• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tugas/Latihan

Dalam dokumen BUKU PENGANTAR LINGUISTIK UMUM (Halaman 29-0)

BAB II BIDANG KAJIAN LINGUISTIK

F. Tugas/Latihan

Buatlah analisis sederhana berkaitan dengan linguistik sinkronik dan diakronik tentang bahasa apa saja yang Saudara kuasai!

G. Sumber Bacaan

1. Pengantar Linguistik oleh Prof. Dr. J.W.M. Verhaar.

2. Fonetik oleh Marsono.

3. Linguistik Suatu Pengantar oleh A. Chaedar Alwasilah.

4. Pengantar Teori Linguistik: Introduction to Theoretical Linguistics oleh John Lyons.

5. PELLBA 9.

w

Bab III

TATA BAHASA TRADISIONAL YUNANI

Setelah mempelajari materi ini diharapkan:

1. Mahasiswa dapat memahami tentang sejarah Tata Bahasa Yunani (TBY).

2. Mahasiswa dapat memahami tentang ciri-ciri TBY.

A. Sejarah Tata Bahasa

1. Asal-Usul Filosofis Tata Bahasa Tradisional

Tata bahasa tradisional sudah ada sejak zaman Yunani, pada abad ke-5 SM. Bagi orang-orang Yunani, tata bahasa merupakan bagian dari filsafat. Artinya, tata bahasa merupakan bagian dari keluasan pengamatan mereka terhadap sifat-sifat alam di sekitar mereka dan lembaga-lembaga sosial mereka sendiri.

2. Sifat Alam dan Konvensi pada Bahasa

Para filsuf Yunani memperdebatkan apakah bahasa dipengaruhi oleh alam atau konvensi. Jika suatu lembaga bersifat alami, lembaga tersebut berasal dari asas-asas yang abadi dan tidak berubah di luar

manusia itu sendiri (tak dapat diganggu gugat). Sebaliknya, jika suatu lembaga bersifat konvensional, lembaga tersebut berasal dari kebiasaan dan tradisi (persetujuan yang tak terucapkan, perjanjian sosial, perjanjian yang dapat dibatalkan sebab merupakan hasil perbuatan manusia sendiri).

Diskusi tentang apakah bahasa bersifat alam atau konvensi, dilanjutkan dengan pertanyaan, apakah ada hubungan antara arti sebuah kata dan bentuknya? Cratylus, filsuf Yunani beraliran naturalis, berpendapat bahwa semua kata secara alamiah memang sesuai dengan yang ditandainya. Hal itu dapat dibuktikan oleh mereka melalui praktik yang mereka sebut dengan istilah etimologi. Kata etimologi berasal dari kata etymo yang mengandung arti benar atau nyata. Sebuah kata mengungkapkan salah satu kebenaran alam. Para filsuf Yunani/Stoa melakukan berbagai cara untuk membuktikan apakah sebuah kata secara alamiah sesuai dengan artinya.

Misalnya dalam bahasa Inggris:

a. neigh (ringkik).

b. crash (bunyi benturan) --- merupakan tiruan bunyi yang diacu.

c. tinkle (bunyi denting).

Contoh yang sama dalam bahasa Indonesia:

a. Musik dangdut

Dangdut adalah suara gendang waktu ditepuk. Musik Dangdut adalah aliran musik di Indonesia yang penamaannya dilatarbelakangi oleh dominasi suara gendang.

b. ‘ih’ menyatakan jijik.

Istilah dalam bahasa Yunani terhadap kasus tersebut adalah onomatope, yaitu pembuatan nama-nama yang meniru bunyi-bunyi yang ditandainya. Pandangan ini dipertahankan oleh kaum naturalis

Yunani (khususnya filsuf-filsuf Stoa) bahwa kata-kata semacam itu merupakan perangkat nama yang menjadi dasar perkembangan bahasa.

Hubungan dasar antara kata dan artinya adalah hubungan “penamaan”.

Pada mulanya, kata-kata adalah tiruan barang-barang yang dinamai onomatope, yaitu inti perbendaharaan kata. Namun, kata-kata yang tergolong onomatope sangat terbatas jumlahnya.

