Orang Dewasa Dalam Mazhab Syi’ah
Posted on Juli 16, 2015 by secondprince
Talbis Syaikh Khalid Al Wushabiy : Riwayat Menyusui Orang Dewasa Dalam Mazhab Syi’ah
Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan sebelumnya. Setelah membawakan riwayat Abu Thalib menyusui Rasulullah [shallallahu ‗alaihi wasallam] yang telah kami buktikan kedhaifannya maka kali ini Syaikh Khalid membawakan syubhat baru yaitu riwayat
menyusui orang dewasa dalam kitab Syi‘ah. Silakan perhatikan video berikut [sumber disini] .
Dalam video di atas, Syaikh membawakan riwayat dalam kitab Wasa‘il Syi‘ah yang menurut Syaikh, menunjukkan dibolehkan menyusui orang dewasa dalam mazhab Syi‘ah. Mari dilihat
dulu riwayat yang dimaksud
ٖػ ، ٙىخ٘ ٓ ب ر ٖٔ ل ُح ٖ ر ئلٓ ٢ِ ػ ٖ ر ٖٔ ل ُح ٖ ر ئكأ ٖػ ، ٍخل ٜ ُح ٖٔ ل ُح ٖ ر ئلٓ
) ّ٬ٔ ُح ٚ٤ ِ ػ ( اللهيز ػ ٢ رأ ٖػ ، ؽحٍى ٖ ر َ٤ ٔؿ ٖػ ، َ٤ ٔػ ٢ رأ ٖ رح ٖػ ، ٍخ٠ ك ٖ ر
َؿَ ُح َ٤ ؿ ٖٓ ٕخ ً ٕاٝ ، خٛي ُٝ ٖٓ ء٢ٗ َ ً ٚ٤ ِ ػ َّك سأَٓح ٖز ُ ٖٓ َؿَ ُح غٟ ٍ حًا : ٍخ ه
ع َّك َؿٍ ٖز ُ ٖٓ غٟ ٍ حًاٝ ، ٚ٘ ز ِ ر ٚظ ؼ ٟ ٍأ ض ٗخ ً ١ٌ ُح ٕخ ً ٕاٝ ، ٙي ُٝ ٖٓ ء٢ٗ َ ً ٚ٤ ُ
ٚظ ؼ ٟ ٍأ ٢ظ ُح سأَٔ ُح َ٤ ؿ ٖٓ
Muhammad bin Hasan dengan sanadnya dari Muhammad bin Hasan Ash Shaffaar dari
Ahmad bin Hasan bin „Aliy bin Fadhl dari Ibnu Abi „Umair dari Jamiil bin Daraaj dari Abi Abdullah [„alaihis salaam] yang berkata “Jika seorang laki-laki menyusu dengan susu wanita maka haram atasnya semua anak dari wanita tersebut walaupun [anak-anak wanita itu] bukan dari suami yang sekarang bersama wanita yang menyusui tersebut. Dan jika ia menyusu dengan susu laki-laki [laban rajul] maka haram atasnya semua anak dari laki-laki itu walaupun [anak dari laki-laki itu] bukan dari wanita yang menyusuinya [Wasa‟il Syii‟ah
20/403-404 no 25941]
Syaikh Khalid membawakan dua syubhat atas mazhab Syi‘ah mengenai riwayat di atas yaitu 1. Syaikh Khalid menyatakan bahwa riwayat tersebut menunjukkan kebolehan menyusui orang
dewasa karena lafaz yang digunakan adalah “idzaa radha’a ar rajul”. Menurut Syaikh lafaz Ar Rajul bermakna orang dewasa.
2. Syaikh Khalid menegaskan kembali dalam mazhab Syi’ah adanya orang yang menyusu kepada laki-laki [seperti riwayat Abu Thalib menyusui Nabi] berdasarkan lafaz “laban rajul”
Berikut akan dibahas secara singkat talbis [penipuan] Syaikh Khalid dengan riwayat dalam
kitab Wasa‘il Syi‘ah di atas.
.
.
.
