• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ciri-Ciri Tata Bahasa Transformasi

Dalam dokumen BUKU PENGANTAR LINGUISTIK UMUM (Halaman 55-0)

Bab V TATA BAHASA TRANSFORMASI

C. Ciri-Ciri Tata Bahasa Transformasi

Berikut ini ciri-ciri dalam tata bahasa transformasi.

1. Menyimpulkan bahasa sebagai penggunaan simbol yang tak terhingga dengan alat yang terbatas.

2. Menegaskan keharusan aturan gramatika tertentu yang menyeluruh dan bisa menghasilkan kalimat-kalimat gramatik yang mungkin ada.

3. Membedakan kalimat dasar (sederhana, aktif, pernyataan) dengan kalimat transformasi (majemuk, pasif, pernyataan).

4. Menegaskan bahwa setiap orang lahir dengan dianugerahi kemampuan berbahasa.

5. Struktur dalam (deep structure) adalah struktur dasar yang tidak teramati, berada pada pikiran pembicara/penanggap tutur, dan dengan kompetennya mereka menstransformasikan struktur dasar ke dalam struktur luar (surface structure), yaitu ujaran dan tulisan.

Kalimat ujaran ini merupakan performance-nya.

6. Menganggap kegiatan bahasa sebagai tingkah laku yang dikendalikan aturan-aturan, bebas dari stimulus. Aturan-aturan ini sangat ampuh sehingga membuat penutur asli mampu menyusun dan mengerti kalimat-kalimat baru yang belum pernah dibuat dan didengarnya.

7. Menyatakan pentingnya pelibatsertaan makna dalam menyusun analisis gramatika bahasa (Alwasilah, 1993: 167).

D. Pertanyaan

1. Tuliskan beda tata bahasa Transformasi dengan jenis tata bahasa sebelumnya!

2. Tuliskan ciri-ciri TBT!

3. Tuliskan beberapa ahli yang menganut aliran TBT!

4. Tuliskan latar belakang Chomsky!

E. Tugas dan Latihan

Tuliskan model atau contoh TBT.

F. Sumber Bacaan

1. Pengantar Linguistik oleh Prof. Dr. J.W.M. Verhaar.

2. Linguistik Suatu Pengantar oleh A. Chaedar Alwasilah.

3. Pengantar Teori Linguistik: Introduction to Theoretical Linguistics oleh John Lyons.

4. Linguistik: Teori & Terapan (1987) oleh Soenjono Dardjowidjojo.

Bab VI

TATA BAHASA RELASIONAL

Setelah mempelajari materi ini diharapkan:

1. Mahasiswa dapat memahami tentang definisi Tata Bahasa Relasional (TBR).

2. Mahasiswa dapat memahami siapa tokoh dalam TBR.

3. Mahasiswa dapat memahami ciri-ciri TBR.

A. Latar Belakang Perkembangan Tata Bahasa Relasional

Lahirnya Tata Bahasa Relasional (TBR) tidak lepas dari kelemahan pada Tata Bahasa Transformasi (TBT). Kerangka pemikiran tata bahasa ini dikembangkan oleh Paul M. Postal, David M. Perlmutter, dan David Johnson tahun 1970-an. Pengembangan TBR memberikan kontribusi positif karena melibatkan bahasa Indonesia, terutama sintaksis bahasa Indonesia.

Menurut Perlmutter (1980), tata bahasa relasional sudah ada sejak tahun 1970-an sebagai tantangan langsung terhadap beberapa asumsi yang paling mendasar dari teori sintaksis yang dicanangkan kaum strukturalis dan penganut tata bahasa transformasional.

Perlmutter sendiri sebenarnya banyak berkecimpung dalam pemikiran

transformasional. Menjelang pada dasawarsa 70-an, Perlmutter dan Postal bersama dengan Kiparsky, Langacker, Lakoff, McCawley memisahkan diri dari kelompok Chomsky dan membentuk aliran baru yang lebih dikenal dengan sebutan kaum Semantik Generatif (Generative Semanticists). Kelompok pengikut aliran “lurus” Chomsky disebut dengan Kaum Leksikalis, sedangkan kelompok Lakoff dijuluki kaum Transformasionalis. Pada 1974, Perlmutter dan Postal mengumumkan nama Relational Grammar untuk kelompok aliran mereka sebagai kritik terhadap Chomsky. Tujuannya, baik kelompok transformasional (TT) maupun kelompok relasional (TR), sama-sama mencari kaidah semestaan bahasa, yaitu kaidah umum yang dapat diterapkan pada segala bahasa.

