• Tidak ada hasil yang ditemukan

BUKU PENGANTAR LINGUISTIK UMUM

N/A
N/A
iruham

Academic year: 2022

Membagikan "BUKU PENGANTAR LINGUISTIK UMUM"

Copied!
138
0
0

Teks penuh

(1)

w

(2)

w

(3)

w

(4)

w

Pengantar Linguistik umum

Drs. Suhardi, M.Pd.

Editor: Rose Kusumaning Ratri Proofreader: Nurhid Desain Sampul: TriAT

Desain Isi: Maarif Penerbit:

ar-ruzz media

Jl. Anggrek 126 Sambilegi, Maguwoharjo, Depok, Sleman, Jogjakarta 55282

Telp./Fax.: (0274) 488132 E-mail: [email protected]

ISBN: 978-602-7874-10-7 Cetakan I, 2013 Didistribusikan oleh:

ar-ruzz media Telp./Fax.: (0274) 4332044 E-mail: [email protected]

Perwakilan:

Jakarta: Telp./Fax.: (021) 7816218 Malang: Telp./Fax./: (0341) 560988

Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT) Suhardi

Pengantar Linguistik Umum/Suhardi-Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2013 140 hlm, 14,8 X 21 cm

ISBN: 978-602-7874-10-7 1. Bahasa

I. Judul II. Suhardi

(5)

PENGANTAR PENERBIT

B

ahasa adalah objek kajian dalam bidang ilmu linguistik.

Dalam perspektif ini, bahasa didefinisikan sebagai sistem lambang bunyi arbitrer yang digunakan oleh suatu masyarakat sosial untuk saling berkomunikasi, bekerja sama, dan mengidentifikasikan diri. Tokoh yang dianggap sebagai peletak dasar teori linguistik adalah Ferdinand de Saussure sehingga kepadanya disematkan julukan Bapak Linguistik Modern.

Perkembangan teori linguistik tidak lepas dari bingkai besar semangat paradigma strukturalisme yang hendak merumuskan bahwa kehidupan manusia memiliki sebuah struktur yang sama dan tetap.

Pada ranah sehari-hari, umat manusia hidup dalam peradaban dan kebudayaan yang berbeda-beda, tetapi tetap mempunyai kesamaan struktur. Term inilah yang hendak dibuktikan oleh para strukturalis.

Implikasinya, bahasa sebagai suatu realitas sosial dan bagian dari kebudayaan, kendati berbeda-beda tetap memiliki sebuah struktur tetap.

(6)

Bertitik tolak dari padangan tersebut, Saussure berteori tentang langue dan parole. Secara sepintas lintas langue adalah pengetahuan bahasa yang bersifat kolektif dalam suatu masyarakat, sedangkan parole adalah perwujudan dari langue pada masing-masing individu. Dua konsep tersebut ditambah dengan konsep langage yang dapat diartikan sebagai sistem bahasa pada manusia secara umum. Pada perkembangan selanjutnya, tradisi linguistik ini berkembang menurunkan tradisi semiologi di Eropa.

Jogjakarta, November 2012 Redaksi

(7)

PEGANTAR PENULIS

M

Penulis mengucapkan terima kasih kepada beberapa pihak yang telah membantu dalam penerbitan buku ini. Terutama kepada Bapak Prof. Dr. H. Maswardi M. Amin, M.Pd. (Rektor Universitas Maritim Raja Ali Haji). Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada penerbit AR-RUZZ Malang yang telah menerbitkan buku ini. Semoga kerja sama ini tetap terjalin dengan baik hingga masa datang.

Secara khusus, buku ini dipersembahkan kepada istriku Nelvizar Chandra dan anak-anakku Silvia Rahayu, Muhammad Ridho Ikram, ateri pengantar linguistik ini disusun dengan maksud membantu para mahasiswa untuk memperoleh bahan ajar linguistik sekaligus untuk menunjang pembelajaran linguistik di kelas sehingga berhasil guna sesuai tujuan kurikulum. Materi dasar yang disajikan dalam buku pengantar ini meliputi sejarah linguistik dan sedikit pengenalan tentang fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik. Hal ini penulis lakukan karena linguistik itu sendiri sebetulnya didukung oleh keempat bidang ilmu tersebut.

(8)

Abel Ramzy Iestin, dan Hafiz Taufiqul Rahman yang telah motivasi penulis selama ini. Selanjutnya, guna kesempurnaan buku ini di masa datang, penulis sangat mengharapkan sumbang saran pemikiran dari pembaca.“Tak Ada Gading yang Tak Retak”.

Tanjungpinang, 26 Oktober 2012

(9)

DAFTAR ISI

PENGANTAR PENERBIT ... 5

PEGANTAR PENULIS ... 7

BAB I PENDAHULUAN ... 13

A. Pengertian ... 13

B. Tata Istilah Linguistik ... 17

C. Teori Asal-Usul Bahasa ... 18

D. Hakikat Bahasa ... 21

E. Pertanyaan ... 22

F. Tugas dan Latihan ... 22

G. Sumber Bacaan ... 23

BAB II BIDANG KAJIAN LINGUISTIK ... 25

A. Kajian Linguistik ... 25

B. Analisis Leksikal dan Gramatikal ... 26

C. Kajian Fonologi, Morfologi, Sintaksis, dan Semantik ... 27

D. Linguistik Teoretis dan Terapan ... 28

(10)

E. Pertanyaan ... 29

F. Tugas/Latihan ... 29

G. Sumber Bacaan ... 29

Bab III TATA BAHASA TRADISIONAL YUNANI ... 31

A. Sejarah Tata Bahasa ... 31

B. Ciri-Ciri Khusus Tata Bahasa Tradisional ... 42

C. Pertanyaan ... 43

D. Tugas dan Latihan ... 44

E. Sumber Bacaan ... 44

Bab IV TATA BAHASA STRUKTURAL ... 45

A. Tokoh Tata Bahasa Struktural ... 45

B. Ciri-Ciri Tata Bahasa Struktural ... 47

C. Pertanyaan ... 48

D. Tugas dan Latihan ... 48

E. Sumber Bacaan ... 48

Bab V TATA BAHASA TRANSFORMASI ... 49

A. Tokoh Tata Bahasa Transformasi: Noam Chomsky ... 49

B. Perkembangan Tata Bahasa Transformasi ... 51

C. Ciri-Ciri Tata Bahasa Transformasi ... 55

D. Pertanyaan ... 55

E. Tugas dan Latihan ... 56

F. Sumber Bacaan ... 56

Bab VI TATA BAHASA RELASIONAL ... 57

A. Latar Belakang Perkembangan Tata Bahasa Relasional ... 57

(11)

B. Kerangka Teori Tata Bahasa Relasional ... 61

C. Tantangan Tata Bahasa Relasional ... 63

D. Pertanyaan ... 64

E. Tugas dan Latihan ... 65

F. Sumber Bacaan ... 65

Bab VII STRUKTUR BAHASA ... 67

A. Pendahuluan ... 67

B. Struktur Perbendaharaan Kata ... 68

C. Substansi dan Bentuk... 69

D. Hubungan Paradigmatik dan Sintagmatik ... 74

E. Struktur Statistik ... 75

F. Pertanyaan ... 76

G. Tugas dan Latihan ... 76

H. Sumber Bacaan ... 76

Bab VIII BUNYI-BUNYI BAHASA ... 77

A. Pendahuluan ... 77

B. Fonetik ... 79

C. Suara dan Tinggi Nada ... 80

D. Pertanyaan ... 82

E. Tugas dan Latihan ... 82

F. Sumber Bacaan ... 82

Bab IX SATUAN-SATUAN GRAMATIKAL ... 83

A. Pendahuluan ... 83

B. Morfem ... 86

C. Kata ... 87

D. Kalimat ... 90

E. Pertanyaan ... 92

(12)

F. Tugas dan Latihan ... 93

G. Sumber Bacaan ... 93

Bab X STRUKTUR GRAMATIKAL ... 95

A. Pendahuluan ... 95

B. Tata Bahasa Struktur-Frasa ... 97

C. Tata Bahasa Kategorial ... 100

D. Konstruksi Endosentris dan Eksosentris ... 103

E. Pertanyaan ... 104

G. Sumber Bacaan ... 105

Bab XI KATEGORIAL GRAMATIKAL ... 107

A. Deiksis ... 107

B. Kala, Modus, dan Aspek ... 108

C. Kelas Kata ... 109

D. Pertanyaan ... 109

E. Tugas dan Latihan ... 110

F. Sumber Bacaan ... 110

Bab XII PROSES MORFOLOGIS DAN MORFOFONEMIK 111

A. Proses Morfologis ... 111

B. Kata Majemuk ... 113

C. Proses Morfofonemik ... 116

D. Pertanyaan ... 131

E. Tugas dan Latihan ... 131

F. Sumber Bacaan ... 132

DAFTAR PUSTAKA ... 133

INDEKS ... 135

BIOGRAFI PENULIS ... 137

(13)

Bab I PENDAHULUAN

Setelah mempelajari materi ini diharapkan:

1. Mahasiswa dapat memahami tentang definisi linguistik umum.

2. Mahasiswa dapat memahami tentang tata istilah linguistik.

3. Mahasiswa dapat memahami tentang teori asal-usul bahasa.

4. Mahasiswa dapat memahami tentang hakikat bahasa.

A. Pengertian

Linguistik merupakan ilmu yang berkaitan dengan bahasa atau dapat disebut sebagai induk ilmu bahasa, seperti fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik. Sebagai ilmu bahasa umum, kata linguistik sering juga dipasangkan bersama kata umum sehingga menjadi linguistik umum, yaitu ilmu yang membahas tentang hal-hal yang berkaitan dengan bahasa secara umum.

