• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAUM MUDA DAN KARYA MUSIK DEWASA INI

B. Gambaran Umum Kaum Muda

Sebutan terhadap kaum muda sebenarnya bukan hanya mengandung arti bahwa seseorang dalam hitungan umur yang dianggap belum dewasa. Dengan pengertian seperti ini hanya ketidakjelasan yang memberikan gambaran tentang kaum muda. Kaum muda disebut sebagai “kaum muda” dalam pengertian berdasarkan umur yaitu dengan umur yang terbentang dari 15-24 tahun, dalam tahap pertumbuhan fisik dan perkembangan mental, emosional, sosial, moral serta religius (Shelton, 2000: 57). Berdasarkan perkembangannya dalam tahap ini, sisi perkembangan yang paling menonjol ialah diri kaum muda itu sendiri. Ia akan berusaha menunjukan siapa dirinya dan komunitasnya beserta kemampuan/ keterampilan yang dimiliki.

Seorang penulis yang giat dalam pembinaan kaum muda, Tangdilintin (2008: 5) dalam pendapatnya, ia menyebutkan istilah kaum muda dengan “muda-mudi” dengan batasan yang ia berikan sebagai berikut:

Muda mudi dimaksudkan kelompok umur sexennium ketiga dan keempat dalam hidup manusia (kurang lebih 12-24 tahun). Bagi yang bersekolah, usia ini sesuai dengan usia Sekolah Lanjutan dan Perguruan Tinggi. Ditinjau dari segi sosiologis, seringkali patokan usia di atas perlu dikoreksi dengan unsur status sosial seseorang dalam masyarakat tertentu (sama dengan kedewasaan psikologis). Status sosial yang dimaksudkan ialah hak dan tugas orang dewasa yang diberikan kepada seseorang yang sesuai dengan tata kebiasaan masyarakat tertentu. Status sosial ini sering sejalan dengan status berdikari di bidang nafkah/ dan atau status berkeluarga. Unsur usianya masih dalam jangkauan usia muda-mudi, bisa dianggap sudah dewasa dan sebaliknya orang yang sudah melampaui usia masih dianggap muda-mudi.

Status kaum muda yang diberikan kepada kaum muda itu sendiri tidaklah sesuai apabila dalam usianya yang masih muda ia hanya berpangku tangan atau menurut pepatah: ibarat katak yang terus berbunyi menunggu hujan turun dari langit. Sebaliknya, dalam batasan umur untuk ukuran orang dewasa bahkan tua namun apabila dalam memandang hidup penuh dengan optimis dan bersemangat serta mau bekerja keras inilah yang pantas dikatakan sebagai kaum muda, generasi fresh. Romo Gandhi, S.J. (pendamping kaum muda di Paroki St. Antonius Kotabaru 2005-2006) selalu mengharapkan bahwa kaum muda benar-benar memiliki andil yang lebih besar terhadap situasi luar yang melingkupi gerak kaum muda itu sendiri. Berbagai cara yang dilakukan dalam pendekatan dengan situasi kaum muda dewasa ini misalnya dengan cara camping rohani, out bond, rekoleksi kaum muda dan sebagainya.

Realitas yang terjadi bahwa kaum muda sendiri yang menggerakan dirinya dapat terlihat di sebuah desa kecil Taize, di Pegunungan Burgundi beberapa mil dari garis demarkasi yang membelah Prancis menjadi dua. Kaum muda berdatangan dari berbagai negara baik perorangan maupun kelompok dengan satu tujuan yaitu ingin mendapatkan keheningan dan pengalaman baru bersama saudara-saudara dari negara yang berbeda (Olivier, 2003:107). Kaum muda memiliki harapan untuk memperoleh sesuatu dengan apa yang dilakukannya dan dengan apa yang diusahakan dengan

sekuat kemampuannya. Sebuah keinginan yang terpendam pasti menuntut sebuah penyelesaian bahwa harus segera mencapai tujuan. Keinginan keras inilah yang mendorong kaum muda dalam usahanya untuk segera melakukan sebuah usaha dan memenuhi keinginannya. Inilah sifat asli kaum muda, yaitu keinginan untuk terus memandang keluar untuk melihat sebuah kebahagiaan.

1. Ciri-ciri kaum muda

Ciri-ciri kaum muda tidak lepas dari pengaruh lingkungan di sekitarnya. Mulai dari pola hidup, cara-cara dalam pergaulan, keterlibatan dalam masyarakat, hingga yang berkaitan dengan kebiasaan-kebiasaan tertentu yang menjadi ciri khusus yang menandakan dirinya adalah kaum muda. Kaum muda berkembang setaraf dengan pola pikir dan kesadaran mereka akan kebutuhan serta peran yang akan selalu disandangnya ketika dalam lingkungan orang dewasa dan akan disesuaikannya ketika berada dalam lingkungannya sendiri (Shelton, 1988: 34).

