KAUM MUDA DAN KARYA MUSIK DEWASA INI
G. Pengertian Evangelisasi Baru 1.Pengertian umum
Istilah evangelisasi telah lama dikenal di kalangan Gereja Protestan. Namun dalam kalangan Gereja Katolik, istilah evangelisasi sendiri masih tergolong baru. Evangelisasi diartikan sebagai tugas Gereja di tanah-tanah misi dan pengertian ini untuk zaman sekarang masih sangat sempit. Dalam Sinode Para Uskup tahun 1974 mengartikan evangelisasi secara lebih luas yakni keseluruhan kegiatan pewartaan dan kenabian Gereja. Kegiatan pewartaan dana kenabian tersebut sudah barang tentu berkaitan dengan berbagai sendi kehidupan manusia. Hal ini dijelaskan juga dalam EN 9 di bawah ini:
Lapisan-lapisan umat manusia yang harus diubah: kriteria penilaian umat manusia, nilai-nilai yang menentukan, bidang-bidang minat, garis-garis pemikiran, sumber-sumber inspirasi, model-model kehidupan, yang bertentangan dengan Sabda Allah dan rencana penyelamatan. Bagi Gereja yang menjadi soal bukan hanya mewartakan Injil dalam kawasan geografis yang lebih luas atau jumlah manusia yang lebih banyak, tetapi juga bagaimanakah mempengaruhinya dan menjungkirbalikannya dengan kekuatan Injil.
Demikian pula dalam penjelasan berikut: Evangelisasi berarti setiap kegiatan Gereja yang bertujuan untuk mengubah dunia sesuai dengan kehendak Tuhan, pencipta dan penebus (Adisusanto, 2000: 29). Evangelisasi yang dikenal sekarang akan lebih nampak dan terasa serta dapat terlibat langsung di dalamnya misalnya yang terdapat dalam Pembinaan Iman Anak (PIA), Pembinaan Iman Remaja (PIR), Pembinaan Iman Orang Dewasa (PIOD).
Memang tidak sedikit yang masih belum cukup memahami arti evangelisasi. Sebagai akibatnya evangelisasi hanya diartikan sebagai pewartaan untuk menambah jumlah komunitas. Evangelisasi hanya dipahami sebagai jalan untuk menambah kuantitas. Segala usaha yang dilakukan termasuk material yang diberikan sebagai alat pendukung agar orang-orang tertentu mau dan tertarik mengikuti ‘ajakan’ si pewarta. Memang akhirnya banyak yang tertarik dan mengikuti namun segi kedewasaan iman berbanding terbalik dengan motivasi untuk ikut di dalamnya. Hal ini terjadi pada sebagaian besar penduduk di pedalaman Kalimantan Barat, menurut penulis beberapa aliran/ sekte dari Gereja Protestan yang lebih banyak berperan di dalamnya. Inilah salah satu contoh penerapan evangelisasi secara sempit dan hanya terbatas pada misi.
Demikianlah evangelisasi dapat dimengerti sebagai suatu proses yang mencakup keseluruhan penyebaran Kabar Gembira. Di dalam proses ini ada usaha ke dalam dan ke luar, yaitu usaha dimana umat beriman semakin berkembang secara
terus menerus dalam memperdalam imannya dan memberi kesaksian di dalam hidup mereka pula (Heuken, 1991: 313). Pengertian ini ditegaskan lagi oleh Mgr. Suharyo dengan mengistilahkan evangelisasi baru sebagai suatu upaya pembaharuan yang lebih bersemangat dengan berbagai cara, wujud dan metode mengenai paham evangelisasi yang telah diusahakan (Komkat KWI , 1995: 60).