Pembahasan Syubhat Pertama
Riwayat yang disebutkan Syaikh Khalid dari kitab Wasa‘il Syi‘ah tersebut sebenarnya bersumber dari riwayat Syaikh Ath Thuusiy dalam kitabnya Al Istibshaar 3/280 no 728 dan Tahdziib Al Ahkaam 7/331-332 no 33. Al Majlisiy dalam Malaadz Al Ahyaar 12/164-165
hadis no 33 berkata ―muwatstsaq‖.
Memang benar bahwa lafaz ―Ar Rajul‖ bisa bermakna orang dewasa tetapi lafaz ―Ar Rajul‖ bisa bermakna umum yaitu laki-laki terlepas berapapun umurnya bahkan bisa juga dikatakan untuk anak laki-laki yang baru lahir. Hal ini telah dikenal dikalangan ahli lughah [ahli bahasa arab]. Diantaranya adalah Ibnu Manzhuur dalam Lisan Al Arab
َّذَٗٝ ِْظكح حًِا يًُٝ ّ٬ـُح مٞك ً٬ؿٍَ ٌٕٞ٣ خِٔٗا َ٤هٝ سَأَُٔح ف٬ه ٕخِٔٗ٩ح عٞٗ ٖٓ ًٌَُُح فَٝؼٓ َُؿََُّح
يًُ يؼر خٓ ٠ُِا ُُّٚٓأ ُٙيَِِط شػخٓ َُؿٍَ ٞٛ َ٤هٝ
Ar Rajuul dikenal sebagai laki-laki dari jenis manusia lawan dari wanita, dan dikatakan sesungguhnya itu hanyalah laki-laki di atas usia anak-anak jika sudah mengalami ihtilam [mimpi basah], dan dikatakan pula itu adalah laki-laki yang baru saja dilahirkan ibunya hingga setelahnya [Lisan Al Arab 11/265]
Fairuzabaadiy dalam kitabnya Al Qaamuus Al Muhiith berkata tentang makna kata Ar Rajul
Dan sesungguhnya ia adalah anak muda yang sudah mengalami ihtilam [mimpi basah] atau
ia adalah anak laki-laki yang baru saja lahir [Al Qaamuus Al Muhiith hal 1003]
Untuk mengetahui lebih tepat makna Ar Rajul dalam riwayat yang dikutip Syaikh Khalid di
،َ٤ ٔػ ٢ رأ ٖ رح ٖػ ،ٚ٤ رأ ٖػ ،ْ٤ ٛحَ را ٖ ر ٢ِ ػ الله يز ػ ٢ رأ ٖػ ،٢ز ِ ل ُح ٖػ ،ىخٔك ٖػ
)عٍ١ٙ حٍٍّحّ( محٍ: ٍح ٍٝحع دعى ف١حّ
‗Aliy bin Ibrahim dari Ayahnya dari Ibnu Abi „Umair dari Hammaad dari Al Halabiy dari Abu „Abdullah [„alaihis salaam] yang berkata “tidak ada penyusuan setelah masuk masa penyapihan” [Al Kaafiy Al Kulainiy 5/267 no 1]
Riwayat Al Kaafiy diatas sanadnya shahih sesuai dengan standar ilmu hadis dalam mazhab
Syi‘ah. Berikut keterangan para perawinya
1. Aliy bin Ibrahim bin Haasyim, tsiqat dalam hadis, tsabit, mu’tamad, shahih mazhabnya *Rijal
An Najasyiy hal 260 no 680]
2. Ibrahim bin Haasyim Al Qummiy seorang yang tsiqat jaliil. Ibnu Thawus pernah menyatakan hadis yang dalam sanadnya ada Ibrahim bin Haasyim bahwa para perawinya disepakati tsiqat [Al Mustadrakat Ilm Rijal Al Hadis, Asy Syahruudiy 1/222]
3. Muhammad bin Abi Umair, ia termasuk orang yang paling terpercaya baik di kalangan khusus *Syi’ah+ maupun kalangan umum *Al Fahrasat Ath Thuusiy hal 218+
4. Hammaad bin Utsman seorang yang tsiqat jaliil qadr [Al Fahrasat Ath Thuusiy hal 115] 5. Ubaidillah bin Aliy Al Halabiy adalah seorang yang tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 230-231 no
