haram” [Talkhiis Al Habiir Ibnu Hajar 3/379]

Apakah sebagian salaf termasuk sahabat Ibnu Umar [radiallahu ‗anhu] itu akan dikatakan oleh Al Amiry sebagai bodoh dan gila?. Tentu ia tidak akan berani mengatakannya. Paling- paling ia akan mengatakan pendapat mereka ditinggalkan karena telah shahih dalil dari

Rasulullah [shallallahu ‗alaihi wasallam] akan keharamannya.

Kami menukil sebagian salaf yang membolehkan ―mendatangi istri pada duburnya‖ hanya

sebagai bukti bahwa perkara ini yang diyakini dalam mazhab Syi‘ah juga diyakini oleh

sebagian salaf mazhab Ahlus Sunnah [walaupun memang berdasarkan dalil yang shahih sebagian salaf ini terbukti keliru dalam perkara ini]. Kalau sebagian salaf tersebut tidak pantas dicela dan dikafirkan karena membolehkannya maka mengapa hal itu menjadi celaan

ketika ada dalam mazhab Syi‘ah.

. . .

Kesimpulan

Ada dua hal yang bisa disimpulkan dari pembahasan diatas yang menunjukkan kejahilan pencela seperti Al Amiriy

1. Al Amiry berdusta ketika mengatakan dalam mazhab Syi‘ah jima‘ melalui dubur

tidak membatalkan puasa. Faktanya riwayat yang dituduhkan adalah dhaif dan para

ulama Syi‘ah justru menyatakan batal puasanya karena jima‘ melalui dubur

2. Al Amiry mencela dan merendahkan mazhab Syi‘ah yang membolehkan jima‘

melalui dubur dengan keridhaan istri dan hukumnya makruh padahal sebagian salaf mazhab Ahlus Sunnah ada juga yang membolehkannya.

Akhir kata tidak henti-hentinya kami mengingatkan pembaca agar berhati-hati dalam

mencela mazhab yang mereka benci. Tentu kami tidak melarang siapapun untuk membaca tulisan mereka tetapi hendaknya diiringi dengan sikap ―tidak mudah percaya‖ sebelum membuktikan sendiri. Sangat menyedihkan jika orang-orang awam ikut-ikutan mencela

bahkan terlihat lebih bersemangat merendahkan Syi‘ah padahal hakikatnya mereka tertipu

oleh para pendusta.

Orang awam bersikaplah secara awam tidak perlu berlagak ahli padahal hanya sekedar taklid kepada para pendusta. Silakan saja bagi orang awam untuk menjauhkan diri dari mazhab

Syi‘ah atau beranggapan mazhab Syi‘ah sesat. Tetapi simpanlah hal itu di dalam nurani masing-masing tidak perlu berlagak sok tahu bicara begini begitu padahal hanya membaca tulisan-tulisan singkat dusta Al Amiry dan yang lainnya. Ingat dan camkan hal ini baik-baik bahwa setiap orang akan mempertanggungjawabkan perkataan dan perbuatannya masing- masing. Salam Damai

Dalam dokumen J ALGAR PADA BLOGNYA (Halaman 146-163)