• Tidak ada hasil yang ditemukan

Arikunto S. 2003. Manajemen Penelitian. Rineka Cipta. Jakarta.

Arifin. 2008. Koreksi Geometri Data Citra Raster. http://digilib.itb.ac.id. Diakses pada tanggal 4 Juni 2013.

Ary D., Jacobs L.C, Razavich A. 1982. Pengantar Penelitian dalam Pendidikan (penerjemah Furaham A.). usaha Nasional. Surabaya

[BPS] Badan Pusat Statisitik. 2008. Sensus Penduduk Tahun 2007. BPS. Kabupaten Merauke. Merauke.

Barus. B. 2000. Sistem Informasi Geografi; Sarana Manajemen Sumber Daya. IPB. Bogor

[BSNI] Badan Standarisasi Nasional Indonesia. 2010. Klasifikasi Penutup lahan. BSNI. Jakarta

Barnett J. 1982. An Introduction to Urban Design. Harper & Row Publisher. New York

Barrett, E.C., Curtis L.F. 1982. Introduction to Environmental Remote Sensing, Second Edition. Chapman and Hall. London.

Brinkerhoff D.W., Goldsmith A.A. 1λλ2. “Promoting the Sustainability of Development Institutions: A Framework for Strategy.” World Development. 20 3: 369-383.

Boelaars J. 1986. Manusia Irian. PT. Gramedia. Jakarta.

Bungin, B. 2003. Metodologi Penelitian Kualitatif : Aktualisasi Metodologis ke Arah Ragam Varian Kontemporer. Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Dunggio I. 2011. Analisis Degradasi Tutupan Lahan di Hutan Lindung Gunung Damar Provinsi Gorontalo. Jurnal Ilmiah Agropolitan Vol 04 : 02

Flassy D.A.L., Flassy M. 2010. Keragaman Budaya Papua Dalam Konteks Tradisi Dan Budaya Melanesia, Menuju Melanesianologi Dan Papuanistik. Makalah pada Konferensi Keragaman Budaya Papua-Melanesia Dalam Mosaik Budaya Indonesia. Jayapura.

Geertz C. 2000. Local Knowledge, Further Essays in Interpretative Anthropology. 3rd Edition. New York

Giddens A., Held D. 1987. Perdebatan Klasik dan Kontemporer Mengenai Kelompok, Kekuasaan dan Konflik. Diterjemahkan oleh Vedi R. Hadiz. CV Rajawali. Jakarta

Gebze Y. B. 2000. Gereja Katholik diantara Penduduk Malind-anim. Merauke Halsey W.D., Friedman E. 1984. The New Grolier Webster International

Dictionary of the English Language-Volume 24 Macmillan Educational Co. Irlandia.

Hardjowigeno S., Widiatmaka. 2007. Evaluasi Kesesuaian Lahan & Perencanaan Tataguna Lahan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Irwanto. 1998. Focus Group Discussion : Suatu Pengantar Praktis. Jakarta. Pusat Kajian Pembangunan Masyarakat - Unika Atmajaya. Jakarta

Irwanto. 2006. “Focus Group Discussion: A Simple Manual”. Yayasan Obor. Jakarta

Jensen J.R. 1996. Introductory Digital Image Processing a Remote Sensing Perspective. Second Edition. Prentice Hall. London.

Jinlong L. , Renhua Z, Qiaoyun Z. 2012. Traditional Forest Knowledge of the Yi People Confronting Policy reform and Social Changes in Yunnan Province of China. Forest Policy and Economic 22 : 9–17.

Kertapati, T. 1981. Dasar-Dasar Publistik. PT. Bina Aksara. Jakarta.

Lillesand.T.M, Kiefer R.W. 1979. Remote Sensing and Image Interpretation. Jhon Willey and Son. New York.

Marfai A. M. 2012. Pengantar Etika Lingkungan dan Kearifan Lokal. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta

Michael M.C. 1λλ3. “The Sociologist’s Approach to Sustainable Development.” Paper Series No.2. World Bank.

