• Tidak ada hasil yang ditemukan

Suara dan Tinggi Nada

Dalam dokumen BUKU PENGANTAR LINGUISTIK UMUM (Halaman 80-0)

Bab VIII BUNYI-BUNYI BAHASA

C. Suara dan Tinggi Nada

Pada umumnya linguis membagi bunyi bahasa menjadi dua jenis, yaitu vokal dan konsonan. Pembedaan tersebut lebih didasarkan pada bunyi bersuara dan tidak bersuara. Suara biasanya dihasilkan oleh getaran pita suara atau selaput suara pada jakun. Kecepatan getaran suara yang dihasilkan tergantung tingkat ketegangan pita suara. Sementara tinggi rendahnya nada yang dihasilkan juga tergantung pada ketegangan pita suara tersebut. Vokal didefinisikan sebagai bunyi bersuara yang dalam pembentukannya, udara melalui faring dan mulut tanpa halangan (lidah, gigi maupun bibir). Sementara konsonan adalah kebalikannya, yaitu udara melalui faring mendapat halangan (lidah, bibir, dan gigi).

1. Vokal

Lyons (1995: 102) membagi jenis vokal menurut dimensi artikulatoris atas beberapa jenis, sebagai berikut.

(1) Tingkat Terbukanya Mulut (a) rapat lower

(b) terbuka

(2) Posisi Bagian Lidah yang Tertinggi (a) depan lower

(b) belakang (3) Posisi Bibir

(a) bundar lower (b) tak bundar/hampar

Sementara Verhaar (1993) menambahkan selain bunyi bahasa dibagi atas vokal dan konsonan juga ada jenis lain, yaitu semi-vokal. Contohnya bunyi [m] dan [l], dalam posisi bibir tertutup menyerupai bunyi-bunyi vokal. Begitu juga bunyi [w]. Selanjutnya, Verhaar menyatakan bahwa dilihat bergetar tidaknya pita suara saat mengucapkan, pada umumnya vokal adalah bunyi bersuara. Vokal tak bersuara (vocoide) hanya terjadi saat kita berbisik.

2. Konsonan

Lyons (1995: 103) membagi jenis konsonan menjadi jenis, yaitu konsonan bersuara, tak bersuara, oral, dan konsonan nasal.

(1) Konsonan bersuara.

(2) Konsonan tak bersuara.

(3) Konsonal oral.

(4) Konsonan nasal.

D. Pertanyaan

1. Jelaskan yang dimaksud dengan bunyi bahasa!

2. Jelaskan beberapa cabang ilmu fonetik!

3. Jelaskan yang dimaksud dengan vokal!

4. Jelaskan yang dimaksud dengan konsonan!

E. Tugas dan Latihan

Buatlah sebuah tabel yang berisi 5 buah contoh suara dan tinggi nada yang terdapat di dalam bahasa daerah Saudara!

F. Sumber Bacaan

1. Pengantar Linguistik oleh Prof. Dr. J.W.M. Verhaar.

2. Fonetik oleh Marsono.

3. Linguistik Suatu Pengantar oleh A. Chaedar Alwasilah.

4. Pengantar Teori Linguistik: Introduction to Theoretical Linguistics oleh John Lyons.

5. PELLBA 9.

Bab IX

SATUAN-SATUAN GRAMATIKAL

Setelah mempelajari materi ini diharapkan:

1. Mahasiswa dapat memahami tentang morfem.

2. Mahasiswa dapat memahami tentang kata.

3. Mahasiswa dapat memahami tentang kalimat.

A. Pendahuluan

1. Pengertian Morfem, Kata, Frasa, Klausa, dan Kalimat

Dalam masa perkembangannya sebagai kaidah berbahasa, tata bahasa tradisional menggunakan beberapa satuan gramatikal. Satuan gramatikal tersebut adalah morfem, kata, frasa, klausa, dan kalimat.

Satuan-satuan gramatikal tersebut diakui dalam konvensi-konvensi sistem abjad yang dipakai bahasa-bahasa di Eropa dan sistem tata bahasa lain di dunia. Khusus untuk aturan atau kaidah berbahasa dalam hal penggunaan kata diatur dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (EYD) dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah. Sementara aturan atau kaidah yang berkaitan

dengan penggunaan kalimat termuat dalam Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia yang saat ini sudah memasuki edisi keempat.

