Posted on September 1, 2015 by secondprince
Kedustaan Al Amiry : Syi’ah Mencela Ahlul Bait ”Abbaas bin ‘Abdul Muthalib”
Cukup banyak para pencela Syi‘ah [dari golongan Ahlus Sunnah] yang dengan sukses
menunjukkan kebodohannya. Ketika mereka menulis atau membahas tentang mazhab Ahlus Sunnah mereka akan bersikap kritis dan luar biasa ilmiah tetapi ketika mereka menulis
tentang mazhab Syi‘ah maka mereka seperti keledai yang membawa kitab-kitab. Asal nukil riwayat atau asal nukil qaul ulama dalam kitab Syi‘ah kemudian seenaknya menjadikan
Al Amiry adalah contoh dari para pencela Syi‘ah yang kami maksudkan. Orang yang
menyebut dirinya Al Amiry ini memang sungguh menyedihkan. Dirinya mungkin merasa- rasa sebagai pembela Ahlus Sunnah tetapi hakikatnya ia tidak lebih dari seorang pendusta. Ia
mengutip kisah atau riwayat dalam kitab Syi‘ah tanpa membuktikan kebenaran kisah atau
riwayat tersebut kemudian dengan seenaknya ia menisbatkan hal itu atas mazhab Syi‘ah. Apakah tak pernah terpikirkan olehnya siapapun bisa mengutip riwayat atau kisah bathil dalam kitab Ahlus Sunnah kemudian menisbatkan riwayat atau kisah itu atas Ahlus Sunnah. Siapapun bisa menukil kisah Al Gharaniq dalam kitab Ahlus Sunnah kemudian seenaknya
berkata ―Ahlus Sunnah Mencela Rasulullah [shallallahu ‗alaihi wasallam]‖. Kalau orang Syi‘ah mengatakan hal ini maka kami yakin Al Amiry pasti akan mengatakan orang Syi‘ah
tersebut pendusta, bodoh, dungu dan berbagai celaan lainnya.
. . .
Tulisan ini akan menunjukkan [untuk kesekian kalinya] kedustaan Muhammad
‗Abdurrahman Al Amiry terhadap mazhab Syi‘ah. Dalam salah satu tulisannya, ia
mengatakan Syi‘ah mencela Ahlul Bait yaitu ‗Abbaas bin ‗Abdul Muthalib.
.
.
Al Amiry hanya bisa menukil tanpa mengecek validitas kisah atau riwayat yang ia nukil. Ia
tidak memusingkan apakah itu shahih atau tidak di sisi mazhab Syi‘ah. Baginya yang penting
riwayat itu dapat memuaskan nafsunya untuk mencela Syi‘ah. Sumber primer riwayat di atas
[yang dinukil Al Amiry] dalam kitab Mazhab Syi‘ah adalah berasal dari Kitab Sulaim bin
Qais Al Hilaliy hal 219
.
Kitab Sulaim bin Qais [berdasarkan pendapat yang rajih] tidak bisa dijadikan pegangan
dalam mazhab Syi‘ah karena Kitab Sulaim yang ada sekarang adalah Kitab Sulaim dengan jalan sanad dari Aban bin Abi ‗Ayyaasy dan dia seorang yang dhaif bahkan dikatakan telah
memalsukan kitab Sulaim tersebut.
.
.
Syaikh Ath Thuusiy menyatakan bahwa Aban bin Abi ‗Ayyaasy seorang tabiin yang dhaif
[Rijal Ath Thuusiy hal 129 no 1264]
.
Allamah Al Hilliy menyatakan bahwa Aban bin Abi ‗Ayyasy dhaif jiddan [sangat dhaif]
kemudian berkata
ٖػ ٍٟٝٝ ،ي ُخٓ ٖ ر ْ ٗح ٖػ ٍٟٝ ،ٚ٤ ُا ضل ظ ِ ٣ ٫ ،)ّ٬ٔ ُح خٜٔ٤ ِ ػ( ٖ٤ ٔ ل ُح ٖ ر ٢ِ ػ
١َ ثخ٠ ـ ُح ٖ رح ٚ ُخ ه حٌٌٛ ،ٚ٤ ُا ْ٤ ه ٖ ر ْ٤ ِ ٓ دخظ ً غٟ ٝ خ٘ رخلٛ أ ذٔ ٘ ٣ٝ
Ia telah meriwayatkan dari Anas bin Malik dan meriwayatkan dari Aliy bin Husain
[„alaihimas salaam], tidak usah diperhatikan dirinya dan para sahabat kami menisbatkan
pemalsuan kitab Sulaim bin Qais terhadapnya, demikianlah dikatakan Ibnu Ghada‟iriy
[Khulashah Al Aqwaal Allamah Al Hilliy hal 325 no 1280]
Syaikh Al Mufiid pernah berkata tentang kitab Sulaim riwayat Aban bin Abi ‗Ayyaasy dalam
salah satu kitabnya
.
