• Tidak ada hasil yang ditemukan

MELALUI KARYA MUSIK DAERAH

E. Contoh Katekese Melalui Karya Musik Daerah 1.Contoh Katekese

Karya tulis yang berjudul “Karya Musik Daerah Sebagai Usaha Pengembangan Evangelisasi Baru Bagi Kaum Muda di Keuskupan Agung Pontianak” ini penulis wujud-nyatakan dalam bentuk proses katekese dimana proses ini merupakan interpretasi dari tulisan-tulisan sebelumnya dan berkaitan dengan fakta-fakta yang terjadi di Keuskupan Agung Pontianak. Dalam contoh katekese ini penulis akan menggunakan model Katekese Umat yaitu Shared Christian Praxis (SCP). Berikut ini adalah lima langkah dalam SCP menurut Thomas H. Groome (1990) dikutip oleh Sumarno (2006: 18-22) yaitu:

Langkah nol (awal), pemusatan aktivitas; langkah pertama, mengungkap pengalaman hidup peserta; langkah kedua, mendalami penalaman hidup peserta; langkah ketiga, menggali pengalaman iman Kristiani; langkah keempat, menerapkan iman Kristiani dalam situasi peserta konkret, langkah kelima, mengusahakan suatu aksi konkret. Penulis menggunakan model ini karena selain mengolah pengalaman peserta model SCP ini lebih sistematis sehingga mampu menghantar dan mengarahkan seseorang (peserta) agar mampu menemukan nilai-nilai baru yang dapat dijadikan sebagai pedoman dalam hidup. Berikut ini adalah contoh sebuah katekese.

2. Identitas

a. Pelaksana : John Ariyo

c. Tujuan : Bersama Pendamping, peserta menggali suka-duka dalam hidup, tidak berhenti karena gagal namun berani menatap ke depan sehingga dengan mengikuti pertemuan ini peserta mampu mengaktualisasikan dirinya di dalam Gereja maupun dalam masyarakat melalui lagu-lagu inkulturasi liturgi sebagai jalan awal menuju pertobatan.

d. Peserta : Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Menjalin, Kalbar

e. Tempat : Aula Pastoran f. Hari/ tanggal : -

g. Waktu : Pukul 16.00 – 17.30 WIB

h. Metode : Sharing Pengalaman, diskusi, tanya jawab, informasi. i. Sarana : CD audio lagu Hujan Rahmat di Ladang, CD audio

instrumen sapeq, CD audio instrumen Songbirds At Sunrise - Desert Sunrise, Teks lagu Hujan Rahmat di Ladang, teks Mat 13:1-9 (Perumpamaan Tentang Seorang Penabur), teks pertanyaan panduan.

j. Sumber bahan : o Mat 13:1-9

o Madah Bhakti no 693, Hujan Rahmat di Ladang

o Bergant, Dianne dan Karris J, Robert. (2002). Tafsir Alkitab Perjanjian Baru. Yogyakarta: Kanisius

3. Pemikiran Dasar

Kaum muda di Keuskupan Agung Pontianak khususnya telah mengenal kebiasaan masyarakat petani tradisional di pedalaman yaitu berladang, dan arti berladang itu sendiri pun tahu yaitu menanami dan memelihara lahan dengan padi atau tanaman pendukung lainnya. Namun tidak semuanya tahu bagaimana proses berladang. Tidak mengherankan jika ditanya pasti ada yang tidak tahu salah satu cara dalam proses berladang di masyarakat pedalaman dan sistem gotong royong yang digunakan. Proses perladangan masyarakat asli di Kalbar terdiri dari tahapan-tahapan proses yang teratur dan sudah diturunkan dari nenek moyang mereka zaman dahulu. Pertama adalah pencarian lahan. Lahan yang dipilih adalah lahan yang termasuk lahan muda (udas) yaitu lahan yang memang belum pernah disentuh atau lahan yang telah “ditidurkan”/ diistirahatkan selama satu tahun, kemudian alternatif kedua adalah pada lahan tua (karebet) yaitu lahan yang telah beberapa tahun tidak difungsikan sebagai lahan perladangan. Melalui proses pengolahan klasik: penebangan (nabakng), pengeringan (ngarangke), pembakaran (nunu), pembersihan (nyimak), penanaman (nugal), pemeliharaan (ngarumput), tiba waktunya panen (bahanyi). Pada proses pembakaran, para petani ini membuat jarak lima sampai tujuh meter antara lahan ladang dan lahan yang tidak digunakan. Hal ini untuk menghindari kebakaran dan ketika tiba waktu pembakaran beberapa orang ditempatkan di tiap sudut ladang untuk menjaga agar nyala api tidak membakar di luar ladang.

