Bab X STRUKTUR GRAMATIKAL
D. Konstruksi Endosentris dan Eksosentris
Konstruksi endosentris dibagi menjadi dua jenis, sebagai berikut.
1. Konstruksi endosentris koordinatif
Konstruksi endosentris koordinatif adalah konstruksi endosentris yang masing-masing memiliki konstituen yang sama atau kedua unsurnya merupakan unsur inti.
Contoh: berilmu lagi beriman putih dan bersih
2. Konstruksi endosentris subordinatif (memiliki unsur bawahan) Konstruksi endosentris subordinatif adalah konstruksi endosentris yang salah satu konstruksinya sama dengan salah konstituennya atau salah satu unsurnya merupakan unsur inti, sedangkan yang lain merupakan atribut.
Contoh:
sepatah kata = ( A + N) atau FN + Adv. (F.Adv.) saban bulan = ( A + N) atau FN + Adv. (F.Adv.) berbagai ragam = ( A + N) atau FN + Adv. (F.Adv.)
Sementara konstruksi eksosentris adalah konstituen yang tidak mengikuti atau berdistribusi sama dengan unsur pembentuknya.
Contoh:
di meja tentang linguistik menjelang siang
E. Pertanyaan
1. Jelaskan yang dimaksud dengan konstituen langsung!
2. Tuliskan sebuah contoh dalam bahasa Indonesia berkaitan dengan tata bahasa struktur-frasa!
3. Tuliskan yang sebuah model tata bahasa kategorial!
4. Tuliskan perbedaan beserta contoh tentang konstruksi endosentris dan eksosentris!
F. Tugas dan Latihan
Tuliskan sebuah contoh perbedaan analisis kategorial dan penjabaran!
G. Sumber Bacaan
1. Ilmu Bahasa Indonesia: Sintaksis oleh M. Ramlan.
2. Pengantar Linguistik Umum Bidang Sintaksis Seri C oleh Daniel Parera.
3. Pengantar Teori Linguistik: Introduction to Theoretical Linguistics oleh John Lyons.
4. Pengantar Linguistik oleh Prof. Dr. J.W.M. Verhaar.
w
Bab XI
KATEGORIAL GRAMATIKAL
Setelah mempelajari materi ini diharapkan:
1. Mahasiswa dapat memahami tentang deiksis.
2. Mahasiswa dapat memahami tentang kasus.
3. Mahasiswa dapat memahami tentang kala, modus, dan aspek.
4. Mahasiswa dapat memahami tentang kelas kata.
A. Deiksis
Kata deiksis berasal dari bahasa Yunani yang mengandung arti menunjuk atau menunjukkan, yaitu menunjukkan pada waktu dan tempat pembicaraan (Lyons, 1995: 270). Dengan kata lain, deiksis adalah ilmu bahasa yang membicarakan tentang tempat dan waktu terjadinya suatu pembicaraan. Menurut Alwi (1998: 42), deiksis sebagai gejala semantis yang terdapat pada kata atau konstruksi yang hanya dapat ditafsirkan acuannya dengan memperhitungkan situasi pembicaraan.
Contoh:
1. Mengacu pada waktu:
a. Kita harus berangkat sekarang.
b. Harga barang naik semua.
c. Sekarang pemalsuan barang terjadi di mana-mana.
2. Mengacu pada tempat:
a. Duduklah kamu di sini!
b. Di sini dijual gas elpiji.
c. (Jakarta sangat padat dengan mobil). Di sini manusia harus hidup dengan prinsip selaras, serasi, dan seimbang.
B. Kala, Modus, dan Aspek
1. Kala (tense)
Kata kala berasal dari bahasa Latin Yunani, yaitu dari kata khronos (Yunani) atau tempos (Latin) yang berarti waktu (time). Istilah kala ini dikembangkan oleh Tata Bahasa Tradisional Yunani yang melahirkan 3 bentuk kala, yaitu past (lampau), present (sekarang) dan future (akan datang).
