BAB V. USULAN KATEKESE BAGI PARA FRATER BUNDA
D. Program Katekese
5. Contoh Persiapan Katekese I
a. Identitas Katekese
1). Judul Pertemuan : Yesus sang pemimpin utama yang melayani dengan penuh cinta.
dan pengorbanan diri.
2). Tujuan : Membantu peserta untuk semakin menghayati makna
kepemimpinan Yesus yang melayani dengan penuh cinta dan pengorbanan diri demi kebahagiaan dan keselamatan
sesamanya.
3). Peserta : Para Frater Bunda Hati Kudus di Indonesia 4). Tempat : Provinsialat Frater BHK
5). Hari/ Tgl : Sabtu, 21 – Minggu, 22 November 2009
6). Waktu : pkl. 19.30-21.30 WIB & pkl. 08.00 – 10.00 WIB 7). Metode : - Nonton Film
- Diskusi kelompok - Pleno - Sharing - Refleksi pribadi - Informasi - Tanya jawab
8). Sarana : - VCD Uskup Romero - Laptop & LCD - Teks Yoh 10:11-13 - Kertas flap & spidol
9). Sumber bahan : - Hadiwiyata, 2008, Tafsiran Injil Yohanes. Yogyakarta: Kanisius.
- VCD : Uskup Romero.
- Antony D’Souza, (2002: 38-40) Proactive Visionary Leadership Jakarta: PT. Trisewu Nagawarsa
- Martasudjita, (2001: 46-48) Kepemimpinan transformatif. Yogyakarta: Kanisius
- Sudomo, (2005: 83-84), Ciri utama kepemimpinan. Yogyakarta: Andi Offset
- Pengalaman peserta.
b. Pemikiran dasar
Kehidupan manusia, baik sebagai makluk sosial maupun sebagai individu tak pernah terpisahkan dari pemimpin dan kepemimpinan. Manusia senantiasa membutuhkan pemimpin dalam hidupnya untuk membantu mengarahkan, membimbing, menuntun serta menghantarkannya pada suatu hidup yang lebih baik, penuh makna, menyelamatkan dan membahagiakannya dan pemimpin itu bisa dirinya sendiri maupun orang lain.
Dalam kehidupan sebuah organisasi atau lembaga, pemimpin dan kepemimpinan ini sangat vital peranannya, sebab sang pemimpin dengan segala kemampuan manajerial kepemimpinannya itulah yang akan membimbing, menuntun, mengarahkan dan menghantar organisasi itu dalam mencapai tujuan yang dicita-citakan bersama. Maka dengan demikian seorang pemimpin diandaikan memiliki kemampuan intelektual (kognitif), kemampuan menghayati nilai-nilai kodrati maupun nilai-nilai transenden/ spiritulitas (avektif) dan ketrampilan (psikomotorik) dalam menjalankan
kepemimpinannya. Hal ini mencakup baik pemimpin profan maupun pemimpin rohani/ religius. Namun realitas menunjukkan bahwa betapa sulitnya untuk menemukan pemimpin yang ideal dalam dunia dewasa ini.
Perkembangan dunia yang semakin pesat, di satu sisi telah berhasil mengangkat manusia pada suatu taraf tertentu, namun di sisi lain tak dapat dipungkiri bahwa perkembangan dunia dengan segala kekuatannya, secara perlahan namun pasti telah menggerogoti nilai-nilai dasar hidup manusia sebagai makluk sosial dan makluk religius. Hal ini terlihat jelas di mana manusia dewasa ini lebih dikuasai oleh individualisme, egoisme, fanatisme, ekstrimisme, konsumerisme, hedonisme, dan terorisme/ kanibalisme. Semuanya ini telah menjerumuskan manusia dalam lembah kehampaan hidup, kesepian dan ketakbermaknaan hidup. Salah satunya adalah krisis kepemimpinan dalam seluruh aspek kehidupan manusia. Karena entah disadari atau tidak, justru karena manusia tidak lagi sanggup untuk memimpin dirinya sendiri, maupun sesamanyalah yang menjadi penyebab utama terjadinya krisis multi dimensional sebagaimana dikemukakan di atas. Di samping itu boleh dikatakan bahwa dalam dunia dewasa ini amatlah sulit untuk menemukan pemimpin-pemimpin yang mau melayani dengan segala totalitas dirinya apa lagi harus menjadikan nyawanya sebagai taruhan bagi orang-orang yang dipimpin dan dilayaninya.
