Instruksi untuk pelatih
Tujuan –Untuk membahas konsep upah yang adil untuk pekerjaan yang memiliki nilai setara dan menguji pemakaian kriteria evaluasi kerja yang obyektif
Waktu – 60 menit
Pengaturan kursi – Kelompok kecil duduk di meja bundar atau pengaturan lain yang memungkinkan peserta bekerja dalam kelompok-kelompok yang beranggotakan 3-6 orang.
Materi dan persiapan pelatihan – Persiapkan satu kertas flipchart dengan satu tabel evaluasi kerja untuk setiap kelompok. Buatlah beberapa tabel seperti yang diperlihatkan dalam Selebaran 2. Berikan masing-masing kelompok satu tabel evaluasi kerja pada flipchart dan satu spidol.
Langkah
¾ Beritahukan tujuan latihan kepada peserta.
¾ Perkenalkan latihan dengan menjelaskan bahwa upah yang setara untuk pekerjaan yang memiliki nilai yang sama adalah konsep yang tidak selalu mudah dipahami. Ada kesepakatan umum bahwa kesetaraan upah antara laki-laki dan perempuan adalah adil, dan upah yang adil harus diberikan kepada laki-laki dan perempuan yang melakukan pekerjaan yang sama atau sangat mirip. Namun, pemahaman yang lebih dibutuhkan tentang keadilan upah dalam situasi pekerjan yang lebih biasa di mana laki-laki dan perempuan melakukan pekerjaan yang berbeda tapi memiliki nilai yang sama. Latihan ini memperkenalkan konsep upah yang adil untuk pekerjaan yang memiliki nilai setara dan menunjukkan jenis kriteria evaluasi apa yang dapat digunakan untuk mengevaluasi kedua pekerjaan ini secara obyektif.
¾ Bagilah peserta ke dalam beberapa kelompok kecil yang beranggotan 3-6 peserta. Berikan Selebaran 1 ke semua kelompok dan mintalah mereka membaca studi kasus. Anda juga dapat meminta seorang sukarelawan untuk membacakan kasus ini dengan suara keras untuk semua peserta.
¾ Setelah membaca kasus tersebut, jelaskan bahwa dalam latihan ini kelompok-kelompok yang ada diminta untuk menilai kedua pekerjaan tersebut, pustakawan dan tukang sampah, dalam studi kasus ini. Jelaskan bahwa evaluasi kerja berarti menilai berbagai elemen dua pekerjaan atau lebih berdasarkan kriteria yang obyektif untuk menilai
pekerjaan tersebut. Kriteria evaluasi ini biasanya terkait dengan keterampilan dan kemampuan, tanggung jawab, usaha dan kondisi kerja dari pekerjaan terkait.
¾ Berikan Selebaran 2 kepada peserta dan mintalah setiap kelompok untuk:
x Mengevaluasi kedua pekerjaan dengan mengisi lembar evaluasi kerja pada flipchart. x Membahas apakah kedua pekerjaan tersebut harus diberi upah yang sama.
x Memilih seorang pembicara yang akan mempresentasikan hasil evaluasi kerja mereka dalam pleno.
¾ Bila kelompok sudah siap, mintalah pembicara masing-masing kelompok untuk
memperlihatkan flipchart mereka dan mempresentasikan hasil diskusi (maksimal 3 menit per kelompok). Setelah presentasi, bandingkan lembar evaluasi kerja dari kelompok-kelompok tersebut lalu berikan komentar tentang hasilnya. Biasanya pekerjaan pustakawan nilainya lebih tinggi dari pekerjaan tukang sampah. Laki-laki tukang sampah memperoleh poin lebih banyak karena kondisi kerja yang buruk dan berbahaya tapi pustakawan perempuan memperoleh poin yang lebih besar karena elemen kerja seperti keterampilan menulis, komputer dan menyusun arsip, lamanya mengenyam pendidikan dan komunikasi dengan masyarakat umum.
¾ Distribusikan Selebaran 3 dan perkenalkan hasil kasus nyata. Dalam kasus nyata ini, nilai kedua pekerjaan ini hampir setara, di mana pustakawan memperoleh nilai yang sedikit lebih tinggi dibandingkan tukang sampah. Lucy dan koleganya mendapati bahwa ada diskriminasi upah. Mintalah komentar lain dan jawablah pertanyaan-pertanyaan berikutnya.
¾ Akhiri diskusi dengan memberikan pernyataan berikut:
x Kasus ini menggambarkan fenomena umum tentang peremehan pekerjaan perempuan. Tugas puskawan sebagian besar dilakukan perempuan dan oleh karena itu diberi upah yang lebih kecil dari tukang sampah yang sebagian besar dilakukan laki-laki, walaupun nilai kedua pekerjaan tersebut sama. Meremehkan pekerjaan perempuan adalah masalah yang umum di semua pasar tenaga kerja dan hal ini mengakibatkan adanya jurang upah antar gender, yang merupakan bentuk diskriminasi seksual struktural yang serius. Jurang upah ini harus diatasi sebagai masalah kebijakan umum.
x Evaluasi pekerjaan secara obyektif adalah tindakan praktis yang penting dalam mempromosikan kesetaraan upah. Hasil evaluasi kerja ini harus digunakan untuk melakukan negosiasi upah dan/atau mengkaji praktik pembayaran di perusahaan. Di banyak negara, hasil evaluasi kerja juga digunakan untuk merevisi peraturan upah sektor publik dan praktik pembayaran.
x Waktu mengadakan evaluasi kerja, kita perlu menggunakan kriteria yang obyektif dan bebas dari diskriminasi. Kriteria evaluasi ini harus dipilih secara seksama agar dapat mencerminkan konten pekerjaan dengan cara yang adil dan transparan.