Serangan yang dilancarkan TR terhadap TT tertuju pada kaidah bahasa universal, tetapi oleh TR dianggap tidak universal. Kaidah yang dikemukakan TT berdasarkan pengamatannya terhadap bahasa Inggris. Kritikan yang dilontarkan TR juga berdasarkan hasil analisisnya terhadap bahasa selain bahasa Inggris. Serangan yang dilancarkan TR terhadap TT terutama terhadap andaian TT bahwa struktur klausa dapat dijabarkan dengan menggunakan urutan linear dan relasi dominasi di antara elemen-elemen suatu klausa. Ikhwal urutan linear ini dapat terlihat jelas pada penjelasan TT mengenai pelaksanaan Transformasi Pasif. Menurut TT, transformasi pasif dapat diterapkan pada konstruksi yang memiliki urutan struktural NP---V---NP dan pemasifan itu mengakibatkan berpindahnya NP yang menyusul V ke depan dan berpindahnya NP yang mendahului V ke belakang.

Persoalan relasi dominasi berkenaan dengan batasan mengenai Subjek dan Objek langsung. Menurut TT, subjek adalah NP yang secara langsung diatasi oleh S (sentence). Objek langsung adalah NP yang secara langsung diatasi oleh VP. Perhatikan diagram berikut!

S

NP VP

V NP

[Subjek ] [Predikat] [objek (langsung)]

TBR mengajukan kritikan terhadap TBT dengan menyatakan bahwa urutan linear dan relasi dominiasi tersebut gagal bila diterapkan pada bahasa Turki, Malagasi, Latin, Rusia, Indonesia, dan Eskimo. Hal ini memperlihatkan bahwa urutan linear dan relasi dominasi tidak selayaknya dicantumkan dalam kaidah semestaan bahasa sebab kedua hal tersebut tergantung pada kekhasan bahasa yang bersangkutan. Jika pemasifan tidak dapat diberi ciri-ciri universal yang menyangkut soal, seperti urutan linear, menurut Perlmutter (1983), itu tidak berarti bahwa ihwal pemasifan tidak dapat dijelaskan dengan menggunakan peristilahan yang “lepas bahasa”. Maksudnya, peristilahan yang tidak terpaku pada bahasa tertentu (dapat diterapkan pada bahasa tertentu) yaitu yang dapat diterapkan pada segala bahasa. Oleh karena itu, TBR mencanangkan alternatif lain untuk menjabarkan struktur klausa dengan memakai jaringan relasi gramatikal.

Sehubungan dengan relasi gramatikal tersebut, beberapa dasar pemikiran tata bahasa Transformasional mengenai struktur klausa perlu diuraikan secara singkat terlebih dahulu. Hal ini disebabkan walaupun TBR menyatakan diri memisahkan diri dari tata bahasa Transformasional, kerangka berpikir secara transformasional belum bisa ditinggalkan TBR.

Contoh:

1. Ali membeli sebuah majalah Gadis.

2. Ali membeli sebuah majalah untuk gadis itu.

3. Gadis itu dibelikan sebuah majalah oleh Ali.

4. Sebuah majalah dibeli gadis itu.

Dalam tata bahasa Tradisional, tidak dipersoalkan secara ketat, misalnya dari manakah asal konstruksi pasif kalimat (3) dan (4) di atas. Tata bahasawan tradisional tidak mengotak-atik apakah suatu konstruksi pasif berasal dari konstruksi aktif (1) atau (2) di atas. Hal yang dipersoalkan oleh tata bahasawan tradisional adalah objek langsung maupun tak langsung, sama-sama dapat menjadi subjek pada konstruksi pasif. Hal ini berbeda dengan tatabahawasan transformasional, pertanyaan seperti “Darimanakah asal suatu konstruksi?” merupakan pertanyaan yang sangat mendasar. Salah satu inti permasalahan yang mereka pertanyakan adalah mana yang merupakan konstruksi asal dan yang mana merupakan konstruksi jabaran. Jika konstruksi tersebut merupakan konstruksi jabaran, perlu dicari dari mana konstruksi jabaran tersebut ditransformasikan.

