Posted on April 17, 2015 by secondprince
Doktrin Raj’ah Itu Tidak Benar?
Raj‘ah adalah perkara masyhur dalam mazhab Syi‘ah dan tidak dikenal di sisi mazhab Ahlus
Sunnah [walaupun hakikatnya memang ada]. Seperti perkara-perkara lain yang sering
dituduhkan kepada mazhab Syi‘ah maka konsep Raj‘ah ini juga telah disalahartikan dan
dijadikan bahan celaan atas mazhab Syi‘ah.
Mazhab Syi‘ah bukan mazhab yang muncul kemarin sore. Mazhab Syi‘ah sudah berkembang
begitu lama bahkan hampir sama tuanya dengan mazhab Ahlus Sunnah. Jadi lucu sekali kalau ada sekelompok pencela mengesankan seolah mazhab Syi‘ah tidak memiliki dalil shahih
tentang Raj‘ah di sisi mereka. Tulisan ini berusaha meluruskan ulah salah satu pencela Syi‘ah
yang cukup dikenal di kalangan pengikutnya yaitu Abul-Jauzaa‘. Tulisan Abul Jauzaa‘ tersebut dapat para pembaca lihat disitusnya dengan judul Doktrin Raj‘ah Itu Tidak benar. Inti dari tulisan Abul-Jauzaa‘ adalah menunjukkan bahwa doktrin Raj‘ah itu tidak benar. Ia berhujjah dengan dua poin berikut
1. Riwayat Syi‘ah yang menurut Abul Jauzaa‘ menafikan keyakinan Raj‘ah 2. Al Qur‘anul Kariim yang menurut Abul Jauzaa‘ bertentangan dengan Raj‘ah
Insya Allah kami akan membuktikan betapa lemahnya hujjah Abul Jauzaa‘ tersebut
dalam membantah doktrin Raj‘ah dalam mazhab Syi‘ah. Sebelumnya kami katakan bahwa
kami meluruskan syubhat Abul Jauzaa‘ bukan berarti kami membenarkan paham Raj‘ah dalam mazhab Syi‘ah tetapi kami tidak suka kepada orang yang membuat kedustaan atas mazhab Syi‘ah.
. . .
Dalil Shahih Tentang Raj’ah Dalam Mazhab Syi’ah
Raj‘ah secara lughah bermakna kembali ke kehidupan dunia setelah kematian. Hal ini
diantaranya disebutkan oleh Muhammad bin Abu Bakar Ar Raaziy
صٞٔ ُح يؼ ر خ٤ ٗي ُح ٠ ُا عٞؿَ ُخ ر ١أ ) شؼ ؿَ ُخ ر ( ٖٓئ ٣ ٕ٬ كٝ
Dan Fulaan percaya Raj‟ah yaitu kembali ke kehidupan dunia setelah kematian [Mukhtaar Ash Shihaah Ar Raaziy hal 99]
Dan di sisi Syi‘ah makna Raj‘ah seperti halnya makna lughah di atas hanya saja itu berlaku
khusus untuk orang-orang tertentu. Raj‘ah sudah menjadi kesepakatan diantara sebagian
besar ulama Syi‘ah walaupun memang ada juga ulama Syi‘ah yang menolak keyakinan Raj‘ah. Diantara para ulama yang meyakini Raj‘ah sebagian besar memahami maknanya
secara zhahir sebagai kebangkitan fisik setelah kematian sedangkan sebagian kecil menakwilkannya sebagai kembalinya daulah atau kekuasaan Imam Ahlul Bait dengan kemunculan Imam Mahdiy.
Kami tidak akan menjelaskan secara rinci perbedaan-perbedaan tersebut. Kami lebih memfokuskan pada pendapat manakah yang benar dan sesuai dengan dalil shahih di sisi