Istilah linguistik yang telah digunakan oleh berbagai masyarakat bahasa saat ini sebetulnya merupakan hasil adopsi dari bahasa Inggris, yaitu dari kata linguistics yang kemudian diserap menjadi linguistik. Kata linguistik yang sudah sering kita gunakan dalam setiap pembelajaran bahasa sebetulnya berasal dari bahasa Latin, yaitu dari

(14)

kata lingua yang berarti bahasa. Kata lingua tersebut juga dapat kita jumpai dalam bahasa Prancis, yaitu langue, langage, atau language.

Kata yang sama juga dapat dijumpai dalam bahasa Italia, yaitu lingua dan dalam bahasa Spanyol, yaitu lengua. Bahasa Inggris sebetulnya meminjam istilah dari bahasa Prancis, yaitu language yang kemudian diubah menjadi linguistic.

Kata linguistik bila kita definisikan dapat diartikan sebagai ilmu bahasa yang membicarakan tentang bunyi bahasa (fonologi), bentuk kata (morfologi), kalimat (sintaksis), makna kata (semantik), dan konteks berbahasa. Sementara Lyons (1995: 1) mendefinisikan kata linguistik sebagai kajian bahasa secara ilmiah. Maksudnya adalah penyelidikan bahasa melalui pengamatan-pengamatan yang teratur dan secara empiris dapat dibuktikan benar atau tidaknya serta mengacu kepada suatu teori umum tentang struktur bahasa. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 1990: 527), kata linguistik didefinisikan sebagai ilmu tentang bahasa atau telaah bahasa secara ilmiah. Dari beberapa definisi yang telah dikemukakan tersebut maka kata linguistik dapat disimpulkan sebagai studi ilmu tentang bahasa.

Mengapa Linguistik Umum?

Jika kata linguistik dapat disimpulkan sebagai studi bahasa, kata linguistik umum dapat didefinisikan pula sebagai studi bahasa secara umum.Verhaar (1993: 2) mendefinisikan linguistik umum sebagai bidang ilmu yang tidak hanya menyelidiki suatu langue tertentu, tetapi juga memerhatikan ciri-ciri bahasa lain. Contohnya kita tidak dapat mempelajari morfologi bahasa Indonesia tanpa memiliki pengetahuan dasar morfologi bahasa lain. Verhaar menjelaskan lebih lanjut bahwa dalam setiap bahasa terdapat ciri-ciri tertentu yang juga dimiliki bahasa lain. Tidak ada di dunia ini orang yang menguasai seluruh bahasa.

Akan tetapi, seorang linguis sekurang-kurangnya secara reseptif harus menguasai satu atau lebih bahasa lain selain bahasanya sendiri.

(15)

Alwasilah (1993: 92) mengatakan bahwa jika kita membicarakan tentang linguistik umum (general linguistics), terdapat tiga hal yang tercakup di dalamnya. Ketiga hal yang dimaksud ialah (1) linguistik deskriptif; (2) linguistik historis; (3) linguistik komparatif.

1. Linguistik Deskriptif

Linguistik deskriptif adalah studi bahasa untuk memberikan deskripsi (gambaran) berkaitan dengan proses kerja dan penggunaan bahasa oleh penuturnya pada kurun waktu tertentu (deskripsi sinkronik). Studi bahasa sinkronik ini tidak terbatas pada bahasa yang masih hidup, tetapi juga bisa pada bahasa yang sudah mati asalkan memiliki dokumen tertulis yang lengkap. Misalnya, tentang studi dialek masyarakat di Pulau Penyengat atau studi dialek suku anak Laut di Lingga.

Menurut Gleason, studi deskriptif sinkronik dapat dibagi atas dua jenis, yaitu studi fonologi dan studi grammar. Keduanya dapat diuraikan sebagai berikut.

(1) Studi Fonologi

Fonologi adalah ilmu bahasa yang mengkaji tentang bunyi- bunyi bahasa. Alwasilah (1993: 105) mendefisinikan fonologi adalah ilmu bahasa yang membicarakan bunyi-bunyi bahasa tertentu dan mempelajari fungsi bunyi untuk membedakan atau mengidentifikasi kata-kata tertentu. Kemudian, Alwasilah mendefinisikan lebih lanjut untuk memperkuat pandangannya mencoba membandingkan antara fonologi dengan fonetik.

Fonetik menurut Alwasilah maknanya lebih luas dari fonologi.

Fonetik tidak hanya membatasi diri pada kajian bunyi-bunyi bahasa tertentu, tetapi semua bahasa. Sementara ahli linguistik lain mendefinisikan bahwa fonetik dan fonemik merupakan bagian dari kajian fonologi. Fonetik berkaitan dengan studi melahirkan

(16)

bunyi bahasa, sementara fonemik merupakan studi bahasa tentang fonem/huruf.

Selain Alwasilah, Verhaar juga mengemukakan pandangannya tentang fonetik. Menurut Verhaar, fonetik jika diklasifikasikan lebih lanjut dapat dikelompokkan atas tiga jenis, yaitu (1) fonetik akustik; (2) fonetik auditoris; (3) fonetik organis. Penjelasan tentang masing-masing jenis fonetik akan dibahas pada bab VIII.

(2) Studi Grammar/Gramatika

Kata grammar berasal dari bahasa Inggris yang berarti aturan atau kaidah berbahasa. Dalam studi bahasa Indonesia, kata grammar identik dengan kata tata bahasa. Contoh tata bahasa baku bahasa Indonesia. Dengan demikian, gramatika merupakan alat penting berbahasa yang baik.

Begitu luasnya makna yang diacu oleh kata grammar maka lahirlah beberapa istilah, seperti berikut.

(a) Pedagogical grammar, gramatika yang disusun untuk maksud pengajaran.

(b) Scientific grammar, gramatika yang berfungsi untuk menyelidiki bahasa secara umum atau atau satu bahasa tertentu saja.

(c) Synchronic grammar, gramatika yang menjelaskan bahasa pada masa tertentu.

(d) Diachronics grammar, gramatika yang menjelaskan perkembangan bahasa.

(e) Comparative grammar, gramatika yang membandingkan dua bahasa atau lebih.

(f) Formal grammar, gramatika yang kajiannya dilandaskan sepenuhnya pada bentuk-bentuk pemakaian bahasa yang teramati.

(17)

(g) National grammar (philosophical grammar), gramatika yang melandaskan kajiannya pada makna bukan bentuk.

(h) Universal grammar, gramatika yang mencoba menyusun peraturan yang berlaku umum untuk setiap bahasa.

2. Linguistik Historis (Linguistik Diakronik)

Linguistik historis (diacronics linguistics) adalah salah satu cabang linguistik yang membicarakan tentang perkembangan sejarah bahasa tertentu. Mulai dari masa silam hingga kini. Perkembangan sejarah bahasa minimal atas 2 tahapan, misalnya dari zaman Orde Lama hingga Orde Baru atau sekarang. Perubahan yang terjadi mencakup apa saja, baik secara secara kualitas maupun kuantitas. Perubahan tersebut mencakup internal history dan exsternal history. Internal history mencakup perubahan bunyi, struktur kalimat, kosakata, dan sebagainya. Sementara external history mencakup hal-hal yang berkaitan dengan latar belakang terjadinya perubahan tersebut, misalnya berkaitan dengan nonlinguistik seperti faktor politik, sosial budaya, geografis, dan sebagainya.

3. Linguistik Komparatif

Linguistik Komparatif menurut Alwasilah (1993: 95) adalah kajian atau studi bahasa yang meliputi perbandingan bahasa-bahasa serumpun atau perkembangan sejarah satu bahasa. Alwasilah menjelaskan lebih lanjut bahwa studi komparatif bahasa tidak selalu diakronik, tetapi bisa saja sinkronik, seperti studi antara dua dialek (dialektologi) atau studi antara dua bahasa yang berbeda (linguistik kontrasif).

B. Tata Istilah Linguistik

Istilah-istilah teknis yang dipakai para linguis muncul pada waktu mereka sedang bekerja dan mudah dipahami oleh mereka yang

(18)

mendekati bidang studi linguistik dengan simpati dan tanpa prasangka.

Istilah-istilah seperti, kata, suku kata, kalimat, kata benda/nomina, kata kerja, dst., asal mulanya adalah istilah-istilah teknis tata bahasa tradisional. Sementara seorang linguis kontemporer pasti membutuhkan istilah-istilah baru sebagai ganti istilah yang sudah ada.

Istilah baru itu dibutuhkan mungkin karena para linguis kontemporer menganggap istilah yang sudah ada tidak tepat mewakili sesuatu secara ilmiah. Oleh sebab itulah, linguistik modern dianggap jauh lebih maju bila dibandingkan dengan tata bahasa tradisional, khsususnya dalam menyusun struktur bahasa.

C. Teori Asal Usul Bahasa

1. Menurut Teori Tradisional a. Pooh-Pooh Theory

Teori Poh-Poh (Pooh-Pooh Theory) dikemukakan oleh Charles Darwin (1809−1882) dalam Descent of Man (1871). Sementara penamaan teori ini diajukan oleh Max Muller (1823−1900), salah seorang ahli filologi berkebangsaan Jerman. Menurut Darwin, kualitas bahasa manusia dibandingkan suara binatang berbeda dalam tingkatannya saja. Bahasa manusia seperti halnya manusia sendiri berasal dari bentuk yang primitif, barangkali dari ekspresi emosi saja. Misalnya, perasaan jengkel atau jijik diucapkan dengan mengeluarkan udara dari hidung dan mulut.

Bunyi yang dikeluarkan terdengar seperti poh atau pish. Maka, Max Muller menyebut teori ini dengan Pooh-Pooh Theory.

Teori ini kemudian ditentang oleh Edward Sapir (1884−1939) dari Amerika Serikat (Alwasilah: 1993: 3).

b. Ding-Dong Theory

Ding-Dong Theory diperkenalkan oleh Max Muller (1823−1900).