Menurut tata bahasawan transformasi, penerapan suatu transformasi harus mengikuti urutan tertentu, misalnya tranformasi A dahulu baru transformasi B. Jika penerapannya dibalik, konstruksi yang dihasilkan merupakan konstruksi yang tidak gramatikal.

Dengan demikian, konstruksi:

1. Mery memberi sebuah buku ke temannya

2. Mery memberikan sebuah buku kepada temannya.

3. Sebuah buku diberikan Mery kepada temannya.

4. Temannya diberi sebuah buku oleh Mery.

Menurut tata bahasa Transformasional, konstruksi “Sebuah buku diberikan Mery kepada temannya” merupakan hasil jabaran

dari konstruksi “Mery memberikan sebuah buku ke temannya”, bukan dari konstruksi “Mery memberi temannya sebuah buku”.

Konstruksi “Temannya diberikan sebuah buku oleh Mery” diturunkan dari konstruksi “Meri memberi temannya sebuah buku” bukan dari konstruksi “Meri memberikan sebuah buku kepada temannya”.

* Mery memberi sebuah buku ke temannya.

Mery = subjek

sebuah buku = objek langsung temannya = objek tak langsung

B. Kerangka Teori Tata Bahasa Relasional

Menurut TR struktur klausa terdiri dari jaringan relasional yang melibatkan 3 macam wujud, yaitu:

1. Seperangkat nodes yang menampilkan elemen-elemen struktur.

2. Seperangkat relational signs yang merupakan nama relasi gramatikal yang disandang elemen-elemen itu dalam kaitannya dengan elemen lain.

3. Seperangkat coordinates yang dipakai untuk menunjukkan tataran yang manakah elemen-elemen itu menyandang relasi gramatikal tertentu terhadap elemen yang lain.

Ketiga wujud di atas dideskripsikan ke sebuah diagram, sebagai berikut.

a. Naomi gave that book me.

b.

P c1 1 c1 2 c1 3 c1

gave Naomi that book me

Struktur klausa (a) dapat dijabarkan ke dalam diagram (b). Klausa (a) ini mengandung tiga nomina dan satu verba yang masing-masing saling ketergantungan. Ketiga nomina itu masing-masing membawakan relasi “subjek dari” (relasi-1), “objek langsung dari” (relasi-2) dan “objek tak langsung dari” (relasi-3), sedangkan verba membawakan relasi

“predikat dari” (relasi-P). Huruf c melambangkan tataran sintaksis dan angka yang menyusul huruf c tersebut dimaksudkan untuk menamai jenis tataran itu. Tataran sintaksis ini oleh TBR disebut stratum. Relasi gramatikal yang dilambangkan dengan angka 1, 2, dan 3 memiliki kedudukan khusus, ketiganya disebut suku (terms). Relasi di luar ketiga ini, yaitu benefaktif, lokatif, instrumental dan yang lain dijuluki “bukan suku” (nonterms) atau Chô (chomeur= bhs. Prancis yang berarti penganggur) atau konstituen yang kehilangan fungsi gramatikal. Dalam bahasa Indonesia disebut dengan kata keterangan. Suku memiliki fungsi gramatikal tertentu, misalnya suku berperanan di dalam penyesuaian verbal. Dalam pelesapan konstituen (nominal) yang berkoreferensi di dalam kemungkinan menjadi subjek pada konstruksi pasif.

Menurut Perlmutter (1983), salah satu keunggulan TR yang belum pernah dicanangkan pendahulunya (tata bahasa tradisional dan transformasional) adalah penemuan teoretisnya mengenai relasi chômeur.

Objek tak langsung tidak begitu memperoleh perhatian khusus di dalam TT. Hanya subjek dan objek langsung yang dijabarkan dan diberi batasan oleh Chomsky (1965). Menurut TT, objek langsung merupakan satu-satunya NP yang secara langsung diatasi oleh VP, sedangkan objek tak langsung statusnya disejajarkan dengan NP lain yang berpreposisi sebagaimana yang terlihat pada diagram pohon berikut ini.

