• Tidak ada hasil yang ditemukan

Crita Cekak

Dalam dokumen MAJALAH SASTRA JAWA MASA KEMERDEKAAN 201 (Halaman 44-53)

BAB III PROFIL MAJALAH SASTRA JAWA 1945—2006

3.2 Crita Cekak

Crita Cekak (aslinya ditulis Tjrita Tjekak) adalah majalah sastra Jawa yang terbit di Surabaya. Penerbitan majalah itu diprakarsai oleh Soebagijo Ilham Notodidjojo yang sekaligus sebagai pemimpin redaksinya. Majalah itu pertama kali diterbitkan pada bulan Agustus 1955 (lihat fotokopi berikut) dengan alamat redaksi dan administrasi: Dharma Rakyat I-9, Surabaya.

Crita Cekak diterbitkan setiap bulan dengan format folio berukuran 21,50 cm x 33,00 cm, tebal 16 halaman. Di dalam kedewanredaksiannya hanya tercantum nama Soebagijo Ilham

Notodidjojo sebagai pimpinan (redaksi), sedangkan nama anggota (redaksi) tidak dituliskan secara eksplisit, tetapi hanya diterangkan: dibantu dening pengarang2 tjrita tjekak basa Djawa ’dibantu oleh pengarang-pengarang cerita pendek bahasa Jawa’. Di dalam kolom keredaksian juga tercantum maksud dan tujuan penerbitan majalah tersebut, sebagai berikut.

Crita cekak majalah wulanan, ajange para pengarang roman

basa Jawa. Saben sawetonan ngemot crita cekak kira-kira 10 iji.

Crita Cekak diwetokake kanthi tujuan ngurip-urip kasusastran

basa Jawa.

Crita Cekak majalah bulanan, medianya para pengarang

roman bahasa Jawa. Setiap penerbitan memuat cerita pendek kira-kira 10 buah.

Crita Cekak diterbitkan dengan tujuan menghidup-

hidupkan (memelihara) kesusastraan Jawa.’

Pernyataan redaksi yang menyebutkan bahwa setiap terbit Crita Cekak menampilkan kira-kira 10 buah cerita pendek selalu diusahakan, tetapi di dalam Crita Cekak nomor 1/Agustus 1955, misalnya, baru dapat ditampilkan 6 cerita pendek dan 2 kutipan cerita lama. Enam cerita pendek itu ialah “Wengi ing Pinggir Kali” (Iemaniasita), “Mulih saka Tawanan” (Andre Maurois), “Mawar Layu” (anonim), “Aja Gething Mundhak Nyandhing” (Aramsy N.A.), “Kaadilaning Gusti” (Moch. Iljas), dan “Dhik Ning Calon Ipeku” (anonim); sedangkan dua cerita lama yang ditampilkan ialah kutipan cerita Panji Wulung dan Mahabarata. Kutipan cerita Mahabarata diberi judul “Kuwajibaning Satriya lan Kaluhuraning Bangsanipun” ’Kewajiban Satria dan Keluhuran Bangsanya’.

Di samping beberapa cerita pendek dan kutipan cerita lama serta beberapa rubrik dan iklan, Crita Cekak juga menampilkan selebritis, baik dalam negeri maupun luar negeri, sebagai sarana

daya tarik kepada konsumen (pembaca). Contohnya seperti fotokopi berikut ini (CC No. 3, Oktober 1955:15).

Sementara itu, tampilan lainnya, antara lain berupa rubrik “Lelucon”, “Ayo Mesem”, “Among Tresna”, serta beberapa iklan. Pada halaman terakhir (16) terdapat informasi (dari pimpinan redaksi), yang antara lain menjelaskan bahwa sesuai dengan namanya, Crita Cekak mengutamakan cerita-cerita pendek: roman, novel, dan sejenisnya. Berkaitan dengan itu, para pecinta Crita Cekak diharapkan dapat mengirimkan karya-karyanya untuk dimuat di dalam majalah tersebut.

Berkenaan dengan tujuan penerbitan majalah Crita Cekak, yakni ngurip-urip kasusastran basa Jawa ’menghidup-hidupkan (memelihara) kesusastraan bahasa Jawa’, tujuan itu tidak hanya terbatas pada sastra Jawa modern (khususnya cerita pendek), tetapi juga merambah ke sastra Jawa lama dengan porsi yang jauh lebih sedikit. Oleh karena itu, di dalam majalah tersebut juga ditampilkan kutipan-kutipan sastra Jawa lama, baik berbentuk puisi tembang maupun saduran berbentuk prosa. Sebagaimana telah dikemukakan bahwa kutipan berbentuk puisi tembang dalam Crita Cekak nomor 1/Agustus 1955, misalnya, berupa penggalan cerita Panji Wulung dan bait-bait tertentu yang berisi ungkapan-ungkapan filosofis dan atau pendidikan moral.