Contoh:
I went to Jakarta.
Ani singing a song the title my heart.
We will learn English.
2. Modus
Modus adalah pernyataan yang berkaitan dengan fakta yang diungkapkan pembicara dengan mengabaikan sikap dari si pembicara tersebut.
Contoh:
Saya marah kepada kamu karena sikapmu yang kurang baik.
(faktanya adalah sikap lawan bicara yang tidak baik bukan sikap pembicara yang pemarah).
3. Aspek (keterangan)
Kata aspek adalah keterangan yang menyatu pada kala dan modus.
Contoh:
I have just seen him.
He said he was reading.
C. Kelas Kata
Kridalaksana (1990: 49-119) membagi kelas kata atas 14 jenis, yaitu (1) kelas verba; (2) kelas nomina; (3) kelas ajektiva; (4) kelas nomina; (5) kelas pronomina; (6) kelas numeralia; (7) kelas adverbia;
(8) kelas interogatif; (9) kelas demonstratif; (10) kelas articula; (11) kelas preposisi; (12) kelas konjungsi; (13) kelas kategori fatis; dan (14) kelas interjeksi. Sementara Chaer (1998: 86–194) membagi kelas kata menjadi 15 jenis, yaitu (1) kelas benda; (2) kelas ganti; (3) kelas kerja;
(4) kelas sifat; (5) kelas sapaan; (6) kelas penunjuk; (7) kelas bilangan;
(8) kelas penyangkal; (9) kelas depan; (10) kelas penghubung; (11) kelas keterangan; (12) kelas tanya; (13) kelas seru; (14). kelas sandang;
(15) kelas penegas.
D. Pertanyaan
1. Jelaskan yang diaksud deiksis!
2. Jelaskan yang dimaksud kala, modus dan aspek!
3. Tuliskan masing-masing satu contoh berkaitan dengan kala-modus-aspek!
4. Tuliskan jenis-jenis kelas kata!
E. Tugas dan Latihan
Tuliskan 3 buah kalimat kemudian jelaskan jenis kelas kata yang membangun kalimat tersebut!
F. Sumber Bacaan
1. Pengantar Teori Linguistik: Introduction to Theoretical Linguistics oleh John Lyons.
2. Kelas Kata dalam Bahasa Indonesia oleh Harimukti Kridalaksana.
3. Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia oleh Abdul Chaer.
4. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia oleh Hasan Alwi.
Bab XII
PROSES MORFOLOGIS DAN MORFOFONEMIK
Setelah mempelajari materi ini diharapkan:
1. Mahasiswa dapat memahami tentang definisi proses morfologis.
2. Mahasiswa dapat memahami tentang proses pemajemukan.
3. Mahasiswa mampu memahami tentang kata majemuk dan cirinya.
4. Mahasiswa mampu memahami tentang kata majemuk dan morfem unik.
A. Proses Morfologis
Proses morfologis adalah proses pembentukan kata-kata baru dengan cara menambahkan unsur lain. Hal ini sebagaimana yang dikemukakan Ramlan (1987: 51) bahwa proses morfologis adalah proses pembentukan kata-kata dari satuan lain yang merupakan bentuk dasar. Bentuk dasarnya itu mungkin pada kata dasar, pokok kata, frasa, kata dan kata, kata dan pokok kata atau pokok kata dengan pokok kata.
a. Pembentukan pada kata dasar Contoh:
(1) Kata tertidur dibentuk dari kata dasar tidur.
(2) Kata berduka dibentuk dari kata duka.
(3) Kata memakan dibentuk dari kata makan.
b. Pokok kata Contoh:
(1) Kata berjuang dibentuk dari pokok kata juang.
(2) Kata bertemu dibentuk dari pokok kata temu.
(3) Kata bersandar dibentuk dari pokok kata sandar.