612]
Dengan kata lain dalam mazhab Syi‘ah telah shahih bahwa penyusuan hanya mengakibatkan
mahram jika dilakukan pada usia dua tahun pertama sebelum penyapihan. Syaikh Ath Thuusiy berkata
سئ ُح غ٠ طٍح ِٞ ك حَ٤ ز ً ٕخ ً ٕا خٓؤ ك ،حَ٤ ـ ٛ ىٞ ُٞٔ ُح ٕخ ً حًا شَٓل ُح َ٘ ٘ ٣ خٔ ٗا عخٟ َ ُح
ٖ رحٝ ،ّخز ػ ٖ رحٝ ،َٔػ ٖ رحٝ ،دخطو ُح ٖ ر َٔػ ٍخ ه ٚ رٝ .شَٓل ُح َ٘ ٘ ٣ ْ ُ شِ ٣ٞط ُح
ض ُخ هٝ َْٛ٤ ؿٝ ي ُخٓٝ ،٢ؼ كخ٘ ُحٝ ،ٚ رخلٛ أٝ شل ٤ ٘ ك ٞ رأ ءخٜو ل ُح غ٤ ٔؿ ٍٞ ه ٞٛٝ ،ىٞؼ ٔ ٓ
ح عخٟ ٍ :ش٘ ثخػ عخٔؿا :خ٘ ِ ٤ ُى َٛخظ ُح َٛأ ٍخ ه ٚ رٝ ،َ٤ ـ ٜ ُح عخٟ ٍ َّل ٣ خًٔ َّل ٣ َ٤ ز ٌ ُ
ٍْٛخز هأٝ ش هَل ُح
Menyusui hanya menyebabkan keharaman untuk dinikahi jika dilakukan pada bayi yang masih kecil, adapun jika sudah besar maka walaupun menyusui dalam waktu yang lama tetap tidak menyebabkan keharaman untuk dinikahi. Umar bin Khaththab, Ibnu „Umar, Ibnu„Abbaas, Ibnu Mas‟ud juga berpendapat seperti ini. Dan ini juga pendapat banyak fuqaha yaitu Abu Hanifah dan sahabatnya, Syaafi‟iy, Malik dan selain mereka. Aisyah mengatakan
kalau menyusui orang yang sudah besar menyebabkan keharaman sama seperti menyusui anak kecil, dan hal ini juga dikatakan oleh ahli dzahir. Dalil kita [mazhab Syi‟ah] dalam
masalah ini adalah ijma‟ firqah [mazhab Syi‟ah] dan riwayat-riwayatnya [Kitab Al Khilaaf Syaikh Ath Thuusiy 5/98]
Maka makna Ar Rajul yang lebih tepat dalam riwayat yang dikutip Syaikh Khalid adalah
anak laki-laki yang baru lahir bukan orang dewasa. Tentu lain ceritanya jika dalam riwayat tersebut terdapat qarinah yang menguatkan lafaz Ar Rajul bermakna orang dewasa seperti lafaz kabiir atau yang lainnya. Kenyataannya tidak ada keterangan yang menguatkan klaim Syaikh Khalid bahwa Ar Rajul dalam riwayat itu yang menunjukkan makna orang dewasa. Hal ini hanyalah talbis Syaikh Khalid terhadap riwayat tersebut.
.
.
.
Pembahasan Syubhat Kedua
Dalam riwayat yang dikutip Syaikh Khalid tersebut terdapat lafaz ―idzaa radha‘a min laban rajul‖ yang artinya ―jika ia menyusu dari susu laki-laki‖. Dengan lafaz ini Syaikh Khalid mengaitkannya dengan riwayat Abu Thalib menyusui Rasulullah [shallallahu ‗alaihi wasallam] seolah ingin menegaskan bahwa laki-laki menyusu dari laki-laki adalah hal yang
ma‘ruf dalam mazhab Syi‘ah.
Seandainya yang membaca riwayat ini adalah orang awam yang tidak pernah belajar secara mendalam mengenai ilmu fiqih dan istilah-istilah yang berkaitan dengannya maka wajar jika mereka keliru memahami lafaz ―laban rajul‖. Tetapi yang aneh disini adalah seorang ulama seperti Syaikh Khalid menampakkan diri seperti orang awam.