mazhab Syi‘ah. Raj‘ah dalam mazhab Syi‘ah termasuk keyakinan yang ditetapkan melalui
riwayat-riwayat Ahlul Bait. Cukup banyak riwayat Imam Ahlul Bait yang menyebutkan
tentang Raj‘ah dan sebagian besar riwayat tersebut dhaif sedangkan salah satu riwayat yang shahih adalah sebagai berikut
ٖٔ ل ُح ٖ ر ئكحٝ دخطو ُح ٢ رح ٖ ر ٖ٤ ٔ ل ُح ٖ ر ئلٓ ٖػ ،ُحَُ ُح َل ؼ ؿ ٖ ر ئلٓ ٢٘ ػيك
:ٍخ ه ،٢ِ ـؼ ُح ش ٣ٝخؼٓ ٖ ر ي ٣َ ر ٖػ ،ِْ ٔ ٓ ٖ ر ٕحَٝٓ ٖػ ،ٚ٤ رح ٖػ ،ٍخ٠ ك ٖ ر ٢ِ ػ ٖ ر
َٙ ًً ١ٌ ُح َ٤ ػخٔٓ ح ٖػ ٢ َٗز هأ الله ٍٞٓ ٍ ٖ رخ ٣ :)ّ٬ٔ ُح ٚ٤ ِ ػ( الله يز ػ ٢ ر٫ ضِ ه
ف َ ًًحٝ( :ٍٞو ٣ غ٤ ك ٚ رخظ ً ٢ ك الله ٕخ ًٝ يػٞ ُح مىخٛ ٕخ ً ٚ ٗح َ٤ ػخٔٓ ح دخظ ٌ ُح ١
ٚ ٗح ٕٞٔػِ ٣ ّخ٘ ُح ٕخ ك ،)ّ٬ٔ ُح ٚ٤ ِ ػ( ْ٤ ٛحَ رح ٖ ر َ٤ ػخٔٓ ح ٕخ ًأ ،)خ٤ ز ٗ ٫ٞٓ ٍ
ْ٤ ٛحَ رح ٕحٝ ،ْ٤ ٛحَ رح َز ه صخٓ َ٤ ػخٔٓ ح ٕح :)ّ٬ٔ ُح ٚ٤ ِ ػ( ٍخو ك ،ْ٤ ٛحَ رح ٖ ر َ٤ ػخٔٓ ح
ف ،ًٕح َ٤ ػخٔٓ ح َٓ ٍح ٖٓ ٢ ُخ ك ،شؼ ٣َٗ ذكخٛ خٔ ثخ ه خِٜ ً لله شـك ٕخ ً ضِ ؼ ؿ :ضِ ه
،)ّ٬ٔ ُح ٚ٤ ِ ػ( ٢ز ٘ ُح َ٤ هِك ٖ ر َ٤ ػخٔٓ ح ىحً :)ّ٬ٔ ُح ٚ٤ ِ ػ( ٍخ ه .ٕخ ً ٖٔ ك ىحي ك
ٚ٤ ُا ٚؿٞ ك ْٜ٤ ِ ػ ٚ ُ الله ذ٠ ـ ك ،ٜٚؿٝ حٞوِ ٓ ٝ ِٙٞ ظ و ك ٙٞ رٌٌ ك ٚٓٞ ه ٠ ُح الله ٚؼ ؼ ر
ي٤ ُح ٢٘ ٜؿٝ دحٌؼ ُح يِ ٓ َ٤ ثخ١خطٓ ح خ ٗح َ٤ ػخٔٓ ح خ ٣ :ٚ ُ ٍخو ك ،دحٌؼ ُح يِ ٓ َ٤ ثخ١خطٓ ح
ّٞ ه دٌ ػ٫ سِؼ ُح دٍ .ي ًُ ٢ ك ٢ ُ شؿخك ٫ :َ٤ ػخٔٓ ح ٚ ُ ٍخو ك ،ضج ٗ ٕح دحٌؼ ُح عحٞ ٗخ ر ى
ئ ل ٘ ُ مخؼ ٤ ٔ ُح صٌهأ ي ٗح دٍ خ ٣ :ٍخو ك ،َ٤ ػخٔٓ ح خ ٣ يظ ؿخك خٔ ك ٚ٤ ُا الله ٠ كٝؤ ك
ٚظ ٓح َؼ ل ط خٔ ر يو ِ ه َ٤ ه صَز هأٝ ش ٣٫ٞ ُخ ر ٚ ثخ٤ ٛ ٝ٫ٝ سٞز ٘ ُخ ر ئلٔ ُٝ ش٤ رٞ رَ ُخ ر
ي ٗحٝ ،خٜ٤ ز ٗ يؼ ر ٖٓ )ّ٬ٔ ُح خٜٔ٤ ِ ػ( ٢ِ ػ ٖ ر ٖ٤ ٔ ل ُخ ر )ّ٬ٔ ُح ٚ٤ ِ ػ( ٖ٤ ٔ ل ُح صيػٝ
ٕح دٍ خ ٣ ي٤ ُح ٢ظ ؿخل ك ،ٚ ر ي ًُ َؼ ك ٖٔٓ ٚٔ ل ٘ ر ْو ظ ٘ ٣ ٠ظ ك خ٤ ٗي ُح ٠ ُح ٌَ ط ٕح
،)ّ٬ٔ ُح ٚ٤ ِ ػ( ٖ٤ ٔ ل ُح ٌَ ط خًٔ ٢ ر ي ًُ َؼ ك ٖٔٓ ْو ظ ٗح ٠ظ ك خ٤ ٗي ُح ٠ ُح ٢ ٌَٗ ط
ّ٬ٔ ُح ٚ٤ ِ ػ( ٖ٤ ٔ ل ُح غٓ ٌَ ٣ ٜٞ ك ،ي ًُ َ٤ هِك ٖ ر َ٤ ػخٔٓ ح الله يػٞ ك
Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Ja‟far Ar Razzaaz dari Muhammad bin
Husain Abil Khaththaab dan Ahmad bin Hasan bin „Aliy bin Fadhl dari Ayahnya dari Marwaan bin Muslim dari Buraid bin Mu‟awiyah Al Ijliy yang berkata aku berkata kepada Abu „Abdullah [„alaihis salaam] “wahai putra Rasulullah kabarkan kepadaku tentang
Isma‟iil yang disebutkan Allah dalam kitab-Nya dimana Dia berfirman “ceritakanlah kisah
Isma‟iil di dalam Al Qur‟an, sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya dan dia adalah seorang Rasul dan Nabi”. Apakah ia adalah Isma‟iil bin Ibrahiim [„alaihis salaam]?