(4) Kata mengalir dibentuk dari pokok kata alir.
c. Frasa (kelompok kata) Contoh:
(1) Kata ketidakadilan dibentuk dari frasa tidak adil.
(2) Kata ketidakmampuan dibentuk dari frasa tidak mampu.
(3) Kata ketulusan hati dibentuk dari frasa tulis hati.
(4) Kata ketidakjujuran dibentuk dari frasa tidak jujur.
d. Kata dan kata Contoh:
(1) Kata rumah makan dibentuk dari kata rumah dan kata makan.
(2) Kata rumah sakit dibentuk dari kata rumah dan kata sakit.
(3) Kata meja makan dibentuk dari kata meja dan kata makan.
(4) Kata sapu tangan dibentuk dari kata sapu dan kata tangan.
e. Kata dan pokok kata
Pokok kata adalah satuan gramatik yang tidak dapat berdiri sendiri dalam tuturan biasa dan secara gramatikal tidak memiliki sifat bebas yang dapat dijadikan bentuk dasar menjadi sesuatu kata (Ramlan, 1993: 78). Contoh: juang, temu, alir, lomba, tempur, tahan, renang, jual, beli, kerja, dsb.
Contoh:
(1) Kata pasukan tempur dibentuk dari kata pasukan dan pokok kata tempur.
(2) Kata kolam renang dibentuk dari kata kolam dan pokok kata renang.
(3) Kata seni tari dibentuk dari kata seni dan pokok kata tari.
(4) Kata harga beli dibentuk dari kata harga dan pokok kata beli.
f. Pokok kata dan pokok kata Contoh:
(1) Kata jual beli dibentuk dari pokok kata jual dan pokok kata beli.
(2) Kata lomba tari dibentuk dari pokok kata lomba dan pokok kata tari.
(3) Kata temu juang dibentuk dari pokok kata temu dan pokok kata juang.
(4) Kata simpan pinjam dibentuk dari pokok kata simpan dan pokok kata pinjam.
B. Kata Majemuk
1. Proses Pemajemukan
Proses pemajemukan adalah proses pembentukan kata-kata menjadi kata majemuk. Ramlan menyatakan bahwa setiap gabungan dengan pokok kata merupakan kata majemuk (1993: 79).
1. Gabungan kata dan pokok kata Contoh:
(g) lomba lari (h) kamar kerja (i) jam kerja (j) waktu kerja (k) tenaga kerja (l) masa kerja
2. Gabungan pokok kata dan pokok kata Contoh:
(a) terima kasih (b) lomba lari (c) lomba masak (d) lomba lawak (e) lomba tembak (f) lomba nyanyi (g) lomba renang (h) lomba rias (i) jual beli
(j) tanggung jawab (k) tanya jawab (l) simpan pinjam
2. Kata Majemuk dan Ciri-Cirinya 1) Terdiri dari dua kata atau lebih.
Contoh:
(a) sapu tangan (b) meja makan (c) rumah sakit, dsb.
2) Di antara kata tersebut tidak dapat diselipkan kata lain.
Contoh:
Kata rumah sakit dan adik sakit.
Kata adik sakit di antaranya dapat disisipi kata penunjuk itu, kata hubung yang dan kata nomina gigi. Dengan demikian, dapat disusun kalimat sebagai berikut.
(a) Adik itu sakit.
(b) Adik yang sakit.
(c) Adik sakit gigi.
Berbeda halnya dengan kata rumah sakit. Tidak mungkin di antaranya disisipi kata lain. Maka, tidak mungkin:
(a) Rumah itu sakit.
(b) Rumah yang sakit.
(c) Rumah sakit gigi.
Kata yang tidak dapat di antaranya disisipi kata lain disebut kata majemuk sementara bila dapat disisipi jenis kata lain, maka termasuk klausa. Dengan demikian, kata rumah sakit adalah kata majemuk sementara adik sakit adalah klausa. Ramlan (1993:78–79) merumuskan ciri-ciri kata majemuk, sebagai berikut.
a. Salah satu atau semua unsurnya berupa pokok kata.
b. Unsur-unsur/strukturnya tidak mungkin dipisahkan atau diubah.