Lafaz laban rajul itu bukanlah bermakna zhahir laki-laki menyusu dari laki-laki. Hakikatnya ia tetap menyusu dari seorang wanita hanya saja lafaz ini dinisbatkan pada suami wanita tersebut sebagai laki-laki yang menyebabkan wanita tersebut hamil dan akhirnya menghasilkan air susu. Seolah-olah laki-laki tersebut [suami] menjadi sebab bagi adanya air susu wanita [istri]. Istilah laban rajul ini lebih dikenal dengan sebutan laban fahl. Syaikh Ath Thuusiy dalam kitabnya Al Istibshaar memasukkan riwayat tersebut dalam bab tentang laban fahl [Al Istibshaar Syaikh Ath Thuusiy 3/278 bab no 126].
Dan sebenarnya dalam riwayat tersebut terdapat qarinah yang menguatkan makna laban rajul itu adalah laban fahl
َ٤ ؿ ٖٓ ٕخ ً ٕاٝ ، ٙي ُٝ ٖٓ ء٢ٗ َ ً ٚ٤ ِ ػ َّك َؿٍ ٖز ُ ٖٓ غٟ ٍ حًاٝٚظ ؼ ٟ ٍأ ٢ظ ُح سأَٔ ُح
Dan jika ia menyusu dengan susu laki-laki [laban rajul] maka haram atasnya semua anak- anak dari laki-laki itu walaupun [anak dari laki-laki itu] bukan dari wanita yang menyusuinya
Perhatikan lafaz terakhir ―almar‘atillati ardha‘athu‖ yang artinya wanita yang menyusuinya. Lafaz ini menunjukkan bahwa maksud menyusu dari laban rajul itu hakikatnya tetap disusui oleh seorang wanita. Bagaimana mungkin Syaikh Khalid bisa luput dari apa yang tertulis
ى٫ٝأ ٫ٝ َلل ُح ىخل طح غٓ خػخٟ ٍ ٫ٝ خز ٔ ٗ شؼ ٟ َٔ ُح ى٫ٝح غ٠ طَِٔ ُ َل ٣ ٫ ٚ ٗح دخ ر
خو ِ طٓ َلل ُح
Bab bahwasanya tidak halal bagi orang yang disusui anak keturunan yang lahir dari wanita yang menyusuinya, tidak pula anak susuannya dan fahl [suami wanita menyusui] dan tidak
pula anak keturunan dari fahl [suami wanita menyusui] secara mutlak [Wasa‟il Syii‟ah
20/403 bab 15]
Jadi tidak diragukan lagi bahwa yang dimaksud dalam riwayat Wasa‘il Syii‘ah yang dikutip
Syaikh Khalid adalah laban rajul tersebut atau laban fahl hakikatnya tetap menyusu kepada wanita bukan kepada laki-laki.