orang-orang menganggap bahwa ia adalah Isma‟iil bin Ibrahim. Beliau [„alaihis salaam]
berkata “Isma‟iil wafat sebelum Ibrahiim dan sesungguhnya Ibrahim adalah hujjah Allah yang berdiri membawa syari‟at maka kepada siapa Isma‟iil diutus. Aku berkata “aku menjadi tebusanmu maka siapakah ia?”. Beliau berkata “ Isma‟iil bin Hizqiil seorang Nabi [„alaihis salaam] yang diutus Allah kepada kaumnya maka mereka mendustakannya dan
membunuhnya dan mereka menguliti wajahnya maka Allah murka dan mengirimkan malaikat
adzab bernama Isthathail. [Malaikat] itu berkata kepadanya “wahai Isma‟il aku adalah
malaikat adzab, Allah mengutusku kepadamu agar mengadzab kaummu dengan berbagai
adzab jika engaku mau”. Isma‟iil berkata kepadanya “aku tidak menginginkan hal itu” maka Allah mengirimkan wahyu kepadanya “apa yang engkau inginkan wahai Isma‟iil”. Ia berkata “wahai Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah berjanji dengan Dirimu dengan
Rububiyah-Mu dan Kenabian Muhammad dan Wilayah para washiy. Dan Engkau telah mengabarkan kepada makhluk terbaik-Mu apa yang akan dilakukan umatnya kepada Husain
bin „Aliy sepeninggal Nabi mereka. Dan sesungguhnya Engkau berjanji bahwa Husain akan
kembali ke dunia hingga membalas apa yang telah mereka lakukan terhadapnya. Maka aku menginginkannya wahai Tuhanku agar mengembalikanku ke dunia untuk membalas apa yang
mereka lakukan terhadapku sebagaimana Engkau mengembalikan Husain [„alaihis salaam]. Maka Allah menjanjikan kepada Isma‟iil bin Hizqiil bahwa ia akan kembali bersama Husain
[„alaihis salaam] [Kaamil Az Ziyaaraat Ibnu Quuluwaih hal 138-139 hadis no 163]
Riwayat di atas sanadnya shahih berdasarkan standar ilmu hadis dalam mazhab Syi‘ah,
berikut keterangan para perawinya
1. Muhammad bin Ja‘far Ar Razzaaz ia adalah syaikh [guru] Ja‘far bin Muhammad bin
Quuluwaih dalam Kaamil Az Ziyaaraat maka ia seorang yang tsiqat [Al Mufiid Min
Mu‘jam Rijal Al Hadiits hal 509]
2. Muhammad bin Husain bin Abil Khaththaab seorang tsiqat yang tinggi
kedudukannya, banyak memiliki riwayat [Rijal An Najasyiy hal 334 no 897]. Ahmad
bin Hasan bin ‗Aliy bin Fadhl adalah seorang yang tsiqat dalam hadis hanya saja ia Fathahiy [Rijal An Najasyiy hal 80 no 194]
3. Hasan bin ‗Aliy bin Fadhlseorang yang tinggi kedudukannya, zuhud, wara‘ dan tsiqat dalam hadis, awalnya ia seorang Fathahiy kemudian ruju‘ [Al Fahrasat Syaikh Ath
Thuusiy hal 47-48]
4. Marwan bin Muslim adalah seorang penduduk kufah yang tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 419 no 1120]
5. Buraid bin Mu‘awiyah termasuk sahabat Imam Baqir dan Imam Shadiq, seorang yang
tsiqat [Al Mufiid Min Mu‘jam Rijal Al Hadiits hal 82]
Riwayat tersebut menyatakan dengan jelas kembalinya Husain bin ‗Aliy [‗alaihis salaam] ke
kehidupan dunia. Maka sesuai dengan dalil shahih pendapat yang benar tentang Raj‘ah di sisi
mazhab Syi‘ah adalah pendapat sebagian besar ulama Syi‘ah mengenai kebangkitan fisik
orang-orang tertentu ke kehidupan dunia sedangkan pendapat yang menakwilkan Raj‘ah dan pendapat yang menolak adanya Raj‘ah terbukti keliru.
Adapun mengenai siapa orang-orang yang akan mengalami Raj‘ah tersebut maka hal itu tergantung dengan apakah ada riwayat shahih yang menyebutkannya. Seperti riwayat shahih
di atas yang menyebutkan bahwa Husain bin ‗Aliy dan mereka yang menzhaliminya akan
mengalami Raj‘ah. Jika tidak ada riwayat shahih yang menyebutkannya maka tidak bisa ditetapkan apalagi jika riwayat tersebut dhaif di sisi mazhab Syi‘ah seperti riwayat-riwayat
yang menyebutkan Abu Bakar [radiallahu ‗anhu], Umar [radiallahu ‗anhu] dan Aisyah [radiallahu ‗anha] akan mengalami Raj‘ah dan menerima hukuman dari Imam Mahdiy.
