BAB V. USULAN KATEKESE BAGI PARA FRATER BUNDA
C. Katekese Sebagai Salah Satu Upaya Mewujudkan Pola
2. Pemilihan Katekese Model Pengalaman Hidup
Bertolak dari hasil penelitian yang ada, sangat diharapkan adanya transfomasi kepemimpinan dalam Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus menuju suatu kepemimpinan yang dapat memotivasi para anggota agar hidup lebih berkembang sesuai dengan apa yang dicita-citakan oleh kongregasi. Oleh karena itu perlu adanya
suatu pendampingan dalam bentuk katekese yang dapat membantu terwujudnya kepemimpinan transformatif dalam kongregasi sebagaimana diharapkan oleh para Frater BHK tersebut.
Diharapkan melalui katekese ini dapat membantu para Frater BHK untuk merefleksikan, mengolah, dan mengkomunikasian segala pengalaman dan realitas hidup yang terjadi dalam kehidupan mereka selama ini khususnya yang berkaitan dengan kepemimpinan dalam Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus, sehingga dari sana mereka dapat saling membantu dalam terang iman melalui Sabda Kitab Suci/ tradisi Gereja yang akan menghantar mereka mengalami kelahiran baru, yang oleh Darminta (2005: 47) dikatakan sebagai “pembaharuan dalam menerima dan menanggapi gagasan atau pandangan baru, cara kerja dan kerasulan yang baru, serta cara hidup dan cara bertindak yang baru pula atau apapun juga yang dapat tumbuh dan berkembang dalam hidup religius secara positif.” Dalam hal ini diharapkan agar melalui katekese ini para Frater BHK dapat mengalami suatu transformasi dalam kepemimpinannya yang lebih mengayomi, partisipatif, dialogis, inovatif dan berspiritual mendalam.
Berkaitan dengan upaya transformasi tersebut maka, dalam usulan program katekese penulis memilih katekese model pengalaman hidup sebagai model berkatekese. Alasan pemilihan katekese model pengalaman hidup ini adalah karena model katekese ini sederhana dan bertolak dari pengalaman hidup konkret yang direfleksikan dalam terang iman, yang kemudian dikomunikasikan/ disharingkan dan selanjutnya dihubungkan atau dikonfrontasikan dengan Sabda Tuhan dalam Kitab Suci, sehingga dari sana mereka dapat menemukan nilai hidup baru yang akan digunakan dalam proses tranformasi diri dengan cara saling menyadarkan, meneguhkan, menguatkan dan mendukung untuk mencapai suatu kehidupan yang lebih baik dan lebih mendukung tumbuh-kembangnya kehidupan para anggota dan kongregasi secara
keseluruhan sebagaimana diharpkan bersama.
b. Langkah-langkah Katekese Model Pengalaman Hidup
Berkaitan dengan katekese model pengalaman hidup ini, Sumarno (2007: 11-12) menguraikan tentang langkah-langkah yang ditempuh dalam proses berkatekese antara lain:
1) Introduksi
Introduksi ini berisikan lagu dan doa pembukaan yang sesuai dengan tema yang diambil dalam katekese itu. Katekis mengingatkan dan menghubungkan dengan tema-tema yang sudah dibahas dalam kesempatan katekese yang lalu, bila pernah diadakan sebelumnya.
2) Penyajian suatu pengalaman hidup
Pengalaman hidup biasanya diambil dari suatu peristiwa konkret sesuai dengan tema dan situasi peserta. Pengalaman ini bisa diambil dari surat kabar, cerita yang relevan bagi para peserta, dan juga bisa berupa film yang sesuai.
3) Pendalaman pengalaman hidup
Dalam langkah ini fasilitator mengajak para peserta untuk mengaktualisasikan pengalaman itu dalam situasi hidup mereka yang nyata. Biasanya terjadi dalam kelompok kecil dengan pertanyaan-pertanyaan yang merangsang peserta yang mengambil perhatian dalam sikap hidup moral konkret sesuai dengan tema untuk hidup sehari-hari.
4) Rangkuman pendalaman pengalaman hidup
yang dapat diambil oleh para peserta berkaitan dengan tema dalam penyajian pengalaman hidup dan dengan teks Kitab Suci atau tradisi yang hendak dipakai dalam langkah berikutnya.
5) Pembacaan Kitab Suci atau Tradisi Gereja
Fasilitator mengusahakan agar setiap peserta memiliki teks Kitab Suci (Fotocopy) beserta daftar pertanyaan pendalaman di sekitar tema menyangkut hal-hal yang mengesan dan pesan inti dari teks tersebut. Teks dibaca oleh salah seorang peserta, kemudian saat hening sejenak untuk merefleksi teks yang baru dibacakan dengan bantuan pertayaan-pertanyaan.
6) Pendalaman teks Kitab Suci atau Tradisi
Peserta mencoba menjawab bersama pertanyaan-pertanyaan yang telah direnungkan secara pribadi setelah pembacaan teks. Baik pula apabila teks dibaca sekali lagi oleh fasilitator/ katekis. Pada kesempatan ini fasilitator membantu peserta untuk mencari dan mengungkapkan pesan inti menurut mereka sendiri sehubungan dengan tema. Peranan katekis/ fasilitator di sini ialah menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga peserta tidak merasa takut, malu dan canggung mengungkapkan tafsiran mereka sehubungan dengan tema yang dapat dipetik dan digali dari pembacaan teks Kitab Suci.
7) Rangkuman pendalaman teks Kitab Suci atau Tradisi.
Fasilitator/ katekis mencoba menghubungkan pesan inti yang diungkapkan oleh peserta dengan pesan inti yang telah disiapkan oleh katekis berdasarkan sumber-sumber yang telah diolahnya yang berkaitan dengan tema. Pada kesempatan ini katekis memberi input (masukan) dari apa yang sudah dipersiapkannya dengan bantuan
buku-buku tafsir atau buku-buku komentar atau buku-buku-buku-buku lain yang berkaitan dengan tekas Kitab Suci. Yang penting digarisbawahi di sini bahwa tafsiran katekis diharapkan membatasi pada pesan pokok yang dapat dimengerti oleh peserta sehubungan dengan tema dan tujuan pertemuan.
8) Penerapan dalam hidup konkret
Dalam langkah ini hendaknya fasilitator/ katekis mengajak peserta untuk mengambil beberapa kesimpulan praktis di sekitar tema untuk hidup sehari dalam situasi nyata mereka dalam Gereja, masyarakat, lingkungan, wilayah, paroki, keluarga, dsb. Kemudian dalam saat hening sejenak, peserta diajak untuk merenungkan serta mengumpulkan buah-buah pribadi dari katekese ini untuk diterapkan/ dihayati dalam kehidupan sehari-hari, yang dapat berupa niat, atau tindakan apa yang akan diambil untuk hidup selanjutnya.
9) Penutup
Penutup ini dimulai dengan mengungkapkan doa-doa spontan hasil buah katekese, dan bisa pula doa-doa lainnya secara bebas. Bilamana perlu katekis mengakhiri katekese dengan doa penutup yang merangkum keseluruhan tema dan tujuan katekese. Kemudian diakhiri dengan sebuah doa bersama atau nyanyian yang disesuaikan dengan tema.
D. Program Katekese