Catatan untuk pelatih 1
Apabila perbandingan antara pustakawan dan tukang sampah tidak secara memadai menggambar pemisahan pekerjaan laki-laki dan perempuan dan situasi upah di negara Anda, maka jenis pekerjaan lain dapat dipilih untuk dibandingkan dalam latihan ini. Namun dalam kesimpulan
125
latihan ini, kita perlu melihat kembali kasus Lucy, karena kasus ini memperlihatkan hasil dari evaluasi kerja nyata yang dilakukan di Amerika Serikat.
Sebagian peserta mungkin akan menanyakan perbedaan dalam hal senioritas, penawaran dan permintaan di pasar tenaga kerja, kesepakatan bersama atau beberapa faktor lain yang perlu dipertimbangkan saat melakukan evaluasi kerja. Apabila dampak dari faktor-faktor eksternal ini muncul dalam diskusi, lihatlah kasus Swedia terkait upah adil untuk bidan dan teknisi medis di bawah ini, dan jelaskan bagaimana pengadilan tenaga kerja menilai dampak faktor-faktor eksternal dalam kasus tersebut.
Kita mungkin perlu menekankan bahwa kesepakatan bersama yang dinegosiasikan organisasi pekerja dan organisasi pengusaha harus selalu menghormati prinsip kesetaraan kesempatan dan perlakuan (Rekomendasi No.111 Pasal 2(e)). Di banyak negara, kesepakatan bersama yang melanggar ketentuan hukum tentang kesetaraan dianggap tidak sah.
Upah yang adil untuk bidan dan teknisi medis (Swedia)
Pada bulan Februari 2001, untuk pertama kalinya Pengadilan Tenaga Kerja Swedia menyetujui pemakaian prosedur evaluasi kerja dalam kasus diskriminasi upah yang melibatkan dua orang bidan dan seorang teknisi medis yang bekerja di rumah sakit daerah Orebro. Perselisihan ini terkait dengan apakah kedua bidan perempuan (penggugat) yang diwakili Ombubsman Peluang Adil Swedia ini, mengalami diskriminasi upah yang tidak sah, karena majikan mereka, Dewan Negeri (responsden) membayar gaji yang lebih kecil kepada mereka dibandingkan teknisi medis laki-laki tersebut.
Pengadilan menggunakan prosedur evaluasi kerja untuk menentukan nilai pekerjaan seorang bidan dengan seorang teknisi medis dengan menilai kriteria penilaian yang terkait dengan “pengetahuan dan kompetensi”, “upaya”, “tanggung jawab” dan “kondisi kerja”. Pengadilan mendapati bahwa dari semua bidang ini, permintaan akan pekerjaan kedua bidan tersebut lebih sedikit dari pekerjaan teknisi medis, dan para pekerja ini melakukan tugas yang memiliki nilai setara.
Pengadilan selanjutnya menganalisa apakah Dewan Negeri (responsden) sudah memperlihatkan secara memadai bahwa perbedaan upah yang diidentifikasi dalam kasus ini tidak berhubungan dengan jenis kelamin pekerja, tapi dari faktor-faktor lain – seperti kesepakatan bersama, perbedaan senioritas, dan
situasi pasar tenaga kerja. Pengadilan menegaskan bahwa berdasarkan fakta, upah yang telah ditetapkan
melalui kesepakatan bersama tidak berarti secara otomatis tidak mengandung diskriminasi upah. Namun, pengadilan mendapati bahwa sebagian dari perbedaan upah yang berhasil diidentifikasi adalah terkait dengan usia pekerja, ini berarti bahwa kedua bidan tersebut akan memperoleh gaji yang lebih tinggi bila usia mereka sama dengan teknisi medis. Di samping itu, pengadilan mencatat bahwa ada banyak tenaga kerja alternatif untuk teknisi medis di sektor swasta, tapi bukan untuk bidan. Dewan Negeri tidak punya alternatif lain selain membayar upah yang kompetitif untuk teknisi medis agar dapat menghadapi tekanan pasar dan membuatnya tetap bekerja di rumah sakit tersebut.
Berdasarkan analisa di atas, Pengadilan tenaga kerja menyimpulkan bahwa pekerjaan yang dilaksanakan kedua bidan dan teknisi medis tersebut memiliki nilai yang setara, sehingga ada dugaan telah terjadi diskriminasi upah. Namun Dewan negeri, terkait perbedaan usia, situasi pasar tenaga kerja dan kesepakatan bersama yang ada, menyetujui bahwa perbedaan upah tidak ada hubungannya dengan jenis kelamin ketiga pekerja tersebut. Sehingga tidak ada diskriminasi upah yang tidak sah.
Namun keputusan pengadilan diambil tidak secara mufakat. 3 dari 7 anggota pengadilan memiliki pendapat berbeda karena mereka beranggapan bahwa Dewan Negeri belum dapat membuktikan tuntutan mereka secara memadai bahwa teknisi medis tersebut memiliki nilai yang tinggi dalam pasar tenaga kerja swasta.
Sumber: Swedish Labour Court: “Dom nr 13/01, mål nr A 190/97”, in EIROnline: Labour Court approves job evaluation in wage
Latihan 23. Upah yang setara untuk pekerjaan yang memiliki nilai sama: Evaluasi kerja: