BAB II. SEKILAS TENTANG KONGREGASI FRATER BUNDA
A. Sejarah Berdirinya Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus
Congregatie van de Fraters van Onze Lieve van het Heilig Hart atau Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus adalah suatu kongregasi bruder Belanda, yang merupakan komunitas pria religius yang bukan imam. Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus didirikan pada tanggal, 13 Aguatus 1873 oleh Mgr. Andreas Ignatius Schaepman (1815-1882), Uskup Agung Utrecht, di kota Utrecht Belanda. Maksud dari Mgr. A. I. Schaepman mendirikan kongregasi ini adalah untuk menyediakan guru-guru bagi sekolah-sekolah Katolik yang baru didirikannya (van Vugt, 2005: 31).
Penambahan sekolah Katolik di kota Utrecht ini merupakan wujud tanggapan Mgr. Schaepman terhadap himbauan Surat Gembala tentang pendidikan yang dikeluarkan oleh para uskup Belanda yang turut ditandatanganinya. Dalam Surat Gembala, yang diterbitkan pada tahun 1868, para uskup Belanda menolak secara tegas pendidikan sekolah negeri yang netral dan tak berdasarkan agama. Melalui Surat Gembala tersebut para uskup mau menjelaskan kepada umat Katolik bahwa hanya sekolah Katoliklah yang cocok dan aman bagi pendidikan anak-anak mereka. Walaupun di kota Utrecht pada waktu itu tidak mengalami kekurangan guru, namun pada tahun 1870 Mgr. Schaepman tetap berusaha untuk menarik beberapa bruder dari kongregasi bruder yang sudah ada di Belanda untuk sekolah-sekolah yang didirikannya. Pertimbangan utamanya ialah kehadiran para religius guru ini akan semakin memperkuat sifat keagamaan sekolah-sekolah Katolik tersebut. Selain maksud
tersebut, Mgr. Schaepman juga memiliki motivasi lain yang lebih mendasar yakni agar para religius rela bekerja dengan gaji yang lebih kecil bila dibandingkan dengan gaji tenaga awam. Pertimbangan ini memang sangat penting berhubung pada waktu itu sekolah-sekolah swasta (Katolik dan Protestan) belum diperbolehkan untuk mendapatkan subsidi dari pemerintah. Dengan melihat situasi yang amat berat ini, Mgr. Johanes Zwijsen, seorang rekannya di Den Bosch, menulis surat kepadanya bahwa “Rupanya keadaan di kota Utrecht menjadi sungguh kacau; keinginan besar untuk menambah sekolah Katolik kini menimbulkan kesulitan besar bagi Monsenyiur sehingga mungkin sekolah-sekolah itu akhirnya tak bisa dipertahankan…” (van Vugt, 2005: 32).
Ketika Mgr. A. I. Schaepman tidak berhasil membujuk salah satu kongregasi bruder yang telah ada di Belanda untuk datang ke kota Utrech, akhirnya beliau memutuskan untuk mendirikan sendiri suatu kongregasi bruder menurut model yang telah berhasil yakni Kongregasi Fraters van Onze Lieve Vrouw, Moeder van Barmhartigheid, yang lebih dikenal dengan sebutan “Fraters van Tilburg” atau yang kita kenal di kota Yogyakarta dengan nama “Frater CMM”, yang didirikan oleh Mgr. J. Swijsen pada tahun 1844. Melalui suatu surat edaran yang dikirim kepada semua dekenat di keuskupannya, Mgr. Schaepman memohon agar mereka mengajukan calon-calon yang cocok bagi kongregasi baru yang dirintisnya.
Pada tahun 1871 Mgr. Schaepman bertemu dengan seorang pemuda bernama Antonius Vonk (1847-1914) dari Amsterdam. Kemudian dengan Bernard Hollak (1841- 1915) dari Zwolle kota asal Monsenyiur, dan Gerbrandus de Leeuw (1845-1880) dari Groningen. Kepada ketiga pemuda itu Mgr. Schaepman meyakinkan mereka bahwa masa depan mereka berada dalam kongregasi baru yang didirikannya itu. Akhirnya pada tahun 1871 Antonius Vonk dan Bernard Hollak, diperkenankan
menerima busana biara dengan nama Fr. Bonifacius Vonk dan Fr. Wililbrordus Hollak. Pada tahun 1872 Gerbrardus de Leeuw menyusul mereka dengan nama Fr. Gregorius de Leeuw. Tiga orang frater ini merupakan pioner bagi Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus yang pada ulang tahunnya ke 127 telah memiliki anggota sekitar 1200 orang frater (van Vugt, 2005: 32).