Contoh dari kata majemuk ialah mata gelap, orangtua, kamar gelap, kedutaan besar, orang besar, rakyat kecil, kamar kecil, baju dalam, ruang makan, kamar makan, meja makan, kursi makan, lemari makan, kapal terbang, kapal laut, mata pelajaran, mata pencaharian, mata kaki, mata pisau, mata telinga, telur mata sapi, bola lampu, buah baju, mata hari, anak timbangan, daun pintu, daun telinga, bola keranjang, mata uang, anak kunci, pejabat tinggi, dsb. (Ramlan, 1993: 81).
3. Kata Majemuk dengan Unsur Morfem Unik
Morfem unik adalah morfem yang hanya mampu melekat/
berkombinasi dengan satu satuan tertentu.
Contoh:
a. Simpang siur
Kata simpang tidak merupakan morfem unik sebab dapat dibentuk menjadi persimpangan, menyimpang, atau simpang empat. Sementara kata siur tidak demikian. Kata siur hanya bisa berkombinasi dengan kata simpang sehingga menjadi simpang siur.
b. Sunyi senyap
Kata sunyi tidak merupakan morfem unik sebab dapat dibentuk menjadi kesunyian, bersunyi-sunyi atau di kesunyian. Sementara kata senyap tidak demikian. Kata senyap hanya bisa berkombinasi dengan kata sunyi sehingga menjadi sunyi senyap.
c. Gelap gulita
Kata gelap tidak merupakan morfem unik sebab dapat dibentuk menjadi kegelapan atau menggelapkan. Sementara kata gulita tidak demikian. Kata gulita hanya bisa berkombinasi dengan kata gelap sehingga menjadi gelap gulita.
d. Terang benderang
Kata terang tidak merupakan morfem unik sebab dapat dibentuk menjadi menerangkan, diterangkan, atau keterangan. Sementara kata benderang tidak demikian. Kata benderang hanya bisa berkombinasi dengan kata terang sehingga menjadi terang benderang.
C. Proses Morfofonemik
Proses morfofonemik adalah proses yang terjadi pada suatu morfem akibat pertemuan satu morfem dengan morfem lain. Hal ini sebagaimana yang dikemukakan Ramlan (1987: 83) bahwa morfofonemik adalah
ilmu yang mempelajari perubahan-perubahan morfem yang timbul sebagai akibat pertemuan morfem dengan morfem lain. Berikut merupakan beberapa model proses morfofonemik.
Contoh:
Morfem ber- terdiri atas tiga fonem, yaitu /b, ə, r /, jika dipertemukan dengan morfem ajar, maka fonem /r/ berubah menjadi fonem /l/
sehingga menghasilkan kata belajar bukan berajar. Dalam ini telah terjadi proses morfofonemik yang berakibat fonem /r/ berubah menjadi fonem /l/.
Proses morfofonemik terjadi pada bahasa Indonesia. Minimal ada tiga proses morfofonemik yang terjadi dalam bahasa Indonesia, yaitu (1) proses terjadinya perubahan fonem, (2) penambahan fonem, dan (3) proses penghilangan fonem (Ramlan, 1987: 83).
a. Proses Perubahan Fonem
Proses perubahan fonem adalah berubahnya suatu fonem pada morfem akibat pertemuannya dengan morfem lain.
