praktis untuk mempromosikan kesetaraan
Latihan 34. Dampak diskriminatif UU dan Kebijakan: Studi kasus Selebaran 1. Kasus
Kasus A. Pengembangan UKM dan kondisi kerja
Sektor swasta di sebuah Negara di Asia Tengah mengalami perkembangan pesat, dan semakin banyak masyarakat yang mulai mendirikan usaha mereka sendiri. Sebagian pekerja yang bekerja di sektor UKM adalah perempuan. Organisasi pengusaha yang mewakili beberapa usaha kecil menengah (UKM) merasa yakin bahwa persyaratan administratif dan beban untuk memenuhi UU tenaga kerja yang ada sekarang adalah terlalu berat bagi UKM yang baru berkembang ini, dan akan mengurangi kapasitas mereka dalam menciptakan lapangan pekerjaan. Sebagai bagian dari kampanye “pengarusutamaan peraturannya”, organisasi pengusaha mulai melakukan lobi untuk mengubah UU tenaga kerja yang ada agar UKM dapat dikecualikan dari cakupan aplikasi UU ini. Pengecualian ini berarti bahwa UKM tidak perlu mematuhi standar-standar nasional tentang upah minimal, jam kerja, keamanan kerja dan lain-lain., serta tidak perlu memberikan kontribusi mereka untuk skema asuransi sosial, seperti perlindungan persalinan.
Pertanyaan untuk diskusi:
1. Jika Anda adalah pembuat UU di negara Anda, bagaimana Anda merespons permintaan yang diajukan organisasi pengusaha ini untuk mengecualikan UKM dari UU tenaga kerja? 2. Organisasi pengusaha beranggapan bahwa upaya untuk mempromosikan perkembangan UKM dan mendorong penciptaan lapangan pekerjaan membutuhkan peraturan yang lebih longgar terhadap UKM. Apakah argumentasi ini sah? Bagaimana organisasi pekerja dapat merespons argumentasi ini?
3. Jika pengecualian seperti ini diterima, apakah hal ini akan menimbulkan diskriminasi di pasar tenaga kerja? Atas dasar apa?
4. Apakah pengecualian seperti ini dapat disahkan di negara Anda saat ini? Apakah ada instrumen hukum atau mekanisme kelembagaan yang dapat mencegah penerapan pengecualian seperti ini?
Kasus B. Zona ekonomi khusus dan kondisi kerja
Negara Anda memprioritaskan investasi asing dalam kebijakannya untuk mempromosikan pertumbuhan dan perkembangan ekonomi yang lebih cepat. Pengembangan Zona Ekonomi Khusus (SEZ) telah direncanakan untuk menarik investasi asing, dengan menyediakan konsesi pajak khusus serta kemudahan lain bagi perusahaan multinasional. Pemerintah Anda memprioritaskan pengembangan SEZ di daerah yang tertinggal dalam hal pembangunan ekonomi. Diperkirakan bahwa penduduk perempuan setempat dari kelompok etnis minoritas, yang sebagian besar setengah menganggur dan menganggur saat ini, adalah sekitar 90 persen dari pekerja kurang terampil dan semi terampil yang bekerja di SEZ.
Beberapa perusahaan multinasional yang potensial di sektor tekstil telah meminta Pemerintah Anda untuk membuat SEZ sebagai lingkungan yang “bebas gangguan” agar lebih dapat bersaing
187
di pasar global. Perusahaan-perusahaan ini mengusulkan Pemerintah agar SEZ dikecualikan dari penerapan UU ketenaga kerjaan nasional. Biaya tenaga kerja di sektor garmen di negara lain jauh lebih murah dari Negara Anda. Apabila perusahaan di SEZ baru ini dikecualikan dari UU ketenaga kerjaan, maka mereka akan menganggap negara Anda memiliki lingkungan usaha yang lebih kompetitif sehingga mendukung investasi.
Pertanyaan:
1. Jika Anda seorang anggota Dewan, bagaimana Anda merespons permintaan yang diajukan perusahaan multinasional ini untuk mengecualikan SEZ dari UU ketenaga kerjaans?