C. Tantangan Tata Bahasa Relasional

Relasi chômeur merupakan hal yang dibangga-banggakan oleh pencetus TBR sebagai suatu penemuan baru dan mengklaim sebagai orang pertama yang menemukannya. Hal yang dibangga-banggakan oleh pencetus TBR ternyata mendapat serangan oleh tokoh linguistik lain.

Lawler, misalnya memprotes tentang chômeur ini setelah ia menerapkan TBR pada struktur klausa pada bahasa Aceh pada 1977. Hasil dari terapan tersebut tidak sesuai dengan kerangka teori TBR, khususnya berkaitan dengan verbal (verbal agreemant).

Contoh:

Kamo mipajoh bu. Bu mipajoh lekamo.

’Kami makan nasi’ ’Nasi itu kami makan’

Gitanyo tapajoh bu. Bu tapajoh legitanyo.

’Kita makan nasi’ ’Nasi itu kita makan’

Awaknyan jipajoh Bu jipajoh.

’Mereka makan’ Nasi itu mereka makan’

Bu. Leawaknyan.

’nasi’ ’makan’

Verba pada konstruksi (a) memang menunjukkan persesuaian dengan konstituen yang lazim disebut dengan subjek, akan tetapi tidak demikian halnya dengan verba pada (b). Pada (b) malahan menunjukkan persesuaian dengan yang disebut chômeur TBR. Hal ini tentunya sangat bertentangan dengan hukum penyirnaan relasi yang dikemukakan TBR. Menurut pandangan Lawler ternyata chômeur dapat memiliki peranan gramatikal (Kaswanti Purwo dalam Dardjowidjojo:113).

D. Pertanyaan

1. Tuliskan perbedaan tata bahasa Relasional (TBR) dengan jenis tata bahasa sebelumnya!

2. Tuliskan ciri-ciri TBR!

3. Tuliskan beberapa ahli yang menganut aliran TBR!

4. Tuliskan latar belakang tokoh pelopor aliran TBR!

E. Tugas dan Latihan

Buatlah sebuah tabel yang membedakan TBT dengan TBR!

F. Sumber Bacaan

1. Pengantar Linguistik oleh Prof. Dr. J.W.M. Verhaar.

2. Linguistik Suatu Pengantar oleh A. Chaedar Alwasilah.

3. Pengantar Teori Linguistik: Introduction to Theoretical Linguistics oleh John Lyons.

4. Linguistik: Teori & Terapan (1987) oleh Soenjono Dardjowidjojo.

w

Bab VII

STRUKTUR BAHASA

Setelah mempelajari materi ini diharapkan:

1. Mahasiswa dapat memahami tentang struktur bahasa.

2. Mahasiswa dapat memahami tentang substansi dan bentuk.

3. Mahasiswa dapat memahami tentang struktur statistik.

A. Pendahuluan

1. Bunyi dan Kata

Jika kita bertanya kepada seseorang yang bukan ahli bahasa dengan pertanyaan, “Apa satuan terkecil yang membentuk ujaran?” Mungkin jawaban yang diberikan adalah bunyi ujaran dan kata. Mungkin juga jawaban tersebut akan dilengkapi dengan menyatakan bahwa setiap bunyi ujaran tersebut akan dilambangkan dengan huruf atau abjad.

Mungkin juga ditambahkan lagi dengan menyatakan bahwa kata-kata yang terdapat pada ujaran tersebut mengandung makna atau pikiran pembicara, dst. Pandangan tersebut jelas lebih banyak mengarah pada pandangan tradisional mengenai bahasa. Hal ini sebagaimana yang

terdapat dalam berbagai tata bahasa dan kamus, yaitu tata bahasa lebih banyak berbicara berkaitan dengan kaidah atau aturan penyusunan kata-kata atau kalimat sementara kamus lebih banyak memberikan definisi sehubungan dengan kata.

2. Fonologi, Tata Bahasa, dan Semantik

Fonologi, tata bahasa, dan semantik adalah tiga aspek yang tidak dapat dipisahkan. Fonologi adalah ilmu yang banyak membicarakan tentang bunyi-bunyi bahasa tanpa dibedakan apakah ia sebagai pembeda arti atau tidak. Tata bahasa adalah kaidah/aturan yang berkaitan dengan bentuk kata dan cara merangkainya menjadi frasa, klausa, dan kalimat. Sementara semantik adalah ilmu yang berkaitan dengan makna atau arti kata.