Krisis kepemimpinan ini pun telah merengsek masuk dalam tataran kehidupan Gereja pada umumnya dan dalam kehidupan lembaga hidup religius pada khususnya. Di mana nilai-nilai kepemimpinan Kristiani dan religius dalam tataran kehidupan Gereja dan lembaga religius zaman sekarang secara perlahan namun pasti mulai terkikis. Kepemimpinan bukan lagi diterima sebagai fungsi dan tugas perutusan Kristus untuk mengabdi dan melayani Kristus dalam diri umat atau para anggota yang dipimpinnya, namun justru kepemimpinan dilihat sebagai jabatan kekuasaan dan
peluang untuk menindas dan sekaligus dijadikan sebagai sarana untuk mengejar serta mencapai apa yang menjadi kepentingan dan obsesi pribadi atau kelompoknya. Oleh karena itu tidak heran bahwa jabatan dan kekuasaan ini kerap kali diperjuangan mati-matian dengan menghalalkan segala cara yang sebenarnya sangat bertentangan dengan nilai-nilai kepemimpinan Kristiani maupun nilai-nilai kepemimpinan religius.
Kongregasi Farter Bunda Hati Kudus sebagai salah satu lembaga religius laikal keuskupan yang berkedudukan di Keuskupan Malang Jawa Timur Indonesia, khususnya propinsi Indonesia pun tidak terlepas dari krisis kepemimpinan ini. Hal ini terlihat dari hasil penelitian/ wawancara yang penulis lakukan terhadap para frater. Di sana terungkap realitas dan pengalaman yang cukup memprihatinkan berkaitan dengan pola serta keteladanan kepemimpinan para pemimpin Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus, khususnya Provinsi Indonesia saat ini. Hal ini mengindikasikan bahwa ternyata perkembangan dunia dengan segala kekuatannya telah turut mengikis dan merongrong penghayatan nilai-nilai kepemimpinan Kristiani dan religius dalam diri para Frater BHK khususnya para pemimpinnya yang secara struktural telah diberi kepercayaan oleh tarekat untuk memimpin, mengarahkan, membimbing, menuntun para anggota tarekat untuk bersama-sama berjuang mencapai apa yang dicita-citakan tarekat melalui visi-misi tarekat.
Nilai-nilai cinta kasih, kerendahan hati, pengabdian dan pengorbanan diri bagi sesama anggota tarekat maupun bagi orang-orang yang menjadi sasaran pelayanan dan pengabdian tarekat menjadi semakin kabur. Dalam menghadapi situasi krisis ini memang tidak harus mempersalahkan para pemimpin semata namun ini merupakan sumbangsih seluruh anggota tarekat, namun para pemimpin sebagai motor dari kongregasi memiliki tanggung jawab yang lebih dalam mengatur kelangsungan hidup tarekat secara keseluruhan. Oleh karena itu para pemimpin harus mampu membangun
suatu kesadaran yang mendalam akan situasi yang memprihatinkan ini untuk selanjutnya berusaha membantu membangkitkan kesadaran para anggota tarekat akan situasi yang sama untuk kemudian bersama-sama berefleksi dan mencarikan solusi bersama, agar karya perutusan Tuhan yang dipercayakan Tuhan bagi tarekat ini dapat berperan lebih efektif dan efisien sebagai obat penawar bagi dunia yang sedang sakit ini, yakni untuk lebih melayani dengan penuh cinta dan pengorbanan diri bagi mereka yang dilayani.
Bertolak dari realitas ini, maka pada kesempatan ini penulis mencoba menawarkan sebuah pertemuan katekese dengan tema: “Yesus sang pemimpin utama yang melayani dengan penuh cinta dan pengorbanan diri”, dengan bertitiktolak dari sabda Tuhan sendiri dalam Injil Yohanes 10:11-13 “Gembala yang baik”. Dengan judul pertemuan katekese ini dan juga bertolak dari sabda Tuhan tersebut diharapkan agar para frater semakin mampu berguru dan meneladan serta menghayati pola dan semangat kepemimpinan Yesus sang pemimpin utama yang melayani dengan penuh cinta dan pengorbanan diri. Hal ini diandaikan pula bahwa hendaknya para frater dalam melaksanakan karya pelayanan mereka masing-masing sekecil apapun harus senantiasa menempatkan Yesus sebagai pusat dan dasar pelayanannya. Sehingga dengan demikian mereka secara bebas, tulus, penuh kerelaan dan pengorbanan diri mau melayani Kristus yang hadir dalam diri orang-orang yang diabdi dan dilayaninya. Dengan hidup meneladan pola kepemimpinan Yesus sebagai pemimpin utama berarti para frater harus hidup, bekerja, mencintai dan melayani seperti Yesus.
