• Tidak ada hasil yang ditemukan

Menggunakan dan memperlihatkan simbol agama di tempat kerja: Diskusi kasus

Selebaran 1. Kasus

Perancis adalah negara sekuler di mana mayoritas penduduknya memeluk agama Kristen Katolik Roman. Konstitusi Perancis mewajibkan negara dan otoritas publik tetap netral dalam menangani berbagai agama. Konstitusi ini mengatur bahwa ajaran agama tertentu tidak boleh mengganggu urusan negara dan penyediaan fasilitas umum, termasuk sekolah umum. UU yang diterapkan tahun 2004 melarang pemakaian tanda atau pakaian keagamaan yang menyolok (termasuk kerudung muslim) di sekolah umum. Pemakaian tanda atau pakaian keagamaan dapat dikenakan tindakan disipliner, termasuk dikeluarkan dari sekolah.

Turki adalah juga negara sekuler dengan mayoritas penduduknya menganut agama Islam. Sejak tahun 1980an, Turki melarang pemakaian kerudung di universitas, dengan menyatakan bahwa kerudung adalah simbol keterbelakangan dan mendasarisme Islam. Di awal tahun 2011, pemerintah mencabut larangan ini.

Iran bukan Negara sekuler, tapi sebuah republik Islam, walaupun Konstitusinya juga mengakui agama Yahudi, Kristen dan Zoroastrianisme sebagai agama yang sah, Iran mewajibkan pegawai negeri perempuan memakai kerudung dalam menyediakan layanan umum, jika tidak akan dikenakan tindakan disipliner.

Pertanyaan untuk diskusi:

1. Apakah Anda melihat cakupan diskriminasi dari kasus-kasus di atas? Jika tidak, atas dasar apa? Apakah ini diskriminasi langsung atau tak langsung? Dari segi kesetaraan, bagaimana argumentasi Anda untuk mendukung atau menentang pemakaian kerudung di sekolah dan tempat kerja?

2. Apakah ada diskusi penting tentang pemakaian simbol agama di tempat kerja atau sekolah di Indonesia? Bagaimana sikap pengadilan atau otoritas lain terhadap masalah ini? Apa ada UU atau kebijakan lain yang membatasi atau mempromosikan pemakaian simbol agama di tempat umum?

145

Latihan 26. Menggunakan dan memperlihatkan simbol agama di tempat kerja: Studi kasus Selebaran 2. Jawaban kasus

Diskusi tentang kerudung muslim, atau “hijab,” adalah gambaran yang baik tentang fakta bahwa persoalan yang terkait dengan diskriminasi atas dasar etnis dan agama adalah tidak mudah. Beberapa Negara mengambil langkah pendekatan yang berbeda terkait persoalan ini. Saat memutuskan apakah pemakaian kerudung dibolehkan, dilarang atau dipromosikan, dari sudut pandang non-diskriminasi, hal utama yang perlu dipertimbangkan adalah dampaknya terhadap pasar tenaga kerja bagi perempuan muslim. Perlu dipastikan bahwa pemakaian kerudung tidak mengganggu kesempatan dan perlakuan yang sama bagi perempuan muslim dalam hal pekerjaan dan jabatan.

ILO Committee of Experts on the Application of Conventions and Recommendations (CEACR) telah

menyampaikan persoalan kerudung dalam observasinya tentang penerapan Konvensi No. 111 oleh Perancis, Turki dan Iran. Poin utama yang muncul dalam observasi ini adalah sebagai berikut:

(a) Dalam kasus Perancis, CEACR khawatir larangan memakai tanda atau pakaian keagamaan, termasuk kerudung, di sekolah umum sebagaimana diatur UU No. 65 tanggal 17 Maret 2004 dan panduan pelaksanaannya tanggal 18 Mei 2004 pada praktiknya dapat mengakibatkan sebagian anak, terutama perempuan, dikeluarkan dari sekolah umum atas alasan yang terkait dengan praktik keagamaan mereka, sehingga mengurangi kapasitas mereka dalam mencari pekerjaan, sehingga bertentangan dengan Konvensi ini. Komite mengingatkan pemerintah tentang pentingnya memastikan bahwa penerapan UU tidak berdampak pada penurunan kapasitas perempuan dalam mencari pekerjaan di masa mendatang, yang dalam hal ini bertentangan dengan prinsip non-diskriminasi atas dasar agama. CEACR masih menindaklanjuti persoalan ini.61