3. Artikulasi Ganda atau Struktur Ganda Bahasa

Artikulasi ganda atau struktur ganda bahasa adalah kemampuan satuan kata tingkat bawah (fonem) menyatu dengan satuan tingkat atas (kata), begitu juga kata dengan kata (frasa) atau kalimat dengan kalimat (paragraf) atau paragraf dengan paragraf (wacana).

B. Struktur Perbendaharaan Kata

Perbedaan pandangan yang dikemukakan oleh kelompok naturalis dan konvensional belum berakhir, seperti pandangan yang berkaitan dengan hubungan antara bentuk dan makna (antara ungkapan dan isi).

Contohnya, kata-kata yang mengacu pada barang-barang yang sama atau makna yang sama, misalnya tree dalam bahasa Inggris, baum dalam bahasa Jerman, dan arbre dalam bahasa Prancis. Berdasarkan kenyataan tersebut lahir pandangan bahwa kosa kata suatu bahasa tertentu pada hakikatnya adalah daftar nama yang oleh konvensi dikaitkan dengan barang-barang atau makna yang tak tergantung keberadaannya.

Namun setelah mempelajari bahasa asing, barulah sadar bahwa ada makna yang dibedakan dalam suatu bahasa yang tidak demikian dalam bahasa lain. Contohnya dalam mempelajarai bahasa Inggris ada tense berkaitan dengan bentuk penandaan waktu (present tense, present continous, past tense, dan present perfect tense, dan lain-lain), tidak begitu halnya dengan bahasa Indonesia.

Maka, menurut Lyons (1995: 56) tiap-tiap bahasa memiliki struktur semantisnya sendiri. Derajat semantik isomorfisme (kesamaan struktur semantis) antara bahasa-bahasa yang berlainan sangat berbeda-beda. Namun yang jelas, struktur perbendaharaan kata suatu bahasa tertentu mencerminkan perbedaan dan padanan yang penting dalam kebudayaan masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut.

Selanjutnya, kita juga dapat memahami bahwa semua makna yang dikenali oleh suatu bahasa tertentu adalah unik bagi bahasa tersebut dan tidak berlaku dengan bahasa lain di luarnya.

C. Substansi dan Bentuk

Salah satu tokoh linguistik modern, yaitu Ferdinand de Saussure bersama pengikutnya telah mengemukakan pandangannya berkaitan dengan perbedaan struktur semantis bahasa-bahasa yang berbeda menurut substansi dan bentuk. Maksud dari bentuk perbendaharaan kata (bentuk sisi isi) adalah struktur hubungan-hubungan abstrak yang seakan-akan dikenakan pada substansi yang mendasari hal yang sama. Saussure mengartikan substansi makna sebagai kumpulan pikiran dan perasaan yang umum, tidak tergantung dari bahasa yang mereka gunakan, dan tidak dapat dipilih. Makna-makna tersebut dapat dibentuk dalam bahasa-bahasa tertentu dengan mengaitkan secara konvensional kelompok bunyi tertentu dengan bagian tertentu dari bahan konsep itu.

1. Struktur Semantik

Sejalan dengan perkembangan zaman dan kemajuan pikiran, sudah banyak pandangan yang dikemukakan oleh Saussure tidak cocok lagi. Misalnya, berkaitan dengan istilah-istilah warna yang dicarikan padanan katanya pada bahasa-bahasa tertentu. Contohnya, warna brown dalam bahasa Inggris tidak dapat dipadankan dengan brun dalam bahasa Prancis terhadap benda tertentu yang diterangkan. Hal ini disebabkan masing-masing bahasa memiliki ciri tertentu. Begitu juga dengan warna merah di Indonesia dibagi atas beberapa jenis, seperti merah pekat, merah hambar, merah pudar, sedangkan untuk daerah lain mungkin pembagiannya hanya beberapa bagian. Maka, dapat disimpulkan bahwa struktur semantis setiap sistem kata dalam perbendaharaan kata adalah jaringan hubungan semantis yang ada antara kata-kata dalam sistem yang dimaksud.