Ada 2 prinsip dasar dalam etimologi, sebagai berikut.

(1) Arti sebuah kata mungkin menjadi lebih luas karena hubungan alamiah antara pemakaian pertama kali dan perkembangan selanjutnya.

(2) Bentuk sebuah kata mungkin berasal dari bentuk kata lain melalui penambahan, pelesapan, subsitusi, dan transposisi bunyi-bunyi (afiksasi atau asimilasi).

Menurut kaum naturalis asas (2) di atas merupakan asas utama yang mampu mempertahankan pandangan bahwa bahasa bersumber dari hubungan alamiah yang mampu membentuk semua kata.

3. Kaum Analogis dan Kaum Anomalis

Pertentangan antara kaum naturalis dan kaum konvensionalis berlangsung berabad-abad dan memengaruhi semua spekulasi mengenai asal mula bahasa dan hubungan antara kata-kata dengan artinya. Semua itu penting bagi perkembangan teori tata bahasa karena menyebabkan adanya studi-studi etimologi yang mendorong minat para sarjana untuk menggolongkan hubungan antara kata-kata dan menempatkan studi bahasa dalam kerangka studi filsafat pada umumnya.

Pertentangan antara kaum naturalis dengan konvensionalis terus berlanjut sampai kepada aspek keteraturan bahasa, yaitu apakah bahasa teratur atau tidak. Perdebatan ini terjadi sejak abad ke-2 SM sebagaimana dalam bahasa Inggris.

a. boy : boys, b. girl : girls c. cow : cows

Berkaitan dengan permasalahan pola teratur atau tidak suatu kata, dalam Bahasa Yunani diistilahkan analogis dan anomalis. Bagi kaum analogis menganggap bahwa bahasa pada hakikatnya sistematis atau teratur. Sementara kaum anomalis menganggap bahasa pada hakikatnya tidak sistematis atau tidak teratur.

Kaum analogis mencurahkan perhatiannya untuk menetapkan berbagai model yang dapat dijadikan acuan bagi penggolongan kata-kata yang teratur dalam bahasa. Sementara kelompok anomalis tidak menyangkal adanya keteraturan dalam pembentukan kata-kata dalam bahasa. Akan tetapi, banyak contoh yang menunjukkan ketidakteraturan dalam pembentukan kata-kata. Oleh sebab itu, penalaran analogis tidak ada gunanya. Contohnya kata child dengan children. Kaum anomalis juga menunjukkan kenyataan bahwa hubungan antara bentuk kata dan artinya sering tidak teratur. Contohnya kata athena dalam bahasa Yunani menunjukkan bentuk jamak, walaupun tanpa ada diikuti bentuk jamak seperti /s/. Contoh lain, seperti sinonim (dua kata atau lebih yang memiliki arti yang sama), homonim (satu bentuk dengan dua arti kata).

Dengan demikian, kaum anomalis berkesimpulan, sebagai berikut.

(a) Jika bahasa benar-benar hasil konvensi manusia, seseorang tidak akan mengharapkan adanya berbagai macam ketidakteraturan itu; dan jika ada harus dibetulkan.

(b) Bahasa sebagai hasil dari ”alam”, hanya sebagian dapat diuraikan menurut pola-pola pembentukan.

Pertentangan antara kaum analogis dan anomalis tidak menemui kesepakatan secara tuntas disebabkan hal-hal berikut.

(a) Pembedaan antara tata bahasa deskriptif dan preskriptif (normatif) tidak ditegaskan (bagaimana orang benar-benar berbicara dan menulis, bagaimana seorang harusnya berbicara dan menulis). Oleh karena itu, kaum analogis cenderung membetulkan setiap ketidakteraturan yang mereka jumpai, bukannya mengubah pikiran mereka mengenai sifat bahasa.

(b) Ketidakteraturan hanya dapat ditentukan dengan mengacu kepada keteraturan. Apa yang tidak teratur dari sudut pandang, mungkin dianggap teratur dari sudut pandang lain.

