• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hal „co-insurance” atau pertanggungan-bersama

Dalam dokumen PENERBIT D J AM B ATAN (Halaman 187-191)

pertanggungan bersama. Walaupun sebetulnya golongan ini tidak dapat di- snggap sebagai reasuransi dalam arti-kata Undang-undang, maka biasanya hal ini dipandang djuga sebagai suatu djenis reasuransi.

Dalam hal ini maka oleh jang menanggung dibuat hanya satu polis untuk langganannja, diatas polis itu selain dari penanggung, jang mendjadi pe­ nanda tangan pertama, djuga maskapai-maskapai asuransi lainnja, jang mengambil bahagian dalam .pertanggungan ini, menanda tangani polis 'ter­ sebut untuk d jumlah pertanggungannya masing-masing.

Oleh karena itu maka keadaan demikian dinamakan „pertanggungan bersama” atau „co-insurance”, sebab maskapai-maskapai asuransi lainnja turut serta menanda tangani pertanggungan ini.

Teranglah 'bahwa „co-insurance” sebetulnja bukan reasuransi dalam arti- kata „menanggung-pula”, akan tetapi lebih bersifat „pertanggungan ber­ sama” (oleh beberapa maskapai asuransi).

Perlu diterangkan djuga bahwa dalam hal „co-insurance” profesional reinsurance company tidak dapat mengambil bagian sotjara langsung, sebab maskapai reasuransi itu tidak dapat bertindak selaku maskapai asuransi biasa, atau dengan kata lain suatu maskapai reasuransi tidak dapat m e n a n d a

tangani 'bersama atas polis jang dibuat oleh maskapai asuransi.

Tentang polis reasuransi

Seperti dalam asuransi biasa, maka dalam reasuransi digunakan djuga .polis, jaitu polis reasuransi, ¡ketjuali dalam reasuransi jang dilakukan berdasar kontrak.

Suatu polis reasuransi hanja berbeda sedikit dari polis biasa ; perbedaan ini terdiri dalam ikata-pembukaan jang'dipergunaikan dalam p o lis - r e a s u r a n s i.

Biasanya perkataan pembukaan dari polis reasuransi adalah sebagai b erik u t:

-„Being a reinsurance subject to the same clauses and „conditions as the original ¡folicy and to pay as may „be paid thereon”.

Artinja :

„Pertanggungan ini adalah suatu pertanggungan-pula „(atau reasuransi) jang dilakukan dengan sjarat-sjarat „jang sama seperti tersebut dalam polis asli dan hen- ,4 a k dibajarkan sebagaimana, dibajarkan dalam polis „tersebut”.

Selain dari pada perkataan atau sjarat tersebut, maka sebenamja polis reasuransi 'bersifat dan berbentuk sama seperti polis biasa.

' Dengan sjarat ini maka seolah-olah polis 'asli dan polis reasuransi disam­ bung mendjadi satu kesatuan jang tetap bersangkut paut satu sama lain, dengan arti, bahwa kerugian jang harus diganti oleh poHs asli pun djuga harus diganti (sebagian atau semuanja) oleh polis reasuransi itu.

Akan tetapi suatu hal jang .harus diperhaitiikan ialah, bahwa polis-reasu- ransi adalah su atu persetudyuan tersendiri antara cessionair dan reasura- dimja.

Tiap-tiap perobahan jang harus ditempati dalam polis asli itu, harus disetudjui dahulu oleh pihak reasuradir, tanpa persetudjuan mana para reasuradir mempunjai haik untuk membatalkan polis rearusansi itu.

Dalam bal reasuransi berdasar kontrak, tidak diperbuat polis-polis . reasuransi, sebab djika demikian maka disamping bertumpuk-tumpu'knja pekerdjaan buat kedua belah pihaik, djuga perhitungan premi tidak mudah.. Dalam hal ini biasanja perhitungan premi dan penjaluran pertaoggungan- pula dilalaikan dengan lain djalan, jaitu dengan dikumpul'kannja keterangan­ . keterangan jang bersangkutan dalam suatu bordero jang pada tiap-tiap

penghabisan bulan atau triwulan harus dikirim oleh penanggung kepada reasuradirnja.

Sebagai penutup dapat ditegaskan bahwa suatu peTsetudjuan rearansi adalah suatu persetudjuan antara pihaik penanggung dan reasuradirnja sendiri. Pihak tertanggung tidak mempunjad hubungan apa-apa dengan persetudjuan ini, artinja dalam hal kerugian tertanggung hanja berurusan dengan pihaik penanggung dan tidak dengan reasuradirnja. Penggantian kerugian kepada pihak tertanggung tidak boleh tergantung dan persoalan, apakah pihak penanggung akan dapat kembali sebagian atau semua djumlah kerugian itu dari p ara reasurandirnja atau tidak.

Bagian XXXV

YORK-ANTWERP RULES 1950

L a m p i r i ^

Rule of Interperation

In the adjustment of general average, the fallowing lettered n u m b e r e d Rules shall apply to the exclusion of any Law and Practice in rnnsistent therewith. Except as provided by the numbered Rules, general shall be adjusted according to the lettered Rules.

Rule A

There i s a General Average Act when, and only when, any c x t r a ^ r d m a x y

sacnfice or expenditure in intentionally and reasonably m a d e n r i n c u r r e d

for the common safety for the purpose of preserving 'from noril the pro­ perty involved in a common maritime adventure.

Rule B

General Average sacrifices and expenses shall be borne bv the d i f f e r e n t .

contributing interest on the basis hereinafter .provided.

Rule C

Only such losses, damages or expenses which are the direct c o n s e q u e n c e

of the general average act shall b e allowed as general average Loss or damage sustained b y the ship or cargo through delay, whether on the v o y a g e

or subsequently, such as demurrage, and any indirect loss whatsoever, s u c h

as loss of market, shall not b e admitted as general average '

Rule D

Rights to the contribution in general average shall not be affected t h o u g h

the event which gave rise to the sacrifice or expenditure may have been due to the fault of one of the parties to the adventure ; but this shall not prejudice any remedies which may be open against that party for such fault.

Rule E

The onus of proof is upon the party claiming in general average 'to show that the loss or expense claimed is properly allowable as general average.

Rule F

Any extra expense incurred in place of another expense which would have been allowable as general average, shall be deemed to be general average, and so allowed, without regard to the saving, if any, to other interests, but only up to the amount of the general average expense a v o i d e d .

Rule G

General average shall be adjusted as regards both loss and contribution upon the basis o f values at .the time and place when and where th e ' adventure ends.

This rule shall not affect the determination of the place at which the average statement is to be made up.

Rule I

Dalam dokumen PENERBIT D J AM B ATAN (Halaman 187-191)