Sebuah pertanggungan-pegangkutan sebenamja merupakan suatu tjara dimana pihak jang kesatu, pihak penanggung, mengikat diri dengan pihak jang lain, jaitu pihak tertanggung.
Dengan diterimanja suatu djumlah uang, jakni apa jang dinamakan premi, maka pihak penanggung wadjib untuk mengganti kerugian, kerusakan atau lain-lain biaja jang bersangkutan, djika pihak tertanggung menderita kerugian atas barang-barang jang mendjadi pokok pertanggungan dari pihak penang gung, kerugian mana disebabkan atau diakibatkan oleh bahaja-bahaja tertentu, jang diperintji lebih djelas dalam sebuah perdjandjian antara kedua bclaih pihaik, jang dinamakan polis.
Dapatlah dikatakan bahwa pertanggungan sematjam ini dalam kenjataan- nja sebenarnja merupakan suatu perdjandjian atau persetudjuan antara pihak-pihak.
Akan tetapi — dan disini nampak dengan djelas bedanja perdjandjian ini dengan perdjandjian-perdjandjian biasa lainnja — polis ini 'adalah sebuah perdjandjian jang ditanda-tangani oleh satu pihak sadja, jaitu pihak penang gung, sedang pihak lain, jakni pihak tertanggung tidak menanda-tangani surat perdjandjian — dalam hal ini polis — itu. Hal demikian dapat djuga dilihat dalam ‘hal pengeluaran konosemen oleh maskapai pelajaran, jang djuga hanja ditandatangani oleh sebelah pihak sadja, jakni pihak pengangkut. Tetapi dalam hal konosemen dapat dikatakan, bahwa dokumen ini bukan berbentuk suatu persetudjuan atau agreement, bahkan' suatu surat-bukti, dalam mana pihaik pengangkut menerangkan telah menerima barang dari pengirim barang tersebut untuk diangkut dari satu pelabuhan atau tempat kepada lain pelabuhan atau tempat.
Djika dipandang sepintas lalu, maka ihal penanda-tanganan oleh satu pihak sadja, mungkin menimbul pertanjaan, apakah perdjandjian atau per setudjuan termaktub dalam polis itu mempunjai dasar jang sah.
Djawabnja ialah : perdjandjian atau persetudjuan sedemikian, jaitu jang tertera dalam polis jang bersangkutan itu, benar mempunjai dasar jang sah, sebab, walaupun persetudjuan ini hanja ditandatangani oleh satu pihaik sadja, namun begitu persetudjuan ini adalah sah, berhubung dengan keadaan bahwa dengan menanda-tangani oleh pih ak ' jang tertanggung pada surat permintaan pertanggungan, maka dia telah memenuhi kewadjibannja menurut Undng-undang Hukum terhadap soal penanda-tanganan sesuatu persetu djuan oleb kedua belah pihak jang berkepentingan.
t
Seland}utnja harus dikemukakan, bahwa sebuah polis sebetulnja tidak mempertanggungkan barang atau benda jang mendjadi pokok persetudjuan ini, akan tetapi memberi djaminan kepada orang atau orang-orang jang mempunjai kepentingan pada barang-barang atau benda tersebut.
Karena itu suatu polis mendj'andjikan biaja ganti-rugi kepada mereka jang menutup asuransi tersebut, apabila barang jang mendjadi pokok per tanggungan ini binasa, atau mengalami kerusakan, baik untuk sebagian sadja maupun seluruhnja, kerugian atau kerusakan mana disebabkan oleh salah satu atau beberapa matjam bahaja jang telah ditjantumkan dalam polis.
Hal ini hampir dapat disamakan dengan suatu polis pertanggungan-djiwa, dalam mana pertanggungan didjalankan terhadap djiwa seseorang dengan ketentuan, bahwa bila dia meninggal dunia, maka djumlah uang pertang gungan aikan dibajar kepada warisnja atau orang lain jang namanja disebut dalam polis jang bersangkutan sebagai pihak jang akan mendapat uang pertanggungan tersebut. Dengan sengadja dikatakan disini „ham pir” sama, sebab dalam polis pertanggungan-djiwa jang dimaksudkan biasanja disebut nama orang jang mendjadi pokok pertanggungan, sedang daiam polis per- tanggungan-pengangkutan pokok pertanggungan adalah barang, sedang orang jang mempunjai kepentingan terhadap barang itu disebut namanja sebagai
pemegang atau pemilik polis tadi.
Akan tetapi — dan hal ini harus diperhatikan benar-benar — polis pertanggungan-pengangkutan, sebagai djuga polis-polis lain, tidak mendjamin akan tetap adanja barang tadi ataupun pengganti ann j a dengan barang jang bentuk dan sifatnja adalah bersamaan pula.