Anehnya justru riwayat-riwayat dhaif ini yang dijadikan hujjah oleh para pencela untuk
merendahkan mazhab Syi‘ah. Kami juga tidak menutup mata terhadap sebagian pengikut
Syi‘ah yang seenaknya berhujjah dengan riwayat dhaif tetapi kesalahan sebagian orang ini tidaklah pantas dijadikan tolak ukur untuk menghukum mazhab Syi‘ah.
. . .
Syubhat Abul Jauzaa’
Syubhat pertama Abul Jauzaa‘ adalah menggunakan riwayat hadis Syi‘ah yang menurutnya menafikan keyakinan Raj‘ah di sisi mazhab Syi‘ah.
،ئلٓ ٖ ر ئكأ خ٘ ػيك :ٍخ ه .ٍخل ٜ ُح ٖٔ ل ُح ٖ ر ئلٓ خ٘ ػيك :ٍخ ه ٖٔ ل ُح ٖ ر ئلٓ خ٘ ػيك
َ٤ ٓأ ضؼ ٔٓ :ٍخ ه ،١يٓ ٧ح ش ٣خز ػ ٖػ ،ْؼ ٤ ٓ ٖ ر ق ُخٛ ٖػ ٠ٔ ٤ ػ ٖ ر ٕخٔؼ ػ ٖػ
ٞٛٝ ّ٬ٔ ُح ٚ٤ ِ ػ ٖ٤ ٘ ٓئٔ ُح ٖ٠ و ٗ٧ٝ حَ٤ ز ٓ َٜ ٔ ر ٖ٤ ط٥ :ٚ٤ ِ ػ ْ ثخ ه خ ٗأٝ َـٔ ٓ
دَؼ ُح ٖ هٞٓ ٧ٝ ،دَؼ ُح ٍٞ ً [َ ً[ ٖٓ ٍٟخٜ ٘ ُحٝ ىٜٞ٤ ُح ٖؿَ ه٧ٝ ،حَـك حَـك ن٘ ٓى
!صٞٔ ط خٓ يؼ ر ٢٤ ل ط ي ٗأ خ َٗز و ط ي ٗؤ ً ٖ٤ ٘ ٓئٔ ُح َ٤ ٓأ خ ٣ :ٚ ُ ضِ ه :ٍخ ه ٌٙٛ ١خٜ ؼ ر
٢٘ ٓ َؿٍ ِٚ و ؼ ٣ ذٌٛٓ َ٤ ؿ ٢ ك ضز ًٛ ش ٣خز ػ خ ٣ صخٜ٤ ٛ :ٍخو ك
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Hasan yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Hasan Ash Shaffaar yang berkata telah menceritakan kepada
kami Ahmad bin Muhammad dari „Utsman bin „Iisa dari Shaalih bin Maitsam dari „Abaayah
Al Asadiy yang berkata aku mendengar Amirul Mukminin [„alaihis salaam] yang waktu itu ia
mimbar di Mesir, dan aku akan merobohkan Damaskus, batu demi batu. Aku juga akan mengeluarkan orang-orang Yahudi dan Nashrani dari seluruh wilayah „Arab. Aku akan
memimpin „Arab dengan tongkatku ini”. Aku berkata kepadanya “Wahai Amiirul Mukminiin,
seolah-olah engkau mengabarkan kepada kami bahwa engkau akan hidup kembali setelah
wafat?”. [Beliau] berkata “Jauh sekali wahai „Abaayah. Hal itu akan dilakukan oleh seseorang dariku” [Ma‟aaniy Al Akhbaar Syaikh Ash Shaduuq hal 406-407]
Setelah membawakan riwayat Syaikh Ash Shaaduq ini, Abul Jauzaa‘ berkata
Mari kita cermati bersama riwayat di atas. Ketika ditanya apakah ia akan hidup kembali
setelah kematiannya, maka ‗Aliy bin Abi Thaalib membantahnya. Artinya, tidak ada raj‘ah baginya (‗Aliy). Jika ia tidak akan hidup kembali – padahal ia adalah penghulunya imam Ahlul-Bait – tentu orang-orang selainnya terlebih lagi
Perkataan Abul Jauzaa‘ tersebut bisa dikatakan sia-sia karena riwayat yang ia jadikan hujjah
tidak shahih sanadnya sesuai dengan standar ilmu hadis mazhab Syi‘ah. Berikut pembahasan kedudukan riwayat tersebut sesuai standar ilmu Rijal Syi‘ah.
Dalam sanad riwayat Syaikh Ash Shaaduq terdapat perawi yang tidak dikenal dan tidak tsabit
tautsiq terhadapnya salah satunya yaitu ‗Abaayah Al Asadiy. Berikut pembahasan
tentangnya.