2. Bahasa sebagai Bentuk

Sebagaimana contoh yang dikemukakan Saussure tentang permainan catur untuk menerangkan fenomena bahasa, bahwa tidak ada hubungan antara bahan yang dipakai sebagai anak catur dengan sistem bermain catur. Hal penting dalam kaitan ini ialah bagaimana setiap buah catur dapat dijalankan sesuai dengan aturan/fungsi dari permainan. Dengan demikian, hubungan bentuk dan fungsi dari buah catur bersifat arbitrer (manasuka). Asalkan memiliki kesepakatan yang sama, apa pun buah catur yang digunakan, permainan dapat dilaksanakan. Jadi, dapat disimpulkan bahwa bahasa adalah bentuk bukan substansi. Maksudnya, bahasa adalah alat komunikasi, apa pun alat (bentuk) yang digunakan, asalkan dapat berfungsi sebagai alat komunikasi maka itu adalah bahasa. Oleh sebab itu, lahirlah istilah bahasa isyarat, lisan, dan tulisan.

3. Realisasi pada Substansi

Bahasa lisan lebih dahulu (tua) bila dibandingkan dengan bahasa tulis. Dengan demikian, substansi primer isi ungkapan bahasa adalah bunyi (khususnya macam-macam bunyi yang dihasilkan alat ucap manusia). Sementara bahasa tulis adalah teknik pengalihan kata dan kalimat bahasa dari substansi tempat merealisasikannya yang biasa ke substansi sekunder bentuk (tanda-tanda yang kelihatan pada kertas atau batu). Dengan kata lain, bahasa tulis adalah proses transkripsi (pengalihan) dari bentuk bunyi bahasa ke media tulis dengan menggunakan tanda-tanda yang telah berlaku pada masyarakat tersebut (kaidah tata bahasa).

Untuk membedakan bunyi bahasa dan lambangnya digunakan lambang fonetis dan fonemis, yaitu kurung siku dan garis miring.

Contohnya, bunyi [g] dan /g/. Pada dasarnya, unsur ungkapan bahasa dapat direalisasikan pada substansi jenis apa saja, asalkan kondisi berikut dipenuhi. Dua kondisi di bawah ini biasanya sudah tersedia di laboratorium bahasa.

a. Tersedianya peralatan yang cukup, seperti pengeras suara, penerima bunyi atau media TV, dan sebagainya.

b. Tersedianya alat ukur untuk mengukur kekuatan dan kelemahannya.

4. Substansi Bahasa Lisan dan Tulis

Banyak linguis mengemukakan pandangan bahwa bunyi adalah sarana yang lebih mudah bagi perkembangan bahasa daripada setiap alternatif yang tersedia. Bahasa lisan lebih banyak kemudahan bila dibandingkan bahasa tulis, yaitu a). lebih mudah ditangkap oleh indra penglihat; b). bunyi tidak tergantung pada kehadiran sumber cahaya;

dan c). bunyi tidak terhalang oleh benda-benda di hadapannya. Oleh

sebab itu, sangat cocok digunakan untuk berkomunikasi, baik siang hari maupun malam hari.

5. Sifat Arbitrer Realisasi Substansi

Kaitan antara bunyi bahasa atau huruf degan unsur ungkapan tertentu adalah soal kesepakatan yang arbitrer. Misalnya, dalam bahasa Inggris kata one diucapkan [wan]. Begitu juga perubahan kata seperti go – went – gone. Perubahan tersebut merupakan hasil kesepakatan yang arbitrer. Dalam bahasa Indonesia juga terjadi melalui proses afiksasi, seperti kata kerja dapat dibentuk menjadi mengerjakan, dikerjakan, kerjakan, dan lain-lain.

6. Prioritas Substansi Bunyi

Unsur ungkapan bahasa atau gabungannya ditentukan oleh substansi primer dan mekanisme wicara serta pendengaran. Setiap bahasa mempunyai batas-batas penggabunganya sendiri yang boleh disebut sebagai struktur fonologi bahasa yang dimaksud. Misalnya, dalam bahasa Indonesia berlaku pola berikut.

a. makan ---/ma/ /kan/ ---KV + KVK b. strategi ---/stra/ /te/ /gi/ ---KKKV + KV + KV c. kuadrat ---/kua/ /drat/ ---KVV + KKVK

Pola di atas mungkin sangat berbeda dalam bahasa Jerman dan Rusia yang sangat banyak menggunakan konsonan.