Kata dan kalimat memiliki hubungan yang erat. Kalimat adalah susunan dari beberapa kata. Dengan demikian, kata adalah satuan konstruksi terkecil dari kalimat. Lyons (1995: 172) menyatakan bahwa kalimat adalah satuan analisis gramatikal terbesar, yaitu satuan terbesar yang diakui linguis untuk menerangkan hubungan-hubungan distribusi seleksi dan eksklusi yang ternyata ada dalam bahasa yang dideskripsikannya. Kalimat menurut Sutan Takdir Alisyahbana (1983:

72) adalah kumpulan kata-kata terkecil yang mengandung pikiran lengkap. Moeliono (1988: 254) mendefinisikan kalimat sebagai bagian terkecil ujaran atau teks yang mengungkapkan pikiran secara utuh menurut ketatabahasaan. Dalam wujud lisan, kalimat diiringi alunan titi nada, disela oleh jeda, diakhiri oleh intonasi selesai, dan diikuti oleh kesenyapan yang memustahilkan adanya perpaduan atau asimilasi bunyi.

Morfem merupakan satuan terkecil dalam bahasa yang memungkinkan terbentuknya kata. Yassin (1988: 21) menyatakan bahwa morfem berasal dari kata morphe dan ema. Morphe berarti bentuk, sedangkan ema berarti yang mengandung arti. Dengan demikian, morfem mengandung arti satuan bunyi terkecil yang mengandung arti. Jenis morfem juga dapat dibagi dua, yaitu morfem bebas dan morfem terikat. Morfem bebas adalah morfem yang dapat berdiri sendiri. Pada umumnya kata dasar termasuk morfem bebas, sedangkan morfem terikat adalah morfem yang tidak dapat berdiri sendiri. Segala bentuk afiks termasuk morfem terikat.

Frasa adalah kelompok kata yang secara gramatikal sepadan dengan kata dan tidak memiliki fungsi sebagai subjek maupun predikat.

Keraf (1984: 138) menyebutkan bahwa frasa adalah suatu konstruksi yang terdiri dari dua kata atau lebih yang membentuk satu kesatuan.

Sementara Ramlan (1987: 152) mendefinisikan frasa sebagai satuan gramatik yang terdiri dari dua kata atau lebih, tidak melewati batas fungsi klausa. Frasa selalu terdapat dalam satu unsur klausa (S, P, O, K).

Klausa adalah kelompok kata yang sudah memiliki unsur subjek dan predikat serta telah memasuki sebagai kalimat, yaitu kalimat sederhana. Menurut tata bahasa Tradisional, perbedaan frasa dan kalimat merujuk pada sesuatu yang mirip kata dan sesuatu yang mirip kalimat di dalam kalimat (Lyons, 1995: 168). Sementara Ramlan mendefinisikan klausa sebagai satuan gramatik yang memiliki unsur subjek dan predikat. Sementara itu, Keraf (1984: 138) mendefinisikan klausa sebagai konstruksi yang di dalamnya mengandung hubungan fungsional (SPOK). Sebuah klausa sekurang-kurangnya memiliki unsur S dan P; P dan O, atau P dan K.

Hubungan antara kelima satuan gramatikal (morfem, kata, frasa, klausa, dan kalimat) adalah hubungan komposisi. Jika kalimat merupakan satuan yang lebih tinggi, morfem adalah satuan yang tingkatannya paling rendah.

2. Ujaran

Ujaran menurut Haris adalah rentang wicara oleh seseorang yang sebelum dan sesudahnya ada kesenyapan pada pihak orang tersebut.

Ujaran pada pada umumnya tidak identik dengan kalimat karena banyak ujaran dalam bahasa Inggris terdiri atas frasa dan kalimat.

Banyak ujaran terbentuk dari bagian-bagian yang secara linguistik sepadan dengan ujaran-ujaran yang utuh sebagaimana yang terdapat dalam bahasa lain. Sementara yang dimaksud dengan ujaran-ujaran jadi adalah bentuk ujaran lengkap. Misalnya, kalimat-kalimat yang terkandung pada bentuk-bentuk peribahasa.