Berkenaan dengan uraian ini, maka dapatlah dikatakan, bahwa suatu polis pengangkutan merupakan djuga sebuah kontrak ganti-kerugian, tetapi
bukanlah suatu kontrak jang sempurna, sebab ganti-kerugian jang dimaksud
kan ini harus dipandang dalam arti-kata mengembalikan si pemilik barang atau benda itu kedalam keadaan pemilikannja jang semula, djadi bukan mengembalikan barang atau benda itu kepada pemiliknja.
Jang dikatakan pertanggungan atau asuransi itu adalah djaminan jang — sepandjang hal ini dapat dilakukan —- bertudjuan untuk menutup segala kerugian jang dapat diperhitungkan dalam bentuk uang, kerugian mana mungkin telah diderita oleh seseorang sebagai akibat kerusakan atau turunnja harga barang atau benda jang dipertanggungkan itu, sesudahnja barang atau benda itu mengalami sesuatu kerugian, karena sebab-sebab jang tertentu.
Akan tetapi sebali'knja, asuransi tidak memberi djaminan terhadap ganti- kerugian untuk lain-lain sifat kerugian jang mengalir dari atau merupakan akibat dari pada hal-hal tersebut diatas ini, seperti umpamanja kemunduran dalam harga menurut patokan jang oleh orang sendiri diberikan kepada barang pertanggungan tersebut, melainkan segala kemunduran harga didasar kan atas harga-dagang.
Achimja hendak ditegaskan, bahwa sebuah polis pengangkutan tidak pernah bertudjuan menutup semua kerugian jang mungkin diderita oleh 34
pihak jang tertanggung, melainkan hanja menutup kerugian-kerugian jang diakibatkan oleh kedjadian-kedjadian jang-setjara kebetulan datang.dari luar dan jang berada diluar pengawasan atau kehendak pihak tertanggung itu.
Bentjana jang datang dari luar.
Perlu sekali soal ira ditindjau lebih dalam lagi.
Sebenamja ¡sebuah polis sekali-kali tidaik bertudjuan mendjamin penutupan atau penggantian kerugian jang diderita sebagai akibat sifatnja barang atau benda jang dipertanggungkan, atau kerugian jang disebabkan oleh busuk sendiri (vice propre) atau sebagai akibat pembungkusan dari barang atau benda itu.
Tetapi disebabkan adanja persaingan, maka ada kalanja — hal ini tidak boleh tidak harus diallcui — orang menjimpang dari ketentuan tersebut diatas ini. Namun demikian adalah tetap mendjadi azas dari sesuatu polis, baihwa busuk sendiri, „vice propre” dinamakan bahaja ini dengan istilah asing, pada umumnja tidaik ditanggung, dengan lain perkataan kerugian jang diaikabatkan oleh kwalitet jang tidak baik dan tidak bermutu dari barang itu 6endiri dan jang tidak dilalku'kan oleh bentjana jang datang dari luar, tidak dapat ditanggungkan.
Hal ini, walaupun tidak ditetapkan dengan tegas dalam Undang-undang Hukum Perniagaan, pada lazimnja telah dialirkan dari aturan jang tertjantum dalam Undang-undang Hukum Perniagaan fasal 637 jang antara lain
' berbunji: ' .
» ... dan pada umumnja jang diakibatkan oleh ben-tjana-bentjana jang datang dari luar”.
Dengan peraturan ini maka teranglah bahwa kerugian oleh bentjana jang an datang dari luar, tetapi jang telah berada atau terkandung oleh arang atau benda jang dipertanggungkan itu, tidak dapat ditanggungkan, etju i djika hal demikian disebut dengan tegas dan djelas dalam sjarat sjarat polis jang bersangkutan.
h ja?n8 djelas dari' ketentuan ini adalah umpamanja dalam u t-kulit jang belum dikerdjakan setjukupnja dan kemudian mengalami
^ r°ei) sebagai akibat proses-membusuk jang terdapat dalam -■kulit itu sendiri. Njatalah bahwa oleh karena keadaan sedemikian roerupakan suatu keadaan jang amat baik guna kuman-kuman jang tetap a dalam kulit^basah itu sehingga oleh keadaan demikian kuman tersebut mendapat kesempatan baik untuk memperkembangkan diri dan
agai a/kibatnja terdjadilah pengeraman tersebut jang menjebabkan keru sakan terhadap kulit-kulit tadi.
