Dalam fasal 637 K.U.H.P. disebutkan kerugian-kerugian dan kerusakan- kerusakan mana jang pada umumnja harus mendjadi pertanggungan para
penanggung. _
Antara lain terdapat kerugian jang diakibatkan oleh kekerasan, peram pasan, badjak laut, penjamun, penahanan atas perintah jang berwadjib, pemjataan perang, pembalasan atau dengan arti kata lain : molest. Dalam polis Bursa Amsterdam terdapat pula pertanggungan demikian.
Rupa-rupanja hal ini berasal dari keadaan pada zaman jang lampau, pada waktu mana pertanggungan pengangkutan dianggap pertanggungan terhadap segenap bentjana-bentjana dilaut, dengan tidak diperhatikan apakah bentjana itu ada bentjana biasa dilaut ataukah bentjana jang disebabkan oleh pe perangan atau bersangkut-paut dengan peperangan.
Daiam prinsip tidak diperbedakan antara kedua bentjana itu dan djika ditindjau dari sudut sedjarah, maka hal ini dapat diterangkan dengan mudah, sebab dalam hal perianggungan rangka-kapal dan barang-barang terhadap bentjana-bentjana dilaut, maka pertanggungan terhadap molest adalah amat penting, terlebih-lebih lagi bila diperhatikan bahwa badjak-badjak laut, kapal-kapal penjamun dan kapal-kapal perang dari negara-negara musuh dapat mengantjam kapal-kapal dagang dilaut, pun pula dalam waktu damai.
Pada waktu sekarang dapat dikatakan bahwa keadaan adalah lebih baik, sebab dalam waktu damai bentjana-bentjana jang disebutkan ini boleh di katakan hampir tidak terdjadi. Badjak laut dan penjamu n lautpun hampir tidak ada lagi sekarang. "
Dalam waktu-waktu biasa, jakni dalam keadaan normal, atau dalam masa camai, maka premi-molest hampir tidak berarti, hanja sedikit sadja. Sebelum Perang Dunia II premi molest itu hanja 1/ 40 °/oo (per seribu).
Bila keadaan politik mulai genting dan bahaja perang mulai mengantjam, maka dengan sendirinja premi-molest akan meningkat pula, pada sesuatu waktu hingga 25% (per seratus), sebagai terdjadi selama Perang Dunia terachir.
Kendatipun tidak nampak alasan-alasan jang memungkinkan petjahnja perang, pihak penanggung pengangkutan senantiasa harus mengingat, bahwa dari saatnja ia menjetudjui pertanggungan molest sampai pada saatnja barang jang dipertanggungkannja tiba dengan selamat pada tempat jang ditudju, maka dalam 'kebanjakan hal adalah beberapa hari atau minggu, maupun bulan jang akan lampau, selama waktu mana keadaan dapat berobah sama sekali dan mungkin djuga dengan
sekonjong-Jconjong-Dari fasal-fasal 647 hingga 649 K.U.H.P. nampak pula bahwa keadaan istimewa dari pertanggungan terhadap bentjana molest tadi tidak dapat di abaikan.
Dalam fasal-fasal tersebut terdapatlah suatu peraturan terhadap perse- tudjuan „bebas dari molest” dengan djalan mana diberi kesempatan kepada piha'k penanggung supaja pertanggungan molest dapat ditiadakan bila perlu.
Fasal 647 menjebutkan antara lain, bahwa pertanggungan — dengan sendirinja dimaksudkan disini pertanggungan terhadap bentjana molest dilaut — dibatalkan pada waktu barang-barang jang dipertanggungkan tertahan atau tudjuannja dirobah sebagai akibat molest.
Dalam abad ke 18 telah mendjadi kelaziman, bahwa kedua belah pihak mengadakan persetudjuan untuk memperhitungkan tambahan premi, pada waktu timbulnja perang. Djadi polis jang bersangkutan tidak sadja memberi djaminan terhadap bahaja-bahaja biasa dilaut, akan tetapi djuga terhadap bentjana perang. Tetapi premi untuk djaminan terhadap bahaja perang itu baru diperkirakan bila bentjana ini mulai mengantjam.
Prinsip ini tidak dapat dipertahankan, sehingga dalam abad ke-19 sudah mulai djadi kelaziman untuk mempergunakan sjarat-sjarat istimewa, dalam mana ditjantumkan bahwa bentjana perang tidak termasuk dalam pertang gungan biasa.
Hal ini pada umumnja dapat dilaksanakan dengan dua djalan :
1. Pihak penanggung memberi djaminan terhadap segenap bentjana laut dengan pengetjualian 'kerugian jang berasal dari kelakuan-kelakuan perang (kekerasan, perampasan, perampokan, penahanan oleh kapal- kapal perang, serta segala akibat-akibat dari padanja).
2. Kedua belah pihak bersetudju bahwa pertanggungan dari pihak penang gung dibatalkan pada waktu kapal jang 'bersangkutan ditimpa oleh salah suatu kelakuan
perang-Walaupun djalan jang terachir ini digunakan dalam aturan menurut fasal- fasal 647 hingga 649 K.U.H.P. tersebut, akan tetapi dalam praktek djalan pertama digemari, terlebih-lebih lagi dalam tahun-tahun jang terachir ini, keadaan mana dengan mudah dapat dimengerti dan dipahami.