Perbedaan pandangan antara kaum analogis dan anomalis dalam sejarah linguistik bukanlah sesuatu yang tidak berguna. Minimal dari perbedaan pandangan kedua kelompok tersebut, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa dalam bahasa ada bentuk keteraturan dan ada pula bentuk yang tidak teratur, seperti dalam bahasa Inggris kita mengenal bentuk reguler verb dan irreguler verb.

Dengan demikian, kaum analogis telah memberikan sumbangan pemikiran yang baik terhadap sistematisasi tata bahasa. Begitu juga kelompok anomalis (terutama kelompok Stoa) telah meletakkan asas-asas tata bahasa tradisional berkaitan karya mereka tentang

“etimologi”.

Kelompok Stoa (anomalis) dan kelompok Iskandaria memiliki perbedaan pandangan, terutama dalam melihat bahasa. Kelompok Stoa lebih tertarik pada masalah filsafat bahasa, yaitu berkaitan dengan asal usul bahasa, logika, dan retorika. Sementara kelompok Iskandaria lebih tertarik pada kritik sastra. Oleh sebab itu, para sarjana Iskandaria lebih banyak meneliti pada naskah-naskah sastra klasik (kesastraan masa lalu).

Ahli-ahli tata bahasa berikutnya mengakui pandangan kedua kelompok tersebut dan menggunakan asas-asas teorinya dalam analisis bahasa. Selanjutnya, para linguis modern mengklaim bahwa mereka telah mencapai sedikit kemajuan dibandingkan ahli tata bahasa tradisional dalam memecahkan persoalan tata bahasa daripada kedua kelompok tersebut.

4. Zaman Iskandaria

Dengan berdirinya sebuah perpustakaan terlengkap dan terbesar di Iskandaria (daerah koloni Yunani permulaan abad ke-3 SM), Iskandaria menjadi pusat penelitian sastra dan linguistik yang cukup maju pada saat itu. Karya-karya sastra seperti sajak-sajak karya Homerus, penyair Yunani, masa lalu yang karya-karyanya sudah banyak yang rusak mulai diperbaiki. Bahkan, para sarjana linguistik saat itu juga melakukan klasifikasi antara karya asli dan saduran.

Adanya pembacaan dan pendalaman kembali terhadap karya-karya sastra masa lalu menyebabkan lahir kebiasaan para sarjana linguistik Iskandaria membuat komentar-komentar singkat berkaitan dengan tata bahasa yang digunakan oleh para sastrawan Yunani dalam beberapa karya sajak-sajaknya. Efek lain yang timbul selanjutnya adalah lahirnya anggapan bahwa bahasa tulis yang digunakan para sastrawan/penyair Yunani masa lalu lebih baik (murni dan benar), dibandingkan bahasa percakapan yang digunakan oleh masyarakat Iskandaria dan di pusat-pusat studi Helenistik (bahasa dan sastra) lainnya.

Dari beberapa pandangan sarjana Helenistik Iskandaria tersebut tercermin ada dua hal yang ingin dicapai, sebagai berikut.

1. Melestarikan bahasa Yunani agar tidak dirusak oleh orang-orang yang tidak memiliki pengetahuan tentang bahasa dan sastra.

2. Menjelaskan tentang kepiawaian para sastrawan/penyair klasik Yunani dalam pemilihan kata-kata pada karya-karya sajaknya.

Para sarjana linguistik Iskandaria sejak awal lebih tertarik dan banyak memberikan perhatian pada bahasa tulis. Contohnya, penggunaan istilah grammar dalam studi bahasa. Kata grammar dikutip dari Bahasa Yunani yang berarti seni menulis. Berkaitan dengan bahasa tulis ini, menurut para linguistik Iskandaria, tidak ada perbedaan nyata antara bahasa tulis dengan bahasa lisan. Bahasa tulis diturunkan dari bahasa lisan. Pandangan tersebut jelas-jelas merupakan pandangan yang keliru. Pandangan keliru lainnya adalah kalangan linguistik Iskandaria menganggap bahwa bahasa yang digunakan para penulis Attica abad ke-5 SM lebih benar dibandingkan bahasa percakapan yang digunakan mereka sendiri. Mereka menganggap bahwa kemurnian suatu bahasa akan terjaga jika digunakan oleh kaum terpelajar begitu juga sebaliknya. Bahasa Yunani yang digunakan oleh Plato lebih murni bila dibandingkan dengan bahasa yang digunakan seorang yang buta huruf di Iskandaria. Pandangan para linguistik Iskandaria berkaitan dengan kebenaran dan kemurnian tetap dipegang dan dipercayai hingga dua ribu tahun berikutnya. Selama itu pula tidak ada para linguistik lain yang berani memprotesnya.