c. Pelaksanaan Pertemuan Katekese 1). Pembukaan
Para konfraterku yang dikasihi Tuhan, selamat datang dalam pertemuan katekese kita kali ini. Pertama-tama saya menghaturkan limpah terima kasih atas kesediaan dan kerelaan para frater yang telah berkenan meluangkan waktunya untuk bersama-sama berkumpul pada kesempatan ini. Dalam pertemuan ini kita akan bersama-sama mencoba masuk dalam ke kedalaman hati dan hidup kita masing-masing, untuk melihat kembali seluruh perjalanan hidup kita selama ini sebagai seorang religius Frater Bunda Hati Kudus. Kita akan mencoba untuk menggali dan merefleksikan sudah sejauh mana kita masing-masing menghayati panggilan dan tugas perutusan kita sebagai seorang pemimpin baik pemimpin bagi diri sendiri maupun yang secara struktural oleh kongregasi telah diberi kepercayaan untuk menjadi pemimpin dalam tataran apapun dalam menjalankan misi perutusan kita, entah sebagai Dewan Provinsi Indonesia, sebagai kepala sekolah, pimpinan komunitas atau sebagai pempinan apapun. Kita masing-masing bertanya sudah sejauh manakah saya menghayati semangat pelayanan yang penuh cinta dan pengorbanan dalam melayani sesama yang dipercayakan Tuhan dan tarekat kepadaku? Oleh karena pada kesempatan ini kita akan saling berbagi kekuatan dan pengalaman agar kita semakin mendukung, meneguhkan dan menguatkan dalam melanjutkan tugas perutusan tarekat untuk lebih melayani sesama dengan penuh cinta dan pengorbanan bagaikan untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.
b). Lagu pembukaan: Yesus Raja Damai (MB. No. 743)
Syukur pada-Mu Yesus Tuhan, Dikau bawa terang bagi dunia. Kau damaikan Surga dengan bumi, bahagia umat manusia.
Dikau yang membebaskan kami, Dikau hapus noda dan dosa kami. Kau penuhi janji para nabi, raja damai yang lama dinanti.
c). Doa pembukaan:
Ya Allah Bapa yang maha cinta, puji dan syukur kami haturkan ke hadirat-Mu atas segala kelimpahan rahmat dan cinta yang telah Engkau anugerahkan secara cuma-cuma kepada kami hingga saat ini. Kami bersyukur pula bahwa berkat kelimpahan kasih-Mulah kami telah kau kumpulkan di tempat ini untuk bersama-sama menggali, merefleksikan dan berusaha menghayati serta meneladan Yesus Kristus sang pemimpin utama kami yang telah Kau utus untuk melayani dan menyelamatkan kami manusia dengan penuh cinta dan bahkan mengorbankan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi kami. Oleh karena itu kami mohon datanglah kerajaan-Mu dan penuhilah hati, pikiran dan seluruh diri kami dengan terang Roh Kudus-Mu, agar kami semakin terbuka akan sabda dan rahmat-Mu yang senantiasa Engkau alirkan demi kebahagiaan dan keselamatan hidup kami manusia yang lemah dan tak berdaya ini, sehingga kami dapat menjadi pemimpin-pemimpin masa kini yang penuh cinta dan pengorbanan diri demi kemuliaan nama Allah yang lebih besar. Demi Kristus Tuhan dan pengantara kami. Amin.
2). Penyajian pengalaman hidup (penayangan film).
Para frater yang terkasih, pada kesempatan ini marilah kita bersama-sama menyaksikan tayangan sebuah film yang berjudul: “USKUP ROMERO”. Filem ini mengisahkan seorang imam bernama Pastor Oscar Romero yang lahir Ciudad Borrios, San Miguel, di bagian Timur El Salvador pada tanggal 15 Agustus 1917 (Denis, 2008: 28).