Miles, M.B., Huberman A.M. 1992. Analisis Data Kualitatif : Buku Sumber Tentang Metode Metode Baru. UI-Press. Jakarta

Mikkelsen B. 2011. Metode Penelitian Partisipatoris dan Upaya Pemberdayaan: Panduan Bagi Praktisi Lapangan. Cetakan kelima. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta.

Moleong L.J. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. Edisi Revisi ke-16. P.T. Remaja Rosda Karya. Bandung

Muslim E., Evertina V., Nurcahyo R. 2008. Structure, Conduct, and Performance Analysis in Palm Cooking Oil industry In Indonesia using Structure Conduct Performance Paradigm (SCP). Proceeding, International Seminar on Industrial Engineering and Managament Santika Hotel. Jakarta

Nygren, A. 1999. Local Knowledge in the Environment-Development Discourse: From Dichotomies to Situated Knowledges Critique of Antropology. 19 3:267-288

Notoatmodjo S. 2002. Metodologi Penelitian Kesehatan. Rineka Cipta. Jakarta Overweel J.A., Gebze Y.B. 1992. Suku Marind Dalam Alam dan Lingkungannya

yang Berubah. Yapsel. Merauke.

Purwadhi, S H. 2001. Interpretasi Citra Digital. Grasindo. Jakarta

Raymond, C. M, Fazey I. ,Reed M., Stringer L.C., Robinson G.M., Evely A. C. 2010. Integrating Local and Scientific Knowledge for Environmental Management. Journal of Environmental Management. 91 : 1766-1777 Ridwan.N.A. 2007. Landasan Keilmuan Kearifan Lokal. Jurnal Ibda. Vol. 05: 01 Rumbiak W. 2010. Pemetaan partisipatif Tempat penting Masyarakat adat Malind

Anim di Kabupaten Merauke. Tesis. UGM. Yogyakarta

Rustiadi E., Saifulhakim S.,Panuju R. D. 2011. Perencanaan dan Pengembangan Wilayah. Crestpent Press dan Yayasan Pustaka Obor Indonesia. Jakarta Sarwono. 1990. Pengantar Umum Psikologi,. Bulan Bintang. Jakarta

Siahaan N.H.T. 2004. Hukum Lingkungan dan Ekologi Pembangunan. Edisi-2. Erlangga. Jakarta

Shohibuddin M. 2003. Artikulasi Kearifan Tradisional dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam Sebagai Proses Reproduksi Budaya. Tesis. Pascasarjana IPB Bogor

Sirait E. 2005. Pengelolaan Sumber Daya Berbasis Kemasyarakatan dan Kearifan Lokal Kasus Pengelolaan Cendana di Kabupaten Mataram. Tesis IPB.Bogor Sofyandi D. 2010. Kearifan Lingkungan Masyarakat Adat Malind dalam

Pengelolaan Sumber Daya Alam di Kabupaten Merauke Provinsi Papua. Tesis. UGM. Yogyakarta

Spradley, J.P. 1980. Participant Observation. Holt, Rinehart & Winston. New York.

Sutarya.2005. Efektifitas Kearifan Lokal yang Dilakukan oleh Masyarakat Kampung Naga dalam Memelihara Lingkungan. Tesis. S2 Ilmu Lingkungan UGM. Yogyakarta.

Sutanto. 1992. Penginderaan Jauh; Jilid 1. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta

Sunaryo, Joshi L. 2003. Peranan Pengetahuan Ekologi Lokal Dalam Sistem Agroforestri. Bahan Ajaran 7. World Agroforestry Centre (ICRAF) Southeast Asia Regional Office. Bogor.

Tika M. P. 2005. Metode Penelitian Geografi. Bumi Aksara. Jakarta

Tobler W.R. 1987. Measuring Spatial Resolution. In Proceedings: Land Resources Information Systems Conference. Beijing. China, 12–16.