Perkara ini tidak hanya ada dalam kitab mazhab Syi‘ah bahkan hal ini dikenal dalam kitab- kitab mazhab Ahlus Sunnah. Ibnu Qudamah pernah menyebutkan dalam kitabnya Al Mughniy mengenai wanita yang diharamkan untuk dinikahi, ia berkata
ٖزُ ٖٓ ٢ٛٝ ضٗأ ضؼ٠طٍح ٝأ سيكحٝ سأَٓح خٛخ٣اٝ يظؼٍٟأ ٝأ يٓأ خٜظؼٍٟأ ٝأ خٜٓأ يظؼٍٟأ سأَٓح ًَ
يكحٝ َؿٍ ,َٟ ه٧ح خٜظ ؼ ٟ ٍأٝ خٔٛحيكا يظ ؼ ٟ ٍأ ٖز ُ خُٜٔ ٕخ طأَٓح ٚ ُ َؿَ ً
Semua wanita dimana ibunya menyusuimu atau ibumu menyusuinya atau wanita itu menyusuimu atau engkau dan dia menyusu dari susu laki-laki [laban rajul] yang sama, misalnya seorang laki-laki mempunyai dua istri yang sedang menyusui, salah satu menyusuimu sedangkan yang lain menyusuinya [Al Mughniy Ibnu Qudamah 9/515]Silakan perhatikan, Ibnu Qudamah menjelaskan dengan contoh bahwa yang dimaksud laban rajul tetaplah hakikatnya menyusu pada wanita tetapi laban [susu] tersebut dinisbatkan kepada sang suami. Contoh lebih jelas ada dalam riwayat Shahih Bukhariy berikut
ِةخَػ َْٖػ َِْ٤َرُُِّح ِْٖر َسََُْٝػ َْٖػ ٍيُِخَٓ ِْٖر ِىحََِػ َْٖػ ٌََُْلُْح خََََٗز ْهَأ ُشَزْؼُٗ خََ٘ػَّي َك َُّىآ خََ٘ػَّي َك خََْٜ٘ػ ُ َّالله َ٢ٍَِٟ َشَٗ
َٝ ٢ِِّ٘ٓ َٖ٤ِزِـَظ ْلَطَأ ٍَخَوَك َُُٚ ًَْٕآ ََِْْك ُقَِْكَأ َّ٢ََِػ ًََْٕؤَظْٓح ْضَُخَهٍَخَه َيًَُِ َقْ٤ًََٝ ُضُِْوَك ِئَُّػ خََٗأ ٢ِهَأ ُسَأََْٓح ِيْظَؼٍََْٟأ
٢ِهَأ َِٖزَِِرٍَخَوَك ََََِّْٓٝ ِْٚ٤ََِػ ُ َّالله ٠ََِّٛ ِ َّالله ٍٍََُٞٓ َيًَُِ َْٖػ ُضَُْؤَٓ ْضَُخَوَكَُُٚ ٢ٌَِْٗثح ُقَِْكَأ َمَيَٛ
Telah menceritakan kepada kami Adam yang berkata telah menceritakan kepada kami
Syu‟bah yang berkata telah mengabarkan kepada kami Al Hakam dari „Iraak bin Maalik dari „Urwah bin Zubair dari „Aaisyah [radiallahu „anha] yang berkata “Aflah meminta izin
kepadaku tetapi aku tidak mengizinkannya, maka ia berkata “apakah engkau menghindariku
padahal aku adalah pamanmu?”. Maka aku berkata “bagaimana bisa begitu?”. Ia berkata
“istri saudaraku telah menyusuimu dengan susu saudaraku”. Maka aku berkata “aku menanyakan hal itu kepada Rasulullah [shallallahu „alaihi wasallam]”. Beliau berkata “Aflah benar maka izinkanlah ia” [Shahih Bukhariy no 2644]
Lafaz ―istri saudaraku menyusuimu dengan susu saudaraku‖ yang dibenarkan oleh Rasulullah
[shallallahu ‗alaihi wasallam] adalah dalil akan adanya laban rajul atau laban fahl dan hakikatnya itu tetap menyusu kepada wanita walaupun susu tersebut dinisbatkan pada laki- laki [suami wanita tersebut]. Biasanya istilah ini dipakai ketika membahas mahram terkait dengan keluarga dari pihak suami wanita yang menyusui.
Kesimpulannya disini adalah ketika Syaikh Khalid mengaitkan ―laban rajul‖ dengan riwayat
Abu Thalib menyusui Rasulullah [shallallahu ‗alaihi wasallam] maka ia telah melakukan
talbis untuk mengelabui orang awam yang tidak paham dengan hakikat riwayat tersebut.
. . .
Betapa menyedihkan ketika melihat ulama melakukan talbis demi membela mazhabnya dan merendahkan mazhab yang dibencinya. Apa yang diharapkan dari pengikutnya jika ulama panutannya saja seperti itu?. Maka wajarlah banyak orang awam yang memfitnah mazhab
Syi‘ah begini dan begitu karena ulama panutan merekapun ternyata melakukan talbis.