2. Para investor multinasional ini berpendapat bahwa pengecualian pekerja dari UU ketenaga kerjaan di SEZ baru ini akan menghasilkan tenaga kerja yang lebih murah dan menghasilkan lingkungan kerja yang lebih kompetitif dan kondusif untuk investasi asing. Apakah argumentasi ini sah? Bagaimana organisasi pekerja menjawab argumentasi ini?
3. Apabila permintaan ini disetujui, apakah hal ini akan menimbulkan diskriminasi di pasar tenaga kerja? Diskriminasi atas dasar apa?
4. Apakah pengecualian ini dapat disetujui di negara Anda saat ini? Apakah ada mekanisme instrumen atau lembaga hukum yang dapat mencegah pengecualian ini?
Kasus C. PRT dan kondisi kerja
Pekerjaan yang dilakukan di rumah pribadi orang lain sering tidak dianggap sebagai “pekerjaan” dan oleh karena itu, PRT di seluruh dunia biasanya tidak diatur dalam UU ketenaga kerjaan yang mengatur tentang jam kerja, cuti, upah dan kondisi kerja PRT. Di samping itu, majikan tidak diwajibkan untuk mendaftarkan PRT dalam sistem jaminan sosial dan membantu pembayaran jaminan sosial mereka. Sekitar 83 persen PRT di seluruh dunia adalah perempuan.80
Banyak majikan yang meminta PRT mereka bekerja dengan jam kerja yang lama dengan upah yang kecil atau tanpa upah sama sekali. Sebuah survei yang diadakan di Jakarta dan daerah sekitarnya mendapati bahwa 81 persen PRT bekerja 11 jam atau lebih per hari.81 Sebuah penelitian sebelumnya tentang PRT yang bekerja di Jakarta dan sekitarnya mendapati bahwa 39 persen responsden menyatakan mereka tidak diperbolehkan istirahat selama jam kerja, dan 55 persen tidak diberi cuti mingguan.82 Penelitian ini juga menegaskan bahwa PRT umumnya berupah rendah; 72 persen PRT yang diwawancarai memperoleh upah kurang dari Rp.300,000 (sekitar USD35) per bulan. Sebagian besar PRT tinggal di rumah majikan mereka, dan ini berarti kondisi kerja dan perlakuan terhadap mereka tidak terpantau masyarakat umum. Sebagian besar PRT tidak punya kontrak tertulis dengan majikan mereka yang menguraikan tentang tugas, jam kerja, upah atau tunjangan. Hanya sedikit PRT di Indonesia yang punya perlindungan asuransi kesehatan dan kecelakaan yang disediakan majikan mereka.
Pertanyaan:
1. Apakah situasi PRT merupakan diskriminasi? Atas dasar apa?
80 ILO: Global and regional estimates on PRT, Domestic work: Policy brief 4 (Geneva, 2011).
81 Rumpun Gema Perempuan: Study on PRT in Pamulang (Tangerang), Bekasi, Depok and Kemuning (Pasar Minggu) (Jakarta, 2008).
82 Rumpun Gema Perempuan: Study on PRT in Kemuning Pasar Minggu, Pamulang, Parung, Depok and Rangkap (Jakarta, 2005).
2. Banyak majikan PRT berpendapat mereka tidak akan mampu mempekerjakan PRT jika pekerjaan dan kondisi kerja PRT diatur dalam UU ketenaga kerjaan? Apakah argumentasi ini sah? Bagaimana pendapat organisasi pekerja tentang masalah ini? Bagaimana pendapat PRT? 3. Bagaimana situasinya di negara Anda? Dapatkan PRT bergabung dengan serikat pekerja?
Apakah ada instrumen hukum atau mekanisme kelembagaan untuk memperluas cakupan perlindungan sosial dan tenaga kerja bagi PRT?
189
Latihan 34. Dampak diskriminatif UU dan kebijakan: Studi kasus