[W W F] World Wide Fund For Nature Indonesia. 2006. Hasil Identifikasi Tempat penting Masyarakat Suku Besar Malind Anim dalam Bio Visi Ekoregion TransFly. Tim WWF Kantor Merauke. Merauke

[W W F] World Wide Fund For Nature Indonesia. 2011. Pemetaan Sebaran Carbon di Kabupaten Merauke. Kerjasama WWF Indonesia-Institut Pertanian Bogor. Jakarta.

Yusuf I.A. 2007. Focus Group Discusion (FGD). Ed Pitra Narendra, Metodologi Riset dalam Kajian Komunikasi. PKMBP dan BPPI. Yogyakarta.

Yustus, 2004. Kearifan Tradisional Masyarakat dalam Konservasi Sumber Daya Hutan dan DAS (Kasus pada Masyarakat Mantembu). Tesis. IPB. Bogor Zakaria R.Y.2011. MIFEE Tak Terjangkau Angan Malind. Yayasan Pusaka.

Lampiran-Lampiran

Lampiran 1. Pembagian kelompok marga menurut Suku Kanume dan Yeinan

MBANGGU Ada 4 Sub M arga : YANGGIB Ada 10 sub marga :

1.Kairer 1. Gagujai 6. Kecibakwebtu

2. Barkali 2. Gawaljai 7. Dambujai

3. Nkutar 3. Yoreljai 8. Kabarjai

4. Almaki : M ayua 4. Webtu 9. M arpijai

NDIMAR Ada 4 Sub M arga : 5. Jelobarwbtu 10. Kosnan

1. M eningge (Kampung Onggaya) KABRONAIN Ada 12 Sub M arga :

2. Semerki (Kampung Yanggandur) 1. Kupeljai 7. Dagijai 3. Ndermbe (Kampung yerew) 2. Kwerkejai 8. Takuter 4. Nggitua (Kampung Sota) 3. Tabaljai 9. Bakujai

5. Kidup (Kampung Sota) 4. Wonjai 10. Jeguljai

6. Koe (Kampung Sota) 5. Blojai 11. Ipijai

NDIPKUAN Ada 4 Sub M arga : 6. Keijei 12. Tangkajai

1. Ndipkuan M anggo KAORKENAN Ada 16 Sub M arga :

2. M ayua Nggerbu (Onggaya) 1. M ahujei 9. M urnan 3. Ngguntar Nggerbu 2. M ago (Sarang semut) 10. Bhjei

4. Bedi Nggerbu 3. Galjei (Busur) 11. Waliter

4. Kwemoy 12. Yebze (Ular Boa Tanah) 5. Talijei (Kelelawar) 13. Wanjei (Ikan Duri) 6. Belmojai (Ikan arwana) 14. Samajay (Jahe ) 7. Kabujei ( Ikan Duri) 15. Coulgeljai 8. Gemter 16. Kecanter (Kap-kap)

YEMUNAN Ada 6 sub marga :

1. Wenanjai Darat 4. Dagaljai 2. Wenanjai Rawa 5. Yoakjai

3. Kwarjai 6. Kwipalo

Lampiran 2. Jenis dan Nama Tempat penting Marga di kampung Zanegi

No Sub Nama Jenis tempat keterangan

1 Ndimarze MOHA Tempat Sakral Tempat kediaman leluhur Marga Samkakai selanjutnya Balagaize, dan

Gebze. Dari tempat kemudian setiap marga berpencar. Dipercaya orang Malind sebagai tempat kutukan sehingga sekarang menjadi Anim

