BAB II. SEKILAS TENTANG KONGREGASI FRATER BUNDA
C. Pengertian Kepemimpinan
2. Kepemimpinan Religius
a. Kepemimpinan religius menurut Kitab Hukum Kanonik (KHK)
Kepemimpinan dalam hidup religius pada hakikatnya mengacu pada tujuan hidup religius itu sendiri, yakni mencapai kesempurnaan hidup Injili. Seorang pemimpin religius dalam menjalankan fungsi dan peranannya hanya semata-mata demi menghadirkan kabar gembira Kerajaan Allah di tengah-tengah komunitas yang dipimpinnya sekaligus berjuang untuk mengejawantahkan nilai-nilai Injili itu di dalam kehidupan sehari-hari. Apabila hal ini yang dipegang teguh dan dihayatinya maka bukan lagi ambisi dan obsesi pribadi yang berjalan malainkan kehendak Allah dan tarekatlah yang diperjuangkannya. Hal ini sesuai dengan apa yang digambarkan oleh
para Bapa Gereja tentang kepemimpinan religius sebagaimana termaktub dalam Kitab Hukum Kanonik, Bab II khususnya dalam kanon 618 :
Para pemimpin hendaknya menjalankan kuasa yang diterima dari Allah lewat pelayanan Gereja dalam semangat pengabdian. Maka dalam melaksanakan tugasnya hendaklah peka terhadap kehendak Allah, serta mengusahakan ketaatan sukarela mereka dengan menghargai kepribadian manusiawi mereka, dengan senang hati mendengarkan mereka serta mengajukan peran serta mereka demi kebaikan tarekat dan gereja, tetapi dengan tetap memelihara wewenang mereka sendiri untuk memutuskan serta memerintahkan apa-apa yang harus dilaksanakan (KHK, no. 618, 1999: 193).
Dalam hal ini anjuran para Bapa Gereja di atas mau menegaskan kepada para pemimpin religius bahwa mereka pertama-tama harus menyadari bahwa tugas kepemimpinan yang mereka emban adalah melulu merupakan kepercayaan yang dianugerahkan Allah bagi mereka. Oleh karena itu dalam melaksanakan tugas kepemimpinan, mereka harus peka, tanggap dan taat terhadap kehendak Allah yang mewujud dalam pengabdian dan pelayanannya terhadap para anggotanya dan juga orang-orang yang mereka layani, dengan mendengarkan, menghargai dan melibatkan mereka secara aktif demi perkembangan tarekat dan misi-misinya.
Selain itu, dalam KHK kanon 619 para Bapa Gereja menegaskan sekali lagi tentang bagaimana caranya para pemimpin Gereja khususnya para pemimpin religius menjalankan fungsi kepemimpinannya sebagai wujud pelayanan mereka kepada para anggotanya, yakni :
Para pemimpin hendaknya menunaikan tugas mereka dengan tekun dan bersama dengan anggota yang dipercayakan kepada dirinya berusaha membentuk komunitas persaudaraan dalam kristus, di mana Allah dicari dan dicintai melebihi segala sesuatu. Maka mereka hendaknya kerapkali memberi santapan rohani kepada para anggota dengan sabda Allah dan mengajak mereka merayakan ibadat suci. Hendaknya memberi teladan kepada mereka dalam membina keutamaan-keutamaan serta dalam menaati peraturan-peraturan dan tradisi tarekatnya sendiri; membantu secara layak dalam hal kebutuhan-kebutuhan pribadi mereka, memperhatikan dan mengunjungi yang sakit, menegur yang rewel, menghibur yang kecil hati, sabar terhadap semuanya (KHK, no. 619, 1991: 194).