Beberapa tahun yang lalu Komisi Kepemudaan KWI mengadakan pertemuan dengan para penanggungjawab kaum muda di Syantikara Yogyakarta tahun 1997. Dalam pertemuan tersebut Komisi Kepemudaan KWI (1999: 4) mengungkapkan bahwa kaum muda dengan batasan-batasan umurnya yaitu:

Kaum muda adalah mereka yang berusia 13 sampai 35 tahun dan belum menikah, sambil tetap memperhatikan situasi dan kebiasaan masing-masing daerah. Kaum muda tersebut mencakup jenjang usia remaja, taruna dan pemuda.

Dengan melihat begitu banyaknya batasan-batasan usia yang diberikan dan semuanya menunjukan tidak ada kesamaan untuk batasan ini maka baiklah, batasan yang diberikan oleh Komisi Kepemudaan KWI ini menjadi patokan dasar untuk menentukan batasan usia kaum muda baik dari segi psikologisnya,

sosiologisnya, biologisnya. Pada usia ini secara umum kaum muda sedang memasuki masa pancaroba dan ada yang mulai memasuki masa dewasa dan pada usia ini, kaum muda mengalami perkembangan kemampuan kognitif, afektif serta kemampuan beraktivitas yang pesat. Di sinilah tempat dan saatnya untuk membangun dan mengembangkan watak dan kepribadian serta termasuk eksplorasi seluruh bakat yang ada.

Dikatakan bahwa masa muda adalah masa yang menentukan, baik itu masa depan, kehidupannya, keluarganya, dalam masyarakat dan bahkan bangsa dan negara dapat ditentukan olehnya. Pada masa muda ini pula segala tanggungjawab mulai lebih memberikan sebuah makna tersendiri. Arah hidup harus mereka tentukan sendiri. Terdapat masa-masa yang menentukan kaum muda dalam kehidupannya sehari-hari yang dipengaruhi oleh segi-segi baik itu segi biologis, psikologis, maupun segi sosiologisnya. Penjelasan selanjutnya akan dipaparkan berikut ini:

a. Segi biologis

Perkembangan kaum muda dilihat dari segi biologis ini adalah perkembangan yang dapat diamati secara langsung atau dengan kata lain dalam perkembangan dari segi biologis ini pula lebih menunjukan perkembangan jasmani. Namun sejauh ini perkembangan fisik dan segi biologis Perkembangan fisik kaum muda dapat dilihat pada tungkai dan tangan, otot-otot tubuh berkembang pesat, tetapi pada kepalanya masih mirip dengan anak-anak. Sedangkan perkembangan hormon di dalam tubuhnya membuat mereka lebih menyadari diri sebagai pria atau wanita. Mereka merasakan daya tarik jenis lain. Mereka mulai mengalami perasaan jatuh cinta dengan segala romantiknya.

Hal terpenting di sini untuk menunjukan ciri-ciri lebih mengarah pada kaum muda adalah bagaimana terlihat dalam pertumbuhan/ perubahan pada setiap anggota tubuhnya seperti yang dipaparkan di atas.

b. Segi psikologis

Segi psikologis lebih-lebih mengedepankan bagaimana perkembangan kaum muda misalnya dilihat dari sisi perkembangan emosional dan sosial. Kaum muda akan menunjukan sifat-sifat yang mengarah pada kepedulian terhadap sesama dan lingkungan. Telah dijelaskan diatas tadi bahwa pada tahap ini kaum muda mulai mencari-cari berbagai makna daam kehidupannya termasuk arti cinta, sinta ekslusif maupun cinta universal. Mereka mulai memahami perasaan lawan jenisnya dan dapat merasakan jatuh cinta beserta mencoba menemukan romantiknya saat-saat berpacaran.

Seorang ahli psikologi, Hurlock (1990: 272) mengemukakan pendapatnya tentang masa dewasa sebagai berikut:

Masa dewasa, yaitu periode yang paling panjang dalam masa kehidupan, umumnya dibagi atas tiga periode yaitu: masa dewasa dini, dari umur 18 sampai 35 tahun, masa dewasa pertengahan atau “setengah umur”, dari 35 tahun sampai 60 tahun dan masa dewasa akhir atau usia lanjut dari usia 60 tahun hingga mati. Masa dewasa dini adalah masa pencarian kemantapan dan masa produktif yaitu suatu masa yang penuh dengan masalah dan ketegangan emosional, periode isolasi sosial, periode komitmen dan masa ketergantungan, perubahan-perubahan nilai-nilai, kreativititas dan penyesuaian pada pola hidup baru.