2 Ndimarze BUD Tempat Sakral Tempat mandi dan urus diri leluhur Olriu sebelum pergi mengikuti pesta

ke Moha

3 Ndimarze YAWARTI Persinggahan leluhur Tempat berbaliknya leluhur tamu dari Yeinan karena mendengar pesta

di Moha sudah selesai

4 Ndimarze KWAHAB Persinggahan leluhur Tempat Akhir dari perjalanan panjang leluhur

5 Ndimarze BAL'IK Persinggahan leluhur Tempat singgah sebentar leluhur dari Wayau dan selanjutnya kembali

ke Wayau

6 Ndimarze MBOR' Tempat Sakral Tempat melaksanakan Ritual penobatan anggota baru dalam Inisiasi

adat malind

7 Ndimarze PAYAS Tempat Sakral Tempat kejadian manusia jadi buaya dari marga Balagaize, termasu

tempat tinggal leluhur dari berbagai tempat. Ada kaitan dengan marga Mahuze

8 Ndimarze KWAROL Tempat Sakral Tempat musyawarah bagi leluhur untuk merencanakan suatu secara

bersama setelah berpencar

9 Ndimarze KAFAGNE Tempat Sakral Dusun dimana ada kuburan leluhur dari 'Morbu'

10 Ndimarze LAR'MI Dusun Sagu Sakral Tempat kuburan leluhur bernama "Keva"

11 Ndimarze KUT Tempat Sakral Tempat melaksanakan Ritual penobatan anggota baru dalam Inisiasi

adat malind bagi golongan IMO, biasanya terjadi setahun sekali saat masa panen ladang dan kebun

12 Ndimarze WAWOK

AHEZEB

Tempat Sakral tempat kejadian pembunuhan anak terhadap omnya, dimana anak

tersebut lalu dibuang di Payes

13 Ayuze P. NDIKU Tempat Sakral lokasi tanah menumpang berbentuk pulau yang dipakai leluhur (ratu

Imo) dari timur ke barat sampai ke sanggase

14 Ayuze AHOOM KIND Tempat Sakral Kuburan leluhur yang dianggap sangat sakral dan suci sehingga

siapapun yang datang harus benar benar bersih. Bentuknya pohon besar

15 Ayuze MAR'I SARWAK Tempat Sakral Tempat tinggal leluhur yang menjadi eksekutor bagi Ahom Kind jika

ada pelanggaran

16 Ayuze ZUKN Tempat Sakral Tempat ancang ancang leluhur untuk melompat atau berpindah dari kali

bian ke arah barat untuk melakukan perjalanan ke Dikhu

17 Ayuze WAL'INAU Tempat Sakral Pijakan pertama leluhur sebelum ke arah barat lewat zug dan Ndiku

18 Ayuze MAYO Dusun Sagu Sakral Tempat peristirahatan awal dan akhir dari leluhur marga Gebze

19 Ayuze NDUANDEM Tempat upacara

Ritual

Tempat melaksanakan Ritual penobatan anggota baru dalam Inisiasi adat malind

20 Ayuze WAR'YAK GAN Tempat Sakral Waryak Gan berarti suara moyang, tempat sakral golongan sosom.

Tempat dimana moyang menyerahkan parang untuk perlengkapan bekerja

21 Ayuze MANENGGIT Tempat Sakral tanah tinggi tempat perjalanan lewat leluhur ratu imo setelah dari Zug

22 Ayuze BOR'EK Tempat Sakral Kuburan leluhur

23 Ayuze WAR'KIND Dusun Sagu Sakral Tempat sejarah perjalanan leluhur yang disebut juga 'Namnes'

24 Ayuze SUBBOR Persinggahan leluhur Kampung lama tempat leluhur tinggal dalam persinggahannya

25 Ayuze IZO Persinggahan leluhur Tempat pertama leluhur keluar dari wilayah sosom masuk ke wilayah

Imo terus kearah barat

26 Ayuze KAPE Tempat Upacara

Ritual

Tempat melaksanakan Ritual penobatan anggota baru dalam Inisiasi adat malind

27 Ayuze WAR'E AGAM Tempat Sakral

28 Ayuze BAYAB Tempat Sakral Tempat tinggal leluhur yang dianggap sebagai eksekutor juga dari

Ahoom kind

29 Ayuze KABR'UB Tempat Sakral Tempat kampung lama leluhur golongan imo dan sekaligus jalan lewat

leluhur dari golongan lainnya

30 Ayuze MANENGGEP

YAVUNMIT

Tempat Sakral Jalur lewatnya leluhur ratu Imo ke arah barat

31 Ayuze WATI Dusun Sagu Sakral Dusun dimana ada kuburan leluhur dari 'Morbu'

32 Ayuze OMANETOK Tempat Sakral Tempat singgah leluhur di kepala kali Awpart batas dengan Kaliki

dimana leluhur akan melanjutkan perjalanan ke arah barat

33 Ayuze SAMBIR' Tempat Sakral Tempat kejadian pembunuhan leluhur Ayuzeh oleh leluhur dari suku

Lampiran 3. Perkembangan Investasi pada project MIFEE tahun 2012

.