Sementara itu, kutipan saduran berbentuk prosa di dalam majalah tersebut berupa penggalan cerita Mahabarata yang diberi judul “Kuwajibaning Satriya lan Kaluhuraning Bangsanipun”. Di samping itu, tulisan beraksara Jawa juga turut dipelihara atau dilestarikan, meskipun hanya dipakai sebagai nama dua rubrik, yaitu rubrik “Cuplikan Buku Kuna” dan “Among Tresna”, seperti fotokopi berikut (CC No. 2/September 1955:3 dan 5).

Tulisan beraksara Jawa sebagai nama dua rubrik itu hanya dipakai sampai dengan edisi 4/1955. Selanjutnya, kutipan bait- bait tertentu (karya sastra lama) berbentuk tembang dapat diperhatikan fotokopian berikut ini yang menampilkan bait-bait tembang Dhandhanggula (lihat CC nomor 1/Agustus 1955:2 dan 5).

Di samping sajian beberapa cerita pendek, Crita Cekak nomor 4/1955 dan beberapa nomor berikutnya juga memuat guritan (puisi Jawa modern). Misalnya, di dalam Crita Cekak nomor 4/ November 1955 halaman 2 dan 5 ditampilkan guritan karya Lesmanadewa Roy. Asm. dengan judul “Sarangan” dan “Juru Beksa”, sedangkan di dalam halaman 14 ditampilkan guritan “Lagu Pangumbara” karangan St. Iesmaniasita. Di dalam Crita Cekak nomor-nomor berikutnya, kadang-kadang juga dimuat kritik sastra (Jawa) dalam rubrik “Sorotan”. Rubrik itu, misalnya dimuat di dalam Crita Cekak nomor 12/Juli 1956, halaman 15. Rubrik kritik sastra “Sorotan” ditampilkan dengan maksud agar kritikus atau pengamat sastra Jawa dapat memberikan penilaian

terhadap karya-karya yang pernah dimuat untuk mempertahan- kan kualitas sastra Jawa yang semakin diabaikan. Sementaara itu, di dalam Crita Cekak nomor 2/September 1955 terdapat tambahan rubrik “Kabar saka Redaksi” yang berisi informasi atau penjelasan tentang karangan-karangan yang dapat dimuat di dalam majalah nomor-nomor berikutnya dan yang tidak dapat lolos. Dalam perkembangannya, rubrik itu mengalami perubahan menjadi “Pos Kagem”.

Penampilan rubrik “Kabar saka Redaksi” kemudian men- jadi “Pos Kagem” yang berisi informasi atau penjelasan tentang karya-karya yang dapat diterbitkan dan yang sebaliknya menun- jukkan bahwa komunikasi antara redaksi dan pengarang (serta pembaca) dibangun secara baik dan transparan. Komunikasi itu dibangun dengan tujuan, antara lain, untuk mendukung obsesi Soebagijo I.N. selaku pemimpin redaksi mewujudkan Crita Cekak (asuhannya) menjadi majalah sastra Jawa yang berkualitas sebagaimana majalah Kisah dalam sastra Indonesia.

Sebagaimana telah dikemukakan bahwa untuk menciptakan majalah yang berkualitas, di dalam Crita Cekak juga disediakan ruang kritik sastra di bawah rubrik “Sorotan”. Ruang itu disedia- kan dengan tujuan agar para pemerhati sastra Jawa dapat mem- berikan penilaian, ulasan, dan pertimbangan terhadap karya- karya yang pernah dimuat dalam majalah tersebut. Para pemer- hati yang memanfaatkan ruang itu, antara lain Isdito dalam Crita Cekak nomor 11/Juni 1956, halaman 7, serta Senggono, M. Sastrajuda, dan S. Hadi Sampoerno dalam Crita Cekak nomor 12/Juli 1956, halaman 15. Dengan penyeleksian secara ajek oleh (tim) redaksi (melalui “Pos Kagem”) dan penyediaan rubrik kritik sastra “Sorotan” secara berkesinambungan oleh para kritikus (melalui “Sorotan”) niscaya para pengarang yang kreatif dapat terinspirasi dan terinovasi untuk mengembangkan ekspresi tulisnya sebaik mungkin jika mereka ingin memanfaatkan majalah Crita Cekak sebagai media (berkreasi)-nya.

Komitmen redaksi yang selalu sigap dan sikap pengarang yang cepat tanggap dan inovatif sehingga menghasilkan karya- karya yang berkualitas dapat berdampak pada peningkatan mutu (karya) sastra Jawa yang kala itu sedang tererosi oleh semakin berkembangnya roman-roman pelipur lara (roman picisan). Dengan komitmen redaksi yang intens dan dukungan para pengarang yang berdedikasi tinggi tersebut, upaya majalah Crita Cekak sebagai media sastra Jawa yang berkualitas tidaklah sia- sia. Meskipun usianya tergolong pendek, majalah tersebut mampu dan berhasil melahirkan pengarang-pengarang baru yang potensial. Keberhasilan itu pada gilirannya dijadikan acuan bagi sejumlah pemerhati sastra Jawa yang memberikan penilaian bahwa majalah Crita Cekak dapat melahirkan suatu angkatan yang disebut “Angkatan Crita Cekak”. Dikemukakan oleh Suripan Sadi Hutomo (1975:40—47) bahwa tidak kurang dari 23 orang cerpenis pernah mengisi majalah tersebut. Di samping pengarang- pengarang yang sudah dikenal banyak orang, misalnya Soeba- gijo I.N., Poerwadhie Atmodihardjo, dan Any Asmara, penga- rang-pengarang lain turut menyemarakkan sastra Jawa dalam majalah tersebut. Mereka itu, antara lain St. Iesmaniasita, Esmiet, Soedharma K.D., Senggono, Widi Widayat, Kus Sudyarsana, Ismail, Lesmanadewa, Sukandar S.G., Insyaf Hadi, Munali, Sukiswo, Sudarsono, Liek Subariyati, S. Hard J.N., Endang Budi, SS. Sudarto, Sunupawira, Isdito, Susan, Suhadi M.S., Sri Heru, Ari Suryo, Amy, W. Santosa, Setijowati, Rasjid Atmasumitra, Soekardi P.S., Ny. Nugroho, S Yang, dan Moch. Iljas.