Contoh:
• Fonem /N/ pada morfem meN- dan peN- akan berubah menjadi fonem /m/, jika bertemu dengan morfem-morfem yang diawali dengan fonem (p, b, dan f). misalnya:
meN- + pinjam = meminjam
meN- + batik = membatik meN- + buat = membuat meN- + bulat = membulat meN- + balut = membalut
meN- + beli = membeli
meN- + baku = membeku
meN- + bangun = membangun
meN- + buru = memburu
meN- + fatwakan = memfatwa meN- + fitnah = memfitnah meN- + fasihkan = memfasiknan meN- + fitrahkan = memfitrahkan peN- + batik = pembatik peN- + buat = pembuat peN- + bulat = pembulat peN- + balut = pembalut peN- + beli = pembeli peN- + baku = pembeku peN- + bangun = pembangun peN- + buru = pemburu Catatan:
Khusus morfem meN- dan peN- jika bertemu dengan morfem-morfem yang diawali dengam fonem (p, b dan f) maka morfem-morfem tersebut akan mengalami perubahan, misalnya fonem /N/
berubah menjadi /m/.
• Fonem /N/ pada morfem meN- dan peN- akan berubah menjadi fonem /n/, jika bertemu dengan morfem-morfem yang diawali dengan fonem (t, d, dan s).
Misalnya:
meN- + tata = menata
meN- + tutup = menutup meN- + telan = menelan meN- + turut = menurut meN- + teruskan = meneruskan meN- + tulis = menulis meN- + tangkap = menangkap meN- + tarik = menarik meN- + tukarkan = menukarkan meN- + tanam = menanam
peN- + tata = penata
peN- + tutup = penutup peN- + telan = penelan peN- + turut = penurut peN- + terus = penerus peN- + tulis = penulis peN- + tanam = penanam meN- + datangkan = mendatangkan meN- + dahului = mendahului meN- + dapatkan = mendapatkan meN- + darat = mendarat meN- + dekat = mendekat
peN- + datang = pendatang peN- + dahulu = pendahulu peN- + dapat = pendapat peN- + daratan = pendaratan peN- + dekatan = pendekatan meN- + survei = mensurvei meN- + sukseskan = mensukseskan meN- + supply = mensupply meN- + sinyalir = mensinyalir peN- + survei = pensurvei peN- + supply = pensupply Catatan:
Khusus fonem /s/ pada contoh di atas hanya berlaku pada morfem-morfem yang masih bertahan pada bentuk asingnya.
• Fonem /N/ pada morfem meN- dan peN- akan berubah menjadi fonem /ñ/, jika bertemu dengan morfem-morfem yang diawali dengan fonem (s, s˜,c dan j).
Misalnya:
meN- + sapu = menyapu meN- + sangkal = menyangkal meN- + sarankan = menyarankan meN- + susahkan = menyusahkan meN- + sukai = menyukai peN- + sapu = penyapu peN- + sangkal = penyangkal
peN- + saran = penyaran meN- + syukuri = mensyukuri meN- + syaratkan = mensyaratkan
meN- + cari = mencari
meN- + coba = mencoba meN- + cetak = mencetak meN- + cukur = mencukur peN- + carian = pencarian peN- + cetak = pencetak peN- + cukur = pencukur peN- + cetus = pencetus peN- + cemas = pencemas
meN- + jadi = menjadi
meN- + jumlahkan = menjumlahkan meN- + jauh = menjauh meN- + jarak = jarak meN- + jaga = menjaga meN- + jajah = menjajah peN- + jumlahan = penjumlahan peN- + jaga = penjaga peN- + jajah = penjajah peN- + jagal = penjagal
Catatan:
Untuk morfem jadi, jauh, dan jarak tidak bisa dimasuki morfem peN-.
• Fonem /N/ pada morfem meN- dan peN- akan berubah menjadi fonem /ŋ/, jika bertemu dengan morfem-morfem yang diawali dengan fonem (k, g, kh, dan h serta vokal).