5. Zaman Romawi

Tata bahasa Yunani tidak hanya memengaruhi Iskandaria, tetapi juga tata bahasa Latin, terutama pada karya-karya seni, sastra, dan ilmu pengetahuan. Sejak abad ke-2 SM, para aristokrat Romawi dengan penuh gairah mengikuti kebudayaan Yunani dan metode-metode pendidikan Yunani. Anak-anak mereka sejak awal sudah dididik dalam hal membaca, berbicara dan menulis dalam bahasa Yunani dan Latin.

Oleh sebab itu, tidak mengherankan jika para ahli tata bahasa Latin memiliki ketergantungan pada model-model Yunani. Begitu juga dengan pengaruh Iskandaria dan Stoa juga terlihat pada karya Varro mengenai bahasa Latin.

Di Roma, studi tata bahasa tetap sebagai alat bantu studi filsafat, kritik sastra, dan retorika. Pada masa ini, pertentangan pandangan antara kaum analogis dan anomalis tetap dihidupkan dan ciri-ciri tata bahasa Latin juga banyak dibicarakan di antara pencinta bahasa, sastra, dan filsafat. Bahkan, Caesar, seorang tokoh militer Roma, menulis buku berkaitan dengan antologi sebagai persembahan untuk Cicero.

Besarnya pengaruh tata bahasa Yunani terlihat jelas pada salah satu tata bahasa khas Romawi, yaitu tata bahasa Dionysius Thrax. Tata bahasa ini terdiri atas 3 bagian, sebagai berikut.

a. Bagian pertama: menentukan lingkup tata bahasa sebagai seni berbicara yang benar dan alat untuk memahami para penyair, dan membicarakan huruf serta suku kata.

b. Bagian kedua: membicarakan kelas kata, sedikit banyak lebih terperinci, variasi-variasinya menurut kala, jenis, jumlah, dan kasus.

c. Bagian ketiga: gaya yang baik dan yang buruk; peringatan kesalahan-kesalahan umum dan barbarisme dan contoh-contoh kiasan yang dianjurkan.

6. Zaman Abad Pertengahan

Pada Abad Pertengahan ditandai dengan semakin tingginya kedudukan bahasa Latin dalam kehidupan masyarakat Eropa. Bahasa Latin digunakan dalam kitab suci, komunikasi diplomasi, ilmu pengetahuan dan kebudayaan, serta dalam dunia pendidikan. Oleh sebab itu, sebagai bahasa asing yang penting untuk dikuasai oleh anak didik di sekolah maka untuk membantu mereka agar cepat mahir berbahasa Latin, buku-buku sekolah banyak yang ditulis dengan menggunakan bahasa Latin. Buah dari semua itu adalah pada abad ketiga belas kita menyaksikan berkembangnya ilmu pengetahuan pada semua cabang. Di bawah pengaruh karya-karya Aristoteles dan filusuf Yunani lainnya, menjadikan ilmu pengetahuan (termasuk tata bahasa

Latin) sebagai seperangkat proposisi atau dalil yang kebenarannya dapat ditunjukkan secara meyakinkan dengan cara menarik kesimpulan dari asas-asas semula. Misalnya, para filsuf Skolastik seperti Stoa tertarik pada bahasa dan memandangnya sebagai alat guna menganalisis struktur kenyataan. Sebagai contoh unsur lambang dan tanda adalah sesuatu yang amat penting dalam analisis tata bahasa.