Evangelisasi baru dimengerti sedikit lain ketika berada dalam konteks Gereja Eropa. Evangelisasi diartikan sebagai upaya re-evangelisasi di wilayah-wilayah yang sudah berkembang kekristenannya tetapi mengalami kemunduran atau penurunan. Secara umum tantangan evangelisasi di Gereja Barat adalah sekularisasi dan hal inilah yang menuntut re-evangelisasi. Namun re-evangelisasi tersebut tidak menutup kemungkinan ketika melihat keadaan di Gereja Timur. Tantangan evangelisasi di sana ialah dengan adanya sinkretisme dan persoalanan sosial politik. Salah satu contoh re-evangelisasi yang telah dilakukan di Gereja Timur ialah di Timor Timur. Karena begitu hebatnya kerusuhan yang mengguncang sehingga mengakibatkan kekurang-yakinan umat beriman akan imannya pada Kristus. Segala doa dan peribadatan terasa sia-sia sehingga akhirnya beberapa nyawa anggota keluarga dan sanak saudara harus melayang, tidak ada yang melindungi. Sebelumnya di Timor Timur ini merupakan tanah misi para misionaris dari Portugal dan Belanda.
Disebutkan tadi di atas dalam sinode tentang evangelisasi dunia modern pada tahun 1974, evangelisasi baru juga merupakan suatu upaya pembumian antara warta Injil dan kebudayaan. Pewartaan Kabar Gembira semakin ditekankan agar mampu berdialektika dengan berbagai macam ragam budaya yang sangat plural di Asia.
2. Pengertian berdasarkan Kitab Suci
Istilah evangelisasi dalam Kitab Suci sudah barang tentu menunjuk pada pengertian alkitabiah dari evangelisasi tersebut. Dalam Perjanjian Baru paling nampak bagaimana evangelisasi menjadi titik sentralnya. Di dalam surat-surat Paulus disamping kata karyssein (mewartakan), Paulus juga menggunakan kata eyanggelion (Kabar Gembira) dan eyanggelizes (pewarta Kabar Gembira) untuk pewartaan pokok (Jacobs, 1992: 103). Dalam surat-surat Paulus tersebut pewartaan pokok yang dimaksud adalah mengenai wafat dan kebangkitan Kristus, dan pelaksanaan karya keselamatan Allah. Semua itu terangkum di dalam Kabar Gembira yang dimaksudkan Paulus untuk diwartakan (Rm 1:1-9;16:2;16:10;16:11-28).
Istilah Yunani eu-anggelion atau kabar gembira dapat disamakan dengan istilah Ibrani besora yang berarti berita tetang kemenangan (2 Sam 18:20-22) dan istilah ini digunakan dalam Deutero Yesaya (Yes 40:9 52:7). Kata eu-anggelizomai yang berarti memberitakan kabar baik sendiri digunakan dan lazim muncul pada Lukas dan Surat Paulus, sedangkan pada Markus dan Matius (kecuali Mat 11:15) tidak diketemukan (Jcobs, 1992: 101).
Didasari penjelasan di atas, evangelisasi dalam kerangka pengertian alkitabiah khususnya Perjanjian Baru dapat dimengerti sebagai Kabar Gembira. Kabar Gembira ini jika didasarkan pada apa yang dimaksud Paulus adalah pewartaan tentang Kristus dan rencana keselamatan Allah. Kemudian jika diamati lebih dalam lagi kabar gembira di dalam Perjanjian Baru erat kaitannya dengan istilah kesaksian, yang dalam bahasa Yunani martys (saksi), martyria (kesaksian). Dikatakan oleh Jacobs (1992: 108) bahwa kesaksian selalu pengakuan, dengan itu maka kata ‘saksi’ mempunyai arti yang khas misioner. Dari hal tersebut istilah keryssein dan eyanggelizes di dalam Lukas mempunyai fungsi kerangka kesaksian. Kesaksian
tersebut menyangkut fakta dan lebih berarti “menyatakan” atau “menegaskan” tentang suatu ‘warta’ (Luk 8:1 dan Kis 20:26; 26:22).
Hal tersebut di atas semakin memperjelas istilah evangelisasi atau pewaartaan Kabar Gembira di dalam Perjanjian Baru yang mempunyai arti luas. Jacobs (1992: 95) sendiri memperkuat gagasannya berkaitan dengan ini dengan mengungkapkan dengan menekankan bahwa evangelisasi dalam kerangka arti atau maksud misi.