َل ؼ ؿ ٞ رأ ٚ ر نِ ؼ ط خٓ خٓأٝ– الله ٚٔكٍ– دخظ ٌ ُح ٠ ُا ٚ٤ ك غؿٍ ١ٌ ُح ْ٤ ِ ٓ غ ٣يك ٖٓ
دخظ ٌ ُح حٌٛ ٕأ َ٤ ؿ ،ق٤ لٛ ٚ٤ ك ٠٘ ؼ ٔ ُخ ك ،ٕخ٤ ػ ٢ رأ ٖ ر ٕخ رأ ش ٣حَٝ ر ٚ٤ ُا فخ٠ ٔ ُح
،ْ٤ ُي طٝ ٢٤ ِ و ط ٚ٤ ك َٜ ك ي هٝ ،َٙؼ ًأ ٠ِ ػ َٔؼ ُح ُٞـ ٣ ٫ٝ ،ٚ ر مٞ ػٞٓ َ٤ ؿ
ضـ ٣ ٕأ ٖ ٣يظ ِٔ ُ ٢ـ ز ٘ ٤ ك ي٤ ِ و ظ ُحٝ ٚظ ِ ٔؿ ٠ِ ػ ٍٞؼ ٣ ٫ٝ ،ٚ٤ ك خٓ ٌَ ر َٔؼ ُح ذ ٗ
خٜ٘ ٓ ق٤ لٜ ُح ٠ِ ػ ٙٞل هٞ٤ ُ غ ٣ىخ ك٫ح ٖٓ ٚ٘ ٔ٠ ط خٔ٤ ك ءخِٔ ؼ ُح ٠ ُا عِل ٤ ُٝ ٚ طحَٝ ُ
يٓ خل ُحٝ
Adapun apa yang dipegang Abu Ja‟far [rahimahullah] dengannya yaitu dari hadis Sulaim
yang mana itu merujuk pada kitab yang disandarkan atasnya oleh riwayat Abaan bin Abi
„Ayyaasy maka makna di dalamnya shahih hanya saja kitab tersebut tidak dapat dipercaya dengannya, tidak boleh beramal dengan banyak hal di dalamnya, dan terdapat di dalamnya [kitab tersebut] takhlith dan tadliis, maka sudah selayaknya bagi orang yang taat beragama untuk menjauhi dari beramal dengan seluruh apa yang ada di dalamnya, dan tidak pula mengandalkan sebagiannya dan taklid dengan riwayatnya. Dan hendaknya mengembalikan kepada para ulama mengenai apa yang terkandung di dalamnya mana hadis-hadis yang
shahih dan yang tidak [Tashiih I‟tiqaadaat Al Imaamiyah Syaikh Al Mufiid hal 149-150]
Kami tidak menafikan ada ulama Syi‘ah yang berhujjah dengan kitab Sulaim bin Qais dan hal
dalil dan dinilai mana yang lebih rajih bukan dengan cara seenaknya mengambil mana saja yang sesuai dengan keinginan.
. . .
Andaipun ada ulama Syi‘ah yang mencela ‗Abbaas dengan berdasarkan riwayat dhaif maka
tidak bisa langsung dikatakan bahwa begitulah sejatinya mazhab Syi‘ah. Justru terdapat riwayat shahih dalam mazhab Syi‘ah yang mengandung pujian bagi Abbaas dan Aqil yaitu
riwayat berikut . .
َ كٞ ٗٝ َ٤ و ػٝ ّخز ؼ ُح ٫ا ٖ٤ ًَ٘ ٓ ِْٜ ً َٟٓ ٫ح غؿَ ك :ٍخ ه ْٜ٤ كٝ ْٜٛٞؿٝ الله َّ ً
حَ٤ ه ٌْ رِٞ ه ٢ ك الله ِْ ؼ ٣ ٕا َٟٓ ٫ح ٖٓ ٌْ ٣ي ٣أ ٢ ك ٖٔ ُ َ ه ” ش ٣٥ح ٌٙٛ ض ُِ ٗ– ٠ ُا
ش ٣٥ح َهآ
[Abu „Abdullah] berkata “maka para tawanan semuanya kembali musyrik kecuali Abbaas, Aqiil dan Naufal, semoga Allah memuliakan wajah mereka dan untuk merekalah turun ayat
“katakanlah kepada tawanan-tawanan yang ada di tanganmu “jika Allah mengetahui kebaikan yang ada di hati kalian – hingga akhir ayat [QS Al Anfal : 70] [Al Kafiy Al Kulainiy 8/113 no 244]
Riwayat di atas mengandung lafal pujian dari Abu Abdullah [imam ahlul bait] kepada Abbaas bin Abdul Muthalib yaitu ―semoga Allah memuliakan wajah mereka‖ dan riwayat ini
kedudukan sanadnya shahih dalam mazhab Syi‘ah. Berikut keterangan mengenai para
perawinya
1. Aliy bin Ibrahim bin Haasyim, tsiqat dalam hadis, tsabit, mu‘tamad, shahih
mazhabnya [Rijal An Najasyiy hal 260 no 680]
2. Ibrahim bin Haasyim Al Qummiy seorang yang tsiqat jaliil. Ibnu Thawus pernah menyatakan hadis yang dalam sanadnya ada Ibrahim bin Haasyim bahwa para perawinya disepakati tsiqat [Al Mustadrakat Ilm Rijal Al Hadis, Asy Syahruudiy 1/222]
3. Muhammad bin Abi Umair, ia termasuk orang yang paling terpercaya baik di
kalangan khusus [Syi‘ah] maupun kalangan umum [Al Fahrasat Ath Thuusiy hal 218].