Menurut pandangan kelompok Stoa, karya-karya Donatus dan Pricianus sudah saatnya diterima sebagai sesuatu yang benar. Sikap yang mereka munculkan selama ini bukanlah menolak seratus persen, melainkan masih terdapat kekurangan dari kedua ahli tersebut.

Kekurangan tersebut terutama tidak dijelaskan fakta-fakta ilmiah dalam karya mereka, yaitu asas-asas yang menjadi dasar hubungan antara kata sebagai “tanda” dengan pikiran manusia di satu pihak dengan benda yang “ditandainya”. Menurut ahli tata bahasa Abad Pertengahan ini, asas tersebut (tanda dengan yang ditandai) bersifat tetap dan universal. Menurut ahli tata bahasa ilmiah atau spekulatif, kata tidak secara langsung menggambarkan sifat benda yang ditandainya, tetapi berada dengan cara tertentu (modus) sebagai substansi, perbuatan, kualitas, dsb. serta melakukan hal ini dengan kelas kata yang sesuai.

Selanjutnya, mereka menyimpulkan bahwa tata bahasa merupakan teori filsafat mengenai kelas-kelas kata dan modus-modus penandaan mereka yang khas.

7. Masa Renaisans dan Sesudahnya

Para sarjana linguistik zaman Renaisans ini menolak pandangan sebelumnya (Abad Pertengahan). Salah satu tokoh linguistik yang cukup berpengaruh pada zaman Renaisans adalah Cicerus. Cicerus mencoba memperbaiki pandangan sebelumnya dengan mengemukakan gaya bahasa Latin terbaru. Dengan berpegang pada pandangan bahwa kesastraan kuno klasik merupakan sumber segala nilai yang beradab. Selanjutnya, ia lebih berkonsentrasi mengumpulkan dan

mempublikasikan naskah-naskah kuno klasik. Kondisi ini sempurna dengan ditemukan mesin cetak abad ke-15 yang memungkinkan kelancaran dalam menyebarkan cetakan-cetakan baru naskah-naskah kuno klasik secara luas dan cepat.

Mereka menjadikan tata bahasa Latin sebagai media pembantu dalam memahami sastra dan penggunaan bahasanya. Erasmus tahun pada 1513 menerbitkan buku sintaksis bahasa Latin yang dikutip dari karya Donatus. Pada masa ini tidak hanya bahasa Latin yang mendapat perhatian para ahli linguistik Latin, bahasa Yunani juga tidak luput dari kajian mereka. Begitu juga bahasa Ibrani. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kaum Renaisans (humanis) inilah yang meneruskan bahasa dan kesastraan dari tiga budaya tersebut (Latin, Yunani, dan Ibrani) kepada sarjana-sarjana linguistik berikutnya.

Pada masa Renaisans ini, bahasa-bahasa daerah di Eropa juga mulai mendapat perhatian khusus para sarjana linguistik, seperti (1) tata bahasa Gaelih (Irlandia) abad ke-7, (2) tata bahasa Islan abad ke-13, (3) tata bahasa Pruvenso abad ke-13 serta tulisan-tulisan yang mengamati tentang bahasa Baska abad ke-10 dan sebuah buku tata bahasa Prancis.

Salah satu orang yang sangat berjasa dalam menggalakkan studi bahasa daerah Eropa ini adalah Dante. Dante melalui bukunya berjudul De Vulgari Eloquentia (Gaya Bahasa Orang Banyak), mengembangkan minat terhadap bahasa daerah sehingga berkembang luas dan buku-buku tata bahasa dicetak dalam jumlah besar.

Pada abad 17, guru-guru di Port Royal Prancis menghidupkan kembali cita-cita tata bahasa spekulatif (ilmiah). Pada 1960, mereka menerbitkan buku yang berjudul Grammaire Generale et Raisonnee (Tata Bahasa Umum dan Penalaran) dengan maksud untuk menunjukkan bahwa struktur suatu bahasa adalah hasil penalaran. Bahasa manusia yang berbeda-beda hanyalah ragam sistem yang lebih logis, rasional, dan umum. Pengaruh Tata Bahasa Port Royal ini sangat kuat di Prancis.

