Bab XII PROSES MORFOLOGIS DAN MORFOFONEMIK
C. Proses Morfofonemik
Proses morfofonemik adalah proses yang terjadi pada suatu morfem akibat pertemuan satu morfem dengan morfem lain. Hal ini sebagaimana yang dikemukakan Ramlan (1987: 83) bahwa morfofonemik adalah
ilmu yang mempelajari perubahan-perubahan morfem yang timbul sebagai akibat pertemuan morfem dengan morfem lain. Berikut merupakan beberapa model proses morfofonemik.
Contoh:
Morfem ber- terdiri atas tiga fonem, yaitu /b, ə, r /, jika dipertemukan dengan morfem ajar, maka fonem /r/ berubah menjadi fonem /l/
sehingga menghasilkan kata belajar bukan berajar. Dalam ini telah terjadi proses morfofonemik yang berakibat fonem /r/ berubah menjadi fonem /l/.
Proses morfofonemik terjadi pada bahasa Indonesia. Minimal ada tiga proses morfofonemik yang terjadi dalam bahasa Indonesia, yaitu (1) proses terjadinya perubahan fonem, (2) penambahan fonem, dan (3) proses penghilangan fonem (Ramlan, 1987: 83).
a. Proses Perubahan Fonem
Proses perubahan fonem adalah berubahnya suatu fonem pada morfem akibat pertemuannya dengan morfem lain.
Contoh:
• Fonem /N/ pada morfem meN- dan peN- akan berubah menjadi fonem /m/, jika bertemu dengan morfem-morfem yang diawali dengan fonem (p, b, dan f). misalnya:
meN- + pinjam = meminjam
meN- + batik = membatik meN- + buat = membuat meN- + bulat = membulat meN- + balut = membalut
meN- + beli = membeli
meN- + baku = membeku
meN- + bangun = membangun
meN- + buru = memburu
meN- + fatwakan = memfatwa meN- + fitnah = memfitnah meN- + fasihkan = memfasiknan meN- + fitrahkan = memfitrahkan peN- + batik = pembatik peN- + buat = pembuat peN- + bulat = pembulat peN- + balut = pembalut peN- + beli = pembeli peN- + baku = pembeku peN- + bangun = pembangun peN- + buru = pemburu Catatan:
Khusus morfem meN- dan peN- jika bertemu dengan morfem-morfem yang diawali dengam fonem (p, b dan f) maka morfem-morfem tersebut akan mengalami perubahan, misalnya fonem /N/
berubah menjadi /m/.
• Fonem /N/ pada morfem meN- dan peN- akan berubah menjadi fonem /n/, jika bertemu dengan morfem-morfem yang diawali dengan fonem (t, d, dan s).
Misalnya:
meN- + tata = menata
meN- + tutup = menutup meN- + telan = menelan meN- + turut = menurut meN- + teruskan = meneruskan meN- + tulis = menulis meN- + tangkap = menangkap meN- + tarik = menarik meN- + tukarkan = menukarkan meN- + tanam = menanam
peN- + tata = penata
peN- + tutup = penutup peN- + telan = penelan peN- + turut = penurut peN- + terus = penerus peN- + tulis = penulis peN- + tanam = penanam meN- + datangkan = mendatangkan meN- + dahului = mendahului meN- + dapatkan = mendapatkan meN- + darat = mendarat meN- + dekat = mendekat
peN- + datang = pendatang peN- + dahulu = pendahulu peN- + dapat = pendapat peN- + daratan = pendaratan peN- + dekatan = pendekatan meN- + survei = mensurvei meN- + sukseskan = mensukseskan meN- + supply = mensupply meN- + sinyalir = mensinyalir peN- + survei = pensurvei peN- + supply = pensupply Catatan:
Khusus fonem /s/ pada contoh di atas hanya berlaku pada morfem-morfem yang masih bertahan pada bentuk asingnya.