Teori ini disebut juga dengan istilah Nativistic Theory. Teori

(19)

yang dikemukakan oleh Max Muller ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh Socrates bahwa bahasa lahir secara alamiah. Menurut teori ini, manusia memiliki insting yang istimewa untuk mengeluarkan ekspresi ujaran bagi setiap kesan sebagai stimulus dari luar. Kesan yang diterima melalui indra, laksana pukulan pada bel hingga melahirkan ucapan yang sesuai. Sewaktu orang primitif dahulu melihat seekor srigala, pandangannya ini menggetarkan bel yang ada pada dirinya secara insting sehingga terucapkanlah kata wolf (serigala).

Namun pada akhirnya Muller juga menolak teori yang telah dikemukakannya.

c. Yo-he-ho Theory

Yo-he-ho Theory tidak diketahui orang pertama yang mengemukakannya. Menurut teori ini, bahasa pertama lahir dalam suatu kegiatan sosial. Pada zaman dahulu, sekelompok orang primitif bekerja sama secara sosial sehingga pada kegiatan tersebut melahirkan bahasa. Kita pun juga melakukan kerja sama dalam hidup, seperti saat akan mendorong mobil yang mogok secara bersama-sama kita mengeluarkan ucapan bersama (1, 2, 3...). Orang primitif dahulu juga sama. Sewaktu mereka akan bekerja, pita suara mereka bergetar lalu melahirkan ucapan khusus untuk setiap tindakan. Ucapan yang dilahirkan tersebut akhirnya menjadi sebuah penamaan, seperti heave (angkat), rest!

(diam), dan sebagainya.

d. Bow-Bow Theory

Bow-Bow Theory disebut juga dengan onomatopoetic atau Echoic Theory. Menurut Bow-Bow Theory, kata-kata yang pertama lahir adalah tiruan terhadap suara guntur, angin, ombak, air sungai, suara kokok ayam atau bunyi itik. Max Muller kemudian membantah bahwa teori ini hanya berlaku

(20)

bagi kokok ayam dan itik sementara komunikasi bahasa lebih banyak terjadi di luar kandang.

e. Gesture Theory

Menurut Gesture Theory, isyarat mendahului ujaran. Para pendukung teori ini menunjukkan penggunaan isyarat oleh berbagai binatang dan juga sistem isyarat yang dipakai oleh orang-orang primitif. Salah satu contoh adalah bahasa isyarat yang dipakai oleh suku Indian di Amerika Utara. Sewaktu berkomunikasi dengan suku-suku yang tidak sebahasa, menurut Darwin, walaupun isyarat itu digunakan dalam berkomunikasi, dalam beberapa hal tidak dapat dipakai.

Umpamanya orang tidak bisa berisyarat di tempat gelap atau kalau kedua tangan sibuk membawa sesuatu, atau kalau lawan bicara tidak melihat isyarat. Dalam kondisi demikian, orang primitif harus berkomunikasi dengan isyarat lisan. Dari sinilah bahasa lisan mulai berkembang.

2. Menurut Pendekatan Modern

Selanjutnya, menurut pendekatan modern, manusia dilahirkan sempurna. Manusia memiliki perlengkapan fisik untuk berbicara.

Otto Jespersen (1860−1943) menyatakan bahwa ada persamaan perkembangan antara bahasa bayi dengan manusia primitif. Bahasa manusia primitif hampir tidak mempunyai arti seperti lagu saja.

Hal ini sebagaimana ucapan-ucapan bayi. Namun lama kelamaan, ucapan tersebut berkembang menjadi sempurna. Contohnya saat bayi mengucapkan:

mma --- untuk mama dan makan --- terus menjadi sempuna:

mama dan makan

pis --- untuk menyatakan pipis --- terus sempurna menjadi:

pipis

(21)

D. Hakikat Bahasa

1) Bahasa adalah sistematik, yaitu memiliki aturan atau pola. Aturan tersebut dapat dilihat melalui 2 hal, yaitu sistem bunyi dan sistem makna.

2) Bahasa adalah manasuka (arbitrer) dan konvensi (persetujuan).

Pada awalnya, bahasa memang manasuka. Akan tetapi, karena perkembangannya sudah berurat dan berakar maka yang manasuka tersebut menjadi kebiasaan kemudian menjadi aturan yang tetap atau menjadi sebuah sistem. Contoh binatang tertentu di Indonesia disebut anjing, di Inggris disebut dog, di Makkah kalbun.

3) Bahasa adalah ucapan/vokal.

4) Bahasa adalah simbol, yaitu simbol makna/pesan yang disampaikan.

5) Bahasa mengacu pada dirinya, yaitu dapat dianalisis untuk memahami bahasa tersebut.

6) Bahasa adalah manusiawi, yaitu alat komunikasi yang digunakan manusia. Binatang tidak bisa berbahasa.

7) Bahasa adalah komunikasi, yaitu alat komunikasi.

Catatan:

• Bahasa dan manusia adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan karena keduanya berkembang secara bersama-sama. Lihat saja bahasa yang digunakan bayi sewaktu baru lahir hingga ia menjadi anak-anak, remaja kemudian dewasa. Seiring sempurnanya pertumbuhan fisik maka perkembangan bahasa yang digunakan semakin baik, kecuali bila bayi yang baru lahir mengalami cacat fisik.

• Bahasa bagi manusia merupakan alat untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya kepada orang lain atau lawan bicara.

Pikiran tersebut muncul karena adanya adaptasi atau reaksi

(22)

dari luar diri manusia itu sendiri, misal adanya rangsangan dari lingkungan sekitar. Hal ini sebagaimana yang diungkapkan Fred West (1957) dalam bukunya The Way of Language An Introduction bahwa ujaran, seperti halnya bahasa adalah hasil kemampuan manusia untuk melihat gejala-gejala sebagai simbol-simbol dan keinginannya untuk mengungkapkan simbol-simbol itu.

• Sebagai makhluk sosial, manusia membutuhkan orang lain untuk bekerja sama dan membagi rasa atau permasalahan. Hal itu disampaikan melalui ujaran.

E. Pertanyaan

1. Setelah Saudara mempelajari beberapa definisi yang dikemukakan para ahli linguistik (linguis) berkaitan dengan kata linguistik, apa kesimpulan yang dapat Saudara ambil? Jelaskan!

2. Dari beberapa teori asal-usul bahasa yang dikemukakan beberapa ahli linguistik, manakah yang lebih mendekati kebenarannya?

Jelaskan!

3. Jelaskan yang dimaksud bahasa adalah sistematis!

4. Jelaskan beberapa istilah berikut ini berdasarkan bahasa pemahaman Saudara dengan singkat dan tepat!

a. linguistik deskriptif b. linguistik historis c. linguistik komparatif

F. Tugas dan Latihan

Carilah gambar atau foto yang berkaitan dengan proses berbahasa (fonetik auditoris dan fonetik organis), kemudian scan gambar tersebut untuk diserahkan dalam bentuk soff copy!

(23)

G. Sumber Bacaan

1. Pengantar Linguistik oleh Prof. Dr. J.W.M. Verhaar.

2. Fonetik oleh Marsono.

3. Linguistik Suatu Pengantar oleh A. Chaedar Alwasilah.

4. Pengantar Teori Linguistik: Introduction to Theoretical Linguistics oleh John Lyons.

5. PELLBA 9.

(24)

w

(25)

Bab II

BIDANG KAJIAN LINGUISTIK

Setelah mempelajari materi ini diharapkan:

1. Mahasiswa dapat memahami tentang beberapa bidang kajian linguistik.

2. Mahasiswa dapat memahami tentang linguistik sinkronis dan diakronis.

3. Mahasiswa dapat memahami tentang analisis leksikal dan gramatikal.

4. Mahasiswa dapat memahami fonetik, fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik.

5. Mahasiswa dapat memahami linguistik teoretis dan linguistik terapan.

A. Kajian Linguistik

Berdasarkan studi komparatif, kajian linguistik dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu (1) kajian linguistik sinkronis dan (2) kajian linguistik diakronis (Verhaar, 1993: 6). Kedua kajian tersebut dapat diuraikan sebagaimana berikut ini.

Istilah sinkronis dan diakronis dalam kajian linguistik pertama kali diperkenalkan oleh Bapak linguistik dunia, yaitu Ferdinand de Saussure. Kata sinkronis dan diakronis diambil dari bahasa Latin. Secara etimologi, kata sinkronis berasal dari dua kata, yaitu sin dan kata kronos.

Syn berarti dengan, bersama sementara kronos adalah waktu atau masa.

Dengan demikian, sinkronis adalah dengan atau bersama waktu. Dalam

(26)

makna luas, linguistik sinkronis adalah kajian linguistik berdasarkan satu waktu atau satu masa tertentu saja. Contoh kajian tentang Ejaan van Ophuysen, EYD, kajian tentang bentuk-bentuk sastra lama, dan sebagainya.

Selanjutnya, kata diakronis menurut etimologi berasal dari dua akar kata, yaitu dia dan kronos. Dia berarti melalui, sedangkan kronos adalah waktu atau masa. Dengan demikian, kata diakronis berarti melalui waktu atau masa. Sementara dalam makna luas, linguistik diakronis adalah kajian bahasa yang menggunakan dua waktu (studi komparatif). Contoh studi komparatif tentang Ejaan van Opuysen dan Ejaan Suwandi; studi Komparatif tema sastra lama dan sastra baru atau sastra baru dan sastra modern, dan sebagainya.

B. Analisis Leksikal dan Gramatikal

Analisis leksikal dapat diterjemahkan sebagai analisis berdasarkan unsur perbendaharaan kata atau analisis berdasarkan leksikon atau boleh juga disebut analisis berdasarkan kata menurut makna kamus.

Sementara yang dimaksud dengan analisis gramatikal adalah analisis berdasarkan unsur ketatabahasaan (grammar). Setiap bahasa dapat dianalisis berdasarkan kedua unsur tersebut, baik dari sudut pandang leksikal maupun ketatabahasaan. Bentuk-bentuk analisis leksikon dan gramatikal tersebut dapat dilihat sebagai berikut.