Claster Nama Investor Amdal Tahap

Sekarang

Lokasi Kendala Izin lokasi

(ha) Pelepasan kawasan (ha) KSPP I Greater Merauke PT. ANUGERAH REJEKI NUSANTARA (Tebu)

Belum Perijinan &

Survey Awal Tanah Miring &

Animha

belum ada peta Hak ulayat dan tempat

penting

40,591

(Semangga, Tanah

PT. PAPUA DAYA BIO ENERGI (Tebu)

Belum Pembibitan Tanah

miring

belum ada peta Hak ulayat dan tempat

penting 13,396 Miring, Jagebob) PT. TEBU WAHANA KREASI (Tebu)

Belum Pembibitan Tanah

miring

belum ada peta Hak ulayat dan tempat

penting

20,282

PT.MUTING JAYA LESTARI (Jagung)

Belum Tidak Aktif - belum ada peta Hak

ulayat dan tempat penting 3 KSPP II Kali KUM PT. CENDRAWASIH JAYA MANDIRI (Tebu)

Belum Pembibitan Domande IPK 40 22,117

(Malind, Kurik, Animha,

Muting

PT. KARYA BUMI PAPUA (Tebu)

Belum Pembibitan Domande IPK 30 15,628

Muting) PT. SUMBER ALAM

SUTERA (Tanaman Pangan)

Belum Tidak Aktif - belum ada peta Hak

ulayat dan tempat penting

3

PT. ANUGERAH REJEKI NUSANTARA (Tebu)

Belum Perijinan &

Survey Awal Tanah Miring &

Animha

belum ada peta Hak ulayat dan tempat

penting PT. BHAKTI AGRO

LESTARI (Tebu)

Belum Proses

Perizinan

- belum ada peta Hak

ulayat dan tempat penting 26,098 PT. RESKI KEMILAU BERJAYA (Tebu) Belum Proses Perizinan

- belum ada peta Hak

ulayat dan tempat penting

10

KSPP III YEINAN

PT. HARDAYA SUGAR PAPUA PLANTATI (Tebu)

Belum Pengukuran

Batas Hak Ulayat

Jagebob belum ada peta Hak ulayat dan tempat

penting 44,812 (Tanah Miring, Jagebob, Sota) PT. ANUGERAH REJEKI NUSANTARA (Tebu) Belum Proses Perizinan Tanah Miring & Anim Ha

belum ada peta Hak ulayat dan tempat

penting PT.HARDAYA SAWIT

PAPUA PLANTATIO (Tebu)

Belum Pengukuran

Batas Hak Ulayat

Jagebob belum ada peta Hak ulayat dan tempat

penting 62 KSPP IV Muting PT. AGRINUSA PERSADA MULIA (Sawit) Amdal sudah selesai Pembenahan Infrastruktur & Pembinaan TK Lokal Muting (SP II)

belum ada peta Hak ulayat dan tempat

penting 40 (Muting, Elikobel, ulilin) PT. AGRIPRIMA CIPTA PERSADA (Sawit) Amdal sudah selesai Pembenahan Infrastruktur & Pembinaan TK Lokal Muting (SP II)

belum ada peta Hak ulayat dan tempat

penting

34

PT. BIO INTI AGRINDO (Sawit)

Ada Beroperasi Muting

(SP II)

Izin IPK, belum ada peta Hak ulayat dan tempat penting

40 36,401 PT. CENTRAL CIPTA MURDAYA (Sawit) Belum Pengukuran Batas Hak Ulayat

- belum ada peta Hak

ulayat dan tempat penting

40 36,401

PT. ULILIN AGRO LESTARI (Sawit)