Pemimpin religius adalah orang yang dipercaya oleh tarekat untuk menerima dan melaksanakan tugas suci dari Allah. Oleh karena itu pemimpin hendaknya menerima tugas itu dengan tulus dan rendah hati serta berusaha menjalankannya dengan tekun dan penuh tanggung jawab. Pemimpin juga harus menyadari bahwa dalam mengemban tugas kepemimpinan itu tidak sendirian melainkan, bersama para anggota tarekat atau anggota komunitas yang dipercayakan Tuhan kepadanya. Maka dari itu ia harus menerima, menghargai, mengarahkan serta membimbing mereka untuk membangun suatu komunitas kristiani dalam Kristus, di mana Allah dicari, dicintai dan diabdi melebihi segala sesuatu. Dalam hal ini tugas seorang pemimpin adalah memberikan perhatian yang tulus dan secara holistik yakni perhatian dan pelayanan yang mencakup unsur rohani dan jasmani para anggotanya sesuai dengan tradisi serta semangat tarekat yang dihayatinya. Berkaitan dengan hal itu, Soenarja (1984: 26) berkata:
Kepemimpinan harus didasarkan pada hidup religius sejati: santo-santa pemimpin religius suci di dalam Gereja, para pendiri biara yang diakui agung, menjadi sumber terang bagi umat Allah. Maka tuntutan pertama dalam pembentukan pemimpin adalah pendidikan dasar dalam kehidupan membiara yang kuat, murni dan lengkap. Hidup membiara tidak akan bertumbuh kuat, kalau tidak didasarkan pada motivasi-motivasi murni dan menjadi semakin murni dengan bertambahnya usia. Untuk perkembangan hidup membiara di dalam rahmat Tuhan, dari pihak manusia perlu diusahakan pengetahuan yang lengkap. Penghayatan panggilan secara murni dan utuh memungkinkan pertumbuhan kuat, dan tahan menghadapi segala tantangan. Ketahanan dan kekuatan ini sangat perlu agar tidak mendua dalam bersikap dan mengambil keputusan, yakni maju mundur, menjadi takut atau acuh, melainkan tetap berjuang dan justru berkembang, dalam menghadapi tantangan dan tuntutan zaman yang semakin tinggi.
Dengan melihat realitas kehidupan para religius dewasa ini, baik para pemimpin maupun para anggotanya, tanpa kecuali para Frater Bunda Hati Kudus, dalam menghayati hidup sehari-hari khususnya dalam mengemban tugas perutusan tarekat, orang mulai memisahkan antara tuntutan karir dan kehidupan rohani. Dampaknya
adalah kerap kali kehidupan rohani dan penghayatan nilai-nilai hidup berkomunitas terabaikan atau dinomorduakan, akhirnya orang lebih mengejar prestasi dan prestise dari pada makna dan nilai hidup religius dibalik perutusan itu sendiri. Berkaitan dengan situasi ini, Soenarja (1984: 27) berkata:
Seorang pemimpin religius dalam memberikan penugasan bagi para anggotanya, ia harus menyadari bahwa penugasan itu harus dibagi dan ditujukan demi kesejahteraan anggota, dan bukan anggota ditekan demi kelangsungan dan kesuksesan peraturan. Oleh karena itu, kerohanian harus tetap diutamakan melabihi ”kesibukan tugas”, pribadi anggota lebih berharga daripada prestasi kerja. Keberesan dituntut dan diandaikan, tetapi keberesan menyeluruh tetap mengutamakan unsur-unsur rohani dan nilai-nilai kebiaraan; berani mempertanggungjawabkan sesuatu yang tidak selesai seperti yang diharapkan, kalau dirasa ada nilai-nilai rohani atau nilai-nilai lain yang perlu dipreoritaskan. Dalam penugasan ada pembicaraan, dialog, pertanggungjawaban penuh. Dan di sini kiranya terbuka kesempatan bagi pembimbing rohani untuk meletakkan dasar doa dan karya, pekerjaan yang dilihat, direncanakan, dilaksanakan dan dievaluasi dalam suasana doa. Di sini dapat dilatih pengabdian dalam kerja, menjadi penghayatan cinta kasih dalam pelayanan kepada sesama, betapa pun kecil dan sederhana bentuknya. Di sini orang bisa mengintrospeksi diri sendiri, apakah dalam pekerjaan ia lebih cenderung pada dominasi dan penguasaan, atau menempuh jalan pelayanan dan cinta kasih, di mana bukan diri sendiri menjadi pokok kepentingan, melainkan sesama yang dilayanilah yang menjadi pusat perhatiannya.