Pada Mat 13:1-9 diceritakan perumpamaan yang mirip dengan cerita petani sebelumnya. Perikop ini mengisahkan tentang seorang penabur. Sebagian besar benih yang ditaburkannya mengalami gagal tumbuh. Ada tiga bagian benih yang gagal tumbuh karena tidak jatuh pada media yang semestinya untuk pertumbuhan. Sebut saja, benih yang pertama jatuh di pinggir jalan lalu benihnya dimakan burung.

Benih yang kedua jatuh pada batu-batu dan tidak banyak tanah di situ dan akhirnya mati. Benih yang ketiga jatuh di atas semak duri. Benih ini dapat tumbuh namun ketika semak duri semakin besar menghimpitnya hingga mati. Namun pada benih yang keempat, ia jatuh dan tumbuh pada tanah yang subur. Ia mampu berbuah mulai dari tiga puluh kali lipat, enam puluh kali lipat, hingga seratus kali lipat. Begitulah ajaran Yesus dalam sebuah perumpamaan ini sebetulnya mau mengajak umatNya agar dalam mendengarkan Sabda Tuhan tidak setengah-setengah melainkan diamalkan dalam pikiran, hati sampai pada tindakan. Sebuah semangat totalitas yang dibutuhkan dalam menanggapi ajaran yang disampaikan oleh Tuhan Yesus.

Dari pertemuan ini sebuah harapan muncul pada umat sekalian. Benih yang tumbuh dan berbuah akan menghasilkan panenan yang melimpah. Begitulah kiranya yang terjadi pada umat Allah. Berbekal semangat totalitas, tidak ada yang tidak mungkin dilakukan.

4. Pengembangan Langkah-langkah

a. Langkah I: Mengungkap Pengalaman Hidup Peserta

1) Membagikan teks lagu “Hujan Rahmat di Ladang” dan memberikan kesempatan pada peserta untuk membaca/ menyanyikan teks tersebut secara pribadi.

2) Pendamping dan peserta menyanyikan bersama lagu Hujan Rahmat di Ladang: Hujan Rahmat di Ladang

1 = F 4/4



1 1 │ 1 . 1 1 2 1Æ│Á . 1 3 2 │ 3 . 3 3 2 1 │1 . . .│ Ê·

Bagai ladang yg kering menan –ti - Kan a – ir hu – jan. Ki –ni ladang me – ra – na menghijau da - un – da – un – nya.



3 . . . 2│5 5 3 2 . 1 │ 3 2 3 . 2 │3 2 1 1 . 1 │ ÊÉÉ·Ê·Ê·

Ji - wa ha - us me – rin - dukan Dikau Tuhan, sum- Ji - wa ha - us t’lah meng–hirup Dikau Tuhan, 

1 3 2 . 2 │ 3 2 1 1 . │2 1 3 2 1 │ 1 . . ‘ Ê·Ê·Ê·ÊÉÉÉ· Ber i - man, pengha - rap-an dan cin - ta.

Ber ke –hi - dup – an ji – wa dan ra - ga.

3) Penceritaan kembali isi lagu. Pedamping meminta satu hingga tiga orang untuk mencoba menceritakan kembali secara singkat tentang isi pokok dari lagu tersebut.