Belum - - Tdk Aktif 30

PT. ULILIN AGRO LESTARI (Sawit)

Ada Belum - Tdk Aktif 30

Total Luasan : 145,541 110,547

Tidak aktif Tidak aktif

Tidak aktif Tidak aktif

Lampiran 4. Hasil wawancara pendapat tentang penataan ruang

No Pertanyaan %

1 Apa yang anda ketahui tentang produk RTRW di

Kabupaten Merauke ? apakah dokumen ini harus menjadi pedoman pemanfaatan ruang ? jelaskan jawaban anda.

a RTRW adalah Produk hukum 37.5

Struktur dan fungsi pemanfaatan tata ruang 43.8

tidak tahu/tdk ada jawaban 18.8

b Ya, sebagai pedoman bagi pemanfaatan & pengendalian ruang 73.7

Ya, tetapi perlu pelibatan masyarakat 10.5

tidak menjawab 15.8

2 Pendapat anda tentang penerapan RTRW dalam program-

program sektoral khususnya investasi dibidang Kehutanan, Perkebunan dan Pertanian di Kabupaten Merauke, apakah sudah berjalan dengan baik ? uraikan jawaban anda sesuai sektor pekerjaan anda.

sudah berjalan dengan baik 31.3

sudah disesuaikan perlu evaluasi dan sikronisasi 25.0

belum berjalan baik ada tumpang tindih 43.8

3 Apakah anda setuju sesuai dengan hirarki penataan ruang, RTRW Kabupaten Merauke sebaiknya diterjemahkan dalam skala rencana Detil (RDTR) untuk kawasan strategis Kabupaten baik pola lindung maupun budidaya ? jika ‘Ya/tidak’ uraikan jawaban anda.

setuju, masih general harus Detil 58.8

setuju, syarat utama 17.6

setuju, turunannya 23.5

4 Dalam mewujudkan tertib penataan ruang melalui

pengendalian pemanfaatan ruang, dikenal peneparan sistem zonasi, mekanisme perinzinan, pemberian insentif- disinsentif serta pengenaan sangsi. Salah satu upaya implementasinya adalah melalui rencana rinci tata ruang. bagaiman menurut pendapat anda tentang hal ini.

Segera dibuat untuk tertib tata ruang 38.9

Ya Pemanfaatan dan dampak diketahui 33.3

Ya upaya monitoring evaluasi 27.8

5 Langkah dan program apa yang harus dilakukan oleh

pemerintah dan para pihak berkaitan dengan penerapan pengendalian ruang di Kabupaten merauke sehingga tetap terararah dengan mengedapankan nilai kearifan

tradisional Malind.

Keterlibtan masyarakat dalam semua rencana ruang 42.9

publikasi deseminasi tata ruang dan penguatan SDM 35.7

Lampiran 5. Hasil Wawancara Persepsi Para Pihak

No Pertanyaan %

1 Apa yang anda ketahui tentang produk RTRW di

Kabupaten Merauke ? apakah dokumen ini harus menjadi pedoman pemanfaatan ruang ? jelaskan jawaban anda.

a RTRW adalah Produk hukum 37.5

Struktur dan fungsi pemanfaatan tata ruang 43.8

tidak tahu/tdk ada jawaban 18.8

b Ya, sebagai pedoman bagi pemanfaatan & pengendalian ruang 73.7

Ya, tetapi perlu pelibatan masyarakat 10.5

tidak menjawab 15.8

2 Pendapat anda tentang penerapan RTRW dalam

program-program sektoral khususnya investasi dibidang Kehutanan, Perkebunan dan Pertanian di Kabupaten Merauke, apakah sudah berjalan dengan baik ? uraikan

jawaban anda sesuai sektor pekerjaan anda.

sudah berjalan dengan baik 31.3

sudah disesuaikan perlu evaluasi dan sikronisasi 25.0

belum berjalan baik ada tumpang tindih 43.8

3 Apakah anda setuju sesuai dengan hirarki penataan ruang, RTRW Kabupaten Merauke sebaiknya

diterjemahkan dalam skala rencana Detil (RDTR) untuk kawasan strategis Kabupaten baik pola lindung maupun budidaya ? jika ‘Ya/tidak’ uraikan jawaban anda.