Pada masa dewasa dini, orang muda mulai menemukan dan mengambil tanggungjawab pribadi untuk mengarahkan hidup mereka sendiri. Perkembangan emosi dan afeksi mulai dibina untuk semakin matang baik untuk menyesuaikan

dengan lingkungan dimana kesehariannya maupun untuk membina perasaan agar mampu percaya diri.

Masa muda merupakan masa genting bagi perkembangan kognitif (Shelton 1988: 66-67). Refleksi kognitif memungkinkan orang muda untuk menyimak sejarah hidup mereka sendiri secara lebih langsung. Orang muda harus mencari, menghadapi masalah-masalah, dan menyusun pemikiran mereka dalam suatu sistem berpikir yang lebih utuh untuk memberi arti pribadi. Oleh karena inilah orang muda biasanya seringkali mengambil jarak terhadap dirinya sendiri.

Melihat situasi seperti di atas dapat dikatakan kaum muda adalah manusia yang sedang berada dalam fase belajar untuk menjadi pribadi manusia yang dewasa. Dengan kata lain setiap orang muda harus mampu menangkap situasi hidup dengan cara yang khas dan berprinsip.

c. Segi sosial

Kaum muda akan terlihat sangat kontras dengan masa kecil yang telah dilaluinya atau dengan masa dewasa yang belum dilalui karena dilihat dari segi sosial, kaum muda adalah manusia yang penuh dengan ketegangan dan pergolakan demi mencari identitas dirinya, mencari dukungan dan menunjukan identitasnya. Timbulnya dorongan untuk berdiri sendiri, menentukan pilihannya sendiri, mengambil sikap dalam keputusannya sendiri, menjadikannya sebagai pribadi yang ingin otonomi sambil memperluas jangkauan pergaulannya sehari-hari. Mereka mulai sadar bahwa lingkungan pergaulannya dalam keluarga dirasa sudah terlalu sempit.

Jadi dapat disimpulkan bahwa kaum muda merupakan sosok pribadi yang selalu berkobar-kobar, penuh dinamika, penuh gairah. Seringkali bagi kebanyakan kaum muda tidak menyenangi yang dinamakan “berdiam diri”. Sifat unik sebagai

petualang hidup terus dihidupi untuk mencari dan membentuk pribadi serta identitasnya. Kaum muda selalu terbuka akan segala hal, termasuk tantangan-tantangan dalam hidupnya. Dan satu hal lagi sifat kaum muda yang paling menonjol yaitu ingin selalu mendapat pengakuan dari lingkungan sekitarnya dan ingin membuktikan bahwa dirinya “bisa”. Mereka kurang bisa menerima segala sesuatu ditentukan oleh orang lain.

2. Perkembangan Iman Kaum Muda

Berbicara mengenai iman sudah barang tentu memberikan porsi besar untuk siapa yang diimani tersebut dan dalam hal ini tidak lain adalah Yesus Kristus. Iman adalah proses aktif dan dinamis yang memainkan peranan sentral dalam membentuk tanggapan yang diambil dalam menanggapi kehidupan. Artinya iman adalah cara seseorang untuk melihat dirinya sendiri dalam hubungan dengan orang lain berdasarkan arti dan maksud yang dimengerti bersama. Maka iman adalah keterlibatan yang manusia buat bagi orang lain, kelompok dan jemaat. Di dalam keterlibatan itu ada kepercayaan yang dalam untuk berbagi dalam nilai-nilai bersama. Nilai-nilai itu adalah cita-cita yang secara dalam merasuki harapan, pandangan dan rasa manusia untuk mencapai tujuan.

Shelton (1988: 55-56) mengemukakan pendapat Fowler dalam teorinya bahwa “untuk mencapai iman yang benar-benar mantap seseorang harus melewati tahap-tahap yang tidak sangat mudah bahkan dibutuhkan sebuah perjuangan untuk melewati proses sulit dan tidak jarang menemui derita. Orang muda tampak sedang berusaha meninggalkan tahap ketiga dan memasuki tahap keempat (lihat di bawah, pada butir c-d), suatu proses yang biasanya diliputi keraguan dan penderitaan”. Ada enam teori Fowler yang dikemukakan oleh Shelton (1988: 55-56) yaitu:

a. Tahap I: proyektif intuitif (usia 4-8 tahun)

Dalam usia ini anak-anak mengalami kesulitan dalam menentukan sebab akibat, melepaskan kenyataan dari khayalan dan memahami urutan berbagai peristiwa. Oleh karena itu tantangan yang muncul pada tahap ini ialah untuk mengembangkan pemusatan perhatian yang lebih sadar mengenai masa depan.