Oscar Romero setelah belajar di San Miguel dan San Salvador, ditabiskan di Roma pada taggal 4 April 1942, dan selanjutnya Perang Dunia II memaksa Pastor Oscar meninggalkan studi doktoralnya di Roma dan kembali ke El Salvador tanah
kelahirannya. Segera ia terbenam dalam tugas karya Gereja . Di samping melakukan tugas, ia bekerja juga untuk keuskupan San Miguel sebagai sekretaris, kapelan sekolah menengah atas, dan sebagai wartawan. Pastor Romero merupakan seorang pengkhotbah yang sangat bagus dan menarik yang selalu menyemangati dan membangkitkan iman umatnya. Dalam khotbah-khotbahnya, ia selalu memerhatikan pengaitan pesan Injil dengan pengalaman hidup sehari-hari umatnya yang dengan setia mendengarkannya. Dalam suatu khotbah ia pernah mengatakan “Kerajaan surga sudah mulai dan kita alami serta rasakan sekarang dan di sini ini” ( Dennis, 2008: 28).
Pastor Romero selama mengemban tugas penggembalaannya, ia selalu bersinggungan dengan situasi yang amat tidak menguntungkan akibat situasi politik dan ekonomi yang tidak kondusif, di mana ia bersama teman-temannya selalu dihadapkan dengan realitas yang sangat memprihatinkan. Realitas yang dimaksud adalah di mana masyarakat El Salvador yang boleh dikatakan 99 % beragama Katolik ini hidup di bawah garis kemiskinan, akibat lahan-lahan pertanian pada umumnya dikuasai oleh pemerintah yang diktator dan koruptor atau yang kita kenal dengan istilah Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN). Pastor Romero bersama teman-teman misionarisnya selalu berusaha melayani dan mendampingi umat penggembalaannya dengan penuh perhatian dan kelembutan kasih. Namun di satu sisi mereka juga tidak tahan melihat penderitaan umatnya yang semakin meningkat. Situasi inilah yang mendorong Pastor Romero bersama teman-temannya berjuang menuntut keadilan lewat kotbah-kotbahnya dan juga lewat pendekatannya dengan para pejabat pemerintah dan para tuan tanah agar mereka bisa bersikap lebih adil. Namun usaha itu terasa sia-sia, dan justru mereka dimusuhi oleh pemerintah. Situasi ini tidak pernah menyulutkan semangat perjuangan Pastor Romero dan teman-temannya dalam menyuarakan keadilan di tanah El Salvador. Perjuangan ini semakin meningkat ketika Pastor Romero, yang oleh Bapa Paus
Yohanes Paulus II diangkatnya menjadi Uskup di El Salvador. Beliau semakin gencar memperjuangkan keadilan bagi umatnya, walaupun ia semakin dimusuhi dan dibenci oleh para penguasa negeri itu. Perjuangan sang uskup ini berpuncak ketika terjadi peristiwa penembakan membabibuta oleh pasukan pemerintah terhadap umat yang sedang mengikuti perayaan Ekaristi di halaman sebuah plasa. Suatu peristiwa yang sangat menyulut kemarahan sang uskup adalah ketika pasukan pemerintah menembak mati seorang sahabat karibnya bernama Pastor Rutillo Grande, SJ dengan dua orang campesino pada tanggal 12 Maret 1977.
Uskup Romero tidak pernah mau menyerah dalam menghadapi situasi ini. Justru ia semakin berani berjuang menegakkan keadilan bagi umat kesayangannya dengan sebuah semboyan “Jika mereka membunuh saya, saya akan bangkit lagi dalam diri rakyat El Salvador” (Dennis, 2008: 28). Semboyan inilah yang sampai sekarang sangat terkenal di seluruh dunia. Semangat, kegigihan dan keberanian inilah yang pernah membuat dia ditangkap dan dipenjarakan walaupun setelah itu ia dibebaskan kembali. Namun pada akhirnya, ketika beliau sementara memimpin perayaan Ekaristi, tiba-tiba ia ditembak oleh seorang penembak bayaran pemerintah yang berkuasa yang sangat membencinya. Peristiwa penembakan ini terjadi dalam konsekrasi, yakni ketika sang uskup sementara mengangkat piala berisi darah Kristus. Inilah puncak perjuangan Uskup Romero di tanah misi El Salvador. Sebagaimana Kristus telah menumpahkan darahnya sebagai tebusan bagi dosa umat manusia, begitupun Uskup Romero telah rela menumpahkan darahnya sebagai ungkapan cinta dan pengabdiannya yang total demi mewujudkan cinta kasih dan keadilan di tanah El Salvador pada umumnya dan bagi umat Katolik El Salvador pada khususnya.