8. Tradisi India

Salah satu tradisi yang besar sekali pengaruhnya terhadap perkembangan linguistik modern adalah tradisi India atau Hindu.

Tradisi tata bahasa India tidak hanya tergantung pada tradisi Yunani-Romawi, tetapi juga pada tradisi yang lebih tua dan lebih unggul sebagaimana yang telah dicapai Panini pada abad ke-4 SM (salah seorang ahli tata bahasa India terkenal). Terdapat 12 aliran teori tata bahasa India. Ada beberapa hal penting perkembangan tata bahasa sebagaimana yang terjadi pada Yunani-Romawi.

Jika di Yunani-Romawi terjadi pertentangan pandangan berkaitan status alamiah dan konvensional berkaitan dengan bahasa, di India juga terjadi hal demikian. Pertentangan terutama berhubungan dengan aktivitas mereka dalam menelaah naskah-naskah suci Hindu masa lampau. Mereka membuat daftar kata-kata sulit dan argumentasi yang menerangkan kata-kata tersebut, khususnya pada syair-syair pujian Weda. Mereka juga melakukan pengelompokan kata, seperti nomina dan verba; subjek dan predikat dalam bahasa Sanskerta. Terdapat dua keunggulan yang dimiliki karya linguistik India jika dibandingkan dengan tata bahasa Barat, yaitu:

1) berkaitan dengan fonetik;

2) studi struktur internal kata.

Studi tata bahasa India terutama terhadap syair-syair pujian Weda dilakukan untuk mempermahir pengucapan agar tidak salah.

Terutama saat upacara agama Hindu. Keunggulan lain dari tata bahasa India adalah dalam penggolongan bunyi-bunyi bahasa (speech sound) lebih teperinci, lebih cermat, dan lebih kuat berdasarkan pengamatan dan percobaan. Lyons (1995: 20) menyebut bahwa ilmu fonetik yang berkembang di Eropa banyak dipengaruhi oleh penemuan dan

terjemahan tulisan linguistik di India oleh para sarjana Eropa yang ada di India.

Tata bahasa Sanskerta karya Panini, memiliki ketuntasan kajian berkaitan dengan struktur kata, konsistensi internal, dan efisiensi pernyataan. Efisiensi dicapai seperti penggunaan singkatan dan lambang-lambang huruf/kata. Menurut Sir William Jones, seorang tokoh orientalis Inggris tahun 1786, menyatakan bahwa bahasa Sanskerta memiliki hubungan yang erat dengan bahasa Yunani dan Latin, baik dalam hal akar-akar verba maupun bentuk tata bahasanya.

B. Ciri-Ciri Khusus Tata Bahasa Tradisional

Plato salah seorang tokoh Yunani yang memberikan pandangan tentang linguistik dengan membagi kelas kata atas 2 jenis, yaitu (1) kelas kata benda atau nomina dan (2) kelas kata kerja atau verba. Kata benda menurut Plato adalah kata yang berfungsi dalam kalimat sebagai subjek dari predikat. Sementara kata kerja adalah kata yang dapat menyatakan perbuatan atau kualitas yang disebut dalam predikat.

Protagoras, seorang tokoh Sofis Yunani abad ke-5, merupakan orang yang tidak sependapat dengan Plato. Menurut Protagoras, jenis kata dalam bahasa Yunani dibagi atas 3, yaitu (1) kata benda atau nomina, (2) kata kerja atau verba, dan (3) kata sifat atau adjektiva.

Sementara Aristoteles tidak sependapat dengan Plato dan Protagoras, ia membagi kelas kata atas 4 jenis, yaitu (1) nomina, (2) verba, (3) sifat, dan (4) kata sambung atau konjungsi. Selanjutnya adalah kaum Stoa yang dipandang paling baik dalam memerhatikan bahasa. Salah satu perbedaan pandangan Stoa dalam bahasa berkaitan dengan bentuk dan arti, yang menandai dan yang ditandai. Menurut kelompok Stoa, tidak ada hubungan antara bentuk dan arti.