3. Pengertian berdasarkan dokumen Gereja
Konsili Vatikan II memang banyak membawa perubahan dalam tubuh Gereja di dunia. Beberapa perubahan yang terjadi misalnya, Gereja sedikit banyak ditentukan oleh misteri Ekaristi (Prier, 2004: 4) yang menyatakan bahwa, “Liturgi bukan pertama-tama bersifat sebagai kebatian/ penyembahan Allah oleh manusia, tetapi terutama karya Allah yang menyelamatkan pada orang beriman. Liturgi adalah ungkapan iman sebagai jawaban pada sapaan oleh Allah. Oleh karena itu hendaknya liturgi dirayakan secara sederhana dan jelas; disamping pewartaan dari Kitab Suci diperlukan juga homili” (SC 33-36, 50-52, 54). Namun ini merupakan perubahan yang terjadi dalam tata cara liturgi, perubahan lain yang terjadi setelah Konsili Vatikan II yaitu pada tahun 1974 dimana Paus Paulus VI mengeluarkan Ekshortasi Apostoliknya yang berjudul Evangelii Nuntiandi tentang Pewartaan Injil dalam Dunia Modern. Ensiklik ini dikeluarkan untuk menanggapi Sidang Umum Ketiga Sinode Para Uskup tahun 1974 yang bertemakan “Evangelisasi” atau “Pewartaan Injil” (Hardawiryana bdk. Konsili Vatikan II, 1993: 1).
Gereja pada hakekatnya merangkum keseluruhan dan kepenuhan upaya-upaya keselamatan, namun tidak selalu dan tidak segera bertindak atau dapat
bertindak memakai semua upaya itu, melainkan dalam kegiatannya mencoba melaksanakan rencana Allah mengalami tahap-tahap awal dan langkah-langkah (AG 6). Ditambahkan lagi dalam EN bahwa seluruh umat Katolik hendaknya memperbaharui karya pewartaan Injil pada masa sekarang ini, agar Injil mampu berdialog dengan kebudayaan dan secara konkret mampu menjawab pengharapan dan keprihatinan manusia. Paus Paulus VI sendiri mempunyai maksud dalam mengeluarkan Evangelii Nuntiandi yaitu agar dapat “Membawa Kabar Baik kepada segala tingkat kemanusiaan, dan melalui pengaruh Injil merubah umat manusia dari dalam dan membuatnya menjadi baru” (EN 18).
Evangelisasi merupakan suatu pewartaan misioner yang bertujuan mengawali suatu perkembangan iman akan Kristus (AG 6). Memang pengertian evangelisasi sendiri memiliki arti yang luas. Evangelisasi tidak cukup hanya diberi pengertian hanya sebatas ‘pewartaan’ saja namun pewartaan menurut pendapat beberapa Dokumen Gereja. Evangelisasi dapat dikatakan sebagai sebuah rahmat, karena semua orang dapat mendapat pewartaan dan menjadi pewarta di zamannya serta dapat memiliki Warta tersebut, Warta yang dimaksud ialah Yesus Kristus yang menjadi pokok pewartaan. Oleh sebab inilah evangelisasi dapat juga disebut sebagai upaya bersama orang beriman untuk menyalurkan pengalaman imannya kepada masyarakat di sekitarnya dalam terang karya Roh Kudus, maka evangelisasi merupakan suatu bentuk kesaksian hidup. Hal ini didasari oleh kenyataan bahwa kesaksian merupakan tugas perutusan Kristiani. Kesaksian ini mengisyaratkan integrasi dari berbagai aspek perikehidupan, keluarga, dan persekutuan umat Gereja (EN 41).
Seperti yang telah dikatakan tadi di atas bahwa evangelisasi memiliki pengertian yang luas. Evangelisasi dapat berarti upaya untuk memberikan kesaksian
injili pada semua umat manusia, di samping itu juga dapat dimengerti sebagai upaya pembinaan untuk membentuk dan mengembangkan iman umat akan Kristus. Evangelisasi dalam arti sempit dimengerti pula sebagai upaya pewartaan awal, namun tidak sebatas itu evangelisasi terlebih juga merupakan suatu upaya yang sampai membawa umat kepada pertobatan dan pembabtisan. Arti yang lebih luas lagi, evangelisasi merupakan upaya pembaharuan dan peresapan warta injili di dalam warisan budaya umat manusia. Evangelisasi dapat disimpulkan sebagai suatu upaya pewartaan Injil dengan memberikan kebebasan pada pewarta dalam memilih model, metode dan sarana sehingga tujuan tercapai yaitu sampai pada pertobatan total.