Sayyid Al Khu‘iy dalam kitabnya Mu‘jam Rijal Al Hadiits menyebutkan biografi ‗Abaayah bin Rib‘iy Al Asadiy dan tidak menyebutkan adanya jarh dan ta‘dil terhadapnya, hanya saja
terdapat nukilan bahwa Al Barqiy memasukkannya dalam golongan sahabat khusus Imam
Aliy [Mu‘jam Rijal Al Hadiits 10/274-275 no 6228]
Sumber penukilan Sayyid Al Khu‘iy adalah kitab Rijal Al Barqiy dimana penulisnya
menyebutkan golongan sahabat khusus Imam Aliy dan salah satunya terdapat nama ‗Abaayah bin Rib‘iy Al Asadiy [Rijal Al Barqiy hal 4-5]
Lafaz ―sahabat khusus Imam Aliy‖ sebenarnya bernilai mamduh [pujian] tetapi yang menjadi masalah disini adalah kitab Rijal Al Barqiy tidak jelas siapa penulisnya. Sebagian ulama
Syi‘ah mengira ia adalah Ahmad bin Abu ‗Abdullah Al Barqiy tetapi berdasarkan pendapat
yang rajih hal ini keliru dengan qarinah berikut
1. Penulis kitab Rijal Al Barqiy malah memasukkan nama Ahmad bin Abu ‗Abdullah Al
Barqiy dalam golongan sahabat Imam Abu Ja‘far Ats Tsaniy [Rijal Al Barqiy hal 56- 57]. Termasuk hal yang aneh jika penulis kitab Rijal menyebut nama sendiri dalam kitabnya.
2. Penulis kitab Rijal Al Barqiy juga memasukkan nama murid Ahmad bin Abu
‗Abdullah Al Barqiy yaitu ‗Abdullah bin Ja‘far Al Himyaariy dimana penulis kitab tersebut berkata ―Abdullah bin Ja‘far Al Himyaariy dimana aku telah mendengar darinya‖ [Rijal Al Barqiy hal 60-61]. Maka jelas disini bahwa penulis kitab Rijal Al
Barqiy adalah murid dari ‗Abdullah bin Ja‘far Al Himyariy.
3. Penulis kitab Rijal Al Barqiy juga memasukkan nama Muhammad bin Khalid Al Barqiy dalam kitabnya ke dalam golongan sahabat Imam Abu Hasan Al Awwaal dan
Imam Abu Hasan Ar Ridhaa [Rijal Al Barqiy hal 55]. Abu ‗Abdullah Muhammad bin Khalid Al Barqiy adalah ayah dari Ahmad bin Abu ‗Abdullah Al Barqiy tetapi penulis
Kalau untuk perawi seperti ‗Abdullah bin Ja‘far Al Himyaariy ia menyebutkan dengan jelas telah mendengar darinya maka mengapa Ayahnya sendiri yang jauh lebih dekat dengannya tidak disebutkan dengan jelas bahwa itu ayahnya dan ia telah mendengar darinya.
Maka berdasarkan pendapat yang rajih dapat disimpulkan bahwa penulis kitab Rijal Al
Barqiy bukanlah Ahmad bin Abu ‗Abdullah Al Barqiy seorang perawi yang tsiqat dan masyhur dalam mazhab Syi‘ah.
Ulama Syi‘ah Syaikh Ja‘far As Subhaaniy menyebutkan bahwa kemungkinan penulis kitab
Rijal tersebut adalah ‗Abdullah bin Ahmad Al Barqiy gurunya Al Kulainiy atau Ahmad bin ‗Abdullah bin Ahmad Al Barqiy gurunya Syaikh Ash Shaduuq, dimana Syaikh merajihkan
Ahmad bin ‗Abdullah bin Ahmad Al Barqiy [Kulliyyaat Fii Ilm Ar Rijal Syaikh Ja‘far As Subhaaniy hal 72].
Jika memang penulis kitab Rijal Al Barqiy adalah Ahmad bin ‗Abdullah bin Ahmad Al Barqiy yaitu cucu dari Ahmad bin Abu ‗Abdullah Al Barqiy maka ia seorang yang majhul [Al Mufiid Min Mu‘jam Rijal Al Hadiits hal 31].
Penjelasan terperinci tentang siapa penulis kitab Rijal Al Barqiy ini sebenarnya membutuhkan pembahasan tersendiri jadi kami tinggalkan isu ini agar bisa didiskusikan disini oleh para penuntut ilmu dari kalangan orang-orang Syi‘ah. Sejauh ini kesimpulan yang kami dapatkan kitab tersebut tidak bisa dijadikan hujjah.
Maka lafaz ―sahabat khusus Imam Aliy‖ untuk ‗Abaayah Al Asadiy tersebut tidak tsabit
sebagai predikat mamduh [pujian] untuknya. Oleh karena tidak ada tautsiq serta mamduh [pujian] lain untuknya maka kedudukannya adalah majhul. Syaikh Muhammad Haadiy Al Maazandaraaniy pernah berkata
ٍخل ُح ٍٜٞـٓ ٞٛٝ ،١يٓ ٧ح ٠ؼ رٍ ٖ ر ش ٣خز ػ ٞٛٝ ،١يٓ ٧ح ش ٣خز ػ نٔ ٘ ُح ٞؼ ر ٢ كٝ
Dan dalam sebagian naskah tertulis „Abaayah Al Asadiy dan ia adalah „Abaayah bin Rib‟iy
Al Asadiy seorang yang majhul hal [Kitab Syarh Furuu‟ Al Kaafiy Syaikh Muhammad Haadiy Al Maazandaraaniy 2/322]
. .