setuju, masih general harus Detil 58.8

setuju, syarat utama 17.6

setuju, turunannya 23.5

4 Dalam mewujudkan tertib penataan ruang melalui pengendalian pemanfaatan ruang, dikenal peneparan sistem zonasi, mekanisme perinzinan, pemberian insentif- disinsentif serta pengenaan sangsi. Salah satu upaya implementasinya adalah melalui rencana rinci tata ruang.

bagaiman menurut pendapat anda tentang hal ini.

Segera dibuat untuk tertib tata ruang 38.9

Ya Pemanfaatan dan dampak diketahui 33.3

No Pertanyaan %

5 Langkah dan program apa yang harus dilakukan oleh pemerintah dan para pihak berkaitan dengan penerapan pengendalian ruang di Kabupaten merauke sehingga tetap terararah dengan mengedapankan nilai kearifan

tradisional Malind.

Keterlibtan masyarakat dalam semua rencana ruang 42.9

publikasi deseminasi tata ruang dan penguatan SDM 35.7

penyelarasan kepentingan para pihak 21.4

6 Apa yang anda ketahui tentang Tempat penting Suku Malind yang disebut sebagai cagar budaya dalam RTRW ? dan Apakah anda setuju pemetaan Tempat penting harus dibuat kembali untuk skala marga di kampung- kampung sehingga dapat menjadi input dalam rencana

rinci tata ruang ? sebutkan alasan anda.

setuju, Ada perlindungan dalam pemanfaatan 43.8

setuju, pemetaan Detil memperhatikan tempat sakral yang

spesifik 37.5

setuju, fungsi kontrol dalam pemanfaatan ruang 18.8

7 Saran dan masukan anda terkait pelestarian Tempat

penting Suku Malind ?

Pemetaan partisipatif Detil Tempat penting sebagai

perlindungan wilayah sakral 40.0

Perlu perda perlindungan hak-hak masyarakat adat 30.0

Adanya deseminasi hasil melalui seminar tentang Tempat

penting 15.0

perlu adanya pendampingan terhadap pengamanan temapt

penting 15.0

Lampiran 6. Hasil FGD persepsi masyarakat tentang Tempat penting dan Implementasinya pada rencana Tata ruang Detil/Rinci

No Kelompok FGD Tanggal kegiatan Hasil Diskusi Terfokus

1 Kelompok LSM, Tokoh Masyarakat, Akademisi, Tokoh pemuda, Perempuan, masyarakat adat 27 Maret 2013, Ruang rapat kantor WWF

Legislatif perlu didorong untuk mengeluarkan Regulasi yang melindungi orang malind Gereja perlu bangkit bersama dalam skala besar untuk mencari solusi pendekatan Pembagian suku besar Malind di kabupaten merauke harus diperjelas sehingga sistem kewilayahan menjadi lebih tegas karena dalam adat pembagian tersebut sangat jelas. (suku malind, yeinan, Kanume, Marori Mengey)

Masyarakat adat perlu didampingi Perlu ada pemberdayaan masyarakat di kampung- kampung.

Orang malind harus merubah pandangan melalui proses pendidikan Formal dan Adat Pemerintah harus lebih melindungi keberadaan masyarakat malind yang sudah hidup dan berkembang sejak awal.

Investasi yang masuk perlu memperhatikan dan menjamin aspek lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.

Perlu ada langkah pendekatan ke pihak investor untuk memberi warning dalam melindungi masyarakat adat.

Mahasiswa diharapkan punya gerakan ketika KKN untuk wilayah kampung yang sudah masuk investasi sehingga bisa ikut menyuarakan.

Perlu ada evaluasi terhadap luasan pencadangan area di kabupaten Merauke sehingga kita dapat melakukan koreksi atas data investasi.

Model kurikulum harus diadaptasi di Papua, perlu dirancang yang sesuai dengan kabupaten Merauke.