1. Analisis Leksikon Contoh:

a. Saya membaca novel.

saya = aku, hamba, beta

mem(baca) = melafalkan huruf demi huruf (bisa bersuara atau tidak)

novel = sejenis bentuk buku sastra

(27)

b. Kami pergi rekreasi.

kami = KB pergi = KK rekreasi = K Ket.

2. Analisis Gramatikal Contoh:

a. Saya membaca novel. (SPO)

b. Kami pergi rekreasi. (KB + KK + KB)

C. Kajian Fonologi, Morfologi, Sintaksis, dan Semantik

Sebagaimana yang sudah dijelaskan terlebih dahulu bahwa kajian linguistik tidak lepas dari kajian yang berhubungan dengan (1) fonologi; (2) morfologi; (3) sintaksis; kajian (4) semantik. Bahkan perkembangan terbaru, dari empat bidang kajian linguistik tersebut terdapat dua jenis bidang kajian yang juga termasuk bidang linguistik, yaitu (5) kajian wacana atau discourse dan (6) kajian pragmatik.

1. Fonologi

Kajian fonologi adalah kajian lanjutan setelah bidang linguistik dipahami dengan baik. Kajian fonologi adalah kajian yang berkaitan dengan bunyi-bunyi bahasa yang dilahirkan oleh alat ucap manusia secara umum. Sementara kajian khususnya berkaitan dengan kajian fonetik dan fonemik. Kedua bidang ilmu ini merupakan bagian dari fonologi.

Fonetik adalah kajian bunyi bahasa dilihat dari bagaimana bunyi bahasa dihasilkan oleh perangkat alat ucap manusia (artikulator dan artikulasi). Sementara fonemik adalah kajian bunyi bahasa yang berkaitan dengan bagaimana satu bunyi bahasa dilambangkan oleh satu fonem atau satu lambang bunyi bahasa. Kajian fonemik dapat juga dikatakan sebagai kajian yang berkaitan dengan lambang-lambang bunyi bahasa (abjad).

(28)

2. Morfologi

Kajian morfologi merupakan kajian lanjutan setelah fonologi.

Kajian morfologi dapat dilakukan setelah memahami fonologi dengan baik. Biasanya mahasiswa boleh mengambil dan mengikuti mata kuliah morfologi setelah mereka lulus mata kuliah fonologi. Morfologi adalah kajian bahasa dari bentuk kata. Objek kajian morfologi ada dua, yaitu kajian terbesarnya adalah kata dan kajian terkecilnya adalah morfem (bebas dan terikat). Penggolongan morfem bebas adalah semua bentuk kata dasar, sedangkan yang termasuk morfem terikat adalah semua bentuk afiks dan kata hubung, kata depan, dan sebagainya.

3. Sintaksis

Sama halnya dengan fonologi dan morfologi, sintaksis juga merupakan kajian lanjutan dari morfologi. Maksudnya, kajian sintaksis dapat dilakukan setelah memahami bidang kajian morfologi. Sintaksis adalah kajian bahasa yang berkaitan dengan kalimat atau bentuk- bentuk kalimat. Dalam kajian sintaksis ini nantinya akan dijumpai istilah-istilah, seperti kalimat tunggal, kalimat majemuk, kalimat minor dan kalimat mayor, kalimat efektif, kalimat efisien, kalimat inversi, dan sebagainya.

4. Semantik

Semantik juga merupakan kajian lanjutan setelah melakukan kajian sintaksis. Kajian semantik adalah kajian yang berkaitan dengan makna. Dalam bidang ini akan dijumpai makna leksikal, gramatikal, asosiatif, dan sebagainya.

D. Linguistik Teoretis dan Terapan

Bidang ilmu linguistik dari segi jenisnya juga dapat dikelompokkan atas dua jenis, yaitu linguistik teoretis dan linguistik terapan.

(29)

Selain istilah linguistik sinkronis dan diakronis, juga dijumpai istilah linguistik teoretis dan linguistik terapan. Istilah linguistik teoritis muncul disebabkan fungsi dominan dari teori-teori linguistik itu sendiri dan terlepas dari penerapannya di dalam masyarakat. Sementara linguistik terapan adalah sebaliknya, yaitu bagaimana teori-teori linguistik diterapkan dalam kajian bahasa oleh masyarakat.

E. Pertanyaan

1. Jelaskan perbedaan antara lingistik sinkronis dan diakronis!

2. Jelaskan perbedaan antara analisis leksikal dan analisis gramatikal!

3. Jelaskan yang dimaksud:

a. fonetik!

b. fonemik!

c. fonologi!

d. morfologi!

e. sintaksis!

f. semantik!

4. Jelaskan beda linguistik teoretis dan linguistik terapan!

F. Tugas/Latihan

Buatlah analisis sederhana berkaitan dengan linguistik sinkronik dan diakronik tentang bahasa apa saja yang Saudara kuasai!

G. Sumber Bacaan

1. Pengantar Linguistik oleh Prof. Dr. J.W.M. Verhaar.

2. Fonetik oleh Marsono.

3. Linguistik Suatu Pengantar oleh A. Chaedar Alwasilah.

4. Pengantar Teori Linguistik: Introduction to Theoretical Linguistics oleh John Lyons.

5. PELLBA 9.

(30)

w

(31)

Bab III

TATA BAHASA TRADISIONAL YUNANI

Setelah mempelajari materi ini diharapkan:

1. Mahasiswa dapat memahami tentang sejarah Tata Bahasa Yunani (TBY).

2. Mahasiswa dapat memahami tentang ciri-ciri TBY.

A. Sejarah Tata Bahasa

1. Asal-Usul Filosofis Tata Bahasa Tradisional

Tata bahasa tradisional sudah ada sejak zaman Yunani, pada abad ke-5 SM. Bagi orang-orang Yunani, tata bahasa merupakan bagian dari filsafat. Artinya, tata bahasa merupakan bagian dari keluasan pengamatan mereka terhadap sifat-sifat alam di sekitar mereka dan lembaga-lembaga sosial mereka sendiri.

2. Sifat Alam dan Konvensi pada Bahasa

Para filsuf Yunani memperdebatkan apakah bahasa dipengaruhi oleh alam atau konvensi. Jika suatu lembaga bersifat alami, lembaga tersebut berasal dari asas-asas yang abadi dan tidak berubah di luar

(32)

manusia itu sendiri (tak dapat diganggu gugat). Sebaliknya, jika suatu lembaga bersifat konvensional, lembaga tersebut berasal dari kebiasaan dan tradisi (persetujuan yang tak terucapkan, perjanjian sosial, perjanjian yang dapat dibatalkan sebab merupakan hasil perbuatan manusia sendiri).

Diskusi tentang apakah bahasa bersifat alam atau konvensi, dilanjutkan dengan pertanyaan, apakah ada hubungan antara arti sebuah kata dan bentuknya? Cratylus, filsuf Yunani beraliran naturalis, berpendapat bahwa semua kata secara alamiah memang sesuai dengan yang ditandainya. Hal itu dapat dibuktikan oleh mereka melalui praktik yang mereka sebut dengan istilah etimologi. Kata etimologi berasal dari kata etymo yang mengandung arti benar atau nyata. Sebuah kata mengungkapkan salah satu kebenaran alam. Para filsuf Yunani/Stoa melakukan berbagai cara untuk membuktikan apakah sebuah kata secara alamiah sesuai dengan artinya.

Misalnya dalam bahasa Inggris:

a. neigh (ringkik).

b. crash (bunyi benturan) --- merupakan tiruan bunyi yang diacu.

c. tinkle (bunyi denting).

Contoh yang sama dalam bahasa Indonesia:

a. Musik dangdut

Dangdut adalah suara gendang waktu ditepuk. Musik Dangdut adalah aliran musik di Indonesia yang penamaannya dilatarbelakangi oleh dominasi suara gendang.

b. ‘ih’ menyatakan jijik.

Istilah dalam bahasa Yunani terhadap kasus tersebut adalah onomatope, yaitu pembuatan nama-nama yang meniru bunyi-bunyi yang ditandainya. Pandangan ini dipertahankan oleh kaum naturalis

(33)

Yunani (khususnya filsuf-filsuf Stoa) bahwa kata-kata semacam itu merupakan perangkat nama yang menjadi dasar perkembangan bahasa.

Hubungan dasar antara kata dan artinya adalah hubungan “penamaan”.

Pada mulanya, kata-kata adalah tiruan barang-barang yang dinamai onomatope, yaitu inti perbendaharaan kata. Namun, kata-kata yang tergolong onomatope sangat terbatas jumlahnya.

Ada 2 prinsip dasar dalam etimologi, sebagai berikut.

(1) Arti sebuah kata mungkin menjadi lebih luas karena hubungan alamiah antara pemakaian pertama kali dan perkembangan selanjutnya.

(2) Bentuk sebuah kata mungkin berasal dari bentuk kata lain melalui penambahan, pelesapan, subsitusi, dan transposisi bunyi-bunyi (afiksasi atau asimilasi).

Menurut kaum naturalis asas (2) di atas merupakan asas utama yang mampu mempertahankan pandangan bahwa bahasa bersumber dari hubungan alamiah yang mampu membentuk semua kata.

3. Kaum Analogis dan Kaum Anomalis

Pertentangan antara kaum naturalis dan kaum konvensionalis berlangsung berabad-abad dan memengaruhi semua spekulasi mengenai asal mula bahasa dan hubungan antara kata-kata dengan artinya. Semua itu penting bagi perkembangan teori tata bahasa karena menyebabkan adanya studi-studi etimologi yang mendorong minat para sarjana untuk menggolongkan hubungan antara kata-kata dan menempatkan studi bahasa dalam kerangka studi filsafat pada umumnya.

Pertentangan antara kaum naturalis dengan konvensionalis terus berlanjut sampai kepada aspek keteraturan bahasa, yaitu apakah bahasa teratur atau tidak. Perdebatan ini terjadi sejak abad ke-2 SM sebagaimana dalam bahasa Inggris.