Syaikh Ash Shaaduq setelah membawakan riwayat di atas, ia mengatakan bahwa Imam Aliy
sedang taqiyah terhadap ‗Abaayah dalam hadis ini
دخظ ٌ ُح حٌٛ ق٘ ٜ ٓ ٍخ ه– ٚ٘ ػ الله ٢ٟ ٍ-: إ أّ١ٍ حٍّإّٕ١ٕ عٍ١ٙ حٍٍّحّ حصمٟ عدح١س
َ٤ ؿ خ ٗخ ً خٜٔ ٗ٧ ن رخٔ ُح غ ٣يل ُح ٢ ك ءحٌٞ ُح ٖ رح ٢و طأٝ غ ٣يل ُح حٌٛ ٢ ك ١يٓ ٧ح
ّ٬ٔ ُح ْٜ٤ ِ ػ ئلٓ ٍآ ٍحَٓ ٧ ٖ٤ ِ ٔظ لٓ
Berkata penulis kitab ini [radiallahu „anhu] “Sesungguhnya Amiirul Mukminiin [„alaihis
Kawaa‟ dalam hadis sebelumnya karena keduanya bukan pembawa rahasia keluarga Muhammad [„alaihimus salaam].[Ma‟aaniy Al Akhbaar Syaikh Ash Shaduuq hal 407].
Pernyataan ini walaupun menurut kami bukan hujjah yang kuat tetapi bisa dimaklumi karena
mungkin di sisi Syaikh Ash Shaduuq telah shahih berbagai riwayat tentang Raj‘ah. Biasanya para pencela suka merendahkan argumen salah seorang ulama Syi‘ah yang menyatakan suatu
hadis sebagai taqiyyah. Para pencela mengatakan kalau dengan mudah dikatakan taqiyyah seenaknya maka bagaimana membedakan riwayat yang bukan taqiyyah dengan riwayat taqiyyah.
Orang jahil yang penuh kesombongan maka ia akan selamanya jahil, jika mereka para pencela itu mau meneliti dengan objektif maka sangat mudah untuk memahami kapan para
ulama Syi‘ah menyatakan suatu hadis sebagai taqiyyah. Prinsipnya adalah jika suatu hadis secara zhahir bertentangan dengan ushul mazhab Syi‘ah dimana ushul mazhab tersebut
berdiri atas riwayat shahih yang lebih kuat dan lebih banyak maka saat itulah hadis yang bertentangan tersebut dikatakan taqiyyah. Ini adalah ciri khas metode self defense suatu mazhab yang menopang dirinya sendiri.
Metode seperti ini yang bercorak self defense juga dikenal di dalam ilmu hadis mazhab Ahlus Sunnah. Para pembaca mungkin pernah mendengar kaidah perawi tsiqat dengan mazhab
menyimpang atau penganut bid‘ah di sisi Ahlus Sunnah seperti Syi‘ah, Khawarij, Nashibiy,
Qadariy, Jahmiy dan yang lainnya jika hadisnya menguatkan mazhab atau bid‘ah yang
mereka anut maka hadisnya tertolak. Metode ini jelas menopang diri mazhab itu sendiri karena walaupun perawi tersebut tsiqat dan hadisnya shahih tetapi jika hadisnya menguatkan
bid‘ahnya maka hadisnya tidak diterima. Dengan kata lain mazhab yang dikatakan bid‘ah
atau menyimpang oleh Ahlus Sunnah itu akan tetap dianggap sesat walaupun para perawi tersebut tsiqat dan memiliki bukti hadis shahih yang mereka punya atas keyakinan mereka.
. .
Syubhat berikutnya yang dijadikan hujjah oleh Abul Jauzaa‘ adalah menggunakan ayat Al Qur‘an yang dalam pikiran waham khayal-nya menafikan Raj‘ah. Abul Jauzaa‘ berkata
Perkataan yang disandarkan kepada ‗Aliy dalam riwayat di atas sesuai dengan firman Allah
ta‘ala –sedangkan firman Allah sebenarnya tidak butuh pada riwayat Syi‘ah tersebut – :
ُِٕٞؼِؿٍْح ّدٍَ ٍَخَه ُصَُْْٞٔح َُُْٛيَكَأ َءآَؿ حًَِا َ٠ّظَك* َِّٝ خَُِِٜثآَه َُٞٛ ٌشًََِِٔ خَِّٜٗا ّ٬ًَ ُضًَََْط خَٔ٤ِك ًخلُِخَٛ ََُْٔػَأ َ٢َِّؼَُ ٕ
َُٕٞؼَؼْزُ٣ َِّْٞ٣ َ٠َُِا ٌمَََُْر ِِْْٜثآٍََٝ
―(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada
seseorang dari mereka, dia berkata: ―Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku
berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding (barzakh)
sampal hari mereka dibangkitkan‖ [QS. Al-Mukminuun : 99-100].
―Dan berkata orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan dan keimanan (kepada orang-orang
yang kafir): ‗Sesungguhnya kamu telah berdiam (dalam kubur) menurut ketetapan Allah, sampai hari berbangkit; maka inilah hari berbangkit itu akan tetapi kamu selalu tidak
meyakini(nya)‖ [QS. Ar-Ruum : 56].
Dua ayat ini menjadi dalil yang jelas bahwa seseorang yang telah meninggal berada di alam kuburnya (barzakh) tidaklah dibangkitkan kecuali nanti di hari dibangkitkan setelah ditiup sangkakala.