4. Mu‘awiyah bin ‗Ammaar seorang yang terkemuka, tsiqat, besar urusannya dan agung kedudukannya [Rijal An Najasyiy hal 411 no 1096]
Allamah Al Hilliy menyebutkan Abbaas bin Abdul Muthalib dalam kitabnya Khulashah Al Aqwaal pada bagian pertama yaitu orang-orang yang dapat dijadikan pegangan atasnya
.
.
،ٚ رخلٛ أ صحىخٓ ٖٓ ي٤ ٓ )ٚ ُآٝ ٚ٤ ِ ػ الله ٠ِ ٛ ( الله ٍٞٓ ٍ ْػ ،ذِ طٔ ُح يز ػ ٖ ر ّخز ؼ ُح
َٔ ُح ٚ٤ ِ ػ( ٢ِ ػ دخلٛ أ ٖٓ ٞٛٝخ٠ ٣أ )ّح
Abbaas bin „Abdul Muthalib paman Rasulullah [shallallahu „alaihi wa „alihi] Sayyid dari pemimpin para sahabat, dan ia termasuk sahabat Aliy [„alaihis salaam] [Khulashah Al
Aqwaal hal 209 no 676]
Jadi sungguh dusta kalau dikatakan Syi‘ah mencela Abbaas bin Abdul Muthalib [radiallahu ‗anhu]. Adanya riwayat atau kisah [dalam suatu mazhab] yang mencela sahabat tertentu
bukan berarti langsung dikatakan mazhab tersebut mencela sahabat yang dimaksud. Mazhab Ahlus Sunnahpun tidak lepas dari riwayat yang mencela sahabat atau ahlul bait. Silakan perhatikan riwayat shahih berikut
.
.
ٖ٤ ٘ ٓئٔ ُح َ٤ ٓأ خ ٣ ّخز ػ ٍخو ك خُٜٔ ًٕؤ ك ْؼ ٗ ٍخ ه ؟ ٢ِ ػٝ ّخز ػ ٢ ك ي ُ َٛ ٍخو ك ءخؿ ْ ػ
ٖ ثخو ُح ٍىخـ ُح ْ ػ٥ح دًخٌ ُح حٌٛ ٖ٤ رٝ ٢٘ ٤ ر ٞ هح
Kemudian [Yarfa‟] datang dan berkata [kepada Umar] “Apa yang anda katakan tentang
„Abbaas dan „Aliy”?. [Umar] berkata “Ya izinkan mereka berdua masuk”. Maka „Abbaas
berkata “wahai Amirul Mukminin putuskan antara aku dan pendusta, pendosa, penipu dan
pengkhianat ini”...[Shahih Muslim no 1757 tahqiq Muhammad Fu‟ad Abdul Baqiy]
Apakah dengan menukil riwayat ini maka seseorang dengan seenaknya mengatakan Ahlus Sunnah mencela sahabat atau ahlul bait?. Jawabannya tidak, kami yakin Ahlus Sunnah tidak akan membenarkan perkataan Abbaas tersebut kepada Imam Aliy. Cukuplah sampai disini, kami tidak perlu memperpanjang hujjah karena sudah jelas kalau Al Amiry ini tidak lebih
dari seorang pendusta ketika berbicara atas mazhab Syi‘ah.
.
Note : Dalam kitab Al Kafiy juga terdapat riwayat yang mencela Abbaas dan ‗Aqiil dan berdasarkan pendapat yang rajih kedudukannya dhaif [sesuai dengan standar ilmu hadis
mazhab Syi‘ah]. Sengaja tidak kami nukilkan di atas karena pembahasan tentang riwayat ini
cukup panjang dan bisa menjadi tulisan tersendiri lagipula riwayat Al Kafiy ini tidak dijadikan hujjah oleh Al Amiry. Oleh karena itu kami mencukupkan diri dengan membahas riwayat yang dinukil Al Amiry saja.