ANALISIS NILAI MORAL DALAM NOVEL NORWEGIAN WOOD KARYA HARUKI MURAKAMI
2. Cinta kasih terhadap sesama Cuplikan halaman (53-54) :
Pada Januari sampai Februari 1969 cukup banyak yang terjadi. Akhir Januari Kopasgat terbaring demam hampir men- capai 40°C. Akibatnya aku batal berkencan dengan Naoko. Susah-payah aku mendapatkan dua tiket konser dan mengajak Naoko menontonnya. Orkestra akan memainkan Simfoni Brahms ke-4 yang sangat disukai Naoko, karena itu ia sangat menantikannya. Tetapi karena melihat Kopasgat terus mengigau di atas tempat tidur seakan-akan mau mati, mustahil aku meninggalkannya. Dan aku tidak berhasil menemukan orang yang bersedia menggantikan untuk merawatnya. Aku membeli es batu, lalu kumasukkan ke dalam plastik beberapa lapis untuk mengompres. Aku lap keringatnya dengan handuk yang sudah kudinginkan, setiap satu jam aku mengukur panas tubuhnya, dan aku pun menggantikan pakaiannya. Sehari penuh panasnya tidak turun. Tetapi pada pagi hari kedua ia bangkit dari tempat tidurnya, lalu seperti tidak pernah terjadi apa-apa ia mulai bersenam. Ketika diukur suhu tubuhnya 36,2°C, normal. Sepertinya bukan manusia saja.
Analisa :
Cuplikan tersebut terjadi saat Watanabe sangat bersemangat untuk menonton film di bioskop bersama Naoko. Namun, tiba-tiba saja teman sekamarnya bernama samaran Kopasgat jatuh sakit. Demamnya sangat tinggi, Watanabe tidak menemukan orang yang dapat menggantikannya untuk merawat Kopasgat sementara waktu. Oleh karena itu ia memutuskan untuk membatalan pergi bersama Naoko karena harus merawat Kopasgat yang demam tinggi. Kemudian dengan segala usaha, Watanabe berupaya untuk membantu Kopasgat pulih. Hal tersebut ditunjukkan pada kutipan
berikut “Tetapi karena melihat Kopasgat terus mengigau di atas tempat tidur seakan-akan mau mati, mustahil aku meninggalkannya.”, dan “Aku membeli es batu, lalu kumasukkan ke dalam plastik beberapa lapis untuk mengompres. Aku lap keringatnya dengan handuk yang sudah kudinginkan, setiap satu jam aku mengukur panas tubuhnya, dan aku pun menggantikan pakaiannya.”
Penulis dalam analisa di atas menyimpulkan bahwa tokoh Watanabe adalah sosok yang peduli terhadap teman sekamarnya yang sedang sakit. Ia rela mengorbankan waktu kencannya untuk merawat temannya itu. Hal tersebut mengajarkan kepada kita agar menanamkan rasa simpati kepada orang lain, terutama kepada orang terdekat saat mereka membutuhkan pertolongan kita.
Cuplikan halaman (398-399) :
Sore hari yang berangin kencang, ketika aku sedang menangis di dalam kantong tidur, di balik perahu yang sudah tidak dipakai, seorang nelayan muda mendekatiku dan menawarkan rokok. Aku terima tawarannya dan kuisap rokok itu.
Sudah sepuluh bulan aku tidak merokok. Kenapa kamu menangis, tanyanya kepadaku.
Ibuku meninggal, jawabku hampir spontan berbohong. Karena sedih aku terus melakukan perjalanan, kataku. Ia sangat bersimpati. Lalu, dari rumahnya ia membawa sebotol besar sake dan dua gelas.
Di pantai pasir yang berangin kencang kami berdua minum sake. Aku juga sudah ditinggal mati ibuku ketika berusia 16 tahun, kata nelayan itu. Meskipun tubuhnya tidak begitu kuat, ibu bekerja terus-menerus, dari pagi sampai malam, akibatnya tubuhnya semakin lemah dan mati, katanya. Sambil minum sake aku mendengarkan ceritanya dengan kepala setengah kosong dan mengangguk-angguk menanggapinya. Bagiku ceritanya itu terasa seperti sesuatu yang terjadi di dunia yang sangat jauh. Jadi, apa hubungannya denganku, aku membatin. Lalu tiba-tiba
meluap rasa marahku yang dahsyat, rasanya aku ingin mencekik leher laki-laki itu.
Memang ada apa dengan ibumu? Aku sedang kehilangan Naoko! Tubuh yang begitu indah itu sekarang sudah menghilang dari dunia ini! Tetapi, kenapa kamu harus bercerita tentang ibumu segala?
Tetapi kemarahan itu segera menghilang. Aku pejamkan mata, dan tanpa keinginan mendengarkannya, aku mendengarkan cerita panjang dari nelayan itu dengan kepala kosong. Akhirnya dia bertanya kepadaku apakah aku sudah makan atau belum? Belum. Tapi di dalam ranselku ada roti, keju, tomat, dan coklat, jawabku.
Siang hari makan apa? Tanyanya. Makan roti, keju, tomat, dan coklat, jawabku.
Mendengar jawabanku itu, ia menyuruhku menunggu. Lalu ia pergi entah ke mana.
Aku hendak menghentikannya, tetapi tanpa menoleh lagi ia segera menghilang ke dalam kegelapan.