Misalnya:
meN- + kurangi = mengurangi meN- + kuasai = menguasai meN- + kukuhkan = mengukuhkan meN- + keras = mengeras peN- + kurang = pengurang peN- + kuasa = penguasa peN- + kukuh = pengukuh peN- + keras = pengeras meN- + gugurkan = menggugur meN- + gelapkan = menggelapkan meN- + garis = menggaris
meN- + gaji = menggaji
peN- + gugur (an) = pengguguran peN- + gelap(an) = penggelapan peN- + garis = penggaris peN- + gaji (an) = penggajian meN- + khutbah(i) = mengkhutbahi
meN- + khayal = mengkhayal meN- + khianat(i) = mengkhianati peN- + khutbah = pengkhutbah peN- + khusus (an) = pengkhususan peN- + khayal = pengkhayal meN- + harapkan = mengharapkan meN- + hukum = menghukum meN- + hafal = menghafal meN- + hunus = menghunus peN- + harapan = pengharapan peN- + hasil(an) = penghasilan peN- + halau = penghalau
• Fonem /r/ pada morfem ber- dan per- akan berubah menjadi fonem /l/, jika bertemu dengan morfem-morfem seperti ajar.
Misalnya:
ber- + ajar = belajar per- + ajar = pelajar
• Fonem /?/ akan berubah menjadi fonem /k/, sebagai akibat pertemuan dengan morfem ke-an.
Misalnya:
ke-an + duduk/dudu?/ = kedudukan ke-an + rusak/rusa?/ = kerusakan b. Proses Penambahan Fonem
Proses penambahan fonem adalah penambahan fonem pada suatu morfem sebagai akibat pertemuan suatu morfem dengan morfem yang
lain. Biasanya fonem yang ditambahkan tersebut adalah fonem /ə/.
Dengan demikian, morfem meN- akan mengalami perubahan karena dimasukkan oleh fonem /ə/ sehingga menjadi menge- dan morfem peN- akan berubah penge-.
peN-an + bantai = pembantaian/pembantaiyan/
peN-an + temu = penemuan/penemuwan/
per-an + tikai = pertikaian/pertikaiyan/
per-an + temu = pertemuan/pertemuwan/
ke-an + pulau = kepulauan/kepulauwan/
ke-an + pandai = kepandaian/kepandaiyan/
c. Proses Penghilangan Fonem
Proses penghilangan fonem adalah hilangnya sebuah fonem akibat pertemuan sebuah morfem dengan morfem yang lain.
Contoh:
a. Hilangnya fonem /n/ pada morfem meN- dan peN- terjadi sebagai akibat pertemuan morfem meN- dan peN- dengan bentuk dasar yang berawal dengan fonem /l, r, y, w, dan nasal/.
Misalnya:
meN- + lalui = melalui
meN- + lelah (kan) = melelahkan
meN- + lerai = melerai meN- + rumuskan = merumuskan
meN- + ramal = meramal
meN- + yakinkan = meyakinkan meN- + warnai = mewarnai meN- + wahyukan = mewahyukan peN- + lerai = pelerai
peN- + lupa = pelupa
peN- + ramal = peramal
peN- + rusak = perusak
peN- + waris = pewaris
peN- + warna = pewarna
peN- + nyanyi = penyanyi
peN- + merah = pemerah
peN- + malas = pemalas
b. Hilangnya fonem /r/ pada morfem ber-, per-, dan ter- hilang akibat pertemuan morfem tersebut dengan bentuk dasar yang berawal dengan fonem /r/ dan bentuk dasar yang suku pertamanya berakhir dengan /ə r/.
Misalnya:
ber- + rapat = berapat ber- + rantai = berantai ber- + kerja = bekerja ber- + serta = beserta per- + ragakan = peragakan per- + ramping = peramping
ter- + rasa = terasa ter- + rekam = terekam ter- + perdaya = teperdaya
c. Fonem-fonem /p, t, s, k/ pada awal morfem hilang akibat pertemuan morfem meN- dan peN- dengan bentuk dasar yang berawal dengan fonem-fonem itu.