(34)

a. boy : boys, b. girl : girls c. cow : cows

Berkaitan dengan permasalahan pola teratur atau tidak suatu kata, dalam Bahasa Yunani diistilahkan analogis dan anomalis. Bagi kaum analogis menganggap bahwa bahasa pada hakikatnya sistematis atau teratur. Sementara kaum anomalis menganggap bahasa pada hakikatnya tidak sistematis atau tidak teratur.

Kaum analogis mencurahkan perhatiannya untuk menetapkan berbagai model yang dapat dijadikan acuan bagi penggolongan kata- kata yang teratur dalam bahasa. Sementara kelompok anomalis tidak menyangkal adanya keteraturan dalam pembentukan kata-kata dalam bahasa. Akan tetapi, banyak contoh yang menunjukkan ketidakteraturan dalam pembentukan kata-kata. Oleh sebab itu, penalaran analogis tidak ada gunanya. Contohnya kata child dengan children. Kaum anomalis juga menunjukkan kenyataan bahwa hubungan antara bentuk kata dan artinya sering tidak teratur. Contohnya kata athena dalam bahasa Yunani menunjukkan bentuk jamak, walaupun tanpa ada diikuti bentuk jamak seperti /s/. Contoh lain, seperti sinonim (dua kata atau lebih yang memiliki arti yang sama), homonim (satu bentuk dengan dua arti kata).

Dengan demikian, kaum anomalis berkesimpulan, sebagai berikut.

(a) Jika bahasa benar-benar hasil konvensi manusia, seseorang tidak akan mengharapkan adanya berbagai macam ketidakteraturan itu; dan jika ada harus dibetulkan.

(b) Bahasa sebagai hasil dari ”alam”, hanya sebagian dapat diuraikan menurut pola-pola pembentukan.

(35)

Pertentangan antara kaum analogis dan anomalis tidak menemui kesepakatan secara tuntas disebabkan hal-hal berikut.

(a) Pembedaan antara tata bahasa deskriptif dan preskriptif (normatif) tidak ditegaskan (bagaimana orang benar-benar berbicara dan menulis, bagaimana seorang harusnya berbicara dan menulis). Oleh karena itu, kaum analogis cenderung membetulkan setiap ketidakteraturan yang mereka jumpai, bukannya mengubah pikiran mereka mengenai sifat bahasa.

(b) Ketidakteraturan hanya dapat ditentukan dengan mengacu kepada keteraturan. Apa yang tidak teratur dari sudut pandang, mungkin dianggap teratur dari sudut pandang lain.

Perbedaan pandangan antara kaum analogis dan anomalis dalam sejarah linguistik bukanlah sesuatu yang tidak berguna. Minimal dari perbedaan pandangan kedua kelompok tersebut, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa dalam bahasa ada bentuk keteraturan dan ada pula bentuk yang tidak teratur, seperti dalam bahasa Inggris kita mengenal bentuk reguler verb dan irreguler verb.

Dengan demikian, kaum analogis telah memberikan sumbangan pemikiran yang baik terhadap sistematisasi tata bahasa. Begitu juga kelompok anomalis (terutama kelompok Stoa) telah meletakkan asas-asas tata bahasa tradisional berkaitan karya mereka tentang

“etimologi”.

Kelompok Stoa (anomalis) dan kelompok Iskandaria memiliki perbedaan pandangan, terutama dalam melihat bahasa. Kelompok Stoa lebih tertarik pada masalah filsafat bahasa, yaitu berkaitan dengan asal usul bahasa, logika, dan retorika. Sementara kelompok Iskandaria lebih tertarik pada kritik sastra. Oleh sebab itu, para sarjana Iskandaria lebih banyak meneliti pada naskah-naskah sastra klasik (kesastraan masa lalu).

(36)

Ahli-ahli tata bahasa berikutnya mengakui pandangan kedua kelompok tersebut dan menggunakan asas-asas teorinya dalam analisis bahasa. Selanjutnya, para linguis modern mengklaim bahwa mereka telah mencapai sedikit kemajuan dibandingkan ahli tata bahasa tradisional dalam memecahkan persoalan tata bahasa daripada kedua kelompok tersebut.

4. Zaman Iskandaria

Dengan berdirinya sebuah perpustakaan terlengkap dan terbesar di Iskandaria (daerah koloni Yunani permulaan abad ke-3 SM), Iskandaria menjadi pusat penelitian sastra dan linguistik yang cukup maju pada saat itu. Karya-karya sastra seperti sajak-sajak karya Homerus, penyair Yunani, masa lalu yang karya-karyanya sudah banyak yang rusak mulai diperbaiki. Bahkan, para sarjana linguistik saat itu juga melakukan klasifikasi antara karya asli dan saduran.

Adanya pembacaan dan pendalaman kembali terhadap karya-karya sastra masa lalu menyebabkan lahir kebiasaan para sarjana linguistik Iskandaria membuat komentar-komentar singkat berkaitan dengan tata bahasa yang digunakan oleh para sastrawan Yunani dalam beberapa karya sajak-sajaknya. Efek lain yang timbul selanjutnya adalah lahirnya anggapan bahwa bahasa tulis yang digunakan para sastrawan/penyair Yunani masa lalu lebih baik (murni dan benar), dibandingkan bahasa percakapan yang digunakan oleh masyarakat Iskandaria dan di pusat- pusat studi Helenistik (bahasa dan sastra) lainnya.

Dari beberapa pandangan sarjana Helenistik Iskandaria tersebut tercermin ada dua hal yang ingin dicapai, sebagai berikut.

1. Melestarikan bahasa Yunani agar tidak dirusak oleh orang-orang yang tidak memiliki pengetahuan tentang bahasa dan sastra.

2. Menjelaskan tentang kepiawaian para sastrawan/penyair klasik Yunani dalam pemilihan kata-kata pada karya-karya sajaknya.

(37)

Para sarjana linguistik Iskandaria sejak awal lebih tertarik dan banyak memberikan perhatian pada bahasa tulis. Contohnya, penggunaan istilah grammar dalam studi bahasa. Kata grammar dikutip dari Bahasa Yunani yang berarti seni menulis. Berkaitan dengan bahasa tulis ini, menurut para linguistik Iskandaria, tidak ada perbedaan nyata antara bahasa tulis dengan bahasa lisan. Bahasa tulis diturunkan dari bahasa lisan. Pandangan tersebut jelas-jelas merupakan pandangan yang keliru. Pandangan keliru lainnya adalah kalangan linguistik Iskandaria menganggap bahwa bahasa yang digunakan para penulis Attica abad ke-5 SM lebih benar dibandingkan bahasa percakapan yang digunakan mereka sendiri. Mereka menganggap bahwa kemurnian suatu bahasa akan terjaga jika digunakan oleh kaum terpelajar begitu juga sebaliknya. Bahasa Yunani yang digunakan oleh Plato lebih murni bila dibandingkan dengan bahasa yang digunakan seorang yang buta huruf di Iskandaria. Pandangan para linguistik Iskandaria berkaitan dengan kebenaran dan kemurnian tetap dipegang dan dipercayai hingga dua ribu tahun berikutnya. Selama itu pula tidak ada para linguistik lain yang berani memprotesnya.

5. Zaman Romawi

Tata bahasa Yunani tidak hanya memengaruhi Iskandaria, tetapi juga tata bahasa Latin, terutama pada karya-karya seni, sastra, dan ilmu pengetahuan. Sejak abad ke-2 SM, para aristokrat Romawi dengan penuh gairah mengikuti kebudayaan Yunani dan metode-metode pendidikan Yunani. Anak-anak mereka sejak awal sudah dididik dalam hal membaca, berbicara dan menulis dalam bahasa Yunani dan Latin.

Oleh sebab itu, tidak mengherankan jika para ahli tata bahasa Latin memiliki ketergantungan pada model-model Yunani. Begitu juga dengan pengaruh Iskandaria dan Stoa juga terlihat pada karya Varro mengenai bahasa Latin.

(38)

Di Roma, studi tata bahasa tetap sebagai alat bantu studi filsafat, kritik sastra, dan retorika. Pada masa ini, pertentangan pandangan antara kaum analogis dan anomalis tetap dihidupkan dan ciri-ciri tata bahasa Latin juga banyak dibicarakan di antara pencinta bahasa, sastra, dan filsafat. Bahkan, Caesar, seorang tokoh militer Roma, menulis buku berkaitan dengan antologi sebagai persembahan untuk Cicero.

Besarnya pengaruh tata bahasa Yunani terlihat jelas pada salah satu tata bahasa khas Romawi, yaitu tata bahasa Dionysius Thrax. Tata bahasa ini terdiri atas 3 bagian, sebagai berikut.

a. Bagian pertama: menentukan lingkup tata bahasa sebagai seni berbicara yang benar dan alat untuk memahami para penyair, dan membicarakan huruf serta suku kata.

b. Bagian kedua: membicarakan kelas kata, sedikit banyak lebih terperinci, variasi-variasinya menurut kala, jenis, jumlah, dan kasus.

c. Bagian ketiga: gaya yang baik dan yang buruk; peringatan kesalahan-kesalahan umum dan barbarisme dan contoh-contoh kiasan yang dianjurkan.

6. Zaman Abad Pertengahan

Pada Abad Pertengahan ditandai dengan semakin tingginya kedudukan bahasa Latin dalam kehidupan masyarakat Eropa. Bahasa Latin digunakan dalam kitab suci, komunikasi diplomasi, ilmu pengetahuan dan kebudayaan, serta dalam dunia pendidikan. Oleh sebab itu, sebagai bahasa asing yang penting untuk dikuasai oleh anak didik di sekolah maka untuk membantu mereka agar cepat mahir berbahasa Latin, buku-buku sekolah banyak yang ditulis dengan menggunakan bahasa Latin. Buah dari semua itu adalah pada abad ketiga belas kita menyaksikan berkembangnya ilmu pengetahuan pada semua cabang. Di bawah pengaruh karya-karya Aristoteles dan filusuf Yunani lainnya, menjadikan ilmu pengetahuan (termasuk tata bahasa

(39)

Latin) sebagai seperangkat proposisi atau dalil yang kebenarannya dapat ditunjukkan secara meyakinkan dengan cara menarik kesimpulan dari asas-asas semula. Misalnya, para filsuf Skolastik seperti Stoa tertarik pada bahasa dan memandangnya sebagai alat guna menganalisis struktur kenyataan. Sebagai contoh unsur lambang dan tanda adalah sesuatu yang amat penting dalam analisis tata bahasa.