B. Morfem

Kata dan morfem merupakan satuan gramatikal primer. Keduanya memiliki persamaan dan perbedaan. Sebuah kata sudah jelas morfem (morfem bebas), tetapi sebuah morfem belum tentu adalah kata (morfem terikat). Lyons mendefinisikan morfem sebagai satuan terkecil analisis gramatikal, satuan terendah tingkatnya yang dapat membentuk kata-kata. Pandangan Lyons ini dapat disimpulkan bahwa kata dibangun atas beberapa morfem atau kata dapat dianalisis atas beberapa morfem.

Morfem bertindak sebagai satuan distribusi sebagaimana kata didistribusikan atas morfem-morfem. Contoh, kata berkelahi didistribusikan atas morfem terikat “ber” dan morfem bebas “kelahi”.

Selain itu, dikenal pula istilah morf, yaitu bentuk dari morfem terikat, sedangkan variasi dari bentuk morf disebut alomorf.

Contoh:

a. membawa --- mem + bawa b. mendapat--- men + dapat c. menyanyi--- me + nyanyi

mem-men-... Jenis-jenis morf

me-MeN- ...mem me

meny- ... Alomorf

men-C. Kata

1. Morfologi, Sintaksis, dan Semantik

Menurut tata bahasa tradisional, kata adalah satuan istimewa.

Sementara Lyons mendefinisikan morfologi sebagai studi yang berkaitan dengan struktur dalam kata-kata dan sintaksis adalah studi berkaitan dengan kaidah-kaidah yang mengatur penggabungan kata-kata menjadi dalam kalimat-kalimat (1995: 190). Dari rumusan morfologi dan sintaksis tersebut jelas bahwa kata menduduki fungsi penting dalam pembentukan keduanya. Menurut Bloomfield, kata adalah bentuk bebas terkecil. Sementara dari segi semantik, setiap kata memiliki makna tersendiri. Lyons (1995: 195) menyatakan bahwa kata merupakan persatuan makna tertentu dengan susunan bunyi tertentu, dapat dipakai menurut tata bahasa dengan cara tertentu. Hal ini disebabkan kata merupakan sebuah satuan semantis, fonologis, dan gramatikal.

2. Infleksi dan Derivasi

Dalam tata bahasa tradisional Yunani dan tata bahasa klasik serta tata bahasa modern, terdapat tiga istilah, yaitu infleksi, derivasi, dan sintaksis.

a. Infleksi

Infleksi dalam teori tata bahasa klasik didefinisikan sebagai perubahan yang terjadi pada bentuk kata yang menunjukkan hubungan dengan kata-kata lain dalam kalimat (Lyons, 1995: 190).

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990: 331) infleksi adalah perubahan bentuk kata yang menunjukkan hubungan gramatikal (ketatabahasaan), seperti deklinasi {bentuk-bentuk nominal, [seperti:

nomina (kata benda), ajektiva (kata sifat), pronomina (kata ganti) dan konjungsi verba (kata hubung kerja)] untuk menyatakan perbedaan kategori atau kasus}.

Contoh:

a. Perubahan bentuk dari kata kerja ke kata benda, seperti kata kerja lari menjadi kata benda berlarian melalui proses penambahan morfem (ber- + - an).

b. Perubahan bentuk kata kerja kerja ke bentuk kata benda pekerjaan melalui proses penambahan morfem (pe- + - an).

b. Derivasi

Derivasi adalah proses pembentukan kata-kata baru dari kata-kata yang ada dengan membubuhi afiks.

Contoh:

(1) Dari kata makan dapat dibentuk kata baru seperti: memakan, dimakan, memakankan, dst.

(2) Dari kata marah dapat dibentuk kata baru: memarahi, dimarahi, pemarah, dst.

(3) Dari kata baik dapat dibentuk kata baru: kebaikan, diperbaiki, memperbaiki, dst.

Sementara menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990: 200) derivasi adalah proses pengimbuhan afiks yang tidak bersifat infleksi pada bentuk dasar untuk membentuk kata.

3. Ambiguitas Istilah Kata

Ambiguitas istilah kata adalah hubungan (satu lawan satu banyak atau banyak lawan satu) antara bentuk fonologis dengan bentuk gramatikal.

Contoh:

a. Bentuk fonologis /k^t/ dengan bentuk gramatikal /cut/ (present tense) - /cut/ (past tense) - /cut/ (past participle).

b. bentuk /read/ dengan bentuk /read/, /read/ dan /read/.