Misalnya:
meN- + paksa = memaksa meN- + tulis = menulis meN- + sapu = menyapu meN- + karang = mengarang peN- + paksa = pemaksa peN- + tulis = penulis peN- + sapu = penyapu peN- + karang = pengarang Catatan:
Pada kata memperagakan dan mentertawakan fonem /p/ dan /t/ tidak hilang sebab kedua fonem tersebut merupakan fonem awal dari bentuk dasar kata tersebut. Bentuk dasar kata memperagakan adalah raga yang mendapat morfem mem-pe-kan. Disebabkan ketiga morfem tersebut adalah morfem dasar, maka tidak berubah. Begitu juga dengan kata mentertawakan yang memiliki bentuk dasar tawa dan mendapat morfem men-ter-kan. Begitu juga pada kata menerjemahkan, mensupply, mengkoordinir, penterjemah, dan pensurvei yang asal katanya diadopsi dari bahasa asing, maka fonem /t, s, p/ tidak hilang.
Berdasarkan beberapa penjelasan tersebut, dapat disimpulkan beberapa hal berkaitan dengan proses morfofonemik, sebagai berikut.
(1) Afiks meN-a. meN- → mem
Bila diikuti bentuk dasar berawal dengan fonem /p b, f/. Fonem /p/ hilang, kecuali pada beberapa bentuk dasar yang berasal dari kata asing yang masih mempertahankan keasingannya dan pada bentuk dasar yang berprefiks, yaitu prefiks per-.
Misalnya:
Bila diikuti bentuk dasar yang berawal dengan fonem /y, r, l, w, nasal/. Misalnya:
Bila diikuti bentuk dasar yang terdiri dari satu suku kata.
Misalnya:
meN- + bom = mengebom
meN- + cat = mengecat
meN- + bor = mengebor
meN- + las = mengelas
(2) Afiks peN-a. peN- →
pen-Bila diikuti bentuk dasar yang berawal dengan fonem /t, d, s/. Fonem /t/ hilang. Kecuali pada beberapa bentuk dasar yang berasal dari kata asing yang masih mempertahankan keasingannya, dan fonem /s/ hanya berlaku bagi beberapa bentuk dasar yang berasal dari kata asing yang masih
pe,-Bila diikuti bentuk dasar yang berawal dengan fonem /p, b, f/.
Fonem /p/ hilang.
Bila diikuti bentuk dasar yang berawal dengan fonem /s, c, j/.
Fonem /s/ hilang.
d. peN- →
peng-Bila diikuti bentuk dasar yang berawal dengan fonem /k, g, kh, vokal/. Fonem /k/ hilang.
Misalnya:
pe-Bila diikuti bentuk dasar yang berawal dengan fonem /r, l, w, nasal/.
penge-Bila diikuti bentuk dasar yang terdiri satu suku kata.
Misalnya:
peN- + bom = pengebom
peN- + bor = pengebor
peN- + cat = pengecat
peN- + las = pengelas
(3) Afiks ber-a. ber- →
be-Bila diikuti bentuk dasar yang berawal dengan fonem /r/ dan beberapa bentuk dasar yang suku pertamanya berakhir dengan /ər/.
Bila diikuti bentuk dasar ajar.
Misalnya:
ber- + ajar = belajar c. →
ber-Bila diikuti bentuk dasar selain yang tersebut di atas, yaitu bentuk dasar yang tidak berawal dengan fonem /r/,bentuk dasar yang suku pertamanya tidak berakhir dengan /ər/ serta bentuk dasar yang bukan morfem ajar.
Misalnya:
Bila diikuti bentuk dasar yang berawal dengan fonem /r/.
Misalnya:
per- + ringan = peringan
per- + rendah = perendah per- + ragakan = peragakan b. per- →
pel-Bila diikuti bentuk dasar yang berupa morfem ajar.
Misalnya:
per- + ajar = pelajar c. →
per-Bila diikuti bentuk dasar yang tidak berawal dengan fonem /r/
dan bentuk dasar yang bukan morfem ajar.