Para konfraterku yang terkasih, untuk lebih rincinya dari kisah ini, marilah kita dengan seksama menyaksikan tayangan filmnya. Selamat menyaksikan.
3). Pendalaman film
Para konfraterku yang terkasih, setelah kita menyaksikan tayangan film Uskup Romero dan merenungkannya, marilah selanjutnya kita masuk dalam kelompok kecil yang sudah dibagi untuk saling berbagi dari pangalaman Film tadi dan sekaligus kita juga mencoba merekam kembali pengalaman hidup kita sebagai kaum terpanggil dalam menunaikan tugas perutusan kita masing-masing dan sekaligus membagikannya di antara kita dengan beberapa pertanyaan panduan berikut:
a). Apa reaksi spontan para frater terhadap kisah Uskup Romero tadi?
b). Sikap-sikap pelayanan macam apakah yang ditunjukkan Uskup Romero dalam melayani umat penggembalaannya di El Salvador?
c). Mengapa Uskup Romero rela mengorbankan nyawanya bagi umat dan masyarakat El Salvador?
d). Sejauh mana para frater berusaha menghayati sikap pelayanan yang penuh kasih dan penuh pengorbanan diri dalam menunaikan tugas perutusan sehari-hari?
4). Rangkuman dari sharing pendalaman film dan pengalaman hidup para frater Setelah menyaksikan film tadi, dari kita masing-masing tentu muncul berbagai macam reaksi spontan di mana ada yang merasa prihatin dan sedih melihat situasi masyarakat El Salvador yang sangat memprihatinkan, takut, jengkel, cemas, protes, ibah ketika melihat sikap brutal dari pemerintah dan tentara, terkesan dengan sikap pengorbanan diri Uskup Romero yang rela menumpahkan darahnya demi memperjuangkan dan mewujudkan nilai cinta kasih dan keadilan di tanah El Salvador.
Sikap pelayanan yang ditunjukkan Uskup Romero bersama teman-teman seperjuangannya adalah di mana dengan melihat situasi masyarakat yang sangat memprihatinkan itu, mereka berusaha untuk senantiasa menjadi teman, sahabat,
gembala, bapak dan pemimpin serta pejuang yang tangguh dengan dibalut selimut cinta kasih dan pengorbanan diri yang total untuk mengangkat harkat dan martabat kaum miskin El Salvador dan sekaligus demi kemuliaan nama Allah yang lebih besar bagi tanah misi El Salvador yang sangat ia cintai. Kiranya motivasi inilah yang mendorong Uskup Romero untuk rela mati di tengah kaum miskin dan penderita yang sangat ia cintai.
Kisah Uskup Romero ini diharapkan dapat menggugah, menyadarkan kita semua untuk melihat kembali sudah sejauh mana kita menghayati sikap pelayanan yang penuh kasih dan pengorbanan yang tulus dari kita dalam menunaikan tugas panggilan dan pelayanan kita terhadap sesam konfrater, karyawan- karyawati, para guru, para anak didik umat dan siapa saja yang kita jumpai dan kita layani. Saya yakin bahwa para frater masing-masing telah berjuang maksimal untuk menghayati dan mewujdkan nilai-nulai cinta kasih, keadilan, kejujuran, kebenaran dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu marilah kita tetap semangat dengan saling mendukung, memperhatikan satu sama lain untuk melangkah bersama dalam menata dan menatap masa depan kita yang masih terbentang luas ini, agar kemuliaan nama Allah dan Hati Kudus Yesus semakin dipuja dan disembah dimana-mana.
5). Pembacaan Kitab Suci, Yoh 10 11-13
Pendamping mengajak para peserta untuk membacakan secara bersama dan perlahan-lahan teks Kitab Suci Yoh 10:11-13, kemudian selanjutnya pendamping membacakan sekali lagi dengan lebih pelan dilanjutkan dengan saat hening dan refleksi pribadi sejenak diiringi musik intrumen.
6). Pendalaman teks Kitab Suci Yoh 10:11-13
Setelah peserta merefleksikan bacaan yang baru saja dibacakan, selanjutnya pendamping mengajak peserta untuk mendalami teks Kitab Suci dan saling berbagi dengan beberapa pertanyaan tuntunan:
a). Dalam bacaan tadi, nilai-nilai apa sajakah yang dituntut Yesus dari kita sebagai pemimpin?
b). Sharingkanlah pengalaman para frater berkaitan dengan nilai-nilai kepemimpinan yang para frater miliki dan hayati dalam kehidupan sehari-hari!