Menurut pandangan kelompok Stoa, karya-karya Donatus dan Pricianus sudah saatnya diterima sebagai sesuatu yang benar. Sikap yang mereka munculkan selama ini bukanlah menolak seratus persen, melainkan masih terdapat kekurangan dari kedua ahli tersebut.

Kekurangan tersebut terutama tidak dijelaskan fakta-fakta ilmiah dalam karya mereka, yaitu asas-asas yang menjadi dasar hubungan antara kata sebagai “tanda” dengan pikiran manusia di satu pihak dengan benda yang “ditandainya”. Menurut ahli tata bahasa Abad Pertengahan ini, asas tersebut (tanda dengan yang ditandai) bersifat tetap dan universal. Menurut ahli tata bahasa ilmiah atau spekulatif, kata tidak secara langsung menggambarkan sifat benda yang ditandainya, tetapi berada dengan cara tertentu (modus) sebagai substansi, perbuatan, kualitas, dsb. serta melakukan hal ini dengan kelas kata yang sesuai.

Selanjutnya, mereka menyimpulkan bahwa tata bahasa merupakan teori filsafat mengenai kelas-kelas kata dan modus-modus penandaan mereka yang khas.

7. Masa Renaisans dan Sesudahnya

Para sarjana linguistik zaman Renaisans ini menolak pandangan sebelumnya (Abad Pertengahan). Salah satu tokoh linguistik yang cukup berpengaruh pada zaman Renaisans adalah Cicerus. Cicerus mencoba memperbaiki pandangan sebelumnya dengan mengemukakan gaya bahasa Latin terbaru. Dengan berpegang pada pandangan bahwa kesastraan kuno klasik merupakan sumber segala nilai yang beradab. Selanjutnya, ia lebih berkonsentrasi mengumpulkan dan

(40)

mempublikasikan naskah-naskah kuno klasik. Kondisi ini sempurna dengan ditemukan mesin cetak abad ke-15 yang memungkinkan kelancaran dalam menyebarkan cetakan-cetakan baru naskah-naskah kuno klasik secara luas dan cepat.

Mereka menjadikan tata bahasa Latin sebagai media pembantu dalam memahami sastra dan penggunaan bahasanya. Erasmus tahun pada 1513 menerbitkan buku sintaksis bahasa Latin yang dikutip dari karya Donatus. Pada masa ini tidak hanya bahasa Latin yang mendapat perhatian para ahli linguistik Latin, bahasa Yunani juga tidak luput dari kajian mereka. Begitu juga bahasa Ibrani. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kaum Renaisans (humanis) inilah yang meneruskan bahasa dan kesastraan dari tiga budaya tersebut (Latin, Yunani, dan Ibrani) kepada sarjana-sarjana linguistik berikutnya.

Pada masa Renaisans ini, bahasa-bahasa daerah di Eropa juga mulai mendapat perhatian khusus para sarjana linguistik, seperti (1) tata bahasa Gaelih (Irlandia) abad ke-7, (2) tata bahasa Islan abad ke-13, (3) tata bahasa Pruvenso abad ke-13 serta tulisan-tulisan yang mengamati tentang bahasa Baska abad ke-10 dan sebuah buku tata bahasa Prancis.

Salah satu orang yang sangat berjasa dalam menggalakkan studi bahasa daerah Eropa ini adalah Dante. Dante melalui bukunya berjudul De Vulgari Eloquentia (Gaya Bahasa Orang Banyak), mengembangkan minat terhadap bahasa daerah sehingga berkembang luas dan buku- buku tata bahasa dicetak dalam jumlah besar.

Pada abad 17, guru-guru di Port Royal Prancis menghidupkan kembali cita-cita tata bahasa spekulatif (ilmiah). Pada 1960, mereka menerbitkan buku yang berjudul Grammaire Generale et Raisonnee (Tata Bahasa Umum dan Penalaran) dengan maksud untuk menunjukkan bahwa struktur suatu bahasa adalah hasil penalaran. Bahasa manusia yang berbeda-beda hanyalah ragam sistem yang lebih logis, rasional, dan umum. Pengaruh Tata Bahasa Port Royal ini sangat kuat di Prancis.

(41)

8. Tradisi India

Salah satu tradisi yang besar sekali pengaruhnya terhadap perkembangan linguistik modern adalah tradisi India atau Hindu.

Tradisi tata bahasa India tidak hanya tergantung pada tradisi Yunani- Romawi, tetapi juga pada tradisi yang lebih tua dan lebih unggul sebagaimana yang telah dicapai Panini pada abad ke-4 SM (salah seorang ahli tata bahasa India terkenal). Terdapat 12 aliran teori tata bahasa India. Ada beberapa hal penting perkembangan tata bahasa sebagaimana yang terjadi pada Yunani-Romawi.

Jika di Yunani-Romawi terjadi pertentangan pandangan berkaitan status alamiah dan konvensional berkaitan dengan bahasa, di India juga terjadi hal demikian. Pertentangan terutama berhubungan dengan aktivitas mereka dalam menelaah naskah-naskah suci Hindu masa lampau. Mereka membuat daftar kata-kata sulit dan argumentasi yang menerangkan kata-kata tersebut, khususnya pada syair-syair pujian Weda. Mereka juga melakukan pengelompokan kata, seperti nomina dan verba; subjek dan predikat dalam bahasa Sanskerta. Terdapat dua keunggulan yang dimiliki karya linguistik India jika dibandingkan dengan tata bahasa Barat, yaitu:

1) berkaitan dengan fonetik;

2) studi struktur internal kata.

Studi tata bahasa India terutama terhadap syair-syair pujian Weda dilakukan untuk mempermahir pengucapan agar tidak salah.

Terutama saat upacara agama Hindu. Keunggulan lain dari tata bahasa India adalah dalam penggolongan bunyi-bunyi bahasa (speech sound) lebih teperinci, lebih cermat, dan lebih kuat berdasarkan pengamatan dan percobaan. Lyons (1995: 20) menyebut bahwa ilmu fonetik yang berkembang di Eropa banyak dipengaruhi oleh penemuan dan

(42)

terjemahan tulisan linguistik di India oleh para sarjana Eropa yang ada di India.

Tata bahasa Sanskerta karya Panini, memiliki ketuntasan kajian berkaitan dengan struktur kata, konsistensi internal, dan efisiensi pernyataan. Efisiensi dicapai seperti penggunaan singkatan dan lambang-lambang huruf/kata. Menurut Sir William Jones, seorang tokoh orientalis Inggris tahun 1786, menyatakan bahwa bahasa Sanskerta memiliki hubungan yang erat dengan bahasa Yunani dan Latin, baik dalam hal akar-akar verba maupun bentuk tata bahasanya.

B. Ciri-Ciri Khusus Tata Bahasa Tradisional

Plato salah seorang tokoh Yunani yang memberikan pandangan tentang linguistik dengan membagi kelas kata atas 2 jenis, yaitu (1) kelas kata benda atau nomina dan (2) kelas kata kerja atau verba. Kata benda menurut Plato adalah kata yang berfungsi dalam kalimat sebagai subjek dari predikat. Sementara kata kerja adalah kata yang dapat menyatakan perbuatan atau kualitas yang disebut dalam predikat.

Protagoras, seorang tokoh Sofis Yunani abad ke-5, merupakan orang yang tidak sependapat dengan Plato. Menurut Protagoras, jenis kata dalam bahasa Yunani dibagi atas 3, yaitu (1) kata benda atau nomina, (2) kata kerja atau verba, dan (3) kata sifat atau adjektiva.

Sementara Aristoteles tidak sependapat dengan Plato dan Protagoras, ia membagi kelas kata atas 4 jenis, yaitu (1) nomina, (2) verba, (3) sifat, dan (4) kata sambung atau konjungsi. Selanjutnya adalah kaum Stoa yang dipandang paling baik dalam memerhatikan bahasa. Salah satu perbedaan pandangan Stoa dalam bahasa berkaitan dengan bentuk dan arti, yang menandai dan yang ditandai. Menurut kelompok Stoa, tidak ada hubungan antara bentuk dan arti.

(43)

Pandangan Stoa berkembang di Iskandaria. Para sarjana linguistik Iskandaria meneruskan kelompok Stoa. Hasilnya, di Iskandaria-lah tata bahasa tradisional bahasa Yunani dikodifikasikan. Para Linguis Iskandaria cenderung bersifat analogis, yaitu memandang segala sesuatu lebih bersifat teratur. Puncaknya adalah lahirnya Tata Bahasa Dionysius Thrax (akhir abad ke-2 SM). Dalam tata bahasa ini, Dionysius selain memperkenalkan jenis kata nomina, verba, sifat, dan kata sambung juga memperkenalkan jenis kata baru, yaitu kata keterangan, pronomina, dan jenis kata preposisi. Kelemahan dari Dionysius adalah masih belum jelas membicarakan sintaksis, asas-asas yang diikuti dalam menggabungkan kata-kata menjadi kalimat. Barulah setelah 3 abad kemudian (abad ke-2 M), Apollonius Dyscolus melakukannya.

Berikut ini ciri-ciri bahasa tradisional.

a. Menafsirkan kalimat berdasarkan arti dan tujuan komunikasi si pembicara. Pendekatan yang demikian lazim disebut notional grammar atau notional analysis. Kalimat dibagi menjadi kalimat pernyataan, pertanyaan, perintah, dan kalimat seru.

b. Pembagian jenis kata didasarkan pada makna dan sedikit pada fungsi.

c. Pemerian fungsi sintaksis jenis kata dalam kalimat dibahasakan dalam istilah subjek, predikat, objek, kata, frasa, klausa, kalimat, transitif, dan intransitif.

d. Pemerian terutama didasarkan pada bahasa tulisan pilihan.

e. Tidak mengindahkan ragam bahasa.

f. Bersifat preskriptif.