• Fonem /N/ pada morfem meN- dan peN- akan berubah menjadi fonem /ñ/, jika bertemu dengan morfem-morfem yang diawali dengan fonem (s, s˜,c dan j).
Misalnya:
meN- + sapu = menyapu meN- + sangkal = menyangkal meN- + sarankan = menyarankan meN- + susahkan = menyusahkan meN- + sukai = menyukai peN- + sapu = penyapu peN- + sangkal = penyangkal
peN- + saran = penyaran meN- + syukuri = mensyukuri meN- + syaratkan = mensyaratkan
meN- + cari = mencari
meN- + coba = mencoba meN- + cetak = mencetak meN- + cukur = mencukur peN- + carian = pencarian peN- + cetak = pencetak peN- + cukur = pencukur peN- + cetus = pencetus peN- + cemas = pencemas
meN- + jadi = menjadi
meN- + jumlahkan = menjumlahkan meN- + jauh = menjauh meN- + jarak = jarak meN- + jaga = menjaga meN- + jajah = menjajah peN- + jumlahan = penjumlahan peN- + jaga = penjaga peN- + jajah = penjajah peN- + jagal = penjagal
Catatan:
Untuk morfem jadi, jauh, dan jarak tidak bisa dimasuki morfem peN-.
• Fonem /N/ pada morfem meN- dan peN- akan berubah menjadi fonem /ŋ/, jika bertemu dengan morfem-morfem yang diawali dengan fonem (k, g, kh, dan h serta vokal).
Misalnya:
meN- + kurangi = mengurangi meN- + kuasai = menguasai meN- + kukuhkan = mengukuhkan meN- + keras = mengeras peN- + kurang = pengurang peN- + kuasa = penguasa peN- + kukuh = pengukuh peN- + keras = pengeras meN- + gugurkan = menggugur meN- + gelapkan = menggelapkan meN- + garis = menggaris
meN- + gaji = menggaji
peN- + gugur (an) = pengguguran peN- + gelap(an) = penggelapan peN- + garis = penggaris peN- + gaji (an) = penggajian meN- + khutbah(i) = mengkhutbahi
meN- + khayal = mengkhayal meN- + khianat(i) = mengkhianati peN- + khutbah = pengkhutbah peN- + khusus (an) = pengkhususan peN- + khayal = pengkhayal meN- + harapkan = mengharapkan meN- + hukum = menghukum meN- + hafal = menghafal meN- + hunus = menghunus peN- + harapan = pengharapan peN- + hasil(an) = penghasilan peN- + halau = penghalau
• Fonem /r/ pada morfem ber- dan per- akan berubah menjadi fonem /l/, jika bertemu dengan morfem-morfem seperti ajar.
Misalnya:
ber- + ajar = belajar per- + ajar = pelajar
• Fonem /?/ akan berubah menjadi fonem /k/, sebagai akibat pertemuan dengan morfem ke-an.
Misalnya:
ke-an + duduk/dudu?/ = kedudukan ke-an + rusak/rusa?/ = kerusakan b. Proses Penambahan Fonem
Proses penambahan fonem adalah penambahan fonem pada suatu morfem sebagai akibat pertemuan suatu morfem dengan morfem yang
lain. Biasanya fonem yang ditambahkan tersebut adalah fonem /ə/.
Dengan demikian, morfem meN- akan mengalami perubahan karena dimasukkan oleh fonem /ə/ sehingga menjadi menge- dan morfem peN- akan berubah penge-.
peN-an + bantai = pembantaian/pembantaiyan/
peN-an + temu = penemuan/penemuwan/
per-an + tikai = pertikaian/pertikaiyan/
per-an + temu = pertemuan/pertemuwan/
ke-an + pulau = kepulauan/kepulauwan/
ke-an + pandai = kepandaian/kepandaiyan/
c. Proses Penghilangan Fonem
Proses penghilangan fonem adalah hilangnya sebuah fonem akibat pertemuan sebuah morfem dengan morfem yang lain.