Oleh sebab pertanggungan terhadap bentjana molest lambat-laun mem- punjai bentuk dan sifat jang teristimewa serta berlainan sekali dari pada dulu, maka kedua belah pihak harus memahami benar-benar apa jang akan mereka lakukan dengan persetudjuan pertanggungpn molest.
Dalam pada itu telah mendjadi kelaziman, bahwa bentjana ini dipertang gungkan dalam sebuah sjarat istimewa dalam polis pertanggungan pengang
kutan atau lebih baik lagi pada' sebuah polis tersendiri, djadi tidak bersama- t.
'sama dengan polis jang mengenai pertanggungan biasa.
Hal ini dapat dipahamkan, bila diketahui bahwa oleh sebab pertanggungan molest mudah sekali mengenai djumlah-djumlah jang amat besar, sehingga untuk pihak penanggung sukar sekali ditanggung biarpun djuga dengan per
tolongan dari beberapa penanggung laranja. i j?> Hal demikian temjota dalam tahun 1939 waktu bentjana perang dunia
' kedua mulai mengantjam di Eropa, sehingga uotuk memenuhi kebutuhan para penanggung molest, dari pihak pemerintah diadakan apa jang dinamakan „staats-molestverzekering” (pertanggungan molest oleh pemerintah) dalam
bentuk pertanggungan ulang {hervernekering). i Antara lain di Nederland diadakan Undang-undang istimewa jang mengu
rus hal ini, jaitu „Zee - en Luchtvaaraekeringswet 1939”. Sebagai ternjata dari nama Undang-undang ini, maka bukan sadja bentjana molest terhadap barang-barang jang diangkut melalui lautan, akan tetapi djuga terhadap barang-barang jang diangkut melalui udara termasuk dalam Undang-undang tersebut..
PEN G ETJU A LIA N BENTJANA MOLEST DALAM SJARAT-SJARAT BURSA
Bagian XXIII
Dalam polis-polis Bursa Amsterdam maupun Rotterdam mula-mulanja tidak termuat sjarat chusus untuk pengetjualian pertanggungan molest, keadaan mana berada sampai Perang Dunia I.
Bila para tertanggung tidak sudi mengeluarkan premi jang agak rendah itu, maka pertanggungan molest itu diketjualikan dari pertanggungan tersebut dalam polis jang bersangkutan, dengan dipergunakan hanja perkataan „tidak termasuk molest” (exclusief molest) ataupun dengan memakai sjarat-sjarat lnggeris jang lazim di'kenali dengan huruf-huruf „F.C.& S” Clause (artinja Free of Oapture & Seizure Clause, atau sjarat bebas dari penahanan dan pensitaan).
Pada zaman itu lazimlah dipergunakan polis lnggeris jang dinamakan „Standard Form” (artinja bentuk polis jang mendjadi pedoman untuk sege nap polis-polis), dalam naskah mana bentjana molest diketjualikan dari pertanggungan jang bersangkutan.
Meskipun begitu sjarat F.C.& S tadi lazim dimuat lagi dalam polis. * Dengan ditjoretnja sjarat F-C.& S ini, sebagai tanda bahwa dibatalkannja
sjarat tersebut, tjoretan mana ditanda-tangani oleh penanggung sebagai pengesahan pembatalan tadi, maka dianggap tjukuplah pertanggungan ter hadap bentjana molest itu diwudjudkan.
Selama Perang Dunia I njatalah bahwa sjarat F.C.& S tadi tidak memuas kan pada penanggung di Nederiand, sehingga dalam tahun 1916 mereka mentjapai persetudjuan bersama, bahwa sjarat Bursa seperti berikut diakui dan dipergunakan dalam segala polis-polis Bursa. Sjarat ini bunjinja sebagai berikut :
„Segenap pertanggungan berupa apapun djuga di- ,,anggap diadakan dengan sjarat termasuk bentjana „molest sesuai dengan sjarat-sjarat Bursa umumnja. „Pada pertanggungan „bebas dari molest”, maka pe- „nanggung senantiasa tidak bertanggung djawab ter- „hadap kerusakan jang diakibatkan oleh torpedo- „torpedo dan periuk-periuk api laut, biar jang ter ap u n g , maupun jang tertantjap, djuga dalam masa „damai”.
Mulai dari waktu itu maka semua pertanggungan berdasar atas sjarat- sjarat Bursa diadakan tanpa molest.
Bila ada keperluan untuk menanggungkan bentjana molest ini, maka haruslah kesanggupan ini diwudjudkan dengan digunakan sjarat chusus untuk maksud ini.
Dalam sjarat tersebut ditegaskan, bahwa dengan menjimpang dari apa jang
disebutkan dalam polis Bursa, 'bentjana molest ditanggung djuga oleh pe nanggung dan sesuai dengan hal ini, maka pihak tertanggung bersedia untuk membajar premi tambahan jang bersangkutan.
Kadang-kadang djuga terdjadi bahwa oleh penanggung dibuatkannja polis tersendiri, chusus untuk memberi pertanggungan terhadap bentjana molest itu, dengan meuam'bah dalam polis biasa suatu sjarat untuk memperluaskan pertanggungan.
Dalam tahun-tahun sesudah Perang Dunia I dan djuga sesudah Perang Dunia II, maka banjak sjarat-sjarat Bursa disusun dan disahkan, sjarat- sjarat mana mengandung aturan-aturan terhadap pertanggungan molest ini, umpamanja dalam sjarat Bursa Amsterdam No. 60 dan sjarat Bursa Rot
terdam No. 38. ,