C. Pertanyaan

1. Jelaskan pandangan para filusuf Yunani tentang, apakah bahasa dipengaruhi oleh alam atau konvensi!

(44)

2. Jelaskan pandangan kaum analogis dan anomalis berkaitan dengan keteraturan bahasa!

3. Tata bahasa Yunani tidak hanya memengaruhi Iskandaria, tetapi juga memengaruhi tata bahasa Latin. Jelaskan maksud pernyataan tersebut!

4. Jelaskan pandangan Plato, Protagoras, dan Aristoteles berkaitan dengan pengelompokan jenis kata! (Alwasilah, 1993: 166)

D. Tugas dan Latihan

Tuliskan beberapa contoh analisis yang menggunakan tata bahasa Yunani!

E. Sumber Bacaan

1. Pengantar Linguistik oleh Prof. Dr. J.W.M. Verhaar.

2. Linguistik Suatu Pengantar oleh A. Chaedar Alwasilah.

3. Pengantar Teori Linguistik: Introduction to Theoretical Linguistics oleh John Lyons.

4. Linguistik: Teori & Terapan (1987) oleh Soenjono Dardjowidjojo.

(45)

Bab IV

TATA BAHASA STRUKTURAL

Setelah mempelajari materi ini diharapkan:

1. Mahasiswa dapat memahami tentang definisi Tata Bahasa Struktural (TS).

2. Mahasiswa dapat memahami tentang beberapa Linguis TS.

3. Mahasiswa dapat memahami tentang ciri-ciri TS.

A. Tokoh Tata Bahasa Struktural

Perkembangan tata bahasa atau aliran bahasa terus berjalan seiring dengan perkembangan waktu. Setelah adanya tata bahasa Yunani, muncul lagi aliran baru yang menamakan dirinya tata bahasa struktural.

Para linguis kelompok ini mengklaim dirinya sebagai kelompok yang lebih sempurna dari kelompok sebelumnya. Bahkan, aliran ini disebut sebagai aliran linguistik modern. Para linguis yang termasuk ke dalam kelompok ini adalah Ferdinand de Saussure, Franz Boas, Edward Sapir, Leonard Bloomfield, Chomsky, Kenet L. Pike, dan lain-lain.

(46)

1. Ferdinand de Saussure

Ferdinand de Saussure adalah tokoh linguistik modern berkebangsaan Swiss, yang mencoba mengemukakan pandangan baru tentang bahasa dari sudut sinkronik, tidak diakronik. Menurut Dardjowidjojo (1987: 3–4), pandangan Saussure ini bertolak dari keyakinannya bahwa tiap-tiap bahasa pada suatu waktu tertentu merupakan sistem hubungan yang terpadu. Ferdinand de Saussure-lah orang yang pertama meletakkan fondasi ilmu bahasa yang kemudian disebut Linguistik Struktural.

Dalam kajian bahasanya, Saussure membedakan antara langue dengan parole. Kedua istilah ini diambil dalam bahasa Prancis.

Pengaruh Saussure ini berkembang ke berbagai benua termasuk Benua Amerika. Langue adalah bahasa tertentu, misalnya bahasa Prancis, Inggris, Indonesia, atau bahasa Italia, sedangkan parole adalah logat, ucapan, atau perkataan (Inggris: speech). Sementara langage berarti bahasa secara umum.

2. Franz Boas, Edward Sapir, dan Leonard Bloomfield

Pengaruh atau paham de Saussure menyebar ke benua lain. Salah satunya adalah Benua Amerika. Perkembangan linguistik struktural di Amerika dikembangkan oleh Franz Boas, Edward Sapir, dan Leonard Bloomfield. Walaupun mereka sama-sama kelompok struktural, Franz Boas dan Edward Sapir memiliki perbedaan fokus pandangan dengan Leonard Bloomfield. Franz Boas dan Edward Sapir lebih fokus pada antropologi, sementara Leonard Bloomfield lebih memfokuskan diri pada empirisme, yaitu keilmiahan linguistik (Dardjowidjojo, 1987:

4).

Pandangan kelompok Boas dan Sapir kemudian diterusnya oleh muridnya yang bernama Kennet L. Pike yang kemudian mengembangkan aliran Tagmemik. Sementara pandangan Bloomfield

(47)

dilanjutkan pula oleh murid-muridnya seperti Benard Bloch, George L. Trager, Charles C. Fries, dan Charles F. Hockett.

Sejak diterbitkan karya Bloomfield berjudul Language tahun 1933 di Amerika, linguistik struktural mengalami kemajuan pesat.

Sejak itu, mulailah dirumuskan konstruk-konstruk, seperti fonem dan morfem, pemisahan tahap analitik untuk subkomponen fonemik, morfemik, dan sintaktik, penemuan konsep relativitas linguistik dari berbagai bahasa-bahasa nonIndo Eropa, penerapan konsep teoretik dalam pengajaran bahasa yang telah membuat linguistik struktural sebagai ilmu yang sangat ampuh. Seorang antropolog terkenal yang bernama Claude Levi-Strauss menyamakan dan menyebut ilmu yang dikembangkan Bloomfield sebagai revolusi Newton di ilmu fisika (Strauss, 1953: 350–351).

B. Ciri-Ciri Tata Bahasa Struktural

Terdapat beberapa ciri dalam tata bahasa struktural. Secara garis besar dicirikan dalam poin-poin berikut.

1. Membedakan makna leksis dan makna struktur.

2. Tata bahasa diartikan sebagai perangkat bentuk formal. Dengan demikian, pemerian gramatiknya formal tidak notional, yaitu berdasarkan bukti-bukti sintaksis dan morfologis yang jelas teramati.

3. Dalam analisis sintaksis diperhatikan bentuk kata, tertib kata, kata fungsi, dan intonasi.

4. Analisis bergerak dari bentuk menuju makna, dari fonem menuju kalimat.

5. Jenis kata dibagi atas fungsi dan leksis.

6. Membedakan ujaran dan tulisan dengan prioritas bahasan pada ujaran.

7. Memberikan perhatian pada ragam bahasa.

(48)

8. Menganalisis kalimat dengan metode unsur bawahan langsung yang ternyata tidak bisa menjelaskan kalimat-kalimat yang berdwiarti.

9. Menekankan pentingnya studi perbandingan antara bahasa dalam menganalisis kalimat.

10. Bahasa dianggap sebagai proses stimulus-respons (Alwasilah, 1993:

167).

C. Pertanyaan

1. Apakah yang dimaksud dengan aliran tata bahasa struktural?

2. Jelaskan hal-hal yang mendasar perbedaan aliran tata bahasa tradisional dan struktural!

3. Jelaskan pandangan Ferdinand de Saussure berkaitan dengan linguistik struktural!

4. Jelaskan para linguis yang termasuk kelompok Saussure!

D. Tugas dan Latihan

Buatlah salah satu contoh analisis bahasa yang menggunakan aliran struktural!

E. Sumber Bacaan

1. Pengantar Linguistik oleh Prof. Dr. J.W.M. Verhaar.

2. Linguistik Suatu Pengantar oleh A. Chaedar Alwasilah.

3. Pengantar Teori Linguistik: Introduction to Theoretical Linguistics oleh John Lyons.

4. Linguistik: Teori & Terapan (1987) oleh Soenjono Dardjowidjojo.

(49)

Bab V

TATA BAHASA TRANSFORMASI

Setelah mempelajari materi ini diharapkan:

1. Mahasiswa dapat memahami tentang definisi Tata Bahasa Transformasi (TBT).

2. Mahasiswa dapat memahami tentang ahli TBT.

3. Mahasiswa dapat memahami tentang ciri-ciri TBT.

A. Tokoh Tata Bahasa Transformasi: Noam Chomsky

Noam Chomsky lahir pada 7 Desember 1928 adalah anak dari William Chomsky. Sejak berumur 10 tahun, ia telah didorong oleh Williams untuk membaca David Kimhi’s Hebrew Grammar. Selanjutnya, pada usia 18 tahun, Chomsky melanjutkan studi di Universitas Pennsylvania di bawah asuhan Zelillig Harris. Harris selalu memercayakan Chomsky untuk mendalami naskah-naskah dari buku-buku Methods in Structural Linguistics. Dari sinilah nanti lahir benih aliran transformasi.

Pengaruh karya Harris dalam diri Noam Chomsky terlihat jelas pada Master’s thesis berjudul Morphophonemics of Modern Hebrew. Pada karya-karya awal Chomsky terlihat jelas ketertarikannya pada eksplanasi bahasa. Ia tidak lagi memerhatikan pada prosedur penemuan, tetapi

(50)

lebih menitikberatkan pada prosedur penilaian. Ia tidak mempedulikan bagaimana seseorang mencapai statu hasil, tetapi yang lebih penting adalah status hasil haruslah merupakan hasil yang terbaik di antara hasil-hasil yang ada. Embrio jalan pikiran Chomsky ini dapat dibaca pada naskah yang berjudul The Logical Structure of Linguistics Theory.

Naskah ini tidak pernah mendapat sambutan dari penerbit, barulah setelah ia menjadi dosen di Universitas Massachusetts Institute of Tecnology tahun 1957, naskah tersebut terbit berjudul Syntactic Structures. Buku ini terdiri atas 10 bab, yaitu:

Bab 1 Pengantar

Pada bab pengantar berisi pokok pikiran Chomsky tentang - Apakah sintaksis itu

- Apa tujuan penyelidikan sintaksis - Apa hasil akhir penyelidikan sintaksis - Apa fungsi teori struktur bahasa

- Apa gagasan sentral dalam teori linguistik - Bagaimana mengukur kepadanan teori linguistik

- Apa saja yang akan diungkapkan Chomsky dalam buku selanjutnya.