Contoh:
a. Hilangnya fonem /n/ pada morfem meN- dan peN- terjadi sebagai akibat pertemuan morfem meN- dan peN- dengan bentuk dasar yang berawal dengan fonem /l, r, y, w, dan nasal/.
Misalnya:
meN- + lalui = melalui
meN- + lelah (kan) = melelahkan
meN- + lerai = melerai meN- + rumuskan = merumuskan
meN- + ramal = meramal
meN- + yakinkan = meyakinkan meN- + warnai = mewarnai meN- + wahyukan = mewahyukan peN- + lerai = pelerai
peN- + lupa = pelupa
peN- + ramal = peramal
peN- + rusak = perusak
peN- + waris = pewaris
peN- + warna = pewarna
peN- + nyanyi = penyanyi
peN- + merah = pemerah
peN- + malas = pemalas
b. Hilangnya fonem /r/ pada morfem ber-, per-, dan ter- hilang akibat pertemuan morfem tersebut dengan bentuk dasar yang berawal dengan fonem /r/ dan bentuk dasar yang suku pertamanya berakhir dengan /ə r/.
Misalnya:
ber- + rapat = berapat ber- + rantai = berantai ber- + kerja = bekerja ber- + serta = beserta per- + ragakan = peragakan per- + ramping = peramping
ter- + rasa = terasa ter- + rekam = terekam ter- + perdaya = teperdaya
c. Fonem-fonem /p, t, s, k/ pada awal morfem hilang akibat pertemuan morfem meN- dan peN- dengan bentuk dasar yang berawal dengan fonem-fonem itu.
Misalnya:
meN- + paksa = memaksa meN- + tulis = menulis meN- + sapu = menyapu meN- + karang = mengarang peN- + paksa = pemaksa peN- + tulis = penulis peN- + sapu = penyapu peN- + karang = pengarang Catatan:
Pada kata memperagakan dan mentertawakan fonem /p/ dan /t/ tidak hilang sebab kedua fonem tersebut merupakan fonem awal dari bentuk dasar kata tersebut. Bentuk dasar kata memperagakan adalah raga yang mendapat morfem mem-pe-kan. Disebabkan ketiga morfem tersebut adalah morfem dasar, maka tidak berubah. Begitu juga dengan kata mentertawakan yang memiliki bentuk dasar tawa dan mendapat morfem men-ter-kan. Begitu juga pada kata menerjemahkan, mensupply, mengkoordinir, penterjemah, dan pensurvei yang asal katanya diadopsi dari bahasa asing, maka fonem /t, s, p/ tidak hilang.
Berdasarkan beberapa penjelasan tersebut, dapat disimpulkan beberapa hal berkaitan dengan proses morfofonemik, sebagai berikut.
(1) Afiks meN-a. meN- → mem
Bila diikuti bentuk dasar berawal dengan fonem /p b, f/. Fonem /p/ hilang, kecuali pada beberapa bentuk dasar yang berasal dari kata asing yang masih mempertahankan keasingannya dan pada bentuk dasar yang berprefiks, yaitu prefiks per-.
Misalnya:
Bila diikuti bentuk dasar yang berawal dengan fonem /y, r, l, w, nasal/. Misalnya:
Bila diikuti bentuk dasar yang terdiri dari satu suku kata.
Misalnya:
meN- + bom = mengebom
meN- + cat = mengecat
meN- + bor = mengebor
meN- + las = mengelas
(2) Afiks peN-a. peN- →
pen-Bila diikuti bentuk dasar yang berawal dengan fonem /t, d, s/. Fonem /t/ hilang. Kecuali pada beberapa bentuk dasar yang berasal dari kata asing yang masih mempertahankan keasingannya, dan fonem /s/ hanya berlaku bagi beberapa bentuk dasar yang berasal dari kata asing yang masih
pe,-Bila diikuti bentuk dasar yang berawal dengan fonem /p, b, f/.