Sesungguhnya inilah nilai dan makna terdalam dari hidup religius yang harus ditanamkan dan dihayati oleh para pemimpin religius dan para anggotanya termasuk para pemimpin dalam Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus dan para anggotanya. Dengan demikian kehadiran hidup para religius sungguh-sungguh menjadi tanda kehadiran Kerajaan Allah di tengah-tengah kehidupan di dunia ini dan sekaligus menjadi sumber kabar suka cita bagi sesama, atau dengan kata lain para religius dapat berperan sebagai garam dan terang dunia di tengah kehidupan dunia yang semakin memprihatinkan ini. Berkaitan dengan hal ini, Timothy Radcliffe, (2009: 11) berkata ”Panggilan kita sebagai biarawan- biarawati berperan untuk menyinari panggilan umat manusia. Kalau tidak, kita hanya menghambur-hamburkan waktu.”
b. Kepemimpinan dalam Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus
Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus sebagai salah satu lembaga religius laikal keuskupan, secara institusional tentu saja tidak terlepas dari struktur kepemimpinan yang harus dimiliki sebagai istrumen yang dapat merencanakan, merumuskan, melaksanakan dan mengontrol serta mengevaluasi hidup dan perkembangan dari tarekat berdasarkan visi-misi dan spiritualitas yang dikembangkan dan dihayatinya. Semangat kepemimpinan yang dihayati dalam kepemimpinan para Frater Bunda Hati Kudus pun tidak terlepas dari semangat kepemimpinan yang telah diwariskan oleh sang pendiri Mgr. Andreas I. Schaepman, yang termaktub dalam mottonya: “In Sollicitudine et Simplicitate” (Dalam Keprihatinan dan Kesederhanaan).
1). Kepemimpinan Mgr. A. I. Schaepman
Mgr. A.I. Schaepman lahir di kota Zwolle, Belanda, pada tanggal 04 September 1815 dan pada hari yang sama kanak-kanak ini dibaptis dalam gereja yang disebut “Borger”. Ia merupakan anak kelima dari Sembilan bersaudara. Ayahnya bernama P.H. Schaepman dan ibunya Elisabet I.B. Kistemaker. Mengenai masa kecilnya tidak diketahui secara pasti kecuali sebuah peristiwa yang sangat mengagumkan yang sempat terekam yakni bahwa ia secara istmewa dilindungi dan diselamatkan oleh penyelenggaraan Ilahi dari suatu kematian yang menyedihkan yang mengincarnya setelah ia terapung selama beberapa jam di atas air sungai yang menghanyutkannya.
Dalam usia 10 tahun Mgr. Schaepman menempuh pendidikan ilmiahnya yang pertama di sebuah sekolah berasrama yang dipimpin Tuan van den Heuvel di Ravensteyn, Belanda. Karena ia merasa diri dipanggil untuk menjadi imam, maka studi selanjutnya untuk mempelajari bahasa Latin yang ditempuhnya di Gymnasium di Oldenzaal, Belanda. Sedangkan pendidikan teologinya ditempuhnya di seminari di kota
‘s Heerenberg, Belanda. Ia memiliki semangat belajar yang tinggi. Selain itu ia juga memiliki bakat seni yakni menggambar, yang di kemudian hari ia tunjukkan dan salurkan lewat dukungan dan usahanya demi pelestarian dan pengembangan karya-karya seni serta kesenian gerejani (Fransiskus, 1998: 17).