Bahasa lisan mesti diberikan prioritas atas bahasa tulis dalam teori linguistik umum. Pola-pola penggabungan yang diikuti huruf-huruf pada bahasa tulis sama sekali tak dapat diterangkan menurut bentuk hurufnya, sedangkan pada bahasa lisan pola-pola itu sekurang-kurangnya sebagian dapat diterangkan menurut sifat fisik bunyi yang sesuai dengan huruf tersebut. Misalnya, proses melahirkan bunyi vokal dan konsonan. Vokal dihasilkan dengan cara artikulator tidak banyak

mengalami hambatan bila dibandingkan saat kita melahirkan bunyi konsonan.

7. Kombinasi dan Kontras

Unsur ungkapan bahasa bila dipandang dari realisasi substansinya memiliki dua ciri fungsi, sebagai berikut.

(1) Fungsi kombinatorial, yaitu kemungkinan untuk dikombinasikannya (digabungkannya) suatu unsur ungkapan bahasa untuk membedakan kata-kata dan kalimat-kalimat.

Contohnya kombinasi beberapa kata dalam frasa dan kombinasi kalimat dalam kalimat majemuk atau paragraf dan wacana.

(2) Fungsi kontrastif atau oposisi, yaitu proses penggantian suatu unsur dengan yang lain akan berakibat berubahnya sebuah kata menjadi kata lain. Dalam bahasa Indonesia seperti pada kata {kopi} dan kata [topi]. Perbedaannya sangat kontras sebab makna kedua kata tersebut berbeda. Perbedaannya hanya disebabkan perbedaan fonem awal yang digunakan kedua kata tersebut.

8. Kekhasan Unsur Ungkapan

Sisi ungkapan suatu bahasa disusun dengan satuan-satuan yang khas. Kekhasan tersebut direalisasikan dengan batas-batas perbedaan bunyi yang di dalamnya kemungkinan adanya banyak variasi. Suatu satuan ungkapan bahasa tidak boleh dikacaukan satu dengan yang lain dalam realisasi substansinya sebagai bunyi. Harus ada batas keamanan antara batas perbedaan bunyi yang merealisasikan sebuah satuan ungkapan dan batas perbedaan bunyi yang merealisasikan yang lain. Maksudnya, kombinasi bunyi-bunyi bahasa dalam ungkapan tidak boleh seenaknya saja, tetapi harus sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa yang berlaku dalam masyarakat tersebut. Inilah yang dimaksud dengan kekhasan bahasa. Contohnya bahasa Indonesia menggunakan

hukum DM (diterangkan-menerangkan) sementara bahasa Inggris menggunakan hukum MD (menerangkan-diterangkan).

9. Kata-Kata Gramatika dan Fonologis

Kata-kata dapat dipandang sebagai satuan bentuk dan gramatikal.

Sebagai satuan bentuk, kata-kata terdiri atas bunyi-bunyi bahasa.

Sementara sebagai gramatikal, kombinasional, dan kontrastif, kata-kata dalam pembentukan tingkat yang lebih tinggi (klausa, kalimat, dan wacana) disesuaikan dengan kaidah yang berlaku. Selanjutnya, hubungan antara kata gramatikal dan realisasi substansinya pada bunyi atau bentuk adalah tidak langsung, artinya ditangani melalui tingkat fonologi.

10. Keabstrakan Teori Linguistik

Ilmu linguistik bersifat abstrak. Namun, perkembangan dan kemajuan teori yang terjadi saat ini memberikan kontribusi positif terhadap informasi perkembangan bahasa mulai abad 19 hingga hari ini. Tidak hanya sampai di sana, perkembangan teori bahasa yang terjadi menyebabkan terjadi penyempurnaan penyusunan teori bahasa, baik berkaitan dengan struktur, perolehan, dan penggunaan bahasa manusia.

D. Hubungan Paradigmatik dan Sintagmatik

D. Hubungan Paradigmatik dan Sintagmatik

Dalam dokumen BUKU PENGANTAR LINGUISTIK UMUM (Halaman 55-0)