4) Intisari lagu Hujan Rahmat di Ladang

Pemilihan judul oleh pencipta lagu ini tidak lepas dari latar belakang situasi bercocok tanam di ladang. Pada dasarnya semua petani sangat mendambakan lahan yang ditanami subur hingga padi tumbuh sesuai dengan yang diharapkan. Suasana yang digambarkan ketika membaca judul lagu ini secara harafiah ialah sebuah harapan petani agar hasil kerja kerasnya mendapat hasil yang memuaskan dan harapan ini hanya ditujukan pada Sang Pemberi Harapan, Tamai Tingai/ Tuhan dalam bahasa Dayak Kenyah. Dalam pengertian nilai, “hujan rahmat di ladang” ditujukan pada belas kasih Tuhan yang tiada hentinya seperti petani memberi kesuburan di ladang petani sehingga menghasilkan padi yang melimpah.

5) Pengungkapan pengalaman: peserta diajak untuk mendalami lagu dengan tuntunan pertanyaan sebagai berikut:

a) Sebutkan pada bagaian mana dalam lagu tersebut yang menunjukan sebuah kesusahan yang membutuhkan pertolongan segera!

b) Ceritakanlah pengalaman teman-teman ketika menghadapi kesulitan-kesulitan dalam mencapai sesuatu!

6) Arah rangkuman

Manusia digambarkan dalam syair lagu ini memiliki hubungan yang sangat erat. Walau terlihat jauh dengan digambarkan Tuhan sebagai Pengharapan namun Tuhan adalah Cinta dimana manusia berharap dan dengan kekuatan cintaNya maka mansia mendapatkan pengharapan tersebut. Penyair ingin menunjukan kepada umat bahwa hanya dalam Tuhan pengharapan dan cinta itu ada. Di kala hidup terasa kering dan hampa, kepada siapa lagi tempat peraduan manusia? Di sini penyair telah menunjukan kepada siapa seharusnya umat berharap, yaitu hanya pada Tuhan; sumber dari segala sumber pengharapan dan cinta.

b. Langkah II: Mendalami pengalaman hidup peserta

1) Peserta diajak untuk merefleksikan hasil sharing pengalaman dan Lagu Hujan Rahmat di Ladang dengan pertanyaan panduan sebagai berikut:

a) Bagaimana proses jalan keluar yang ditawarkan dalam lagu Hujan Rahmat di Ladang?

b) Apa yang teman-teman lakukan untuk menemukan solusi atau jalan keluar ketika dalam permasalahan?

2) Dari jawaban yang telah diungkapkan oleh peserta, pendamping memberikan arah rangkuman sebagai berikut:

Hidup memang membutuhkan sebuah totalitas dalam perjuangannya. Tidak ada yang tidak mungkin terwujud jika sebuah harapan disertakan dalam usaha kerja keras. Lagu Hujan Rahmat di Ladang merupakan sebuah bukti kekuatan cinta Sang

Pencipta kepada umatNya. Ia tidak akan sampai meninggalkan umatNya terjatuh dalam keterpurukan dosa dan kesalahan dan Ia pasti menerima umatNya dengan segala apa yang dimiliki, sekalipun itu penuh dengan dosa. Jika Allah saja melakukan tindakan cinta dan memberi harapan kepada hidup manusia, mengapa tidak kita pun berusaha di dunia ini untuk membalas cinta itu dan dengan sepenuh hati menaruh harapan pada Tuhan, Sang Pencipta kita?

c. Langkah III: Menggali pengalaman iman Kristiani

1) Salah seorang peserta dimohon bantuannya untuk membacakan langsung dari Kitab Suci (Mat 13:1-9) dan peserta yang lain ikut membaca dalam hati pada lembar fotocopy teks Kitab Suci yang telah dibagikan sebelumnya.