b. Tahap II: mistis literal (usia 6-7 tahun hingga 11-12 tahun)

Di usia seperti ini, argumentasi secara sederhana dan mengembangkan kategori-kategori untuk mengklasifikasikan berbagai penglaman. Lingkungan mulai dikuasai secara konkret karena mereka belum memiliki kemampuan abstraksi dan refleksi. Tuhan dilihat sebagai sesuatu yang setia dan tidak dipersoalkan. Tetapi dunia tetap saja tidak pasti dan dalam berbagi cara, mereka tidak berdaya. Dalam kepercayaan dan keagamaan mereka dapat menemukan rasa aman.

c. Tahap III: sistem konvensional (usia 12 tahun hingga dewasa)

Kaum muda memandang dunia dari sudut interpersonal. Gagasan-gagasan, harapan-harapan dan pandangan orang lain diinternalisasi untuk mendukung identitas mereka yang sedang tumbuh. Pandangan orang lain sangat penting untuk pembentukan sistem nilai mereka sendiri. Di sinilah simbol memiliki arti tersediri bagi mereka. Simbol dimengerti sebagai sesuatu yang lebih daripada sekedar penampilan benda fisiknya, atau nama yang digunakannya seperti misalnya “Tuhan”. Di sini, kualitas pribadi simbol sangat diperhatikan. Jadi Yesus Kristus dapat menjadi sahabat dan teman yang dapat mereka hubungi. Inilah yang mengakibatkan hubungan mereka dengan Tuhan menjadi lebih personal.

d. Tahap IV: refleksi individuatif (usia 17-18 tahun hingga 20-22 tahun)

Selain usia yang telah ditentukan tersebut di atas, pada tahap ini dapat juga terjadi pada usia 30-an atau 40-an tahun. Di usia ini seseorang mulai memandang iman yang semakin “menjadi milik sendiri”. Iman bukan hanya personal namun lebih konstan dan koheren. Mereka tidak hanya merasa hanya merasa butuh memperdalam refleksi imannya, tetapi juga butuh keterbukaan pada pengalaman masa kini dan mendatang. Mereka harus mulai menganggap serius beban pertanggungawaban atas keterlibatan, gaya hidup, iman dan juga tingkah laku mereka.

e. Tahap V: iman yang konjungtif (usia 30-an)

Tahap ini muncul dari pengalaman hidup yang semakin mendalam yang mencakup penderitaan, kehilangan dan ketidakadilan. Dalam tahap ini pula seseorang menyadari pentingnya persahabatan dan loyalitas serta bermasyarakat yang semakin luas; masyarakat tempat mereka menemukan arti. Namun mereka juga menyadari pentingnya keterbukaan terhadap masa depan yang tidak menentu. Oleh kerena itu mereka juga terlibat dalam masalah-masalah politik dan etika yang semakin dalam, tahap ini merupakan hasil renungan seseorang dalam interaksi mereka dengan orang lain dan dengan kondisi hidup mereka sendiri.

Berbagai gambaran tentang kaum muda telah terungkapkan yang meliputi aspek-aspek: biologis, psikologis, sosiologis dan perkembangan imannya. Tidak ada sesuatu hal yang diungkapkan di sini merupakan sesuatu yang mutlak terjadi pada kaum muda. Gambaran tadi sekiranya menjadi pegangan bagi para pembimbing kaum muda ketika berhadapan dengan komunitas orang muda dan sekali lagi dikatakan gambaran tersebut bukanlah sesuatu yang tidak berubah. Setiap saat pasti mengalami perubahan, maka perlu pengamatan dimana kaum muda itu berada, sehingga akan

lebih memadai antara tujuan pembinaan dan kebutuhan, baik yang dirasakan maupun kebutuhan yang sesungguhnya.

f. iman yang diuniversalkan

Sebuah keinginan dari dalam yaitu ingin melayani orang lain terjadi dalam tahap ini. Semangat keterlibatan untuk memburu cinta dan keadilan. Dengan iman seseorang berusaha menjelaskan “yang transenden” serta membantu menerangkan kodrat mereka dalam hubungannya dengan rahmat istimewa. Terdapat “rahmat luar biasa” yang merupakan manifestasi tak terduga dan tak terselami dari keprihatinan Allah dan umat-Nya akan cinta dan semangat mereka. Pribadi-pribadi yang telah berhasil mencapai tahap ini misalnya Ibu Theresa dan Martin Luther King. Mereka telah memperlihatkan semangat besar dan keterlibatan untuk tuntutan cinta dan keadilan.