Dalam bahasa Indonesia, seperti kata:

a. /bang/ yang dapat mengacu pada kata /bank/ atau /abang/.

b. /beruang/ yang dapat mengacu pada bentuk /ber-uang/ atau / beruang/ : sejenis binatang buas yang hidup di hutan.

4. Aspek-Aspek dalam Kata a. Leksem

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990: 510), Leksem adalah satuan leksikal dasar yang abstrak yang mendasari pembentukan infleksi suatu kata. Contohnya afiks dan kata.

Misalnya, kata sifat ditambah dengan afiks sehingga membentuk nomina: kebaikan ---ke-an + baik.

Sementara para ahli lain, menggolongkan leksem sama dengan kata.

b. Tasrif

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990: 906), tasrif adalah sistem perubahan bentuk kata untuk membedakan kasus, kala, jenis, jumlah, dan aspek. Misalnya, system perubahan bentuk kata dari kata kerja ke kata benda atau dari kata sifat ke kata benda.

c. Kata-kata ortografis

Ujaran merupakan kumpulan kata-kata yang jika dituliskan terdiri atas fonem-fonem yang disusun merunut ejaan yang berlaku pada bahasa tersebut.

d. Kemungkinan jeda

Jeda adalah waktu berhenti sebentar dalam ujaran. Setiap ujaran memiliki jeda.

5. Keutuhan dalam Kata a. Mobilitas posisi

The boys walked slowly up the hill.

The-boy-s-walk-ed-slow-ly-up-the-hill.

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Slowly the boys walked up the hill.

6 7 1 2 3 4 5 8 9 10

Tidak mungkin the boys diubah menjadi boys the atau sboy the.

b. Ketakterselaan

Keterselaan adalah kemungkinan menyisipkan unsur-unsur lain antara morfem-morfem atau blok-blok morfem. Misalnya, antara the dan boys dengan unsur lain, seperti: the big strong strapping boy.

D. Kalimat

1. Definisi Kalimat

Menurut Bloomfield, kalimat adalah bentuk bahasa yang bebas, yang karena konstruksi gramatikal tidak termasuk dalam suatu bentuk bahasa yang lebih besar. Perhatikan kalimat berikut.

a. How are you?

b. It’s fine day.

c. Are you going to play tennis this afternoon?

Bloomfield menyatakan apa pun hubungan praktis yang mungkin ada antara ketiga bentuk kalimat di atas, tidak ada penataan gramatikal yang menyatukannya menjadi satu bentuk yang lebih besar. Ujaran tetap tersebut terdiri atas 3 kalimat yang berbeda.

Pandangan Bloomfield tersebut dapat disimpulkan juga bahwa kalimat adalah satuan deskripsi bahasa yang paling besar. Kalimat

adalah satuan gramatikal yang di antara bagian-bagian konstituennya dapat ditetapkan pembatasan dan keterikatan distribusi, tetapi tidak dapat dimasukkan sendiri ke dalam suatu kelas distribusi yang lebih besar.

Sementara itu, istilah kalimat juga dapat diartikan sebagai berikut.

a. Kalimat sebagai satuan gramatikal

Kalimat sebagai satuan gramatikal adalah kalimat diiringi dengan struktur bahasa yang lengkap. Dalam bahasa Indonesia struktur tersebut terdiri dari SPOK.

b. Kalimat sebagai satuan kontekstual

Kalimat sebagai satuan kontekstual adalah kalimat merupakan sarana yang memuat informasi/pikiran yang disampaikan seseorang (lisan maupun tulisan).

2. Kalimat Turunan

Kalimat turunan adalah konstruksi yang diturunkan dari konstruksi yang lebih tinggi.

Contoh:

Ani membaca buku Linguistik Umum yang baru saja dia beli di tokoh buku Gramedia. Dia mencoba memahami paparan isi lembar demi lembar hingga seluruh halaman terbaca dengan tuntas.

Kata ganti dia dalam narasi di atas merupakan bentuk turunan dari Ani. Kalimat kedua dan ketiga juga merupakan kalimat turunan dari kalimat pertama.

3. Kalimat Tak Lengkap

Maksud dari kalimat tak lengkap atau elips adalah kalimat yang salah satu unsur hilang atau dihilangkan.

Contoh:

a. Ke mana? (Ke mana dia pergi? Atau Ke mana dia lari? = kalimat lengkap)

b. Kampus! (Di mana tempatnya? Tempatnya di kampus!) c. Pergi. (Ke mana dia? Jawabnya: Dia pergi.)