7). Gagasan untuk Rangkuman teks Kitab Suci, Yoh 10:11-13
Pernyataan Yesus “Akulah gembala yang baik” dalam ay. 11-13 mau menunjukkan kontras antara diri-Nya dengan orang-orang upahan yang bukan gembala (ay 12). Kata “Baik” diterjemahkan dengan berbagai cara: yang ideal, yang layak diteladani, dan yang penuh dedikasi, yang semuanya merujuk pada pribadi Yesus. Namun sebenarnya penekanan kata “Baik” itu dimaksudkan untuk memperlawankan pribadi Yesus sebagai gembala yang baik, yang rela menyerahkan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya dan demi kebahagiaan serta keselamatan domba-domba itu sendiri, yang lain sama sekali dengan orang-orang upahan yang bukan pemilik domba, di mana mereka memiliki tanggung jawab yang sangat terbatas, bahkan mereka tidak segan-segan meninggalkan domba-domba apabila mereka berada dalam keadaan bahaya, (ay 12-13). Orang-orang upahan ini menunjuk kepada para pemimpin dan juga siapa pun yang mengemban tugas kepemimpinan yang selalu menyalahgunakan kepemimpinannya dengan tidak bertanggungjawab, tidak komit, tidak peka dan peduli terhadap komunitas/ orang-orang yang dipimpinnya.
Yesus sudah secara jelas menunjukkan diri-Nya sebagai gembala yang baik, yang telah menggembalakan kawanan domba-Nya dengan penuh perhatian dan kehangatan kasih, bahkan Ia pada akhirnya menyerahkan nyawa-Nya sendiri sebagai taruhan demi keselamatan dan kebahagiaan kawanan dombanya. Di sini Yesus mau mengajak dan mengajari kita sebagai gembala domba dalam konteks kita sebagai seorang pemimpin, entah pemimpin apa saja yang dipercayakan kongregasi kepada kita, agar kita hendaknya senantiasa berpedoman dan melandaskan kepemimpinan kita pada pola kepemimpinan Yesus sebagai gembala yang baik. Menjadi pemimpin gembala yang baik berarti dalam mengemban tugas kepemimpinan itu kita harus mimiliki dan menghayati nilai-nilai cinta kasih, penghargaan, rasa hormat, perhatian yang tulus terhadap anggota atau siapa saja yang kita pimpin, bahkan kita harus rela untuk direpotkan khususnya ketika ada anggota yang bermasalah dan membutuhkan perhatian khusus. Oleh karena itu, sebagai seorang pemimpin kita harus memliki sikap lepas bebas dan totalitas diri bahkan sampai nyawa kita sendiri yang menjadi taruhan sekalipun sebagaimana telah kita saksikan bersama kisah kepemimpinan Uskup Romero yang telah mengakhiri karya penggembalaannya di tanah misi El Salvador dengan menjadikan nyawanya sebagai taruhan demi memperjuangkan dan menegakkan nilai cinta kasih, kejujuran dan keadilan serta demi kebahagiaan dan keselamatan masyarakat El Salvador yang ia cintai.
8). Penerapan dalam hidup secara konkret
Para konfraterku yang dikasihi Tuhan. Menjadi seorang pemimpin tidaklah mudah seperti yang kita bayangkan. Menjadi seorang pemimpin kita harus siap secara mental maupun fisik. Seorang pemimpin harus siap untuk menjadi contoh dan tokoh panutan bagi para anggotanya. Menjadi seorang pemimpin harus siap disalah pahami,
di mana apabila ia melakukan sesuatu yang baik kadang dinilai dia mencari popularitas diri, namun kalau ia melakukan suatu kekeliruan ia akan dinilai dan dicap sebagai pemimpin yang tidak baik, tidak becus, tidak mampu, dsb. Namun bagaimana pun juga, demi kelangsungan hidup sebuah lembaga sangatlah penting kehadiran dan peran seorang pemimpin.
Dalam kehidupan kita sehari-hari, entah kita sadari atau tidak, kita semua ini adalah pemimpin, yakni pemimpin bagi diri kita sendiri sebelum kita memimpin orang lain. Namun kerap kali hal ini kita lupakan, sehingga yang terjadi adalah bahwa karena ia tidak mampu memimpin dirinya sendiri, akhirnya menjadi orang sulit dalam