Schaepman dithabiskan imam pada tanggal 09 Maret 1838 oleh Mgr. van Wijckerslooth, Uskup i.p.i. (in partibus infidelium) Corium, dan ia mempersembahkan misa perdananya di Gereja Sta. Maria di Zwolle. Setelah penthabisannya ia ditugaskan sebagai pastor paroki di Gereja Sta. Maria di Zwolle kota kelahirannya. Pada tahun 1843 Pastor Schaepman diutus lagi ke Ommerschans. Di sana ia bersuaha untuk selalu berada bersama para kaum pekerja yang setiap hari bekerja menggali tanah liat untuk kemudian dijadikan batu merah/ bata. Di tengah-tengah mereka, Schaepman belajar untuk menjaga dan mencintai orang-orang yang paling ditinggalkan/ disingkirkan dalam masyarakat. Ia selalu menunjukkan sifat kebapaannya yang penuh kelembutan dan kesederhanaan. Namun tiga tahun kemudian yakni tahun 1846 ia diangkat menjadi pastor paroki di Assen, dan di tempat inipun ia selalu diterima dan dicintai oleh umatnya yang pada umumnya orang-orang kecil dan sederhana (Fransiskus, 1998: 1).
Pada tahun 1857 Pastor Schaepman dipindahtugaskan kembali di kota asalnya, kota Zwolle dan bertugas sebagai pastor paroki di Paroki St. Mikhael. Selanjutnya tepatnya taggal 29 September 1857 oleh Mgr. J. Zwijsen (uskup agung Utrecht) Pastor Schaepman diangkat menjadi rektor seminari tinggi di Rijsenburg dan pada tanggal 08 Mei 1858 ia diangkat lagi menjadi Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Utrecht untuk membantu Mgr. J. Zwijsen yang wilayah penggembalaannya sangat luas. Namun tidak hanya sampai di sini, sebab pada taggal 08 Desember 1858 ia diangkat oleh Paus Pius IX menjadi Proost (Ketua) Kepitel Gereja metropolitan Utrecht dan sekaligus sebagai penasihat pertama Mgr. J. Zwijsen. Dalam menjalankan tugas pelayanannya sebagai
pastor dan vikjen, ia sangat dikenal rendah hati dan bijaksana sehingga ia selalu diterima oleh semua kalangan (Fransiskus, 1998: 20).
Pada tanggal 08 Juli 1860 Pastor Schaepman diangkat oleh Bapa Suci Paus Pius IX menjadi uskup Esebon, dalam kedudukan ini ia sekaligus menjadi uskup co-ajutor bagi Mgr. J. Zwijsen di Keuskupan Agung Utrecht. Misa thabisan uskupnya diterimakan oleh Mgr. van Vree di kapela seminari tempat ia bekerja dulu pada taggal 26 Agustus 1860. Dalam menerima thabisan uskupnya, ia memilih motto:
“INSOLLICITUDINE ET SIMPLICITATE” (Dalam Keprihatinan dan Kesederhanaan).
Dengan moto ini ia bersumpah di depan uskup agungnya, bahwa ia ingin menjadi seorang gembala yang penuh perhatian bagi orang-orang yang dipercayakan kepadanya, yakni kaum beriman yang digembalakannya, bahwa dalam kesederhanaan hati ia ingin menjadi seorang bapak yang penuh cinta kasih bagi mereka. Janjinya ini secara simbolik ditampilkannya dalam gambar perisainya sebagai uskup: “seorang gembala dengan beberapa ekor domba”. Perhatian dan pelayanan yang tulus dari kegembalaan Mgr. Schaepman ini pun akhirnya mendapatkan perhatian dari pihak penguasa yakni Kerajaan Belanda yang pada tanggal 12 Ferbruari 1867 menganugerahkan kepada Mgr. Schaepman bintang/ lencana jasa “Bangsawan dalam Ordo Singa Belanda” (Fransiskus, 1998: 23).
Pada tanggal 07 Februari 1868 Mgr. A.I. Schaepman oleh Bapa Suci Paus Pius IX diangkat sebagai uskup agung Utrecht, sedangkan Mgr. J. Zwijsen tetap menjadi uskup di keuskupan Den Bosch. Thabisannya sebagai uskup agung Utrecht diselenggarakan pada tanggal 09 Maret 1868 di Gereja Sta. Katarina (Fransiskus, 1998: 24).