Sudah menjadi sifat dasar sebagian orang-orang awam untuk mempercayai perkataan dan hujjah para ulama. Mereka tidak punya banyak waktu dan kesadaran mempertanyakan ulama tersebut. Jangankan sekedar ragu, bahkan setelah ditunjukkan talbis ulama tersebut mereka malah menuduh itu sebagai fitnah. Seperti biasa orang-orang awam tipe begini paling ahli dalam mendustakan kebenaran dan membenarkan kedustaan. Inilah penyakit yang menjadi sumber perpecahan diantara kaum muslimin.
Jangan dikira masalah seperti ini hanya terjadi di kalangan awam ahlus sunnah, cukup sering
ditemukan hal yang sama di kalangan awam Syi‘ah. Ambil contoh saja terkait dengan tema
―menyusui orang dewasa‖ di atas. Ada orang-orang awam Syi‘ah yang menjadikan riwayat
shahih dari Aisyah [radiallahu ‗anha] sebagai bahan celaan karena Beliau meyakini menyusui
orang dewasa menyebabkan mahram. Kami menangkap adanya unsur fitnah disini ketika ada
orang awam syi‘ah yang punya lisan buruk merendahkan Aisyah [radiallahu ‗anha] seolah- olah mengizinkan orang dewasa menyusu langsung kepada wanita.
Bagaimana mungkin bisa dipahami seperti itu?. Memang dalam riwayat shahih tersebut tidak ada keterangan bagaimana cara menyusui orang dewasa, jadi prinsip prasangka baik dan syariat umum dipakai dalam masalah ini. Sangat mudah untuk memahami bahwa penyusuan itu terjadi secara tidak langsung dimana air susu ditempatkan dalam wadah tertentu kemudian diberikan kepada orang yang dimaksud. Dan memang itulah yang dijelaskan oleh sebagian ulama ahlus sunnah. Begitulah nasib orang awam ketika ia membahas mazhab lain yang ia benci maka nafsunya yang berbicara. Apalagi kalau memang tabiatnya buruk atau mulutnya lebih besar dari kepalanya maka dengan mudah unsur fitnah tersebut menyesatkan dirinya.
Lihatlah wahai orang-orang yang ingin menggunakan akalnya, sumber masalah disini adalah penyakit awamisme dengan racikan kebodohan dan ―mudah percaya‖ serta dibumbui dengan
kebencian yang disajikan atas dasar ―membela agama‖. Sebagian orang awam itu sangat bersemangat membela agama tetapi semangat tersebut kalau hanya bercampur dengan awamisme akan menimbulkan kerusakan dan perpecahan. Celakanya lagi penyakit ini mudah menular apalagi jika orang-orang awam sekarang semakin aktif eksis di dunia maya.
Kami tidak punya urusan dengan orang-orang yang sudah mengidap penyakit awamisme ini, tidak ada yang bisa dilakukan untuk mereka. Kami hanya bisa membantu orang-orang awam yang belum terjangkit agar tidak menderita penyakit ini. Siapapun anda dan mazhab anda jika anda ingin berbicara mengenai mazhab lain yang tidak anda kenal maka perhatikanlah panduan pasal berikut
1. Kalau anda adalah orang awam maka bersikaplah seperti orang awam yaitu suka “tidak tahu” atau “tidak mau tahu”. Nah anda tidak perlu “sok tahu” bicara atas nama agama atau membela agama untuk merendahkan mazhab lain. Jaga lisan anda lebih baik diam daripada salah bicara. Cukuplah sudah ada orang yang lebih ahli yang berkecimpung ke dunia permazhaban ini. Jika orang-orang ahli ini tersesat maka mereka sendiri yang menderita, anda tidak perlu ikut-ikutan. Dan tidak perlu percaya siapapun yang mengoceh tentang mazhab lain yang tidak anda kenal. Anda cukup tahun “islam saja” dan sibuklah dengan keseharian anda.
2. Kalau anda orang awam dan berminat untuk tahu maka pertama yang harus anda tekankan adalah “tidak mudah percaya” siapapun baik teman baik, orang yang anda anggap berilmu, ustadz, atau bahkan ulama panutan anda. Mengapa?. Karena sentimen mazhab itu bisa menjangkiti siapa saja bahkan ulama sekalipun. Tulisan diatas dan tulisan-tulisan lain sebelumnya adalah contoh nyata ada ulama yang bisa menjadi begitu anehnya ketika berbicara tentang mazhab lain.