Sesudah menerima busana biara, ketiga frater pioner ini harus mengikuti tahun novisiat yang diwajibkan menurut hukum Gereja dan mengenal praktek sehari-hari hidup membiara. Maka langkah selanjutnya adalah ketiga frater ini dikirim ke rumah induk Kongregasi Frater CMM di kota Tilburg untuk menjalani masa pembinaannya. Pada tahun 1873 ketiga frater menyelesaikan masa pembinaannya dan mereka kembali ke kota Utreht. Mereka bertiga tinggal dan hidup bersama di sebuah gedung di Ganzenmarkt (terletak di belakang balai kota Utrecht), yang beberapa tahun kemudian mereka pindah ke Herenstraat, tempat rumah induk Provinsi Belanda sampai sekarang. Pada taggal 13 Agustus 1873 dalam suatu upacara misa yang sederhana diangkatlah Frater Bonifacius Vonk oleh Mgr. Schaepman sebagai pemimpin/ Overste bagi anggota kongregasi yang baru dibentuknya itu. Peristiwa ini dianggap sebagai hari kelahiran kongregasi, di bawah perlindungan “Bunda Hati Kudus” sebagai pelindung utama kongregasi. Dengan demikian tanggal 13 Agustus 1873 ini selalu diperingati sebagai hari lahirnya Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus sampai sekarang (van Vugt, 2005: 55).
Mgr. Schaepman dalam mendirikan kongregasi ini, memiliki gambaran bentuk yang khas yang akan diterapkan dalam tarekat barunya itu. Ia hanya ingin mengikuti contoh kongregasi yang sudah ada yakni Kongregasi Frater CMM di Tilburg. Di mana dalam Kongregasi Frater CMM ini diterapkan bentuk campuran yakni ada Frater yang dithabiskan menjadi imam dan ada Frater seumur hidup/ bruder. Maka dalam benak
Mgr. Schaepman pun ingin menerapkan bentuk yang sama bagi kongregasinya. Demi terwujudnya maksud tersebut, ia berusaha agar Fr. Bonifacius Vonk dithabiskan menjadi imam dengan terlebih dahulu mengikuti kursus secara kilat untuk mempersiapkan diri sebagai imam. Juga dalam penyusunan Peraturan kongregasi, Mgr. Schaepman hanya mengikuti contoh Kongregasi Frater CMM dari Tilburg. Ketiga frater pioner ini diberi suatu versi peraturan Kongregasi Frater CMM yang sudah disesuaikan (van Vugt, 2005: 33).
Kongregasi-kongregasi yang didirikan pada abad XIX ternyata berkembang dengan baik dan cepat karena mereka memenuhi kebutuhan sosial dan religius yang besar yang sedang bergejolak pada waktu itu. Namun lain halnya dengan Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus/ kongregasi van Utrecht. Dalam dua puluh lima tahun pertama kongregasi ini kurang berkembang, penyebab utama adalah karena pribadi dan kepemimpinan Pater Bonifacius Vonk, yang ternyata tidak sanggup menjabat sebagai overste/ pemimpin kongregasi. Dampak dari kelemahan ini adalah jumlah frater hampir tidak bertambah dan karya pendidikan yang merupakan tujuan pendirian kongregasi tidak banyak berkembang, baik dalam jumlahnya maupun mutunya. Tahun 1891 Pater Vonk pergi dengan diam-diam dan meninggalkan konfrater lainnya dalam kebingungan besar. Akibatnya pada tahun-tahun berikut kongregasi beberapa kali terancam bubar. Namun pada permulaan abad XX keadaan kongregasi tiba-tiba sangat membaik. Hal itu antara lain kerena beberapa kali para frater berhasil memilih seorang pemimpin umum yang sangat mampu dalam bidang kepemimpinan. Khususnya Fr. Stephanus Buil (1906-1914) yang merupakan pemimpin yang paling baik di mata para frater. Dampak positif dari kepemimpinan Fr. Stephanus Buil ini adalah, jumlah novis semakin meningkat dan mutu pendidikan para frater pun semakin baik. Begitu pula sekolah-sekolah yang ditangani para frater pun semakin meningkat baik dari sisi
kualitas maupun kuantitasnya. Bagi Kongregasi van Utrecht seperti juga bagi kongregasi lainnya, tahun-tahun sesudah Perang Dunia I merupakan periode pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat.