(b) Dalam kasus Turki, persoalan ini pertama kali dibahas tahun 2001. CEACR khawatir bahwa persyaratan pegawai negeri dan pelajar membuka kerudung mereka dapat mempengaruhi perempuan muslim secara tidak proporsional, sehingga mungkin mengganggu atau menghambat hak mereka dalam memperoleh akses yang adil ke pendidikan dan pekerjaan karena praktik keagamaan mereka. CEACR menyatakan bahwa pembatasan pemakaian kerudung mungkin berdampak pada penghapusan dan hambatan terhadap akses ke pendidikan universitas bagi perempuan yang merasa wajib atau ingin memakai kerudung sebagai kewajiban agama atau keyakinan mereka. Komite percaya pemerintah akan terus mengkaji situasi agar dapat menentukan apakah pembatasan secara umum masih dibutuhkan, dan untuk memastikan bahwa hak akses yang adil ke pendidikan dan pelatihan di tingkat universitas bagi perempuan yang merasa wajib atau ingin memakai kerudung sebagai keyakinan keagamaan tidak dibatasi, dan bertentangan dengan Konvensi. Komite tetap khawatir bahwa pembatasan yang ada sekarang pada praktiknya dapat menutup akses perempuan ke pendidikan universitas dan pelatihan.62

61 “Individual observation on Konvensi ILO no. 111 with respect to France,” in Report of the Committee of Experts on

the Application of Conventions and Recommendations, Report III (Part 1A), International Labour Conference, 93rd Session, Geneva, 2005; Sidang ke 95, Geneva, 2006; dan Sidang ke 97, Geneva , 2008.

62 “Individual observation on Konvensi ILO no. 111 with respect to Turkey,” in Report of the Committee of Experts on

the Application of Conventions and Recommendations, Report III (Part 1A), Konferensi Perburuhan Internasional, Sidang

(c) Dalam kasus Republik Islam Iran, CEACR mengkhawatirkan peraturan wajib dalam hal berpakaian untuk perempuan, termasuk memakai alat penutup kepala, dan pemberian sanksi sesuai UU tentang pelanggaran administratif atau peraturan ini. CEACR sangat khawatir terhadap “dampak negatif dari persyaratan ini terhadap pekerjaan perempuan non muslim di sektor publik.” Selama bertahun-tahun, Komite ini juga khawatir dengan Peraturan Disipliner untuk Pelajar Universitas dan Perguruan Tinggi, yang menggolongkan pelanggaran ketentuan Islam sebagai pelanggaran politik dan moral, dengan sanksi antara lain pemecatan dari universitas atau dikeluarkan secara permanen dari semua universitas. Komite mencatat jawaban pemerintah bahwa “Kerudung Islam dianggap sebagai seragam perempuan yang melindungi mereka dari perilaku salah di tempat kerja” dan bahwa “Hijab sejauh ini tidak menimbulkan pemecatan atau tidak menimbulkan dampak yang merugikan terhadap pekerjaan bagi pelamar non-muslim”. Komite meminta pemerintah untuk menyediakan informasi lebih rinci tentang peraturan administratif dan disipliner di atas terkait peraturan berpakaian yang diterapkan untuk pendidikan dan pekerjaan, termasuk informasi tentang jumlah pelanggaran peraturan berpakaian ini oleh perempuan dan sanksi yang diberikan.63

63 “Individual observation on Konvensi ILO no. 111 with respect to Islamic Republic of Iran,” in Report of the

Committee of Experts on the Application of Conventions and Recommendations, Report III (Part 1A), Konferensi Perburuhan

147

Latihan 27. Agen tenaga kerja dan kesetaraan: Studi kasus