3. Selanjutnya buktikan sendiri apa yang anda dapat dari ustadz atau ulama panutan anda
tentang mazhab lain. Jika mereka berbicara atas dasar “katanya katanya” maka tinggalkan. Menghukum mazhab lain atas dasar “katanya katanya” adalah suatu bentuk kezaliman. Jika mereka berbicara dengan hujjah maka periksalah hujjah mereka. Dunia maya ini selain menyebalkan juga memudahkan bagi para penuntut ilmu. Ada ribuan kitab gratis dari berbagai mazhab yang ada di dunia maya ini. Bisa langsung anda download dan anda baca kitab mazhab yang anda inginkan.
4. Jika anda punya masalah dengan “bahasa” sehingga merasa tidak mampu membaca kitab untuk memeriksa hujjah ustadz atau ulama panutan anda maka kembalilah ke pasal satu. Atau ya hilangkan dulu masalah “bahasa” yang anda derita baru kembali ke pasal tiga.
5. Setelah anda memiliki kitab mazhab yang ingin anda teliti maka pelajarilah dengan objektif. Ingat suatu mazhab itu memiliki dasar-dasar dimana mazhab itu berdiri. Mazhab adalah bangunan yang memiliki dasar, dinding, tiang penyangga dan atap tempat bernaung. Camkanlah anda tidak bisa begitu saja langsung comot halaman ini halaman itu tanpa memiliki dasar ilmu mazhab tersebut. Dengan ilmu ini anda bisa tahu apa yang shahih dan yang tidak dari mazhab tersebut serta mencegah dari salah memahami apa yang anda baca. 6. Secara beriringan selagi anda mempelajari dasar-dasar ilmu mazhab tersebut, anda bisa
memeriksa hujjah ustadz atau ulama panutan anda yang mencela mazhab tersebut.
7. Jika mereka berhujjah dengan riwayat maka periksalah apakah riwayat itu shahih atau mu’tabar di sisi mazhab tersebut. Jika shahih maka periksalah apakah ada riwayat-riwayat shahih lain yang bertentangan dengan riwayat tersebut. Dan jangan lupa periksalah bagaimana para ulama mazhab tersebut menafsirkan atau memberikan penjelasan tentang riwayat yang sedang anda periksa. Kemudian timbanglah perkataan para ulama atas riwayat tersebut dengan akal sehat.
8. Jika mereka berhujjah dengan qaul ulama mazhab tersebut maka periksalah kebenaran penukilan mereka. Jika benar penukilan mereka selanjutnya camkanlah ini, tidak ada ulama yang pasti benar maka periksalah qaul ulama tersebut berdiri atas dasar apa. Jika anda memiliki dasar-dasar ilmu mazhab tersebut anda bisa menilai sejauh mana kekuatan hujjah qaul ulama tersebut. Selain itu periksalah apakah ada ulama lain dalam mazhab tersebut yang memiliki pendapat yang berbeda. Ingatlah qaul seorang atau beberapa ulama tidak bisa dinisbatkan secara langsung atas mazhab tersebut.
9. Jika anda telah membuktikan kebenaran riwayat atau qaul ulama yang dijadikan hujjah ustadz atau ulama panutan anda dalam mencela mazhab tersebut maka jangan terburu- buru carilah padanan riwayat dan qaul ulama yang sama atau hampir sama dalam mazhab yang anda anut. Sungguh memalukan bukan jika anda mencela apa yang sebenarnya juga ada pada mazhab anda.
10. Masing-masing mazhab itu memiliki perbedaan dan setelah anda melewati pasal sembilan ternyata anda menemukan adanya pandangan yang berbeda pada mazhab tersebut [dengan apa yang anda anut] maka periksalah perbedaan itu. Apakah perbedaan yang anda temukan itu mengeluarkan mazhab tersebut dari islam atau tidak?. Ingatlah menyatakan suatu hal yang berbeda sebagai keluar dari islam tidak bisa hanya bersandar pada qaul ulama, anda harus bersandar pada dalil yang jelas di sisi mazhab anda. Perkataan ulama mazhab tertentu yang mencela bahkan mengkafirkan mazhab lain itu sangat rentan biasnya.