Keberhasilan majalah Crita Cekak melahirkan pengarang- pengarang baru yang potensial tidak terlepas dari peran Soe- bagijo I.N., pemimpin redaksinya, yang sudah berpengalaman di bidang pers dan karang-mengarang cerita pendek. Pada masa pendudukan Jepang, misalnya, ia bersama Poerwadhie Atmo- dihardjo diserahi tugas untuk mengelola lembaran bahasa Jawa Panji Pustaka hingga majalah itu berhenti. Pada awal kemerde- kaan, Soebagio I.N. menjadi Pemimpin Redaksi Api Merdika (1945)

dan Jiwa Islam (1945). Selanjutnya, pada tahun 1949—1957, ia menjadi Wakil Pemimpin Redaksi Panyebar Semangat, dan pada tahun 1953, ia menjadi Pemimpin Redaksi Pustaka Roman. Untuk mengembangkan dan menyebarluaskan majalah Crita Cekak, segala potensi yang dapat mendukung dimanfaatkannya. Misal- nya, ia memanfaatkan Panyebar Semangat untuk mengiklankan penerbitan majalah Crita Cekak, sebagimana yang dilakukan oleh majalah Kakasihku asuhan Satim Kadarjono. Di dalam Panyebar Semangat, 21 Januari 1956, halaman 4, misalnya, terdapat iklan Crita Cekak nomor 6 (lihat fotokopi berikut) yang akan menampil- kan cerita pendek karya para pengarang muda, antara lain “Dudu Bandha Dudu Rupa” karya Insaf Hadi, “Bali” karya Senggono, “Si Kebayak Ijo” karya S.S. Sudarto, “Kesandhung” karya S. Hard J.N., “Suwara Kecapi” karya Iesmaniasita, dan “Dhompet” karya Ny. Nugroho.

Pengiklanan Crita Cekak di dalam Panyebar Semangat, 7 April 1956, halaman 23, tampil dengan ilustrasi yang atraktif (lihat fotokopi berikut).

Iklan itu berisi komentar dan ajakan agar khalayak mau berlangganan sebab Crita Cekak dapat dijadikan “obat awet muda”, seperti berikut.

“Wis tuwa ning tetep awet mudha. Jalaran atine digawe tetep gembira, seneng-2, lan ajeg maca majalah-2 sing entheng-2, nengsemake, nggembirakake ati, kayadene majalah

Crita Cekak

Sing saguh dadi obat awet enom kagem panjenengan. Dakaturi ngincipi dadi lengganan 3 nomer marang Tata Usaha Crita

Cekak, Dharma Rakyat I-9, Surabaya.”

’Sudah tua tapi tetap awet muda. Karena hatinya dibuat tetap gembira, senang-senang, dan ajek membaca majalah- majalah yang ringan-ringan, menggiurkan, mengembira- kan hati, seperti majalah.

Crita Cekak

yang sanggup menjadi obat awet muda bagi kalian. Kupersilakan mencicipi menjadi pelanggan 3 nomor kepada Tata Usaha Crita Cekak, Dharma Rakyat I-9, Sura- baya.’

Sebagai catatan bahwa kehadiran majalah sastra Jawa Crita Cekak dapat memberikan inspirasi penerbitan majalah serupa berbahasa Indonesia. Majalah itu diberi nama cerpen (tulisan asli- nya tjerpen), terbit pertama pada bulan Oktober 1966 (lihat foto- kopian berikut).

Berbagai upaya dilakukan untuk mempertahankan kelang- sungan hidup majalah tersebut, tetapi suasana perekonomian, sosial, politik yang kurang mendukung, bahkan semakin mem- buruk. Akibatnya, Crita Cekak turut kandas di tengah perjalanan. Nasib serupa juga dialami oleh Pustaka Roman dan majalah sastra Jawa lainnya, di samping menghadapi persaingan keras melawan roman-roman pelipur lara yang semakin mendapatkan angin segar dari para pengarang dan konsumen (pembaca)-nya.

Dalam dokumen MAJALAH SASTRA JAWA MASA KEMERDEKAAN 201 (Halaman 44-53)

Dokumen terkait