Pertumbuhan dan perkembangan pesat kongregasi-kongregasi sesudah Perang Dunia I ini disebabkan antara lain oleh “penyamaan finansial” antara pendidikan sekolah swasta (berdasarkan agama) dengan pendidikan sekolah negeri (netral). Penyamaan itu adalah hasil perjuangan politik yang panjang oleh kalangan Katolik dan Protestan, yang mencapai hasilnya pada tahun 1917. Maka mulai tahun 1920 sekolah Katolik dan Protestan dibiayai oleh pemerintah sama seperti sekolah negeri. Dengan demikian, masalah keuangan pendidikan sekolah Katolik teratasi. Dengan adanya jaminan subsidi pemerintah ini, sekolah-sekolah Katolik mulai berkembang sehingga hampir semua anak Katolik di Belanda masuk sekolah Katolik.
Penyamaan finansial yang dilakukan pemerintah itu sangat menguntungkan kongregasi-kongregasi yang menangani karya pendidikan sebagaimana Kongregasi van Utrecht. Kini gaji para frater yang mengajar di sekolahpun sama dengan guru awam lainnya dan tidak lagi jauh lebih rendah dari seperti dulu lazim untuk kaum religius. Keadaan finansial kongregasi-kongregasi pun mulai membaik. Lagi pula antara tahun 1918 - 1940 mereka memperoleh jumlah anggota yang luar biasa besar. Hal ini juga berlaku bagi Kongregasi van Utrecht. Dengan adanya perubahan dan perkembangan positif ini, Kongregasi van Utrecht pun semakin mampu memperluas karyanya dengan semakin meningkatnya jumlah frater yang menjadi guru atau memiliki ketrampilan tertentu yang dapat dijadikan sebagai modal dalam menjalankan tugas perutusan tarekat yang dipercayakan kepada mereka. Perkembangan Kongregasi van Utrecht ini juga dapat dilihat dari penanganan karyanya yang dulu belum begitu profesional, kini menjadi tarekat guru dan pengasuh yang ahli dan profesional (van Vugt, 2005: 35).
Pada tahun 1928 perkembangan yang baik dalam Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus juga nyata melalui keputusan pimpinan pusat untuk mengutus para frater ke tanah misi Hindia Belanda dengan maksud menangani pendidikan Katolik di sana. Bagi Kongregasi van Utrecht usaha misi yang baru ini memberi kesempatan untuk memakai kemungkinan finansial dan ketenagaan yang baru itu dalam bidang yang sangat baru dan sekaligus merupakan tantangan yang amat besar. Kekhawatiran para frater ini wajar karena memang keadaan dan situasi di Hindia Belanda sangat berbeda dengan situasi dan keadaan di Belanda. Tetapi bidang karya yang akan ditangani para frater di Hindia Belanda sama dengan apa yang telah mereka tangani sebelumnya di negeri Belanda yakni di bidang pendidikan dan pengasuhan/ asrama. Dengan keyakinan dan semangat yang mereka miliki dan dibawa ke tanah misi, berdampak sangat positif yakni hanya dalam kurun waktu beberapa tahun saja jumlah frater di Hindia Belanda dan sekolah serta lembaga yang mereka kelola berkembang dengan pesat. Lagi pula para frater Belanda berhasil menarik beberapa pemuda pribumi (Jawa) untuk menjadi novis yang akan menjadi penerus mereka di tanah misi suatu saat nanti. Inilah suatu permulaan yang sederhana dari perkembangan yang sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan kongregasi selanjutnya.
Dalam peziarahan Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus bersama dan di tengah umat selama ini selalu memunculkan pertanyaan “Mengapa para anggota kongregasi ini disebut Frater dan bukan Bruder?” dan “Mengapa Bunda Hati Kudus dan bukan gelar Bunda yang lain?”. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, di sini akan diuraikan alasan sebutan “Frater” dan gelar “Bunda Hati Kudus” yang di pakai dalam Kongregasi van Utrecht ini.