4. Tipe-Tipe Kalimat

a. Berdasarkan fungsinya, kalimat dibedakan menjadi:

(1) kalimat pernyataan (2) kalimat pertanyaan (3) kalimat seruan (4) kalimat perintah

b. Berdasarkan kekomplekskan struktur, kalimat dibedakan menjadi:

(1) kalimat tunggal (2) kalimat majemuk

5. Kriteria Fonologis dalam Kalimat

Makna dan konteks kalimat dapat dibedakan berdasarkan kriteria fonologi, seperti intonasi dan jeda. Kata beruang berdasarkan intonasi dan jedanya dapat berarti binatang buas (beruang) dan dapat pula berarti orang yang mempunyai banyak uang (ber-uang). Begitu juga kalimat majemuk yang dibangun atas beberapa kalimat tunggal.

E. Pertanyaan

1. Jelaskan yang diaksud dengan morfem!

2. Bagaimanakah hubungan morfem dengan frasa?

3. Apakah yang beda infleks dan derivasi!

4. Jelaskan yang dimaksud dengan ambiguitas dalam kata!

F. Tugas dan Latihan

Tuliskan lima contoh bentuk derivasi dan infeksi!

G. Sumber Bacaan

1. Pengantar Linguistik oleh Prof. Dr. J.W.M. Verhaar.

2. Linguistik Suatu Pengantar oleh A. Chaedar Alwasilah.

3. Pengantar Teori Linguistik: Introduction to Theoretical Linguistics oleh John Lyons.

4. PELLBA 9.

w

Bab X

STRUKTUR GRAMATIKAL

Setelah mempelajari materi ini diharapkan:

1. Mahasiswa dapat memahami tentang konstituen langsung.

2. Mahasiswa dapat memahami tentang tata bahasa struktur-frasa.

3. Mahasiswa dapat memahami tentang tata bahasa kategorial.

4. Mahasiswa dapat memahami tentang konstruksi eksosentris-endosentris.

A. Pendahuluan

1. Konstituen Langsung

Menurut Lyons (1995: 204), semua kalimat mempunyai struktur linear yang sederhana, yaitu tiap-tiap kalimat bahasa dari sudut gramatikal merupakan untaian kata-kata (konstituen). Contoh: a + b + c + d atau X = a + b + c + d. Analisis konstituen langsung pertama kali diperkenalkan oleh Bloomfield tahun 1933.

Contoh:

Poor John ran away (John yang miskin itu melarikan diri).

Kalimat tersebut terdiri atas konstituen langsung. Konstituen tingkat yang lebih rendah merupakan bagian dari tingkat yang lebih

tinggi. Dengan demikian, kalimat Poor John ran away dapat dianalisis atas lapisan yang membangunnya, sebagai berikut.

X

Y Z

Poor John ran away

2. Ambiguitas Gramatikal

Ambiguitas gramatikal adalah kerancuan struktur kalimat sehingga menyebabkan timbulnya makna ganda.

Contoh:

a. Poor John ran away

Kalimat tersebut melahirkan makna ganda:

(1) John yang miskin itu melarikan diri karena sesuatu hal, atau (2) John yang miskin itu menghilang karena diculik.

b. Istri Kolonel yang nakal itu ditangkap Polisi.

Kalimat tersebut melahirkan makna ganda, yaitu (1) Istri, Kolonel yang nakal itu ditangkap Polisi, atau (2) Istri Kolonel, yang nakal itu ditangkap Polisi.

Untuk melukiskan struktur gramatikal kalimat seperti Poor John ran away dapat dianalisis dengan menggunakan diagram pohon.

a. Poor John ran away.

FN FV NP VP b. FN/NP terdiri dari:

ajektiva atau A (poor) dan nomina atau N (John).

c. FV/VP teridiri:

verba atau V (ran) dan adverbial adv (away).

Maka, dibuat diagram pohonnya sebagai berikut.

Y Σ

Z

A N

Poor John ran away

V Adv.

B. Tata Bahasa Struktur-Frasa

1. Struktur-Frasa

Berikut ini akan kita pergunakan pembatasan sistem penjabaran yang berangkaian yang diperkenalkan oleh Chomsky yang disebut tata bahasa Struktur-Frasa.