Sesungguhnya Al Qur‘an tidaklah butuh dengan perkataan Abul Jauzaa di atas. Kedua ayat
tersebut memang menyatakan orang-orang yang sudah meninggal akan dibangkitkan nanti
pada hari kiamat akan tetapi jika hal ini dijadikan alasan bertentangan dengan konsep Raj‘ah maka itu keliru. Karena Al Qur‘an sendiri telah menjelaskan bahwa atas izin Allah orang- orang yang sudah meninggal bisa hidup kembali, contohnya sebagai berikut
ُع ََُُٕٝظَْ٘ط ُْْظَْٗأَٝ ُشَوِػخَُّٜح ٌُُْْطٌََهَؤَك ًسَََْٜؿ َالله َََٟٗ ٠َّظَك َيَُ َِْٖٓئُٗ َُْٖ ٠َُٓٞٓخَ٣ ُْْظُِْه ًِْاَٝ ِيْؼَر ِْٖٓ ًُْْخَْ٘ؼَؼَر َّّ
ٌَََُُْٕٝ٘ط ٌََُِّْْؼَُ ٌُِْْطَْٞٓ
Dan [ingatlah], ketika kamu berkata: “Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu
sebelum kami melihat Allah dengan terang”, karena itu kamu disambar halilintar, sedang
kamu menyaksikannya. Setelah itu Kami bangkitkan kamu sesudah kamu mati, supaya kamu bersyukur [QS Al Baqarah : 55-56]
ُْْظَِْظَه ًِْاَُٝ َّالله ِ٢ْلُ٣ َيًٌََُِ خَِٜ٠ْؼَزِر ُُٙٞرَِْٟح خَُِْ٘وَك َُُٕٞٔظٌَْط ُْْظًُْ٘ خَٓ ٌؽَِْوُٓ ُ َّاللهَٝ خَٜ٤ِك ُْْطْأٍَحَّىخَك خًْٔلَٗ ٠َطَُْْٞٔح
َُِِٕٞوْؼَط ٌََُِّْْؼَُ ِِٚطخَ٣آ ٌُْْ٣َُِ٣َٝ
Dan [Ingatlah], ketika kalian membunuh seorang manusia lalu kalian saling tuduh menuduh tentang itu, dan Allah hendak menyingkapkan apa yang selama ini kalian sembunyikan. Lalu
Kami berfirman: “Pukullah mayat itu dengan sebahagian anggota sapi betina itu”
Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati dan memperlihatkan kepada kalian tanda-tanda kekuasaan-Nya agar kalian berpikir.” [QS Al Baqarah: 72-73]
َأ َُّْػ حُٞطُٞٓ ُ َّالله َُُُْٜ ٍَخَوَك ِصَُْْٞٔح ٌٍَََك ٌفُُُٞأ َُْْٛٝ ٍِِْْٛخَ٣ِى ِْٖٓ حُٞؿَََه َٖ٣ٌَُِّح ٠َُِا َََط ََُْْأٍَ َ َّالله َِّٕا ُْْٛخَ٤ْك ٍَْ٠َك ًُٝ
ٌَََُُْٕٝ٘٣ َ٫ ِّخَُّ٘ح َََؼًَْأ ٌَََُِّٖٝ ِّخَُّ٘ح ٠ََِػ
Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang keluar dari kampung halaman mereka
sebanyak ribuan orang karena takut mati, lalu Allah berfirman kepada mereka “Matilah kalian” kemudian Allah menghidupkan mereka kembali. Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur [QS Al Baqarah : 243]
ُ َّالله ٌَِِٙٛ ٢ِ٤ ْلُ٣ ٠ََّٗأ ٍَخَه خََُُِٜٗٝػ ٠ََِػ ٌشَ٣ِٝخَه َ٢َِٛٝ ٍشَ٣ََْه ٠ََِػ َََّٓ ١ٌَُِّخًَ َْٝأ َُّْػ ٍّخَػ َشَثخِٓ ُ َّالله َُٚطخََٓؤَك خَِٜطَْٞٓ َيْؼَر
َغَ١ ٠َُِا َُْظْٗخَك ٍّخَػ َشَثخِٓ َضْؼِزَُ ََْر ٍَخَه ٍَّْٞ٣ َْٞؼَر َْٝأ خًَْٓٞ٣ ُضْؼِزَُ ٍَخَه َضْؼِزَُ ًَْْ ٍَخَه َُٚؼَؼَر َََّْٚ٘ٔظَ٣ َُْْ َيِرحََََٗٝ َيِٓح
َغ ْـََُِ٘ٝ َىٍِخَِٔك ٠َُِا َُْظْٗحَٝ ٍَخَه َُُٚ ََّٖ٤َزَط خَََِّٔك خًْٔلَُ خٌََُْٛٞٔٗ َُّْػ خَُُِِْٛ٘٘ٗ َقْ٤ًَ ِّخَظِؼُْح ٠َُِا َُْظْٗحَٝ ِّخَُِِّ٘ ًشَ٣آ َيَُ
ٌَ٣ِيَه ٍءْ٢َٗ ًَُِّ ٠ََِػ َ َّالله ََّٕأ َُِْْػَأ
Atau apakah [kamu tidak memperhatikan] orang yang melalui suatu negeri yang
[temboknya] telah roboh menutupi atapnya. Dia berkata “Bagaimana Allah menghidupkan
tahun, kemudian menghidupkannya kembali. Allah bertanya “Berapakah lamanya kamu
tinggal di sini?” Dia menjawab “Saya tinggal di sini sehari atau setengah hari.” Allah
berfirman “Sebenarnya kamu telah tinggal di sini selama seratus tahun lamanya. Lihatlah
kepada makanan dan minumanmu yang belum lagi berubah, dan lihatlah kepada keledaimu [yang telah menjadi tulang belulang] Kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manusia dan lihatlah kepada tulang belulang keledai itu, kemudian Kami menyusunnya
kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging.” Maka tatkala telah nyata kepadanya
[bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati] diapun berkata “Saya yakin bahwa Allah
Maha Kuasa atas segala sesuatu” [QS Al Baqarah : 259]
. .