^erketjuali dalam pengeraman jang timbul sebagai akibat sesuatu ke jadian jang telah dipertanggungkan, maka dalam lain-lain hal pihak penanggung tidak bertanggung-djawab atas kerugian jang diderita karena erugian ini — jang sebenamja disebabkan oleh kuman-kuman dan bukan an bahaja jang datang dari luar — tidak timbul sebagai kelandjuitan dari
bentjana atau marabahaja atau kedjadian dari luar dan semata-mata 'dise babkan oleh keadaan barang itu sendiri, sebagai akibat dari kurang diper siapkan, kurang dimasak atau disamak. Sekali lagi ditegaskan, bahwa terhadap hal-bal terachir ini sebuah polis biasanja tidak memberi djaminan apapun.
Suatu gambaran tentang demikian ini dapatlah djuga dalam hal teng- gelamnja 'kapal jang sudah tua <jan agak buruk rangkanja. Para penanggung dari rangka-kapal (oasco) tersebut tidak dapat dipertanggung-djawabkan atau dengan kata lain tidak akan menanggung kerugian terhadap rangka kapal itu. "
Akan tetapi pihak penanggung dari barang-barang jang dimuatkan dengan kapal jang telah tenggelam itu oleh sebab rangkanja telah buruik tidak dapat melepaskan diri dari pertanggungan mereka dan wadjib membajar kerugian atas barang-barang jang bersangkutan dengan pertanggungan itu.
UNSUR-UNSUR PERDJANDJIAN PERTANGGUNGAN
Bagian X
Tibalah kita pada pembitjaraan mengenai perdjandjian-pertanggungan pada chususnja.
Terlebih dahulu timbullah pertanjaan :
Unsur-unsur (sifat-sifat) apakah harus terdapat dalam sesuatu perdjan djian-pertanggungan ?
Untuk mengadakan suatu perdjandjian-pertanggungan jang sah, maka pokok-pokok berikut ini haruslah dipastikan terlebih dahulu :
1. Kekuasaan dari kedua-belah pihak untuk dapat mengadakan perdjandjian sematjam ini.
2. Pihak jang ditanggung harus mempunjai bahan atau barang jang memang
patut dipertanggungkan.
3 Sesuatu penggantian jang sah haruslah dipenuhi atau didjandjikan untuk dipenuhi.
4. Antara pihak-pihak jang mengadakan perdjandjian mengikat ini haruslah terdapat suatu persesuaian jaham (meeting of minds).
• engikatan ini harus mempunjai tudjuan jang didukung oleh Undang ? undang atau aturan-aturan lain jang sah.
® gaimana kita telah menelaah bersama, maka suatu pertanggungan- pengangkutan pada pokoknja tiadalah berbeda dari perdjandjian-perdjan djian jang biasa. Ketentuan-ketentuan hukum jang mengatur dan mendjamin
per jandjian serupa ini pada umumnja adalah ketentuan-ketentuan jang er a u bagi perdjandjian-perdjandjian pertanggungan dan untuk menambah an melengkapkan ketentuan-ketentuan hukum tersebut, telah ditjiptskan Pu join-lain ketentuan jang sepandjang peredaran zaman harus dapat rnendjamin dan memenuhi kepentingan-kepentingan kedua pihak, ialah baik lang terj an8Rung maupun jang menanggung, ketentuan-ketentuan mana mungkin tidak termuat dalam perdjandjian lain-lain.
Dibawah ini adalah tindjauan kelima pokok jang tersebut diatas tadi.
1- Kekuasaan (competensi)
Di Indonesia kita tidak mendjumpai penanggung-penanggung setjara per seorangan, tetapi hanja dalam bentuk maskapai, maskapai-maskapai mana telah mendjadikan soal pertanggungan ini sebagai mata-pentjahariannja. ipasaran asuransi di London, umpamanja dalam kalangan Lloyds, sabali'knja
ada terdapat sekelompok penanggung-penanggung perseorangan. Setiap orang memang dapat bertindak sebagai penanggung apabila ditindjau dari sudut hukum ia berkuasa untuk melakukan hal itu dan karena itu ia boleh me ngadakan perdjandjian-perdjandjian. Djadi dalam hal ini tidak termasuk faillisement, sakit djiwa atau belum akil-balig dan lain-lain sebagainja.
Tak usah dipandjang-lebarkan, bahwa dalam hal kekuasaan atau hak ini pihak jang tertanggungpun harus dapat memenuhi sjarat-sjarat kekuasaan itu (singkatnja ia tak boleh berada dalam keadaan pailit, tak boleh berada, diba/wah pengawasan seorang wali, tak boleh menderita penjakit djiwa an lain-lain sebagainja).