Contoh:

a. ∑ → NP + VP b. VP → V + Adv.

c. NP → A + N

2. Kaidah Alternatif

Kaidah alternatif adalah kemungkinan suatu kalimat dikembangkan dalam bentuk lain. Misalnya, dari 4 kata, seperti poor John ran away menjadi lima kata seperti old men love young women, atau dari Old men love young women menjadi men love women atau men love young women.

3. Kaidah Wajib dan Tak Wajib

Andaikan NP → N adalah kaidah wajib dan N → A + N adalah kaidah tak wajib, kalimat-kalimat tersebut dapat dianalisis atas kaidah wajib sebagai berikut.

(1) Old menlove Young Women.

NP + VP N + V (2) Menlove Women.

N Vint.

(3) Poor Johnran away.

N + Vtrans.

4. Pengurutan Kaidah dan Kaidah Alternatif

Urutan kaidah adalah struktur bahasa yang lazim atau resmi digunakan, misalnya Struktur Bahasa Baku Bahasa Indonesia, yaitu SPOK. Sementara kaidah rekursif (alternatif) adalah penerapan nomina pada suatu kalimat yang tidak terbatas.

Contoh:

N adalah N + and + N

N adalah N + and + N + and + N

N adalah N + and + N + and + N + and + N

Contoh dari struktur koordinat rekursif sebagai berikut.

a. Tom and Dick and Harry.

b. (Tom and Dick) and Harry.

c. Tom and (Dick and Harry).

Konstituen terbagi dapat dilihat dari contoh di bawah ini.

John called up Bill.

John called Bill up.

John called hun up.

John mencintai Klaudia.

John mencintainya.

Dia dicintai John.

Sementara itu, kaidah-kaidah pelengkap adalah unsur yang berfungsi menghubungkan antara kalimat dengan kalimat. Biasanya adalah konjungtor.

5. Kalimat Bersusun (Majemuk)

Bagaimana kalimat bersusun dapat dilihat dari contoh di bawah ini.

Billwas readingthe newspaperwhen John arrived.

S + P + O + K S +……

6. Ekuivalensi Lemah dan Kuat

Tata bahasa yang tidak hanya membangkitkan kalimat-kalimat yang sama, tetapi juga menentukan kalimat dengan deskripsi struktural yang sama disebut berekuivalensi kuat, misalnya dalam tata bahasa Kategorial.

C. Tata Bahasa Kategorial

Tata bahasa kategorial pertama kali dikembangkan oleh Tadeusz Adjukiewicz, pengikut Lesniewski, seorang ahli logika dari Polandia.

Kemudian, dilanjutkan oleh Bar-Hillel dan Lambek. Penamaan kategorial sangat dipengaruhi oleh perkembangan khusus dalam sejarah logika dan filsafat di Polandia.

Menurut sistem kategorial hanya ada 2 kategorikal gramatikal dasar, yaitu (1) kalimat dan (2) nomina yang selanjutnya dapat dideskripsikan dengan tanda ∑ dan n. Semua unsur leksikal selain nomina diberi klasifikasi kategorial derivatif dalam leksikon menurut kemungkinannya digabungkan satu sama lain atau dengan salah satu kategori dasar dalam struktur konstituen kalimat. Kategori derivatif adalah kompleks, yaitu secara serentak menentukan (1) dengan kategori apa unsur tersebut dapat digabungkan untuk membentuk kalimat dan (2) klasifikasi kategori konstituen yang disebabkan oleh operasi tersebut. Misalnya unsur “run” (verba intransitive) dapat digabungkan dengan nomina John (subjek) sehingga membentuk kalimat: John run.

1. Pembatalan

Menurut Bar–Hillel, klasifikasi kategorial unsur “run” dapat dinyatakan dengan pecahan yang penyebutnya ‘run’ atau yang lain dan pembilangnya adalah konstruksi yang dihasilkan. Dengan demikian, keduanya dapat dinyatakan:

Untuk menentukan apakah kalimat ‘John run’ adalah kalimat yang baik atau tidak dapat digunakan kaidah “pembatalan aritmetis”, yaitu:

Dengan demikian, ∑ adalah kalimat. Tanda titik mendeskripsikan rangkaian linear dan tak linear.

Kemudian untuk menentukan arah suatu unsur digabungkan (ke kiri atau ke kanan) ditunjukkan oleh arah anak panah.