2) Peserta diberi waktu sebentar untuku hening sejenak sambil secara pribadi merenungkan dan menanggapi pembacaan Kitab Suci dengan dibantu beberapa pertanyaan, sebagai berikut:

a) Ayat manakah yang menunjukan sebuah usaha seorang penabur pada perikop tersebut?

b) Apa kesulitan dan tantangan si penabur dalam perikkop tersebut?

c) Sikap seperti yang ditanamkan oleh Yesus sebagai seorang Penabur Sejati kepada para muridnya? Dan sikap apa yang seharusnya yang ada pada kita sebagai murid-murid Yesus?

3) Peserta diajak untuk sendiri mencari dan menemukan pesan inti dari Mat 13:1-9 sehubungan dengan tiga pertanyaan di atas.

Sementara peserta mencari hingga menemukan jawaban pesan inti dari perikop sambil diiringi musik instrumen sapeq.

4) Pendamping memberikan tafsir dari Injil Mat 13:1-9 dan menghubungkannya dengan tanggapan peserta dalam hubungan dengan tema dan tujuan, sebagai berikut:

Perikop ini memaparkan kegiatan seseorang yang sedang menaburkan benihnya di suatu tempat, kemungkinan di ladang. Namun jika dilihat pada keseluruhan ayat 4, 5, 6, 7, dan 8, tidak menutup kemungkinan bahwa penabur ini menaburkan benih-benihnya di sebuah ladang dimana mulai ditumbuhi tumbuhan semak, banyak bebatuan dan dekat dengan jalan namun ia memiliki lahan yang subur. Ayat 4 merupakan kegiatan pertama kali si penabur menaburkan benihnya. Namun sangat disayangkan benih yang telah ditaburkan gagal jatuh di tempat yang bisa mendukung pertumbuhannya; benih tersebut jatuh di pinggir jalan. Burung-burung berdatangan kemudian memakan benih-benih tersebut. Sebuah makna yang terkandung dalam perumpamaan ayat 4 ini ialah setiap orang yang mendengarkan firman tentang Kerajaan Allah namun tidak mengerti tentang apa yang dimaksudkan. Godaan datang dan merampas semua yang ditaburkan dalam hati orang tersebut.

Ayat 5 diceritakan dalam perumpamaan penabur menaburkan untuk kedua kali benih-benihnya. Kegagalan terjadi lagi. Benih-benih yang ditaburkan bukannya jatuh pada media yang dapat menumbuhkan benih tersebut namun jatuh di tanah yang banyak bebatuan. Benih ini dapat tumbuh namun karena tanahnya tipis dan banyak bebatuan, ketika matahari terbit tanaman itu menjadi layu dan kering karena tidak memiliki akar. Ayat 5 ini memiliki makna orang yang mendengarkan firman dan segera menanggapinya dengan menerima serta bergembira. Namun karena tidak berakar maka iman seseorang ini akan cepat goyah.

Ayat 7 diceritakan bahwa benih yang ditaburkan jatuh di tengah semak berduri. Terdapat sebuah makna bahwa orang yang mendengarkan firman dikatakan

akan mudah tergoda dengan harta benda serta kekayaan duniawi. Hal ini juga yang menyebabkan goyahnya iman karena telah dikalahkan oleh nafsu duniawi.

Ayat 8 sangat menguntungkan bagi benih yang jatuh pada tanah subur, sehingga benih-benih ini dapat tumbuh hingga menghasilkan buah yang melimpah.