Fonem /p/ hilang.
Bila diikuti bentuk dasar yang berawal dengan fonem /s, c, j/.
Fonem /s/ hilang.
d. peN- →
peng-Bila diikuti bentuk dasar yang berawal dengan fonem /k, g, kh, vokal/. Fonem /k/ hilang.
Misalnya:
pe-Bila diikuti bentuk dasar yang berawal dengan fonem /r, l, w, nasal/.
penge-Bila diikuti bentuk dasar yang terdiri satu suku kata.
Misalnya:
peN- + bom = pengebom
peN- + bor = pengebor
peN- + cat = pengecat
peN- + las = pengelas
(3) Afiks ber-a. ber- →
be-Bila diikuti bentuk dasar yang berawal dengan fonem /r/ dan beberapa bentuk dasar yang suku pertamanya berakhir dengan /ər/.
Bila diikuti bentuk dasar ajar.
Misalnya:
ber- + ajar = belajar c. →
ber-Bila diikuti bentuk dasar selain yang tersebut di atas, yaitu bentuk dasar yang tidak berawal dengan fonem /r/,bentuk dasar yang suku pertamanya tidak berakhir dengan /ər/ serta bentuk dasar yang bukan morfem ajar.
Misalnya:
Bila diikuti bentuk dasar yang berawal dengan fonem /r/.
Misalnya:
per- + ringan = peringan
per- + rendah = perendah per- + ragakan = peragakan b. per- →
pel-Bila diikuti bentuk dasar yang berupa morfem ajar.
Misalnya:
per- + ajar = pelajar c. →
per-Bila diikuti bentuk dasar yang tidak berawal dengan fonem /r/
dan bentuk dasar yang bukan morfem ajar.
Misalnya:
per- + kaya = perkaya per- + teguh = perteguh per- + satukan = persatukan
D. Pertanyaan
1. Apakah yang dimaksud dengan proses morfologis?
2. Jelaskan yang dimaksud dengan proses pemajemukan!
3. Jelaskan ciri-ciri kata majemuk!
4. Jelaskan beda kata majemuk dengan frasa!
5. Jelaskan yang dimaksud dengan morfem unik!
E. Tugas dan Latihan
1. Buatlah sebuah tabel, kemudian masukkan kata-kata berikut ke dalam kelompok frasa/klausa dan kelompok kata majemuk!
2. Guntinglah sebuah paragraf dalam surat kabar yang di dalamnya memuat kata majemuk dengan salah satu unsurnya terdiri morfem unik! Garis bawahilah dengan pena morfem uniknya dan tempelkan kliping koran tersebut pada selembar kertas folio!
F. Sumber Bacaan
1. Linguistik Suatu Pengantar oleh A Chaedar Alwasilah.
2. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia oleh Hasan Alwi.
3. Morfologi: Suatu Tinjauan Deskriptif oleh M. Ramlan.
4. Morfofonemik Bahasa Indonesia oleh Sudarno.
5. Pengantar Linguistik oleh J.W.M Verhaar.
6. Kamus Besar Bahasa Indonesia oleh Anton M Moeliono (Editor).
DAFTAR PUSTAKA
Alisyahbana, Sutan Takdir. 1983. Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia.
Jakarta: Dian Rakyat.
Alwasilah, A. Chaedar. 1993. Linguistik Suatu Pengantar. Bandung:
Angkasa.
Alwi, Hasan et al.1993.Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta:
Balai Pustaka.
Dardjowidjojo, Soenjono (Ed). 1987. Linguistik: Teori & Terapan.
Jakarta: Lembaga Bahasa Atma Jaya.
Keraf, Gorys. 1984. Tata Bahasa Indonesia. Flores: Nusa Indah.
Kridalaksana, Harimurti. 1999. Kelas Kata dalam Bahasa Indonesia.
Jakarta: PT. Gramedia.