Bab II berisi tentang ketidaktergantungan tata bahasa pada semantik.

Bab III berisi tentang elemen-elemen dalam teori linguistik.

Bab IV berisi tentang struktur frasa.

Bab V berisi tentang kelemahan teori tata bahasa statu terbatas (TST) atau finite state language dan tata bahasa struktur frasa (TSF), selanjutnya mengusulkan sebuah alternatif, yaitu Tata Bahasa Generatif Transformasi.

Bab VI berisi tentang tujuan teori linguistik.

Bab VII berisi tentang contoh kaidah transformasi.

(51)

Bab VIII berisi tentang penjelasan-penjelasan (explanatory power) dalam teori linguistik.

Bab IX berisi tentang penjelasan mengenai sintaksis dan semantik serta hubungannya.

Bab X berisi penutup, yaitu ringkasan pemikiran Chomsky dalam bukunya.

B. Perkembangan Tata Bahasa Transformasi

Pertumbuhan tata bahasa transformasi dibagi menjadi empat fase, sebagai berikut.

1. Fase Syntactic Structures (1957–1964).

2. Fase Teori Standar (1965–1966).

3. Fase Teori Standar yang Diperluas (1967–1972).

4. Fase Setelah Teori Standar yang Diperluas (1973−sekarang).

Perkembangan fase-fase tersebut terjadi karena dua hal. Pertama, disebabkan perkembangan dalam diri Chomsky sendiri dan kedua, perkembangan dari luar, terutama pengikut Chomsky. Kelompok Chomsky menamakan dirinya dengan golongan Leksikalis, sedangkan kelompok yang berasal dari mantan mahasiswanya menamakan diri dengan golongan Semantik Generatif.

Dengan terbitnya buku karya Chomsky berjudul Syntactic Structures, golongan strukturalis sangat terpukul sebab apa yang mereka kerjakan selama ini dianggap tidak memenuhi syarat ilmiah. Tata bahasa yang telah mereka hasilkan dianggap baru mencapai sebatas phrase structure grammar sehingga tidak memadai untuk menangani hal-hal yang riil dalam bahasa, seperti masalah rekursif, keterkaitan kalimat, diskontinuitas, hubungan pasif dan aktif serta ambiguitas.

Chomsky bersama pendukung-pendukungnya sangat gigih mengembangkan ide-ide barunya. Salah satunya adalah Robert

(52)

Lees dalam The Grammar of English Nominalizations (1960) yang selalu menyerang lawan-lawannya yang menganut aliran struktural dalam setiap konferensi. Begitu juga Paul Postal dalam Constituent Structure: A Study of Contempory Models of Syntactic Descriptions (1964) membuktikan bahwa semua model dalam aliran struktural tidaklah lebih dari phrase structure grammar.

Sementara itu, di kubu Chomsky sendiri terjadi pergeseran pendapat. Semantik yang sejak tahun 1957 berada di luar arena mulai mendapat perhatian khusus. Pengikut Chomsky, seperti Jerold J. Katz dan Jerry F. Fodor pada 1963 melalui The Structure of a Semantic Theory mencoba menjabarkan teori semantik dengan memerinci bentuk- bentuk leksikal ke dalam fitur-fitur semantik dan memasukkannya dalam aturan proyeksi sehingga menghasilkan berbagai arti sesuai dengan jalur node yang dilaluinya. Selanjutnya Katz dan Postal tahun 1964, menerapkan teori baru ini dalam An Integrated Theory of Linguistic Descriptions. Dalam kajian tersebut, komponen bahasa tidak lagi hanya terdiri dari (1) phrase structure, (2) transformational structure, dan (3) morphophonemics sebagaimana yang telah dinyatakan dalam Syntactic Structures, tetapi juga terdiri dari (1) syntactic component, (2) phonological component, dan (3) semantic component.

Bersamaan dengan itu, terbit pula buku Chomsky yang berjudul Aspect of the Theory of Syntax tahun 1965. Pada buku ini, Chomsky menyatakan bahwa komponen sintaksis adalah sesuatu yang sentral dibandingkan komponen fonologi dan semantik. Chomsky menyebut komponen fonologi dan semantik hanya memiliki status interpretatif. Dalam komponen sintaktik, terdapat dua subkomponen, yaitu subkomponen dasar dan subkomponen transformasi. Struktur batin ditentukan oleh subkomponen dasar kemudian dikirimkan ke komponen semantik untuk mendapatkan interpretasi semantiknya.

Bila diperlukan transformasi, struktur batin dikirim ke subkomponen

(53)

transformasi untuk mendapatkan struktur lahir. Struktur lahir ini kemudian dikirim ke komponen fonologi untuk mendapatkan interpretasi fonologinya. Setelah interpretasi semantik dan fonologi diperoleh, barulah kalimat yang diinginkan terbentuk.

Sejalan terbitnya buku baru Chomsky tersebut, selesai juga disertasi George Lakoff yang semula berjudul On the Nature of Syntactic Irregularity (1965), kemudian diterbitkan dengan judul Irregularity In Syntax (1970). Disertasi Lakoff tersebut awalnya berkiblat pada aspect.

Namun, lama-kelamaan timbul pemikiran (1) bahwa semakin lama Lakoff menyelam, semakin kelihatan struktur batin versi Chomsky lebih dekat ke representasi semantik; (2) Bila kendala-kendala idiososinkretik disingkirkan, subkomponen transformasi lebih terlihat universal; (3) Dengan lebih memanfaatkan subkomponen transformasi, komponen dasarnya bisa lebih disederhanakan.

Pemikiran Lakoff banyak mendapatkan tanggapan positif oleh para linguis muda dan mahasiswa di Harvard dan M.I.T., termasuk James D. McCawley. Tulisan-tulisan McCawley seperti The Role of Semantics in a Grammar tahun 1967 dan Lexical Insertion in a Transformational Grammar Without Deep Structure tahun 1968, semakin memperlihatkan perbedaan kuat pandangan Chomsky dan Lakoff. Terutama, dalam hal (1) peranan sintaksis dan semantik, (2) pembobotan fungsionalisasi komponen dasar dan subkomponen transformasi, dan (3) kapan proses transformasi dapat dilakukan. Kelompok Lakoff kemudian dikenal dengan kelompok Semantik Generatif.

Charles J. Filmore juga menyerang pandangan Chomsky melalui tulisan The Case for Case tahun 1968. Awalnya, Filmore hanya berkeinginan sedikit merevisi teori Chomsky dengan menyelam lebih dalam pada subkomponen dasar dan menambahkan perspektif baru, yaitu kasus (case). Namun, disebabkan banyaknya pemikiran baru sebagai akibatnya hasil yang diperoleh jauh berbeda

(54)

dan membentuk sintaksis yang lebih abstrak sebagaimana Lakoff dan McCawley.

Kemudian, Chomsky melakukan pembelaan terhadap serangan yang dilancarkan kelompok Lakoff dan McCawley. Chomsky menulis artikel, yaitu Deep Structure, Surface Structure, dan Semantic Interpretations tahun 1969. Pada 1970 menulis Remarks on Nominalizations (1970) dan Some Empirical Issues in the Theory of Transformational Grammar. Melalui artikelnya tersebut, Chomsky membuktikan kelemahan-kelemahan dalam aspects dapat diperbaiki tanpa harus membuang seluruh teori. Chomsky menjelaskan lebih lanjut, penyederhanaan subkomponen dasar yang diajukan oleh golongan semantik generatif berarti penambahan beban pada subkomponen transformasi. Keberatan kelompok semantik generatif (Lakoff dan kawan-kawan terhadap pandangan Chomsky) hanya lebih banyak bersifat terminologi dan notasi belaka. Apa yang bisa dilakukan semantik generatif juga bisa dilakukan kelompok leksikalis.

Artikel-artikel Chomsky tersebut mewarnai revisi Standard Theory yang kemudian dikenal dengan Extended Standard Theory (EST), kemudian Post-EST, terkadang pula dijuluki Revised Extended Standard Theory (REST).

Linguis lain yang ikut menyerang pandangan Chomsky adalah David Perlmutter, Susumu Kuno Robert Fiengo, dan Howard Lesnik.

David Perlmutter dengan tata bahasa relasionalnya menentang pandangan Chomsky (Syntactic Structures). Susumu Kuno dengan mengangkat kembali aliran Praha dan mengembangkannya menjadi Functional Syntax. Robert Fiengo dengan Trace Theory dan Howard Lesnik (bersama Chomsky) mengembangkan konsep mengenai filter dan control.

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian ini pada dasarnya adalah untuk menemukan jawaban atas masalah penelitian dan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui

Bahasa Rusia telah mencatatkan paremiologi dan paremiografi lebih dari tiga ratus tahun, sementara bahasa Indonesia baru memulai pada abad XX.. Secara teoretis belum adanya

Nada bahasa Tionghoa bagi siswa Indonesia, dibandingkan vokal dan konsonan lebih sulit untuk dipelajari, tidak terbiasa adanya nada yang bergerak naik-turun pada

3. Istilah kewajiban bersyarat digunakan untuk menyatakan kewajiban yang kemungkinan timbulnya tergantung pada terjadi atau tidaknya satu peristiwa di masa yang

Perasaan mistik yang ada pada kaum Muslim abad 2 Hijriyah (yang sebagian diantaranya sebelumnya menganut agama Non Islam, semisal orang India yang sebelumnya

• Psikologi muncul pada zaman yunani kuno, pada saat itu psikologi menarik perhatian para filsof yunani seperti plato dan aristoteles yang banyak medefinisikan arti tentang

Sedangkan pada tradisi Sejarah Filsafat Barat semenjak periodesasi awalnya (Yunani Kuno/Klasik: 600 SM – 400 SM), para pemikir pada masa itu sudah mulai mempermasalahkan

3. Istilah kewajiban bersyarat digunakan untuk menyatakan kewajiban yang kemungkinan timbulnya tergantung pada terjadi atau tidaknya satu peristiwa di masa yang