Pandangan Stoa berkembang di Iskandaria. Para sarjana linguistik Iskandaria meneruskan kelompok Stoa. Hasilnya, di Iskandaria-lah tata bahasa tradisional bahasa Yunani dikodifikasikan. Para Linguis Iskandaria cenderung bersifat analogis, yaitu memandang segala sesuatu lebih bersifat teratur. Puncaknya adalah lahirnya Tata Bahasa Dionysius Thrax (akhir abad ke-2 SM). Dalam tata bahasa ini, Dionysius selain memperkenalkan jenis kata nomina, verba, sifat, dan kata sambung juga memperkenalkan jenis kata baru, yaitu kata keterangan, pronomina, dan jenis kata preposisi. Kelemahan dari Dionysius adalah masih belum jelas membicarakan sintaksis, asas-asas yang diikuti dalam menggabungkan kata-kata menjadi kalimat. Barulah setelah 3 abad kemudian (abad ke-2 M), Apollonius Dyscolus melakukannya.

Berikut ini ciri-ciri bahasa tradisional.

a. Menafsirkan kalimat berdasarkan arti dan tujuan komunikasi si pembicara. Pendekatan yang demikian lazim disebut notional grammar atau notional analysis. Kalimat dibagi menjadi kalimat pernyataan, pertanyaan, perintah, dan kalimat seru.

b. Pembagian jenis kata didasarkan pada makna dan sedikit pada fungsi.

c. Pemerian fungsi sintaksis jenis kata dalam kalimat dibahasakan dalam istilah subjek, predikat, objek, kata, frasa, klausa, kalimat, transitif, dan intransitif.

d. Pemerian terutama didasarkan pada bahasa tulisan pilihan.

e. Tidak mengindahkan ragam bahasa.

f. Bersifat preskriptif.

C. Pertanyaan

1. Jelaskan pandangan para filusuf Yunani tentang, apakah bahasa dipengaruhi oleh alam atau konvensi!

2. Jelaskan pandangan kaum analogis dan anomalis berkaitan dengan keteraturan bahasa!

3. Tata bahasa Yunani tidak hanya memengaruhi Iskandaria, tetapi juga memengaruhi tata bahasa Latin. Jelaskan maksud pernyataan tersebut!

4. Jelaskan pandangan Plato, Protagoras, dan Aristoteles berkaitan dengan pengelompokan jenis kata! (Alwasilah, 1993: 166)

D. Tugas dan Latihan

Tuliskan beberapa contoh analisis yang menggunakan tata bahasa Yunani!

E. Sumber Bacaan

1. Pengantar Linguistik oleh Prof. Dr. J.W.M. Verhaar.

2. Linguistik Suatu Pengantar oleh A. Chaedar Alwasilah.

3. Pengantar Teori Linguistik: Introduction to Theoretical Linguistics oleh John Lyons.

4. Linguistik: Teori & Terapan (1987) oleh Soenjono Dardjowidjojo.

Bab IV

TATA BAHASA STRUKTURAL

Setelah mempelajari materi ini diharapkan:

1. Mahasiswa dapat memahami tentang definisi Tata Bahasa Struktural (TS).

2. Mahasiswa dapat memahami tentang beberapa Linguis TS.

3. Mahasiswa dapat memahami tentang ciri-ciri TS.

A. Tokoh Tata Bahasa Struktural

Perkembangan tata bahasa atau aliran bahasa terus berjalan seiring dengan perkembangan waktu. Setelah adanya tata bahasa Yunani, muncul lagi aliran baru yang menamakan dirinya tata bahasa struktural.

Para linguis kelompok ini mengklaim dirinya sebagai kelompok yang lebih sempurna dari kelompok sebelumnya. Bahkan, aliran ini disebut sebagai aliran linguistik modern. Para linguis yang termasuk ke dalam kelompok ini adalah Ferdinand de Saussure, Franz Boas, Edward Sapir, Leonard Bloomfield, Chomsky, Kenet L. Pike, dan lain-lain.

Dalam dokumen BUKU PENGANTAR LINGUISTIK UMUM (Halaman 29-0)