Lyons, John. 1995. Introduction to Theoretical Linguistics. Terj. I Sutikno. Pengantar Teori Linguistik. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Marsono. 1999. Fonetik. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Moeliono, Anton M. 1988. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta:
Balai Pustaka.
Parera, Daniel. 1978. Pengantar Linguistik Umum Bidang Sintaksis Seri C. Penerbit Nusa Indah
Ramlan, M. 1983. Morfologi Suatu Tinjauan Diskriptif. Yogyakarta:
CV. Karyono
_________. 1987. Ilmu Bahasa Indonesia: Sintaksis. Yogyakarta: C.V.
Karyono.
_________. 1987. Sintaksis. Yogyakarta: C.V. Karyono.
_________. 1993. Paragraf, Alur Pikir dan Kepaduannya dalam Berbahasa Indonesia. Yogyakarta: UNY
Sudarjanto. 1974. Fonetik Ilmu Bunyi yang Penyelidikannya dari Sudut Parole. Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada.
Sudarno. 1990. Morfofonemik Bahasa Indonesia. Arikha Media Cipta.
Verhaar, J.W.M. 1982. Pengantar Linguistik. Yogyakarta: UGM Press.
Yasin, Sulchan. 1988. Tinjauan Deskriptif Seputar Morfologi. Surabaya:
Usaha Nasional.
INDEKS
de Saussure, Ferdinand 69
diakronik 17
K
Sutan Takdir Alisyahbana 84 V
BIOGRAFI PENULIS
Drs. Suhardi, M.Pd. lahir di Padang pada tanggal 15 Agustus 1965. Lulus Sarjana (S.1) dari Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Bung Hatta Padang (1992).
Selanjutnya melanjutkan studi S.2 ke Universitas Negeri Padang meraih gelar Magister Pendidikan Bahasa Indonesia tahun 2001. Saat ini, ia menjadi dosen tetap Yayasan Pendidikan Provinsi Kepulauan Riau di Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) Tanjungpinang.
Pengalaman mengajar antara lain sebagai dosen Luar Biasa Universitas Mahaputra Muhammad Yamin, S.H., Solok (1992–1998);
dosen luar biasa IAIN Imam Bonjol Padang (1998–2004); dosen penuh waktu Politeknik Batam (2004–2007); dan dosen tetap di Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) Tanjungpinang(2007–sekarang).
Penulis juga pernah menjadi anggota tim peneliti Pusat Penelitian Islam Minangkabau Sumatera Barat sejak tahun 2004. Anggota Peneliti
Lembaga Penelitian IAIN Imam Bonjol Padang(sejak 2004), Konsultan Monitoring dan Evaluasi (Monev) di DinasPendidikan Provinsi Kepulauan Riau (2006-)2007), sejak tahun2009 menjadi Ketua Lembaga Penjaminan Mutu Akademik (LPMA) UMRAH, dan Ketua TIM Pengembang Kurikulum Dinas Pendidikan Provinsi Kepulauan Riau (2012 sampai sekarang). Ia pun kerap menjadi dewan juri lomba penulisan dan baca cerpenserta puisi tingkat SD, SMP, dan SMA di Dinas Pendidikan ProvinsiKepulauan Riau. Sebagai akademisi, Suhardi telah berhasil merampungkan buku pertamanya berjudul, Sastra Kita, Kritik, dan Lokalitas yang diterbitkan PT Komodo Jakarta. Ia juga aktif menulis sejumlah modul mata kuliah bahasa dan sastra Indonesia, yaitu Pengantar Linguistik, Pengantar Teori Sastra, Pengantar Morfologi Bahasa Indonesia, Pengantar Semantik, dan Dasar-Dasar Sintaksis Bahasa Indonesia. Selain itu, sejumlah tulisannya tersebar di berbagai surat kabar seperti Harian Umum Padang Expres, Singgalang, Haluan, Mimbar Minang, Sijori Mandiri/Haluan Kepri,dan Batam Pos.