Penginjil Matius (Mat 13:1-9) mencatat tanggapan orang-orang berupa sikap dan tindakan terhadap pewartaan Yesus,terutama pada Injil Matius yang menjadi fokus dalam tulisan ini. Mat 13:1-9 menceritakan tentang evangelisasi serta tanggapan orang terhadapnya. Ajaran Yesus berupa perumpamaan ini sekaligus sebagai wejangan dilakukan di dalam perahu dan orang banyak mendengarkanNya di sepanjang pantai (ayat 1-3). Orang banyak inilah yang merupakan sasaran pewartaan Yesus. Telah diungkapkan sebelumnya tadi bahwa perumpamaan ini mengenai benih (ayat 4-9) yang memperlawankan tiga macam benih yang sia-sia dan satu macam yang menghasilkan banyak buah. Benih tadi sia-sia karena jatuh ke tanah yang buruk: di jalanan (ayat 4), tanah yang keras (ayat 5), dan diantara duri-duri (ayat 7). Tetapi benih yang jatuh di tanah yang bagus (ayat 8) menghasilkan buah yang banyak. Perumpamaan menggunakan pengulangan untuk menciptakan suatu pola pengharapan dan pada akhirnya mengubah pola untuk menekankan pokok yang sesungguhnya dari cerita. Ini menjelaskan mengapa pewartaan Yesus mengenai Kerajaan Allah tidak diterima secara universal dan menyemangati mereka yang menerimanya untuk tetap menghasilkan buah-buah buah-buah pekerjaan baik. Benih yang tumbuh dalam tanah yang baik akan menerima hasil yang melimpah.

d. Langkah IV: Menerapkan iman Kristiani dalam situasi peserta konkret 1) Pengantar

Dalam pembicaraan kita sebelumnya tadi kita telah menemukan sikap-sikap mana yang dibuat oleh Yesus yang seharusnya menjadi tuntunan sikap kita dalam hidup keseharian. Yasus telah memberikan contoh secara langsung sikap yang baik dan sikap yang tidak baik dalam menyambut kedatangan Kerajaan Allah dalam hati kita. Hendaknya yang kita lakukan ialah menjadi seperti apa yang diharapkan oleh Yesus yaitu berani bersikap siap sedia dan terbuka terhadap kedatangan Kerajaan Allah.

2) Sebagai bahan refleksi agar kita dapat semakin menghayati dan menyandarkan diri pada Allah satu-satunya pedoman, harapan dan cinta bagi langkah hidup kita dalam menapaki jati diri yang seutuhnya. Kita akan melihat situasi konkret dunia sekitar kita dengan mencoba merenungkan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:

a) Apa artinya Allah sebagai pedoman, harapan dan cinta dalam hidup kita sehari-hari dan dalam diri kita sebagai kaum muda harapan Gereja?

b) Sikap-sikap apa yang perlu diperjuangkan untuk mewujudkan “Allah sebagai pedoman, harapan dan cinta” kepada kita sebagai harapan Gereja?

Saat hening diiringi dengan “Hujan Rahmat di Ladang” dari CD audio yang telah dipersiapkan sebelumnya untuk mengiringi renungan secara pribadi. Kemudian peserta diberi kesempatan untuk mengungkapkan hasil renungan pribadinya.

3) Sebagai bahan renungan dalam langkah konfrontasi ini, pendamping memberikan arah rangkuman singkat dari hasil renungan-renungan pribadi peserta, sebagai berikut:

4) Arah rangkuman dalam situasi peserta:

Sebagai pedoman, harapan dan cinta dalam hidup kita, Allah senantiasa tidak akan pernah melupakan kita umatNya; walau dalam situasi terburuk apapun. Justru dalam kelemahan dan keterpurukan kita inilah Allah mengangkat kita dan memberikan cintaNya serta harapan agar kita mampu melanjutkan hidup dengan berpedomankan padaNya. Kita tentunya mampu menunjukan siapa diri kita dengan segala keterbatasannya kepada siapa saja, baik itu bakat dan kemampuan yang kita miliki hingga harapan serta tindakan nyata untuk Gereja. Kita tidak perlu berpikiran yang tinggi sebagai usaha untuk Gereja namun tindakan kecil dengan tulus dilakukan untuk Gereja dan sesama memiliki nilai lebih kepadaNya.