Misalnya:
per- + kaya = perkaya per- + teguh = perteguh per- + satukan = persatukan
D. Pertanyaan
1. Apakah yang dimaksud dengan proses morfologis?
2. Jelaskan yang dimaksud dengan proses pemajemukan!
3. Jelaskan ciri-ciri kata majemuk!
4. Jelaskan beda kata majemuk dengan frasa!
5. Jelaskan yang dimaksud dengan morfem unik!
E. Tugas dan Latihan
1. Buatlah sebuah tabel, kemudian masukkan kata-kata berikut ke dalam kelompok frasa/klausa dan kelompok kata majemuk!
2. Guntinglah sebuah paragraf dalam surat kabar yang di dalamnya memuat kata majemuk dengan salah satu unsurnya terdiri morfem unik! Garis bawahilah dengan pena morfem uniknya dan tempelkan kliping koran tersebut pada selembar kertas folio!
F. Sumber Bacaan
1. Linguistik Suatu Pengantar oleh A Chaedar Alwasilah.
2. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia oleh Hasan Alwi.
3. Morfologi: Suatu Tinjauan Deskriptif oleh M. Ramlan.
4. Morfofonemik Bahasa Indonesia oleh Sudarno.
5. Pengantar Linguistik oleh J.W.M Verhaar.
6. Kamus Besar Bahasa Indonesia oleh Anton M Moeliono (Editor).
DAFTAR PUSTAKA
Alisyahbana, Sutan Takdir. 1983. Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia.
Jakarta: Dian Rakyat.
Alwasilah, A. Chaedar. 1993. Linguistik Suatu Pengantar. Bandung:
Angkasa.
Alwi, Hasan et al.1993.Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta:
Balai Pustaka.
Dardjowidjojo, Soenjono (Ed). 1987. Linguistik: Teori & Terapan.
Jakarta: Lembaga Bahasa Atma Jaya.
Keraf, Gorys. 1984. Tata Bahasa Indonesia. Flores: Nusa Indah.
Kridalaksana, Harimurti. 1999. Kelas Kata dalam Bahasa Indonesia.
Jakarta: PT. Gramedia.
Lyons, John. 1995. Introduction to Theoretical Linguistics. Terj. I Sutikno. Pengantar Teori Linguistik. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Marsono. 1999. Fonetik. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Moeliono, Anton M. 1988. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta:
Balai Pustaka.
Parera, Daniel. 1978. Pengantar Linguistik Umum Bidang Sintaksis Seri C. Penerbit Nusa Indah
Ramlan, M. 1983. Morfologi Suatu Tinjauan Diskriptif. Yogyakarta:
CV. Karyono
_________. 1987. Ilmu Bahasa Indonesia: Sintaksis. Yogyakarta: C.V.
Karyono.
_________. 1987. Sintaksis. Yogyakarta: C.V. Karyono.
_________. 1993. Paragraf, Alur Pikir dan Kepaduannya dalam Berbahasa Indonesia. Yogyakarta: UNY
Sudarjanto. 1974. Fonetik Ilmu Bunyi yang Penyelidikannya dari Sudut Parole. Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada.
Sudarno. 1990. Morfofonemik Bahasa Indonesia. Arikha Media Cipta.
Verhaar, J.W.M. 1982. Pengantar Linguistik. Yogyakarta: UGM Press.
Yasin, Sulchan. 1988. Tinjauan Deskriptif Seputar Morfologi. Surabaya:
Usaha Nasional.
INDEKS
de Saussure, Ferdinand 69
diakronik 17
K
Sutan Takdir Alisyahbana 84 V
BIOGRAFI PENULIS
Drs. Suhardi, M.Pd. lahir di Padang pada tanggal 15 Agustus 1965. Lulus Sarjana (S.1) dari Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Bung Hatta Padang (1992).
Selanjutnya melanjutkan studi S.2 ke Universitas Negeri Padang meraih gelar Magister Pendidikan
Selanjutnya melanjutkan studi S.2 ke Universitas Negeri Padang meraih gelar Magister Pendidikan