Tiga puluh menit kemudian nelayan muda itu kembali membawa dua kotak sushi dan sebotol sake baru. Makanlah ini, katanya. Yang bawah berisi norimaki dan inari, jadi sisakanlah untuk besok, katanya. Ia menuangkan sake dari botol ke gelasnya, kemudian ke gelasku. Aku mengucapkan terima kasih, lalu makan sushi dengan porsi untuk dua orang. Kemudian kami berdua minum sake lagi. Ketika sampai pada tahap sudah tak dapat minum lagi, ia menyuruhku menginap di rumahnya, tetapi ketika kujawab sebaiknya aku tidur di sini, ia tidak mengajakku lagi.
Ketika hendak berpisah ia mengeluarkan lembaran lima ribu yen yang dilipat empat, lalu memasukkannya ke dalam saku bajuku. Makanlah makanan yang bergizi dengan uang ini, mukamu pucat sekali, katanya. Aku sudah banyak menerima kebaikanmu, mana mungkin aku harus menerima uang lagi darimu, tolakku, tetapi ia tidak mengambil kembali uang itu. Ini bukan uang, tapi rasa simpatiku,
karena itu bawalah jangan terlalu dipikirkan, katanya. Apa boleh buat aku terima uang itu, dan kuucapkan terima kasih padanya.
Analisa :
Cuplikan tersebut merupakan peristiwa yang dialami Watanabe. Semenjak kepergian Naoko yang tragis, Watanabe seakan-akan kehilangan seluruh dunianya. Ia hidup terlunta-lunta dan tidur di luar layaknya seorang homeless. Watanabe berubah menjadi sosok yang menyedihkan. Saat ia berada di pantai, seorang nelayan muda menghampirinya dan sangat bersimpati pada Watanabe. Ia menawarkan rokok kepada Watanabe, mereka minum sake bersama, bercerita walaupun Watanabe tidak begitu menghiraukan cerita di nelayan tersebut.
Nelayan tersebut pun membawakannya makanan. Bahkan si nelayan tersebut memberikan beberapa jumlah uang kepada Watanabe agar membeli makanan yang bergizi. Begitu pedulinya nelayan tersebut kepada Watanabe. Hal tersebut ditunjukkan pada kutipan berikut “seorang nelayan muda mendekatiku dan menawarkan rokok.”, “Ia sangat bersimpati. Lalu, dari rumahnya ia membawa sebotol besar sake dan dua gelas.”, “Tiga puluh menit kemudian nelayan muda itu kembali membawa dua kotak sushi dan sebotol sake baru. Makanlah ini, katanya.
Yang bawah berisi norimaki dan inari, jadi sisakanlah untuk besok, katanya. Ia menuangkan sake dari botol ke gelasnya, kemudian ke gelasku.”, “, ia menyuruhku menginap di rumahnya, Ketika hendak berpisah ia mengeluarkan lembaran lima ribu yen yang dilipat empat, lalu memasukkannya ke dalam saku bajuku.
Makanlah makanan yang bergizi dengan uang ini, mukamu pucat sekali, katanya.”.
Penulis pada analisa di atas menyimpulkan bahwa Watanabe yang pada saat itu sedang kehilangan arah dan ditimpa kesedihan, didatangi oleh seseorang nelayan yang murah hati. Hal tersebut mengajarkan kita bahwa harus menanamkan rasa
simpati terhadap sesama manusia, sekalipun mereka orang asing yang menderita.
Karena kita tidak akan tahu seberapa berartinya pertolongan kita bagi mereka
3. Kejujuran
Cuplikan halaman 81 :
"Kamu tidak menyukai cara hidup sepertiku?"
"Jangan begitu, dong," kataku. "Ini bukan suka atau tidak suka. Paham, kan?
Aku tidak bisa masuk ke universitas Tokyo atau tidak bisa tidur dengan perempuan yang kita sukai kapan saja, aku juga tidak pandai bicara. Disegani orang lain, dan bahkan punya pacar pun tidak. Meskipun aku lulus fakultas sastra dari universitas swasta nomor dua bukan berarti aku punya harapan, apa yang bisa kukatakan?"
"Jadi kamu iri kepadaku?" "Tidak juga," kataku. "Pasalnya aku sudah terlalu terbiasa dengan diriku sendiri. Lalu, jujur saja, aku sama sekali tidak berminat masuk universitas Tokyo atau Deplu. Satu-satunya yang membuatku iri adalah kamu punya pacar yang baik seperti Hatsumi-san."
Sejenak ia terdiam sambil melanjutkan makan.
Analisa :
Cuplikan di atas merupakan peristiwa saat Watanabe mendapatkan teman se-asrama bernama Nagasawa yang tampan, pintar, kaya, dan disegani. Saat ditanyakan kepada dirinya apakah ia iri kepada Nagasawa, Watanabe menjawab dengan jujur bahwa hal yang membuatnya iri terhadap Nagasawa bukanlah kepintaran dan kekayaan, melainkan bahwa Nagasawa mempunyai pacar sebaik Hatsumi. Hal tersebut ditunjukkan pada kutipan “Lalu, jujur saja, aku sama sekali tidak berminat
masuk universitas Tokyo atau Deplu. Satu-satunya yang membuatku iri adalah kamu punya pacar yang baik seperti Hatsumi-san."”.
Penulis pada analisa tersebut di atas menyimpulkan bahwa Watanabe adalah seorang teman yang jujur akan apa yang dilihatnya dari orang lain. Hal itu mengajarkan kepada kita bahwa sebagai teman yang baik, kita harus mengungkapkan perasaan kita apa adanya saat teman kita bertanya tentang pandangan kita terhadap mereka.