Kita tidak bisa saling menyalahkan tetapi harus banyak merefleksi tanda alam khususnya kepada masyarakat akademik

2Investor perkebunan, kehutanan dan Pertanian, Dinas Kehutanandan perkebunan, Bappeda, PU, Badan Penanaman Modal Daerah

28 Maret 2013, Ruang rapat kantor WWF

Wacana keterpaduan dalam pembentukan tim pemetaan tempat penting dengan keterpaduan semua pihak (BKPRD dan forum lainnya)

Pemetaan partisipatif memiliki beberapa kelemahan ketika dilakukan parsial dan tidak disiapkan dengan baik terutama metodologi pendekatan yang tidak mempertimbangkan Isyu gender dalam peran di adat, pembagian tugas, pembagian keputusan.

Posisi LMA di tingkat kampung ?

KKA perlu diperjelas lebih rinci sehingga tidak salah presepsi

Perlu ditetapkan rencana rinci melalui tempat penting sehingga bisa diimplementasi ke depan oleh semua pihak Pemetaan Batas marga.

Adanya keterbukaan data pemetaan yang telah dilkukan oleh perusahaan atau pihak manapun sehingga bisa dikoreksi atau dberi masukan untuk penyempurnaan

Pemanfaatan peta harus disesuaikan dengan kewenangan instansi yang telah ditetapkan sesuai aturan tata ruang dan aturan pemetaan lainnya

Diharapkan akan ada diskusi sherring metode pemetaan yang digunakan di masing instansi dan lembaga.

Lembaga akademis harus kuat untuk menyuarakan secara ilmiah tentang pemanfaatan ruang yang berbasis tanah dan budaya malind.

Pemetaan tempat penting sangat dibutuhkan untuk meletakan dasar filosofi tanah dan dasar perlindungan akan manusia dan alam.

Pergesaran perubahan ruang cepat, upaya lambat dan bahkan kurang berkembang Perlu ada banyak refleksi terhadap kesadaran, merubah hati dan membentuk sikap. Perlu ada evaluasi terhadap metdologi pendampingan dan pendidikan yang kita buat terhadap basis.

No Kelompok FGD Tanggal kegiatan Hasil Diskusi Terfokus 3 Pemuda malind, pemuda Katholik 20 Maret 2013, Ruang rapat SKP KAM

Secara garis besar pemuda berpendapat :

1. Merasa ditinggalkan dan hampir hilang arah dan memunculkan sikap cuh tak acuh dan tidak peduli dengan ancaman hilangnya tempat penting masyarakat malind anim.

2. Pemuda sadar akan posisinya namun belum banyak berkiprah dan apalagi dilibatkan dalam setiap iven dalam mengerti dan menggali tempat penting.

3. Ada ketakutan besar konspirasi penguasa atas keberadaan masyarakat adat dan budayanya yang masu dimusnahkan dengan masuknya investasi skala besar.

Pemuda berharap :

1. Pemda harus memfasilitasi masyarakat adat untuk melakukan pemetaan dan mengganggap para pihak terutama masyarakat adalah subjeck utama dari proses tersebut.

2. Pemuda siap untuk dilibatkan dalam setiap usaha mempertahankan tempat penting masyarakat.

3. Perencanaan kampung perlu digiatkan kembali.

4. Dalam semua rencana kebijakan di daerah harus melibatkan semua pihak tidak boleh secara diam diam diatur sendiri setelah ada konflik baru masyarakat dilibatkan.

4 Tim Kerja Pemetaan ditail Partisipatif Temapt penting : Bappeda, WWF dan Yasanto 30,31 Januari 2013, Ruang rapat WWF

Disepakati bahwa prioritas lokasi pemetaan adalah pada areal MIFEE Kluster I-IV yang meliputi 107 kampung yang terdiri dari 36 kampung lokal dan 71 kampung eks transmigrasi, dengan luasan areal + 1.750.000 Ha. Berdasarkan luasan ini, lokasi prioritas akan dibagi dalam 2 Blok besar dalam kaitannya dengan pembelian citra satelit.