Dalam menjalankan tugas penggembalaannya sebagai uskup agung Utrecht, tantangan demi tantangan ia hadapi, sampailah pada suatu saat yang boleh dikatakan
sebagai tantangan dan peluang yakni pada tanggal 13 Agustus 1873 dalam situasi sulit ia memutuskan untuk mendirikan Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus yang merupakan kongregasi bruder Belanda dengan mengemban misi di bidang pendidikan untuk mengatasi kebobrokan di bidang pendidikan yang terjadi saat itu. Akhirnya ia meninggal dunia pada taggal 19 September 1882. Namun sebelum meninggal yakni dalam masa-masa kritisnya, ia masih menyempatkan diri menulis dan mengirim sebuah surat kepada yang mulia Paus Pius IX. Dalam surat itu ia menyatakan imannya, dan sekaligus memohon berkat khusus dari Bapa Suci bagi dirinya. Selain itu ia juga berjuang dalam ketidakberdayaannya itu untuk menyempatkan diri memberikan berkatnya sebagai uskup kepada semua imam dan umat beriman dalam keuskupannya, dan akhirnya sesuai dengan motto thabisan uskupnya “In Sollicitudine et Simplicitate” (Dalam Keprihatinan dan Kesederhanaan), ia memahkotai detik-detik terakhir hidupnya dengan sebuah ucapan yang sangat mengharukan, penuh kerendahan hati, ia meminta ampun atas segala sesuatu yang kurang baik yang mungkin pernah dilakukannya terhadap umat kesayangannya di keuskupan agung maupun bagi siapapun yang pernah berjumpa dengannya dan juga atas kekurangan-kekurangan dalam penunaian kewajibannya sebagai uskup agung (Fransiskus, 1998: 29).
Dari seluruh perjalanan hidup dan kepemimpinan Mgr. A.I. Schaepman ini dapat disimpulkan, bahwa ia merupakan seorang pemimpin dan gembala umat yang penuh dedikasi, berbakat dan bertalenta melimpah. Satu hal yang paling istimewa adalah bahwa ia memiliki kekayaan cinta yang luar biasa dalam hati dan hidupnya yang selalu ia salurkan bagi domba-domba penggembalaannya, terutama bagi mereka yang menderita miskin, sakit dan tersingkirkan. Selain itu dalam menunaikan tugas penggembalaannya, ia terkenal sangat bijaksana dan penuh wibawa serta penuh kesederhanaan dan kerendahan hati sebagaimana digambarkan dalam gambar moto
thabisan uskupnya yang tertera dalam perisai keuskupannya. Semua kekayaan ini telah menghiasi seluruh perjalanan hidup dan kepemimpinannya sampai akhir hidupnya.
2). Kepemimpinan menurut Konstitusi Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus
Kepemimpinan Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus secara yuridis termaktub dalam konstitusi BHK no. 25 (Kapitel Umum, 1994: 49) yang berbunyi:
Melaksanakan kewenangan adalah sesuatu tindakan cinta kasih terhadap persekutuan. Ia mendukung dan memperkuat kerukunan. Mereka yang diserahi jabatan kepemimpinan memikul tanggung jawab tertentu. Namun semua anggota ikut memikul tanggung jawab untuk seluruh persekutuan. Hal itu menuntut adanya dialog.
Dengan demikian mau ditegaskan bahwa tugas kepemimpinan religius harus dilihat sebagai perwujudan cinta kasih kita kepada Allah melalui persekutuan yang memberikan kepercayaan itu. Dengan demikian tugas kepemimpinan religius adalah untuk menyatukan segenap anggotanya dalam ikatan cinta kasih Kristus sendiri sebagai pemimpin utama. Selain itu dalam menjalankan perannya, seorang pemimpin juga harus mengusahakan terciptanya komunikasi dan dialog yang sehat dan jujur di antara satu sama lain, baik antar pemimpin, pemimpin dengan anggota, maupun antar anggota, sehingga dengan demikian tampaklah kehidupan persekutuan yang rukun , damai, bersatu dan sejahtera.