11. Dalil yang dimaksud di sisi mazhab anda adalah dalil shahih sesuai dengan dasar-dasar ilmu dimana mazhab anda berdiri. Jika anda belum mengetahuinya maka pelajarilah. Sungguh
aneh sekali jika anda mengetahui dasar-dasar ilmu mazhab lain tetapi tidak paham dasar- dasar ilmu mazhab yang anda anut.
12. Jika anda tidak menemukan dalil di sisi mazhab anda yang mengeluarkan perbedaan itu dari islam maka terimalah perbedaan itu sebagai hal yang khusus bagi mazhab tersebut.
13. Jika anda menemukan dalil di sisi mazhab anda yang mengeluarkan perbedaan itu dari islam maka simpanlah itu untuk diri anda, yakinkan diri anda bahwa mazhab itu sesat tetapi ingatlah jalan-jalan yang anda lalui hingga mencapai kesimpulan tersebut. Anda berdiri pada mazhab yang anda anut sama seperti mereka para penganut mazhab tersebut berdiri pada mazhab yang mereka anut. Jika anda dilahirkan di mazhab yang anda anut maka ingatlah ada pula orang-orang yang dilahirkan di mazhab tersebut. Berikan uzur pada mereka dan doakanlah agar mereka diberikan petunjuk kebenaran oleh Allah SWT.
14. Terakhir, perlukah anda membuat deklarasi mencela dan mengkafirkan mazhab tersebut?. Jawabannya tidak perlu karena hal itu hanya akan memancing perpecahan dan kerusakan. Jika anda ingin berbagi hasil kesimpulan pembelajaran anda maka itu sangat diperbolehkan maka silakan buat tulisan dan kami yakin pada tahap ini tulisan anda akan sangat bernilai tidak seperti tulisan para pencela yang hanya bisa asal comot penggal sana sini dan mengandung banyak syubhat dan talbis atas mazhab tersebut.
Kalau ada yang menganggap jalan ini terlalu rumit maka tidak ada yang memaksa siapapun untuk melalui jalan ini. Ingatlah selalu pasal pertama, jadilah orang awam yang baik yaitu orang awam yang selalu ―tidak tahu‖ atau ―tidak mau tahu‖ dan ―tidak mudah percaya‖, yang selalu sibuk dengan hal-hal keseharian, yang beragama cukup untuk dirinya agar bisa beribadah dengan baik. Jangan pernah memasuki daerah mazhab lain dimana anda bisa tersesat baik karena tersesat dengan mudahnya mengikuti mazhab lain atau tersesat dengan mudahnya mencela dan mengkafirkan mazhab lain.
Satu hal lagi tidak ada masalah berteman dengan penganut mazhab lain bahkan orang kafir sekalipun. Selagi anda menjadi ―orang awam baik‖ yang kami katakan maka jangan khawatir
tersesat. Lha kalau anda selalu ―tidak mau tahu‖ dan ―tidak mudah percaya‖ maka bagaimana
anda bisa tersesat. Dan jika anda mulai merasa ingin percaya atau ingin tahu maka laluilah jalan yang kami jelaskan tadi yaitu pindah dari pasal pertama lanjut ke pasal dua. Kalau memang malas ya tidak usah repot-repot silakan bernyaman-nyamanlah di zona pasal pertama.
Orang di zona pasal pertama ini bisa dibilang ―terselamatkan‖. Mereka adalah orang islam
yang ―tanpa mereka sadari‖ menjaga lisannya dari mencela dan mengkafirkan mazhab lain.
Yah paling tidak begitulah kesan yang kami tangkap maklumlah kami tidak tinggal lama di zona ini karena zona nyaman ini agak terasa kurang nyaman di sisi kami dan gak pas di hati, apalagi dengan tingkat keresahan dan kegalauan kami yang begitu tinggi *halah sombongnya*. Akhir kata sebelum kami menyombongkan kerendahan hati kami [kontradiktif] kami cukupkan saja tulisan ini. Semoga kurang bermanfaat dan bisa dijadikan