Contoh:

dapat diartikan bahwa unsur yang dapat digabungkan dengan nomina ke kiri untuk membentuk kalimat.

menandakan unsur (ajektiva, seperti poor, old, dsb.) yang dapat digabungkan dengan nomina ke kanan untuk membentuk nomina (frase nomina).

2. Kategori-Kategori yang Lebih Kompleks

Kategori derivatif tidak hanya terdiri kategori dasar, mungkin saja memiliki kategori derivatif pembilang dan penyebut. Misalnya, suatu adverbia dapat digabungkan dengan verba atau nomina untuk membentuk kalimat.

Contoh:

a. Pekerjaan Ali atau melaksanakannya (proses penggabungannya ke kiri).

b. Ali bermain (proses penggabungannya ke kanan).

Sebagaimana yang telah dinyatakan di atas bahwa perluasan-perluasan yang mungkin dapat dilakukan dengan beberapa cara, ke kiri atau ke kanan, atau dengan menambahkan verba atau nomina.

3. Konvensi-Konvensi Notasi

Konvensi notasi dengan cara menuliskan pecahan-pecahan dengan cara menuliskan pembilangnya lebih dahulu kemudian penyebutnya.

Sementara anak panah menunjukkan arah proses yang dilakukan.

Contoh:

4. Analisis Kategorial Struktur Konstituen Poor John ran away.

Kalimat tersebut dapat dilakukan proses pembatalan. Ada 3 kemungkinan proses pembatalan dilakukan, yaitu:

1. poor dan John maka 2. John dan ran maka 3. ran dan away maka Akhirnya diperoleh ∑.

5. Perbandingan Analisis Struktur–Frasa dan Analisis Kategorial

Sebagaimana yang telah dinyatakan Leonard Bloomfield mengenai struktur kalimat bahwa Poor John run away terdiri atas 2 konstituen

langsung (poor John dan ran away) dan masing-masing teridiri atas 2 konstituen langsung (poor dan John, kemudian run dan away).

Berikutnya dapat pula dilakukan perbandingan analisis kategorial tersebut dengan analisis penjabaran sebagai berikut.

1. Analisis Kategorial Poor John ran away.

a. ∑ → FN + FV b. FV → Vintr + Adv c. FN → A + N 2. Analisis Penjabaran

Berdasarkan kedua analisis tersebut maka:

1. Analisis penjabaran menggunakan lambang FN dan FV serta N, Vintr, A dan Adv. Sementara analisis kategorial menggunakan lambang n, ∑ dan arah, seperti: dan .

2. Analisis kategorial lebih baik dari analisis penjabaran (Lyons, 1995:

226).

D. Konstruksi Endosentris dan Eksosentris

Konstruksi endosentris dibagi menjadi dua jenis, sebagai berikut.

1. Konstruksi endosentris koordinatif

Konstruksi endosentris koordinatif adalah konstruksi endosentris yang masing-masing memiliki konstituen yang sama atau kedua unsurnya merupakan unsur inti.

Contoh: berilmu lagi beriman putih dan bersih

2. Konstruksi endosentris subordinatif (memiliki unsur bawahan) Konstruksi endosentris subordinatif adalah konstruksi endosentris yang salah satu konstruksinya sama dengan salah konstituennya atau salah satu unsurnya merupakan unsur inti, sedangkan yang lain merupakan atribut.

Contoh:

sepatah kata = ( A + N) atau FN + Adv. (F.Adv.) saban bulan = ( A + N) atau FN + Adv. (F.Adv.) berbagai ragam = ( A + N) atau FN + Adv. (F.Adv.)

Sementara konstruksi eksosentris adalah konstituen yang tidak mengikuti atau berdistribusi sama dengan unsur pembentuknya.

Contoh:

di meja tentang linguistik menjelang siang

E. Pertanyaan

1. Jelaskan yang dimaksud dengan konstituen langsung!

2. Tuliskan sebuah contoh dalam bahasa Indonesia berkaitan dengan tata bahasa struktur-frasa!

3. Tuliskan yang sebuah model tata bahasa kategorial!

4. Tuliskan perbedaan beserta contoh tentang konstruksi endosentris dan eksosentris!

F. Tugas dan Latihan

Tuliskan sebuah contoh perbedaan analisis kategorial dan

Tuliskan sebuah contoh perbedaan analisis kategorial dan

Dalam dokumen BUKU PENGANTAR LINGUISTIK UMUM (Halaman 80-0)