e. Langkah V: Mengusahakan suatu aksi konkret 1) Pengantar

Teman-teman yang terkasih dalam Yesus Kristus, setelah kita menggali pengalaman kita melalui sebuah lagu yang berjudul Hujan Rahmat di Ladang, tentunya hingga saat ini kita telah mempunyai sebuah pegangan sikap; tentunya sikap baru untuk mengembangkan diri kita. Di awal pertemuan tadi kita telah menggali pengalaman saat kita dalam kesulitan melalui lagu Hujan Rahmat di Ladang. Tidak ada manusia yang luput dari kesulitan namun manusia juga pasti mampu menemukan solusi atau jalan keluarnya. Selain itu melalui lagu Hujan Rahmat di Ladang kita belajar dalam sharing-sharing sehingga kita semakin tahu bagaimana proses berladang orang-orang di Pedalaman Kalimantan Barat. Seluruh prosesnya pun kita ketahui dalam sharing dengan sesama hingga akhirnya kita menemukan sesuatu hal yang kiranya berguna untuk kita ke depan. Kita semakin menghargai kerja keras petani; terlebih hasil olahannya yaitu padi/ beras. Seperti nenek moyang kita yang

sangat menghargai padi sebagai sumber yang melambangkan kehidupan, mengapa tidak kita pun ikut melakukan apa yang telah menjadi kebiasaan tersebut.

Melalui lagu Hujan Rahmat di Ladang, kita diajak untuk merenungkan siapa sebenarnya diri kita di setiap sisi kesuksesan maupun dalam kegagalan. Melalui lagu itu pula mau mengajarkan kita bahwa tiada yang mampu memberikan kasih pengharapan dan cinta pada manusia walau bersalah padaNya selain Tuhan Allah Sang Harapan Sejati.

2) Memikirkan niat-niat dan bentuk keterlibatan yang baru (secara pribadi, kelompok atau bersama) agar lebih meningkatkan iman serta pelayanan dalam Gereja dan sesama.

Berikut adalah pertanyaan penuntun untuk membantu peserta membuat niat-niat (perlu diperhatikan: niat dibuat bukan sekedar niat yang akan berhenti karena hanya sekedar niat namun niat yang dibuat berbentuk niatan yang sederhana (tidak muluk-muluk) namun konkret dan dapat langsung dilakukan:

a) Niat apa yang hendak kita lakukan agar kita mampu menjadi penabur bagi Tuhan dan memampukan umat beriman menuju metanoia?

b) Hal-hal apa saja yang perlu kita perhatikan dalam mewujudkan niat-niat tersebut? Selanjutnya peserta diberi kesempatan dalam suasana hening memikirkan sendiri-sendiri tentang niat-niat pribadi/ kelompok/ bersama yang akan dilakukan. Sambil merumuskan niat tersebut; agar peserta pun dibantu dalam hal konsentrasi, pendamping membunyikan instrumen “songbirds at sunrise-desert sunrise”.

Niat-niat yang telah selesai dibuat oleh peserta langsung dibicarakan dalam kelompok tersebut tentang perencanaan sekaligus pelaksanaannya secara singkat.

5. Penutup

a. Setelah selesai merumuskan niat-niat, kemudian pendamping mengajak peserta sekali lagi menyanyikan lagu Hujan Rahmat di Ladang.

b. Kesempatan hening sejenak untuk merenungkan isi lagu tersebut. Sementara itu lilin (dan salib) dapat diletakkan di tengah peserta kemudian dinyalakan. c. Kesempatan doa umat spontan yang diawali oleh pendamping yang

dihubungkan dengan kebutuhan peserta dalam niat-niat sebelumnya. Setelah itu doa umat disusul secara spontan oleh para peserta. Akhir doa umat ditutup dengan doa penutup dari pendamping yang merangkum keseluruhan proses katekese ini.

d. Doa Penutup:

Tuhan Yesus Kristus Sang Harapan dan Cinta, di sini kami sebagai orang yang senantiasa membutuhkan tuntunanMu mengucap syukur karena hingga saat ini kami masih merasakan hangatnya cintaMu. Engkau telah menyadarkan kami akan sebuah harapan dan cinta yang Kau berikan melalui lagu Hujan Rahmat di Ladang. Engkau begitu mengerti mengenai apa yang sedang kami alami, terutama dalam kesusahan dan saat keringnya iman kami seperti ladang kering nan tandus yang haus akan hujan rahmatMu. Mampukan kami agar semakin menghargai usaha para petani dan warisan kebudayaan nenek moyang kami yang tak ternilai harganya. Semoga kami semakin menjadi penabur yang setia di ladangMu sehingga selalu menghasilkan buah yang melimpah saat panen. Dan kami tahu ya Tuhan, kami tidak akan berarti apa-apa tanpa ada campur-tanganMu dalam hidup dan karya kami. Segalanya kami serahkan melalui PuteraMu yang hidup dan berkuasa kini dan sepanjang segala masa. Amin.

e. Pertemuan selesai, pendamping membuat rencana pertemuan selanjutnya yang disetujui bersama.

BAB IV PENUTUP

Dengan berakhirnya tulisan ini bukan berarti berakhir pula pemikiran serta ide-ide untuk mengembangkan evangelisasi, namun penyelesaian tulisan ini merupakan langkah awal dalam proses evangelisasi, terutama di Keuskupan Agung Pontianak. Penulis mengakui bahwa untuk mendapatkan data tertulis yang berkaitan dengan evangelisasi, kaum muda beserta karya musik daerah di Keuskupan Agung Pontianak ini sangatlah tidak mudah. Beberapa dari narasumber yang penulis hubungi bersikap acuh tak acuh. Namun bukan berarti data tidak didapatkan, narasumber lain dengan setia memberi masukan demi masukan yang sangat berarti. Penulis melihat kenyataan ini dalam sebuah keprihatian, yaitu bagaimana caranya sebuah lembaga membuat suatu dokumentasi tertulis sebagai bukti adanya aktivitas dan kreativitas serta melatih kematangan pribadi agar dapat menghargai orang lain yang membutuhkan bantuan.

Evangelisasi baru melalui karya musik daerah merupakan sebuah metode pewartaan baru di Keuskupan Agung Pontianak. Sebagai sesuatu yang baru tentunya metode ini sudah pastinya akan menuai berbagai tanggapan baik posisif maupun negatif dari berbagai pihak. Namun sebagai seorang calon katekis profesional, tanggapan berupa kritik dan saran sudah pastinya akan semakin memperkaya dan mengembangkan diri agar lebih mengoptimalkan sebuah karya dan pelayanan. Dalam tulisan ini, kaum muda sebagai fokus utama sekaligus sebagai subyek dalam keseluruhan proses. Dikatakan sebagai subyek karena kaum muda itulah yang diharapkan menjadi penggerak utama dalam mengembangkan iman umat melalui karya musik daerah yang sudah tidak asing lagi terdengar di telingan umat. Namun

terlepas dari itu, penulis juga sangat mengharapkan dukungan berupa materil dan spirituil dari pimpinan dan dewan Gereja setempat. Oleh karena itu, pada bagian Penutup ini penulis akan memberikan saran atau usulan kepada pihak-pihak terkait untuk semakin memperjelas isi tulisan ini dan sebelumnya membuat kesimpulan keseluruhan.

A. Kesimpulan

Setiap daerah memang kaya akan karya seninya. Secara khusus tulisan ini telah membahas mengenai karya seni (musik) yang berkaitan dengan budaya yang ada di Kalimantan Barat. Peran serta setiap komunitas seni sangat mendukung berkembangnya bakat dan minat tiap pribadi yang ada di Keuskupan Agung Pontianak, Kalimantan Barat. Kaum muda di Keuskupan Agung Pontianak adalah fokus dalam tulisan ini. Fakta-fakta yang membuktikan peran serta mereka dalam