1. Mengapa disebut Frater, bukan Bruder ?
Kata Frater berasal dari bahasa Latin yang berarti “Saudara laki-laki” (K. Prent, 1969: 351). Sedangkan kata Buder/ Brother berasal dari bahasa Inggris yang mangandung arti yang sama pula yakni “Saudara laki-laki” (Desy Anwar, 2001: 43). Tetapi mengapa Kongregasi van Utrecht memilih sebutan Frater? Hal ini disebabkan karena sebelum Kongregasi Frater Bunda Kerahiman (Frater CMM) dan Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus (Frater BHK) didirikan di negeri Belanda telah terdapat suatu lembaga religius yang bernama “Para Bruder kehidupan Bersama-sama”. Para anggota dari lembaga religius ini kadang di sebut “Frater”. Lembaga ini berkembang amat pesat dalam abad 14 dan 15 serta sangat berjasa di bidang pendidikan Katolik.
Kongregasi Kehidupan Bersama-sama ini kemudian lenyap selama badai-badai reformasi Protestan. Biaranya yang terakhir terdapat di Emmerik, perbatasan Jerman dan Belanda, yang akhirnya juga dibubarkan oleh Napoleon pada tahun 1812. Anggotanya yang paling akhir hidup adalah Frater Gerardus Mulder (Informasi Panggilan Kongregasi Frater BHK, hal. 2).
Mgr. J. Swijsen pendiri kongregasi Frater CMM dari Tilburg dan Mgr. Andreas I. Schaepman pendiri Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus (BHK) ingin melanjutkan tradisi historis yang telah dimulai oleh Para Bruder/ Frater Kehidupan Bersama-sama tersebut. Dengan demikian kedua uskup agung itu bersepakat dan memutuskan bahwa para anggota dari kedua kongregasi yang didirikannya disebut “Frater” (Informasi Panggilan Kongregasi Frater BHK, hal. 2).
2. Mengapa “Bunda Hati Kudus?”
Ketika Mgr. Andreas. I. Schaepman mencari nama pelindung untuk kongregasi yang baru didirikannya, Pater Salesius de Beer pemimpin umum Kongregasi Frater
CMM, menganjurkan agar Mgr. Schaepman mencari inspirasi pada devosi “Bunda Hati Kudus”. Tepat pada waktu itu devosi kepada Bunda Hati Kudus sangat populer dan sangat di dukukung oleh Mgr. De Beer. Sejak tahun lima puluhan dalam abad XX devosi Bunda Hati Kudus ini disebarkan oleh seorang Pastor dari Prancis, yakni Pater Jules Chevalier pendiri Kongregasi para Misionaris Hati Kudus (MSC) dan Kongregasi Putri Bunda Hati Kudus (PBHK) di Issoudun, Prancis Tengah. Pater Chevalier ingin mengaitkan penghormatan tradisional kepada Maria dengan devosi Hati Kudus Yesus, yang pada waktu itu merupakan devosi yang paling penting dan paling tersebar luas di Eropa.
Pada tahun enam puluhan spiritualitas ini juga muncul di Belanda Selatan, khususnya di propinsi Limburg. Hal ini terbukti dengan didirikannya persaudaraan Broederschap van Onze Lieve van het Heilig Hart (persaudaraan Bunda Hati Kudus) di Sittard pada tahun 1867. Pada tahun 1870 Pater Chevalier sendiri berkunjung ke Belanda dan berkotbah di kota Sittard, Roemond dan Tilburg. Devosi Bunda Hati Kudus ini menarik banyak perhatian positif. Sekitar tahun 1870 Mgr. Schaepman bersama para uskup lainnya bergabung menjadi anggota persaudaraan Bunda Hati Kudus tersebut. Berdasarkan anjuran dari pater Pemimpin Umum Kongregasi Frater CMM tersebut, Mgr. Andreas. I. Schaepman melalui suatu permenungan yang mendalam memutuskan dan menetapkan untuk mempersembahkan kongregasi yang didirikannya ke dalam perlindungan Maria Bunda Hati Kudus sebagai penyalur segala rahmat dan karunia dari Hati Kudus Yesus kepada para anggota tarekat dan siapa saja yang akan mereka jumpai dan layani. Dalam hal ini Mgr. Schaepman secara tidak langsung ingin memberikan kepada kongregasinya dasar spiritual yang kuat demi kehidupan selanjutnya (van Vugt, 2005: 33-34).