Contoh lain adalah diriwayatkan dari Imam ‗Aliy bin Abi Thalib dengan sanad yang jayyid
bahwa Beliau pernah berkata tentang Dzulqarnain
الله قٛ خ ٗ خل ُخٛ ٬ ؿٍ ٕخ ً ٍخ ه ٢ِ ػ ٖػ َ٤ ل ط ُح ٢ رأ ٖػ ّخٔ ر ٖػ غ٤ ًٝ خ٘ ػيك
ٚلٜ ٘ ك َٔ ٣٧ح ٚ َٗ ه ٠ِ ػ دَٟ ْ ػ الله ٙخ٤ كؤ ك صخٔ ك ٖٔ ٣٧ح ٚ َٗ ه ٠ِ ػ دَ٠ ك
ِٚ ؼ ٓ ٌْ ٤ كٝ الله ٙخ٤ كؤ ك صخٔ ك
Telah menceritakan kepada kami Wakii‟ dari Bassaam dari Abi Thufail dari „Aliy yang berkata “Ia adalah hamba yang shalih, memberikan petunjuk [orang-orang] kepada Allah
maka Allah memberikan petunjuk kepadanya. Maka [kaumnya] memukul kepalanya sebelah
kanan maka ia mati. Allah menghidupkannya kembali kemudian [kaumnya] memukul kepalanya sebelah kiri maka ia mati kemudian Allah menghidupkannya kembali. Dan diantara kalian ada orang yang sepertinya [Al Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 10/443-444 no 32511]
Sanad Atsar di atas jayyid para perawinya tsiqat dan shaduq. Wakii‘ bin Jarraah seorang tsiqat hafizh ahli ibadah [Taqriib At Tahdziib 2/283-284]. Bassaam bin ‗Abdullah Ash
Shairafiy seorang yang shaduq [Taqriib At Tahdziib 1/124]. Abu Thufail yaitu ‗Aamir bin
Watsilah seorang sahabat Nabi yang paling akhir wafat [Taqriib At Tahdziib 1/464]
Atsar di atas juga disebutkan Ibnu Abi Aashim dalam As Sunnah no 1353 dan Al Ahaadu Wal Matsaaniy 1/141 no 168, Ath Thahawiy dalam Syarh Musykil Al Atsar 5/121 dengan
jalan sanad Bassaam Ash Shairafiy dari Abu Thufail dari ‗Aliy. Bassaam dalam periwayatan dari Abu Thufail memiliki mutaba‘ah dari
1. Habiib bin Abi Tsabit sebagaimana disebutkan Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf 10/444 no 32512 dan Ath Thabariy dalam Tafsir Ath Thabariy 17/370,
tanpa tambahan lafaz ―dan diantara kalian ada orang sepertinya‖
2. Qaasim bin Abi Bazzah sebagaimana disebutkan Ath Thabariy dalam Tafsir Ath
Thabariy 17/370 dengan tambahan lafaz ―dan diantara kalian pada hari ini ada orang
yang sepertinya‖
3. ‗Abdullah bin ‗Abdurrahman bin Abi Husain sebagaimana diriwayatkan Adh Dhiyaa‘
Al Maqdisiy dalam Al Ahaadiits Al Mukhtaarah no 555 tanpa tambahan lafaz ―dan diantara kalian ada orang sepertinya‖.
Maka tidak diragukan lagi bahwa perkataan tersebut shahih dari Aliy bin Abi Thalib [‗alaihis salaam]. Sedikit catatan tentang lafaz ―dan diantara kalian ada orang sepertinya‖. Sebagian
ulama mengisyaratkan bahwa lafaz ini merujuk pada diri ‗Aliy bin Abi Thalib sendiri. Atsar
ini sering dijadikan hujjah oleh pengikut Syi‘ah sebagai bukti bahwa Imam Aliy sendiri akan
mengalami raj‘ah sebagaimana Dzulqarnain di atas yang mati kemudian dibangkitkan
kembali.
Sayangnya hujjah Syi‘ah tersebut tidaklah kuat karena lafaz tersebut tidaklah sharih [tegas]
dalam hal apa penyerupaan yang dimaksud tersebut. Apakah dalam keseluruhan sifat yang